Prolog -Akhir dari sesuatu merupakan Awal hal lain-

 Aku bisa melihatnya dengan begitu jelas.

Gerakan dari setiap ayunan pedang yang dibuat oleh Kobold di depanku bisa ditangkap oleh kedua bola mata dengan warna keemasan yang sedang memincing. Mereka bergerak dengan cara yang begitu simpel, bahkan pola peregerakkan, serangan, serta diikuti oleh penggunaan Skill milik mereka amatlah sederhana dan amat mudah untuk diingat.

“Tapi... kalian tidak bodoh, aku tahu itu.”

Benar, Kobold bukanlah mahluk yang bodoh. Mereka justru adalah jenis monster yang paling berbahaya karena semakin lama seseorang bertarung melawan mereka maka semakin banyak pengetahuan akan orang tersebut masuk ke dalam kepala sang Kobold, ia bisa menciptakan strategi untuk menjatuhkan lawannya.

Napas yang menderu dari arah sang monster berkepala anjing membuatku mendesah pelan pada saat mendengarnya. Kobold yang berada di hadapanku sendiri bukanlah Kobold biasa, ia adalah salah satu penjaga Dungeon Terakhir dari Game yang sedang kumainkan. Wajar jika ia memiliki Level yang tinggi serta Skill yang melebihi Kobold sewajarnya.

Walau pola serangannya amatlah sederhana, akan tetapi jika terkena serangannya maka dapat dipastikan kalau kematian akan datang dengan cepat bagiku. Aku bukanlah tipe orang yang mengandalkan armor berat serta persenjataan yang terlalu memberikan kesan aman, itu bukanlah gaya mainku.

Aku lebih mengandalkan cara bertarung yang cepat dan diikuti dengan usaha untuk menghindari segala serangan lawan yang melayang ke arahku, tak peduli jika itu adalah sebuah Skill atau Magic, aku selalu berusaha untuk menghindarinya dan aku berhasil melakukannya.

Tak bermaksud sombong tapi aku termasuk sebagai salah seorang Frontliner di dunia ini.

Di dunia virtual yang tersusun atas data dengan jumlah tak terhitung yang serta merta memberikan stimulus kepada otak semua pemainnya jika ini adalah sebuah kehidupan nyata. Semua yang berada di hadapanku pada saat ini adalah kumpulan data yang dibentuk dengan sedemikian rupa kemudian ditransfer ke dalam sistem kesadaran otak kita agar menganggapnya sebagai kenyataan.

“Walau kalian hanya kumpulan data tapi kalian tak akan membiarkanku lewat karena kalian sudah di-setting seperti itu, kan?”

Aku terkekeh pelan setelah bergumam seorang diri sembari terus menghindari tiap ayunan pedang yang berusaha untuk memotong diriku. Setiap gerakan yang dibuat oleh lawanku berjalan dengan cara yang sama, walau dipenuhi oleh kekuatan dan keinginan untuk membunuh tapi aku selalu berhasil menghindarinya.

Aku tidak membalas serangannya bukan karena perasaan terpojok telah menyelimuti diriku, melainkan aku memperbolehkan diriku untuk menjadi sedikit sentimentil. Setelah aku berhasil mengalahkan Kobold ini maka aku akan masuk ke dalam ruang terakhir Dungeon Terakhir game ini serta wacana untuk melawan boss terakhir pun akan berjalan.

Mendapatkan Kobold sebagai lawan sebelum mencapai ruangan terakhir benar-benar membuatku merasa nostalgia. Pada saat aku awal bermain game ini, lawan pertamaku bukanlah Slime atau Babi Hutan, melainkan seekor Kobold.

Aku yang pada saat itu masih seorang Newbie bodoh memutuskan untuk menantang monster yang levelnya melebihi dua kali level milikku hanya untuk membuktikan jika aku bisa menjadi seperti seorang tokoh utama. Seorang tokoh utama dari novel ringan yang kubaca selalu berhasil mengalahkan lawan yang memiliki level jauh lebih tinggi daripada dirinya, entah dengan Skill rahasia maupun kecerdikannya, aku ingin menjadi seperti mereka!

Pemikiran yang begitu naif, dan aku hampir menemui kematian pertamaku di dalam game ini hanya karena pemikiran bodoh... bukan, itu bukanlah kematian pertamaku. Seandainya aku benar-benar mati pada saat itu maka aku akan mengalami kematian terakhirku juga, aku akan langsung mati karena game ini sudahlah bukan sebatas game biasa.

Game ini adalah tempat dimana kami memperjuangkan kehidupan dan kematian kami, kemungkinan untuk bertahan hidup atau mati dan menjadi kepingan data di depan mata para player lainnya, walau di dunia nyata ia yang menemui kematian di game akan disambut oleh kematian juga.

Benar, memang terdengar agak klise.

Tapi seperti itulah bagi kalian yang sudah memahami arah pembicaraanku.

Aku, beserta jutaan pemain dari seluruh penjuru dunia terperangkap di dalam sebuah Death Game.

Death Game yang disebut sebagai The Path of Glory Online ini.

Aku yang meleng sesaat langsung mendapatkan sebuah serangan kejutan dari Kobold yang berada di hadapanku, ia mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga ke arahku, ayunan horizontal yang begitu kuat serta dipenuhi oleh hawa membunuh bisa kurasakan walau semua ini hanyalah game.

Lebih tepatnya, sebuah game yang menipu kesadaran kita untuk menganggap semuanya menjadi kenyatan.

Aku membunyikan lidahku sembari menunduk, kali ini aku harus berhenti bermain-main dan langsung menembus pertahanan dari Kobold yang ada di depanku. Kutarik kakiku ke belakang untuk mengambil ancang-ancang menyerang tapi ternyata serangan dari sang Kobold tak berhenti di sana.

Ia mengayunkan pedangnya sekali lagi dan kali ini secara membabi buta, ke kanan dan ke kiri.

Dia baru saja menggunakan Skill miliknya; Rampage. Aku yang melihat serangannya yang datang secepat kilat dan penuh akan tenaga tersebut langsung mengambil satu dua langkah ke belakang.

Serangan Rampage tak akan berhenti sampai sang Kobold menghentikannya sendiri atau tenaga miliknya sudah habis, karena dia termasuk sebagai monster kelas atas yang berada di Dungeon Terakhir rasanya kedua kemungkinan tersebut tak akan terjadi.

Jika aku terus melangkah mundur maka aku akan kembali ke Safe Zone, dan itu berarti aku harus mengulang pertarungan antara kami berdua dari awal. Sebelumnya aku sudah menghabisi beberapa Lesser Kobold yang menjadi anak buahnya sebelum akhirnya bisa menghadapi sang Kobold secara personal; satu lawan satu.

Kobold yang ada di hadapanku bukanlah sembarang Kobold, terdapat begitu banyak jenis monster meskipun berasal dari satu spesies di dalam game ini dan secara kebetulan aku menghafalkan nama-nama mereka dengan baik. Monster yang ada di hadapanku, Kobold yang sedang menjadi lawanku adalah Mighty Warrior Kobold.

Terdapat berbagai macam kelebihan yang dimilikinya dibandingkan Kobold lainnya, salah satunya adalah perlengkapan yang jauh lebih lengkap tapi sama sekali tidak menghalangi pergerakkannya. Kemampuannya dalam bertarung kurang lebih setara dengan seorang Player level pertengahan walau polanya sederhana, sementara kekuatannya membuat mereka benar-benar cocok dipanggil monster mob kelas atas untuk Dungeon Terakhir ini.

Aku harus mengambil inisiatif di sini dan maju untuk mendorongnya maka aku bisa menyelesaikan semua ini dengan cepat.

Kutundukkan tubuhku sementara pedang yang berada di genggaman tanganku kumasukkan kembali ke dalam sarungnya. Kutarik napas secara perlahan sembari memincingkan mata untuk memfokuskan diri dan pada saat sang Kobold mengayunkan pedangnya dengan cepat sekali lagi, aku langsung menarik pedangku dan melakukan sebuah tebasan dengan kecepatan yang melampaui tangkapan mata.

Kekehan pelan keluar dari mulutku pada saat aku melihat ekspresi wajah dari sang Kobold yang berubah, walau ini hanyalah game tapi perubahan yang terlihat amatlah realistis sehingga aku tidak bisa menahan diri untuk merasa jika aku memang benar-benar melawan seekor monster nyata.

Pedang yang berada di genggaman sang Kobold langsung terlempar oleh sabetan pedang yang langsung menyambar tangan Kobold tersebut. Dia langsung berada dalam keadaan tak bersenjata dan langsung berbalik untuk memungut senjatanya yang jatuh ke belakang. Walau dia berhasil mendapatkan senjatanya kembali tapi semua ini sudah berakhir.

Aku bahkan sama sekali tidak menggunakan Skill untuk mengalahkan sang Kobold, setidaknya aku akan memberikan penghormatan terakhir baginya dengan menggunakan sebauh Skill. Meskipun Skill ini hanyalah Skill kelas rendah tapi aku mempelajarinya degan tekun hingga bisa menguasainya bahkan membuatnya menjadi gerakan khasku.

“Step.”

Aku berujar pelan.

Kakiku langsung bergerak secara otomatis, melangkah ke depan dengan cepat. Kecepatan langkah Skill yang kugunakan melampaui kemampuan tangkapan mata karena aku telah memoles Skill ini dengan baik.

Aku telah berlatih, berlatih, dan terus berlatih untuk menggunakannya.

Tapi apa yang paling penting dari penggunaan Skill ini adalah timing. Apa yang harus kulakukan berikutnya adalah melakukan Cancel ke Step dan langsung diikuti dengan penggunaan Skill lainnya.

“Cancel... Backstab.”

Biasanya, Step digunakan untuk menjangkau lawan yang berada di jarak yang jauh dan gerakannya bisa di atur dengan mudah, kecepatannya jauh melebihi Dash, Skill lainnya. Aku merupakan salah satu segelintir orang yang tahu kalau Step memiliki efek lebih dalam mendukung serangan, orang-orang yang tahu akan hal ini kebanyakan adalah para Frontliner atau membeli infonya dari Penjual Informasi.

Menurut para pemain yang memiliki dasar di Ilmu Fisika, kurang lebih dunia TPGO (Singkatan dari The Path of Glory Online, sangat umum untuk digunakan) memiliki hukum Fisika yang sama dengan dunia kita. Perbedaan hukum Fisika yang ada di dunia TPGO bisa dicapai dengan digunakannya Skill dan Magic yang membuat beberapa perubahan serta perlawanan terhadap hukum Fisika itu sendiri.

Tetapi, hal yang paling penting dari informasi yang diberikan oleh para pemain yang memiliki dasar Ilmu Fisika adalah fakta jika tiap gerakan kita sebelum menyerang bisa mempengaruhi jumlah kerusakan yang diberikan. Dengan kata lain, seperti dunia nyata, jika kau bergerak dengan begitu cepat kemudian menyerang lawanmu maka tingkat kerusakan yang dihasilkan akan berkali-kali lipat lebih tinggi.

Itulah... apa yang kulakukan denagn menggunakan dua Skill yang kemudian kugabungkan.

Dengan cepat, sang Kobold yang menerima tikaman tepat di punggungnya hanya bisa menjerit. Suara dari tubuh Kobdol yang terjatuh dan diikuti dengan suara dari data yang terpecah bisa ditangkap oleh telingaku.

Begitu aku memandang ke depan, aku menemukan notifikasi yang menyatakan bahwa aku boleh memasuki ruangan berikutnya.

Ruangan yang menjadi tempat berakhirnya Death Game ini.

“Baiklah, Kobold... terima kasih sudah menjaga tempat ini. Kami para Player akan melangkah maju untuk mendapatkan kebebasan kami dari permainan yang menjadi penjara ini, dari TPGO yang mengekang kami selama bertahun-tahun.”

Aku langsung melangkahkan kaki ke depan. Pintu yang berada di depanku bisa kucapai dengan begitu cepat. Sementara diriku hanya bisa menelan ludah untuk mempersiapkan akan adanya karakter Boss macam apa yang akan menyambutku di balik pintu yang begitu besar serta terkesan mencekam di depanku.

Sebuah layar notifkasi muncul di pandangan mataku.

『Apakah kau mau melanjutkan langkahmu menuju akhir dari Game ini?』

Terdapat dua pilihan yang sudah amat jelas, Ya dan Tidak.

Tanganku tanpa ragu langsung menekan tombol Ya dan pintu yang berada di depanku pun mulai bergetar, semakin lama getaran itu menjadi semakin keras dan kakiku juga ikut bergerak. Tanpa perlu menunggu lama pintu itu terbuka dengan begitu lebar, seolah mengundangku untuk masuk ke dalam tanpa ragu.

Aku menerima undangannya, kaki yang mengentak ini akan menjadi pertanda berakhirnya Death Game TPGO.

Dengan mantap aku terus menyusuri ruangan tersebut, walau apa yang menyambutku hanyalah kegelapan. Meski aku menggunakan Skill: Night Vision, tapi tetap saja aku tidak bisa melihat apapun. Sepertinya ruangan ini didesain supaya tidak bisa dilihat kecuali waktu atau sebuah persyaratan tertentu dipenuhi.

Hanya saja, perkiraanku sepertinya tak sepenuhnya benar.

Ketika aku berpikir jika Skill-ku bahkan tak bisa digunakan di ruangan ini, cahaya tiba-tiba masuk ke dalam mataku.

“Kuh—!”

Aku mengerenyit sembari memandang ke arah asal cahaya tersebut, cahaya yang begitu menyilaukan dan entah mengapa terkesan begitu hangat walau dipenuhi oleh rasa bahaya tak wajar di dalamnya.

Begitu aku berhasil melihat dengan benar kembali, apa yang menyambutku adalah keberadaan dari seekor monster dengan ukuran yang tak pernah kulihat sebelumnya. Memiliki kepala ular dengan jumlah yang begitu banyak dan diikuti dengan suara desisan yang begitu keras bahkan telingaku yang peka bisa menangkap suaranya dengan amat jelas.

Aku yang melihatnya hanya bisa memiringkan kepala sebenatr sembari mempersiapkan pedangku.

“Hydra...? Bukan, ini monster jenis lainnya! Aku tidak pernah melihat monster seperti ini sebelumnya.”

Sisik yang dimilikinya memiliki warna begitu gelap, terlihat begitu hitam nan legam walau sama sekali tidak nampak bagaikan logam akan tetapi aku tahu tingkat kekerasannya yang luar biasa.

Kepalanya setelah kuhitung ternyata ada sembilan.

Ukurannya luar biasa besar, aku tidak terlalu pandai dalam melakukan perhitungan dan perkiraan tapi aku bisa bilang kalau monster ini melebihi 30 meter... sungguh mahluk yang benar-benar cocok untuk dipanggil monster, Kobold yang kulawan sebelumnya sebelum mencapai tempat ini sama sekali tak ada apa-apanya.

Apa yang bisa kusimpulkan adalah Boss kali ini pasti terinspirasi dari mahluk mitologi. Aku sendiri tak tahu mahluk mitologi apa yang menjadi dasarnya tapi ketidaktahuanku langsung lenyap pada saat aku mendapatkan jendela notifkasi lainnya.

『Melangkah menuju “Akhir” lawanmu adalah perlambangan dari tidak terbatas, dia adalah Vasuki. Ular dari sang Dewa Kehancuran. Apakah kau ingin melawannya?』

Vasuki... berarti mitologi Sansakerta kah? Aku tidak terlalu paham mitologi mereka tapi sepertinya pertarungan yang akan terjadi tak akan berjalan dengan mudah. Cukup membaca notifikasi yang berada di depanku aku tahu jika pasti akan diperlukan semacam trik untuk mengalahkannya.

Tapi.

“Tentu saja.”

Aku langsung menekan tombol Ya tanpa ragu untuk kali kedua.

Vasuki yang berada di hadapanku langsung menatapku dengan pandangan penuh kebencian, ia langsung mendesis ke arahku sembari menjulurkan lehernya. Aku hanya bisa tertawa pelan sembari menyiapkan pedang yang berada di tangan kananku.

“Perlambangan tak terbatas kah... sementara aku di dalam Game ini adalah seorang Frontliner yang merupakan perlembangan dari penghabisan... mari kita lihat siapa yang akan menemui akhirnya terlebih dahulu!”

Seolah menjawab tantanganku, Vasuki kembali mendedsis dan kali ini salah satu kepalanya menjulur dengan begitu dekat ke tempat dimana diriku berdiri.Boss kali ini sepertinya benar-benar pandai menantang lawannya.

“Horyaaaaaaaaaaaaaaaaaah!”

Aku mengeluarkan teriakan untuk membangkitkan semangatku sembari menerjang ke arah Vasuki, sementara sang ular untuk pertama kalinya mengeluarkan suara raungannya yang begitu cetar membahana dan mematikan rasa takutku.

Pertarungan kami berdua pun dimulai.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?