PART 36

Dance With Life

Part 36

Linda nampak sedang mengutak-atik laptopnya, disebelahnya terlihat beberapa map yang berisi data-data berita, dari raut wajahnya nampak jelas terlihat kekecewaan yang amat sangat! Desahan nafasnya yang berat pun terdengar dengan jelas, “Ya Allah, semoga dia mau menerimaku!” desahnya.

Saat itu terdengarlah suara ketukan pintu, Linda langsung menjawab “Ya masuk!”, Anisa pun langsung masuk sambil membawakan coklat panas, “Ka Nda lagi apa sih? Kok seharian ini ga keluar dari kamar?” tanya Anisa.

Linda menghela nafas panjang, raut wajah gadis berkulit putih berwajah kearab-araban ini nampak sangat muram “Ga apa-apa kok Nis, Kaka cuma lagi pusing mikirin pekerjaan!” jawab Linda, “Mikirin pekerjaan kok sampe segitunya Kak? Eh apa lagi ada masalah dengan pekerjaan Kakak?” tanya Anisa lagi.

Linda terdiam sejenak samil menundukan wajahnya, dari ekspresi dan nada bicaranya, Anisa dapat mengetahui kalau persoalan yang sedang dihadapi oleh Linda cukup berat, “Kamu tahu pelukis Wiyasa Sutalaksana Nis?” tanya Linda, Anisa pun mengangguk.

Lalu mata Linda menatap kosong ke arah laptopnya “Kakak dapat tugas buat mewawancara Pak Wiyasa secara live di acara berita tempat Kakak kerja, sebenernya udah ada beberapa reporter temen Kakak yang mencoba untuk mewanwancarainya, tapi selalu gagal! Nah sekarang Bos Kakak nyuruh Kakak buat mewanwancarainya, ya kamu tahu kan sifatnya Pak Wiyasa kaya gimana?”.

Anisa mengangguk-ngangguk, ya dia tahu sifat pelukis itu seperti apa, Wiyasa Sutalaksana adalah salah seorang seniman lukis asal Bandung yang sangat terkenal, namun karena kepribadiannya yang ‘nyentrik’ dan senang menyendiri, informasi tentang dirinya tidak banyak diketahui, orang-orang hanya mengetahui karya lukisannya saja, menurut dirinya, dia lebih senang menyampaikan apa yang dia pikirkan dan rasakan lewat lukisannya, bukan lewat perkataannya.

“Lalu kapan Kakak akan pergi menemuinya?” tanya Anisa pada Kakaknya yang berkulit putih berwajah kebule-bulean khas Arab dan mempunyai belahan dagu tersebut, “Besok Nis, besok Kakak akan langsung pergi ke Bandung!” jawab Linda dengan lemas, “Ya semoga sukses ya Kak!” ungkap Anisa, Linda pun tersenyum walau terlihat dipaksakan “Makasih ya Nis!”.

Kemudian Anisa pun melangkahkan kakinya meninggalkan Linda, namun sebelum ia membuka pintu “Oya, makasih buat coklat panasnya ya Nis!” ungkap Linda, Anisa pun membalikan tubuhnya dan tersenyum “Iya sama-sama Kak!”.

*****

Keesokan harinya, Linda langsung berangkat menuju ke kantornya di Kantor TV9, setelah sampai dia buru-buru menuju ke ruangan Pak Bondan Winarno, seorang wartawan senior yang sudah banyak makan asam garam dunia berita dan jurnalistik yang kini menjadi pimpinan redaksi berita TV9, “Selamat pagi Pak” sapa Linda setelah dipersilahkan masuk ke ruangannya Pak Bondan, “Pagi!” jawab Pak Bondan yang sedang mengutak-atik laptopnya.

Setelah selesai mengutak-atik laptopnya, Pak Bondan lalu menatap tajam pada Linda “Linda, bagaimana dengan persiapanmu? Maksudku, yang harus kau persiapkan secara khusus adalah mentalmu, karena mewawancarai Pak Wiyasa akan lebih sulit daripada mewawancari pejabat sekalipun!”.

Linda mengangguk perlahan, “Iya, saya sudah siap Pak!”, Pak Bondan terus memperhatikan gerak-gerik Linda yang jelas nampak gelisah itu, dari jawabannya barusan dapat ditebak kalau Linda masih menyimpan keragu-raguan “Linda, dari jawabanmu itu, aku meradsakan kalau masih ada keragu-raguan di hatimu!”.

Linda semakin menunduk, dia tidak berani menatap mata Pak Bondan, “Oh iya maaf Pak!”, Pak Bondan mengusap-usap dagunya, dia tahu kalau tugas Linda kali ini memang tidak mudah, maka dia sedang mencari cara untuk membantu Linda, “Hmm… Baiklah kalau begitu, kamu tidak usah terburu-buru untuk pergi ke Bandung menemuinya, dan kamu juga tidak usah langsung membawa kru untuk kesana”.

Linda nampak tidak mengerti dengan maksud Pak Bondan tersebut, “Eh, bagaimana Pak?”, Pak Bondan tersenyum simpul, kemudian dia meneruskan penjelasannya “Begini, kamu tidak usah langsung mewawancarianya secara live, tapi bujuklah dia terlebih dahulu agar mau untuk diwawancarai secara live! Kamu juga boleh pergi dengan siapa saja kesana untuk membantumu!” Linda pun mengangguk-ngangguk, dia setuju dengan usul atasannya itu, dan hatinya merasa sedikit lega juga karena mempunyai atasan yang bijaksana seperti Pak Bondan, “Ok, semoga sukses Linda, jadilah reporter pertama yang sukses mewawancarai Wiyasa Sutalaksana yang selama masa kariernya belum pernah ada yang mampu mewawancarainya!”, Linda pun mengangguk “Siap Pak! Terima kasih!”.

Setelah keluar dari ruangannya, seorang pria bertubuh tinggi tegap, berbadan agak berisi, berkulit sawo matang, berambut bergelombang belah kanan, berhidung agak mancung dan berwajah agak mirip Shah Rukh Khan langsung menghampiri Linda, “Lin gimana?” tanyanya dengan khawatir, “Eh anu… Pak Bondan punya cara tersendiri buat mewawancarai Pak Wiyasa Ndre” jawab Linda pada pria itu.

Sekonyong-konyong suasana ruangan itu menjadi riuh “Linda, dari tadi Andre khawatir banget sama kamu begitu tahu kamu dapet tugas buat mewawancarai Pelukis Aneh itu!” ucap salah seorang perempuan temannya, “Iya, sampe Andre gemetaran di depan ruangan Pak Bondan tadi pas nunggu kamu! Hahaha…” seru satu temannya yang pria.

Linda menunduk dengan wajah memerah, sementara Andre langsung menghardik mereka “Ya wajar dong kalo gue khawatir sama cewe gue! Sewot amat sih kalian?!”, semua yang ada di ruangan itu bersorak “Cikiciw!”, Linda semakin menundukan wajahnya karena menahan malu “Haduh, inilah resikonya kalo pacaran sama temen sekantor! Kalo ada apa-apa diledekin terus sama sekantor!” keluh Linda dalam hatinya, lalu dia menatap Andre, dia jadi tersenyum sendiri ketika melihat Andre yang sedang sewot karena disoraki oleh teman-temannya itu “Tapi yah mau gimana lagi? Gue udah ternjur cinta berat sama dia! Hehehe…” gumamnya dalam hati.

“Oya, gimana tadi kata Pak Bondan Nda?” tanya Andre, Linda pun menceritakan apa yang sudah direncanakan oleh Pak Bondan tadi “Ya Pak Bondan menunda wawancaranya, jadi dia nyuruh aku ke Bandung buat ngebujuk dia dulu supaya mau untuk diwawancarai, jadi aku ga usah bawa kru kesana”, Andre pun mengangguk-ngangguk “Ok lah kalo gitu, gimana kalo aku aja nganter kamu ke Bandung? Kebetulan aku lagi ga ada kerjaan nih!”, Linda pun tersenyum, “boleh Ndre, tapi awas jangan ganggu gue! Gue harus berkonsentrasi biar Pak Wiyasa mau diwawancarai!”.

“Siap Tuan Puteri! Oya kita berangkatnya jam berapa?” tanya Andre lagi, Linda lalu melihat jam tangannya “Hmm… bentar lagi deh, aku mau sarapan dulu, tadi aku belum sempat sarapan!”, Andre pun mengangguk “Ok kalo gitu, kamu sarapan dulu aja, sementara aku siap-siap!”, kemudian gadis yang mempunyai belahan dagu itupun keluar dari kantor itu.

*****

Setelah selesai makan di salah satu café yang ada di dekat kantornya, Linda pun hendak kembali menuju ke kantornya dengan berjalan kaki, saat di perjalanan, tiba-tiba ia melihat ada seorang gadis muda yang sedang dikejar-kejar oleh beberapa orang, setelah gadis itu nampak kepayahan, larinya pun tersusul oleh orang-orang yang mengeejarnya-orang yang mengejarnyapun segera mengerumuninya!

“Heh! Cantik-cantik jadi pencuri! Kembaliin dompet saya!” bentak salah seorang wanita paruh baya yang mengejarnya dengan bernafsu, namun si gadis itu malah mendekap dompet itu erat-erat! “Eh kurang ajar kamu ya! Malah ngeyel! Ayo kita seret dia kantor Polisi!” bentak lagi wanita paruh baya itu.

Mendengar itu, barulah gadis itu memelas, dia segera mengembalikan dompet wanita itu “Am… Ampun Bu, jangan! Ini saya kembaliin dompet Ibu!”, namun nampaknya si Ibu itu sudah sangat marah sehingga ngotot untuk menyeret gadis itu “Alah! Ga ada! Pokoknya kita bereskan di kantor Polisi!”.

Tangis gadis itu semakin keras, “Ampun Bu, kasihanilah saya! Saya lagi hamil Bu!” mohonnya, Linda terkejut mendengarnya, kemudian dia memperhatikan perut gadis itu yang nampak sudah membesar, menurut taksiran Linda gadis itu masih berusia belasan tahun, didorong oleh rasa kasihannya kepada gadis muda yang sedang hamil itu, Linda segera berlari menghampirinya dan melerai mereka “Tunggu! Maafkanlah gadis ini! Dia kan sudah mengembalikan dompet Ibu!”.

Si Ibu paruh baya itu langsung melotot mendengar pembelaan Linda pada gadis itu “Ngapain sih kamu ngebela orang kaya gini?! Orang kaya gini ini yang merusak generasi bangsa!” semprotnya pada Linda, “Tapi kan dia sedang hamil Bu!” bela Linda.

“Halah! Palingan hamilnya juga palsu!” bentak Ibu itu, Linda lalu menatap perut gadis itu, “Ini asli kok Mbak!” ungkap gadis itu, lalu tangannya memegang tangan Linda untuk menyentuh perutnya, Linda langsung tahu kalau gadis itu memang hamil betulan setelah menyentuh perutnya.

Linda lalu menatap tajam pada Ibu itu, “Bu, dia asli sedang hamil!”, Si Ibu itu beserta orang-orang yang mengejarnya terdiam, “Ibu dan Bapak-Bapak yang lainnya. Apakah kalian tega menyeret dan menganiaya perempuan yang sedang hamil ini? Dan terutama Ibu ini, Ibu bagaimanakah perasaan Ibu ketika sedang hamil dulu? Apakah Ibu masih tidak bisa memaafkan gadis yang sedang hamil ini walaupun dia sudah mengembalikan dompet ibu?”.

Si Ibu itu terdiam seribu bahasa, kemudian orang-orang yang mengejar si gadis tadipun mulai menaruh simpati pada gadis itu “Ibu, sebaiknya kita maafkan saja gadis ini! Saya tidak mau kena musibah lantaran menganiaya perempuan yang sedang hamil!”, yang lainnya pun segera mengamininya “Iya, gua juga kaga mau kena kutukan lantaran nyiksa wanita hamil!”, merekapun lalu membubarkan diri, hingga akhirnya si Ibu itu meninggalkan gadis itu bersama Linda walaupun dia masih mendengus kesal!

Setelah semua orang meninggalkan mereka, Lindapun menoleh pada gadis itu “Kamu ga apa-apa?”, Gadis itupun menggelengkan kepalanya “Ya aku ga apa-apa Kak! Makasih ya!”, Linda lalu memperhatikan gadis itu dari kepala hingga ke ujung kaki “Siapa namamu? Dan berapa usiamu?”, gadis itu menjawab sambil menundukan kepalanya “Namaku Mira, usiaku 18 tahun!”.

“Lalu kenapa kamu mencuri dompet Ibu itu?” tanya Linda lagi dengan pandangan menyelidik, “Karena aku lapar Kak! Aku ga punya uang buat beli makanan!” jawab Mira, “Lho emangnya kemana orang tuamu? Atau suamimu?” tanya Linda lagi.

Mira menelan ludah, mukanya terlihat sangat sedih “Aku udah diusir sama orang tuaku Kak, gara-gara… Ya gara-gara aku hamil dan cowok yang menghamiliku kabur, ga mau bertanggung jawab!”, Linda bisa merasakan kesedihan di hati Mira, dia mengerti bahwa posisi Mira sangat sulit, hatinya pun ikut merasa sedih mendengar keadaan Mira, lalu doa melihat Mira yang terus memegangi perutnya “Oya kamu lapar ya? Kamu mau makan apa?” tanya Linda, “Eh anu… Aku ngidam Mie Baso Pangsit Kak, aku pengen banget makan Mie Baso Pangsit!” jawab Mira dengan malu-malu dan sungkan, “Ya udah kalo gitu ayo kita ke tempat mie baso pangsit, aku tahu tempat yang enak dideket sini!” ajak Linda.

Setelah sampai di kedai mie baso pangsit di dekat situ, Mira pun memesan Mie Baso Pangsit porsi spesia, diapun makan dengan lahapnya, sementara Linda hanya memandanginya sambil tersenyum ketika melihat Mira yang sedang makan dengan bersemagat itu “Enak Mir?” tanya Linda, “Enak kak!” jawab Mira.

“Oya kenalin, aku Linda, aku kerja di TV9, kalo kamu ga keberatan, aku pengen tahu, gimana kamu bisa seperti ini?” tanya Linda, Mira berhenti sejenak, raut wajahnya berubah menjadi sedih “Oh itu, anu Kak, 7 bulan yang lalu ketika aku dan pacarku lulus SMA, kami main ke puncak, disana cowoku terus merayuku dan akhirnya kami melakukan itu, 3 bulan kemudian, aku sadar kalau aku hamil, akupun meminta pacarku untuk bertanggung jawab, namun dia malah kabur dengan alasan mau kuliah di luar negri! Orang tuaku sangat malu dan memintaku untuk menggugurkan bayi ini! Tapi aku menolaknya! Aku ingin membesarkan bayi ini walaupun harus menjadi single parent sekalipun! Dan akhirnya mereka mengusirku karena malu!”.

Linda merasa sangat prihatin dengan nasib tragis Mira, tapi dia juga kagum kepada semangat Mira yang nampaknya sangat menyayangi bakal calon bayinya itu, “Bagus Mir, kakak kagum sama semangatmu! Lalu sekarang kamu tinggal dimana Mir?”, Mira meneguk es teh manisnya sebelum menjawab untuk membasahi tenggorokannya “Aku ngekost di deket sini Kak, untuk membayarnya aku bekerja jadi tukang cuci dan pembantu rumah tangga panggilan, tapi tetep aja masih kurang, makanya aku tadi nekad ngejambret dompet ibu itu!”.

Linda terdiam mendengarnya, kemudian dia membiarkan Mira meneruskan makannya, setelah habis, Linda menawarinya lagi “mir, apa kamu masih lapar? Kalo masih lapar, nambah lagi aja!”, Mira mengangguk “Eh iya Kak hehehe… Kayaknya bayiku laki-laki jadi pengen nambah terus!”, Linda tersenyum mendengarnya, kemudian dia pun memesan lagi untuk Mira “Ci, Mie Yamin Baso Pangsitnya satu lagi ya!”.

Setelah selesai makan, merekapun keluar dari kedai itu, “Makasih ya Kak udah nolongin dan nraktir aku, aku ga akan ngelupain jasa Kakak!” ungkap Mira sambil menitikan air mata.

Linda pun merangkul Mira “Ah bukan apa-apa Mir, kita kan sebagai manusia harus saling membantu, oya ini nomer aku, di save ya!” Linda pun lalu menyebutkan nomor HPnya pada Mira si gadis yang malang itu, Mira pun mensave nomor Linda di HPnya “Nah Mira, kalo kau lagi ada kesulitan, jangan ragu buat menghubungiku ya!”.

Betapa terharunya Mira mendapatkan kebaikan hati Linda yang begitu peduli kepadanya, diapun langsung memeluk Linda “Pasti Kak! Makasih ya, Kakak udah baik banget sama aku! Selama ini yang aku dapatkan cuma caci maki dan hinaan! Orang-orang tidak memperlakukanku layaknya manusia! Cuma Kakak yang baik padaku!” ucapnya sambil menangis, Linda pun balas memeluknya, air matanya pun menetes “Ya Mir, pokoknya jangan lupa untuk selalu menghubungiku ya!”.

*****

Di lain tempat, Anisa dan yang lainnya sedang nongkrong di kantin kampusnya seperti biasa, hanya Darwin yang tidak nampak batang hidungnya, “Si Darwin kemana sih?” tanya Anisa dengan sedikit kesal.

“Cie yang lagi khawatir sama cowonya nih!” sorak Fina, “Lho bukan gitu Fin! Sejak wisuda Cynthia sama Devi 2 hari yang lalu, si Darwin tiba-tiba jadi susah dihubungi, sms sama Lineku ga dibalesnya! Kemaren aja seharian aku ga ketemu sama dia! Kan aku jadi khawatir!” jawab Anisa.

“Tapi iya juga sih, biasanya kan dia rajin kuliah, kok sekarang dia bolos ye?” tanggap Dony. Anisa hanya termenung, yaseperti yang diceritakannya tadi, semenjakwisuda Cynthia dan Devi 2 hari yang lalu, tiba-tiba Darwin menghilang tanpa kabar, dia juga tidak membalas sms maupun LINE dari Anisa.

Sementara itu Darwin sedang terduduk sendiri di bangku taman Kampusnya, pikirannya sangat kalut, hatinya menggalau hebat! “Apa yang harus kulakukan sekarang? Kemarin Anisa sangat bersedih ketika harus berpisah dengan Cynthia dan Devi walaupun suatu saat mereka masih bisa bertemu, apalagi kalau dia tahu kalau aku sedang sekarat dan waktuku sudah tak lama lagi?!”.

Ketika dirinya sedang termenung seperti itu, tiba-tiba ada seorang gadis berdiri dihadapannya “Kamu lagi ngapain Win?” tanya gadis itu. Darwin, Darwin terkejut mendengar suara itu, diapun mengangkat wajahnya dan… Matanya melotot menatap gadis itu, bukan main terkejutnya ia dengan kehadiran gadis itu yang tiba-tiba berada di depannya, petir yang menyambar di tengah hari siang bolongpun rasanya tidak sebanding dengan kekagetan Darwin ketika melihat sosok gadis itu.

Darwin tertegun menatap gadis itu, gadis bertubuh agak berisi dan berkaca mata, berambut panjang hitam lurus serta berkulit hitam manis itu tertawa kecil melihat kekagetan Darwin itu, dari bentuk wajah serta fisiknya dan logat bicaranya pastilah orang akan tahu kalau gadis berkulit hitam manis ini adalah orang Bali, “Win, boleh aku duduk disampingmu?”.

Darwin tidak menjawab, dia masih terkesima dengan kehadiran gadis itu yang tiba-tiba tersebut, tanpa dipersilahkan oleh Darwin, gadis hitam manis yang mengenakan kaos berwarna putih dengan hotpants berwarna pink, dan berkaos kaki putih selutut serta bersepatu warior berawarna pink itupun duduk disamping Darwin “Udah dong kagetnya! Kamu kok kayanya kaget banget sih?”.

Akhirnya Darwin mulai dapat menguasai dirinya kembali, “Purie, kenapa kamu kok bisa tiba-tiba ada disini?”, Gadis yang bernama Purie Dewayanie itupun tertawa kecil, “Aku udah lulus dan milih buat Koas di Jakarta ini Win!”, namun tiba-tiba wajahnya berubah menjadi tegang dan serius “Aku Koas di Rumah Sakit Pelita Harapan, salah satu pembimbingku Dokter Yudi Cipto Negoro, jadi aku tahu semua tentangmu Win!”, Lagi-lagi Darwin dibuat terkejut oleh Gadis asal Bali ini “Apa?!” desisnya dengan mata melotot memandangi Purie.

Sekonyong-konyong Purie memegang tangan Darwin “Win, aku sengaja kesini buat nemenin kamu! Aku akan menemanimu sampai akhir!” ungkap Purie sambil meneteskan air matanya.

Saat itu kebetulan Mutia sedang berjalan melewati taman kampus, dan alangkah terkejutnya ketika melihat Darwin sedang berduaan dengan Purie! Lalu dia buru-buru sembunyi di semak-semak “Lho itu kan Purie?! Kenapa dia ada disini? Bukannya dia udah pindah ke Bali dulu? Dan lagi ngapain dia berduaan sama Darwin? Jangan-jangan…”.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?