PART 37

Dance With Life

Part 37

Di sudut lain, ternyata selain Mutia, ada juga seseorang yang mengamati Darwin yang sedang berduaan dengan Purie, mata orang itu melotot, dadanya terasa sangat sesak, dan sekujur tubuhnya menjadi terasa sangat panas! “Purie! Kenapa dia ada disini? Brengsek! Teryata benar kalau kamu lebih memilih Darwin! Awas kau Win!” ungkap orang itu didalam hatinya dengan penuh dendam!

Darwin terlihat salah tingkah ketika dengan tiba-tiba dia bertemu dengan seseoragng yang pernah mengisi relung hatinya di masa lalu itu, “Purie, kamu tahu darimana kalo aku lagi sakit Tumor Otak? Karena aku sudah meminta kepada Dokter Yudi untuk merahasiakan hal ini!”.

Purie terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah kolam air mancur dihadapannya “Aku tahu kamu deket sama Dokter Yudi Win, beberapa waktu yang lalu aku lihat kamu sedang berkonsultasi sama Dokter Yudi, saat itu aku ingin sekali menyapamu, tapi setelah melihat ekspresi Dokter Yudi yang terlihat sangat sedih, aku urungkan niatku dan bertanya kepadanya, apa yang terjadi padamu, awalnya dia merahasiakan keadaanmu, tapi setelah aku memperlihatkan foto-foto kita dan menceritakan kedekatan hubungan kita, akhirnya aku bisa membujuk Dokter Yudi untuk menceritakan keadaanmu yang sebenarnya!”.

Purie lalu membuka kacamatanya, tubuhnya berguncang, air matanya perlahan menetes, digigitnya bibir bagian bawahnya untuk menahan isak tangisnya “Demi Tuhan! Kenapa? Kenapa kamu harus mengalami ini?! Kenapa kamu merahasiakan hal ini kepada semua orang?!”.

Darwin terdiam dengan wakah muramnya, dan tangis Purie pun meledaklah! Purie langsung memeluk Darwin dengan eratnya! “Win perasaanku ke kamu masih sama kaya dulu! Aku… aku ga bisa menghapus dirimu dari hatiku!”.

Darwin tertegun mendengarnya, kemudian diapun balas memeluk gadis asal Bali yang berkulit hitam manis itu, di pelupuk matanya seakan tergambar lagi kenang-kenangan dirinya di masa lalunya.

Saat itu Darwin masih duduk di bangku kelas 3 SMA, Darwin cukup dikenal disekolahnya (terutama di kalangan siswi-siswi) karena prestasi akademiknya yang cemerlang dan ketampanan rupanya, selain tentunya orang-orang sudah tahu kalau Darwin adalah anak seorang pengusaha yang sukses! Selain itu yang dikenal dari Darwin adalah hampir setiap saat ia selalu bersama dengan kelima sahabatnya yaitu Togar, Dony, Anisa, Mutia, dan Fina.

Darwin termasuk orang yang supel, ramah, humoris, dan mudah bergaul dengan siapa saja, namun ada satu sifatnya yang kurang disukai oleh teman-temannya, yaitu, dia sangat tertutup! Dia tidak pernah ‘curhat’ kepada teman-temannya walaupun dia sering mendengar curhatan orang lain, Darwin merasa segan untuk menceritakan masalah pribadinya kepada orang lain. Diantara semua teman-temannya hanya Anisalah yang mengetahui hampir semua tentang Darwin, Darwin hanya mau curhat kepada Anisa secara rahasia.

Saat itu sebenarnya Anisa sudah menaruh hati kepada Darwin, begitupun dengan Darwin, namun yang membuat Anisa kesal adalah Darwin seolah hanya menganggapnya sebagai sahabatnya, penantian Anisa untuk mendengar secara langsung pengakuan Darwin kepada dirinya dirasanya hanya seperti menunggu bintang jatuh! Sementara Darwin yang menaruh hati kepada Anisa merasa segan untuk menyatakan perasaan cintanya, karena khawatir akan merusak persahabatan mereka sehingga ia memutuskan untuk mengubur dalam-dalam perasaannya!

Anisa yang merasa kesal karena Darwin tidak kunjung menyatakan cintanya, akhirnya memutuskan untuk menerima cinta Gusti yang masih teman satu kelasnya juga. Mengetahui Anisa sudah jadian dengan Gusti, Darwin pun tenggelam dalam jurang kesedihan dan kekecewaan yang teramat sangat, walaupun ia masih tetap meyakini bahwa kalau inilah yang terbaik karena ia tidak ingin merusak persahabatannya dengan Anisa yang sudah terjalin sejak mereka masih kecil. Kesedihan terus berlanjut, ketika Anisa sempat gonta-ganti pasangan, hingga pada suatu saat, Darwin dinobatkan sebagai siswa paling berprestasi disekolahnya bersama seorang siswi lainnya yang bernama Purie Dewayanie, dari sanalah mereka mulai berkenalan dan menjalin hubungan pertemanan yang cukup akrab.

Ternyata kharsima Darwin yang sangat mempesona itu, dapat menarik hati Purie, hingga Purie pun terpaksa menolak cinta seorang temannya yang bernama Samuel! Dari sanalah Samuel menaruh dendam kepada Darwin, dia pernah memukuli Darwin dengan alasan kalau Darwin sudah merebut pacarnya yakni Purie, Darwin yang merasa tidak enak kepada Purie pun meceritakan semuanya, namun Purie menegaskan kalau Samuel bukan pacarnya! Maka hubungan mereka pun terus berlanjut, lama kelamaan, Darwin mulai menaruh hati kepada gadis asal Bali itu walaupun berbebsa keyakinan, begitupun Purie yang mulai jatuh hati kepada Darwin, hubungan mereka semakin intim walaupun mereka tidak pernah secara resmi berpacaran.

Mengetahui keakraban Darwin dengan Purie, Anisa merasa sangat sakit hatinya! Hubungan mereka pun merenggang, Anisa lebih banyak mengahabiskan waktunya bersama pacarnya, begitupun Darwin yang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Purie.

Setelah lulus dari SMA, Orang Tua Purie harus kembali Bali karena mereka membuka usaha Butik dan Café di kawasan Legian, Purie pun masuk kuliah di Fakultas Kedokteran disana, dengan berat hati Darwin berpisah dengan Purie karena mengingat kedekatan mereka yang sudah seperti sepasang kekasih itu. Setelah kepergian Purie ke Pulau Dewata, perlahan hubungan Anisa dan Darwin pun membaik lagi, dan akhirnya mereka masuk ke Universitas yang sama dengan jurusan yang sama, malah mereka bisa satu kelas juga di Jurusan Rekayasa Genetika di Fakultas Bioteknologi Universitas Atmanagara.

Anisa memutuskan pacarnya karena tujuan awalnya hanya untuk bersenang-senang dan memanas-manasi Darwin, bagaimanapun dia hanya mencintai Darwin seorang! Dan akhirnya hubungan mereka kembali seperti semula, statusnya bersahabat, namun hubungan mereka seperti sepasang kekasih, hubungan itu terus berlangsung samapi tiga tahun kemudian dan akhirnya mereka pun resmi jadian setelah Darwin mendapat cobaan mengalami penyakit Tumor Otak, Darwin akhirnya berani menyatakan perasaannya pada Anisa karena mengingat usianya yang tidak lama lagi. Darwin pun berubah menjadi orang yang sensitive terhadap persoalan social disekitarnya dari yang asalnya cuek dan abai terhadap persoalan orang lain, kini ia siap membantu siapa saja yang membutuhkannya.

Bayangan-bayangan masa lalunya itu seakan tergambar jelas bagaikan di layar perak pada pelupuk matanya. Saat ia sedang melamun seperti itu, Purie menepuk bahunya dan membangunkannya dari lamunannya “Win kamu kenapa?”.

Darwin pun lalu menoleh pada Purie, “Eh ga apa-apa kok Pur, apa yang terjadi pada diriku, bairlah terjadi! Karena aku yakin ini sudah kehendak Tuhan, aku sudah pasrah!”, Purie tertunduk sambil menahan tangisnya, Darwin lalu mengangkat kepala Purie, mengusap air matanya dan memakaikan kacamata kepada Purie “Purie, sudahlah! Daripada kita membahas ini, gimana kalo kita jalan-jalan sambil menceritakan tentang kamu yang tiba-tiba kembali Jakarta?”.

Purie mengangguk sambil tersenyum, walaupun air matanya masih mengalir, tapi wajahnya terlihat sangat cantik, deretan giginya yang rapih dan putih bersih, membuat Darwin terkesima akan kecantikan gadis hitam manis ini “Ya apapun yang kau inginkan Win! Aku pasti akan mengikutimu!” jawabnya, kemudian mereka berduapun beranjak dari tempat itu.

Mutia yang menyaksikan hal itu dari semak-semak jadi merasa serba salah “Aduh! Gue ga nyangka ternyata si Darwin bisa bebuat brengsek kaya gini juga! Dia kan sekarang udah punya Anisa, kok bisa-bisanya dia nyosor sama si Purie! Apa yang harus kulakukan ya? Apa aku bilang aja terus terang sama Anisa? Ah tapi ntar mereka ribut lagi dan Anisa jadi sakit hati sama Darwin! Tapi kalo aku ga bilang, kasian juga Anisa diduain sama si Darwin!”.

Mutia lalu meninggalkan tempat itu, dia terus berpikir keras untuk melakukan apa setelah menyaksikan apa yang dilihatnya di taman tadi, ketika dia sampai ke kelas, Anisa langsung menghampirinya “Heh Mut, kenapa lo? Kok keliatannya murung gitu?”.

Mutia tersenyum pahit, kemudian ditatapnya wajah Anisa “Nis, apa kamu bener-bener khawatir sama Darwin?”, Anisa mengangguk “Ya iiyalah!”, Mutia lalu menarik nafas panjang “Apa kamu bener-bener mencintai Darwin?”, Anisa mengangguk lagi “Iya Mut, itu mah ga usah ditanya lagi kali! Tapi kenapa lu tiba-tiba nanya kaya gitu Mut?” tanya Anisa yang keheranan.

Mutia menunduk, dia benar-benar merasa serba salah “Sebenernya…”, Anisa mengangkat alisnya “Sebenernya apa?”, Mutia lalu menatap wajah sahabat baiknya itu, dia jadi merasa tidak tega untuk menceritakan yang sebenarnya “Eh enggak Nis, gue cuma nanya aja” jawab Mutia, Anisa jadi merasa heran dengan sikap Mutia yang ganjil itu.

*****

Sementara itu, Linda dan Andre sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Seniman Lukis Wiyasa Sutalaksana di Kawasan Lembang Bandung Utara, sepanjang perjalanan Linda nyaris selalu terdiam, di benaknya tak henti-hentinya bayangan Mira si Gadis yang sedang hamil itu selalu tergambar. Linda merasa sangat prihatin dengan kehidupan gadis yang malang itu “Oh Tuhan, kenapa Mira harus mengalami nasib seperti ini? Kenapa orang tuanya tega mengusirnya padahal dia sedang hamil? Kenapa laki-laki yang menghamilinya bertindak pengecut dan tidak mau bertanggung jawab? Kenapa manusia-manusia jaman sekarang, seolah abai tidak peduli kepada sesamanya, sehingga membiarkan Gadis malang seperti Mira harus menderita?” gumamnya dalam hati dengan sangat sedih.

Andre jadi merasa tidak enak melihat Linda yang terus murung itu, “Nda, kamu ga apa-apa? Apa kamu terlalu tegang buat nemuin Pak Wiyasa?”, pertanyaan dari Andre tersebut seakan menyadarkan Linda pada tugasnya yaitu membujuk pelukis aneh yang bernama Wiyasa Sutalaksana itu agar bersedia diwawancarai, “Eh aku ga apa-apa kok Ndre!” jawab gadis berkulit putih bersih ini, kini Linda memikirkan bagaimana caranya untuk membujuk Wiyasa agar mau diwawancarai.

Beberapa saat kemudian, mereka sampailah di sebuah rumah besar yang cukup mewah di kawasan Lembang itu, Linda dan Andre pun dipersilahkan untuk masuk ke Galeri lukis milik Pak Wiyasa, setelah beberapa saat menunggu, orang yang ditunggu-tunggu mereka pun datanglah! Jantung Linda dan Andre berdegup kencang ketika melihat sosok Pria Tua yang bagian tengah kepalanya botak, tetapi rambut dipinggirnya yang telah putih itu dibiarkan panjang dan diikat kebelakang, bau rokok yang dihisapnya seakan memenuhi ruangan itu, “Siapa kalian? Ada perlu apa kemari?” tanyanya dengan mata melotot.

Gadis berambut cokelat gelap panjang lurus ini bergidik ketika melihat tatapan mata Pak Wiyasa yang sangat tajam itu, Pak Wiyasa lalu terenyum, dari sela-sela mulutnya mengepul asap rokok yang dihisapnya, giginya agak kekuningan karena rokok yang selalu dihisapnya dan kopi yang sudah seperti air putih untuk minum baginya, Linda lalu memberanikan dirinya untuk mengungkapkan maksud kedatangannya “Permisi Pak, kami dari TV9 kami mau…”.

Linda tidak keburu mengungkapkan maksudnya secara jelas karena keburu dipotong oleh Pak Wiyasa “Apa? Reporter?! Bukankah kalian sudah tahu bahwa aku tidak suka diwawancarai! Kalau kalian ingin tahu tentangku silakan perhatikan lukisan-lukisanku!” tandasanya!

Andre lalu angkat bicara mencoba untuk membantu Linda “Maaf pak, tapi kami hanya ingin mengetahui semua tentang Bapak dan lukisan-lukisan Bapak yang konon harganya sampai miliaran itu! Kami mohon agar Bapak suka untuk kami wawancarai!”.

Mata Pak Wiyasa mendelik, lalu menatap tajam pada Andre, jantung Andre serasa membeku ketika melihat sorot matanya yang tajam itu “Apa yang ingin kalian ketahui tentangku? Dan… lukisan-lukisanku yang berharga miliaran? Hehehe, kalau hanya itu yang kalian dan masyarakat pikirkan, Masyarakat tidak perlu tahu untuk Apa Wiyasa Sutalaksana melukis! Yang kalian pikirkan hanya popularitas seorang seniman dan karyanya yang menghasilkan duit!”.

Andre langsung membisu mendengar perkataan Pak Wiyasa yang tegas dan bersuara berat itu, Linda lalu memberanikan diri untuk menatap mata Pak Wiyasa, Pak Wiyasa pun menatap mata Linda untuk beberapa saat, walaupun jantung Linda berdegup kencang, namun dia terus memberanikan diri untuk menatap mata Pak Wiyasa yang dirasanya berbeda dengan orang kebanyakan, enatah mengapa aura Pak Wiyasa dirasanya sangat membuat gentar hatinya! Namun kemudian Linda menekan perasaan tegang di hatinya, “Maafkan kami kalau kami memang terbilang sangat ‘Cupet’ dalam dunia seni Pak, tapi justru kedatangan kami adalah untuk mengetahui pandangan Bapak tentang arti Kesenian yang seutuhnya, bukan hanya dari sudut pandang ekonomi komersil saja!”.

Pak Wiyasa tersenyum simpul mendengar jawaban dari Linda tersebut, lalu tangannya mengusap-usap janggutnya yang telah memutih, dan ada semacam rasa ketertarikan dari dalam dirinya kepada Linda “Hehehehe… Kamu berni juga Nona kecil, tapi apakah itu tulus dari dasar hatimu ataukan hanya untuk kepentinganmu agar aku bersedia diwawancarai?”.

Linda terdiam, namun dia tetap memberanikan diri untuk menata mata Pak Wiyasa, Pak Wiyasa jadi semakin tertarik kepada keberanian Linda ini “Hehehe… baiklah kalau memang apa yang diucapkan olehmu tadi memang benar! Sekarang aku mau bertanya kepada kalian, coba kalian lihat kedua lukisan itu!” tunjuk Pak Wiyasa kepada dua lukisan yang menggantung di dinding galerinya “Itu adalah dua dari lukisan-lukisanku yang menggambarkan tentang materi duniawi!”.

Linda dan Andre lalu memperhatikan kedua lukisan itu, “Yang pertama, itu adalah lukisan ketika Raja dan seluruh rakyat kerajaan Buleleng melakukan ‘Bela’ atau bunuh diri setelah kalah perang oleh Belanda, yang kedua itu adalah lukisan Sawah-sawah di Sumedang yang dibakar oleh Belanda untuk memaksa Pangeran Kornel menyerah kepada Belanda!”.

Linda dan Andre terdiam mencoba menebak apa maksud dari si Pelukis Nyentrik ini, “Suahkah kalian perhatikan dengan seksama kedua lukisan itu? Sekarang aku ingin bertanya kepada kalian, berdasarkan dari lukisan itu, Duit memang adalah malaikat penolong kehidupan manusia, tapi apakah semua hal di dunia ini yang berhubungan dengan manusia harus berhubungan dengan duit?”.

Linda dan Andre saling pandang mendapati pertanyaan itu, mereka tidak paham pada maksud si pelukis ini, Pak Wiyasa lalu tersenyum sinis “Kalian tidak bisa menjawabnya! Kalau begitu kalian sama saja dengan wartawan-wartawan lainnya! Ok, sekarang saatnya kalian pergi dari sini!”.

Andre nampak kebingungan mendengar ucapan dari Pak Wiyasa tersebut, namun Linda nampak masih berdiri tegak di tempatnya, diapun lalu menatap tajam pada Pak Wiyasa “Maaf Pak kalau kami memang tidak bisa menjawab pertanyaan Bapak! Tapi kami tidak akan pergi dari sini sampai Bapak bersedia kami wawancarai!”.

Pak Wiyasa melotot mendengar perkataan Linda yang tegas itu, dia lalu menatap mata Linda yang sedang menatap tajam pada dirinya itu, diam-diam dia mulia merasa kagum kepada tekad Linda, biasanya kalau wartawan lain tidak akan sampai bertekad seperti Linda dan sudah pulang, namun Linda lain! Dia lalu mengangguk-ngangguk sambil tertawa terkekeh “Ehehehe… Baiklah terserah kalian mau melakukan apa! Tapi kalian jangan berani mengangguku lagi!”.

Melihat keberanian gadis berwajah Arab yang ia taksir tersebut, keberanian Andre pun tumbuh “Baiklah kalau begitu! Kami akan melakukan apa saja yang Bapak perintahkan kepada kami!”, Pak Wiyasa lalu melirik kepada Andre “Hmm… Apakah kalian ini sepasang kekasih? Bagus kalau kau mulai bernai untuk membela gadismu itu! Ketahuilah aku tidak akan memerintahkan kalian apa-apa karena aku bukan pemerintah ataupun bos kalian!”.

“Kalau begitu kami akan membantu Bapak apa saja dengan senang hati dan ikhlas!” jawab Andre dengan lantang, Pak Wiyasa tersenyum mendengarnya “Baiklah kalau begitu! Kalian lihat halamanku yang berantakan akibat daun-daun yang gugur? Aku minta kalian membersihkan halamanku!”.

Linda dan Andre melihat kesekeliling halaman itu, halaman rumah Pak Wiyasa itu sangat luas! Tentulah akan memakan waktu lama untuk membersihaknnya! Namun karena Andre sudah bertekad untuk membantu Linda, maka diapun menyanggupinya “baik Pak! Kami akan membantu membersihkan halaman bapak!”, “Bagus!” jawab Pak Wiyas, dia lalu menunjuk kedua sapu yang ada dihalamannya “Itu sapunya, dan sekalian kalian juga tolong sirami tanamanku dan potonglah rumput-rumput liarnya!”.

Maka Linda dan Andre pun mulai melakukan tugasnya yang ‘tidak biasa’ itu, “Ndre maafin aku ya, gara-gara aku, kamu jadi kaya pembantu gini!” ucap Linda dengan memelas, “Nda, kamu itu kaya ke siapa aja sama aku ini! Kita kan sepasang kekasih! Udah sewajarnya kalau semua beban kita tanggung berdua!”, Linda tersenyum mendengar jawaban dari Andre tersebut, “Makasih ya Ndre!”. Diam-diam Pak Wiyasa memperhatikan gerak-gerik mereka dari ruangan galerinya, diapun tersenyum simpul melihatnya.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?