PART 38

Dance With Life

Part 38

Hari telah mulai gelap, Linda dan Andre telah menyelesaikan tugas dari Pak Wiyasa untuk mengurus halaman dan kebunnya, butir-butir keringat bercucuran di wajah Linda, Andre pun langsung mengelap keringat Linda dengan sapu tangannya “Makasih Ndre!” ungkap Linda, Andre pun tersenyum “Kamu haus Nda? Rasanya aku masih punya air mineral di mobil” tawar Andre.

Sedang mereka bercakap-cakap seperti itu, datanglah Pak Wiyasa “Kalian sudah menyelesaikan pekerjaan kalian?” tanyanya, “Sudah Pak!” jawab Andre, Pak Wiyasa lalu melemparkan pandangan kesekelilingnya, halaman rumahnya memang sudah rapih dan bersih, rumput-rumput liar sudah dipotongi, dan tanaman-tanamannya nampak segar karena baru saja disiram oleh Andre dan Linda, Pak Wiyasa pun tersenyum puas “Bagus! Hehehe… Ok sekarang kalian ikut aku!” perintahnya sambil melangkah meninggalkan mereka, Linda dan Andre saling berpandangan mencoba menebak apa yang hendak Pak Wiyasa lakukan, lalu merekapun mengikuti Pak Wiyasa dari belakang.

Beberapa langkah kemudian, sampailah mereka ke sebuah balai Gazeebo, di tengah balai tersebut, sudah terhidang makanan dan minuman, Pak Wiyasa lalu menoleh pada Linda dan Andre “Kalian tentu lelah bukan? Sekarang, kita makan malam dulu bersama, Washtafell nya ada disebelah sana!”.

Linda dan Andre cukup terkejut dengan jamuan makan ini, mereka tidak mengira kalau Pak Wiyasa yang nampaknya tidak bersahabat dengan mereka menjamu mereka makan malam, merekapun lalu menuruti ajakan makan malam itu dengan mencuci tangannya terlebih dahulu, setelah mereka mencuci tangannya dan duduk di meja makan, sajian Ikan gurame Bakar, Gepuk, Tahu dan tempe goreng, ulukuteuk leunca, serta satu bakul nasi putih hangat yang asapnya masih mengepul membuat Linda dan Andre menelan ludahnya karena perut mereka memang sudah lapar, melihat Linda dan Andre yang sudah nampak kelaparan itupun Pak Wiyasa segera mempersilahkan mereka makan, “Silahkan!”.

Linda dan Andre pun langsung menyantap hidangan itu, walaupun mereka sangat lapar, namun mereka tetap berusaha menjaga sopan santunnya, apalagi mereka tahu, kalau Pak Wiyasa seolah selalu mengawasinya.

Mulanya Linda cukup lahap menyantap makan malamnya itu, tapi tiba-tiba wajah Mira si gadis malang itu terbayang di matanya, “Ya Allah, apa yang sedang Mira lakukan sekarang ya? Disaat aku bisa makan enak seperti ini, bagaimana dengan Mira? Untuk makan saja dia sudah kesusahan padahal dia sedang hamil!”,

Perubahan sikap Linda tersebut tidak terlepas dari pandangan Pak Wiyasa yang matanya seolah-olah selalu mengawasi Linda, “Hei Nona! Namamu Linda bukan? Apa yang sedang kau pikirkan? Kau tentu bukan sedang memikirkan bagaimana caranya untuk mewawancaraiku bukan?”, Linda bagaikan disengat tawon mendengar pertanyaan itu karena dugaan Pak Wiyasa tidak meleset sedikitpun, namun dia merasa segan untuk mengatakan yang sebenarnya “Eh tidak ada apa-apa Pak!”, Pak Wiyasa tersenyum simpul, pengelihatnnya dan nalurinya yang sangat awas itu tidak dapat dibohongi oleh Linda.

Setelah makan malam itu selesai, Pak Wiyasa mengatakan hal yang sangat tidak diharapkan oleh Linda dan Andre “Baiklah, sekarang saatnya kalian berdua pulang!”.

Andre dan Linda terkejut bukan main! “Apa?! Tapi Pak, kami kan sudah membantu dan melakukan apa yang Bapak minta!”, Pak Wiyasa tertawa terkekeh, “Hehehe… Ya aku berterima kasih karena kalian telah membantuku, makanya aku menyuguhkan makan malam pada kalian, aku tidak pernah berniat untuk diwawancarai oleh kalian!”.

Kembali Linda dan Andre saling berpandanga karena sikap si pelukis aneh ini yang selalu tidak dapat mereka duga itu, namun Linda sudah bertekad untuk dapat mewawancarai si pelukis aneh ini, “Maaf Pak! Kami tidak akan meninggalkan tempat Bapak sebelum Bapak bersedia kami wawancarai!”.

Pak Wiyasa menoleh pada Linda, matanya menatap tajam pada mata Linda, Linda merasa seolah-olah jantungnya tertusuk oleh belati yang sangat tajam oleh tatapan Pak Wiyasa itu, nampaknya Pak Wiyasa benar-benar tertarik kepada Linda “Hmm… Nona, sedari tadi aku memperhatikanmu, aku tahu ada yang sedang kamu pikirkan walaupun kamu sedang mengemban tugas untuk mewawancaraiku! Kau juga tadi berkata ingin mempelajari arti seni yang sebenarnya, hmm… Baiklah! Sekarang aku memintamu untuk melukis! Lukislah secara jujur apa yang sedang kamu pikirkan dan rasakan pada kanvas ini!”.

Linda dan Andre sangat terkejut dengan ‘tantangan’ dari Pak Wiyasa itu, “Tapi Pak, saya g bisa melukis, saya” Linda tidak dapat meneruskan ucapannya karena keburu disela oleh Pak Wiyasa “Aku tidak akan menilai lukisanmu dari bagus atau tidaknya! Aku hanya ingin melihat lukisanmu saja, titik! Nah mulailah melukis sekarang juga!”, Akhirnya Linda pun menuruti perintah si Pelukis ini, diapun mulai menggoreskan pensilnya untuk membuat sketsa sebelum mulai melukis, “Aku akan lihat lukisanmu esok pagi!” ucap Pak wiyasa sambil melangkah meninggalkan mereka.

*****

Sementara itu di tempat lain, Darwin dan Purie sudah jalan-jalan seharian penuh, mereka berkeliling Jakarta, dari mulai Mall sampai ke tempat Wisata, kini setelah mereka selesai makan malam, mereka sedang berada di suatu taman bunga, “Aku senang sekali Win! Makasih ya!” ujar Purie.

“Sama-sama Pur, aku juga seneng!” jawab Darwin, Purie lalu menaruh kepalanya di pundak Darwin, “Aku bahagia sekali Win, walaupun… Walaupun waktu kebesamaan kita akan sangat singkat! Selama sisa waktumu, aku akan terus berada disampingmu!”.

“Makasih Pur” jawab Darwin perlahan, entah ekanap hatinya tidak dapat merasa senang apalagi bahagia ketika bertemu kembali dengan gadis pujaan hatinya di masa lalunya itu, bayangan wajah Anisa selalu nampak di pelupuk matanya, hati kecilnya selalu memanggil nama Anisa, Darwin merasa sangat bersalah pada Anisa karena ia merasa telah mengkhianati cinta Anisa! Purie menatap ke langit malam yang cerah dan bertaburan bintang itu, “Malam ini indah banget ya Win? Eh inget ga waku pertama kali kamu ngajak aku Dinner? Suasananya mirip banget kaya sekarang!”.

Purie lalu menatap Darwin dan membuka kacamatanya, “Win, perasaanku ke kamu dari dulu ga pernah berubah! Walaupun kita ga pernah secara resmi berpacaran dan berbeda keyakinan, tapi aku sangat mencintaimu Win!”, Darwin terdiam, dia sangat terpesona oleh kecantikan gadis hitam manis asal pulau Dewata ini! Lalu perlahan tangan Purie melepaskan kacamata Darwin dan memegang pundaknya, Darwin pun menatap Purie dengan tajam, mereka lalu saling mendekatkan wajahnya dan… Bibir mereka ‘betemu’ dalam kehangatan cinta dan kenang-kenangan masa lalu mereka! Mereka seolah menuntaskan dendam kesumat kerinduan mereka yang telah lama terkubur didalam pusara jiwa mereka masing-masing! Di bawah langit malam bertaburan bintang dan bulan sabit itu, cinta mereka yang lama seolah membara lagi!

Saat mereka semakin ‘panas’, tiba-tiba sosok Anisa berkelebat di benak Darwin, sosok Anisa seperti memandangi dirinya dengan wajah sedih! Darwin pun langsung melepaskan kecupannya dari bibir Purie, Purie keheranan dengan perbuatan Darwin yang tiba-tiba itu! “Kamu kenapa sih Win?!” tanyanya dengan setengah membentak.

Darwin terdiam, nafasnya masih terengah-engah, bayangan Anisa terus menari-nari di matanya, “Maafin aku Nis! Maafin aku! Aku… aku ga bermaksud buat menghianatimu! Aku…”, Purie menatap tajam pada Darwin “Darwin! Jawab aku!”.

Darwin terdiam, dia hanya menundukan kepalanya saja, “Oh aku tahu! Kamu lagi mikirin Anisa ya?! Dari tadi aku perhatiin kamu, kamu kalo senyum juga kaya yang dipakasakan gitu! Tapi walaupun begitu, aku masih berusaha buat membahagiakanmu! Win, kenapa sih Anisa harus selalu jadi penghalang hubungan kita?! Dulu kita ga jadian gara-gara kamu masih terus mikirin Anisa walaupun dia udah jadian sama cowo lain!”.

“Maafin aku Pur, ini salah! Aku…” Plaakkk! Purie menampar Darwin, air matanya mulai mengalir, “Win ga cukupkah? Ga cukupkah semua yang aku lakuin buat kamu?!”, Darwin memegangi pipinya yang kena tampar itu, “Maafin aku Pur, tapi keadaannya sudah lain sekarang, aku udah jadian sama Anisa!”.

Betapa terkejutnya Purie mendengar itu, air matanya semakin derasa mengalir “Apa? Jadi aku ini cuma pelarianmu?! Aku ini cuma selingkuhanmu?!”, “Maaf Pur, jujur aku juga mencintaimu! Tapi aku ga bisa menghianati Anisa! Aku juga sangat mencintai Anisa!”, Plakkk! Untuk kedua kalinya tamparan Purie mendarat di pipi Darwin “Kurang apa aku sama kamu?! Sampai aku bersedia menemanimu dan masih mencintaimu walaupun umurmu tinggal beberapa bulan lagi!”.

“Maaf Pur!”, hanya kata itulah yang terucap dari mulut Darwin yang tertunduk dengan lemas, Purie lalu mengangguk-ngangguk “Baik! Baik! Aku ga akan menganggu kalian lagi! Dan aku doakan semoga hubungan kalian langgeng dan Anisa bersedia untuk selalu berada disisimu walaupun umurmu dudah pendek! Meskipun sejujurnya aku ragu apakah cewek super egois seperti Anisa mau melakukannya untukmu!”, sesudah mengucapkan itu, Purie langsung berlari meninggalkan Darwin, Darwin berusaha mengejarnya, namun Purie keburu naik taksi, tinggalah Darwin berdiri mematung sendirian disana dengan pikiran tak menentu!

*****

Keesokan harinya, Linda dan Andre ketiduran di Galeri lukis milik Pak Wiyasa, Pak Wiyasa masuk dengan perlahan ke Galeri lukisnya itu untuk melihat lukisan Linda, saat dia menghampiri mereka, dilihatnya Linda dengan Andre masih tertidur, kemudian dia melihat lukisan karya Linda, matanya melotot kagum pada lukisan karya Linda tersebut.

Saat Pak Wiyasa sedang memperhatikan lukisan Linda, Linda dan Andre pun terbangun, beta terkejutnya Linda ketika melihat Pak Wiyasa sedang memperhatikan lukisanya, “Lukisanmu bagus sekali Nona!”, Linda merasa tidak percaya dengan pujian Pak Wiyasa tersebut, karena dia sendiri merasa lukisannya jelek “Ah masa sih Pak?” tanyanya tidak percaya.

“Ya lukisanmu bagus sekali! Tapi ada yang ingin aku tanyakan, kenapa kamuu melukis perempuan hamil yang sedang menangis ini?” tanya Pak Wiyasa, Lindapun menjawab dengan sedikit grogi “Eh anu Pak… Bapak kan meminta saya untuk melukiskan apa yang sedang saya pikirkan dan rasakan secara jujur, nah yang sedang saya pikirkan dan rasakan adalah seorang gadis malang berusia 18 Tahun yang sedang hamil karena kecelakaan, dia diusir oleh orang tuanya dan laki-lakinya tidak mau bertanggung jawab, hingga akhirnya dia harus menghidupi dirinya sendiri! Tidak ada seorangpun yang peduli kepada dirinya, mereka seolah-olah memperlakukan gadis ini seperti seorang kriminil!”.

Pak Wiyasa mengangguk-ngangguk, “itulah sebabnya kusebut lukisanmu sangat bagus, karena kamu jujur untuk menuangkan apa yang sedang kamu pikirkan! Ketahuilah! Kejujuran sangat diperlukan dalam kesenian, karena dia mempresentasikan dari apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh senimannya!” ujar Pak Wiyasa yang wajahnya menjadi cerah dan nada bicara yang ramah bersahabat itu.

Linda dan Andre saling pandang karena merasa heran dengan perubahan Pak Wiyasa tersebut, Pak Wiyasa mahfum dengan dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Linda dan Andre tersebut, “Kalian tentu merasa heran dengan sikapku bukan? Ya aku mengerti, banyak orang yang tidak mengerti dengan sikapku ini, tapi akan aku ceritakan mengapa aku bersikap seperti ini.

Profesi saya sebagai seniman tak ada bedanya dengan profesi-profesi lainnya, dalam pengertian posisi dan keberadaannya dimata Kebudayaan. Sebagai profesi yang juga sandaran hidup, maka kebiasaan-kebiasaan yang kemudian berlangsung didalam profesi tersebut juga membentuk watak dan perilaku yang kemudian disebut dengan 'kebudayaan' secara individu atau kebudayaan saya sendiri.

Kesatuan perilaku yang terbentuk dari semenjak lahir hingga dewasa dan lalu harus mati disaatnya nanti, adalah sub-kebudayaan seorang Wiyasa Sutalaksana sebagai elemen-elemen dari Kebudayaan yg lebih besar dari masyarakat yang ada disekitar.

Maka, jika akhirnya saya harus bertindak untuk melawan keadaan, semata karena telah terjadi 'disharmoni' antara kebudayaan yang membentuk saya dari semenjak lahir dengan realitas KEBUDAYAAN baru dari masyarakat yang ada disekeliling saya, seperti apa yang sedang terjadi sekarang ini, manusia hanya mempedulikan kepentingan dirinya sendirinya!”.

Linda dan Andre tertegun mendengar penjelasan dari Pak Wiyasa itu, mereka mencoba memahami maksudnya, Pak Wiyasa lalu meneruskan penjelasannya lagi “Itulah sebabnya aku tidak mau diwawancarai karena aku tidak menemukan gunanya! Banyak orang yang membeli lukisanku samapi berani membayar ratusan juta rupiah hanya karena melihat label namaku dan keindahan lukisannya, jarang ada yang memahami filosofi dan tujuan untuk apa aku melukiskan lukisan itu! Perlahan-lahan, lukisan-lukisanku malah menjadi bagian gaya hidup bagi kaum Borjuis yang selalu memamerkan harta kekayaannya dan abai terhadap kehidupan di sekitarnya!”.

Linda dan Andre masih tertegun mendengar penjelasan Pak Wiyasa itu, tiba-tiba Pak wiyasa tertawa lebar “Hahaha… Aku senang karena ternyata di zaman edan seperti ini masih ada manusia yang peduli terhadap sesamanya seperti kamu! Memang si gadis itu bersalah, tapi dia tidak harus diperlakukan seperti seorang kriminil! Itu tidak adil! Sementara banyak sekali kriminil yang sejati tapi bisa hidup enak, dan malah masyarakat kita menyanjung-nyanjug mereka!”.

Pak Wiyasa lalu menyalakan rokoknya “Nona Linda, kamu sudah mengerti akan hakekat kesenian yang sebenarnya lewat lukisanmu itu! Kesenian adalah tempat manusia untuk berkespresi, bukan untuk mencari lainnya, sehingga kepekaan kita sebagai manusia yang berjuluk Insan Sosial akan terasah! Selain itu, aku juga tertarik dengan keuletanmu yang pantang menyerah itu! Baiklah! Aku bersedia untuk diwawancarai! Tapi dengan catatan, aku hanya mau diwawancarai olehmu, bukan oleh yang lain! Kalian tentukan saja kapan waktunya!”.

Mendengar persetujuan dari Pak Wiyasa tersebut, Linda dan Andre hampir melompat kegirangan! “Alhamdulliah! Terima kasih Pak!”, Linda dan Andre pun meninggalkan rumah Pak Wiyasa dengan perasaan lega, mereka segera menghubungi kantor TV9 agar kru mereka segera ke rumah Pak Wiyasa untuk mewawancarainya!

*****

Di lain tempat, Anisa sedang nongkrong di kantin kampus bersama teman-temannya, hanya Darwin yang tidak nampak disana, “Aduh Darwin kemana sih? Apa dia sakit lagi?” keluh Anisa, Mutia dan yang lainnya yang mendengarnya hanya mendengus kesal, di pelupuk matanya masih jelas bagaimana Darwin ‘bermesraan’ dengan Purie. Ya Mutia memberi tahukan kepada Fina cs tentang kelakuan Darwin, hanya kepada Anisa dia tidak memberi tahunya karena dia merasa kasihan kepada Anisa.

Saat itu, tiba-tiba datanglah seorang gadis berkulit hitam manis mengahmpiri mereka, Fina dan yang lainnya sangat terkejut melihat gadis ini, namun yang paling terkejut adalah Anisa! Gadis itu lalu tersenyum sinis pada mereka semua.

“Purie? Kamu kok…” Anisa tidak dapat meneruskan ucapannya saking kagetnya ketika melihat ‘saingannya’ di masa lalu itu, “Kelihatannya kamu kaget banget Nis!” sapa Purie. “Kamu ngapain kesini?” tanya Mutia dengan jutek yang mengetahui kelakuan Purie engan Darwin kemarin.

Purie tersenyum simpul, “Tenang Mut, aku dateng kesini bukan buat berantem kok, aku kesini cuma mau mengucapkan selamat pada Anisa dan menitipkan Darwin pada Anisa!”, Anisa dan yang lainnya tertegun karena tidak mengerti maksud Purie.

Purie lalu menghampiri Anisa, Anisa nampak serba salah ketika Purie menghampirinya “Anisa, aku titipin Darwin yah! Aku minta kamu selalu berada disisinya dalam keadaan apapun! Aku harap kamu benar-benar ikhlas dan mau menerima Darwin apa adanya, ingat! Apapun yang terjadi pada diri Darwin, jangan pernah kamu meninggalkannya! Atau aku akan merebut dan menggantikan posisimu!”.

Anisa melongo mendengar ucapan gadis asal bali yang bernama lengkap Ida Purie Dewayanie itu, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakannya, tapi Purie langsung melangkah meninggalkan dirinya, Anisa buru-buru memanggil Purie lagi “Purie! Tunggu Pur! Apa maksudmu?”, Purie hanya menoleh dan tersenyum simpul, kemudian melangkah lagi meninggalkan Anisa, “Win semoga kamu bisa selalu berbahagia bersama Anisa!” bisik Purie didalam hatinya.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?