PART 39

Dance With Life

Part 39

Anisa masih melongo setelah kepergian Purie, rasa curiga mulai menimbulkan syak wasangka dihatinya, “Beneran gue bingung! Ada apaan sih?! Gue ga ngerti!” ungkapnya, kemudian dia melirik pada Mutia karena merasa curiga dengan pertanyaan Mutia kemarin kepada dirinya “Mut, lu tahu kana apa yang sebenernya terjadi, makanya elu nanya yang gituan ke gue kemarin? Ayo jawab Mut!”.

Mutia jadi agak nampak gugup karena pertanyaan itu “Eh sebenernya… Sebenernya…”, Anisa jadi gemas dengan keragu-raguan Mutia itu “Ayo jawab Mut! Jujur aja! Apa yang sebenernya terjadi?! Kenapa tiba-tiba Purie jadi ada disini dan ngomong gitu sama aku!”.

Mutia agak kebingungan untuk menjawabnya, namun akhirnya dia menjawab juga “Nis, kemaren aku liat Darwin lagi bermesraan di taman kampus sama Purie! Selebihnya aku ga tahu kenapa Purie bisa tiba-tiba ada disini, dan apa yang terjadi selanjutnya!”, wajah Anisa jadi merah padam mendengar itu, dia jadi merasa geram pada Darwin “Win! Kenapa sih hubungan kita sering ada masalah?!” tanyanya dalam hati, namun kemudian dia teringat kepada ucapan Purie barusan “Eh tapi apa maksud Purie ngomong gitu ke aku? Jangan-jangan mimpi-mimpi burukku tentang Darwin memang pertanda akan sesuatu!” gumam Anisa, dia pun semakin penasaran pada Darwin dan akan terus mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan Darwin.

Di kelas, Samuel sedang duduk menyendiri di pojok ruangan, tangannya mengepal dengan keras, wajahnya nampak sangat muram, di matanya terus terbayang kejadian kemarin saat ia memergoki Darwin sedang bermesraan bersama Purie di taman kampus, “Brengsek kamu Win! Berlagak sok suci! Ternyata memang kamu menaruh hati pada Purie!” geramnya dalam hati.

Saat itu datanglah kedua temannya yakni Gusti dan Deni, “Hei Sam kenapa lu? Muka mpe kaya kepiting rebus gitu?” sapa Gusti, Sam lalu mengangkat kepalnya dan menatap Gusti “Kemarin aku lihat si Darwin sedang bermesraan bersama Purie di taman!”, Gusti dan Deni terkejut, “Apa? Kok Purie tiba-tiba bisa ada disini?” tanya Deni.

Samuel tidak menjawab, dia menatap ekspresi wajah Gusti, diapun memulai siasatnya dengan menghasut Gusti “Hehehe… Gusti, aku tahu perasaanmu pada Anisa, kau masih cinta padanya bukan? Tapi sayang, Anisa memutuskanmu karena Anisa lebih mencintai si Darwin!”, Gusti terdiam tidak menjawab, hanya mukanya mulai merah padam menandakan emosi mulai mengausai dirinya, Samuel tersenyum sinis melihat ekspresi temannya itu, “Si Darwin yang saat ini menjadi pacarnya Anisa ternyata menduakannya, namun nampaknya Anisa tidak marah pada Darwin!”.

Desah nafas Gusti mulai memburu karena emosinya sudah terpancing oleh Samuel, “Sama seperti dirimu Gus, aku tidak pernah suka pada kehadiran Darwin diantara kita! Mungkin kita memang tidak bisa menyingkirkannya, tapi aku puny ide untuk membuat si Darwin selalu merasa tidak nyaman hidupnya!”.

Gusti dan Deni yang memang tidak menyukai Darwin, mulai tertarik dengan pembicaraan Samuel itu, “Kayanya lu punya rencana Sam?” tanya Gusti, Samuel mengangguk sambil tersenyum “Iya gue punya rencana, gue yakin si Darwin akan merasakan penderitaan yang berlipat ganda!”, kemudian Samuel pun menceritakan rencananya kepada dua teman baiknya itu.

*****

Beberapa jam kemudian, dilain tempat, Purie sedang duduk di taman bunga yang kemarin malam ia kunjungi bersama Darwin, dia duduk sambil merenung, dia teringat kenangan-kenangan yang pernah ia lalui bersama Darwin, dari mulai pertama kali ia berkenalan dengan Darwin hingga kejadian kemarin malam, hatinya sungguh terasa pedih, bagaikan luka yang tersayat sembilu tajam yang kemudian ditaburi garam! Selama ini ia selalu memikirkan Darwin, hatinya tak dapat mengusir bayangan Darwin, asa dan harapannya kepada Darwin terus ia pelihara selama ini! Namun apa yang terjadi? Darwin malah lebih memilih Anisa.

Dengan berlinang air mata, Purie membuka Tabletnya dan melihat-lihat foto-foto Darwin bersama dirinya, begitu indahnya kenangan-kenangan manis itu hingga Purie tersenyum sendiri diantara tangisnya itu, “Darwin, aku ga pernah mengerti kenapa kamu lebih memilih Anisa yang selalu menyakiti hatimu?” gumamnya dalam hati. Purie lalu memandangi air mancur di hadapannya, airnya yang jernih seakan memantulkan bayangan langit biru yang luas tak berbatas, “Yah aku harus seperti langit biru yang luas tak berbatas! Aku masih bisa melanjutkan hidupku tanpa Darwin! Aku tidak mau menjadi Second Best dari Anisa! Darwin semoga kamu berbahagia selalu bersama Anisa!” tekad Purie didalam hatinya, kemudian dia menghapus seluruh foto-foto Darwin dari tabletnya!

Sementara itu, di balkon rumahnya, Darwin pun sedang duduk termenung seorang diri sambil memandangi awan putih yang berarak di langit biru, sesekali angin siang menyapa wajahnya yang sedang nampak muram itu! Di hatinya terjadi peperangan bathin antara Purie dengan Anisa “Apa yang harus kulakukan? Mereka berdua sangat berarti bagiku!” gumamnya dalam hati.

“Purie sudah sudah memberikan segalanya bagiku sejak masih di SMA dulu, kemarin pun tanpa bisa aku cegah kami melakukannya lagi, ia mengetahui keadaanku dan dia masih bersedia untuk selalu menemaniku, tapi Anisa belum mengetahui keadaanku yang sebenarnya dan aku belum sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya pada dia!”, Darwin lalu mengingat-ngingat lagi masa-masa yang telah ia lalui bersama Anisa, memang Anisa beberapa kali telah menyakitinya dengan berpacaran dengan beberapa pria lain, namun di lain sisi, Anisa juga adalah orang yang paling perhatian dan mengerti Darwin! Anisa telah menjadi sahabatnya semenjak ia masih berusia lima tahun, Anisa seakan selalu ada disisinya walaupun beberapa kali hubungan mereka pernah merenggang, Canda, tawa, sedih, marah, senang telah ia lalui bersama Anisa selama ini.

Darwin lalu memandangi langit biru, dan di langit biru itu seakan terlukis wajah Anisa yang sedang tersenyum padanya “Yah sekarang aku tahu perbedaan perasaanku terhadap Anisa dan Purie! Aku hanya menyukai Purie, sedangkan Anisa… Aku benar-benar mencintai Anisa! Aku tidak ingin melihat Anisa menangis dan terluka walaupun aku sendiri yang merasakan sakitnya! Aku rela melakukan apa saja demi membuat Anisa tersenyum!”.

Darwin lalu menghea nafas panjang, akhirnya Darwin telah membuat keputusan “Baiklah! Aku akan membuat Anisa tersenyum walau hanya untuk beberapa saat lagi, selagi aku masih diberi waktu!”.

*****

Keesokan harinya, keadaan di kantor TV9 nampak seperti biasa saja, Linda yang kemarin berhasil mewawancarai Pak Wiyasa secara Taping untuk disiarkan di acara ‘Satu Jam Bersama’, terlihat sedang mengetik di computer kantornya, namun tiba-tiba Pak Bondan, kepala redaksi menghampirinya, “Linda!” sapanya, Linda menoleh dan kaget melihat kedatangan Pak Bondan yang tiba-tiba itu, diapun langsung berdiri dan mengangguk hormat.

“Linda, aku ingin mengucapkan terima kasih dan selamat kepada dirimu karena telah berhasil menjadi reporter pertama yang mewawancarai Pak Wiyasa, dan untuk pertama kalinya juga, Pak Wiyasa akan muncul di program acara stasiun televise kita! Belum ada stasiun televise lain yang berhasil mewawancarai pelukis itu!” ujar pak Bondan sambil tersenyum. Linda mengangguk dan membungkukan badannya, “Terima kasih Pak, saya juga dapat berhasil mewawancarai Pak Wiyasa karena dorongan motivasi yang selalu Bapak berikan!” ujar Linda yang memang mengidolai Pak Bondan sebagai wartawan senior yang sudah banyak makan asam garam dunia reportase.

Pak Bondan tersenyum, “Ah sudahlah, kamu memang pantas untuk berbangga hati! Oya tadi pagi Pak Wiyasa mengirimkan sesuatu untukmu!”, Linda agak heran “Apa itu Pak?” tanyanya, Pak Bondan tidak menjawab, dia hanya tersenyum, kemudian memberi isyarat kepada Andre, lalu Andre pun datang membawa dua kanvas lukisan yang dibungkus oleh kertas.

“Apa ini Ndre?” tanya Linda, Andre tersenyum, “Buka aja sendiri Nda!”, dengan penasaran, Linda segera membuka kedua paket lukisan itu, ternyata yang satu adalah lukisan seorang perempuan hamil yang sedang menangis, karya dirinya sendiri, dan yang satunya lagi adalah lukisan dirinya! Linda lalu membaca sepucuk surat yang ada bersama lukisan itu, isinya “Aku sengaja melukis dirimu disaat kamu sedang tidak sadar, aku mengagumi semangatmu yang pantang meyerah dan kepekaan hatimu terhadap sesama! Aku yakin kalau dirimu adalah seorang perempuan yang cantik luar dan dalam, maka jangan pernah patah semangat untuk berbuat sesuai kata hatimu!”.

Linda tersenyum sendiri karena merasa tersanjung kalau dirinya dilukis oleh salah satu dari pelukis terbaik yang ada di Indonesia, namun tiba-tiba wajah Mira, gadis malang yang sedang hamil diluar nikah itu, dan berkat dirinyalah Linda dapat mewawancarai Pak Wiyasa. Tiba-tiba HPnya berdering, ternyata itu adalah telepon dari Mira! Linda pun segera mengangkatnya “Hallo Mir, ada apa?”. Di telepon, Mira menjawab sambil menangis, “Kak, Mira diusir dari tempat kost Mira! Sekarang Mira udah ga punya tempat tinggal lagi Kak!”, Linda terkejut mendengar itu, “Tunggu sebentar Mir, aku akan segera kesana!”, kemudian Linda pun segera keluar dan menuju ke tempat kost Mira.

Di halaman tempat kost Mira tersebut, Mira sedang duduk sambil menangis sambil memegangi perutnya yang sudah besar itu, disebelahnya tas-tas yang berisi barang-barangnya tergeletak begitu saja, sementara orang-orang yang hilir mudik melewati tempat kost di gang yang agak kumuh itu tidak ada yang peduli kepada dirinya! Beberapa saat kemudian, Linda sampai disana, ketika melihat keadaan Mira seperti itu, Linda tidak kuasa untuk membendung air matanya, sungguh suatu pemandangan yang memilukan ketika seorang gadis yang sedang hamil menangis sendirian, tanpa ada satu orang pun yang peduli kepadanya!

Linda segera berlari menghampirinya dan langsung memeluk Mira “Kamu kenapa bisa diusir Mir?” tanya Linda, “Aku ga sanggup bayar kostan lagi Kak! Dan mereka juga tidak mau memberiku kesempatan lagi untuk menungguku mencari kerja agar dapat membayar kostan karena aku sudah hamil tua!” jawab Mira sambil membalas pelukan Linda. “Jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang Mir?” tanya Linda lagi, “Ga tahu Kak! Seluruh keluargaku sudah tidak mau menerimaku, dan semua orang tidak ada yang peduli kepadaku! Mereka menatapku seolah-olah aku ini hanya sampah!” rintih Mira.

Mendengar itu Linda semakin merasa sedih “Ya Allah, kenapa tidak ada seorangpun yang peduli dan mau menolong gadis malang ini, sampai-sampai keluarganya sendiri sudah tidak mau peduli lagi dengannya?! Dan kalaupun Mira memang bersalah, apakah dia sampai harus diperlakukan seperti ini? Apakah tidak ada yang mau peduli kepada bayi sedang dikandung oleh Mira ini?!” tanya Linda didalam hatinya.

Tiba-tiba terlintaslah bayangan sosok Darwin didalam benak Linda, Linda mendapatkan ide untuk menolong Mira, diapun segera menelepon Darwin “Halo Win, kamu ada waktu? Oh ini, Kakak mau minta tolong sama kamu, sekarang kamu bisa menemui Kakak di kedai Mie Baso Pangsit deket kantor Kakak itu? Bisa? Ok makasih ya Win!”, Linda merasa tidak segan untuk meminta bantuan kepada Darwin karena mereka memang sudah sangat akrab semenjak Darwin masih kecil, kemudian Linda pun membawa Mira ke kedai Mie Baso Pangsit dekat kantor TV9.

Sambil menunggu Darwin, Linda dan Mira makan di kedai itu, Mira terlihat sangat lahap menyantap Mie Yamin Pangsitnya! Linda tersenyum melihat Mira yang makan dengan lahap itu, “Mir, kamu ngidamnya sama Mie Yamin Pangsit ya?”, Mira mengangguk sambil mulutnya terus mengunyh “Iya Kak! Aku ngidam sama Mie Yamin Pangsit!”, Linda jadi merasa penasaran, bagaimana rasanya jika wanita hamil sedang ngidam “Mir, gimana sih rasanya ngidam itu?”, Mira menjawab sambil menyantap mienya “Ya rasanya kita pengen banget buat makan itu sampe gemes! Dan sedih rasanya mpe pengen marah-marah kalo ga kesampaean! Dan kasian bayinya kalo ngidam kita ga kesampean, kalo kata orang tua dulu, ntar bayinya jadi berliur terus!”.

Saat itu datanglah Darwin menghampiri mereka “Halo Kak Nda!”, Linda segera mempersilahkan Darwin duduk “Halo juga Win! Ayo sini duduk!”, Darwinpun duduk disebelah Linda, kemudian matanya langsung tertuju pada Mira, Mira tercekat ketika melihat pria yang baru saja datang dihadapannya ini, rasa ketertarikannya langsung tumbuh kepada Darwin walaupun dia baru pertama kali melihat Darwin, namun ketika melihat Darwin memperhatikan perutnya, Mira pun menundukan kepalanya.

Linda yang mengetahui keheranan Darwin melihat Mira segera memperkenalkannya “Win ini Mira, Mira ini Darwin!”, Darwin pun mengulurkan tangannya dengan wajah yang masih keheranan, Mira pun menerima tangan Darwin dan bersalaman dengan tersipu, entah kenapa gejolak perasaannya yang sekian lama membeku karena kekecewaan terhadap pria yang telah menghamilinya, kini menyala lagi ketika melihat sosok Darwin yang baru pertama kali ditemuinya itu, tatapan mata Darwin yang tajam namun menyiratkan keteduhan dari hatinya itu, membuat hati Mira seolah merasa sejuk!

Lindapun lalu menceritakan semuanya kepada Darwin, setelah mendengar semua cerita Linda itu, Darwin tertunduk sedih mendengarnya “Yah, aku tidak tahu kenapa jaman sekarang, orang-orang seakan tidak mau peduli terhadap sesamanya, mereka hanya peduli terhadap dirinya sendiri!” keluh Darwin, kemudian Darwin menatap Miradengan pandangan iba, Mira menundukan kepalanya karena perasaannya tidak menentu ketika ditatap Darwin, “Mira, Insyaallah aku akan membantumu!”.

“Apakah kamu akan membawa Mira ke Panti Asuhan milik keluargamu itu Win?” tanya Linda, Darwin mengangguk “Iya Kak, kita akan membawa Mira kesana, Insyaallah mereka mau menerima Mira!”. Saat itu juga, mreka langsung meluncur menuju ke kota Bogor tempat panti asuhan milik keluarga Darwin berada, Darwin pun menceritakan semuanya kepada Ibu Ketua yayasan panti asuhan tersebut, “Yah kami rasa kami bisa menerima Mira disini!” jawab Bu ketua, “Terima kasih Bu!” ucap Darwin, “Terima kasih Bu, saya akan bekerja dengan giat disini untuk membantu pekerjaan Ibu-Ibu semua!” ungkap Mira.

Kemudian, setelah Mira mendapatkan kamarnya, Darwin dan Linda pun berpamitan untuk pulang kembali ke Jakarta, air mata Mira kembali menetes ketika melepas Darwin dan Linda, “Terima kasih Kak Nda dan Kak Darwin! Aku ga tahu harus gimana kalo ga ada kalian berdua!”, Linda pun segera memeluk Mira “Sudahlah Mir, jangan terlalu dilebih-lebihkan! Oya, kamu harus berjanji untuk membesarkan bayimu sendiri dan jangan pernah sampai memberikan anakmu kepada orang lain!”.

“Siap Kak! Aku akan membesarkan Darwin seorang diri dan aku ga akan pernah melepasnya kepada orang lain!” jawab Mira dengan tegas, Linda dan Darwin keheranan dengan jawaban Mira tersebut “Hah Darwin?” tanya Darwin, Mira mengangguk dan tersenyum manis sambil menatap Darwin dengan penuh rasa kagum, “Iya Kak, bayiku kan laki-laki, jadi sudah kuputuskan untuk memberinya nama Darwin Wijaya, nama yang sama dengan orang yang menolongnya! Boleh ya Kak?”, Darwin mengangguk sambil tersenyum “Tentu saja boleh, dengan senang hati! Makasih lho, aku jadi merasa tersanjung! Hehehe…”.

Linda mafhum dengan alasan Mira memberi nama bayinya dengan nama Darwin Wijaya, dia juga dapat merasakan kekaguman dan ketertarikan Mira terhadap Darwin yang penuh pesona itu! “Lho sejak kapan kamu memutuskan untuk memberi nama Darwin pada anakmu itu Mir?” tanya Linda, Mira menjawab sambil malu-malu “Baru aja Kak, waktu aku pertama bertemu Kak dan ternyata Kak Darwin mau menolongku!”.

Linda lalu memeluk Mira lagi “Mira, ingat satu pesan Kakak! Memang saat ini banyak manusia yang sudah tidak peduli kepada sesamanya, maka Temukanlah sikap teladan diantara perkataan dan perbuatan yang ada didalam diri kita sendiri, dengan sendirinya akan melahirkan perilaku panutan yang tulus, bagi orang lain yang melihat dan akhirnya bagi diri kita sendiri untuk mempertahan hati nurani yang kita miliki! Ingat, kita akan selalu mempunyai alasan untuk peduli kepada sesama juga kepada mahluk lainnya serta alam ini!”.

Mira mengangguk “Iya Kak, aku akan selalu mengingat pesan kakak itu!”, kemudian Darwin dan Linda pun meninggalkan Mira, Mira terus memandangi kepergian mereka sambil mengelus-elus perutnya, Mira benar-benar terpesona dengan sosok Darwin walaupun mereka baru pertama kali dalam pertemuan yang terbilang singkat itu, namun jasanya terhadap dirinya sangat besar dirakannya “Anakku, seandainya kamu memliki seorang ayah seperti Kak Darwin ah… tapi aku tidak pantas untuk berharap Kak Darwin menjadi suamiku dan ayah bagimu nak! Tapi cukuplah, namamu sama dengan namanya, aku berharap kamu bisa menjadi orang yang seperti Kak Darwin!”.

Sementara itu di perjalanan pulang menuju ke Jakarta, “Win, dari tatapannya, aku tahu kalau Mira tertarik sama kamu Win!” ungkap Linda, “Oya? Masa sih Kak?” tanya Darwin, “Iya! Tapi awas aja kalo kamu berani selingkuhin Ade gue!” jawab Linda sambil mengancam Darwin.

Mendengar itu, Darwin langsung teringat kepada Anisa, “Sebenernya aku punya salah sama Anisa Kak!”, Dahi Linda mengekrut karena ucapan Darwin dan perubahan ekspresi wajah Darwin “Oya? Apa itu?”, Darwin kemudian menceritakan semaunya kepada Linda, setelah mendengar cerita dari Darwin tersebut, Linda langsung menjewaer kuping Darwin yang lebar itu “Oh jadi kamu udah selingkuhin ade gue ya?!”, Darwin pun meringis kesakitan, “Aduh ampun Kak! Ampun!”, tapi kemudian Linda langsung tersenyum “Tapi bagus jugakarena kamu udah menyadari kesalahanmu, ya udah segeralah minta maaf sama Anisa, kamu masih mencintai Anisa kan?”, Darwin pun langsung mengangguk “Iya Kak! Aku masih sangat mencintai adik Kakak itu!” jawabnya mantap!

Pada waktu yang sama di ruangan BEM Universitas Atmanagara, Samuel terlihat sedang berbincang dengan Anton sang ketua BEM dan beberapa mahasiswa lainnya, “Masa sih Kang Darwin seperti itu Bang Sam?” tanya Anton, “Lho kan tidak ada salahnya untuk mengajak Darwin berdiskusi soal ini? Himpunan Mahasiswa Kristen, Islam, dan Katholik juga sudah setuju dengan diskusi ini, selain itu Darwin juga kan dulu pernah aktif di kemahasiswaan, jadi aku pikir dia tidak akan keberatan dengan diskusi ini!” jawab Samuel, mendengar itu Ninda dan Nurul yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka saling pandang, mereka tidak percaya kepada pembicaraan Samuel itu dan merasa khawatir kepada Darwin!

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?