PART 40

Dance With Life

Part 40

Malam harinya, Anisa sedang melamun sendiri di kamarnya, Anisa terus memandangi foto-foto dirinya yang sedang bersama Darwin di album-album fotonya ketika mereka berdua masih kecil, Anisa tersenyum sendiri ketika melihat foto-foto mereka beberapa tahun silam itu, “Darwin, aku memang senang dengan dirimu yang sekarang, kamu sudah berubah menjadi seorang pria dewasa yang jauh berbeda dengan dirimu yang dulu! Namun, entah mengapa aku merasa perubahan pada dirimu itu terlalu cepat! Aku sendiripun heran dengan perubahan dirimu yang tiba-tiba itu! Dan terus terang, kadang aku merindukan sifat cuek, konyol, dan kekanak-kanakanmu yang seperti dulu! Terkadang aku juga merindukan permusuhan kita seperti dulu hingga kita bertengkar seperti anak kecil!” bisik Anisa.

Anisa lalu teringat pada pesan Purie tadi pagi dan apa yang dikatakan oleh Mutia, hatinya memang terasa panas karena Darwin sudah jelas telah berselingkuh dengan Purie, namun rasa heran dan penasaranlah yang mendominasi perasaan dan pikirannya! Dia tidak mengerti mengapa Purie sampai berpesan seperti itu kepada dirinya, dan Anisa mulai menghubung-hubungkan pesan dari Purie tersebut dengan mimpi-mimpi buruknya tentang Darwin, “Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi kepada diri Darwin?”.

Anisa lalu melihat-lihat lagi album kenangannya, rasa rindu pada masa kecilnya bersama Darwin begitu menggebu-gebu, hingga ia tak sanggup menahan air matanya, “Rindu! Aku rindu masa-masa itu! Darwin, aku yakin kalau aku memang mencintai kamu, dan aku juga menginginkan kamu untuk menjadi pendamping hidupku! Tapi mengapa, justru setelah kita jadian, begitu banyak masalah yang menghampiri kita?! Dan mengapa aku harus merasakan firasat buruk ini?! Kegundahanku ini sangat tidak enak Win! Aku merindukan masa lalu kita! Seandainya hubungan kita saat ini bisa menyenangkan seperti masa kecil kita yang tanpa masalah!”.

Sedang Anisa melamun seperti itu, tiba-tiba masuklah Linda tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, betapa kagetnya Anisa ketika Linda masuk ke kamarnya secara tiba-tiba itu, Anisa langsung berusaha menutup semua album-album fotonya! “Wah Nis, kamu lagi liatin foto-foto Darwin ya?” sapa Linda sambil menggodanya, “Enggak kok! Eh kenapa Kak Nda ga ketuk pintu dulu? Ga sopan tahu langsung masuk ke kamar orang gitu aja!” jawab Anisa sambil cemberut!

Linda tertawa melihat kegusaran adiknya itu “Hahaha… Kakak emang sengaja masuk tanpa permisi karena pengen liat kamu lagi ngapain Nis! Hahaha…”, Anisa jadi semakin cemberut mendengar godaan Kakaknya itu “Ih Ka Nda jail banget deh!”.

“Oya, ngomong-ngomong soal Darwin, Darwin pengen ketemu sama kamu tuh! Dia lagi nunggu di ruang tamu!” ujar Linda, Anisa terkejut mendengarnya! “Apa?! Darwin kesini?! Mau apa Playboy cap Kuping Caplang itu kesini?”, Linda tersenyum mendengar cacian adiknya kepada Darwin itu “Udah! Sebaiknya kamu temuin aja dulu!”.

Entah apa yang dirasakan Anisa pada saat itu, dia merasa senang karena sudah kangen berat kepada Darwin, sudah beberapa hari ini sejak Cynthia dan Devi diwisuda, mereka tidak bertemu dan tidak berhubungan, disisi lain, Anisa juga merasa marah karena rasa cemburunya kepada Darwin karena Darwin ketahuan selingkuh dengan Purie walaupun kemudian diketahuinya Purie sudah mundur, dan juga karena beberapa hari ini yang tidak pernah menghubungi Anisa.

Namun akhirnya Anisa menemui Darwin juga, walau Anisa memasang wajah jutek dan tidak bersahabat, “Mau apa lo kesini?” tanya Anisa dengan dingin, “Ya aku mau menemui pacarku yang namanya Anisa!” jawab Darwin dengan kalem dan setengah bercanda, “Anisa? Bukannya pacar lo namanya Ida Ayu Purie Dewayanie?!” tanya Anisa dengan nada tinggi karena emosinya terpancing oleh perasaannya sendiri!”

Darwin menundukan kepalanya, dia mengerti kalau Anisa marah kepada dirinya, Maafin aku Nis! Aku khilaf!” jawabnya perlahan, namun emosi Anisa malah makin memuncak! Dia lalu melempar Darwin dengan bantal duduk di kursinya “Aku ga nyangka kamu tega berbuat itu sama aku!” teriaknya histeris sambil menangis! Darwin mengehla nafas panjang, “Untuk itulah aku datang kemari untuk meminta maaf padamu, dan ada yang ingin kubicarakan padamu, tapi jangan disini ga enak!”, Anisa melotot mendengar ucapan Darwin itu “Apa?! Hebat bener lo masih bisa ngomong kaya gitu! Enak aja lu nyuruh-nyuruh gue!” bentaknya.

Darwin berusaha sabar, lalu berdasarkan pada pengalamannya, ia mendapatkan ide untuk menghadapi Anisa yang sedang marah itu, “Ok! Kalo gitu aku akan ngomong dan melakukannya disini aja! Biar Om dan Tante juga Teh Linda tahu dengan apa yang akan kuomongkan dan kulakukan padamu!”, ancam Darwin.

Anisa agak tercengang mendengar ancaman itu, tapi tentu saja ia tidak mau kalah begitu saja “Silakan aja lo lakuin apa yang lo mau!” jawab Anisa membalas ancaman Darwin tadi, sekonyong-konyong Darwin meloncat dan memeluk Anisa, kemudian hendak menciumnya, Anisa kaget bukan main mendapati perlakuan Darwin tersebut “Hei lepasin! Kaya anak-anak aja lo!” bentak Anisa, “Ya makanya, ayo kita ngobrolnya di tempat lain!” jawab Darwin dengan kalem, maka terpaksa Anisa pun mengalah dan mengajak Darwin ke halaman belakang, selain itu dia sangat penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Darwin kepada dirinya.

Malam itu, kebetulan sedang bulan purnama, langit malam itu nampak sangat cerah, Darwin dan Anisa berdiri di tepi kolam renang halaman belakang rumah Anisa, Darwin memandangi langit malam yang indah itu, Anisa pun sebenarnya terpesona dengan langit malam yang cerah itu, apalagi Darwin sedang berada disisinya, namun emosinya masih belum reda, maka diapun segera membentak Darwin! “Heh lu malah bengong! Tadi katanya mau ngomongin sesuatu, ayo ngomong sekarang juga! Atau gue tinggal nih!”.

Darwin lalu menoleh pada Anisa, dan sekonyong-konyong berlutut dan memegang tangan Anisa, “Anisa, aku bener-bener minta maaf! Aku… Aku khilaf Nis! Sumpah, aku cuma mencintai kamu seorang, makanya aku langsung ninggalin Purie hari itu juga!”. Anisa agak tercekat ketika menatap mata Darwin yang menyiratkan ketulusan hatinya itu, ya dia percaya kepada Darwin karena kemarin Purie sudah mendatanginya dan mengatakan sesuatu kepada dirinya, namun ia belum puas karena merasa Darwin belum mengatakan semuanya, “Lalu kenapa beberapa hari kemarin kamu ga bisa dihubungi?”.

Darwin menelan ludahnya mendengar pertanyaan itu, dia merasa belum siap untuk mengatakan alasan ia sebenarnya berbuat itu “Eh kemarin aku ikut Ibuku ke Medan Nis, HPku ketinggalan dirumah!” jawabnya berbohong, Anisa menatap tajam pada Darwin yang masih berlutut dihadapannya itu, dia masih tidak percaya dengan jawaban Darwin itu, “Ah yang bener! Tumben Ibumu mengajakmu pergi bersamanya!”, Darwin mafhum kalau Anisa hafal dengan hubungan dirinya dengan Ibunya, maka ia pun berbohong lagi “Mamah memang sengaja mengajakku karena aku diajarin mengurus bisnis perusahaan kami Nis!”.

Anisa mengangguk-ngangguk, karena Darwin menjawabnya dengan lancar dan tegas, maka ia tidak menaruh curiga kalau Darwin sebenarnya sedang membohongi dirinya, kemudian dia mengajukan pertanyaannya lagi untuk menguras habis rasa penasarannya “Lalu apa alasanmu berubah menjadi seperti sekarang ini? Dari seorang yang sangat cuek, konyol, dan kekanak-kanakan menjadi dewasa dan selalu ingin menolong orang lain? Aku ga percaya kalao kamu berubah jadi gini cuma gara-gara ramalan kartu tarot!”.

Darwin menghela nafasnya, dia tahu kalau Anisa akan terus mencecarnya dengan pertanyan-pertanyaan itu, maka dia pun memutuskan untuk mengatakan alasannya yang sebenarnya namun tidak akan mengatakan semuanya (sebagian masih ia tutp-tutupi), “Ok Nis, ramalan kartu tarot itu cuma buat keisenganku saja, alasanku berubah ya karena hmm… ya katakanlah aku mendapatkan semacam ‘pencerahan’, aku menonton beberapa film dan membaca novel-novel seperti Phenomenon, One Litre Tears, Dewa Asmara mencari Cinta, Stay With Me My Love, 49 Days dan beberapa lainnya, aku terinspirasi dari kisah-kisah tersebut untuk memperbaiki hidupku!”.

Darwin lalu menatap mata Anisa, dia tahu kalau dari sorot matanya Anisa masih belum mempercayainya dan akan mengajukan pertanyaan lagi, maka selagi Anisa terdiam berpikir, Darwin langsung bangkit dan memeluk Anisa dengan erat! “Anisa sudahlah, kamu bisa pegang kata-kataku sebagai seorang lelaki sejati yang mempertaruhkan kehormatannya! Aku hanya mencintai kamu Nis! Tolong, percayalah kepadaku! Karena apapun yang terjadi, yang ada didalam hatiku selalu dirimu! Apapun yang terjadi, aku akan selalu kembali padamu! Selalu dirimu Anisa! Always you!” bisik Darwin ke telinga Anisa.

Sebenarnya Anisa masih merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Darwin, namun ‘rayuan’ Darwin tersebut mampu meluluhkan hatinya, kini hatinya terasa hangat oleh pelukan npria yang sangat ia cintai itu, maka ia memutuskan untuk menunda pertanyaan hatinya dan ikut tenggelam pada romantisnya malam itu, Darwin lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Anisa, Anisa lalu memejamkan matanya, dan… Darwin mengecup bibir tpis Anisa yang ranum itu, untuk beberapa saat mereka berdua tenggelam dalam dekapan cinta di malam yang bening itu.

Setelah beberapa saat mereka berpelukan seperti itu, tiba-tiba Anisa mendorong tubuh Darwin! “Aduh kamu kenapa sih Nis?” tanya Darwin keheranan, “Badan kamu bau banget Win! Mulut kamu juga bau!” jawab Anisa sambil bergidik, Darwin pun menepuk jidatnya “Astagfirullah! Aku lupa kalo aku belum mandi dan gosok gigi!”, mendengar itu Anisa marah dan memukuli Darwin! “Ih jahat! Aku kan jadi ketularan bakteri dari kamu! Mana baunya asem lagi!”, Darwin yang memang belum mandi karena langsung mengantar Linda ke rumahnya sehabis dari Bogor mengantar Mira tadi, langsung berlari-lari kecil menghindari pukulan-pukulan Anisa itu “Aduh ampun Nis!”. Linda yang mengintip mereka dari jendela kamarnya tersenyum lebar melihat kelakuan mereka berdua “Hahaha… kelakuan mereka udah kaya suami-istri aja! Yah semoga kamu bisa bahagia sama Darwin Nis!” ucapnya dalam hati.

*****

Keesokan harinya, Darwin dan Anisa baru saja sampai di kampus, tiba-tiba Ninda dan Nurul berlari menghampiri mereka “Gawat Kak! Gawat!” ujar Ninda, “Lho gawat kenapa?” tanya Darwin, “Seluruh anggota BEM Fakultas, Keluarga Mahasiswa Islam, Kristen dan Katholik, serta beberapa aktivis mahasiswa menunggu Kakak di ruangan BEM! Mereka meminta Kakak untuk berdiskusi terbuka dengan mereka!” jawab Nurul dengan panik.

Darwin dan Anisa kaget serta keheranan mendengar kabar itu, Anisa langsung menggandeng Darwin karena ia merasa khawatir pada Darwin “Apa?! Memangnya mereka mau berdiskusi apa denganku?” tanya Darwin keheranan, “Mereka ingin berdiskusi tentang masalah pembangunan komplek perumahan real estate di kawasan Kali Ambang oleh perusahaan orang tua Kakak baru-baru ini Kak! Mereka mempersoalkan penggusuran rumah penduduk dan Masjid, Gereja, serta Katedral Katholik disana kak!” jawab Ninda dengan panik. Bagaikan disengat ribuan tawon, Darwin terkejut bukan main mendengarnya “Apa? Siapa yang memulai ini semua?!” tanya Darwin dengan gusar, “Samuel Kak!” jawab Nurul.

Darwin tertunduk lemas mendengarnya “Yang melakukan alih lahan, serta penggusuran itu adalah aparat pemerintah daerah, karena kawasan rumah-rumah kumuh itu tidak memiliki izin bangunan dan melanggar Perda Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta! Semua penduduknya akan dipulangkan ke daerahnya masing-masing sesuai dengan KTP mereka. Sedang masalah Masjid, Gereja, dan Katedral Katholik itu rencananya akan dibangun kembali di dalam komplek perumahan itu! Perusahaan Ibuku hanya melaksanakan pembangunan komplek perumahan itu jauh hari setelah rumah-rumah itu digusur sesuai dengan tender pemerintah!” jawabnya.

Darwin kemudian tertunduk lesu karena merasa Shock dengan apa yang sedang terjadi, “Gimana dong Win?” tanya Anisa yang merasa sangat khawatir kepada Darwin, setelah terdiam beberapa lama, “Baiklah aku akan menerima ajakan berdiskusi itu! Lagipula mereka tidak akan berhenti kalau aku menolak ajakan mereka itu!”, Anisa langsung menarik tangan Darwin ketika mendengar jawaban dari Darwin tersebut “Kalo gitu, biarkan aku mendampingimu Win!”, Darwin tersenyum sejenak, lalu memeluk Anisa dengan erat, dia merasa tersanjung dengan ketulusan hati Anisa untuk menemaninya, namun dia tidak ingin Anisa ikut menjadi korban apabila nanti terjadi sesuatu yang tidak diinginkan “Terimakasih Nis! Tapi sebaiknya aku sendirian menghadapi ini!”, setelah itu Darwin langsung meninggalkan Anisa, “Darwin!” teriak Anisa yang benar-benar merasa khawatir, Darwin menoleh dan tersenyum sebentar pada Anisa, dan kembali meneruskan langkahnya.

Anisa terus memadangi Darwin yang pergi melangkah menuju ke Ruangan BEM, air mata Anisa mulai menetes karena benar-benar merasa khawatir kepada Darwin, sebetulnya yang paling membuat Anisa khawatir adalah karena Samuellah yang menjadi dalang dibalik semua ini! Nurul dan Ninda yang masih berada disana dapat merasakah kekhawatiran Anisa, karena mereka sendiripun merasa khawatir kepada Darwin, “Kak Anisa ga apa-apa?” tanya Nurul, Anisa menggelengkan kepalanya “Aku ga apa-apa kok, tapi Darwin…” jawab Anisa sambil menatap kosong kearah kepergian Darwin, “Kalo gitu mari kita bantu Kak Darwin Kak!” ujar Ninda dengans semangat, Anisapun mengangguk, “Ya, tapi sebelumnya kita kenatin untuk memanggil bala bantuan!”.

Sementara itu Darwin sudah samapi keruangan BEM, Darwin memperhatikan tatapan para mahasiswa dan mahasiswi yang ada disana, beberapa dilihatnya ada yang tidak bersahabat, beberapa ada yang nampak serius karena memang mereka hanya bertujuan untuk berdiskusi, lalu dilihatnya ada Samuel, Gusti, dan Deni yang duduk di depan ruangan. Setelah menenangkan dirinya dan mengucap Basmalah, Darwin pun lalu duduk di kursi yang telah disediakan.

Setelah Darwin duduk, Anton sang ketua BEM mulai membuka acara “Kang Darwin, mohon Akang tidak salah faham dengan acara diskusi yang mendadak ini, kami hanya mengundang Akang untuk mendikusikan beberapa masalah yang mungkin Akang sudah tahu, disini kita tidak akan saling berdebat maupun menjatuhkan, kita hanya saling Share ilmu pengetahuan dan meluruskan beberapa issue saja!”, Darwin hanya mengangguk perlahan, karena ia menyadari bahwa dari cara Anton membuka diskusi ini sebenernya seperti ajang persidangan untuk menyidangi dirinya yang layaknya seperti tersangka!

Acara diskusi itupun segera dimulai, namun baru saja dimulai, keadaan disana langsung menjadi ricuh, beberapa Mahasiswa langsung beberbutan untuk mengajukan pertanyaannya tanpa memberikan Darwin kesempatan untuk menjawabnya, dengan dalih pri kemanusiaan mereka terus mencecar Darwin sehingga Darwin menjadi kelabakan! Ini semua bisa terjadi karena sebelumnya, Samuel, Gusti, dan Deni sudah menghasut mereka semua, dan Anton yang bertindak sebagai moderator tak bisa berbuat apa-apa.

Darwin akhirnya mengambil keputusan untuk mendiamkan mereka, dia hanya tertunduk lemas, pada saat itu tiba-tiba dia mendengar suara Gusti yang berteriak lantang untuk memprovokasi agar keadaan semakin memanas! “Darwin! Kenapa kamu diam saja?! Kenapa kamu tidak menjawab kami?! Kalau kamu takut, panggil saja Ibumu kemari untuk menjawab kami!”.

Mendengar itu akhirnya amarah Darwin terpancing juga, dia mengambil micnya dan berteriak “Jangan bawa-bawa Ibuku! Bagaimana aku bisa menjawab kalau kalian semua tidak memberiku kesempatan untuk menjawab?!”, tapi baru saja Darwin menutup mulutnya, Samuel langsung memulai orasinya! “Kawan-kawan! Aku tahu kenapa Darwin dan Ibunya tidak sedkitpun peduli kepada penghacuran 3 rumah ibadah dari ketiga agama yang berbeda itu! Karena Darwin adalah penganut faham Darwinisme Sosial! Lihat saja tema penelitian skripsinya! Dia meneliti tentang rekayasa genetika pada tubuh manusia!”, beberapa mahasiswa yang memang sebelumnya sudah emosi kepada Darwin, semakin tersulut emosinya dan mulai berteriak “Kafir!”, dan “Dasar orang kafir!”.

Betapa kecewanya hati Darwin mendengar itu semua, sampaikan penelitian skrispsinya yang bertujuan untuk menolong banyak orang itu menjadi bahan caci-makian kepada dirinya, dirinya langsung merasa menjadi seperti seongok sampah yang tidak berarti, semua yang ia lakukan selama ini seakan menjadi tidak berarti! Maka iapun membuka mulutnya kembali dengan lesu “Baik! Baiklah! Terserah kalian mau menyebut apa saja kepada diriku! Silahkan!”, Setelah berkata seperti itu, bukannya amarah para mahasiswa itu mereda, malah semakin ‘heboh’ mereka itu “Bego!”, “Goblok!”, “Kafir!”, “Asusila!”, “Penjahat HAM!” teriakan-teriakan terus menggema! Sungguh hebat hasutan Samuel ini kepada mereka, bahkan setelah mengetahui bahwa Darwin tidak melakukan perlawanan sedikitpun mereka semakin keterlaluan! Mereka semakin tidak teratur, karena dirasanya berbeda dengan saat demo kepada pemerintah yang mendapatkan perlawanan dan penjagaan ketat!

Saat itu masuklah Anisa, Fina, Mutia, Nicole, Carla, Mimi, Yumi, Andy, Togar dan Dony keruangan itu, mereka terkejut melihat itu, mereka langsung melompat ke tengah ruangan yang membatasi ruang antara Darwin dan Anton sebagai penyelenggara acara dengan para mahasiswa lainnya “Hentikan! Hentikan!” teriak mereka semua! Melihat mendapat bala bantuan, Antonpun segera ikut untuk menenangkan massa! “Hentikan! Ini sih judulnya bukan diskusi terbuka! Kalian terus mencecar Kang Darwin dengan pertanyaan-pertanyaan kalian tanpa memberinya kesempatan untuk menjawab! Malah kalian menghina-hina Kang Darwin dan melenceng dari topik diskusi! Sudah! Maka dari ini aku memutuskan untuk membatalkan diskusi yang tidak berguna ini!”.

“Tidak bisa begitu! Bagaimanapun Darwin harus menjawab pertanyaan kita! Betul?!” teriak Samuel, “Betul!” jawab yang ada disana serempak, “Ok, karena dengan alsan kalau Darwin tidak siap hari ini, minggu depan kita akan adakan lagi diskusi ini! Mau resmi atau tidak resmi, kami akan terus meminta diskusi ini!” sambung Samuel, “Baik! Kita akan adakan lagi diskusi ini, tapi aku akan meminta bantuan pihak kampus agar diskusi ini tidak menjadi liar seperti ini!” jawab Anton, setelah itu, akhirnya mereka semuapun mebubarkan dirinya.

Setelah semua mahasiswa itu membubarkan dirinya, Anisa langsung menoleh dan berjalan menghampiri Darwin yang tertunduk lesu, Anisa pun tidak sanggup membendung air matanya karena ia bisa merasakan perasaan Darwin saat itu, “Darwin…” desahnya dengan lemah.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?