PART 41

Dance With Life

Part 41

Darwin hanya menunduk dan diam seribu bahasa, dia tidak menjawab Anisa, Anisapun lalu menghampirinya dan memegang tangannya “Kamu ga apa-apa Win?”, Darwin tetap terdiam tidak menjawab, mendapati Darwin yang hanya diam saja, Anisa menjadi sangat prihatin atas apa yang baru saja menimpa Darwin, maka diapun memeluk Darwin dengan eratnya! “Win, aku tahu perasaan saat ini, tapi ketahuilah! Aku akan selalu berada disampingmu!” bisik Anisa.

Mendapati pelukan dan bisikan Anisa tersebut, hati Darwin merasa sedikit nyaman juga, walaupun hatinya masih sangat sakit oleh karena kejadian tadi, “Kenapa? Kenapa semua ini terjadi? Padahal sekalipun aku tidak pernah memusuhi mereka semua! Akupun selalu siap jika mereka semua membutuhkan bantuanku! Tapi kenapa mereka melakukan semua ini padaku?! Mereka menuntut sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu pasti duduk persoalannya!”.

“Kelemahan dirimu adalah kau terlalu baik sama orang lain! Jadi baik dan jujur saja tidak cukup untuk menghadapi hidup ini! Sekali-sekali kau harus berani untuk bertindak tegas dan keras juga! Kau harus berani untuk menjawab dan melawan mereka demi memberi tahukan yang sebenarnya, dan menunjukan apa yang dikatakan si Samuel itu cuma hasutan saja untuk menjatuhkan dirimu!” Ungkap Togar, yang masih terlihat gemas karena dia tidak sempat turun tangan untuk membantu Darwin.

“Begitu ya? Ya kurasa kamu benar Gar!”, Darwin lalu bangkit berdiri, dan tanpa bicara lagi ia melangkah meninggalkan ruangan BEM itu, “Lho Win, mau kemana kamu?” tanya Anisa, namun Darwin tidak menjawabnya dan terus berlalu, ketika Anisa hendak mengejarnya, Fina mencegahnya “Nis, untuk saat ini biarin Darwin sendirian dulu, mungkin dia butuh waktu untuk menyendiri!”, Anisa pun mengangguk, kemudian dia menatap kearah Darwin pergi.

Darwin langsung meninggalkan kampusnya, dia tancap gas mengemudikan mobilnya seperti sedang balapan, dia berkeliling kota Jakarta, hingga senja tiba, pada saat mentari terbenam, Darwin menghentikan mobilnya di tepi pantai, dia berjalan menyusuri pantai sambil memandangi Sang Bagaskara yang berpulang diatas deburan ombak di pantai itu, dia lalu berdiri mematung disana dan termenung seorang diri hingga tengah malam menjelang dini hari.

*****

Keesokan harinya di kampus, Anton sedang duduk seorang diri di taman kampus, “Ah kenapa gue ngebiarin semua ini terjadi?! Kejadian kemarin benar-benar memalukan!” keluhnya dalam hati.

Saat itu datanglah Ninda dan Nurul “Ton, ada yang perlu kita bicarain!” ucap Nurul, “Ya aku tahu, soal Kang Darwin kan?”, Ninda mengangguk “Iya Ton,kamu kan Ketua BEM nya, masa ga bisa ngedaliin para Mahasiswa? Kasian Kak Darwin, orang sebaik dia, sampe dihina-hina kayak gitu! Padahal kan mereka juga belum tahu duduk persoalan yang sebenarnya!”.

Anton terdiam, dia lalu teringat pada saat ia menjalani masa Ospek, saat itu ia satu kelompok bersama Ninda dan Nurul, Darwin yang menjadi mentor mereka, berbeda dengan mentor-mentor yang lain, Darwin bersikap lunak, caranya membimbing mereka pun berbeda dengan mentor yang lainnya karena Darwin memperlakukan mereka sebagai temannya bukan Mahasiswa Baru. Selain itu, beberapa kali ia pernah ditolong oleh Darwin, sekarang ketika Darwin sedang dalam kesulitan, ia sangat ingin membenatu Darwin.

“Yah, kemarin memang kebanyakan Mahasiswa angkatan baru yang tidak mengenal Kak Darwin!” ucap Anton, kemudian dia berpikir sejenak “Dan seperti ucapan Bang Sam kemarin, mereka tidak akan berhenti begitu saja untuk mececar Kang Darwin, kalau aku melaporkan ini pada pihak kampus, pihak kampus pasti akan melarang acara diskusi itu, tapi aku yakin, Bang Sam ga akan berhenti gitu aja cuma lantaran dilarang oleh pihak kampus!”.

“Jadi gimana dong?” tanya Nurul, “Hanya ada satu cara, kita harus bikin tandingannya! Aku kira walaupun berita tak sedap tentang Kang Darwin ini sudah menyebar di kampus, tapi masih banyak mahasiswa yang menaruh simpati kepadanya, terutama cewe-cewe! Ya kaya kalian ini!”, Ninda mengangguk “Iya sih, walaupun aku tahu Kak Darwin udah jadian sama Kak Anisa, aku masih bersimpati sama dia! Lalu apa rencana lu?”, Anton menghela nafas panjang “Yah terpaksa kita kumpulin mereka buat mengimbangi orang-orang yang mencecar Kang Darwin! Seenggaknya biar mereka bisa mendengar jawaban Kang Darwin dengan tenang dan akal sehat!”.

Sementara itu di kantin kampus, Anisa, Fina, Mutia, Nicole, Carla, Yumi, Mimi, Andy, Togar, dan Dony sedang membicarakan masalah yang sedang menimpa Darwin, “Aku khawatir banget sama Darwin! Dia ga bisa dihubungi dan semalam dia ga pulang!” lirih Anisa. “Tenang Nis, Darwin pasti akan kembali lagi ketengah-tengah kita, itu pasti!” ucap Mimi yang juga sanagt mengenal Darwin sambil memeluk Anisa untuk membesarkan hatinya.

“Iya Nis, kau tak usah khawatir lagi tentang masalah kemarin itulah! Kita bisa membantu Darwin seperti yang sudah direncanakan oleh si Anton itu!” sambung Togar, “Iye Nis, sekarang sebaikny kita menghibur si Darwin supaya dia ga strees dan siap buat minggu depan!” usul Dony.

“Iya bener! Mending kita buat sesuatu yang bisa menghibur hati Darwin, tapi apaan ya?” sahut Mutia, “Iya Nis, kamu pasti tahu apa yang bisa kita perbuat untuk menghibur Darwin!” sambung Fina.

Anisa menggelengkan kepalanya “Ga tahu! Tapi yang aku tahu Darwin pasti lagi membutuhkan dukungan dan kasih sayang dari Ibunya, sayang Tante Leny terlalu sibuk buat ngasih perhatiannya ke Darwin!”.

“Oiya, aku denger akhir-akhir ini Tante Leny lagi bener-bener sibuk! Kasian Darwin, dari kecil dia udah dicampakan sama Ibunya!” sahut Mimi, “Iya, sampe sekarang hubungan mereka masih seperti itu terus, dan Darwin belum bisa memperbaiki hubungan mereka!” jawab Anisa. “Ih Ibunya kok gitu sih?! Padahal Darwin jadi kena masalah ini kan gara-gara dia juga!” sahut Carla.

Mendengar itu, Nicole jadi teringat ketika Darwin membantunya untuk memperbaiki hubungannya dengan Ayahnya, dan sekarang ternyata Darwin pun memiliki masalah yang hampir serupa dengan dirinya, Darwin mempunyai hubungan yang kurang baik dengan Ibunya, maka ia ingin sekali untuk membantu Darwin “Kalo gitu kita harus membantu Darwin untuk memperbaiki hubungannya dengan Ibunya!”.

“Tapi gimana caranya?” tanya Yumi, “Itulah yang harus kita pikirin bersama!”, jawa Nicole, “Tapi Ibunya Darwin kan serem banget! Lu inget kan waktu kejadian di cafénya Mimi itu?” tanya Mutia, “Iya gue inget, tapi masa cuma lantaran masalah itu kita nyerah gitu aja buat bantu Darwin?! Ayolah! Apa kalian lupa kalau selama ini Darwin selalu membantu kita?! Sekarang disaat ia membutuhkan bantuan kita, apa kalian ga mau membantunya sama sekali?!” tanya Nicole.

Mendengar ucapan Nicole tersebut, mereka semua terdiam, lalu mereka semua teringat ketika Darwin menolong dan membantu mereka mengatasi kesulitannya masing-masing, Darwin seakan-akan selalu siap menolong dan membantu mereka semua walaupun dirinya sendiri membutuhkan pertolongan, lalu mereka teringat lagi kepada prinsip hidup Darwin yang pernah ia katakan di cafénya Mimi yaitu, Jadi Orang Bodoh yang Hanya Membantu Orang Lain yang artinya, Hidup bukan berarti menang atau kalah, hidup bukan berarti menjadi "Figur", hidup bukan berarti hanya menjadi sumber inspirasi, tetapi bagaimana kita ikhlas dalam berusaha melakukan yang terbaik sebagai manusia insan Tuhan, insan sosial, serta insan dengan alam semesta, dan nilai yg paling tinggi dari suatu kehidupan itu adalah proses ketika dia berusaha melewati setiap prosesnya menuju akhir, menjadi insan yang welas asih dan senantiasa berguna bagi mahluk lainnya, walaupun mungkin orang lain akan menganggap kita orang bodoh karena melakukan hal ini!

Setelah beberapa saat merenung, akhirnya Anisa mendapatkan suatu ide “Oh iya, besok lagi kan ulang tahunnya Tante Leny! Gimana kalo kita suruh Darwin buat ngadain Surprise Party buat Tante Leny?”, semuanya mengangguk tanda setuju “Ide yang bagus tuh Nis! Ok kamu hubungi aja Darwinnya, biar kita-kita yang nyiapin pestanya!” ujar Fina.

Di lain tempat, Darwin sedang duduk di bangku taman bunga yang sering ia kunjungi, tampangnya sangat berantakan sekali dan wajahnya sangat kusut, hatinya menggalau hebat dan pikirannya melayang kemana-mana. Saat ia sedang menggalau seperti itu, tiba-tiba ada seseorang yang duduk disampingnya “Ini aku bawain Sandwich Tuna buat makan siangmu! Kamu pasti belum makan kan?” tawar orang itu sambil mengulurkan sandwich pada Darwin.

Darwin terkejut, lalu ia menoleh pada orang disebelahnya yang memberinya Sandwich itu “Anisa?! Kok kamu tahu aku lag ada disini?”, Anisa tersenyum manis, “Ya jelaslah aku tahu! Kita kan sepasang kekasih Win!”, Darwin mengangguk, hatinya merasa terharu “Makasih Nis, kamu udah perhatian sama aku!”.

Anisa langsung mencubit pipi Darwin “Ah kamu ini, kayak ke siapa aja!”, setelah mencubit Darwin, mereka lalu memakan sandwich Tuna mereka masing-masing “Win inget ga? Dulu kan kita berdua dulu sering kesini, biasanya kalo kita lagi galau, kita duduk-duduk disini sambil liatin bunga-bunga dan air mancur, dulu disini kita berjanji akan selalu saling membantu kalo salah satu dari kita mengalami kesulitan, dan kalo laper, kita beli Sandwich Tuna dari café yang ada di sebrang taman ini!”, ujar Anisa sambil tersenyum manis, “Eh iya Nis, aku juga masih inget” jawab Darwin dengan lemah, “Lalu kenapa sekarang kamu malah berusaha menyimpan semuanya sendiri?! Kita ini kan sepasang kekasih Win! Dukaku, dukamu, sukaku, sukamu, semuanya dibagi dua! Kita akan menanggung semuanya berdua!”.

Darwin tercengang mendengar ucapan Anisa itu, dia lalu tertunduk “Maafin aku Nis, aku…”, Anisa tidak menunggu Darwin meneruskan ucapannya, dia menepuk punggung Darwin “Ah sudahlah Win! Masalah demo mahasiswa di kampus, kami semua akan membantumu! Jangan dipikirin lagi! Sekarang aku dan yang lainnya udah punya rencana buat bikin Surprise Party buat Ibumu besok! Besok Tante Leny ulang tahun kan?”, “Eh iya, lalu apa rencananya?” tanya Darwin, “Anisapun lalu meceritakan semua rencananya, Darwin mengangguk setuju “Makasih banget ya Nis!” ucap Darwin yang merasa terharu, Anisa pun merangkul Darwin “Sekarang senyum dong Win! Aku pengen liat kamu tersenyum lagi seperti biasanya!”, Darwin pun tersenyum sambil memeluk Anisa.

Keesokan malam harinya, dari luar suasana rumah Darwin memang terlihat seperti biasa, namun di ruangan tengah suasananya sangat ramai! Balon-balon dan pita-pita sudah terpasang di ruangangan itu “Nah persiapannya udah beres! Tinggal nunggu Tante Leny pulang!” ujar Fina yang menjadi MC di acara itu, “Ok sekali lagi gue jelasin, pas Tante dateng, kita matiin semua lampu, pas dia masuk ke ruangan ini, kita nyalain semua lampunya terus Darwin bawa kue ulang tahunnya ke Tante, dan kita semua nyanyiin lagu Selamat Ulang Tahun! Paham?!” lanjut Fina, “Paham!” jawab mereka semua.

“Usul Bu MC!” ucap Dony sambil mengangkat tangannya, “Apa Mbrot?” tanya Fina, “Gimana kalo sambil nunggu Tante Leny kita makan-makan aja dulu? Mumpung makanannya masih anget! Kan sayang ntar kalo udah dingin”, mendengar itu Fina jadi geleng-geleng kepala “Astaga Mbrot! Yang ada di otak lu cuma makan dan makan aja! Ga bisa! Kita makannya ntar kalo Tante Leny udah niup lilinnya!” jawab Fina.

“Alamak! Emang dasar si beruang madu yang satu ini! Kurang ajar kali dia maunya ngegares saja! Enggak mikirin yang punya acaranya! Dasar otak udang kau!” sahut Togar, “Ape lu? Lu ngehina gue hah?! Lu nyang ga punya otak! Dasar gorilla!” bentak Dony, “Bah! Kurang benar kau berani menghinaku!” balas bentak Togar “Ayo! Siape takut?!”, dan seperti biasa pertengkaran diantara merekapun tak terlakan lagi!

Dua jam kemudian, Bu Leny masih belum pulang juga, mereka semua mulai bosan menunggu “Win, Mamak kau itu mau pulang atau tidak?” tanya Togar yang sudah merasa bosan, “Iya Win, apa ga sebaiknya ditelepon aja?” sambung Yumi.

“Eh ok aku telepon dia” jawab Darwin sambil mengeluarkan HPnya, baru saja ia mau menelepon Ibunya, HPnya berdering oleh telepon Bu Leny, Darwin pun segera mengangkatnya “Hallo Mah, Mamah dimana?” tanya Darwin, “Mamah lagi dijalan, Mamah cuma mau ngasih tahu kalo sekarang juga Mamah harus ke Tokyo buat urusan bisns perusahaan kita! Maaf ya kalo Mamah mendadak perginya dan ga ngasih tahu kamu dulu, oya Mamah udah transfer uang ke rekeningmu buat uang sakumu!”, Darwin yang mendengar itu kaget buakn main! “Tapi Mah hari ini...”, Bu Leny segera memotong “Udah dulu ya Win! Mamah udah nyampe ke Bandara, Mamah akan sebulan di Tokyo!”, kemudian Bu Leny langsung menutup teleponnya.

Darwin tertunduk lemas, dia sangat kecewa dengan sikap Ibunya itu, “Jadi gimana Win?” tanya Anisa, “Mamah ada urusan mendadak ke Tokyo! Dia baru pulang satu bulan lagi!”, Anisa dan yang lainnya terkejut mendengar itu “Apa?! Jadi pestanya batal dong?!” tanya Anisa lagi, Darwin hanya mengangguk dengan lemas.

Mereka semua lalu saling berpandangan, mereka bingung harus berbuat apa, apalagi ketika melihat semburat kekecewaan dan kesedihan yang terlukis jelas pada wajah Darwin, “Win sudahlah, gimana kalo kita adain lagi pesta kaya gini bulan depan pas Ibumu pulang?” tanya Anisa sambil merangkul Darwin untuk membesarkan hatinya, “Iya gitu aja, jadi sekarang kita pesta aja dulu!” sambung Fina, Darwin hanya mengangguk perlahan.

Maka pestapun dimulai! Home Theathre di ruangan keluarga itu dipakai oleh Anisa, Fina, Mutia, Nicole, Carla, Mimi, dan Yumi untuk berkaraoke dan ngedance lagu-lagu dari Girlband Korea yang sedang ngetop itu! Sementara Togar dengan asyiknya bermain gitar sambil bernyanyi ‘ga puguh’ asyik seorang diri, Andy malah bermain piano yang ada diruangan keluarga itu, sementara Dony berhasil mengendap-endap dan menyantap semua makanan yang ada di meja makan, hingga kue ulang tahun untuk Bu Leny pun ludes dilahapnya!

Diantara keramaian itu, Darwin hanya duduk dan membisu seribu bahasa! Setelah beberapa saat keramaian itu berlangsung, Darwin meninggalkan mereka semua tanpa ada yang menydari kepergiannya. Setelah beberapa saat Darwin pergi, barulah Anisa menyadari kalau Darwin sudah tidak ada di tempat duduknya, diapun berhenti berkaraoke dan mencari Darwin “Lho kemana si Darwin?”.

Saat ia sedang mencari-cari Darwin, Mbok Darmi datang menghampirinya “Ada apa Mbok?” tanya Anisa, “Non, Si Mbok hanya bisa memberi tahu ini sama Non!”, jawab Mbok Darmi dengan gugup, Anisa jadi merasa penasaran “mau ngasih tau apa Mbok? Kok si Mbok gelisah kaya gitu?”, Mbok Darmi masih nampak kebingungan “Nggg… Anu, sebaiknya kita ke kamar Den Darwin Non!”, didorong oelh rasa penasarannya, Anisapun mengikuti Mbok Darmi kekamar Darwin.

Dengan mengendap-nedap merekapun sampai di kamar Darwin, Mbok Darmi lalu membuka lemari Darwin dan mengambil suatu amplop besar berwarna putih yang ada cap dan alanat Rumah Sakit Pelita Harapan, dibawahnya tertulis nama Darwin dan alamatnya, yang disembunyikan didalam tumpukan pakaian Darwin, “Non, si Mbok menemukan sewaktu membereskan lemari Den Darwin”, ujar Mbok Darmi sambil meneyrahkan amplop itu kepada Anisa, “Apa ini Mbok?” tanya Anisa, “Sebaiknya Non liat sendiri aja, si Mbok takut kalau ketahuan Den Darwin, sudah ya Non, si Mbok keluar dulu”, kemudian setelah mbok Darmi keluar, Anisa pun dengan rasa penasarannya membuka amplop itu.

Rasanya 1000 petir yang menyambar bersamaan pun tidak akan mengaggetkan Anisa seperti ketika membaca isi amplop tersebut! Isi amplop tersebut adalah laporan pemeriksaan Check-Up dan CT Scan Darwin yang menyebutkan bahwa Darwin positif menderita Tumor Otak! Lalu masih didalam map itu juga ada buku harian Darwin, dengan berlinang air mata Anisa membaca buku harian itu yang ternyata isinya adalah penghitungan mundur waktu hidup Darwin yang telah divonis hidupnya tinggal 6 bulan lagi yang artinya jika dihitung dari hari ini, umurnya tinggal 2 Bulan lebih 2 Minggu lagi!

Anisa tidak sanggup berkata-kata, dia jatuh terduduk dengan berlinang air mata! Dia tidak tahu dengan apa yang dirasakannya, ia hanya melihat semuanya seolah-olah menjadi biru! Semua kenangangnya bersama Darwin terlihat menjadi biru! “Darwin!!!!!!!!” teriaknya didalam hatinya. Saat itu datanglah Darwin, dia terkejut melihat Ansia yang memegang hasil laporan dari rumah sakit dan buku hariannya itu “Anisa! Apa yang sedang kamu lakukan?!”.

Anisa lalu melirik pada Darwin, “Kenapa? Kenapa kamu ga pernah bilang tentang semua ini?!” tanya Anisa dengan pelan, Darwin terdiam tidak dapat menjawab, Anisa alu bangun menghampiri Darwin dan… Plaakkk! Anisa menampar Darwin “Aku sudah muak dengan ketidak jujuranmu! Padahal kamu tahu kalau aku benci ketidak jujuran, rahasia, dan hal-hal yang kompleks! Sudah! Sekarang juga kita putus!”, setelah mengucapkan itu Anisa melangkah meninggalkan Darwin sendiri, Darwin hanya berdiri mematung dan tidak sanggup berkata apa-apa.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?