PART 42

Dance With Life

Part 42

Satu minggu telah berlalu sejak Anisa memutuskan Darwin, semenjak saat itu Darwin selalu bolos kuliah dan tidak pernah menampakan batang hidungnya di hadapan teman-temannya, waktu diskusi terbuka tentang pekerjaan Ibu Darwinpun sudah lewat, namun Samuel dan gusti maih terus memanas-manasi beberapa aktivis mahasiswa sehingga mereka masih selalu menagih diskusi itu, Darwinpun mendapat cap ‘Pengecut’ dan ‘Tidak Bertanggung Jawab’.

Sementara ditengah kegalauannya karena memikirkan Darwin yang sedang sekarat, Anisa mulai berpikir untuk mencari pria lain, walaupun harus dia akui kalau hatinya tidak akan pernah bisa berpaling dari Darwin! Namun, ternyata gayungpun bersambut! Kabar putusnya Anisa itu cepat menyebar di kalangan Mahasiswa Universitas Atmanagara, maklum Anisa adalah seorang Mahasiswi terkenal yang banyak diincar oleh para pria, dan salah satunya adalah Roby.

Malam itu Anisa sudah selesai berdandan dan berpakaian dengan style denimnya, untuk makan malam dengan Roby, gadis cantik berkulit hitam manis ini mengenakan kaos berwarna pink dibalut dengan rompi mini berbahan jeans belel berwarna biru, hotpants jeans berwarna biru donker, dan sepatu kets berwarna putih juga kaos kaki yang berwarna pink, gaya cuek gadis ini yang ogah ribet dan tidak menutupi kulitnya yang berwarna gelap dengan bedak maupun makeup lainnya membuatnya cantik sekali.

Setelah menunggu beberapa menit, Roby pun telah tiba didepan rumahnya. Anisa melangkahkan kakinya dengan lemas, sebenarnya menerima ajakan Roby untuk makan malam ini bertentangan dengan kata hatinya! Dia benar-benar tidak dapat melupakan Darwin! Namun dia terpaksa menerima ajakan makan malam itu demi untuk mencoba menghapus nama Darwin di hatinya. Roby sendiri adalah seorang mahasiswa yang cukup ngetop di kampus, berbeda dengan Darwin, Roby adalah type pria macho dan stylish, gayanyapun meniru gaya-gaya anggota boyband Korea atau yang sering disebut dengan sebutan K-Style.

Ketika Anisa keluar dari rumahnya tiba-tiba dia mendengar suara seorang Pria yang memanggilnya “Anisa!”, Anisa terkejut mendengar suara pria yang sangat dikenalinya itu “Darwin!” serunya dalam hati, lalu diapun melirik kearah suara itu, disebrang jalan dilihatnya Darwin melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar! Hati Anisa merasa sangat senang melihat kedatangan Darwin tersebut, namun ketika dilihatnya lagi dengan seksama, ternyata itu adalah Roby yang menjemputnya, bukan Darwin, Anisapun tertunduk lesu karena merasa kecewa kalau itu hanya ilusi dirinya saja yang sedang memikirkan Darwin.

Merekapun lalu makan malam kesuatu café, selama makan, Anisa melihat seolah-olah pria yang ada dihadapannya itu adalah Darwin yang sedang melahap makanannya sambil tersenyum, namun ketika ia tersadar dari lamunannya, pria itu adalah Roby, bukan Darwin. Anisapun lalu teringat pada kebiasaan Darwin saat makan, “Sebelum makan kita berdoa dulu Nis, untuk mensyukuri makanan yang akan kita makan, dan saat makanpun kita harus memakannya dengan tenang, jangan terburu-buru! Itu artinya, selain menjaga sopan santun, kita juga mensyukuri makanan ini dengan cara menikmatinya!”, kenang Anisa.

“Kamu kenapa Nis? Kok diem aja? Apa kamu lagi sakit?” tanya Roby setelah selesai makan, yang sedari tadi memperhatikan kemurungan Anisa. Anisa menggelengkan kepalanya “Aku ga apa-apa kok Rob, maaf ya”. Roby pun tersenyum “Ah kamu ga usah minta maaf segala, ga apa-apa kok Nis! Hehehe…”.

Roby lalu mengeluarkan rokoknya dan mulai menghisap rokoknya, , Anisa yang tidak menyukai dan tidak tahan dengan asap rokok, menutupi setengah hidungnya, namun dengan santainya Roby terus menghisap rokoknya “Ah ternyata Roby seorang perokok aktif, dan kayanya dia cuek kalo aku ga suka sama asap rokok! Jadi inget sama Darwin, Darwin kan bukan perokok!”.

Secara tidak sadar, Anisa mulai membanding-bandingkan Roby dengan Darwin, diapun lalu teringat kepada peristiwa beberapa tahun yang lalu. Saat itu, Anisa dan Darwin sedang makan malam berdua, saat itu mereka baru menginjak semester satu di bangku kuliahnya. Anisa terkejut ketika setelah selesai makan Darwin mulai menghisap rokoknya “Lho kamu kok ngerokok sih Win?” tanya Anisa dengan sewot sambil menutup hidungnya.

Darwin buru-buru mematikan rokoknya, setelah Darwin mematikan rokoknya, Anisa membuka hidungnya kembali “Sejak kapan sih kamu ngeroko? Aku ga suka sama cowok perokok tahu!” semprot Anisa, “Maafin aku Nis, aku ngerokok baru-baru ini, semenjak UN dan SPMB kemarin” jawab Darwin, kemudian Darwin terdiam sejenak dan tiba-tiba tersenyum lebar “Baiklah Nis, kalo kamu ga suka aku merokok, aku akan berhenti merokok! Pokoknya asalakan kamu senang!”, Anisa kaget mendengarnya, wajahnya jadi bersemu merah “Ih ga usah segitunya kali!” ujarnya, “Pokoknya mulai saat ini aku akan berhenti merokok!” tekad Darwin pada Anisa, dan memang semejak saat itu, Darwin tidak pernah lagi merokok.

Bayangan masa lalu itu, seolah menari-nari di benak Anisa, rasanya peristiwa seperti baru kemarin terjadi, “Tuh kan, jadi keinget lagi sama Darwin deh! Eh gimana keadaan Darwin sekarang ya? Kenapa satu minggu ini dia bolos dan ga ada kabarnya? Sedang apa dia sekarang ya? Apakah dia ingat aku?” gumam Anisa didalam hatinya.

Roby yang melihat gadis hitam manis itu menutup setengah hidungnya dan nampak tidak nyaman itu, akhirnya mematikan rokoknya “Ga suka asap rokok ya Nis? Maaf deh!” ujarnya, “Huh! Nyadar juga akhirnya dia!” bisik Anisa dalam hatinya.

“Nis, aku perhatiin kamu dari tadi, kamu kenapa kok nampak lesu kaya gitu?” tanya Roby. “Aku ga apa-apa kok Rob, beneran deh!” jawab Anisa, tapi mata dan perasaan Roby tak bisa dibohongi oleh jawaban Anisa tersebut, “Kamu lagi mikirin Darwin ya?” tanyanya.

Anisa kaget karena ternyata Roby dapat membaca pikirannya, dia lalu terdiam “Yah tebakanmu memang benar apanya Rob!” jawab Anisa didalam hatinya, Roby memang seorang pria yang macho dan stylish, berbeda dengan Darwin yang bertipe kalem dan agak-agak kutu buku itu, terus terang saja Anisa juga menyukai gaya Roby yang macho dan stylish itu, namun tetap Roby tak dapat menggantikan Darwin dari hatinya, keteduhan tatapan mata Darwin, kelembutan, kehangatan, kekaleman, serta pengertian Darwin tidak dapat Anisa bandingkan dengan pria manapun yang pernah ia kenali selama ini!

“Darwin, kamu memang terkadang nampak sangat bodoh, kamu lemah dalam berolahraga, kamu payah dalam pelajaran kesenian, tapi kamu pintar banget dalam pelajaran Matematika dan Ipa” lirih Anisa dalam hatinya, selain jago dalam pelajaran Ipa dan Matematika, Darwin juga menyukai pelajaran Sejarah dan Bahasa Indonesia, pernah satu saat ia berkata pada Anisa “Sejarah adalah pelajaran yang sangat penting Nis, dengan mempelajari Sejarah, kamu akan belajar tentang perubahan, kamu akan dapat mengetahui hubungan sebab-akibat, apa yang terjadi hari ini adalah akibat dari pilihan serta perbuatan kita kemarin” ujar Darwin ketika menjawab pertanyaan Anisa mengapa ia sangat menyukai novel bergenre Sejarah dan Fiksi Sejarah.

Pikiran Anisa juga melayang pada semua kejadian yang melibatkan Darwin akhir-akhir ini, dari mulai masalah asmara Heru dengan Cyntia, pertengakaran antara Yumi dengan Andy, masalah keluarga Nicole juga Devi, masalah ekonomi keluarga Mimi, masalah Mutia, masalah adiknya Carla, sampai masalah asmara antara dirinya sendiri dengan Darwin yang melibatkan sahabat baik mereka Fina, dari semua kejadian yang telah mereka lalui bersama tersebut, Anisa pun dapat menyadari bahwa Darwin adalah orang yang sangat bisa diandalkan, orang yang sangat bertanggung jawab, yang menambah alasan bahwa hatinya tidak akan sanggup untuk menghianati Darwin.

Menginat sosok Darwin dan keadaan Darwin yang sekarang ini, membuat Anisa tidak dapat membendung air matanya lagi! Melihat Anisa yang tiba-tiba menangis itu, Roby lalu mengeluarkan sapu tangannya “Anisa kamu kenapa?” tanya Roby keheranan sambil hendak mengusap air mata Anisa, namun Anisa menepis tangan Roby, “Maafin aku Rob! Aku… Aku duluan ya!” ujarnya sambil berdiri dan berlari meninggalkan Roby seorang diri, tinggalah Roby yang duduk termenung sambil menatap kosong kearah kepergian Anisa.

*****

Keesokan harinya di kampus, Anisa menghampiri sahabat-sahabatnya yang ada di kantin “Hai semua!” sapanya, namun mereka semua menatap dingin pada Anisa, memang beberapa hari ini Anisa tidak berkumpul bersama teman-temannya, karena dia lebih memilih untuk jalan bersama Roby, hanya Mimi yang menjawab Anisa dengan juteknya “Hai juga Nis! Gimana udah puas jalan-jalannnya sama cowo-cowo yang ngejar-ngejar lo itu?”.

Anisa terdiam karena merasa tidak enak dengan sindiran Mimi itu, “Nis, apa lo ga ngerti gimana perasaan Darwin saat ini? Lu kan pacarnya! Tapi kenapa pada saat seperti ini lo malah jalan sama cowo lain? Apa kebiasaan Playgirl lo udah kabuh lagi ya?!” tanya Mimi lagi dengan gusar. Anisa merasa benar-benar tersinggung mendengarnya “Heh Mi, jaga mulut lo ya! Lo kan ga tahu apa-apa tentang itu! Lagian gue juga kan berhak buat nyari cowok baru karena Darwin udah sekarat! Gue ga mau nangis dan sakit hati gara-gara ditinggalin Darwin!” jawab Anisa dengan nada tinggi, air matanya pun mulai meleleh.

“Apa? Lo takut ditinggal Darwin? Lo takut ditinggal Drwin pergi yang saat ini lagi menderita? Lo cinta ga sama Darwin Nis? Lo kan pacarnya! Tapi kenapa lo kaya gini?” tanya Mimi yang juga mulai menitikan air matanya, sebab diapun masih mencintai Darwin, “Gue… Gue…” Anisa tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Mimi itu.

“Anisa, apa lo udah lupa sama pesennya Purie kemaren?! Dan yang harus lo inget, bukan lo aja yang sayang sama Darwin, tapi… Tapi gue juga masih sayang sama dia tahu!” bentak Mimi! Anisa tertunduk lemas mendengarnya, bahunya berguncang karena menahan isak tangisnya “Gue… Gue cuma kaget dan shock mengetahui keadaan Darwin yang sebenernya! Gue juga kecewa karena Drwin selalu menutup-nutupinya!”, namun Mimi tidak peduli dengan jawaban Anisa itu, kata-kata dar mulutnya terus melucur! “Apa? Cuma karena itu? Egois banget sih lo Nis! Pacar macem apa Lo?! Asal lo tahu aja ya, tiap liat kalian jalan bareng, hati gue sakit banget! Tapi walau gimanapun, gue selalu berharap kebahagian buat kalian berdua!”.

Mimi berhenti sejenak untuk menarik nafasnya “Nis, apa lo ga peduli sedikitpun sama keadan Darwin sekaang?! Kalo gitu, biar gue aja yang ngegantiin posisi elu! Biar gue yang menemani Darwin sampai akhir!” serunya, kemudian Mimi langsung melangkah meninggalkan mereka semua.

Anisa lalu menangis sesegukan, Fina pun merangkul Anisa “Nis, apa yang dibilang Mimi itu memang bener! Iya, kita ngerti kok sama yang lu bilang tadi, tapi apa lu tega ngebiarin Darwin yang lagi sekarat dengan keadaan seperti sekarang ini? Namanya di kampus kita ini udah jelek akibat hasutannya si Sam, terus dia juga udah satu minggu bolos dan ga ada kabarnya! Nis, apa lu ga khawatir sama Darwin? Apa lu ga mau nemenin dia sampe akhir? Apa lu masih cinta sama dia? Apa lu mau posisi lu itu direbut sama Mimi atau Purie?”.

“Gue masih cinta dia Fin! Gue masih cinta Darwin!” jawab Anisa sambil menangis, “Nah kalo gitu temenin Darwin sampai akhir Nis! Jangan biarin posisi lu tergantikan oleh Mimi atau Purie! Dan inget, selama ini Darwin selalu menolong kita, tapi ketika dia sedang membutuhkan pertolongan, siapa yang akan menolongnya? Gue rasa saat ini cuma lu yang bisa menolongnya Nis!” jelas Fina, Anisa mengangguk “Ya! Saat ini Darwin sedang membutuhkanku! Kenapa aku bisa sebodoh ini buat ninggalin dia?!” desahnya dalam hatinya, setelah itu Anisapun langsung meninggalkan mereka semua, menuju ke rumahnya Darwin.

“Tapi aku ga nyangka juga kalo Mimi masih nyimpen perasaannya sama Darwin, kasian juga Mimi!” ujar Yumi, Fina mengangguk “Iya juga sih, tapi gue yakin, apa yang dilakuin Mimi itu buat kebahagian Darwin, makanya tadi dia ngancem Anisa kaya gitu!”.

*****

Sesampainya di rumah Darwin, yang membukakan pintu adalah Mbok Darmi “Eh Non Anisa! Kebetulan Non dateng!”, “Emang kenapa gitu Mbok?” tanya Anisa, “Cuma Non Anisa yang bisa ngebantu Den Darwin saat ini!” jawab Mbok Darmi, “Lho emangnya Darwin kenapa Mbok?” tanya Anisa keheranan yang melihat mbok Darmi nampak sangat gelisah itu, “Eh sebaiknya Non liat sendiri aja, sekarang Den Darwinnya lagi ada di halaman belakang!” jawab Mbok Darmi, Anisapun langsung menuju ke halaman belakang.

Anisa terkejut melihat tampang Darwin yang berantakan! Rambutnya kusut, brewoknya dibiarkan tumbuh dengan liar, dan matanya menatap kosong ke arah kolam renang! Tapi yang paling membuat Anisa terkejut adalah botol minuman keras yang sedang dipegang oleh Darwin, Anisa pun segera menghampirinya dan merebut botol minuman keras itu “Darwin kamu apa-apaan sih?!” bentaknya.

Darwin lalu melirik pada gadis hitam manis yang mengenakan kaos ketat berwarna orange dan jeans belel serta sepatu kets berwarna putih, yang beridiri dihadanpannya “Eh hai Nis! Ada perlu apa kemari?” tanyanya dengan suara lemas, Anisa langsung menutup mulutnya ketika bau alcohol keluar dari mulut Darwin “Emh bau banget sih! Kenapa aku kesini?! Ya aku kesini untukmu Win!” jawab Anisa.

Darwin menyeringai “Untukku? Bukankah kamu sudah memutuskanku Nis?”, Anisa terdiam karena sedikit kebingungan “Eh itu… itu…”, Darwin membuka mulutnya lagi “Aku emang ga pantes buat kamu Nis! Udah tahu sekarat masih mengharapkanmu dan ga berani berterus terang! Aku emang ga berguna! Aku terus berusaha buat membantu orang lain, tapi hasilnya percuma! Orang-orang tetap memusuhiku! Dan aku juga ga bisa memperbaiki hubunganku dengan Ibuku sendiri! Aku meang pantas untuk dibuang! Toh umurku tinggal sebentar lagi!”.

Plaakkkkkk! Anisa menampar Darwin dengan keras hingga bibirnya berdarah! “Bodoh! Kamu bodoh banget! Kenapa kamu jadi begini Win?! Darwin yang aku kenal ga begini!” bentak “Mantan Kekasihnya” tersebut sambil menangis!

Darwin memegani pipinya yang kena tampar gadis hitam manis yang memiliki bentuk tubuh tidak terlalu tinggi serta berisi yang sehat, memiliki lekuk pinggang, dan bokong yang padat alias “semok” tersebut sambil mengangguk-ngangguk “Ya kamu bener Nis, ini bukan diriku yang sebenernya! Akupun ga tahu kenapa aku jadi begini!”, Anisa pun lalu duduk disampingnya, “Katakan Win, apa yang sedang kamu rasakan?”, Darwin menghela nafasnya “Nis, tujuanku melakukan semua ini ketika aku mengetahui umurku sudah pendek, aku khawatir akan mengalami nasib yang serupa ketika Ayahku meninggal! Dia tidak sempat menyampaikan pesan terakhirnya kepada Mamah dan orang-orang terdekatnya, dia hanya sempat menyampaikannya pada diriku!”.

“Tapi kamu kan sudah melakukan semua yang terbaik untuk menolong orang lain! Kamu ga harus menakuti hal yang kamu takuti sejak 11 tahun yang lalu ketika ayahmu meninggal itu!” jawab Anisa, tapi Darwin masih tertunduk lesu “Nis, aku mempunyai cita-cita, kalau sebelum aku mati, aku bisa melihat orang-orang yang ada disekitarku tersenyum bahagia, orang-orang juga bisa lebih peduli kepada sesamanya, juga kepada alam disekitarnya! Namun aku mulai semuanya sia-sia karena kini aku sendiri dibenci oleh banyak orang! Sampai-samapai mereka juga mengolok-olok skrispsiku dan dikait-kaitkan dengan bisnis ibuku sehingga mereka mencapku Kafir! Padahal tujuan penelitianku itu bukan untuk menjadi Tuhan dan menciptakan mahluk hidup baru! Aku hanya meneliti tentang sel genetika untuk membuat organ kehidupan yang baru, sehingga orang yang sakit tidak perlu mengkonsumsi obat-obatan kimiawi ataupun dioperasi! Aku juga belum bisa memperbaiki hubunganku dengan Ibuku! Aku tidak bisa memperbaiki apalagi merubah keadaan orang-orang disekitarku! Aku menyerah!”.

Gadis hitam manis beralis indah tersebut merasa sedih mendengar Darwin yang telah menyerah itu “Menyerah? kukira setelah semua yang kamu lakukan kamu adalah orang yang optimis!”, Darwin menyeringai “Kau salah Nis, aku orang yang realistis!”. Anisa lalu memegang bahu Darwin “Darwin! Kamu tidak bersalah sedikitpun dengan apa yang telah kamu laukan! Aku kagum padamu Win yang melakukan semua ini bukan hanya untuk mendapatkan imbalan atau pamrih! Kamu melakukan semua ini untuk semua orang bahkan yang tidak kamu kenali atau pernah kamu temui! Meskipun kamu didemo banyak orang, tapi mereka mendemomu karena fitnah dan berita yang tidak benar! Masih banyak orang-orang mencintai dan menyayangimu! Kamu tidak usah ragu untuk apa yang sudah kamu lakukan! Karena yang kamu lakukan itu demi membanti orang banyak dan demi masa depan yang lebih baik!”.

“Terima kasih Nis, Tapi orang-orang sudah terlajur mencap aku sebagai orang yang negative! Aku juga menderita tumor otak dan umurku tinggal sebentar lagi! Anisa aku mengerti kalau kamu mau meninggalkanku!”, ujar Darwin. Gadis berambut indah ini menarik bahu Darwin dan menatap tajam pada Darwin “Aku tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang! Aku tidak peduli dengan penyakit yang kamu idap! Aku hanya peduli dengan apa yang bisa aku lakukan untukmu! Ini semua karena aku mencintaimu Win! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi!”.

Gadis HItam manis bermata bulat indah yang memiliki tatapan tajam tersebut lalu berdiri dihadapan Darwin “Bangkitlah Darwin Wijaya! Bangkitlah demi semua orang kamu sayangi! Bangkitlah demi semua orang yang menyayangimu! Bangkitlah demi diriku yang selalu berada disisimu! Jangan lupakan semua orang yang pernah kamu bantu! Optimism! Ya optimism yang selalu kamu ajarkan pada diriku dan mereka! Sekarang optimislah dalam menghadapi hidupmu sendiri! Ingatlah dengan apa yang sudah kamu lakukan pada semua orang disekitarmu yang kamu sayangi!”.

Anisa lalu menarik tangan Darwin untuk berdiri “Hanya dirimu sendiri yang bisa membuat hidupmu berarti! Dan aku akan terus berada disampingmu selama hidupmu! Bagilah bebanmu denganku! Bagilah kebahagianmu denganku! Bagilah semuanya dengan orang-orang yang selalu berada disisimu! Ayolah Win, aku ingin melihat keberanianmu! Aku ingin melihat optimismemu yang selalu kamu lakukan dan tunjukan pada semua orang!”.

Darwin merasa kagum kepada dukungan Anisa kepada dirinya, dia merasa telah terselematkan oleh Anisa ketika dirinya hampir terjatuh dari tepi jurang yang curam dan dalam! Semangat hdupnya perlahan mengalir kembali, “Terima kasih Nis, aku… Aku sekarang dapat merasakan semangat hidupku kembali!”, kemudian Anisa pun memeluk Darwin, “Nis, kenapa kamu bisa sekuat ini? Padahal kamu sudah tahu kalau aku sedang sekarat!”.

Anisa tersenyum manis diantara deraian air matanya “Karena aku seorang wanita Win! Karena aku ingin menjadi teman, sahabat, saudara, dan kekasih yang selalu ada disampingmu! Dan yang terpenting adalah, aku ingin menjadi orang yang selalu ada dan siap untuk melakukan apapun demi dirimu!” jawab Anisa dengan tegas! “Makasih Nis! Aku sayang kamu!” sahut Darwin, “Aku juga sayang kamu Win!” jawab Anisa sambil mengeratkan pelukannya. Setelah agak lama saling bepelukan, Darwin melepaskan pelukannya dan mengecup kening Anisa.

“Astagfirullah! Aku lupa membawakan minum untukmu Nis! Kamu mau minum apa?” tawar Darwin setelah melepaskan pelukannya, Anisa tersenyum manis sambil mengusap air matanya “Aku minta pisau cukur sama sisir aja Win!”, Darwin melongo keheranan mendengar permintaan Anisa yang aneh itu “Apa?” tanyanya, kemudian tanpa banyak bicara lagi, Anisa menuntun Darwin ke kamar mandi.

Dikamar mandi, Anisa mencukur brewok Darwin, setelah selesai, dia lalu menyisiri rambut Darwin “Gimana Win? Apa hasil kerjaku bagus?” tanya Anisa, Darwin lalu mengusap pipi dan dagunya “Cukup bagus untuk seseorang yang baru pertama kali melakukannya”, Anisa pun tersenyum lebar “Hore berarti aku berbakat dong jadi piñata rambut! Aku mau buka Anisa Baber Shop ah!” seru Anisa, Darwin pun tersenyum melihat senyum Anisa yang menawan itu, dirinya sangat berterima kasih kepada Tuhan yang mengirimkan Anisa untuk selalu mendukungnya dan menemaninya! Ya Anisa telah menolong Darwin yang nyaris terperosok kedalam jurang yang dalam dan gelap!


Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?