PART 43

Dance With Life

Part 43

Keesokan harinya, Darwin kembali masuk kuliah, banyak orang-orang disekitarnya yang mecibir dirinya, ya Darwinpun mafhum dengan keadaan itu, karena masalah diskusi tentang proyek perusahaan Ibunya itu belum tuntas. Dia hanya mengelus dadanya dan membiarkan orang-orang yang mecibirnya tanpa terbersit sedikitpun niat untuk memusuhi mereka, karena dirinya yakin bahwa mereka hanya tersesat oleh hasutannya Sam.

Setelah jam kuliahnya selesai, Darwinpun menuju ke kantin kampusnya untuk nongkrong bersama teman-temannya, orang-orang yang ada di kantin tersebut yang kebanyakan adalah para aktivis yang ikut mendebat Darwin minggu lalu, memandanginya dengan tatapan sinis, namun Darwin tidak mau ambil pusing dengan itu, dia malah tersenyum lebar menyapa teman-temannya “Hai Guys!” sapanya. “Hai juga Win!” jawab Fina dan yang lainnya, mereka tersenyum melihat wajah Darwin yang sudah cerah seperti sedia kala, tidak muram seperti kemarin-kemarin, “Syukurlah Win! Aku senang melihat kamu sudah tersenyum lagi!” bisik Anisa dalam hatinya.

Namun tidak dengan Togar yang merasa senang dengan kehadiran Darwin itu, hatinya merasa risih dan panas oleh pembicaraan orang-orang tentang Darwin disekitarnya “Alamak! Kenapa kau malah santai-santai saja?! Lihat orang-orang disekitarmu itu!”, Darwin tersenyum kecil mendengar ucapan sahabatnya yang emosional itu “Udah Gar, biarin aja!” jawabnya kalem.

Kemudian Darwinpun menyeruput coklat panas yang ia pesan, karena hari itu hujan turun dengan cukup deras, saat ia sedang menikmati coklat panasnya, tiba-tiba Sam datang dan menghampirinya “Hallo Bro! udah masuk lagi nih?” sapanya dengan senyum yang dibuat-buat sehingga nampak menyebalkan.

Darwin menoleh dan menatap ‘Kompetitornya’ itu, “Ya Alhamdulillah, aku udah bisa masuk lagi, oya kabarmu sendiri gimana Sam?” jawab Darwin dengan renyah dan bersahabat, Samuel nampak terlihat menggeram melihat senyum Darwin yang seperti tak ada beban itu, sementara Togar pun tak bisa menahan kedongkolannya lagi kepada Sam, dia langsung bangun dari duduknya “Mau ap…”, namun sebelum ia sempat ‘meledakan’ amarahnya, Darwin keburu menariknya dan menenangkannya, malah Darwin tersenyum ramah dan berkata “Gar, teman kita ini Cuma mau menyambung tali silaturahmi, benar kan Sam?” tanyanya sambil melirik Sam.

Sam mendengus kesal mendapati basa-basi Darwin tersebut, namun ia masih berusaha untuk bersabar sambil terus memancing-mancing emosi Darwin, dia lalu duduk disebelah Darwin, “Hehe aku kesini hanya mau mengingatkan kalau sebaiknya kamu segera bersiap-siap untuk meneruskan diskusi kemarin dengan para mahasiswa di kampus ini!”, Darwin hanya mengangguk-ngangguk “Oh gitu…”, Sam benar-benar sudah merasa kesal dengan kekaleman Darwin tersebut “Brengsek lu! Masih bisa aja kalem kaya gitu! Tapi biarlah, yang penting kali ini aku akan menggilasmu! Selama ini aku selalu kalah olehmu! Tapi kali ini… Aku ga akan berhenti sampai kau mencium telapak kakiku Darwin!” makinya didalam hati.

Setelah terdiam agak lama, Darwin lalu melirik lagi pada Sam “Oya Sam, gimana kabar pacarmu?”, mata Sam terbelalak karena kagetnya oleh pertanyaan Darwin itu, “Apa maksud lo?” tanyanya dengan sedikit gusar, “Oh enggak, selera berpakaianmu kan jelek, tapi sekarang kulihat, pakaianmu Matching! Apakah pacarmu yang memilihkan gaya berpakaianmu?” tanya Darwin dengan tenang, seolah tidak ada apa-apa diantara mereka.

Dada Sam terasa sesak! Ya, tebakan Darwin tidak sedikitpun meleset! Sebenarnya Darwin tidak bermaksud untuk menyindir Sam, namun Sam menganggapnya sebagai suatu sindiran yang menghina yang teramat sangat! “Lu mau nyidir gue hah?! Atau apa perlu kita tuntaskan sekarang juga?!” jawab Sam yang mulai terpancing emosinya.

“Apa maksudmu Sam?” Tanya Darwin, Sam diam tak menjawab, dia lalu berdiri dan berseru “Kawan-kawan! Darwin sudah kembali hadir ditengah-tengah kita! Bagaimana kalau kita teruskan untuk meminta pertanggung jawabanannya tentang penghancuran 3 rumah ibadah, dan penggusuran rumah orang-orang yang tidak mampu itu?!”. “Setuju!” jawab dari beberapa mahasiswa yang berada disana, “Betul juga Win! Lu harus bisa ngasih klarifikasi buat masalahmu itu!” tegas salah satu dari mereka, Darwin terdiam sambil menunduk, lalu didengarnya beberapa orang yang berkomentar tentang dirinya, dia lalu menatap mereka semua satu persatu “Kenapa kalian bisa berkomentar sebelum kalian tahu masalahnya yang sebenarnya?”.

“Baiklah besok aku akan menjawab pertanyaan kalian semua! Tapi dengan satu syarat, kita benar-benar berdiskusi secara sehat! Bukan berdebat apalagi berdemo! Aku bersedia menjawab pertanyaan kelain semua, apapun pertanyaannya, asalkan diskusinya tertib! Bagaimana?!” Jawab Darwin dengan tegas namun tetap tenang, Sam lalu melirik pada semua yang ada disana, mereka mengangguk tanda setuju, Sam pun tersenyum sinis karena ia merasa sudah menang “Baiklah! Aku akan menghubungi pihak BEM untuk mengatur semuanya!” jawab Sam.

Setelah itu, Darwinpun meninggalkan kantin tersebut, Anisa segera mengejarnya “Tunggu Win!” panggilnya, kemudian setelah itu, Mutia mengejar Sam yang yang juga meninggalkan Kantin tersebut, “Sam apa sih maksud lu? Sampe harus kaya gini?!”.

Sam menyeringai dengan sinisnya “Ya gue Cuma pengen si Darwin mempertanggung jawabkan apa yang ia dan ibunya telah perbuat! Itu aja!”, Mutia menjadi kesal dengan jawaban Sam yang tidak dipercayainya itu “Bohong! Lu Cuma mau ngejatuhin Darwin kan?! Sam, kenapa sih elu benci banget sama Darwin?!”, Sam tersenyum sinis sambil menatap tajam pada Mutia “Ya, aku memang membenci Darwin! Aku membencinya tanpa alasan!”, jawabnya, kemudian diapun berlalu meninggalkan Mutia.

Setelah sampai kerumah Anisa, Anisa tidak langsung turun, dia terus memegang tangan Darwin, bagaimanapun Anisa merasa khawatir pada Darwin “Win…” desahnya pelan, Darwin lalu melirik dan tersenyum pada Anisa “Tenang aja Nis, aku akan menyelesaikan semuanya besok!” jawab Darwin.

Anisa lalu mendekap Darwin, “Tapi Win…”, Darwin lalu membelai rambut Anisa “Udahlah sayang, tenang aja, berkat kamu, semangatku kembali tumbuh! Selama ada kamu disisiku, rasanya aku sanggup untuk menghadapi apa saja!” tegas Darwin. Darwin lalu mengangkat kepala Anisa dan mengecup keningnya.

Sesampainya dirumah, Darwin seperti baru teringat akan sesuatu, diapun langsung menuju ke kamar kerja Ibunya dengan terburu-buru, setelah sampai, dia langsung mengubek-ubek berkas dokumen di lemari kamar kerja ibunya itu, hingga akhirnya dia menemukan apa yang dia cari, “Hmm… benar dugaanku, PT. Trackindo head to head dengan PT. Maju Unggul untuk proyek pembangunan komplek perumahan Kali Ambang!”.

*****

Akhirnya, hari yang menentukan itupun tiba! Darwin menghirup udara pagi yang cerah itu dan menatap sang mentari pagi yang bersinar dengan cerahnya, “Baiklah! Ayo kita lakukan!” ucapnya dengan penuh semangat, ia pun langsung menjemput Anisa dan menuju ke kampusnya. Singkat cerita, mereka pun sudah sampai di kampus. Ketika mereka sampai, Darwin hendak langsung menuju keruangan BEM, namun Anisa menahannya “Darwin…” Ucapnya dengan pelan, Darwinpun berbalik dan memeluk Anisa “Tenang aja Nis, doain aku ya!”, Anisa pun mengangguk “Pasti Win! Pasti! Dan ingatlah kalau aku akan selalu berada disisimu!”, setelah beberapa saat mereka berpelukan, merekapun melanjutkan langkahnya menuju keruangan BEM, Anisa terus memegang tangan Darwin selama perjalanan menuju ke ruangan BEM tersebut. Saat itu Darwin merasakan kepalanya teramat sangat pusing! Namun ia memaksakan untuk menghadiri diskusi itu demi mencuci nama baiknya!

Dan diskusi itupun dimulailah, sesuai dengan instruksi dari Anton, para mahasiswa yang mengikuti diskusi itu nampak lebih tertib dari yang sebelumnya, Anton pun dengan cerdiknya sengaja mencampur para mahasiswa yang menaruh simpati pada Darwin dengan para mahasiswa yang terkena hasutan Samuel, sehingga jumlah pesertanya melebihi dari diskusi yang pertama. Pada Diskusi kali ini juga terdapat semacam dewan juri yang bertugas mengawasi jalannya diskusi ini, mereka bisa menghentikan diskusi ini ketika diskusi ini mulai terjadi keributan, sehingga jalannya diskusi ini lebih terjamin, walaupun kesannya menjadi ajang persidangan untuk Darwin. Anisapun lalu duduk disamping Darwin untuk memberinya dukungan, di dalam hatinya tak henti-hentinya dia membacakan doa untuk Darwin.

Setelah Anton membuka acara, pertanyaan pertamapun mulai ditujukan kepada Darwin “Apakah Argumen anda tentang penggusuran rumah orang-orang miskin di Kali Ambang, serta peruntuhan rumah ibadah Masjid, gereja, serta Katedral Katholik yang ada di kawasan Kali Ambang?” tanya salah seorang peserta.

“Yang melakukan alih lahan, serta penggusuran itu adalah aparat pemerintah daerah, karena kawasan rumah-rumah kumuh itu tidak memiliki izin bangunan dan melanggar Perda Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta! Semua penduduknya akan dipulangkan ke daerahnya masing-masing sesuai dengan KTP mereka. Sedang masalah Masjid, Gereja, dan Katedral Katholik itu rencananya akan dibangun kembali di dalam komplek perumahan itu! Perusahaan Ibuku hanya melaksanakan pembangunan komplek perumahan itu jauh hari setelah rumah-rumah itu digusur sesuai dengan tender pemerintah!” jawab Darwin dengan tenang.

“Lalu apa pendapat anda? Apakah anda tidak mempunyai sedikitpun rasa tenggang rasa pada orang-orang yang rumahnya tergusur itu? Tergantikan dengan orang-orang kaya yang akan menempati komplek real estate yang dibangun oleh perusahaan orang tua saudara?” tanya yang lainnya.

Darwin menghela nafasnya, pertanyaan kali ini membutuhkan kehati-hatian untuk menjawabnya agar tidak terjadi keributan karena salah kaprah, namun dia merasa harus menjawab pertanyaan yang satu ini dengan ketegasan juga, “Sebelumnya perlu saya luruskan, komplek yang sedang dibangun itu adalah komplek perumahan rakyat yang terdiri dari berbagai type serta kelas yang dibagi menjadi komplek-komplek! Harga rumah-rumah tersebut terjangkau oleh masyarakat golongan menengah dan cara pembayarannya bisa dengan kredit berbunga rendah pada Bank yang ditunjuk!

Kemudian masalah orang-orang miskin yang tergusur, sebetulnya itu bukan kewajiban saya untuk menjawabnya, karena yang melakukan penggusuran itu adalah pemerintah daerah! Tapi karena anda bertanya tentang pendapat saya, baiklah akan saya jawab! Pertama mereka adalah Illegal Allien yang datang ke Jakarta, mereka adalah kaum urban yang tidak mempunyai KTP Jakarta dan membangun rumah-rumah mereka dari triplek dan material sisa-sisa. Kedua, saya setuju dengan langkah yang dilakukan pemerintah DKI karena ini demi kebaikan mereka sendiri! Ketika datang ke Jakarta mereka tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang memenuhi standar maupun soft skill! Latar belakang mereka kebanyakan adalah para petani, hal ini juga menyebabkan banyaknya lahan pertanian yang tak tergarap. Sehingga mereka hanya akan menambah jumlah pengangguran dan berpotensi meningkatkan angka kriminalitas di Jakarta.

Andai saja mereka mau menetap di kampung halamannya, maka mereka masih bisa memeiliki penghasilan sebagai petani, serta meningkatkan persediaan pangan kita yang semakin menipis! Dan yang harus dicatat adalah mereka bukan diusir, tapi dipulangkan ke daerahnya masing-masing sesuai dengan domisili KTPnya. Selain itu, pemerintah DKI juga memberikan uang ganti rugi bagi mereka, ya walaupun tidak banyak, tapi itu lebih dari cukup sebagai modal untuk memulai usaha taninya lagi!”.

Mahasiswa yang lainnya segera mengangkat tangan lagi “Bagaimana dengan pengruntuhan rumah-rumah ibadah itu?”, Darwin melirik pada orang itu dan menjawabnya “Seperti yang saya katakan tadi, rumah-rumah ibadah tersebut akan dibangun kembali di komplek perumahan rakyat itu, pembangunan rumah-rumah ibadah tersebut menjadi prioritas utama! Dan juga sebelum pengruntuhan rumah-rumah ibadah tersebut, telah ada nota kesepakatan antara pemerintah dengan para dewan pengurus rumah-rumah ibadah tersebut, untuk memindahkan rumah ibadahnya ke dalam komplek perumahan yang baru itu! Sehingga istilahnya yang tempat adalah relokasi rumah-rumah ibadah!”.

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya terus mengalir, namun ternyata Darwin adalah orang yang sangat sabar dan telaten, dia tetap berkepala dingin dan tidak terpancing emosinya dalam menjawaw pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara emosional oleh para aktivis mahasiswa itu, sehingga semuanya terjawab dengan baik tanpa menimbulkan kesan emosi walaupun beberapa pertanyaan dijawab secara tegas oleh Darwin. Lambat laun, semakin muculah simpati dari para mahasiswa yang mengikuti diskusi itu, bahkan para aktivis yang bertanya secara emosional tadipun mulai bersimpati kepada Darwin oleh karena cara menjawab Darwin yang tenang, serta jawaban-jawabannya yang masuk akal, namun tentu saja Sam tidak senang dengan keadaan ini, maka dia pun mulai memancing di air keruh lagi.

Akhirnya para aktivis mahasiswa itu selesai mengajukan semua pertanyaannya, karena sesuai dengan perjanjian dan ketentuan yang berlaku, masing-masing orang hanya boleh bertanya satu kali saja untuk menghindari ketegangan dan debat yang tidak sehat, serta diskusi yang berkepanjangan tanpa hasil, untungnya juga Darwin dapat menjawab semua pertanyaan mereka dengan baik dan tidak menimbulkan gesekan sedikitpun.

Anisa si Gadis cantik hitam manis ini tersenyum dan bersyukur karena ternyata Darwin dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan baik, Fina cspun tersenyum “Puji Tuhan! Darwin sekarang terlihat jauh lebih baik dan dapat menjawab semuanya dengan baik!” puji Mutia. “Apa ada yang ingin bertanya lagi?” tanya Anton selaku moderator, semuanya terdiam dan hanya mengangguk-ngangguk tanda cukup, namun tiba-tiba Sam berdiri dan bertanya dengan lantangnya “Dari semua penjelasan saudara, saudara tidak menjelaskan tentang Mafia!”, Darwin mengangkat alisnya, dia mafhum kalau Sam akan mulai memancing di air keruh, “Mafia? Maksud anda?”.

Sam menyeringai dengan culasnya “Yah, semua tahu kelakuan para pengusaha di Indonesia! Ya siapa tahu, kasus ini ada makelarnya, agar pemerintah menggusur kawasan itu dan para pengusaha mendapatkan proyek untuk membangun komplek perumahan disana!”, mendengar pernyataan (bukan pertanyaan) yang terkesan menuduh itu, akhirnya emosi Darwin mulai tersulut juga, “Pernyataan itu seolah-olah menuduhku Sam! Apa maumu?”.

“Apa mauku? Mauku hanya ingin kau menjelaskan semuanya! Dan saya kira semua yang hadir disinipun berhak mengetahuinya! Jangan menyebutnya itu tuduhan sobat, sebagai mahasiswa kukira kita harus kritis! Bukan begitu kawan?” semua yang ada disanapun mengangguk-ngangguk, suasana yang kondusif itu mulai memanas lagi, beberapa dari mereka terlihat mulai saling berbisik-bisik.

Darwin agak kecewa juga karena ternyata para adik kelasnya itu mudah sekali terhasut, dan ia juga sudah benar-benar merasa muak dengan Samuel! Maka ia memutuskan untuk mengambil sikap yang egas dan keras untuk mengakhiri semua ini “Baiklah akan saya jawab! Jangan samakan aku dengan mereka! Mengejar apa yang tampak adalah segala-galanya. Dalam hidup ini aku bukanlah 'pendatang' yang selalu beranjak untuk 'pergi' lagi. Aku adalah aku! Bagian dari kehidupan yang menghidupi diriku sendiri! Kalian semua faham maksudku?

Seberapa banyakkah orang-orang yang mengerti dan paham akan fungsi karakter yg kemudian mewujudkan identitas bagi makhluk yg hidup. Karakter lahir dari kebiasaan-kebiasaan dimana manusia berkumpul sebagai paradigma, sedangkan identitas adalah medium bagi sarana untuk bersosialisasi. Tidak semua pengusaha menggunakan cara-cara yang menelikung aturan-aturan hokum seperti yang dikatakan oleh Saudara Samuel! Perusahaan keluarga kami tidak termasuk kedalam jajaran Mafia seperti yang disebutkan tadi! Seperti perkembangan karakter seseorang yang saya sebutkan tadi, semuanya akan kembali pada diri kita sendiri dan habitat tempat kita hidup! Semuanya adalah pilihan! Lagipula apa ada buktinya?

Sekarang tentang sikpa kritis yang disinggung tadi, tentu saja semua orang berhak dan malah harus memiliki sikpa kritis, akan tetapi sikpa kritis seorang mahasiswa yang terpelajar jelas berbeda dengan orang-orang awam, tingkat predikat pendidikan seseorang akan menentukan bagaimana sikap kekritisan seseorang! Contoh, sikap kritis Pak Tani dengan Mahasiswa tentu berbeda, kalau Pak Tani hanya bisa mengeluh dan marah ketika harga-harga kebutuhan bertaninya melambung sementara harga hasil panen anjlok, seorang mahasiswa akan mencari bukti awal yang kuat dari fakta dilapangan, baru kemudian membangun opini untuk bergumentasi secara sehat! Cara menyampaikan argumentasinyapun tentu akan berbeda dengan para buruh yang sedang berdemonstrasi! Sekarang saya mengajak kita semua merenung, bagaimakah kita menyalurkan sikap kritis kita? Apakah sikap kritis kita menguntungkan masyrakat kebanyakan atau justru merugikan masyarkat? Apakah sikap kritis kita hanya terdorong oleh system pergaulan kita dan solidaritas sesama teman serta ajang gaul belaka?

Kritik itu peringatan! Jangan ongkang-ongkang kaki sambil berteriak-teriak tetangg kepedulian. Gunakan kapas untuk membelai atau palu pengetuk jidat bila perlu, tergantung jawaban yang kita butuhkan untuk menjawab! Apa sebetulnya yang kamu tahu tentang penderitaan? Buka lebar mata dan hati, jangan harap luka dapat sembuh dengan memelihara ilusi! harapan adalah tumpukan keinginan yang harus dibuktikan, bukan untuk disemayamkan dalam kalbu diam lalu di-sakralkan!”.

Darwin berhenti sejenak untuk mengambil nafas, semua mata tertuju padanya, “Saya ingat ketika pertama masuk ke kampus ini, kita semua sebagai mahasiswa baru disambut dengan tulisan ‘Selamat Datang Putera-Puteri terbaik Bangsa di Kampus terbaik!’, lalu rektor kita berpidato bahwa kampus ini selalu berhasil mencetak para pemimpin Bangsa ini, diantaranya ada yang menjadi Presiden dan Mentri! Tapi sekrang apa yang sedang kita alami, HAH?!

Bagaimana dengan mudahnya orang-orang menuduh dan tersulut nafsunya hanya karena isu berita yang belum tentu benar! Belum ada bukti, sudah berani menjudge dari cover! Semuanya demi alasan sikap kritis! Dan yang disesalkan adalah, para mahasiswa yang seharusnya menjadi agen perubahan, gampang sekali terhasut dan membabi buta tanpa argument yang jelas yang disertai bukti yang kuat! Apakah ini generasi yang akan menjadi para pemimpin Bangsa?! Dengan mudahnya kalian terhasut dan menyuarakan suara tanpa dasar yang kuat dengan beramai-ramai memnafaatkan solidaritas untuk memobilisasi massa! Semuanya hanya berdasarkan perasaan curiga sehingga melhairkan sikap yang destruktif! Lalu, jika suatu saat kalian berada di suatu pihak yang bersebrangan dengan suara mayoritas dikarenakan anda yakin dengan apa yang kalian lakukan dan suarakan itu benar, maka apa yang akan kalian lakukan?! Apakah akan selamanya kawan-kawan semua akan berlindung dibalik suara mayoritas dan solidaritas pandangan sikap orang lain?!”.

Darwin menjawab pernyataan Samuel itu dengan tegas dan berapi-api, sehingga lebih mirip orang yang sedang berorasi, Samuel yang meyaksikannya membisu, matanya merah, dadanya terasa seakan hendak meledak, badannya panas dingin saking emosinya! Saking emosinya dia tidak ingat sedang duduk atau berdiri!

Kemudian ia pun membuka membuka mulutnya lagi “Tapi…”, namun Darwin langsung memotongnya “Kawan-kawan, bangunlah kebiasaan berprasangka baik diatas sikap kritis kawan semua itu! Carilah dulu bukti awal yang kuat serta bangunlah opini masing-masing untuk beragumentasi secara sehat! Jangan seperti saudara Samuel ini!” tunjuk Darwin, “Proses tender pembangunan komplek perumahan rakyat di Kali Ambang terdiri dari beberapa tahap, hingga pada finalnya yang tersisa adalah perusahaan keluargaku PT. Trackindo dan perusahaan milik Ayah Samuel PT. Maju Unggul! Tendernya kemudian dimenangkan oleh PT. Trackindo! Nah, saya jadi penasaran dengan Motif Samuel yang ngotot untuk mengadakan diskusi ini!”.

Bagaikan disambar ribuan petir! Sam amat kaget mendengar ucapan Darwin tersebut! Wajahnya langsung memucat! Semua yang ada di ruangan itu memandang pada Sam, seluruh badan Sam menggigil menahan emosinya yang akan segera meledak! Dimatanya tergambar ketika Darwin sedang berjalan bersama Purie, gadis yang sangat ia cintai pada masa SMA dulu, sehingga walaupun kini ia sudah bersama dengan gadis lain dan oeristiwa tentang Purie itu sudah lama berlalu, dia masih menyimpan dendam pada Darwin! Ditambah lagi bahwa Ibu Darwin adalah saingan bisnis Ayahnya, maka semakin dendamlah Sam pada Darwin! Sedikitpun ia tidak mengingat bahwa ia sudah sering mencelakai Darwin, dari mulai ia memukuli Darwin sampai Darwin tidak berdaya, hingga beberapa kali ia merusak hubungan Darwin dengan Anisa, padahal Darwin pernah beberapa kali menolongnya termasuk ketika mobilnya mogok tempo hari.

“Ya itulah kelicikan Sam! Dia pernah mengadu domba aku dengan Darwin sehingga aku salah paham dan memukuli Darwin tempo hari, padahal saat itu Darwin sedang menolongku untuk memperbaiki hubunganku dengan Yumi!” ucap Andy sambil menatap tajam pada Sam, Yumi pun mengangguk-ngangguk mengingat peristiwa itu.

“Keterlaluan si Sam! Ternyata selain masalah Purie, masalah persaingan usaha orang tuanya yang membuat ia sangat membenci dan mendendam pada Darwin!” ucap Mutia dengan gemas, “Iya sampai ia tega melakukan ini semua pada Darwin!” sambung Fina. Anisa pun teringat pada saat ia pernah jatuh dalam jebakan Sam untuk membiat Darwin menderita dengan kedatangan Hasan, sehingga ia sempat memusuhi Darwin dan Fina cs karena termakan oleh hasutannya Sam! Kini Anisapun melotot dan menatap Sam dengan tajam dan dada sesak karena menahan emosinya.

Telinga Sam memerah karena kini semua orang diruangan itu berbalik membicarakannya! Maka akhirnya emosinya meledak juga! Wajahnya yang biasanya selalu dihiasi dengan senyum dan seringai culas kini berubah menjadi wajah yang dipenuhi oleh amarah! Sekonyong-konyong dia berlari kedepan dan Dessshhhh! Dia memukul Darwin, tinjunya bersarang telak di pelipis Darwin! Darwin pun terjungkang dari tempat duduknya saking kerasnya pukulan Sam itu! Togar dan Andy segera meloncat untuk menahan Sam.

“Win kamu ga apa-apa?!” tanya Anisa dengan panik dan khawatir, beberapa orang langsung berkerumun mendekati Darwin, namun Darwin tidak menjawab Anisa, dia merasa seluruh tenaga yang ada didalam tubuhnya menghilang! Dia hanya menatap kosong keatas, tiba-tiba Darwin melihat seolah-olah ruangan itu tak memiliki atap, diatas kepalanya hanya ada langit biru yang luas! Dan tiba-tiba seberkas sinar yang mirip dengan bintang jatuh melintas dan meninggalkan dirinya disertai dengan gempa bumi yang dahsyat! Darwin kemudian trsenyum dengan lemah dan berkata “Ah dia sudah pergi!”, Anisa heran mendengarnya “Apanya yang udah pergi Win?!”, namun Darwin langsung menutup matanya dan kehilangan kesadaran dirinya! “Darwin! Darwin!!!!” teriak Anisa ketika mendapati Darwin tidak sadarkan diri!

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?