PART 44

Dance With Life

Part 44

Anisa langsung menangis histeris ketika mendapati Darwin tak sadarkan diri, para mahasiswa yang berada disanapun langsung memanggil ambulance, Darwin langsung dilarikan ke rumah sakit! Anisa, Fina, Mutia, dan Togar ikut kedalam ambulance, sedangkan Dony tidak ikut kedakam ambulance karena badannya yang ‘istimewa, dia bersama Andy dan Yumi cs menyusul kerumah sakit dengan menggunakan mobil mereka masing-masing. Sementara setelah insiden pemukulan itu, Sam langsung menghilang entah kemana.

Begitu sampai di rumah sakit, Dokter Yudi langsung menangani Darwin, dengan telaten dia memeriksa keadaan Darwin. “Dok gimana keadaan Darwin?” tanya Anisa dengan cemas setelah Dokter Yudi memeriksa Darwin, “Dia masih hidup Nis, tapi aku tidak tahu kapan dia akan sadar” jawab Dokter Yudi dengan lemas. Anisa pun tak dapat menahan lagi tangisnya, dia langsung memeluk tubuh Darwin yang sadarkan diri itu, Fina dan yang lainnya ikut menangis melihat pemandangan yang memilukan itu.

“Oya kemana ibunya Darwin Nis?” tanya Dokter Yudi, “Tante Leny sedang ke Tokyo untuk urusan bisnisnya!” jawab Anisa sambil menangis, Dokter Yudi menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar itu “Astagfirullah Leny! Kamu tidak sedikitpun mengetahui keadaan anakmu ini?!” gumamnya dalam hati, kemudian dia teringat peristiwa 22 tahun yang lalu, saat itu, Bu Leny dan Pa Sunarya menemui dirinya dan ‘curhat’, betapa sulitnya mereka untuk mendapatkan momongan, padahal usia perkawinan mereka sudah menginjak tahun keenam!

Kemudian setelah berusaha kesana-kemari akhirnya Bu Leny mengandung seorang bayi juga, bayi laki-laki yang didapatnya dengan susah payah itu lalu diberi nama Darwin Wijaya. Alangkah bahagianya oasangan Pak Sunarya dan Bu Leny itu, namun Bu Leny menolak permintaan pak Sunarya untuk menjadi seorang Ibu rumah tangga biasa, dia ingin tetap menjadi seorang wanita karier dengan alasan, dia tidak ingin menyia-nyiakan gelar akademiknya, dan akhirnya Bu Leny semakin lupa pada Darwin setelah dia menggantikan Posisi Pak Sunarya sebagai Presiden Direktur PT. Trackindo. Anaknya yang ia dapatkan dengan susah payah itu, ia campakan begitu saja, ia menyerahkan Darwin kepada Mbok Darmi pembantunya yang setia untuk mengurusnya.

Masih segar dalam ingatan Dokter Yudi, ketika Darwin yang masih SD meneleponnya untuk mengambilakn rapotnya saat pembagian rapot, Bu leny tidak bisa mengambil rapotnya karena ada urusan bisnis yang penting, hingga akhirnya Dokter Yudilah yang mengambilkan rapotnya Darwin. “Leny sekarang kamu sudah keterlaluan! Kamu mencampakan anakmu yang keadaannya sedang kritis seperti ini!” gerutu Dokter Yudi dalam hatinya, dia lalu menatap Darwin yang tak sadarkan diri yang sedang ditangisi oleh kekasihnya dan teman-teman baiknya “Darwin, aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri! Aku akan berusaha yang terbaik untukmu!”.

“Gimana Dok? Apakah Darwin bisa sembuh?” tanya Anisa yang masih terus terisak, “Anisa… keadaan Darwin tidak memungkinkan untuk diterapi dengan Kemotherapy, jadi satu-satunya kesempatan untuk menyembuhkannya hanya dengan cara dioperasi, tapi… Kesempatan untuk keberhasilan operasinya hanya sekitar 5% saja” jawab Dokter Yudi perlahan dengan mendesah disertai wajah murung.

Malam harinya, jari Darwin mulai bergerak-gerak! Anisa yang terus berada disamping Darwin terkejut melihatnya, diapun langsung menggenggam tangan Darwin “Win! Kamu udah sadar?” tanyanya, namun Darwin masih belum sadarkan diri, dan tiba-tiba ia mengigau “Mah… Mamah…” igaunya, Anisa yang mendengarnya kembali menagis karena tak dapat menahan kesedihannya, kemudian dia teringat pada hubungan Darwin dengan ibunya, yang sejak kecil Darwin kurang mendapatkan perhatian dari Ibunya.

“Kamu kangen sama Mamamu ya Win?”, tanya Anisa, kemudian Anisa memaksakan tersenyum ditengah deraian air matanya itu “Tenang Win, aku yakin Mamamu juga akan inget sama kamu! Kalau kamu kangen sama Mamamu, Mamamu pasti akan selalu berada dihatimu!” ujarnya berusaha untuk membesarkan hati Darwin, walaupun Darwin tentu tidak dapat mendengarnya karena sedang tidak sadar.

Dua hari kemudian, Anisa mendengar Dawin melengguh dan semua badannya bergerak-gerak “Uh… Uh…”, Anisa terkejut menndengarnya “Darwin kamu sudah sadar?” tanyanya, kemudian dia buru-buru memanggil Dokter Yudi. Setelah Dokter Yudi berada diruangan itu, Darwin benar-benar membuka matanya “Emmhhh… dimana aku?” tanyanya dengan lemas setelah ia memandangi Anisa, Dokter Yudi dan semua teman baiknya ada diruangan itu. Anisa langsung memeluknya “Darwin! Kamu beneran udah sadar! Alhamdullilah!”, Dokter Yudi segera menghampirinya “Sekarang kamu sedang berada di rumah sakit Win”, “Iya, kamu pingsan waktu di kampus setelah menyelesaikan diskusi terbuka itu!” sambung Anisa, Darwin masih nampak kebingungan karena kesadarannya belum sepenuhnya pulih, “Oya? Berapa lama aku pingsan?” tanyanya lagi “3 hari Win!” jawab Anisa, Anisapun langsung memeluk Darwin yang baru sadar itu.

Dokter Yudi benar-benar merasa terenyuh hatinya melihat Darwin yang baru sadar itu, apalagi ketika dia tahu dari Anisa bahwa Darwin terus memanggil Ibunya saat ia tidak sadarkan dirinya, “Baiklah Win, akan kupanggilkan ibumu!” ucapnya dalam hati.

Lalu Dokter Yudipun keluar, Anisa mengejarnya “Dok tunggu Dok!”, Dokter Yudi menoleh, “Ada apa Nis?” tanyanya, Anisa langsung memegang tangan Dokter Yudi, “Dok tentang kemungkinan yang hanya 5% itu, aku…”, Dokter Yudipun menunggu Anisa menyelesaikan perkataannya, “Aku minta Dokter untuk mengoperasi Darwin walaupun peluangnya sangat kecil! Aku tidak tega kalau harus melihat Darwin harus terus menderita dan meninggal secara perlahan-lahan!” ucapnya dengan wajah yang bersingguh-sungguh.

Dokter Yudi terkejut mendengarnya! “Apa kamu seirus Nis?”, Anisa kemudian memegang erat tangan Dokter Yudi, “Iya Dok, aku serius! Tolonglah Darwin Dok!”, Dokter Yudi dapat melihat keseriusan dimata Anisa, dan akhirnya diapun megangguk “Baiklah, kita akan ambil peluang ini, tapi aku baru bisa setelah Ibunya pulang!”.

“Tapi, Tante Leny kan masih lama di Tokyonya!” jawab Anisa, Dokter Yudi pun tersenyum simpul, “Tenanglah! Aku akan menghubinganya sekarang jyga dan meceritakan semuanya!”.

Di Tokyo, Bu Leny sangat terkejut ketika dia membaca salah satu email yang masuk! Email tersebut dari Dkter Yudi yang menyebutkan bahwa Darwin sedang dirawat dirumah sakit karena menderita penyakit Tumor Otak, dan harus segera dioperasi! Dirinya segera diminta pulang oleh Dokter Yudi untuk menyetujui pengoperasian Darwin! Setelah membaca email tersebut, Tiba-tiba seluruh penglihatan Bu Leny menjadi biru, bayangan-bayangan Darwin berkelebat kian kemari.

Air mata mulai meleleh dimata wanita bisnisman yang tangguh itu, “Darwin! Kenapa kamu ga bilang sama ibu nak?” tanyanya, di pelupuk matanya tergambar jelas, ketika dia dinyatakan positif hamil setelah 6 tahun pernikahannya, lalu saat pertama kali ia melihat Darwin ketika ia melahirkannya, kemudian masa-masa Darwin saat balita, anak-anak, remaja, hingga ia menjelma menjadi seorang pria dewasa seperti sekarang ini.

Kini penyesalan mulai menyelimuti dirinya, betapa ia merasa berdosa pada anak semata wayangnya itu, ia dan almarhum suaminya bersusah payah untuk mendapatkan keturunan, namun setelah Darwin hadir ditengah kehidupan mereka, ia malah mencampakannya. Semenjak bayi, Darwin lebih akrab dengan susu kaleng (susu formula) karena ia sering pulang larut malam dan hanya menyusui Darwin pada saat ia berada dirumah, dan sampai sekarang di masa-masa yang sangat kritis bagi Darwin, dirinya masih juga mencampakannya! “Aku sudah kehilangan suamiku, Tuhan, haruskah aku juga kehilangan anakku satu-satunya?!” tanyanya.

Setelah terlontar pertanyaan itu dari lubuk hatinya, kini ia meradsakan kesepian yang teramat sangat! Untuk apa ia bersusah payah membangun kerajaan bisnisnya, kalau Darwin akan meninggal? Siapa yang akan meneruskan perusahaan peninggalan Almarhum suaminya itu? Dan dengan siapa ia akan hidup kalau Darwin meninggal? Maka iapun buru-buru mengemasi barang-barangnya, dan langsung memesan tiket pesawat untuk pulang ke Indonesia.

*****

Keesokan harinya saat pagi hari, setelah selesai menyuapi Darwin makan, Anisa mengobrol secara empat mata dengan Darwin, “Win, berapa sisa waktumu menurut diagnosa Dokter Yudi?” tanya Anisa, “Sekitar 2 bulan pas Nis!” jawab Darwin dengan lemas. Kembali air mata Anisa mengalir dengan derasnya “Berarti kamu jadian denganku, hanya untuk mengantarkan kematianmu Win!”, Darwin menghela nafasnya, “Maafin aku Nis, seandainya aku lebih mempunyai keberanian sejak dulu, tentu aku aku akan menyatakan cintaku sejak dulu Nis!”, “Tapi tetap aja! Walaupun kita jadian dari dulu, toh pada akhirnya kamu akan meninggalkanku secepat ini!” jawab Anisa dengan diiringi isak tangisnya.

Darwin terdiam mendengar ucapan Anisa itu, mulutnya tak sanggup untuk berkata apa-apa karena menahan deburan perasaannya di hatinya, “Darwin kamu sendiri kan yang bilang kalau harapan adalah tumpukan keinginan yang harus dibuktikan, bukan untuk disemayamkan dalam kalbu diam lalu di-sakralkan! Nah, aku masih ingin terus untuk berjalan bersamamu! Apakah kamu tidak akan berusaha sedikitpun juga agar kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa berjalan bersama sampai nanti?!” kemudian Anisa berlari keluar meninggalkannya.

Darwin termenung setelah Anisa meninggalkannya, terbayang lagi masa-masa ketika mereka berdua melalui duka maupun suka dari sejak kecil, dimulai dari hubungan pertemanan yang selalu dihiasi dengan pertengkaran, sampai akhirnya benih-benih cinta tumbuh di hati mereka berdua, Darwin mafhum tentang perasaan Anisa, hubungan diantara mereka yang sudah sekian lama terjalin erat kini harus dipisahkan secara paksa seperti ini. Dan sejujurnya, sekuat dan setabah apapun Darwin untuk mencoba tabah dan ikhlas dalam menjalani cobaan ini, tetap saja di pusara jiwanya yang terdalam, dia tidak rela untuk berpisah dengan Anisa!

Darrwin pun kemudian berpikir, “Hmm… kemungkinan keberhasilan operasinya hanya 5% saja ya? Ya baiklah, selama ada kemungkinan, mengapa tidak? Bismillah sajalah! Kuserahkan semuanya kepada Allah, manusia hanya tahu untuk berusaha dan berdoa!” gumamnya dalam hati, kemudian, diapun bangkit berdiri, mencabut selang infuse dari tangannya, dan mengambil sebuah buah apel, kemudian menyusul Anisa keluar!

Dia lalu mencari-cari Anisa, setelah beberapa saat mencari, akhirnya dia menemukan Gadis hitam manis itu di taman rumah sakit itu, sedang duduk termenung seorang diri sambil menangis dan menatap air mancur di kolam taman tersebut. Darwin lalu menghampiri Anisa perlahan, “Anisa maafin aku, akan tetapi inilah suratan takdir yang terulis untukku! Namun apapun yang terjadi, ingatlah, bahwa aku sangat mencintaimu! Aku hanya mencintaimu seorang! Dan aku bersyukur sampai saat ini, kamu masih mau untuk berada disisiku!”.

Anisa diam tidak menjawab, hanya isak tangisnya saja yang masih terdengar jelas diantara kicauan burung di pagi itu, Darwin lalu menggigit buah apel yang ia bawa dari kamarnya tadi, kemudian melirik Anisa sambil tersenyum, “Anisa, jika buah apel yang sudah kugigit ini, kubuang begitu saja, dalam beberapa hari, buah apel ini akan lenyap diurai oleh Bakteri Pengurai, tapi jika apel ini kita gigit”, krauk! Darwin menggigit lagi buah apel itu, “Buah apel yang kita makan itu, akan menjadi bagian dari tubuh kita selamanya! Selamanya sampai kita meninggal!”.

Mendengar itu, Anisa lalu menoleh dan menatap Darwin dengan manatanya yang masih berkaca-kaca, Lalu Darwin pun menyodorkan apelnya pada Anisa, “Dengan memakan apel ini, maka kita akan mempunyai sesuatu yang sama yang akan menjadi bagian dari diri kita, Anisa mengangguk dan mengambil buah apel itu dari tangan Darwin, lalu menggigitnya dengan bersemangat, “Wah itu adalah sebuah gigitan yang besar Nis!” ucap Darwin, kemudian mereka berdua, secara bergantian memakan buah apel itu sampai habis.

Setelah buah apel itu habis, Darwin lalu memegang tangan Anisa, “Anisa, aku mendengar dari Dokter Yudi bahwa kamu memintanya agar mengoperasi aku bukan? Awalnya aku merasa khawatir untuk dioperasi karena aku khawatir operasinya akan gagal dan hanya akan memperpendek waktuku didunia ini! Tapi setelah aku pikir-pikir, yah walaupun kemungkinan berhasilnya hanya 5%, apapun hasilnyaaku akan mengambil kesempatan itu! Kita manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, biarlah Allah yang menentukan hasilnya!”.

Anisa terbelalak mendengar itu, dia kaget tapi juga sekaligus senang, karena akhirnya Darwin mau mengambil kesempatan itu, sehingga mereka masih mempunyai harapan untuk bisa berjalan bersama lagi! Diapun langsung memeluk Darwin “Makasih Win, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu!”, Darwinpun balas memeluk Anisa “Makasih juga Nis, kamulah yang selalu menjadi penyemangat dalam hidupku!” jawabnya, “Ya Allah, berikanlah kesembuhan untuk Darwin! Hambamu ini masih ingin untuk bersamanya! Berikanlah yang terbaik untuk dua hambamu ini ya Allah!” doa Anisa didalam hatinya.

Darwin lalu menggenggam kedua tangan Anisa dengan erat, sepasang matanya menatap dalam-dalam pada sepasang bola mata Anisa yang indah, “Anisa Pramudyawardhani… Kamulah wanita yang pertama kali aku sukai, aku sudah menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu saat kita masih TK, dan sampai sekarang aku masih menyukaimu, memang harus kuakui kalau Mimi dan Purie sempat singgah dihatiku, tapi keberadaan mereka tidak mampu untuk menggeser keberadaanmu di hatiku, posisimu begitu special didalam hatiku, kamu selalu bertahta didasar hatiku yang terdalam hingga kau terus membuatku untuk menyukaimu, dari kita TK sampai sekarang!” ucap Darwin.

Anisa mengangguk, gadis hitam manis ini tersenyum manis sekali “Terimakasih telah membuatku begitu special didalam hatimu, akupun merasa demikian padamu Darwin, meskipun kita sering bertengkar, meskipun kamu itu nyebelin banget, meskipun keadaanmu sekarang sedang kritis, aku tetap menyukaimu! Dan aku ingin terus bisa menyukaimu sampai nanti, sampai tua, sampai akhir hayatku! Maka aku mohon, berjuanglah! Berusahalah untuk tetap hidup!”.

Darwin tersenyum lalu mendekap Anisa “Tentu saja aku akan berjuang Anisa, aku akan berjuang demi kamu, demi semua orang yang aku sayangi, dan tentu saja demi aku sendiri…” Darwin lalu mengecup kening Anisa, dengan lembut pria ini menyeka sisa air mata Anisa, Anisa pun mendekap Darwin dengan eratnya, seolah ia tidak mau melepaskannya, Darwin pun tersenyum dan balas mendekap gadis yang sangat ia cintai tersebut.

“Darwin, kamu memang terkadang nampak sangat bodoh, kamu lemah dalam berolahraga, kamu payah dalam pelajaran kesenian, tapi kamu pintar banget dalam pelajaran Matematika dan Ipa” lirih Anisa dalam hatinya, “Kamu terkadang Nampak sangat bodoh dan konyol, kamu terkadang Nampak ga bisa diandalkan, tapi akhir-akhir ini kamu banyak banget membantu menyelesaikan banyak masalah orang-orang disekitarmu, dari mulai masalah asmara Heru dengan Cyntia, pertengakaran antara Yumi dengan Andy, masalah keluarga Nicole juga Devi, masalah ekonomi keluarga Mimi, masalah Mutia, masalah adiknya Carla, sampai masalah asmara antara dirinya sendiri dengan Darwin yang melibatkan sahabat baik mereka Fina, dari semua kejadian yang telah kita lalui bersama tersebut, aku pun dapat menyadari bahwa kamu adalah orang yang sangat bisa diandalkan, orang yang sangat bertanggung jawab, yang menambah alasan bahwa hatiku tidak akan sanggup untuk menghianatimu, alas an yang cukup untuk membuatku tidak bisa berpaling dan berpindah ke lain hati! Aku hanya ingin bersamamu! Maka dari itu aku mohon sembuhlah agar kita bisa terus bersama! Ya Tuhan hambaMU mohon tolong sembuhkanlah Darwin! Aku benar-benar tidak ingin semuanya berakhir!” pinta Anisa dalam hatinya sambil mendekap erat Darwin.

*****

Siang harinya, Bu Leny sampai kerumah sakit Pelita Harapan tempat Darwin dirawat, dengan tergopoh-gopoh, dia langsung masuk keruangan Dokter Yudi, “Yud, bagaimana keadaan Darwin?” tanyanya, Dokter Yudipun mempersilahkannya duduk “Silakan duduk dulu Len!”, setelah Bu Leny duduk, Dokter Yudi langsung menatap tajam pada Bu Leny “Len, menurutmu kamu ingin mati dengan cara apa?”, Bu Leny terperanjat mendengarnya “Apa katamu?!”, Dokter Yudi lalu bersidekap dan mulai menjelaskan kondisi Darwin “Tentang Darwin, apa perasaanmu pada anakmu itu? Keadaan Anakmu sangat kritis Len! Dia terkena tumor otak ganas! Proses Operasi pun sangat berisiko tinggi dan kecil peluangnya untuk dapat menyelamatkan nyawanya, tapi Darwin sudah bersedia untuk dioperasi, aku menunggu persetujuanmu untuk mengoperasinya!”.

Bu Leny tertunduk lemas mendengarnya “Apa? Kenapa… Kenapa Darwin tidak mengatakan semuanya dari awal padaku?”, Dokter Yudi tersenyum simpul, “Jawabannya karena dia tidak mau mengganggu pekerjaanmu walaupun sudah berkali-kali aku memintanya untuk mengatakan semuanya padamu! Tapi dia terus menolaknya dengan alasan yang sama, itulah rasa sayangnya yang ia tunjukan kepadamu, untuk terus membiarkanmu melakukan apa yang kau sukai!”.

Betapa hancurnya hati Bu Leny mendengar penjelasan itu, hatinya luluh lantah! Kini perasaan sesal semakin dalam dan gelap menyelimuti dirinya, “Kenapa Len? Apa kamu menyesal dngan semua kejadian ini? Aku tidak habis padamu, dulu kamu dengan almarhum Sunarya bersusah payah untuk mendapatkannya! Namun setelah ia lahir, kamu malah mencampakannya dan lebih memetingkan kariermu! Sekarang saat keadaannya sudah kritis, baru kamu menyesali perbuatanmu dan menyadari kalau kesalahanmu kepadanya terlalu besar! Malah aku yang harus memberitahumu keadaan anakmu sendiri saat kau sedang di Jepang!”.

“Cukup Yud! Cukup! Aku melakukan semua ini untuk Darwin! Kelak dialah yang akan memimpin perusahaan peninggalan Almarhum Kakeknya dan Almarhum Ayahnya ini! Dan kunjunganku ke Tokyo pun sangat menentukan kelangsungan perusahaan kami untuk melobi para pengusaha Jepang agar mau bekerjasama dalam membangun Jembatan Fly Over Merak-Bakauhuni atas nama Perusahaan kami! Ini merupakan pertaruhan terbesar sepanjang sejarah perusahaan kami agar pembangunan Jembatan ini dibangun oleh perusahaan Indonesia bukan asing! Kelak Darwin juga yang akan menikmati hasilnya!” jelas Bu Leny dengan panjang lebar sambil menangis.

“Iya, tapi kalau keadaannya sudah begini, siapa yang akan menikmati hasilnya itu?” tanya Dokter Yudi, kemudian Dokter Yudi menggenggam tangan Bu Leny dengan erat! “Leny, ketahuilah, sampai saat ini aku masih mencintaimu, meskipun dulu kau lebih memilih Almarhum Sunarya! Aku juga sangat menyayangi Darwin, dia sudah kuanggap sebagai anak kandungku sendiri walaupun wajahnya sangat mirip dengan Almarhum Ayahnya! Itulah alasanku kenapa belum menikah sampai sekarang, bathinku merasa sudah mempunyai keluarga walaupun tanpa ikatan resmi!”.

Bu Leny terperanjat mendengar pengakuan dari Dokter Yudi itu, kenangan-kenangan masa lalunyapun terbayang lagi diantara tangis penyesalannya yang membumbung melangit! Dulu diantara mereka bertiga pernah terjadi kisah cinta segitiga, Bu Leny yang masa mudanya banyak diperebutkan oleh para pria yang berada disekitarnya itu, menjalin cinta dengan dua orang pria sekaligus karena ia mencintai mereka berdua, namun akhirnya ia lebih memilih Almarhum Pak Sunarya (ayahnya Darwin), dan menikah dengannya.

Dokter Yudi lalu berdiri dan mengusap air mata Bu Leny, “Maafkan aku Len, seharusnya memang aku memberi tahumu sejak awal! Terserah anggapanmu kepadaku, tapi sekarang dengarkanlah aku sebagai orang yang sangat menyayangi Darwin dan dirimu! Yang Darwin butuhkan bukanlah harta kekayaan dan perusahaan itu, tapi kasih sayangmu! Dia sudah merasa sangat kesepian semenjak kamu sering meninggalkannya sejak kecil, apalagi Darwin adalah anak yatim! Minta maaflah pada Darwin, dukunglah dan sayangilah ia dengan sepenuh hatimu! Itu akan sangat berarti bagi Darwin sebagai dukungan psikologisnya, agar operasinya bisa sukses!”.

“Tapi kesalahanku terlalu banyak Yud!” jawab Bu Leny, Dokter Yudi lalu memegang tangan Bu Leny lagi, “Aku yakin Darwin akan memaafkanmu! Aku tahu betul sifatnya dan aku juga tahu betul kalau Darwin sangat menyayangimu!”, Bu Leny pun mengangguk, kemudian, Dokter Yudi menuntun tanganya menuju kekamar Darwin dirawat.

Di kamarnya, Darwin yang ditemani oleh Anisa, sedang dijenguk oleh Dony, Togar, Fina, Mutia, Mimi, Nicole, Carla, Yumi, dan Andy. Sedang mereka mengobrol, masuklah Bu Leny dan Dokter Yudi, semua yanga da disana terkejut, termasuk Darwin “Mamah!” serunya. Bu Leny langsung berlari dan memeluk Darwin “Maafin Mamah ya Win! Mamah Cuma mementingkan diri mamah Sendiri!”, Darwin balas memeluk Ibunya “Ga apa-apa kok Mah, Darwin yakin semua yang mamah lakukan itu demi Darwin!”.

Bu Leny terdiam, Darwinpun menghela nafasnya, matanya menerawang jauh ke masa lalunya mengingat-ngingat kenang-kenangan ia bersama Ibunya itu, “Semenjak aku didiagnosa positif mengidap penyakit Tumor Otak dan diprediksikan umurku tinggal beberapa bulan lagi, aku jadi merasa diriku terbagi dua, satu sebelum saat itu, dan satunya lagi setelah saat itu, aku jadi merasa memiliki dua kepribadian yang berbeda.

Sejak saat itulah aku selalu mencoba mencari Mamah, lucunya walaupun kita tinggal didalam 1 rumah, aku selalu merasa jauh dari Mamah. Akan tetapi, sekarang aku sudah dekat dengan Mamah, dan aku ingin mengatakan bahwa aku selalu menyayangi Mamah, apapun yang Mamah perbuat, aku akan selalu mendukungmu! Mah, lanjutkanlah hidup Mamah, walau apapun yang akan terjadi padaku, hiduplah dengan cara yang Mamah pilih, hanya itulah yang bisa membuatku memaafkan Mamah dan diriku sendiri, serta hanya itulah yang bisa membuatku utuh lagi!”.

“Darwin, kamu harus tahu nak, kalau Mamah sangat sayang padamu!”, jawab Bu Leny, “Tentu saja aku tahu Mah, aku juga menyayangi Mamah!”, Darwin lalu berhenti sejenak, kemudian dia menatap Dokter Yudi, “Oya Mah, apapun yang akan terjadi pada diriku, aku minta satu hal pada Mamah!”.

“Apa itu Nak? Katakan saja!” tanya Bu Leny, “Aku ingin Mamah berjanji untuk mencari teman hidup yang baru dan membuat keluarga baru, dan Jangan terlalu sibuk dengan urusan bisnis!”, Bu Leny terkejut mendengar permintaan Darwin tersenut, “Apa maksudmu Win?”, Darwin tersenyum manis, “Hehehe… maafin Darwin ya Mah, beberapa hari yang lalu Darwin liat-liat lemari kerja Mamah dan nemu beberapa surat dari Dokter Yudi!”, Bu Leny lalu menatap Dokter Yudi, dan Dokter Yudi pun menundukan wajahnya karena malu, “Tolong ya Dok, jaga ibuku nanti!”, Dokter Yudi pun mengangguk sambil tersenyum.

*****

5 hari kemudian, akhirnya tibalah waktunya Darwin akan dioperasi, rambutnya sudah botak karena bagian kepalanyalah yang akan dioperasi. Saat itu, selain Anisa cs semua orang yang pernah berhubungan dan ditolong oleh Darwin berkumpul untuk memberi dukungan moril pada Darwin, ada Briptu Eka, Purie, Linda, orang tua Anisa dan Linda, Mira yang sedang hamil tua, Anton, Ninda, Nurul, Ratna, Desinta, Mbok Darmi, Pak Ujang si tukang kebun rumahnya Darwin, Bang Mail supir pribadinya Bu Leny, bahkan Heru, Cynthia dan Devi pun sengaja pulang dulu dari luar negri dan ikut hadir untuk memberikan dukungan semangat pada Darwin.

Setelah mereka semua menyalami dan memberikan semangat pada Darwin, tinggalah Bu Leny, Dokter Yudi, dan Anisa yang ada di kamar Darwin itu, Bu Leny mencium kening anaknya itu sambil menangis “Semoga Allah memberikanmu keselamatan Nak!” ucapnya, “Ya aku harap Mamah akan ikhlas apapun hasilnya nanti, dan memenuhi permintaanku itu!” jawab Darwin, Bu Lenypun mengangguk sambil menangis.

Kemudian giliran Dokter Yudi yang menyalami Darwin, “Darwin, aku ingin kau tahu bahwa aku sangat menyayangimu! Aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri! Dan bagi seorang pria tua yang tak memiliki anak sepertiku, kau sangat berarti bagiku Win! Ingat dulu sewaktu kamu jatuh dari pohon dan jari kelingking kakimu patah?”, Darwin mengangguk sambil tersenyum, “Aku sangat khawatir waktu itu, dan setelah aku mendiagnosa tumor otakmu itu, aku merasa separuh jiwaku ada yang hilang!”, Dokter Yudi lalu menatap Darwin dengan mata yang muali berlinang, “Aku sangat menyayangimu Win!”, ucapnya sambil memeluk Darwin, Darwin balas memeluk Dokter Yudi “Terima kasih Dok! Aku juga menyayangimu dan sudah menganggapmu sebagai ayahku sendiri!”.

Setelah beberapa saat mereka berpelukan, Dokter Yudipun mengajak Bu Leny keluar untuk memberi waktu pada Darwin dan Anisa untuk berduaan “Darwin….!” Lirih Anisa sambil mendekap Darwin, “Aku akan selalu mencintaimu Win! Aku akan terus mencintaimu sampai aku menutup mataku untuk selamanya!”.

Darwin hanya bisa tersenyum lemas sambil balas memeluk Anisa dan mengelus-elus kepala gadis yang sangat ia cintai itu, “Win… Sejak kecil aku suda menyukaimu, kamu selalu bisa membuatku nyaman sekaligus membuatku marah dan sedih kalau kita sedang bertengkar! Aku… Aku selalu berusaha menepis perasaanku padamu sejak kecil karena aku membencimu! Aku membencimu karena kamu selalu membuatku merasa suka dan benci padamu disaat yang bersamaan… Lalu aku selalu berusaha untuk lari dari perasaan itu padamu!” lirih Anisa.

“Sejak kecil banyak cowok yang menyukaiku, mereka seolah selalu berlomba untuk menarik hatiku, maka aku pun memanfaatkan mereka untuk menepis perasaanku padamu, aku sengaja bersenang-senang dengan mereka, aku pacaran dengan mereka untuk melupakanmu, tapi aku tidak bisa! Aku tidak sanggup! Aku selalu merasa tidak bisa untuk benar-benar menyukai mereka, aku sangat membenci diriku sendiri yang berbuat seperti itu, aku sangat membenci diriku ketika aku selalu berusaha untuk memanas-manasi dan membuatmu sakit juga cemburu, aku pun sangat membenci keadaan seperti itu yang aku buat sendiri! Hati kecilku selalu mendorongku untuk selalu mendekatimu, tanpa kusadari aku selalu berusaha untuk dekat denganmu, aku berusaha keras agar kita bisa terus satu sekolahan dan bisa satu kampus juga satu jurusan! Aku tidak pernah bisa rela kalau kamu dekat dengan cewek selain aku!”. Lanjut Anisa sambil menagis.

“Terima kasih Nis! Tapi aku juga permintaan padamu, jangan sampai menjadi perawan tua ya! Kalau sesuatu terjadi setelah operasi ini, kuharap kamu ikhlas menerima apapun hasilnya nanti!” jawab Darwin, “Tentu saja aku tidak akan menjadi perawan tua Win! Karena aku yakin kamu akan selamat setelah menjalani operasi ini! Aku yakin kepada kasih dan keajaiban dari Allah! Dan segera setelah kamu sembuh dan kita lulus kuliah bersama-sama dengan sahabat-sahabat kita, aku akan menunggu saatnya kamu melamarku!”.

“Anisa, tahukah kamu kalau kamu lebih sulit dihadapi daripada menghadapi kanker? Dan yang paling menyiksaku adalah ketika aku merasa rindu padamu!” ucap Darwin sambil tersenyum lebar, Anisapun tersenyum manis walaupun air matanya masih mengalir dengan deras. Darwin lalu mengangguk-ngangguk dan tersenyum mendengar ucapan Anisa yang bernada optimis dan penuh semangat tadi, lalu ia menoleh dan menyerahkan tasnya yang berisi laptop.

“Oya aku juga punya satu lagi permintaan, kalau terjadi sesuatu yang tak diinginkan nanti, aku ingin kamu meneruskan penelitian skripsiku, karena skrispsiku ini sangat berarti bagiku, aku ingin suatu saat dengan hasil penelitianku ini, orang-orang tidak akan menderita lagi karena penyakit tumor, orang-orang tidak perlu takut gagal operasi lagi, orang-orang tidak perlu bersedih kalau mereka tidak bisa memiliki anak, karena skripsiku ini akan menjadi langkah awal untuk era penyembuhan secara genetic! Semua datanya ada di laptop dan Flashdisk ku yang ada didalam tas ini, dan kalau kamu butuh referensi, datanglah kerumahku, di kamarku semua buku yang kamu perlukan tersedia!”. Anisa pun lalu menerima tas berisi laptop itu.

“Baiklah aku akan melakukan apa yang kamu minta ini. Dan satu lagi Win, ingat-ingatlah pada semua yang pernah kamu lakukan dalam hidupmu! Ingat-ingatlah dengan semua yang pernah kita alami! Semua penderitaan ini, semua kesedihan ini, semua kesenangan ini, semua kebahagian ini, semuanya demi masa depan kamu Win! Demi masa depan kita!” ujar Gadis hitam manis bermata bulat indah ini sambil memegang tangan Darwin dengan erat! Darwin lalu tersenyum manis, Anisa tercengang melihat senyuman Darwin yang nampak bercahaya itu, kulit Darwin yang memang putih, kini terlihat lebih putih dari biasanya, entah mengapa perasaan Anisa sangat tidak enak waktu melihat cahaya yang seolah keluar dari wajah Darwin tersebut! Darwin lalu membuka kacamatnya “Simpanlah kacamata ini Nis!”, Anisa pun mengangguk sambil menangis.

Setelah itu, Dokter Yudi masuk lagi kekamar Darwin, “Sudah saatnya Win!”, Darwin pun mengangguk, Dokter Yudi lalu memegang tangan Darwin “Ayo kita singkirkan tentakel yang bersarang dikepalamu itu!”, Darwinpun mengangguk, kemudian ranjang Darwin didorong menuju keruangan operasi. Setelah sampai, lalu suster menyuntikan obat bius dosis tinggi pada Darwin, setelah disuntik, semakin lama, pandangan Darwin semakin kabur, setelah apa yang ia hadapi dan alami selama ini yang selalu bersama dengan orang-orang yang berada disekitarnya, kini ia harus menghadapi saat yang paling menentukan dalam hidupnya sendirian saja!

Ketika layar telah menutup

Menyimpan panggung tempatku beraksi

Menyimpan gemuruh tepuk tangan dan puja puji

Tinggallah aku sendiri nanar menatap

Hening sekelilingku hanya desah nafas yang terdengar

Dan gedung yang porak poranda usai dihantam pesta pora para pemuja

Kini aku merenung lepas bagai bintang panggung

Ternyata semua hanya, hanya sementara

Yang abadi hanyalah kesendirian

Kesepian diantara kesegalaan

(Puisi Tangkiwood - Remy Soetansyah)

Operasipun dimulai! Kepala Darwin dibelah untuk proses pengambilan tumornya yang berada diatas otaknya, operasinya berjalan lancar, tumor ersebut berhasil diangkat dari kepala Darwin, namun ketika kepala Darwin disatukan kembali, tiba-tiba “Dok celaka! Gelombang otaknya melemah!” teriak salah seorang suster yang membantu operasi itu, “Apa?!” seru Dokter Yudi yang terkejut, kemudian mereka buru-buru memasangkan kembali tulang tempurung kepala Darwin, namun baru saja mereka selesai menyambungkannya kembali… Tiiitttt…! Itulah bunyi dari alat detector jantung yang hanya menggambarkan garis lurus!

“Celaka! Cepat ambilkan alat pengejut jantung!” seru Dokter Yudi, kemudian dia mengejutkan jantung Darwin dengan alat itu, namun percuma! Jantung Darwin sudah tidak mau berdetak lagi! Dokter Yudi pun jatuh terduduk dengan lemas! Beberapa saat kemudian, Dokter Yudi keluar dari kamar operasinya, Anisa, Bu Leny dan yang lainnya segera berlari menghampiri Dokter Yudi “Yud gimana keadaan Darwin?!” tanya Bu Leny, “Iya Dok, operasinya sukses kan?!”, tanya Anisa dengan cemas dan penuh harap. Tapi Dokter Yudi menggeleng dengan lemah “Maafkan aku, Allah berkehendak lain pada Darwin!”.

“Apa?! Tidak mungkin! Darwin…” seru Bu Leny, “Darwin!” teriak Anisa seraya hendak berlari menuju keruangan operasi Darwin, semua orangpun segera menahan Anisa “Nis! Sabar Nis!” ucap Fina mencoba menenangkan Anisa, “Ga Mau! Darwin! Darwin…”, Anisa langsung tergeletak pingsan, Anisa pun langsung dibawa kesalah satu kamar di rumah sakit itu.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?