PART 45 (End)

Dance With Life

Part 45

Darwin membuka matanya, samar-samar cahaya mentari dilihat olehnya, kemudian setelah ia sadar sepenuhnya dia bangun dari tidurnya, dia lalu celingukan melihat keadaan disekitarnya, kini dia berada di suatu padang rumput hijau yang luas, setiap selang beberapa meter di padang rumput tersebut ditumbuhi oleh pohon-pohon cemara yang berkumpul sehingga menyerupai hutan-hutan kecil, kemudian disana juga terdapat sebuah sungai yang memanjang bagaikan membelah tempat itu, airnya sangat jernih hingga kebeningannya dapat memantulkan cahaya sang mentari, sungai itu tidak terlalu lebar, dan alirannya pun tidak deras, sungai itu malah sangat tenang, riak airnya nyaris tidak terdengar, sang Bagaskara pun bersinar dengan cerahnya di langit biru yang cerah dan hanya beberapa gumpalan awan putih yang berarak.

Darwin amat takjub melihat panorama di tempat ia berada itu, kemudian dia baru menyadari keberadaanya di tempat yang misterius itu, “Dimana aku?” tanyanya pada diri sendiri, kemudian diapun berjalan menuju ke sungai tersebut, lalu ia celingukan lagi “Eh harus kemana aku melangkah?” tanyanya, kemudian iapun melihat kearah sungai itu mengalir, setelah berpikir agak lama, iapun membuat suatu keputusan “Baiklah, aku akan melangkah mengikuti aliran sungai ini!”, kemudian ia mulai melangkah mengikuti aliran sungai tersebut.

Darwin terus mengikuti aliran sungai itu, hingga beberapa puluh langkah kemudian, dia melihat suatu bangunan yang sangat ia kenali yang berada ditengah-tengah padang rumput hijau tersebut, alangkah kagetnya ia ketika melihat bangunan itu “Astagfirullah! Itu kan rumahku!” serunya, kemudian diapun melangkahkan kakinya menuju ke rumah itu, dia lalu menegok dari luar pagar rumah itu, didalamnya sudah ada Kakek, Neneknya beserta semua orang yang ia kenali yang sudah meninggal berpakaian putih-putih tersenyum kepada dirinya “Apakah aku sudah meninggal?” gumamnya.

Kemudian ketika ia hendak membuka pintu pagarnya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya, bukan main terkejutnya Darwin ketika mendengar suara yang sangat ia kenali itu, kemudian Darwin menoleh dan matanya terbelalak lebar ketika melihat orang itu “Papah!” ucapnya seraya mengenali pria yang wajahnya sangat mirip dengan dirinya itu.

Pria paruh baya yang juga berpakaian putih-putih itu tersenyum dan mengangguk pada Darwin, Darwin pun langsung memeluknya, “Ini dimana Pah?” tanya Darwin setelah melepaskan pelukannya, Ayahnya tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja, “Lho? Tapi kok Papah bisa ada disini? Terus Kakek, Nenek, dan semua orang itu?” tanya Darwin yang keheranan karena tidak mendapatkan jawaban dari Ayahnya itu, Ayahnya membukakan pintu pagar rumah itu, dia lalu menuntun Darwin masuk kedalam halaman rumah itu, semua orang yang ada disana menyambut Darwin dengan senyuman, Darwin pun bergabung dengan mereka.

Sementara itu, Anisa sedang berjalan di padang rumput hijau yang luas, setiap selang beberapa meter di padang rumput tersebut ditumbuhi oleh pohon-pohon cemara yang berkumpul sehingga menyerupai hutan-hutan kecil, kemudian disana juga terdapat sebuah sungai yang memanjang bagaikan membelah tempat itu, airnya sangat jernih hingga kebeningannya dapat memantulkan cahaya sang mentari, sungai itu tidak terlalu lebar, dan alirannya pun tidak deras, sungai itu malah sangat tenang, riak airnya nyaris tidak terdengar, sang Bagaskara pun bersinar dengan cerahnya di langit biru yang cerah dan hanya beberapa gumpalan awan putih yang berarak.

“Dimana ini?” tanyanya, kemudian dia melihat ada orang-orang yang sedang berbaris, berjalan menuju ke arah matahari dengan mengenakan pakaian serba putih, “Eh apa itu? Jangan-jangan Darwin ada disana! Darwin!”, kemudian Anisa berlari menuju ke barisan orang-orang itu sambil berteriak-teriak memanggil Darwin, “Darwin!” teriaknya berulang-ulang.

Namun sebelum ia mencapai barisan orang-orang itu, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya “Anisa! Aku disini Nis!”, Anisa terkejut mendengar suara orang itu, kemudian dia menoleh dan matanya terbelalak ketika melihat pria yang sangat ia kenali dan ia cintai itu! “Darwin!” serunya seraya langsung memeluknya, Darwin pun balas memeluknya “Anisa, aku disini! Tapi maaf mungkin inilah kesempatan terakhir kita bertemu Nis!” ucap Darwin.

“Jadi… Jadi…” tanya Anisa sambil tergagap karena kebingungan, “Ya, aku harus segera pergi Anisa… Anisa tetaplah hidup dengan penuh semangat, kita tidak ditakdirkan untuk bersama lagi di dunia fana, pulanglah! Temukan takdirmu sendiri Anisa!” jawab Darwin sambil mengusap air mata Anisa. Darwin lalu berjalan menuju ke barisan orang-orang yang sedang berjalan didepan mereka itu, Anisa lalu berusaha untuk mengejar Darwin sambil berteriak-teriak memanggil namanya, namun ia tidak sanggup untuk menyusul Darwin, Anisa pun terjatuh. Ketika itu tia-tiba ia mendengar suara Fina dan Mutia yang memanggilnya “Nis! Anisa!” panggil mereka berdua.

Anisa pun membuka kedua matanya, ketika dia membuka kedua matanya, ia melihat Fina dan Mutia yang berada dihadapannya, “Lho Fin? Mut? Berarti… berarti yang tadi hanya mimpi! Darwin…” ucapnya sambil sesegukan, “Anisa, kami bangunin kamu karena kamu ngigau manggil-manggil Darwin! Nis, Darwin udah pergi, kamu dan kita semua harus relain dia biar dia bisa tenang di alamnya!” jawab Mutia, mata Anisa terbelalak medengarnya “DARWIN!!!!” jeritnya.

Saat itu masuklah Purie menghampiri Anisa, dia tersenyum menyeringai melihat kesedihan hati Anisa “Kamu sedih Anisa?” tanyanya.

Mutia yang menyolot “Tentu saja Anisa sedih! Dasar aneh pake nanya-nanya gitu segala!”.

Purie menyeringai lebar “Kamu kira aku tidak sedih? Bahkan aku sangat sedih karena waktu terakhir Darwin dihabiskan bersama Anisa, bukan denganku!”.

Purie tersenyum menatap Anisa “Baiklah, aku akan mengatakan apa yang pernah Darwin ajarkan kepadaku dulu tentang cinta! Cinta tidak dapat dilihat dari satu dimensi sisi saja, karena cinta menumbuhkan rasa kesenangan maka cinta juga menorehkan luka kepedihan. Hidup bermanfaat bagi orang yang tekun belajar memahami makna kesenangan dan mau menerima segalanya tentang arti kepedihan. Damai itu ada disana!

Cinta itu adalah kesenangan yang juga kepedihan. Keduanya ada dalam satu kesatuan kata sifat yang tidak terpisah. Ketika kita hanya fokus pada cinta yang bersifat kesenangan maka akan menuai pula kadar kepedihan yang sama besarnya! Cinta adalah sebuah keseimbangan. Cinta itu kebahagiaan dan kesedihan, memberi dan menerima dimana semua itu berjalan sesuai hukum alam. Ketidakseimbangan hanya akan membuat cinta itu menyedihkan dan keseimbanganlah yang membuat cinta terasa surga di dunia! Itulah makna cinta yang sebenarnya! Itulah makna cinta yang universal!”.

Anisa membisu mendengarkan penuturan Purie tersebut, dia mencoba meresapi dan memahami apa yang disampaikan oleh gadis ‘saingannya’ itu, “Nah Anisa, kalau kau sudah memahami arti cinta seperti yang Darwin pernah sampaikan padaku tadi, apakah kamu masih untuk menepati janjimu yakni selalu berada disisi Darwin dalam keadaan apapun? Kalau kamu tidak mau, aku sajalah yang akan menemani dan merawat Darwin, dan dalam keadaan apapun, aku akan selalu berada disisi Darwin!” ujar Purie.

“Tapi aku masih tetap tidak mengerti, kenapa Tuhan menciptakan penyakit? Kenapa Tuhan menciptakan rasa cinta pada sesama? Kenapa Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan kalau akhirnya mereka harus berpisah? Kenapa Tuhan menciptakan pertemuan kalau harus ada perpisahan?” Tanya Anisa.

Mendengar itu Purie tersenyum simpul, ia lalu menuntun Anisa ke taman rumah sakit tersebut, semua pun mengikuti mereka, di taman rumah sakit yang banyak ditumbuhi beraneka bunga tersebut Nampak beberapa kupu-kupu berterbangan, salah satunya hinggap di bahu Anisa “Anisa, sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku juga punya pertanyaan, mengapa Tuhan menciptakan kupu-kupu yang sangat cantik dan indah itu dari ulat yang menjijikan? Mengapa Tuhan tidak langsung menciptakan kupu-kupu yang cantik juga indah tersebut? Mengapa untuk menjadi kupu-kupu si ulat yang menjijikan itu harus bermetamorfosis tersebih dahulu?”.

Anisa terdiam sambil menatap kupu-kupu yang terbang dari bahunya, “Jawabannya hanya satu… Hanya satu jawaban dari berbagai pertanyaan yang kita berdua ajukan tadi yaitu… Agar kita menyadari bahwa semuanya butuh proses. Agar manusia mau belajar dan berusaha dalam menjalani takdirNYA! Agar manusia berusaha untuk selalu bermetamorfosis demi menjadi insan yang lebih, agar manusia tidak menyerah dalam menjalani segala cobaan hidupnya, agar manusia mau terus belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik dalam menjalani takdir yang sudah ditetapkan olehNYA sampai akhirnya kita kembali menutup mata untuk selamanya! Semuanya demi menjadi insan yang lebih baik ibarat ulat yang menjijikan itu bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah!”.

Mendengar itu, timbul kembali semangat dalam diri Anisa, energinya seakan-akan timbul lagi diseluruh tubuhnya, bahkan meluap-luap! Semua kenang-kenangan yang telah ia lalui bersama Darwin seolah melintas di pelupuk matanya yang membuat semangatnya memuncak! Dia lalu mengangkat kepalanya dan menatap tajam pada Purie, “Terimakasih Purie sudah mengingatkan aku tentang makna cinta yang sesungguhnya” ujar Anisa sambil terisak, mereka lalu saling berpelukan.

*****

Satu tahun kemudian… Anisa sudah lulus dan sudah bekerja sebagai seorang penulis novel, hari ini adalah launching novelnya yang pertama yang berjudul Dance With Life yang terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri bersama Darwin, karena mendapat pujian dari para kritikus maka pre-order novel itupun laku keras, pada hari launchingnya, pihak penerbit novel Anisa yang diberi judul “Dance With Life” tersebut mengadakan acara launching yang cukup besar di satu mall di Jakarta, karena pre order novel ini laku keras dan banyak yang merekomendasikan serta mengiklankannya di berbagai media social, banyak sekali yang membeli sekaligus menghadiri acara launching novel tersebut, Togar, Dony, Fina, serta Mutia pun menghadiri acara launching novel kawan mereka ini, Anisa pun akan memberikan kata sambutan untuk acara launching novel ini.

Gadis yang memang ogah ribet berdandan penggemar style denim ini masih berdandan minimalis, dan bergaya cuek dengan style denimnya, tidak ada yang berubah dalam diri gadis hitam manis ini, hanya Darwin Wijaya sajalah yang sudah tidak ada lagi disisinya, hari ini pun ia berdandan minimalis, dengan mengenakan tanktop oranye dibalut dengan kemeja lengan pendek berwarna biru terang (Cyan), celana jeans putih yang robek dibagian tumit dan dengkulnya, serta sepatu warrior berwarna biru tua. Gaya Denimnya yang cuek dan dandanannya yang sangat minimalis itulah yang justru menjadi keistimewaan dari Anisa, Gadis Jawa berkulit hitam manis itu sungguh Nampak seksi dan cantik sekali. Gadis ini memang tidak mau ribet dalam berdandan dan selalu tampil cuek.

Gadis yang bernama lengkap Anisa Pramudyawardhani tersebut berdiri dan menyampaikan kata sambutannya tentang novel terbarunya ini “Assalam mualakum Warahmatullah Hiwabaraktuh, baik saya akan langsung saja pada intinya. Kalau ditanya apa motivasiku untuk menulis novel ini… Adalah untuk menjawab satu pertanyaan yaitu Untuk Apa Kita Hidup?

Pertanyaan itu tidak pernah bisa aku jawab, hingga aku mengalami semua ini yang hingga takdir memisahkan aku dari salah satu orang yang paling aku cintai dan paling berharga bagiku di dunia ini. aku menyadari bahwa yang terpenting dari kehidupanku adalah pandangan kita dalam menyikapi hidup kita ini. Saya percaya bahwa hidup kita mempunyai suatu misi yang harus ditempuh melalui sebuah ekspedisi. Hidup bermakna untuk melakoni pengorbanan bukan untuk mengejar tercapainya target pencapaian. Kebahagiaan hanya semacam iming-iming yang berguna sebagai medium untuk memaksa, agar manusia mau tak mau terpaksa belajar menerima berbagai duka kesedihan dan sejenisnya!

Pengorbanan akan melatih, mengasah mata, dan batin yang membuat misteri persoalan hidup dikehidupan ini menjadi lebih benderang serta tampak lebih nyata! Merasa mampu karena tumpukan materi, adalah kemiskinan sebenarnya yang segera akan menyadarkan perhatian! Makna hidup adalah tugas bagi setiap manusia untuk mengelola suatu peradaban, tanpa menjadikannya obsesi, untuk bisa memperbaiki dunia dengan caranya sendiri. Dalam kaitannya dengan agama maka itulah makna dan artinya 'tiket ke-surga'. Itulah Misinya, itulah ekspedisi dari kehidupan kita!”.

Demikianlah ucapan sambutan Anisa yang disambut dengan tepuk tangan yang meriah serta decak kagum yang menontonnya! Orang-orang pun semakin banyak yang menaruh simpati pada Anisa. Gadis cerdas yang kini menjadi penulis novel itu pun sibuk untuk membubuhkan tanda tangan pada buku novelnya yang diminta oleh para fansnya.

Sekitar dua jam kemudian, acara launching itu selesai, gadis berwajah khas Jawa yang sangat mirip dengan Ibunya semasa muda yang asli dari Pati Jawa Tengah itu meninggalkan toko buku itu sambil meregangkan tubuhnya “Fuhhh… Cape juga ngasih tanda tangan segitu, apalagi kalau gue jadi artis” gumamnya, dia lalu berjalan menuju ke sebuah coffeshop beserta keempat kawannya, setelah memesan mereka pun bercengkrama di coffeshop tersebut “Jadi kamu udah ngelamar Fina Gar? Wah selamat ya, jadi kapan nih rencananya kalian menikah?” Tanya Anisa dengan sumringah sambil memberikan selamat pada Togar dan Fina yang telah menceritakan suksesnya prosesi lamaran Togar ke keluarga besar Fina dan rencana pernikahan mereka.

“Rencanya akhir tahun ini Nis” jawab Fina, gadis yang sangat mirip dengan Sandara Park itu sambil tersipu malu yang diiringi dengan sorak sorai Anisa, Mutia, dan Dony, “Selamat ya Bro!” ucap Mutia, “Selamat Bro, kawin itu enak lho! Hahaha” seloroh Dony sambil memukul bahu Togar yang membuat pria asal Batak itu mesem-mesem menahan malu.

“Kalau sudah tahu kawin itu enak, kenapa kau ga ikutan kawin?” balas Togar, “Lu mau cari masalah sama gue? Lu kan tau calonnya ga ada!?” Balas Dony dengan ketus dan wajah merah, “Lha itu si Mutia masih single! Kalian cocok Karena sama-sama suka makan!” jawab Togar sambil ngakak.

“Sialan! Emangnya gue mau sama cewek tomboy yang lebih perkasa dan macho daripada gue?!” bentak Dony sambil memelototi Mutia, “Brengsek! Lu kate gue ape?! Lo mau cari masalah sama gue?!” bentak Mutia tak kalah sengit, maka seperti biasa terjadilah keributan diantara si gendut Dony, si Toa Togar, dan si tomboy berbadan kekar mirip pria Mutia yang sukses membuat mereka menjadi pusat perhatian di coffeshop tersebut.

Sementara Fina sibuk melerai perkelahian ketiga kawannya, Anisa hanya tertawa melihat tingkah laku ketiga kawannya, sampai akhirnya seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka semua, saat itu Anisa melihat seorang pria yang sangat mirip dengan Darwin, baik wajah, perawakan, gaya belahan rambut yang dibelah kanan dengan jambul kedepan, sampai gaya berpakaiannya yang serba rapih itu sangat mirip dengan Almarhum Darwin, bedanya dia hanya tidak berkacamata, pria itu berdiri dari mejanya dan keluar dari coffeshop itu.

Anisa terkejut bukan main melihatnya! “Darwin!” teriaknya tanpa sadar yang membuat Fina, Mutia, Togar, dan Dony menghentikan perkelahiannya dan memusatkan perhatian mereka pada Anisa, Anisa melihat pria yang sangat mirip Darwin tersebut melangkah menuju ke pintu keluar coffeshop tersebut, maka gadis hitam manis ini pun langsung berlari mengejar pria itu, tapi pria itu terus berlalu meninggalkan coffeshop tersebut, Anisa terus mengejar pria itu “Tunggu! Mas Tunggu! Kamu Darwin kan?” panggilnya, tapi pria yang mengenakan setelan jas dan celana hitam serta kemeja berwarna biru tersebut seolah tidak mendengar Anisa terus berlalu malah mempercepat langkahnya, Anisa berlari sekuat tenaga mengejarnya sampai pria itu menghilang di suatu tikungan.

“Hosh… Hosh… Kemana perginya dia?” tanya Anisa dengan nafas tersenggal-senggal sambil celingukan melihat kesana-kemari, tiba-tiba seekor kupu-kupu yang sangat cantik melintas dihadapan Anisa, sesaat Gadis ini merasa heran kaena mengapa bisa ada kupu-kupu melintas dihadapannya ditengah kota Jakarta yang penuh dengan polusi seperti ini? Kupu-kupu itu lalu terbang dan menghilang entah kemana, setelah kupu-kupu itu lenyap, Anisa lalu mencoba berpikir jernih “Ah tidak mungkin itu Darwin, Darwin kan sudah meninggal Anisa! Bahkan kamu melihat dan menangis ketika melihatnya dikebumikan! Kamu tidak sanggup menahan beban itu hingga kamu jatuh pingsan dan sakit, berhari-hari kamu tidak mau keluar dari kamarmu karena terus menangis, menagisi kepergiannya!”, ucapnya pada diri sendiri.

Saat itu Fina, Mutia, Togar, dan Dony yang mengejar Anisa tiba ditempat tersebut “Nis, kamu kenapa? Ngejar siapa?” Tanya Fina dengan nafas memburu karena kecapaian mengejar Anisa, “Iya, tadi aku denger kamu teriak-teriak nyebut nama Darwin, kenapa Nis?” sambung Mutia, Anisa menghela nafas sambil menatap kearah hilangnya sosok pria yang dianggapnya mirip Darwin tersebut, kemudian dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pada semua kawannya “Eh aku ngga apa-apa kok, aku mungkin Cuma berhalusinasi gara-gara kecapean”.

“Bener kamu ga apa-apa?” Tanya Togar, “Iya aku ga apa-apa kok Gar, udah ayo ah!” pungkas Anisa. Anisa lalu tersenyum sendiri “Darwin, sudah lama aku tidak mengunjungi makammu, besok aku akan pergi ke makammu, untuk menceritakan kesuksesan novelku, dan aku akan segera menepati janjiku untuk menyelesaikan penelitianmu!” bisiknya, Anisa dan semua kawannya pun lalu melangkah meninggalkan tempat itu.

Gadis hitam manis yang memiliki bentuk tubuh tidak terlalu tinggi serta berisi yang sehat, memiliki lekuk pinggang, dan bokong yang padat alias “semok” yang kini berprofesi sebagai penulis novel ini tersenyum mengingat semua tentang Darwin terutama senyuman pria berkacamata berbadan kecil namun berwawasan luas dan selalu optimis itu “Rasanya aku ga percaya mengingat semua setelah kejadian 1 tahun yang lalu itu! Berbagai peristiwa telah aku hadapi, penuh lika-liku sampai Darwin meninggalkanku untuk selamanya! Ya hidup memang banyak problemanya, ada senang, susah, sedih, bahagia, semuanya seimbang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Purie dulu tentang cinta! Ya hidup seperti berdansa, ada irama cepat, ada juga irama pelan, yang harus kita lakukan hanyalah berdansa dengan kehidupan ini, agar memahami arti kehidupan kita dan menjalaninya dengan penuh keikhlasan, keikhlasan untuk berusaha mencapai yang terbaik!” gumamnya dalam hati

Dari sebuah mini market yang ada disana keluarlah seorang pria yang tadi dikejar Anisa, ajaib! Fisiknya memang sangat mirip dengan Darwin, gaya berpakaiannya juga sama, bahkan belahan rambutnya pun sama, hanya ia tidak berkcamata saja. Pria itu menghela nafas menatap ke arah kepergian Anisa yang punggungnya masih terlihat kejauhan dari tempat itu "Anisa Pramudyawardhani... Dasar cewek keras kepala, kamu masih saja sendiri karena belum bisa melupakan dan mendamaikan masa lalumu!", Pria itu menengadahkan wajahnya ke atas "Semoga kamu bisa cepat meninggalkan kungkungan masa lalumu juga segera mendapatkan pasangan hidup untuk menemanimu mengarungi bahtera kehidupan dan menjemput takdirmu, kuharap kau bisa selalu berbahagia…" bisiknya, lalu ia mengenakan kacamatanya kemudian melangkah ke arah yang berlawanan dengan arah Anisa berlalu tadi, dan entah bagaimana tubuhnya tiba-tiba hilang lenyap tak berbekas bagaikan asap tertiup angin.

Dengan diiringi gamelan yang sayup-sayup dihembus angin pewana, kehidupan Anisa Pramudyawardhani, si gadis hitam manis berambut hitam panjang lurus serta beralis tebal indah pun terus bergulir seiring perjalanan sang waktu, diatas jalan takdir dari Sang maha Pencipta, Meninggalkan bibir pantai masa lalunya dengan semua yang pernah terjadi pada diri mereka, yang terlukis dalam goresan tinta biru menorehkan sejarah hidup, Yah, hidup memang mirip khayalan mimpi...

I was thinking out loud

One life's such a short time for love

When a match made in heaven arrives

Eternity is never enough

It's all been so simple 'til now

There's no brilliance like beauty out there

No knowledge as wise as the heart

We all need reason to care

I need to dance with life

Sweep you away into the night

When there is no one else around

I will make every day count

We need to dance with life

Swim in the soul of your eyes

'Til we melt into the night

And we leave a brilliant light behind

We could lay on the ground

We could look at that light in the sky

Show the moon and the million stars

The stars that we become when we die

It's no secret how I feel

This flesh and bone I love you is sealed

To cover me up and hide the deal

And the deal with me

To dance with life...

Breathe the sweet fresh air

And make every second you're last

And I'll touch you from the world I wake in

Make the most of the present and the past

I need to dance with life

Sweep you away into the night

When there is no one else around

I will make every day count

We need to dance with life

Swim in the soul of your eyes

'Til we melt into the night

And we leave a brilliant light behind...

(Bryan Ferry – Dance With Life)

S.E.L.E.S.A.I.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?