Arthurland Arc - Bab 2 - Penculikan

Setelah keluar dari training base, Zeivlyn sedang ditunggu seseorang, yaitu ayahnya.

Dengan berat hati dia meminta maaf karena tidak bisa menemaniku.

"Sorry Yan, aku pergi dulu, ada urusan penting soalnya."

"Ya, gak papa, aku bisa keliling sendiri."

Zeivlyn pergi kearah gerbang leluar bersama ayahnya.

Aku langsung berjalan untuk mengelilingi sekolah, kulewati gedung belajar, dan berhenti sebentar di lapangannya yang luas sekali.

Ku tengok kekiri, kulihat tempat yang menyerupai taman bermacam warna bunga, aku mendekati spot itu, dan tersenyum saat melihat danau disana, dari tempatku menuju sana tanahnya miring.

Setelah melihat sekitar, tak sengaja aku melihat gadis berambut ungu yang sedang kesepian, memandang danau dengan tatapan kosongnya.

Aku mendekati perlahan lahan sembari menuruni bukit, karena kurang hati hati, kakiku tersandung akar pohon dan terguling guling.

Lalu badan ku menindih badannya yang mulus itu, dan sekarang posisiku berada di atasnya, dengan cepat aku beranjak dari atasnya.

Aku menyapa, namun tidak di gubrisnya, dia kembali berdiri dan menatapku dengan wajah seperti ingin membunuhku.

Dia menamparku dengan keras dan langsung bergegas pergi tanpa mengatakan satu kata pun.

Ku tangkap tangannya agar dia tidak pergi.

"Hey, jangan pergi dulu, aku belum minta maaf ini."

"........"

"Anu, aku orang baik-baik, sumpah."

"Buktikan!"

"A-ah, kamu kenal Zeivlyn kan, aku temannya, dan aku juga hanya bermaksud menyapamu tapi kaki ku tersandung tadi."

"Boong."

"Beneran suer dah, duarius."

"Duarius?"

Sepertinya, kata-kata alay tidak ada didunia ini,pantes saja semuanya terasa sopan, mereka semua memakai bahasa yang baik dan benar.

Dia menatapku, terus menatap seperti mengamati seseorang.

"Wajahnya terlalu dekat, woy terlalu dekat woy." Batinku.

Didalam pikiranku terdapat perdebatan antara pihak kiri dan kanan.

"Ayo gak papa, dekatkan wajahmu juga." Suara kiri.

"Jangan peluk aja langsung biar lebih romantis." Suara kanan.

"Kenapa pikiranku tidak ada yang benar semua." Batinku sambil menenangkan pikiran.

Gadis ini masih saja menatapku, lalu dia tiba-tiba berhenti dan mengajakku berkenalan.

"Kau lolos!"

"Maksudnya." Jawabku sambil memiringkan kepala.

"Oke kenalan dulu, namaku Veronica, salam kenal."

Kami berbincang beberapa menit walaupun dia masih agak jaga jarak denganku.

Nomor peserta yang berbentuk jam itu menyala dan menampilkan Hologram kepala sekolah yang memberitahu peserta istirahat pertama telah selesai dan diharapkan kembali ke Training Base.

Tak sengaja aku mendengar suara tangisan anak kecil yang meminta tolong, tapi samar samar, dan anak kecil itu bergender cewe.

Ku tanyakan suara itu ke Veronica, tapi dia tidak mendengar apapun.

"Vero, kamu kembali duluan, aku ada urusan sebentar, jangan beritahu Zeivlyn jika dia mencariku."

"Apa yang terjadi sebenarnya?"

"Aku pergi dulu, bye."

"Bye? Apa itu artinya."

Suara itu semakin keras, saat aku mendekati suara itu, namun aku menemui jalan buntu, suara itu melewati tembok sekolah yang menjulang tinggi.

Jika melewati gerbang depan, itu akan memakan waktu yang lama, karna posisiku sekarang agak jauh dari Gerbang utama, dengan cepat aku langsung kearea belakang untuk melewati gerbang belakang walaupun dengan kemungkinan kecil ada sebuah gerbang lagi diarea belakang.

Dengan lari yang rata rata, aku melewati beberapa area sekolah dan sampai di area belakang, dan menemukan hal yang kucari.

Kuberikan identitasku kepada penjaga gerbang dan mereka memepersilahkanku keluar.

Sungguh terkejut aku diluar nampak hutan lebat, dan sunyi, aku kembali mengikuti suara itu dan tidak memperdulikan anehnya hawa di hutan ini.

selama 5 menit mencari, aku semakin dekat dengan sumber suara, dan akhirnya aku menemukan penculik itu dan seorang sandera yang kira kira berusia 10 tahun, dengan rambut kuningnya yang bersinar, aku yakin Sandera itu Anak orang kaya.

Saat ingin menyerang, ku kira hanya satu penculik saja yang beraksi, karna terlalu fokus kepada penculik didepan, serangan dadakan mengenaiku sampai terlempar beberapa cm.

Penculik yang kedua ternyata adalah seorang perempuan yang memiliki gerakan yang cepat, dan dengan ini, aku harus melawan 2 orang sekaligus.

.......

Hembusan angin dengan cepat menghampiriku, sekali lagi aku ditendang dengan kecepatan tinggi, aku terlempar lagi sampai punggungku adu kuat dengan batang pohon.

Anak kecil itu terus meminta tolong.

seberapa banyak pun, dia meminta tolong, tetap saja aku tidak akan bisa menolongnya.

walaupun dia sampai menangis darah, bahkan batuk kecebong pun tidak mungkin aku menyelamatkannya dengan kekuatanku yang sekarang.

Penculik lelaki berbadan kekar hanya tertawa melihatku terlempar sambil menjaga ketat gadis kecil itu.

"Tolong kak, tolong, aku akan memberikan uangku jika kakak cepat mengalahkan merekam."

"Bodoh, lu kira gua gak kesakitan apa? Gua juga mau berdiri ini, tapi gak mampu menahan rasa sakit." Ucapku kesal.

"Gua? Jangan kak, aku maunya pulang, kegua seram, cepat kalahkan mere...."

Penculik laki laki itu menampar pipi gadis itu sampai berubah warna menjadi merah.

"Jangan banyak omong!"

Melihat hal itu, tiba tiba badanku bisa digerakan semua dan bisa berdiri tegap, aku berlari sambil berteriak mendekati Penculik Laki itu.

Karena dia lebih tinggi dari ku aku melompat dan mengarahkan lututku 12 pas tepat kearah giginya.

Mulutnya berdarah karena dua gigi depannya patah karena seranganku.

"Badan besar bukan berarti gak ada kelemahannya, soalnya gua yakin gigi lu gak pernah lu latih." Cakapku dengan sombong.

Lalu lelaki itu marah dan meninju tanah berkali kali, tanah disekitar sana perlahan namun pasti hancur. Untung saja aku cepat mundur.

Kukira dia berotot tapi tidak punya otak, ternyata aku meremehkannya, dia mengeluarkan skillnya bukan untuk menyerangku namun menggiringku kebelakang, tepat kearah rekan perempuannya.

"B.O.D.O.H." kata perempuan itu sambil meninjuku dengan skillnya.

aku terpental lumayan jauh dari sana, tapi momen ini ku manfaatkan untuk bersembunyi dan mengatur strategi.

.....

*sementara itu di Training Base*

Pov Zeivlyn

"Aduh, dimana kau Ryan? Bentar lagi giliran kita." Batinku

Seseorang mencolekku dari belakang, ku kira itu adalah Ryan, tetapi aku salah, orang yang tidak kuduga datang menghampiriku.

"Zei, kamu kenal orang aneh bernama Ryan kan?"

Aku kebingungan melihat Vero memasang muka khawatir sambil menyebut nama Ryan.

"Jadi gini, tadi saat istirahat, aku bertemu dia di area taman sekolah, terus dia bilang hal yang aneh. Dia dengar suara anak kecil minta tolong, terus dia pergi. Aku khawatir nih, jika tau begini aku ngelarang dia pergi."

Vero menceritakan semuanya kepadaku, disaat kami ingin menyusul Ryan, tapi giliran kami melakukan test jadi kami menyelesaikam test terlebih dahulu lalu pergi.

Test ketiga adalah adalah test kecerdasan. Alat yang digunakan adalah sebuah earphone yang jika kita pakai, alat itu akan otomatis memberi tahu data dan statistik kami.

Nama: Zeivlyn Stroot

Gender: pria

umur: 18 tahun

Class: Attack

Tipe: Swordman

kecerdasan: 180 point

Senjata: Dual Sword (75%)

One Handed Sword (23%)

Two Handed Sword (2%)

"Berarti aku layak menggunakan dua pedang dari pada satu pedang. Aneh perasaan lebih rumit menggunakan dua pedang." Batinku.

statistik Veronica

Nama: Veronica

Umur: 17 tahun

Gender: wanita

Class: Attack

Tipe: Assasins

kecerdasan: 147 point

Senjata: Long Dagger (64%)

Dagger (20%)

Short Sword (16%)

Setelah selesai kami bergegas mencari keberadaan Ryan.

*Hutan Kota*

Pov Ryan

"Ahh. Akhirnya, kelamaan kamu Thor ceritain keadaan Ditraining base, pegel

Nih tiarap melulu."

"Baca Betul-betul Script mu."

"Sorry bercanda."

........

"Setelah sekian lama berpikir akhirnya aku mendapatkan Strategi sederhana melawan mereka." Batinku

Penculik Wanita itu, memiliki pendengaran yang lebih baik di bandingkan rekannya, kecepatannya dan beberapa serangannya. Ku simpulkan wanita itu masuk kedalam tipe Martial Arts. Dari 3 serangannya, dia menggunakan 2x serangan menggunakan tangan kanan dan 1x menggunakan kaki kiri.

Sedangkan rekan lakinya, belum banyak yang ku ketahui tapi sepertinya dia tipe Mage. Karena dia bisa mengatur hancurnya tanah Saat dia menggunakan kekuatannya. Aku masih kurang tau berapa banyak elemen yang dapat dikuasai oleh satu orang mage.

Aku mulai menampakkan diri didepan mereka berdua untuk memberi sebuah

Kejutaan.

"Ciluk b..."

"Lightning Thunder!!!"

Alih-alih membuat mereka terkejut, malah diriku sendiri yang dikejutkan oleh serangan kejut bertenaga listrik dari laki-laki itu yang berhasil membuatku Terkejut karena serangan kejutnya itu.

Info terbaru bagiku, mage dapat menggunakan dua elemen, aku semakin kewalahan, ketika melihat keatas, betapa beruntungnya diriku tersengat didekat sebuah pohon, dengan tersenyum ku alih kan pandangan mereka berdua dengan batu yang sudah aku siapkan saat bersembunyi.

Saat batu ku lempar, dengan secepat kilat aku melempar tombakku kearah batang pohon yang tepat berada diatasnya.

dengan mudahnya batang pohon itu roboh akibat serangan listrik laki laki itu yang merusakan sebagian batang itu lalu keberi serangan akhir yang indah menggunakan tombak kearah pohon itu.

Aku langsung berlari mengambil gadis kecil itu darinya, namun aku dihadang oleh wanita penculik.

Akan sulit untukku berpikir jika melawan orang yang lebih cepat dariku, dia menyerangku dengan cepat, secara bertubi-tubi, namun aku berhasil menghindari sebagian serangannya.

"Tiger Spinning Kick!"

Diserangan terakhir aku gagal menghindar, dan terjatuh. Tapi aku tetap berdiri dan melompat kebelakang untuk menjaga jarak dan menyuruh Gadis kecil itu untuk mundur.

Lagi lagi dia menyerangku tanpa ampun, tapi anehnya dia tidak menggunakan kakinya lagi setelah mengeluarkan Skillnya.

Dengan kesempatan yang hanya beberapa detik saja untuk berpikir, aku mengangkat sebagian kaki kiriku.

Wanita itu berhenti memukul dan merasa kesakitan diperutnya karena terkena lututku.

Tak lama setelah pertarungan selesai, Veronica dan Zeivlyn datang terkejut melihatku yang sedang menyeret para penculik untuk diikatkan disekitar pohon.

"Test nya sudah selesai ya, maaf aku telat."

"Tidak, masih ada satu test lagi, tapi kau benar benar telat, dan di disqualifikasi oleh panitia." Jawab Zeivlyn.

"Kakak, makasih yah sudah bantu. Nanti kakekku akan kasih kamu uang yang banyak banget." Kata gadis kecil itu

"Aku gak butuh duit adek manis, nih aku kasih permen."

Saat aku membuka tas ku untuk merapikan isi didalamnya, ternyata satu bungkus permen rasa mint masih ada didalam tasku.

"Ayo kita kembali, nanti kalian telat, tak usah pikirkan aku. Oh iya, sekalian telepon penjaga untuk membawa mereka."

"Telepon?" Tanya Vero dan Zeivlyn serempak.

Aku lupa kalau disini tidak ada teknologi canggih seperti Handphone, mungkin aku akan membuatnya agar mendapatkan penghasilan.

Kami berempat pulang kembali menuju Dimension Highschool.

Tak disangka, ternyata Gadis kecil yang kuselamatkan adalah cucu dari kepala sekolah di Dimension Highschool.

Mereka menawarkan uang sebagai ucapan terima kasih, tapi Zeivlyn menginginkan aku mengikuti test itu sekali lagi, dan ditolak mentah mentah oleh kepala sekolah.

Kepala sekolah tetap memberiku uang untuk menginap di penginapan.

Akhirnya Hari Sudah Sore dan test telah berakhir Zeivlyn dan Veronica lolos dalam test tersebut.

kami ke restoran untuk merayakan keberhasilan mereka berdua, Awal nya Veronica tidak mau ikut karena takut Zeivlyn dijauhi orang lain juga, dengan sikap lelakinya, Zevlyn merasa tidak terganggu akan hal itu, karena Veronica sudah dianggapnya sebagai Keluarga.

Kami berpesta hingga malam hari. Aku berpamitan dan berpisah dengan mereka untuk hari ini, hari yang sangat melelahkan 1 hari dengan banyak kejadian yang menyenangkan.

Aku menginap di penginapan yang dekat dari sana, dan beristirahat.

.......

-Bersambung☆

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?