Penerus Istravel

Seorang pria berjubah dan bertudung putih tengah berjalan dalam gelap. Seorang diri, ia menyusuri kumpulan bangunan yang berjajar padat di Redne, kota perdagangan di timur Kekaisaran Arcadia, berbatasan dengan Kerajaan Borgia. Sesekali ia menegadah, menatap bulan sabit dan taburan bintang yang menghiasi langit malam.

Ia tak memegang lentera. Sebagai gantinya ia mengandalkan cahaya yang terpancar dari ujung tombak bermata tiganya, senjata seorang pendeta-pendekar. Pria ini berkumis dan berjanggut ungu nan rapi. Kerutan di wajahnya menunjukkan usianya yang hampir setengah baya, juga tanda-tanda kelelahan. Buntelan kain yang disandangnya menunjukkan ia tengah dalam perjalanan jauh.

Langkah-langkah kaki lelaki itu tak melambat, juga tak terlalu cepat. Iramanyapun teratur, tanda ia sudah amat berpengalaman sebagai pengelana.

Mata berbola ungu si pria menyorot tajam dan waspada. Telinganya tiba-tiba menangkap suara-suara di kejauhan. Suara pertarungan, diseling teriakan minta tolong.

Seketika pendekar berjubah pendeta itu berlari. Tampak di kejauhan orang-orang yang sedang ramai berkerumun. Rupanya ada pertarungan yang baru usai.

Rasa penasaran dan firasat buruk mendorong pendekar itu mendekat. Benar saja, orang-orang itu bertampang sangar dan liar. Dengan senjata di tangan, rupanya mereka ini perampok yang sedang menjarahi korbannya yang sudah tak berdaya.

Tanpa ragu lagi si pendekar menggenggam erat tombaknya dengan dua tangan dan menyerbu maju. Serunya, “Hentikan itu, perampok jahanam!”

Diserang mendadak, kumpulan pria dan wanita itu terkejut dan cepat-cepat berbalik menghadapi lawan.

Si jubah putih lantas memanfaatkan kesempatan ini, menyabetkan dan menusukkan tombaknya dengan cekatan. Gerakan tombak itu bagai kunang-kunang terbang berpijar, disambut teriakan-teriakan kematian para penjarah.

Serangan si janggut ungu makin ganas, tak memberi ampun pada siapapun yang melawan. Hingga sesaat kemudian, tusukan tombaknya ditahan sebilah golok bermata ganda.

Si pendekar terkesiap. Dalam keremangan, mata jelinya melirik, mengenali lawan. Awalnya tampak tubuh lawan yang tinggi semampai, mengenakan rompi kulit dengan hiasan rumbai-rumbai bulu sebagai kerahnya, memperlihatkan dadanya yang ramping dan bidang, Ia juga mengenakan sepatu bot kulit berlapis yang menutupi paha bawah hingga ujung jari kaki. Kecuali celana coklatnya, semua pakaian yang dikenakannya berwarna abu-abu terang dan gelap.

Pada dadanya tertato lambang kepala ular-serigala besar berwarna merah darah, menunjukkan bahwa ia pemimpin geng ini atau orang yang sangat terobsesi dengan geng ini.

Makin dekat, wajah pria itu nampak semakin jelas. Rambutnya yang pirang berbelang coklat berpotongan pendek dan tegak seperti kumpulan rerumputan namun botak di sisi samping kirinya.

Kebotakan itu nampaknya disebabkan oleh dua deret bekas luka cakaran yang sangat besar dan memanjang sampai ke cekungan mata kanannya yang buta. Ia sengaja tak memakai penutup mata, mungkin dengan maksud mengingatkan para pengikutnya akan keperkasaan dan wibawanya.

Ia memelihara janggut pirang berbelang coklat yang tercukur rapi, seolah menutupi dagunya yang panjang. Dengan hidung panjang yang cenderung “runcing”, pria ini memancarkan aura kelicikan, kebrutalan dan kebatilan yang kental, apalagi bila ia menyeringai.

“Wah, wah, datang pula orang yang ikut campur, bosan hidup,” ujar si pria jabrik.

“Kuat juga kau, bung,” ujar si pendeta bertudung, menyimpulkan hasil “pengukuran”-nya. “Tapi maaf, aku wajib ikut campur. Sudah tugasku membasmi pemangsa liar seperti kalian.”

Senyum si jabrik melebar. “Pemangsa liar, aku suka sebutan itu. Namaku Calhoun Cavendier si Serigala Putih, silakan kauingat-ingat itu. Karena kami, Geng Viperwolves pasti akan mengirimmu ke neraka sekarang, pak tua.”

“Tidak, terima kasih. Aku, Nigel di Messina lebih suka surga. Kalianlah yang yang harus bertobat sekarang, atau hadapilah penghakiman, di dunia atau akhirat!”

“Tidak kalau kami mengenyahkanmu dulu!”

Calhoun menghentakkan goloknya dengan gerakan cepat dan mendadak.

Nigel mengayunkan tombaknya untuk menangkis, namun senjatanya terdorong dan ia limbung sedetik. Saat kesimbangannya kembali, bacokan bilah golok melesat secepat kilat ke arahnya.

Dengan cekatan Bapa Nigel beringsut mundur dan berhasil menghindari golok maut. Tiba-tiba ia menusukkan pangkal tombaknya ke belakang, keras menohok perut seorang bandit yang curi menyerang dari belakang dengan belati.

Dengan satu tarikan napas Nigel mendoncang maju, mengincar si pemimpin. Tak mengindahkan kehormatan dari tarung yang jantan, para bandit maju bersamaan, mengeroyok lawan yang hanya seorang. Bapa Di Messina segera tenggelam dalam kerumunan manusia.

Teriring raungan laksana singa, tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat, mementalkan kerumunan orang itu. Semua bandit yang mengepung tadi kini terkapar di tanah, kejang-kejang dan tak mampu berdiri.

Tinggal Bapa Nigel yang masih berdiri. Ia terhuyung sejenak akibat pengerahan tenaga tadi, lalu kembali berdiri tegak. Sedetik ia mengamati sekitarnya, sedetik pula tombaknya kembali siaga.

Sebuah suara lolongan bak serigala bergema.

Nigel berbalik ke arah sumber suara, lagi-lagi disambut serangan golok mata ganda. Terpaksa ia menangkis dengan gagang tombak.

Calhoun menyeringai. “Kena kau”. Tiba-tiba satu tangan menarik gagang goloknya hingga terlepas, lalu ia memutar tubuh sambil mengayunkan “belahan golok” itu, mengincar leher si pendeta.

Dengan refleks yang tertempa pengalaman, Nigel cepat beringsut ke satu sisi. Hasilnya, lehernya luput dari ancaman terpenggal, tebasan golok mengiris lengan kirinya saja.

Nigel berteriak kesakitan. Energi jurus rahasia Calhoun ternyata telah menembus energi pelindung tubuh Nigel, membuat tangannya berdarah.

Memaksa diri, Nigel menolakkan tombaknya dan mundur selangkah. Tiba-tiba ia meloncat tinggi-tinggi, lalu menusukkan tombaknya dengan kecepatan tinggi ke bawah. Jurus Serangan Cepat Jiwa Giat ini bagai siraman hujan cahaya dan berhasil menorehkan luka-luka di tubuh Calhoun.

Susah-payah si ketua bandit itu berkelit ke kanan-kiri, bahkan bergulingan di tanah. Saat Nigel mendarat di tanah, Calhoun mengambil kesempatan dan ambil langkah seribu.

“Awas kau, Nigel! Geng Viperwolves pasti akan menuntut balas!” teriaknya.

Nigel baru akan bergerak mengejar, saat tiba-tiba luka di tangannya berdenyut. Nyeri merasuk tulang.

Langkah Nigel terhenti. Ia baru menyadari keadaan sekitarnya. Seluruh anggota Geng Viperwolves yang masih bernyawa juga sudah melarikan diri. Kalau saja lukanya tak parah dan ia tak kehabisan tenaga, ia pasti akan mengejar.

Namun, situasi ini menyadarkan Nigel pada hal yang lebih penting. Ia menyentuhkan permata di ujung tongkat di luka tangannya dan merapal, “Vitali!” Mantra Sihir Penyembuh Luka. Dengan cepat nan ajaib, luka di kulit berangsur kembali seperti sediakala.

Nigel lalu menghampiri para korban perampokan. Ternyata yang dirampok adalah sebuah kereta kuda. Penumpangnya dua orang. Yang satu adalah seorang pria yang terkapar dengan posisi tertelungkup di jalan, bersimbah darah.

“Ah, semoga Vadis menerima jiwamu,” bisik Nigel sambil menggerakkan tangannya seolah menggambar lingkaran-dan-salib di udara.

Pendeta itu kembali melayangkan pandangannya. Matanya tertumbuk pada penumpang kedua, seorang wanita yang duduk tersandar pada roda kereta. Dengan cepat ia mendekat, lalu menyentuh urat nadi dan lubang hidung korban yang juga bersimbah darah itu.

Masih bernapas.

“Nona! Kau bisa dengar aku?”

Perlahan-lahan, wanita itu menegadahkan kepalanya. Wajah cantik bermata hijaunya tampak amat pucat, terpagari rambut coklat panjangnya yang acak-acakan.

“Y… ya…” ujarnya. “T-tolong…”

Nigel segera merapal, “Viavitali!”

Sinar Sihir Penyembuh Luka Berat berpendar dari tongkatnya, menyentuh daerah jantung si pasien. Baru ia sadari, wanita itu tampak sedang memangku sesuatu.

“P… percuma…” ujar wanita itu terbata-bata. “Lukaku… terlalu parah… tolong… anakkku saja…”

Nigel mendelik. Dengan sisa tenaganya, si wanita memperlihatkan bungkusan di pangkuannya itu pada Nigel. Seraut wajah tampak menonjol di permukaan bungkusan kain penuh darah itu. Seorang bayi lucu, manis, mungil, tak berdosa.

Lebih terperangah lagi Nigel melihat telinga bayi itu, yang bentuknya lancip seperti daun. Perhatiannya cepat beralih pada sang ibu, yang rupanya memiliki telinga yang serupa.

“K… kalian…!” serunya tertahan.

Wanita itu mengangguk lemah. “Ya, kami adalah elf… Namaku Lucianna Bouvignon… dan yang di sana itu… suamiku… Barmas Istravel… Tolong… rawatlah anakku… Jangan buang tenaga… lagi… pada tubuh rusak ini…”

Lucianna benar. Luka-lukanya terlalu banyak dan parah. Sihir Nigel jelas tak cukup kuat untuk memulihkan tubuh sekarat. Nigel menarik tangannya dari pasiennya itu, menatap si bayi yang pasti jadi yatim-piatu ini.

“Bapa… tolong… aku ingin dekat… suamiku…”

Memahami maksud Lucianna, Bapa Nigel bergegas mengangkat jenazah si elf pria. Lalu dengan lembut menyandarkannya di kereta di samping istri tercinta.

Perlahan Lucianna menegadah. Ia menatap wajah elf itu dan berkata, “Barmas, cintaku… Lihat, anak kita selamat… Vadis telah mengirim… pendekar ini… walau terlambat. Tunggu aku, aku akan menyusulmu… sebentar lagi…”

Kembali si elf wanita sekarat menatap Nigel, menyodorkan bayi dalam bungkusan itu padanya.

Bapa Nigel menyambut makhluk mungil tak berdaya itu. Ia menyadari Vadis telah menaruh beban misi baru di pundaknya. Ia berkata, “Aku dan para rekan pendeta di Biara Santo Ambrosius akan merawatnya dengan penuh cinta kasih, Lucianna. Kau tak usah kuatir lagi, istirahatlah dalam damai.”

Lucianna tersenyum lega. “Aah, syukurlah. Terima kasih, tuan. Terima kasih, Vadis…”

Pandangannya tertuju pada wajah putrinya yang lucu menggemaskan, begitu polos dan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Tangan sang ibu menggapai, menyentuh bungkusan itu.

“Selamat tinggal, anakku sayang,” ujar Lucianna. “Tumbuhlah besar… jadilah berguna… bagi dunia… Jangan pernah lupa… kau adalah… seorang Istravel… dan namamu adalah… Maven.”

Kepala Lucianna tertunduk, tangannya terkulai. Wanita itu tersandar pada jenazah suaminya, menghembuskan napas terakhir. Suara-suara jangkrikpun memecah keheningan, seolah mengiring keberangkatan jiwa sepasang kekasih ini ke alam baka.


Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?