Jiwa-Jiwa yang Tersesat

Declan Pervius Chara by DonatzChris

Rupanya, lantai lorong gelap itu adalah anak tangga menuju bawah tanah. Maven dan Declan melangkah hati-hati, nyaris tak bersuara.

Sesaat kemudian Maven mendengar suara aliran air. Rupanya jalan ini menuju saluran air bawah tanah Kota Redne.

Saat berikutnya, Declan yang berjalan di depan tiba di depan pintu kayu. Bunyi kayu reot yang terbuka memastikan pintu itu tak terkunci. Kedua pendekar lalu mendapati diri mereka dalam sebuah ruangan yang agak luas.

“Benar juga, ini saluran air,” ujar Declan sambil mengamati medan sekelilingnya. Sebuah selokan yang dangkal melintas di tengah-tengah ruangan berdinding batu yang memanjang tak berujung ini.

Tampak jejak darah yang masih baru di lantai selokan. Darah Calhoun.

Jadi kedua pendekar muda mengikuti satu-satunya petunjuk untuk melacak para sasaran ini.

Wajah Maven tak hentinya mengernyit setiap kali bau selokan menusuk hidungnya.

“Wah, rupanya Tuan Putri belum pernah menyusup lewat tempat pembuangan limbah ini. Tapi, kurasa bukan hanya hidungmu saja yang butuh perlindungan. Galatr!” Tombak Declan bersinar. Seketika itu pula tubuh Maven memendarkan cahaya putih lembut, berkilau sesaat lalu kembali normal lagi. Medan Pelindung membungkus tubuh gadis itu.

Saat perbincangan sebelumnya dengan kedua gurunya, Maven sengaja tak mengenakan medan pelindung yang efeknya berlangsung kira-kira setengah hari ini. Perhitungannya, Theana yang cerdas pasti mengenali aura aneh ini dan mencurigainya.

Kali ini beda. Semua kartu sudah dibuka. Aura pelindung ini dianggapnya sebagai zirahnya, penyambung nyawa. Walau rasa nyeri masih ada, luka di kakinya berangsur pulih.

Seperti halnya semua selokan bawah tanah di tiap kota, selokan ini dihuni berbagai jenis monster. Selama menyusuri jalur yang bau dan pengap ini, Maven dan Declan beberapa kali disergap tikus raksasa, laba-laba raksasa dan sejenis monster lumpur yang hidup dari kotoran dan sampah yang mengendap dalam air selokan.

Maven mencerai-beraikan monster lumpur yang menyerangnya dengan memutar-mutar tubuh dan belatinya seperti gasing, jurus Pusaran Angin Membelah Awan. Alhasil, lumpur berceceran kemana-mana.

Declan baru saja menghunjamkan tombaknya ke tubuh seekor tikus raksasa hingga tewas, dan tubuhnya terkena lumpur dari rekannya.

“Aduh, kau ini bagaimana, Mave? Pakai jurus yang lebih tak berantakan, dong!” seru Declan yang berlumuran lumpur.

Bukan minta maaf, Maven malah terbahak-bahak melihat tampang Declan itu. “Hahahaha! Maaf, Dec! Hanya jurus ini yang terpikir olehku!”

“Dasar wanita.”

Sambil menggerutu tanpa suara Declan mengibaskan tangan kirinya. Alhasil segala kotoran di tubuhnya menghilang, terurai jadi debu halus.

Lalu, “Galatr!” Karena kotoran itu dihilangkan dengan memancarkan aura pelindung, Declan terpaksa harus memperbaruinya.

“Lain kali hati-hati, Mave! Kalau tidak, aku akan membiarkan kotoran ini ada saat kita bertarung melawan dua ketua itu.”

Tawa Maven kembali meledak. “Hahaha, boleh juga. Itu akan jadi senjata pamungkas kita, biar lawan pingsan karena baunya!”

Muka Declan bagai ditekuk seribu. Sesaat kemudian tangannya menunjuk. “Lihat, Mave! Celah di tembok itu… Kurasa itu jalan rahasia!”

Maven menengok ke arah yang ditunjuk Declan dan berkomentar, “Yah, cukup muat dimasuki manusia. Tak ada salahnya kita coba periksa, siapa tahu ini bukan sekedar tembok yang rusak saja.”

Kedua orang itu lalu menyelip lewat celah sempit itu, yang nampaknya tak diperuntukkan untuk orang tambun. Declan mengarahkan tombaknya yang berpendar, menerangi celah yang ternyata agak melebar ke dalam.

Beberapa langkah kemudian, keduanya tiba di depan sebuah dinding batu dan tangga kayu yang menuju ke atas.

Declan menoleh ke belakang dan menyentuhkan telunjuk pada bibirnya, isyarat agar tidak bersuara mulai sekarang. Maven mengangguk tanda mengerti sambil menyiagakan sepasang belatinya.

Keduanya lalu menaiki tangga itu. Di ujung tangga ada sebuah pintu kayu lagi.

Declan mengangkat tombaknya, lagi-lagi berniat mendobrak pintu itu. Tapi Maven menarik tangannya dan mendorong pintu perlahan. Pintu terbuka tanpa banyak suara. Maven mendelik pada Declan yang nyengir kuda dan garuk-garuk kepala, lantas keduanya masuk.

Si elf terperangah melihat sebuah ruangan besar nan luas. Tampak tumpukan barang berjejalan, baik yang di dalam peti, dibiarkan tergeletak menumpuk di lantai atau tergantung di dinding batu.

Maven membatin, Patung-patung, benda-benda berharga dari emas, perak dan permata, kain sutera bergulung-gulung... Astaga... apa semua ini... barang rampasan?

Tiba-tiba suara Calhoun bergema. “Haha. Hebat, hebat kau, Maven. Kau berhasil lolos dari kepungan seluruh anggota Viperwolves. Kau jelas bersekongkol dengan pihak berwajib, dasar pengkhianat laknat. Tapi yang paling hebat, kalian berdua bisa menemukan gudang rahasia ini walau dengan sedikit jejak darahku.”

Maven dan Declan segera melesat ke arah sumber suara. Tatapan mereka tertumbuk pada sang ketua geng, Calhoun Cavendier. Si Serigala Mata Satu duduk dengan amat santai di atas tumpukan harta karun hasil jarahannya, menenggak anggur merah dari piala emas bertatahkan batu safir, mirah dan zamrud. Terbersit kesan, ia memang menanti kedatangan Maven dan Declan di sini.

Kedua penyusup itu langsung pasang kuda-kuda, tapi tak menyerang. Maven malah menoleh ke arah lain sambil berseru, “Di mana Theana? Bukankah kalian selalu berdua?”

“Tak usah mencari-cari, aku ada di sini,” ujar Theana yang rupanya sudah pulih dari pingsannya dan berjalan penuh gaya ke belakang para lawannya.

“Sungguh kebetulan. Semula kami mengira kalian takkan menemukan tempat ini,” lanjut Theana. “Semula kami berencana sembunyi dulu untuk sementara, menjual barang-barang ini, menggalang kekuatan baru di kota lain dan memburumu, Maven. Membalaskan bencana yang kautimpakan pada gerombolan kami ini tiga kali lipat.”

Calhoun menyambung kata-kata istrinya, “Baguslah, kau datang kemari dengan teman sekongkolanmu itu. Dengan begitu, kami jadi menghemat waktu. Kali ini kalian pasti merasakan siksaan yang lebih parah daripada kematian.”

Declan berujar, “Mau bagaimana lagi, apapun alasannya, pertumpahan darah tak terhindarkan lagi.”

Disambut anggukan Maven.

Keduanya lalu ambil posisi saling memunggungi. Maven menghadapi Theana, Declan menghadapi Calhoun.

Hening sejenak. Keempat petarung sedang saling mengukur, mencoba memperkirakan gerakan dan kekuatan lawan masing-masing. Dahi mereka berkerut, menyusun taktik dengan hati-hati.

Salah melangkah, maut ganjarannya.

Calhoun akhirnya angkat bicara, “Hei, apa kalian mau menunggu saja terus sampai jenggotan? Pada hitungan ketiga, biar yang lebih muda menyerang pertama.”

“Tak perlu,” sergah Declan. “Aku saja yang hitung. Satu, dua, tiga!”

Declan dan Calhoun, dua pendekar yang sama-sama mengandalkan kekuatan saling menerjang.

Saat bersamaan, Maven dan Theana juga maju serempak. Belati dan garpu saling beradu dalam sebuah adu jurus kecepatan tinggi. Dalam hitungan detik, guru dan murid itu telah menggelar puluhan tusukan, sabetan bahkan gerakan-gerakan tipu yang akrobatik.

Theana menghindari kombinasi tusukan-sabetan Maven dengan salto indah di udara. Ia melewati kepala lawan sambil menusukkan garpunya ke punggung.

Tak kalah lincahnya Maven berkelit, memutar tubuh ke kanan. Belatinya menghunjam deras dengan jurus Tikaman Khianat.

Tikaman itu mengenai ruang kosong. Kali ini si Ular Biru melompat ke atas tumpukan peti. Maven menyusul, tapi disambut dengan tusukan yang menggores sisi kiri tubuhnya.

Setelah beraksi, Theana melompat mundur, masih di tumpukan peti itu. Maven tak segera menyerang lagi, hanya berdiri siaga sambil meringis menahan sakit.

“Ada apa, Maven? Apa kau masih belum paham peribahasa ‘guru selalu lebih unggul dari muridnya’ dan ‘pengalaman adalah guru terbaik’?” ujar Theana sambil melenggokkan pinggulnya, memancing emosi lawan.

Maven menyela, “Ah, teori. Bicara prinsip, hanya satu hal yang kupahami, ‘Dengan tekad kuat, kita mampu melampaui apapun, termasuk guru sendiri’. Jadi tunggu apa lagi? Ayo kita habis-habisan, pengalamanmu melawan tekadku. Biar hasil akhir yang bicara!”

“Dasar murid tak tahu budi!”

Keduanya saling menyerang lagi. Kali ini gerakan dan serangan mereka makin cepat dan lincah.

Di sisi lain, Declan tampak kewalahan. Serangan-serangan cepat dan ganas Calhoun Cavendier berulangkali mengenai tubuhnya, menguji kekokohan Medan Pelindung-nya.

Satu sabetan keras berhasil menorehkan luka di dada kiri si pendeta.

Declan memutar tubuh dan mengayunkan tombaknya dengan jurus pertahanan Angin Berpusar Membelah Awan. Golok dan tombak beradu. Alhasil si Serigala Mata Satu terlontar hingga menabrak sebuah guci besar antik hingga hancur berkeping-keping.

Masih segar-bugar, Calhoun cepat bangkit kembali. Pria itu melompat tinggi-tinggi, lalu menyabetkan kedua golok bulan sabitnya ke arah Declan di bawah.

“Bayar guci itu dengan nyawamu! Jurus Serigala Melolong ke Bulan!”

Declan beringsut mundur dan berhasil menghindar. Kemudian lawan menyabetkan goloknya sambil maju. Dengan refleks ia menangkis dengan tombaknya. Sialnya, imbas tenaga dalam jurus Calhoun mengenai tubuhnya. Kali ini giliran Declan yang terpental hingga membentur, memecahkan peti kayu dan barang-barang porselen mahal di dalamnya.

Calhoun melangkah ke dalam jarak serang golok. Kembali Declan bangkit, tak mau kalah kuat dengan lawannya

“Hutangmu makin bertumpuk saja,” ujar Calhoun sambil meludah ke samping. “Cuiih!” Kembali ia merangsek maju, menyabet-nyabetkan goloknya dengan arah acak dengan jurus Serigala Ganas Mencabik Mangsa.

“Biar kucabik-cabik, kubongkar aura pelindungmu! Hanya banci yang bisanya berlindung di balik zirah, perisai dan semacamnya!”

Declanpun tak mau kalah. Ia menyambut serangan itu dengan memutar-mutar tombaknya membentuk pola angka delapan.

“Jangan munafik, bung! Kalau ada yang mau memberimu aura pelindung, kau pasti akan menerimanya! Biar kuhancurkan harga diri palsumu itu dengan jurusku ini, Roda Gila Mengurai Mega!”

Sekali lagi, kedua jenis senjata saling menangkis. Tak lama, arah sabetan golok itu cenderung meleset ke arah kiri, seakan “dikendalikan” oleh jurus Declan. Calhoun tersentak, tapi sudah terlambat untuk menarik jurusnya. Pertahanannya terbuka lebar. Memanfaatkan kesempatan itu, Declan secepat kilat mendaratkan tendangan keras di rusuknya. Calhoun dipaksa bertekuk sebelah lutut.

Saat berikutnya, tombak bermata tiga Declan menusuk deras ke arah jantung lawan.

Dalam sedetik penentuan hidup-mati itu, Calhoun malah sempat tersenyum. Diayunkannya sepasang goloknya, menekan tombak Declan sampai ujungnya menyentuh tanah.

Tak hanya itu, Calhoun memanfaatkan tenaga gerakannya dengan bersalto. Mencangkulkan tumitnya di bahu lawan.

Lagi, giliran Declan mencium tanah.

“Hehehe, jurus Sengatan Kalajengking Merah selalu berhasil,” komentar Calhoun. “Sekarang ucapkanlah selamat tinggal pada dunia ini, hei pendeta sesat.”

Calhoun menyilangkan sepasang goloknya, memusatkan tenaga dalamnya di titik temu persilangan itu. Ia melesat dengan dua golok teracung ke atas, siap mencincang lawan jadi tiga potongan.

Gawat! Kali ini Declan terlambat bangun. Matanya terbelalak ngeri melihat maut melesat tepat di depannya.

Tiba-tiba, sekelebat bayangan bagai angin kencang melintas, menangkis tuntas serangan lawan.

Sedetik berikutnya, Declan mendengar suara, “Kau tak apa-apa, Dec?” Ia menoleh pada si penolong, Maven.

“Aku tak apa. Nampaknya kita harus ganti taktik.” Declan bangkit lalu berdiri memunggungi rekannya itu lagi.

Saat itu pula Theana muncul lagi bersama Calhoun sambil berujar, “Oh, ternyata kalian tak sabar ingin mencicipi Serangan Gabungan Ular-Serigala, eh? Baik, kami penuhi!”

Tiba-tiba Maven seakan melihat sepuluh Calhoun dan sepuluh Theana berputar terus-menerus. Gerakan kedua orang itu begitu cepat, seakan mengepung lawan.

Tiba-tiba Golok Bulan Sabit menyambar, menggores kulit dada Declan. “Aagh! trik kuno, tapi efektif,” ujar pendeta itu.

“Kuno sih kuno. Masalahnya, bagaimana kita menandingi jurus ini?!” Satu serangan garpu menyerempet lengan Maven.

“Kalau begini terus, kita akan tercincang bagai angin puyuh mengikis karang!”

“Angin puyuh?” Maven tersentak. “Declan, kau jenius! Ayo, pegang tanganku, ikuti gerakanku!”

Tanpa ragu, Declan menggenggam tangan Maven. Keduanya mulai bergerak berputar-putar pada poros itu dengan arah berlawanan dengan arah lari Calhoun-Theana.

Menyabetkan senjata dengan jurus Angin Berpusar Membelah Awan.

Pusaran melawan pusaran.

Ada yang terpental, terkena serangan. Rupanya daya jangkau tombak Declan yang lebih panjang berhasil melukai bahu dan tangan Theana. Sebaliknya, golok Calhoun menggores kulit perut Maven.

Pegangan tangan Declan dan Maven terlepas. Si pendeta terlontar bagai layangan putus.

Sesaat kemudian, terlihat Calhoun menyabet-nyabetkan goloknya, lagi-lagi jurus Serigala Ganas Mencabik Mangsa.

Otak Declan berputar cepat. Ia menjejakkan kaki kuat-kuat di lantai, berjongkok lalu berputar sambil mengayunkan tombaknya. Sabetan itu mengenai kaki Calhoun sampai terjegal dan jatuh berguling-guling.

Declan tak melesat untuk menghabisi lawannya. Ia malah menghampiri Maven untuk mengecek kondisi rekannya itu.

“Tak apa, Declan, hanya kulit tergores,” ujar Maven sambil melihat kiri-kanan mencari-cari. “Tapi Theana menghilang entah ke mana, hati-hati!”

Declan juga menengok kiri-kanan sambil berujar, “Ah, iya, Calhoun juga sembunyi! Bodohnya aku!” Ia mengetuk kepalanya sendiri.

“Ah, kalau begitu terpaksa kita hanya bisa bertahan. Harap saja mereka terlalu bernafsu untuk menghabisi kita dan tak melarikan diri,” ujar Maven sambil sekali lagi mengambil posisi memunggungi Declan.

“Ya, kita harus tuntaskan sekarang, walaupun sedang di bawah angin.” Declan mulai melangkah, berpunggungan dengan Maven.

Tiba-tiba Maven mengerang.

Dengan refleks Declan berbalik, ternyata Maven sudah tak ada di belakangnya.

“Wah, dasar amatiran. Apa kau tak paham aturan dasar pertarungan? Lengah berarti maut!”

Seiring ucapan mendadak itu, Golok Bulan Sabit melesat hendak memenggal kepala Declan.

Dan ternyata, Declan masih sempat menangkis dengan gagang tombaknya.

“Baguus, bagus. Pura-pura bodoh agar aku meremehkanmu,” ujar Calhoun dengan senyum gaharnya. “Tapi, aku sudah mulai bosan. Mumpung aku sudah ‘panas’, kita akhiri saja permainan ini dengan satu serangan pamungkas!”

Calhoun meraung. Mendadak rambutnya berkibar-kibar liar seperti kobaran obor. Tampak asap mengepul dari seluruh tubuhnya yang kemerahan seperti kepiting yang baru matang direbus. Inilah gejala pengerahan jurus pamungkas dengan seluruh tenaga tingkat puncak.

Declan menanggapi, “Tentu saja akan kulayani dengan senang hati!”

Tubuhnya mulai berpendar, seiring tenaga yang memancar deras. Sesaat kemudian, kedua kekuatan itu mulai bertumbukan dan saling menekan, hingga...

Kedua petarung melesat.

Calhoun yang pertama maju, bergerak lebih cepat dari lawannya. Itulah tambahan keuntungan pada jurus pamungkasnya. Ia memutar-mutar tubuhnya ke kiri-kanan, melancarkan dua sampai empat sabetan setiap putarannya dari sudut-sudut tak terduga. Kadang ia menambahkan kombinasi gerakan dan lompatan akrobatis yang sulit ditebak lawan. Setiap serangannya mengandung energi kegelapan yang sangat padat dan pekat. Lawan manapun yang terkena akan merasakan siksaan neraka, digerogoti perlahan-lahan hingga berharap langsung mati saja.

“Hukuman Siksa Akhirat!”

Menyadari situasi ini, Declan memusatkan seluruh tenaganya. “Jalan Pencerahan Agung!” Itulah nama jurusnya. Anehnya, kedua tangannya terayun ke belakang.

Dengan lincahnya, Declan menghindar dari hawa prana hitam golok. Saat masuk ke jarak serang tombak, tombak bermata tiganya mulai meliuk-liuk bagai selaksa ular putih yang menjalari bilah golok. Lembut tapi kuat, kuat tapi lembut.

Mengunci jalur sabetan golok.

Mengacaukan pertahanan musuh.

Menemukan celah kelemahan, lalu...

Mendobrak, meraih kemenangan.

Namun, jurus ganas Calhoun bukanlah pamungkas picisan. Serangannya jadi berlipat lebih cepat, berkali-kali mendera hawa pertahanan lawan dari posisi di luar sudut pandang mata lawan.

Selanjutnya, kedua pria itu bertukar sabetan, tusukan dan tangkisan yang terlampau banyak untuk digambarkan dalam kata. Hanya dentingan sambut-menyambut saja yang mampu ditangkap telinga.

Beberapa saat kemudian, keduanya melesat lagi usai merampungkan jurus. Lalu mereka mendarat, berdiri saling membelakangi dalam jarak tiga tombak.

Diam.

Mematung.

Siapa yang menang?

Siapa yang kalah?

Saat itu pula, Maven tersentak. Tak disadarinya ia menoleh ke arah pertarungan Declan dan Calhoun. Rasa sesak dan kuatir menghentak jantungnya, mengalihkan perhatiannya. Itu pantangan mutlak dalam segala tarung.

Sebagai pendekar berpengalaman, dengan jeli Theana memanfaatkan peluang ini. Ia menusukkan sepasang garpunya dengan kekuatan penuh ke jantung lawan.

Gawat! Maven mustahil menghindar dari serangan maut ini.

Kurang sejengkal ujung garpu menyentuh dada, tiba-tiba Maven memutar tubuh, menghindari maut dengan kelincahan alaminya sebagai elf. Ia malah menusuk balik lawan dengan jurus Tikaman Khianat.

Theana juga bereaksi. Ia membungkuk, dan belati Maven menyayat punggungnya. Theana menjerit kesakitan. Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh bertopang lutut di lantai.

Giliran Maven mendapat kesempatan untuk menghabisi lawan. Namun si elf itu hanya berdiri saja di tempat. Wajahnya meringis kesakitan, tangan kirinya meraba luka di sisi kiri perutnya yang mulai berdarah lagi.

Dalam sekejap mata, kesempatannya habis. Theana sudah tegak di atas kedua kakinya dengan santainya, membelai poni rambut birunya.

“Huh, jangan sombong karena kau ini elf, gadis kecil. Bahkan elf tangguh seperti… ya, ayahmu akhirnya bertekuk lutut. Sehebat apapun ilmu pedangnya, secepat apapun daya pemulihan alaminya, tetap saja ia mati kehabisan darah, seperti kantung kulit yang bocor disana-sini. Haha, sungguh pemandangan yang memuaskan. Dan kau, sang anak akan mengulangi rasa puasku itu sebentar lagi! Ini baru prestasi! Kesenangan!”

Maven menggeram. “Kesenangan? Jadi menurutmu menghancurkan hidup orang lain itu hanya kesenangan? Kau sudah benar-benar rusak, Theana, sampai ke akar-akarnya. Pengecut yang menari di atas penderitaan orang lain! Jiwamu sudah terhilang, sama seperti suamimu itu. Kau tak tertolong lagi! Karena itu, biar belatiku ini yang menimpakan segala akibatnya!”

Maven lenyap dari pandangan.

Theana terperanjat. Ia tak menyangka lawannya berhasil merampungkan jurus pamungkas rahasia dan terlarang ini, Serigala Tanpa Bayangan dengan cepat. Padahal Thea sendiri butuh waktu sepuluh tahun untuk menguasainya dengan sempurna.

Si Ular Biru ikut menghilang. Sang guru kini mencoba mengimbangi muridnya dengan jurus terlarang yang sama, yang hanya ia ajarkan teorinya.

Mungkin Maven hanya nekad menggunakan jurus ini. Hanya dengan bentrok langsunglah semuanya akan terjawab. Bentrok yang tak-terlihat. Bahkan suara-suara senjata beradupun seakan teredam, nyaris tak terdengar. Hanya bunyi peti-peti terbentur dan barang-barang pecah yang menunjukkan jalur pertarungan mereka.

Hingga di tengah ruangan luas itu kembali mereka mewujud. Maven dengan posisi berlutut dan Theana... terkapar, tertelungkup di lantai.

“Uugh...” Maven memegangi perutnya. Menahan nyeri dari luka barunya, goresan garpu sai yang mendatar-panjang. Ia perlahan-lahan bangkit, dengan refleks menengok ke kiri. Matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya.

Declan berdiri limbung, tombak bermata tiganya lepas dari tangannya. Tubuhnya berdarah-darah, dan sebilah senjata menempel di sisi lehernya. Golok Bulan Sabit Calhoun.

Tersentak, Maven bereaksi secepat kilat. Ia menarik Theana ke atas, menempelkan belatinya di kulit leher wanita berambut biru itu dan mengunci kedua tangannya dengan erat.

“Ah, rupanya kau tak berhasil menaklukannya, Thea,” ujar Calhoun sambil memutar sanderanya menghadap Maven dan Theana. “Semula aku berniat menghabisi pendeta pecundang ini. Tapi rasanya aku memang harus ‘menyanderanya’ dulu kalau-kalau situasi macam ini terjadi. Hmph, aku benci langkah tepat ini, tapi ya apa boleh buat. Hei elf pengkhianat, lepaskan Theana! Kalau tidak pendeta busuk ini mati.”

Maven menatap tajam mata Calhoun dan berseru, “Hey, buka dulu matamu baik-baik, bung. Nyawa istrimu di tanganku sekarang. Kau bunuh pendeta itu, nyawa istrimu melayang. Dengan begini, kita sama-sama kehilangan, bukan?”

Mendengar gertakan Maven itu, Calhoun menggertakkan giginya. Matanya bertatapan dengan mata Theana yang sudah lemah, pasrah di tangan murid yang sudah melampauinya ini.

Melihat gelagat Calhoun itu, Declan mengambil kesempatan dengan menghantamkan gagang tombaknya pada bilah golok. Tak hanya itu, kaki si pendeta mendarat telak di perut lawannya hingga terdorong mundur. Kini tinggal Theana yang tersandera, posisi yang sangat tak menguntungkan bagi sang suami.

“Siaaal!” Meradang, Calhoun mendoncang maju dengan golok terhunus. Maven tersentak kaget, tapi terlambat bertindak. Calhoun terlanjur membenamkan bilah golok bermata duanya ke perut istrinya, terus masuk sampai menembus punggung. Ujung golok menancap di perut Maven yang berdekatan persis di belakang Theana.

Dengan cekatan Maven bergerak mundur, mencegah golok menancap lebih dalam. Walau tak sampai terkena organ vital, luka di sisi lambungnya itu cukup dalam dan berdarah. Maven meringis dalam nyeri tak terkira. Namun kenyataan di depan matanya ini lebih menyakitkan.

“Gila. Tega! K-kau bunuh istrimu sendiri... untuk melukaiku...!” seru Maven terbata-bata.

Sebaliknya, Calhoun tersenyum puas. “Nah, Thea, benar ‘kan kataku? Maven mungkin gesit, tapi ia tak berbakat jadi penjahat. Mustahil ia memahami prinsip Viperwolves sejati, lebih baik mati daripada dihukum mati. Kalaupun suami-istri harus terpisah, cara ini jauh lebih baik.”

Dengan wajah memucat, Theana berusaha merangkai kata. “Benar, Calhoun… Kau memang… paling teguh memegang prinsipmu… Itu sebabnya… aku mencintaimu… rela mati bagimu… Kini aku puas… bisa mati demi kamu…”

Sang suami masih memperlihatkan ketegaran. Tak setitikpun air mata menetes di pipinya.

Sang istri melanjutkan, “Hanya satu penyesalanku… Aku tak pernah jadi… seorang ibu seutuhnya… Calhoun, aku berangkat dulu… Kutunggu kau… dengan penuh cinta… di balik gerbang neraka… aaah…”

Theana Si Ular Biru tertunduk, menghembuskan napas terakhirnya di pelukan suaminya tercinta.

Masih memeluk jenazah istrinya, Calhoun melangkah maju dengan satu golok terhunus, menggeram murka penuh kesumat. “Sekarang, kita habisi si murid pengkhianat ini, Thea, biar kausiksa dia habis-habisan di neraka.”

Di depan maut, Maven sudah tak berdaya. Mengangkat belatipun sudah gemetaran. Matanyapun mulai berkunang-kunang.

Hanya telinganya yang masih jelas mendengar seruan tiba-tiba, “Kau lupa, masih ada aku!” Diiringi suara hunjaman senjata tajam.

Maven memaksa membelalakkan mata untuk melihat lebih jelas. Sesuatu menyembul keluar dari depan dada Calhoun, bersama darah. Ujung tombak Declan.

Dijemput maut, Calhoun malah memaksakan senyum. “Ah, ternyata... aku yang menemanimu, Thea... Aku tak bisa membalaskan dendammu, tapi setidaknya... kita akan bersama selamanya... Aku puas... sungguh... puas...”

Si Serigala Emas, Calhoun Cavendier roboh tak bernyawa. Tubuhnya menimpa Theana hingga keduanya terkapar saling berpelukan di atas koin-koin dan perhiasan yang berceceran di lantai.

Declan mencabut tombaknya dari tubuh kaku Calhoun sambil berujar lemah, “Tamat sudah riwayat Geng Viperwolves.”

Maven menanggapinya, “Ya, benar. Selesailah sudah…”

Kaki-kakinya, tubuhnya tak terasa lagi. Ia lemas lalu roboh.

Terkesiap, Declan menghambur ke arah rekannya itu. “Mave! Mave, bertahanlah! Viavitali!”

Sinar lembut, hangat membasuh tubuh Maven. Itulah Mantra Penyembuh Luka Berat yang bilamana dirapal tanpa gangguan mampu memulihkan bahkan orang yang sekarat sekalipun.

Maven sudah terlalu lelah kini. Senyumnya mengembang, mengiringi terlepasnya salah satu beban pikirannya ini.

Gadis itu roboh di lantai, kesadarannya makin meredup.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?