Rindu

Chara versi Kadokawa: Maven, Reyl, Sophia, Declan, Lei, Calhoun, Theana, Croac

Kembali Maven membuka matanya.

Silau menyaput, benda-benda perlahan menunjukkan bentuknya.

Jendela, dan cahaya yang menyelusup melewatinya.

Dinding, bukan putih namun kelabu, seperti batu, bukan pualam.

Meja, kursi, lemari, ranjang. Dari kayu, bukan emas murni.

Ia mencoba menoleh ke kanan, menggeser selimut katun putihnya sedikit ke bawah.

Pintunya, meja kecil, dari kayu.

Lambang Agama Vadis yang tergantung di dinding... dari besi.

Baskom berisi air dan handuk.

Teriring suara berat yang tak terlalu merdu. “Ah, Mave, kau sudah siuman?” Itu suara Declan.

Tanpa menoleh, Maven malah menyahut, “Cubit tanganku.”

“Heh?” Declan melongo, wajahnya nampak lucu. Sesaat kemudian ia tersenyum, baru mengerti maksud Maven dan melaksanakan permintaannya.

“Auuuuuwww!”

“Sekarang kau baru yakin ini bukan mimpi, ‘kan?”

Maven mengangguk. “Yap, bukan surga, bukan mimpi. Tapi, bagaimana aku bisa berada di sini? Ini Biara Santo Ambrosius, bukan? Berapa lama aku pingsan?”

“Wow, satu-satu dulu, Mave.” Declan mengacungkan sepasang telapak tangannya. “Kau sekarang ada di kamar tamu wanita di biara, dan kau pingsan selama tiga hari. Lagipula kau menitipkan busur dan kantung panahmu padaku, kan? Ada di kamarku, nanti kuambilkan saat kau sudah sepenuhnya sehat.”

“Terima kasih, Declan,” sela Maven sambil menatap wajah si pendeta ini lekat-lekat. Declan malah garuk-garuk kepala lagi. “Ah, tak apa kok. Ini memang sudah kewajibanku sebagai pembela kebenaran.”

Declan mencelupkan ujung handuk ke baskom, memerasnya sedikit lalu membasuhkannya ke wajah Maven yang nampak cantik walau masih pucat.

Mendadak Maven tersentak, teringat sesuatu. “Declan,” katanya, “Bagaimana keadaan… Bapa Nigel?”

Declan tercekat, lalu tertunduk seketika. “Saat aku mengembalikan rosario itu, barulah Kepala Biara tahu tentang aksi terakhir Bapa Nigel itu. Aku dan beberapa rahib turun ke katakombe, tapi tak berhasil menemukannya. Yang kami bawa ke biara hanya tombak Bapa Nigel yang gagangnya patah. Dengan atau tanpa senjata, mustahil beliau bisa melawan para makhluk kegelapan itu sendirian.”

“Jadi benar… Bapa Nigel sudah…”

Jawabannya hanya anggukan lemah.

Mata hijau Maven mulai berkaca-kaca. Ia tak hentinya menatap wajah Declan, teriring bisikan lembut, “Bapa Nigel telah berkorban demi kita… Semoga jiwanya damai di sisi Vadis. Declan, kau juga telah banyak membantuku, bahkan mempertaruhkan nyawa.”

“Ah, sudah sewajarnya, kan. Aku pasti akan melakukannya bagi sesamaku yang lain juga.”

Maven menggeleng. “Tak hanya itu, kau bertarung sekuat tenaga demi membalaskan dendam, hal yang sebenarnya bertentangan dengan imanmu. Kurasa, kata ‘terima kasih’ saja tak cukup sebagai imbalanmu.”

Declan terpaku sejenak. Seakan menangkap isyarat di wajah Maven, perlahan-lahan ia mendekatkan wajahnya.

Jantung Maven berdebar keras.

Makin dekat, dan dekat...

Sebuah seruan parau membelah udara. “Ah, ternyata pahlawan kita sudah sadar!”

Salah tingkah, Declan menjauhkan wajahnya dari Maven. Maven menatap pria masuk tanpa mengetuk pintu itu sambil terperangah. Pria setengah tinggi, setengah baya, setengah botak dan setengah bungkuk dengan wajah seperti katak.

Baron Croac le Toadt!

“Wah, wah, maaf, kuharap aku tak mengganggu sesuatu di sini. Tak seharusnya aku lancang begini. Tapi kalian maklum ‘kan, kesibukanku sebagai Walikota Redne membuatku selalu terburu-buru.”

Maven bangkit, duduk tegak di tempat tidur, mengerutkan dahi. “Kalau begitu aku takkan memperlambat anda, Tuan Baron. Silakan, aku siap ditangkap dan dipenjara sekarang.” Ia mengulurkan kedua tangannya, siap dibelenggu.

Melihat itu, Si Muka Katak malah menggelengkan kepala. “Dasar darah muda, selalu terburu-buru mengambil kesimpulan.”

“Apa maksud tuan?” sela Maven.

“Dengar dulu kataku baik-baik, Maven Istravel. Kau memang sudah menyusup ke Redne dengan status buronan. Bahkan kau mencuri Rosario Santo Ambrosius, harta pusaka yang tak ternilai harganya.”

“Aku hanya ‘meminjam’…”

“Jangan menyela! Ehm, sampai di mana aku tadi? Oh ya. Walau begitu, ternyata kau menjalankan taktik ‘menangkap ular dengan cara ular’. Berkat kau, kita berhasil menumpas Geng Viperwolves dari kepala sampai ke akar-akarnya. Kau mengungkap seluruh jaringannya dan bukti barang jarahan mereka. Ini sungguh prestasi penegakkan hukum paling luar biasa dalam sepuluh tahun terakhir.”

Maven bertukar senyum dengan Declan.

“Nah, Maven, atas jasamu ini, kau dibebaskan dari segala tuntutan. Ini surat keputusannya.” Baron menyelesaikan penjelasannya dengan menyerahkan surat pembebasan itu di tangan si gadis elf.

Maven membaca isi surat itu, matanya terbelalak.

Bebas. Akhirnya, aku tak perlu jadi buronan lagi. Tak perlu sembunyi-sembunyi lagi.

Aku kini bebas tinggal di Redne, atau… pergi kemanapun aku mau… termasuk… ke Lu Vazr…

Lu Vazr… Bertemu dengan Reyl lagi?

Tiba-tiba, rasa sesak menyusupi dada Maven. Membuatnya terperangah, terpaku.

Terguncang rasa rindu yang datang tak diundang.

Rasa yang tak pantas lagi, karena Reyl punya kekasih, tak sendiri.

Tetap saja, rasa ini menggelora lepas kendali.

Ingin menatap wajah tampannya lagi.

Mata birunya yang cemerlang jernih.

Mendengar suaranya yang tegas, membuai jiwa.

Sekali lagi, hanya sekali lagi saja...

“Mave! Mave, jangan melamun!”

Suara Declan itu membuat Maven terperanjat, tersadar dari lamunannya. Di depannya, tampak Croac le Toadt berdiri berpangku tangan dengan wajah masam.

“Oh, maafkan aku, Tuan Baron. Terima kasih untuk kemurahan hati tuan. Mulai sekarang, aku akan berusaha menjadi warga yang baik.” Maven bicara cepat, sekenanya.

Croac menghela napas. “Yah, berhubung aku punya anak gadis, aku bisa memaklumi sikapmu itu. Sekarang aku permisi dulu, masih banyak sisa ‘ular-serigala’ yang harus dibenahi.”

Sang Baron melangkah meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa. Ia tak menunggu tanggapan Maven yang diyakininya takkan lebih dari sekedar basa-basi.

Persis di ambang pintu, Baron Croac le Toadt menghentikan langkahnya seraya berkata, “Aku, mewakili seluruh warga berterima kasih pada kalian, Pahlawan Redne.” Lalu melangkah lagi sampai tak terlihat lagi dari pintu.

Declan berbalik ke Maven dan bicara riang, “Dari ‘buronan kelas kakap’ jadi ‘pahlawan tanpa tanda jasa’. Perubahan sangat besar untukmu ya, Mave?”

“Kau juga jadi pahlawan, Dec. Apakah kau senang?”

“Tentu saja! Tambahan lagi, aku telah menyaksikan seluruh kekuatan gaib Rosario Santo Ambrosius, jadi dengan ini aku tuntas mempelajarinya. Nah, Mave, apa rencanamu sekarang?”

“Entahlah... Aku belum tahu.”

“Jangan bohong, Mave. Kau tadi melamun lama sekali, dan aku melihat reaksimu saat bicara dengan Baron tadi. Entah kau menyadarinya atau tidak, tapi rencana itu pasti sudah tergambar jelas dalam otakmu.”

Sambil menghela napas Maven menjawab, “Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin kulakukan. Mencaritahu tentang asal-usul ayahku di Thyrine, dan ibuku di kediaman Keluarga Bouvignon di Redne. Namun ada satu hal yang lebih mendesak. Aku harus pergi dari Redne, jauh ke timur untuk menemui seseorang.”

Declan mendelik tajam. “Siapa?”

Maven terdiam sejenak. Ia lalu bersandar pada kayu penahan kepala di ranjangnya.

“Kau tahu Dec, banyak hal terjadi sejak aku lari dari Redne,” ujar Maven. Ia lalu menceritakan perihal pertemuannya dengan Reyl, petualangan dan perjalanannya, sampai pada kenyataan bahwa Reyl sudah punya kekasih. Juga keputusan Maven meninggalkan kelompok dan kembali ke Redne, pada misi balas dendamnya.

“Jadi... kau masih punya perasaan pada si Reyl ini?” Declan menyimpulkan dengan nada suara pahit.

Sebaliknya, air mata Maven kembali terbit. “Entahlah... Aku tak tahu, tapi aku harus mencari tahu. Firasatku, aku ingin bertemu dengannya lagi. Ingin. Butuh. Harus. Satu kali saja. Untuk memastikan ia baik-baik saja. Hidup bahagia dengan semua yang dimilikinya, segala pilihannya. Tanpa perlu aku di sisinya. Satu kali saja, baru aku bisa melangkah ke rencana-rencanaku yang lain.”

“Aih.” Declan terhenyak.

“Kau memang sangat baik padaku, Dec, dan mungkin kau menyukaiku. Tapi coba mengertilah ini. Aku tak bisa menentukan rasa hatiku padamu sebelum menentukan rasa hatiku pada Reyl. Aku harus memastikan masih adakah harapan bagiku untuk mendapatkan cintanya, walau nyaris mustahil.”

Maven tertunduk. Tak terasa air mata berjatuhan di pipinya, curahan segala perasaan yang campur-aduk dalam hatinya ini.

Lega namun sesak.

Damai namun resah.

Teduh namun penasaran.

Larut dalam lautan asa yang meluap.

Hingga Declan menyahut, “Kalau itu yang harus kaulakukan, biar aku menemanimu, membantumu, mendampingimu.”

Kembali Maven menegadah, kali ini dengan wajah keheranan. “Lho, Dec, bagaimana bisa? Ini perjalananku, dan aku harus menuntaskannya, sendiri. Lagipula, bukankah kau ini pendeta yang terikat sumpah untuk melayani di biara ini? Mana bisa kau berkelana seenaknya?”

Wajah Declan bertambah murung. “Biar kujelaskan masalahnya, Mave. Para pimpinan biara menuduh aku bersekongkol denganmu dan Bapa Nigel mencuri Rosario Santo Ambrosius, padahal aku telah mengembalikannya. Walaupun kita hanya ‘meminjamnya’ atas izin Bapa Nigel, tapi apapun istilahnya, kita tetap dicap mencuri. Jadi, status pendetaku dicabut dan kita berdua diasingkan dari biara ini. Satu-satunya kemurahan yang kita dapat hanya kita baru meninggalkan biara setelah kondisimu pulih sepenuhnya.”

“Ah! Sekali lagi aku menyusahkan hidup orang lain. Tenanglah, Kak Declan. Suatu hari aku akan membalas budimu ini.”

Telunjuk Declan teracung. “Jangan salah mengerti, Mave. Apapun yang terjadi padaku, itu sama sekali bukanlah salahmu. Akulah yang sejak semula memilih untuk membantumu dengan sukarela, sebagai sahabat yang mengerti tujuan mulia dari tindakan-tindakanmu yang menyimpang itu. Juga mencegah agar jiwamu tak terhilang seperti Calhoun, Theana dan Geng Viperwolves.”

Tanpa sadar bibir Maven berbisik, “Lebih baik jadi pedagang… atau pemburu monster.”

“Hah? Kau bicara apa, Mave?”

“Pemburu monster. Itulah jalan yang ditunjukkan Reyl padaku selama aku ikut dia. Bukan jadi pembunuh bayaran, bukan penjahat. Sebagai pemburu kita bisa berjasa pada dunia dengan membasmi para perusak kedamaian dan keamanan, yaitu monster dan perampok.”

“Begitukah? Benar juga. Daripada menganggur, kurasa ini profesi yang cocok untukku. Tombakku dan sihir putihku pasti akan lebih berguna. Ayolah Mave, biar aku membantumu, hitung-hitung kau membalas budiku, oke?”

Maven berpikir sejenak, mencerna kata-kata Declan tadi lalu mengangguk. “Baik, aku terima tawaranmu ini, tapi dengan syarat. Jangan coba-coba campuri urusan perasaanku. Dan bila Reyl nanti tak setuju kau bergabung, kau harus pergi.”

“Baik, setuju. Lagipula aku tak punya pilihan lain, karena kini aku sudah jadi ‘pendeta sesat’ sungguhan,” ujar Declan, wajahnya berubah cerah. “Nah, sebaiknya aku mulai berkemas dulu. Jadi saat kau sudah siap, kita tinggal berangkat saja tanpa menunggu diusir.”

Declan bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan ke pintu sambil bersenandung.

Sebaliknya, Maven berbaring di ranjang sambil menatap ke arah jendela. Wajahnya nampak muram. Galau.

Akankah ia mengikuti kata hatinya? Ataukah mengurungkan niat, mematuhi tata-krama dan mengarungi jalan lain?

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?