Haru-Biru di Lu Vazr

Sepertinya cover default Elugy ini cocok untuk gambaran Kota Lu Vazr.

Saat matahari mulai condong ke barat, kesibukan para warga Kota Lu Vazr masih tetap marak. Hiruk-pikuk para pedagang yang menjajakan dagangannya dan para pembeli yang menawar riuh-rendah menenggelamkan suara-suara lainnya. Termasuk di antaranya teriakan seorang wanita parobaya yang baru saja kecopetan di sudut jalan.

Tak ada orang yang memperhatikan itu. Apalagi memperhatikan seorang elf wanita bernama Maven yang berdiri santai dan tampak membaur dalam keramaian.

Di sebelahnya, Declan sedang mencengkeram tudung kepala seorang pria dan mengangkatnya dengan satu tangan. Lalu ia menohok dagu pria itu dengan ujung belakang tombaknya yang tumpul hingga pingsan.

Declan merogoh saku si pria, mengeluarkan kantung bersulam berisi uang logam berbunyi gemerincing. Lalu ia menyodorkannya pada si wanita parobaya yang menatapnya sambil melongo. “Apa ini pundi-pundi ibu?”

Masih melongo, ibu itu mengangguk pelan. Declan menyerahkan pundi-pundi itu padanya. Si ibu lantas mengucapkan “terima kasih” lalu cepat-cepat berbalik pergi dari sana.

“Lho, aku sudah menangkap penjambret ini untuknya, tapi dia malah pergi begitu saja?” ujar Declan sambil mendorong si pencopet itu sampai kepalanya membentur tembok dan pingsan lebih lama lagi. “Kita tak bisa menyerahkan orang ini ke yang berwajib tanpa kesaksian dari korban dan barang bukti. Yah, anggaplah ini sekedar selingan di perjalanan.”

Tak ada tanggapan. Declan mendengus kesal sambil terus berjalan. Kini ia tak mengenakan Pendeta Vadis lagi, hanya baju dalam kuning tua dan pakaian luar putih.

Kira-kira sebulan telah berlalu sejak Maven dan Declan memulai perjalanan dari Redne ke Lu Vazr dengan menunggang kuda. Di luar kebiasaan, Maven jadi teman seperjalanan yang membosankan. Dialog yang terjadi di antara mereka berdua hanyalah seputar makan, penginapan dan sisa uang perjalanan.

Walau mendapat tambahan penghasilan dari profesi baru sebagai pemburu monster, Maven dan Declan tak bisa memperoleh uang banyak karena jarang berpapasan dengan monster di jalan raya. Alhasil, kini persediaan uang mereka sudah sangat menipis, hanya cukup untuk bertahan hidup satu-dua hari saja.

Tapi Maven tak mempedulikan itu. Kakinya terus melangkah walau dengan napas terengah-engah lelah. Langkahnya baru terhenti di depan sebuah rumah yang masih diingatnya dengan jelas. Rumah Reyl.

“Ah, akhirnya aku tiba. Harap saja Reyl tidak sedang berdagang keliling Aurelia.”

Maven berjalan ke halaman belakang. Wajahnya berubah cerah saat melihat kereta Reyl terparkir di garasi. Namun kudanya, Whisperwind tak ada di kandangnya.

“Whisperwind tak ada… Reyl pasti sedang pergi berburu…”

Melihat Maven yang bicaranya seperti meracau, Declan akhirnya angkat bicara lagi, “Nah, kalau begini apa yang akan kita lakukan sekarang? Tuan rumah sedang tak ada di tempat, kan?”

Masih setengah mimpi, Maven menyahut, “Kita akan menunggu di sini.”

“Apa? Di sini? Di depan pintu rumahnya? Sampai kapan? Bagaimana kalau dia masih lama pulang? Apa kau mau menunggu sampai mati membusuk karena kelaparan?”

“Ya, kalau perlu.”

“Bagaimana kalau kita coba ketuk pintu rumahnya dulu, siapa tahu ada orang lain di rumah…”

Maven menggeleng. “Tidak, Dec. Aku hanya ingin bertemu Reyl, bukan Sophia pacarnya, bukan Lei, guru pacarnya.”

“Ah, begitukah? Aku tak akan memaksa, tapi coba kau pikir. Menunggu itu butuh energi, toh? Lihat uang kita, kondisi kita. Kita butuh makan dan istirahat, juga pekerjaan untuk menyambung hidup. Penuhi semua itu dulu, dan besok kita bisa mampir lagi kemari dengan tubuh segar-bugar dan kepala dingin. Bagaimana, Mave?”

Setelah terdiam sesaat, Maven mengangguk. “Ya, Dec, kau benar. Terlalu ngotot hanya akan merugikan diri sendiri. Kita akan kembali kemari besok, lusa, dan besoknya lagi sampai aku bertemu muka dengan Reyl.”

==oOo==

Keesokan harinya...

Reyl masih tak ada di rumah.

Declan menepuk paha. “Baiklah, karena kau pasti tak mau mengetuk pintu, ayo kita ke Kantor Serikat Pemburu mengambil satu misi. Kita kan perlu...”

“Uang, ya, aku tahu,” ujar Maven, matanya masih tertuju ke jendela rumah Reyl. “Tapi, sebaiknya kita tunggu sebentar, melihat-lihat keadaan. Firasatku mengatakan, Reyl sebenarnya ada di rumah.”

Declan mengangkat bahu. Ia memang tak memahami kata-kata Maven itu tapi ia memutuskan untuk tak mendebat rekannya ini, tetap berdiri dan mengamati dari jauh.

Selang beberapa menit kemudian, Maven melihat seseorang keluar dari dalam rumah. Pria berpakaian serba hitam dengan mata biru yang menyorot dingin. Wajah tampannya kali ini tampak tersenyum penuh pesona.

“Itu Reyl! Firasatku benar rupanya!” Maven berseru.

Sebaliknya, Declan tersenyum kecut. “Nah, tunggu apa lagi? Cepat temui dia!”

Tanpa menunggu Declan selesai bicara, Maven lari ke arah Reyl sambil berseru, “Reyl! Oh, Reyl!”

Si pedagang berbaju hitam itu menoleh ke arah Maven, lantas pasang wajah dingin tanpa ekspresi.

Dengan wajah heran Maven bertanya, “Ah, Reyl, apa kau tak mengenaliku? Ini aku, Maven! Maven Istravel!”

Dengan nada suara agak ketus dan malas Reyl menjawab, “Ya, aku tahu. Maven, si ‘mantan teman’ yang pergi menghilang tanpa pamit, hanya meninggalkan surat saja. Ada apa kau kemari lagi? Memangnya urusan dendammu sudah tuntas? Lantas kau berniat untuk balas dendam padaku juga karena salah paham, mengira aku main hati denganmu?”

Dihardik begitu rupa, Maven menitikkan air mata. Reyl terus mencecar, “Tak cukupkah kau mempersulit hidupku? Membuat hubunganku dengan Sophia hampir rusak?”

Tiba-tiba, Declan menyeruak di antara kedua orang yang bersitegang ini sambil menghardik Reyl, “Hei, bung! Sopanlah sedikit saat bicara dengan wanita! Kau menyinggung perasaannya! Tak tahukah kau Maven datang jauh-jauh dari Redne hanya untuk bertemu denganmu, hah?”

Reyl lalu menoleh pada Declan. “Maaf, anda ini siapa, ya? Ikut campur dalam hal yang bukan urusan anda, itu sikap yang tak sopan, barbar, tak tahu tata-krama!”

Mendengar itu, Declan menegangkan otot-otot tangan kanannya sambil mengacungkan tombaknya. Ujarnya, “Huh! Aku, Declan Pervius tak terima sahabatku Maven disakiti begitu rupa! Tampaknya harus tombakku yang memberimu pelajaran!”

Serta-merta Reyl menghunus pedang yang selalu disandang kemana-mana itu dan mengacungkannya pada Declan. “Oh, kalau begitu maumu akan kulayani! Jangan mentang-mentang kau sahabat Maven, lantas kau boleh mencampuri semua urusannya! Aku jadi penasaran apa kau ini hanya kerbau bodoh, atau kerbau yang frustrasi lantas cari mati?”

“Cukup sudah! Biar kuacak-acak muka kemayumu itu!” Declan menyapukan tombaknya ke samping sambil menyeruak maju.

Reylpun menerjang bersamaan.

Pertarungan dua pria yang sudah gelap mata ini pecah. Maven hanya bisa terpaku melihatnya, terlalu terpukul karena kekasaran Reyl tadi. Darah muda yang meledak-ledak akan segera tertumpah saat tiba-tiba...

“Hentikan, kalian berdua!"

Suara hardikan wanita yang amat keras itu ternyata mengandung tenaga dalam tingkat tinggi, yang alhasil melontarkan kedua petarung itu terpisah satu sama lain.

Reyl, Declan, bahkan Mavenpun menoleh ke arah sumber suara. Di ambang pintu berdiri seorang wanita yang satu matanya tertutup kain dan rambut putihnya dikepang dua menjuntai ke depan dadanya dan bersanggul di belakang kepala. Dialah guru sihir Sophia, Nepathya Lei.

Tak ayal Reyl angkat bicara, “Guru Lei, orang yang bernama Declan ini sudah bersikap kurang ajar, seenaknya saja ikut campur urusan yang dia sendiri tak tahu, jadi sudah sepantasnya aku memberinya pelajaran.”

“Tapi tetap saja mereka ini tamu, Reyl. Sikapmu yang angkuh itulah yang memicu reaksi keras... Ah!” Nepathya terkesiap dibuat-buat. “Bukankah ini... Maven?”

Maven yang mencoba terus bersikap sopan menyahut lemah, “Ya, Guru Lei... Aku sedang singgah bertamu...”

Saat itu pula Sophia, si penyihir berambut merah keluar dari rumah dan langsung merangkul lengan Reyl. “Aduh, apa yang terjadi, Reyl? Apa kau luka? Apa orang-orang itu mengganggumu?”

Sontak wajah Maven jadi merah padam melihat Sophia yang nampaknya masih jadi kekasih Reyl yang manja. Namun benaknya terus tak habis pikir pada Sophia yang malah tak menyadari perubahan sikap, pembawaan Reyl. Kini ia jadi lebih angkuh, emosional, kasar dan cenderung... agresif dibanding saat Maven bertemu dengan pria itu dulu. Begitu tenang, agak serius tapi tetap ramah, selalu mencoba mengatasi masalah dengan kepala dingin, bukan sebentar-sebentar menghunus pedang seperti sekarang.

Sophia juga agak terkejut dan pasang tampang sebal melihat kedatangan Maven yang tak diharapkannya ini, tapi rasa itu terpaksa diredamnya saat Reyl angkat bicara.

“Guru Lei benar. Maafkan aku Maven, Declan. Akhir-akhir ini aku jadi agak emosional karena kematian kudaku, Whisperwind. Dia memang sudah terlalu tua. Lagipula seharusnya aku merelakan kehilangan sahabatku sejak kecil itu dengan lapang dada, tak mencari pelampiasan emosi.”

Guru Lei mengangguk. “Bagus, Reyl. Sekarang mari, kita bicara di dalam saja. Suasana santai dan hangat bisa membuat komunikasi jadi lebih lancar.”

Tak lama, kelima insan itu nampak sudah duduk nyaman mengelilingi meja makan. Itu sedikit membangkitkan kenangan Maven pada pesta ulang tahun Reyl. Begitu juga lagu yang ia ciptakan untuk sang pujaan hati yang kini berlanjut satu-dua bait lagi walau belum tuntas...

Reyl mencairkan suasana canggung akibat bentrok tadi dengan bicara, “Nah, Maven, apa gerangan yang membuatmu datang jauh-jauh dari Redne kemari?”

Dengan sikap agak gugup Maven menjawab, “Kedatanganku kemari hanya untuk… untuk…”

Lei menyela, “Kalau tak bisa, kau tak perlu menjawabnya.”

“Eh, i-iya.” Maven menghela napas. Ia tak tahu apa harus lega atau kesal dengan sikap Lei itu.

“Ah, aku sungguh rindu masa-masa berdagang dari kota-ke-kota lagi,” ujar Reyl, wajahnya berubah muram. “Tapi sayang, dengan matinya kudaku aku jadi sulit bepergian keluar kota lagi. Tak ada satu istalpun yang mau menyewakan kuda untuk menarik kereta barang, dan untuk beli kuda baru aku butuh banyak uang.”

Sophia menimpali, “Jadi, kemungkinan besar kami akan terus menetap di kota ini sebagai pemburu monster, membuka toko senjata dan berumahtangga.”

Sophia sengaja memberi tekanan pada kata “berumahtangga”. Ia tampak sangat puas melihat reaksi polos Maven yang menahan napas.

Nepathya lalu menjentikkan jari di depan matanya sambil tersenyum. “Aha, aku punya ide. Mumpung ada Maven dan... maaf, apa namamu tadi?”

“Declan Pervius, mantan pendeta. Maaf belum memperkenalkan diri tadi.”

“Ya, ya, Declan. Mumpung ada dua tamu pendekar di sini, bagaimana kalau kalian berempat mengambil satu misi tingkat tinggi? Tentu yang uang hadiahnya cukup untuk membeli kuda baru untuk Reyl? Dengan demikian Reyl bisa berdagang lagi, Sophia melanjutkan pelajaran sihirnya bersamaku, dan semua rencana lain bisa lancar.”

Sophia menanggapi sambil bertepuk tangan. “Wah, ide bagus, guru! Dengan demikian urusan dana akan beres. Setelah pelajaran sihirku selesai, aku akan menikah dengan Reyl.”

Kali ini Maven tak bereaksi.

“Yah, mau bagaimana lagi,” ujar Reyl sambil menoleh pada para tamu. “Memang sungkan rasanya merepotkan dua tamu yang hanya berkunjung saja di sini. Terus terang aku memang butuh uang, tapi bagaimana pendapat kalian berdua, Maven dan Declan?”

Berpangku tangan dan mengelus dagu, Declan menyahut, “Hmm, kedengarannya menggiurkan, tapi ikut tidaknya aku tergantung Maven. Bagaimana pendapatmu, Mave?”

Ditanya begitu, Maven malah diam seribu bahasa. Dahinya berkerut tanda berpikir keras. Terjadi pergumulan dalam benak Maven. Antara egonya yang tak rela melihat Reyl dan Sophia bahagia dan sifat aslinya yang suka menolong siapapun yang membutuhkan.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?