Amuk di Mordsgard

Udmelekh, Si Nyonya Besar

Panasnya hari ini sungguh menyengat. Karena itulah, warga Kota Lu Vazr lebih suka berada dalam lindungan bangunan daripada berjemur sampai kulit mereka terpanggang. Kecuali untuk bekerja dan urusan-urusan penting.

Tak terkecuali beberapa insan yang memasuki gedung besar bertembok semen putih yang disangga pilar-pilar berukir ini. Tiga di antaranya, dua pria dan satu wanita tampak bermandi peluh.

Maven yang ikut bersama mereka berjalan perlahan dan ringan. Mata hijaunya menatap sekeliling. Telinga lancipnya menangkap hiruk-pikuk para pengunjung yang memadati gedung ini.

“Serikat Pemburu Amagmar makin ramai saja,” komentar Maven.

Sophia mengangkat sebelah bahu. “Yah, memang beginilah situasinya tiap pertengahan tahun, frekuensi serangan monster meningkat satu setengah kali lipat dari biasanya.”

“Waktu tersibuk bagi para pemburu monster,” Reyl menimpali. “Dan juga waktu kemunculan monster dan makhluk gaib terkuat dari persembunyiannya.”

“Makhluk-makhluk besar bertampang aneh menyeramkan seperti yang tergambar di poster-poster di ujung sana itu?” Declan menunjuk beberapa poster yang terpaku di papan-papan kayu berbingkai ukir. Letaknya persis di sebelah kiri meja panjang, tempat para petugas serikat yang semuanya wanita berseragam biru bercelemek putih seperti pelayan rumah makan melayani para pemburu bayaran.

“Walaupun ada pepatah ‘penampilan tak selalu menunjukkan kekuatan’, ya, yang di sana itu adalah target-target buruan tingkat tinggi,” ujar Reyl sambil berjalan menghampiri poster-poster itu. “Lihat, tak banyak orang yang berkerumun di sana. Berarti hanya para pemburu, kelompok atau pasukan yang bisa mengimbangi merekalah yang berminat. Tanpa kekuatan memadai, sama saja cari mati.”

Sophia berkomentar, “Lantas Reyl, menurutmu apakah kekuatan kita berempat sudah cukup untuk menantang salah satu dari monster-monster ini?”

Reyl membalas dengan senyum. “Ya. Berdasarkan cerita Maven dan Declan tentang pertarungan mereka melawan pimpinan Geng Viperwolves, kurasa kita sudah layak untuk memburu monster yang ini.” Serta-merta ia menunjuk sebuah poster besar yang tampak amat lusuh.

Declan menghampiri poster itu, memperhatikan gambar sesosok makhluk berbentuk aneh tak beraturan yang memenuhi tiga perempat bagian poster. Di seperempat bagian sisanya ada tulisan besar “UDMELEKH”. Ia juga melihat sederetan angka besar-besar bernilai...

“Seribu crown?” Declan terbelalak. “Gila, itu berarti seratus ribu geine, setara dengan sebutir berlian murni sebesar kacang polong!”

“Yap.” Reyl mengangguk mantap. “Sudah bertahun-tahun aku... mengincar monster yang satu ini, yang belum bisa ditaklukkan pemburu manapun. Dari yang kudengar, pihak kerajaan pernah mengirimkan dua puluh prajurit dan dua penyihir menyerbu sarang Udmelekh, dan hanya komandan pasukan dan satu penyihir saja yang kembali.”

Maven dan Declan terperangah. Lalu Sophia menambahkan, “Konon, Udmelekh yang berusia hampir seratus tahun ini semula adalah manusia, seorang nyonya gemuk kaya-raya yang tinggal di daerah pedesaan di Edel. Wataknya yang cerewet dan kejam membuat suaminya tersiksa. Lalu si suami berkomplot dengan seorang penyihir untuk melenyapkan si nyonya besar tanpa harus membunuhnya.”

Declan berdiri berpangku tangan, mendengarkan dengan penuh minat.

“Dalam perjalanan keluar kota, sang suami meracuni istrinya dan meninggalkannya di pinggir jalan. Racun itu bekerja, penampilan si nyonya jadi buruk rupa bagai monster. Tak disangka, tubuh si nyonya besar bermutasi terus menjadi monster raksasa. Dengan kekuatan bak dewa, Udmelekh membalas dendam. Ia menghancurkan rumahnya dan membunuh suaminya beserta istri baru dan anaknya yang masih balita. Monster itu melarikan diri, lalu bersarang di gua terbesar di Pegunungan Mordsgard. Ia dianggap ratu oleh ribuan monster di daerah sekitarnya dan ‘kerajaan monster’-nya terus berkembang sampai sekarang.”

Maven membatin, Kerajaan monster... Sophia sedang tak menakutiku dengan cerita berlebihan, kan? Kalau benar begitu, berarti Gua Mordsgard lebih berbahaya daripada katakombe biara dan Geng Viperwolves.

“Nah, bagaimana pendapatmu, Mave? Maukah kau menjalani tantangan ini?” ujar Reyl.

Maven menatap poster besar itu sesaat, lalu bibirnya bergerak. “Sebenarnya aku lebih suka kita mengambil beberapa misi yang lebih ringan terlebih dahulu untuk memantapkan kerjasama. Tapi karena kau sangat bersemangat untuk menaklukkan Udmelekh, Reyl, sebagai sahabat aku akan membantumu.”

==oOo==

Seminggu kemudian...

Maven, Declan, Sophia dan Reyl kini berdiri di depan pintu masuk sebuah gua yang sangat besar nan tinggi di lereng Pegunungan Mordsgard. Letaknya di barat daya Halethia, dekat perbatasan dengan Kerajaan Edel.

Pekatnya kegelapan malam dan suara-suara gemuruh yang datang dari dalam gua itu tak ayal membuat Maven merinding.

“Hei, kau baik-baik saja, Mave?” tanya Declan. Mantan pendeta itu memegang tombak bermata tiga yang mutiara di ujungnya berpendar terik pengganti obor, juga menyandang ransel perbekalan di punggungnya. Maven hanya mengangguk.

“Gua Gunung Mordsgard,” ujar Reyl, menghunus pedangnya. “Pusatkan pikiran kalian, ikuti aku dan tetaplah dalam formasi. Sarang Udmelekh berada di pusat gua, dan salinan peta ini akan jadi andalan kita,” Ia menepuk sisi kiri rompi hitamnya.

Sophia ikut berkomentar, “Mari kita panjatkan doa pada Vadis, memohon perlindungannya dalam perjuangan kita melawan kuasa kegelapan ini.”

Keempat orang itu menundukkan kepala sejenak, dan seketika Maven merasa hangat dan teduh.

Maven menegadahkan kepalanya lagi, kali ini dengan mata berbinar dan senyum penuh keyakinan. Kakinyalah yang pertama melangkah ke dalam kegelapan. Anak panah telah terpasang pada busur di tangannya, siap ditembakkan kapan saja.

Reyl menyusul dan mendahuluinya dengan peta di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, bertindak sebagai pembuka dan penunjuk jalan.

Sophia ikut melewati Maven dengan tongkat sihirnya dengan bola kristal di ujungnya berpendar bak lentera, menerangi jalan agar Reyl bisa membaca peta.

Sedangkan Declan berjalan di paling belakang untuk mengantisipasi serangan mendadak musuh.

Tampak warna kulit tubuh dan pakaian empat pemburu ini seakan berpendar. Itu karena mereka sudah terlindungi oleh Medan Pelindung Masal rapalan Declan sebelum tiba di gua tadi.

Bola mata, hidung dan telinga Maven bergerak-gerak seakan melacak seluruh isi ruangan, mencari pertanda sedikit saja keberadaan monster atau sejenisnya. Sejauh ini yang dilihatnya baru serangkaian tiang, stalagmit dan stalaktit batu yang mencuat tak beraturan di lantai dan dinding gua.

Selain suara menderu dari kedalam gua, yang ada di sini hanyalah suara titik-titik air yang menetes dari ujung stalaktit. Hal ini jelas membuat Declan berdecak penasaran. “Ini aneh... Gua ini disebut ‘kerajaan monster’, tapi sejauh ini kita belum melihat seekorpun.”

Maven mengendus-endus. “Benar, Dec. Padahal bau mereka ada di mana-mana. Mungkin seluruh penghuninya tengah keluar, tapi yang pasti sarang dan tempat tinggal mereka jelas di sini.”

Sophia mendengus. “Ya, baunya pekat sekali, bau kotoran monster. Tapi aku yakin cepat atau lambat mereka pasti... !” Tiba-tiba ia menjerit dan menunjuk.

Maven cepat menoleh ke arah yang ditunjuk Sophia, melihat puluhan makhluk besar bersayap, berbulu abu-abu legam. Kelelawar raksasa.

Raungan melengking para hewan bergema riuh. Teriring satu raungan pilu kelelawar yang jatuh tertembak panah Maven.

“Tahan mereka teman-teman, selagi aku merapal sihir!” Sophia mengacungkan tongkat sihirnya tegak lurus. Rambutnya berkibar-kibar dan matanya memendarkan cahaya biru.

Maven memanah satu, dua kelelawar lagi, sementara Reyl dan Declan membabat yang terjun menerjang.

Satu kelelawar nyaris menggigit lengan Declan. Dengan sigap Reyl membenamkan pedang panjangnya ke sisi hewan itu. Declan membalas dengan menghantam kelelawar yang terjun ke arah punggung Reyl.

“Mantra siap! An Jokul’me Fyasch!”

Badai Es dahsyat menyembur dari tongkat sihir Sophia, membekukan kelelawar-kelelawar raksasa di udara, dan jatuh seperti balok-balok es.

“Wow, sihir yang dahsyat, Sophia!” ujar Declan terkagum-kagum.

Itu ucapan yang bisa dimaklumi untuk pria yang minim pengalaman tarung ini, tapi cukup berhasil membuat Sophia tersenyum. “Terima kasih, tapi kita masih belum bisa bernafas lega. Lihat, gelombang serbuan kedua sudah datang!”

Semua mata tertuju ke arah yang ditunjuk Sophia. Benar saja, seiring suara derap langkah bergemuruh muncullah segerombolan monster dan siluman yang nampak beragam dan berjumlah puluhan, mungkin lebih dari seratus seluruhnya.

Maven memanah satu monster dan cepat menyusul. Dilihatnya Reyl dan Declan sedang kerepotan oleh gerombolan musuh.

“Gila! Sebanyak ini untuk menaklukkan kita berempat?” Declan berseru sambil memutar-mutar tombaknya.

Reyl yang bergerak lincah membabat lima siluman sekaligus. Pedangnya terus berkelebat ke sepuluh arah dalam satu tarikan napas, jurus Sabetan Pedang Sepuluh Penjuru. “Terobos saja terus! Jangan berpikir untuk membantai semuanya!” serunya.

Di sisi lain, Declan menusuk-nusuk sambil menyapukan tombaknya kiri-kanan. Lalu menuntaskannya dengan jurus hantaman keras Sabetan Tenaga Inti, mencerai-beraikan sembilan siluman yang dihadapinya.

Semula Maven kebagian memanah mati siluman buaya yang lolos dari serbuan Reyl dan Declan. Namun beberapa saat kemudian enam siluman lain mengepung dirinya dan Sophia, menghalangi langkah maju mereka berdua.

“Gavial, imp dan siluman mata raksasa... zerumata,” gumam Maven. Dengan cepat ia menyandang kembali busurnya dan menghunus sepasang belati. “Dan lain-lain. Hati-hati.”

Sebaliknya, air muka Sophia tampak pucat. “Aduh, bagaimana ini? Terlalu dekat, aku tak bisa merapal sihir! Reyl entah di mana...”

“Awas!” Maven menyeruak ke depan gadis yang ternyata penakut ini, menggorok leher imp yang akan menggigit Sophia dari samping.

“Aagh!” Sambil berteriak panik, Sophia menyabet-nyabetkan tongkat berkaitnya ke kiri, kanan. Yang disapunya hanyalah udara kosong. Seekor zerumata tiba-tiba menyapukan cakar-cakar panjangnya, menggores punggung penyihir berambut merah itu.

Refleks, Sophia memutar tongkatnya tegak lurus dan mencungkil mata raksasa si zerumata.

Sedetik kemudian, cakar monster ketiga monster berwajah seperti ikan bergigi panjang, bermulut lebar mengancam leher Sophia. Penyihir itu tak bereaksi pada serangan itu, menolehpun tidak.

Melihatnya, Maven melompat. Ia menancapkan satu, dua belatinya di kepala dan tengkuk monster penyerang Sophia ini, meluputkan sang rekan dari maut.

Ditatapnya wajah Sophia sekilas. Belum pernah Maven melihatnya setakut ini sejak pertama kali berburu monster bersama. Tentu saja, selama ini ia selalu menempel di belakang Reyl dan Reyl selalu melindunginya dengan kepiawaian ilmu pedangnya.

Rapal, tembak. Rapal, tembak, hanya itu saja yang perlu Sophia lakukan. Tak seperti sekarang.

Musuh terus berdatangan.

Sambil melentingkan tubuh ke belakang, Maven merobek kulit tebal seekor gavial, siluman buaya dengan jurus Tikaman Roda Kereta.

Seekor harpy mendadak muncul menyambar dan berhasil membenamkan cakar-cakar di kedua kakinya pada bahu Maven. Lalu monster seukuran manusia berkepala wanita dan bertubuh burung itu mengepakkan sepasang sayapnya yang besar, mengangkat tubuh Maven ke udara dengan kekuatan luar biasa. Dari arah terbangnya, terbaca niat monster ini untuk menancapkan tubuh Maven pada stalagmit runcing terdekat.

Kali ini, Maven tak berdaya pada posisi menggantung ini. Ia hanya berusaha berayun agar bukan tubuhnya tapi kakinya yang menyentuh stalagmit hingga tiba-tiba...

“An Jokul’me Shuryv!”

Kepungan pada Sophia yang sudah mengendur membuat penyihir ini leluasa merapal mantra tercepat yang dikuasainya. Hujan Panah Es tercurah dari langit-langit gua, menembusi tubuh si harpy dan monster-monster terbang lain di sekitarnya.

Maven cepat bereaksi dengan memutar tubuhnya di udara sambil menangkisi serpihan-serpihan es tajam dengan jurus belati Pusaran Angin Membelah Awan. Tubuhnya meluncur terjun dengan deras... tepat ke stalagmit di bawahnya. Dengan amat lincah Maven menjejakkan kakinya pada sisi puncak stalagmit, lalu mendoncang terjun sambil mengarahkan sepasang belatinya tepat ke hadapan Sophia. Gadis penyihir itu terperangah

“Merunduk!” teriak Maven.

Sophia merunduk dengan refleks. Belati Maven melesat di atas kepalanya bagai anak panah raksasa dan menancap telak di kepala besar monster itu.

Maven mendarat mulus di tanah, merampungkan aksi akrobatiknya. Hal berikut yang mendatanginya adalah rasa nyeri pada luka-luka barunya yang tidak dalam. Dilihatnya Sophia berdiri sambil gemetaran dengan wajah pucat bermandikan keringat dingin.

“Kau baik-baik saja, Sophie?” Maven menepuk pundak rekannya itu dan dibalas dengan anggukan lemah. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Sophia sambil berujar, “Ayo, kita cari Reyl bersama-sama.”

Dengan wajah lesu dan dahi berkerut Sophia menoleh ke arah Maven, terdiam sesaat. Baru beberapa saat kemudian roman wajahnya berubah. Senyumnya terkulum manis. Diraihnya tangan Maven sambil menjawab, “Ya, dan mencari Declan juga.”

Jadi, untuk pertamakalinya kedua gadis yang semula tak pernah akur, selalu bersaing ini berjalan beriringan.

Lorong demi lorong mereka lewati. Setiap monster yang menghadang dapat mereka singkirkan dengan bayaran tak lebih dari lecet-lecet di kulit saja.

Mereka terus berjalan tak tentu arah dengan hanya firasat hati jadi pandunya hingga tiba-tiba...

“Aiih! Berhenti, Sophia!”

Langkah kaki Maven terhenti.

“Lho, ada apa, Mave? Mengapa aku...”

Belum sempat Sophia menyelesaikan bicaranya, ia terperangah melihat pemandangan yang dilihat Maven. Sebuah jurang melintang di hadapan mereka, yang jaraknya tak terlalu sulit untuk dilompati dari tepi satu ke tepi seberang.

Maven menengok ke bawah. “Sepertinya kita harus melompati jurang ini. Ini jalur satu-satunya, dan jarak ke jalur percabangan terdekat sebelum ini terlalu jauh. Bagaimana menurutmu, Sophie?”

Sophia melihat sekeliling, lalu menunjuk ke seberang. “Lihat, Mave! Dinding di seberang jurang itu! Ada tanda ‘silang-salib’ di sana. Itu kebiasaan Reyl menandai jalan tiap kali berburu di tempat yang belum pernah didatanginya! Itu berarti mereka memang lewat jalan ini! Ah, Reyl, dia memang hebat, selalu memperhatikan rekan-rekannya.”

Lagi-lagi terbit rasa sesak di dada Maven saat mengetahui tingkat kedekatan dan kekompakan Sophia dan Reyl ini.

Tapi rasa itu cepat-cepat dikuburnya. Maven berujar, “Baiklah, kalau begitu biar aku yang melompat lebih dahulu untuk memperhitungkan jarak jurangnya.”

Elf itu mundur lima, enam langkah untuk mengambil ancang-ancang. Lalu dengan satu tarikan napas ia melesat lari ke tepi jurang dan melompat...

Kakinya berayun-ayun bagai berjalan di udara...

Diikuti gerakan tangannya yang bagai berenang...

Hingga mendarat dengan posisi berjongkok di seberang jurang.

Maven berbalik dan berseru pada Sophia, “Sophie, jurangnya cukup lebar. Reyl dan Declan berhasil melompatinya, tapi aku tak yakin apa kau...”

“Aku bisa! Itu pasti, lihat saja!”

Dengan tongkat sihir kembali tergantung di bahu, Sophia cepat-cepat ambil ancang-ancang, berlari secepatnya sampai di tepi jurang. Lalu melompat jauh... dan jauh...

Sesaat Sophia meraih tanah seberang dengan kakinya, tapi tak sampai. Padahal tinggal sejengkal lagi. Dicobanya meraih dengan tangan, tak teraih pula... Gantinya jurang gualah yang hampir pasti menyambutnya dalam kematian.

Kurang sedetik antara kepastian hidup dan mati, satu tangan terulur ke bawah jurang, tepat menangkap tangan Sophia yang terjulur ke atas.

Maven melihat ke bawah, lalu dengan sigap meraih lengan Sophia ke atas. Dengan satu hentakan ia menarik seluruh tubuh Sophia sekuat tenaga. Alhasil, si gadis berambut merah jatuh terjerembab pada posisi aman di tanah. Atau tepatnya, di atas tubuh si penyelamat.

“Aduh.” Maven mengerang pelan.

Sophia yang rupanya masih terguncang akibat pengalaman hampir mati tadi terpaku tak bergerak di atas tubuh Maven, posisi yang amat canggung bagi si gadis elf ini. Hingga Maven berdehem. “Ehm, Sophie... Sophie!”

Sontak Sophia tersentak, berguling ke kanan dan berbaring terlentang, napasnya memburu. Maven menoleh pada Sophia di sampingnya, lalu si gadis berambut merah menoleh balik padanya. Keduanya bertatapan sejenak dalam diam. Lalu meledaklah tawa keduanya.

“Hahaha... Ah, Maven, terima kasih kau telah menyelamatkan nyawaku,” ujar Sophia.

“Yah, apapun untuk membantu teman,” jawab Maven sambil bangkit dan mengulurkan tangannya. Sophia menyambutnya dan bangkit pula.

“Eh, Mave, tolong jangan bilang-bilang Reyl yah soal ‘posisi menumpuk’ tadi, ya...” kata Sophia.

Maven menjawab dengan nada manja, “Ya, tentu. Aku tak akan bilang ‘posisi menumpuk’, tapi ‘posisi tumpang-tindih’!”

“Ah, kamu, Mave!” Sophia mendorong bahu elf yang baru jadi sobat sejatinya ini dengan tinjunya. Tawa mereka kembali berderai.

Maven kembali menyiagakan busur-panahnya. “Ayo, Sophie,” ujarnya. “Sebaiknya kita bergegas menyusul para pria. Mereka mungkin sedang perlu bantuan kita.”

Sophia mengangguk, menggenggam tongkat sihir berkaitnya dengan dua tangan dan berjalan menyusul rekannya yang lincah ini.

==oOo==

Sementara itu, Declan dan Reyl terus berjalan menyusuri lorong-lorong gua yang gelap.

“Apa tak sebaiknya kita menunggu Maven dan Sophia dulu, Reyl?” tanya Declan.

Tanpa menoleh, terus berjalan, si pendekar berbaju hitam berujar, “Tak perlu. Biar kita yang membuka jalan untuk mereka. Kau sudah lihat tadi aku meninggalkan banyak tanda, ‘kan? Maven dan Sophia itu cerdas, mereka pasti bisa menyusul kita dari jejak monster-monster yang baru kita bunuh tadi dalam lorong-lorong gua yang seperti labirin ini.”

Ia menunjuk. “Ah, lihat, Declan. Ruang terbuka yang luas. Sepertinya ini pusat gua, sarang Udmelekh.”

Declan menanggapinya dengan melangkah ke dalam ruang besar itu. Ekspresi wajahnya berubah bagai dihadang selaksa hantu.

Rupanya ruangan yang menyerupai kubah raksasa itu penuh dengan tulang-belulang yang berserakan di lantai, dan juga satu tumpukan besar tulang manusia, binatang dan monster di tengah-tengahnya.

Bersama formasi stalaktit, stalagmit dan tiang gua yang dari luar nampak seperti sederet taring dalam rahang raksasa. Bau anyir darah kering dan mayat-mayat membusuk. Semuanya ini membentuk dekorasi yang mengingatkan siapapun yang melihatnya pada neraka.

“Jadi, ini singgasana ‘kerajaan monster’ Mordsgard. Tapi kelihatannya Sang Ratu sedang tak ada di tempat,” ujar Declan, menegadah ke langit-langit sambil pasang kuda-kuda siaga.

“Ya, kau benar,” Reyl memasukkan peta kembali ke sakunya. “Tak seperti ratu monster pada umumnya, yang satu ini cukup ‘rajin’. Lagipula, kurasa situasi di sini terlalu sepi, terlalu... mudah. Bagaimana kalau kita buat acara ini sedikit lebih ‘meriah’?”

“Mungkin akan lebih seru kalau kita menunggu Maven dan Sophia. Tapi melihat situasi ini, terpaksa kita harus memulai pesta tanpa mereka,” jawab Declan.

“Baik, siap ya,” Reyl menarik napas panjang lalu berteriak sekeras-kerasnya.

Teriakan itu disambut raungan-raungan riuh-rendah.

Disusul suara gemuruh yang menggema di seantero gua.

Tanah bergetar, kerikil-kerikil berlompatan.

“Yap, ini jebakan. Ternyata setelah jadi monsterpun Udmelekh masih cerdas.” Declan berdecak kagum.

“Yap. Ayo, Dec, jangan banyak bicara lagi. Kerahkanlah gebrakan terkuatmu. Itu mereka datang!”

Serombongan monster berbagai jenis, dari yang sekecil kera sampai sebesar gajah menyerbu masuk balairung ratu monster ini. Mengeroyok dua manusia malang yang sebentar lagi akan dibuat berkalang tanah.

Sesaat kemudian, kedua manusia yang sudah nekad menantang sekerajaan monster ini menyerang balik, mengayunkan senjata-senjata mereka dengan jurus-jurus yang sanggup mendobrak kepungan seribu tentara.

Pedang Reyl berkelebat cepat dengan pola sabetan saling-silang. Itulah jurus Dewa Memetik Bintang, mencacah musuh secepat kerlip bintang.

Sementara tombak Declan menusuk-nusuk dengan kecepatan tinggi, yaitu jurus yang dinamai Serangan Kilat Jiwa Giat. Kekuatan mistis suci yang pekat melapisi ujung tombak Gracia Vadis membuat lubang-lubang dalam mematikan pada tiap titik kelemahan yang dilihatnya. Kecuali ditangkis, tak ada satupun tusukan yang percuma.

Di antara para pengepung, satu monster berbentuk tubuh mirip kepiting raksasa menyeruak lalu mengatupkan capit raksasanya di tubuh Declan, menjepitnya dan mengangkatnya tinggi.

Melihat rekannya dalam kesulitan, Reyl berbalik untuk menolong. “Tahan, Dec! Biar kubantu!”

“Tak… usah! Heaghh!”

Teiring letupan keras, Declan menghentakkan tenaga dalamnya, memaksa capit membuka bagai robek. Terbebas, ia memanfaatkan posisinya di udara dengan menghunjamkan ujung tombaknya yang berpusar seperti bor. Memecah cangkang keras si kepiting raksasa, terus sampai menembus kepala.

“Kita terobos mereka!” seru Declan. Dengan energi yang terlanjur ia ledakkan tadi, mau tak mau ia “mengamuk” dengan jurus Jalan Terjal Kebajikan. Menyabet dan menusuk dengan pola serangan acak namun terarah, terus berlari menerobos tanpa pandang bulu.

“Ya, teruslah ke lorong sempit itu!” Reyl menyusul sambil sesekali memutar tubuhnya, menyabetkan pedang mendatar dan membelah tubuh seekor imp. Secara bersamaan menembakkan selarik Sabit Api Tajam hingga memenggal siluman tikus di belakang si imp.

Di sisi lain, si pendeta sesat berhasil lolos dari kepungan monster. Ia terus berlari menyusuri lorong-lorong dan percabangan sempit, sampai tiba di lorong luas penuh stalaktit-stalagmit seperti di bagian depan Gua Mordsgard.

Tiba-tiba Declan hilang keseimbangan. Ia jatuh sendiri seperti layangan putus. Letupan auranya yang menggila tadi lenyap seketika. Declan memaksa diri bangun, tapi terduduk lagi. Kali ini seluruh tubuhnya gemetaran.

Reyl yang tiba di dekatnya tak berkomentar, seakan sudah menduga ha ini akan terjadi. Ia hanya menatap Declan dengan dahi berkerut sambil pasang kuda-kuda saja.

“Hmm, mengapa melihatku begitu? Apa kau mau mengejek kebodohanku meledakkan tenaga dalamku di saat yang tidak tepat? Tak usah banyak lagak, bilang saja terus terang!” hardik Declan sambil memegangi ulu hatinya yang sakit akibat pemaksaan energi tadi.

“Bukan, Dec! Lihat di belakangmu!”

Refleks, Declan menoleh ke belakangnya. Sesosok bayangan raksasa sedang berderap cepat dengan langkah berdebum, mengguncang lantai gua ke arah mereka. Ia mencoba berbalik untuk lari ke lorong sempit, tapi tubuhnya yang masih lemah membuatnya kembali terjatuh. Dengan cepat ia berguling ke sisi, menghindari entakan kaki raksasa.

Saat berikutnya, tampak Reyl yang melesat maju dengan pedang, menusuk lurus sambil berteriak, “Udmelekhhh!”

Pandangan Declan cepat beralih pada sasaran Reyl. Sesosok makhluk dengan bentuk tubuh tak beraturan seperti yang tergambar di poster di serikat pemburu. Dengan tambahan cangkang berbentuk rumah siput raksasa di bahu kanan dan sulur-sulur raksasa seperti tentakel gurita sebagai pengganti tangan.

Dua lengan besar dan panjang, berjari tiga dengan cakar-cakar sepanjang bilah pedang di sisi kiri tubuh Udmelekh menyabet-nyabet ganas.

Perutnya yang gendut-bulat bergoyang-goyang seperti kantung kulit kambing berisi air, ditopang dengan delapan kaki yang berbentuk seperti kaki kepiting yang bergerak cepat dan lincah bagai laba-laba.

Yang paling mencolok dari penampilannya itu adalah kepala manusia, tepatnya seorang wanita gendut yang menyatu pada dada kiri monster, lengkap dengan mata, hidung dan mulutnya. Semua indera itu nampaknya tak berfungsi, karena digantikan oleh dua mata yang menyembul dari puncak kepala monster seperti mata katak. Tampak pula mulut raksasa yang amat lebar seperti mulut katak, dengan dua deret taring kuning panjang nan runcing.

Tiga pasang tanduk mencuat dari bahunya yang menyatu dengan kepala, yang dapat digunakan pula sebagai senjata saat menyeruduk.

Dengan entengnya monster yang kerap dijuluki “Si Nyonya Besar” itu menepis tusukan Reyl dengan sulur-sulurnya, melontarkan si penyerang. Dengan sigap Reyl menjejakkan kakinya ke tembok, bertolak maju bagai lesatan anak panah. Lagi-lagi ia menusuk, kali ini mengancam sisi kanan si monster raksasa.

Lagi-lagi, dengan entengnya Udmelekh menyodorkan bahu berlapis cangkangnya ke kanan, menangkis sepenuhnya tusukan Reyl dengan perisai alami yang keras ini. Saat bersamaan, tangan kirinya melesat untuk membenamkan cakar ke tubuh Reyl.

Dengan cekatan, Reyl menekan pedangnya pada cangkang lalu melenting ke belakang, sepenuhnya menghindari serangan cakar.

Udmelekh berdiri tegak, matanya menatap sekeliling seakan mempelajari kedua lawannya. Geraman keras menggema dari mulut raksasa itu, yang lalu terbuka selebar mulut ikan hiu, menyemprotkan cairan kehijauan seperti lumpur.

Refleks, Declan dan Reyl berguling ke samping, menghindar. Lendir hijau bercipratan dan menyentuh kulit lengan dengan pelindung Declan. Kulitnya yang terkena terasa amat gatal.

Declan berteriak, “Awas, Reyl! Lendir beracun! Jangan sampai terkena!”

Reyl berseru balik, “Tapi bukankah kita punya aura pelindung?”

Declan menggeleng. “Bukan jaminan. Pokoknya jangan sampai lendirnya menempel!”

Reyl tak menjawab. Ia sibuk bergerak kesana-kemari, menghindari sabetan sulur maut dan cakar pedang si monster.

Kekuatan Declan yang mulai pulih terwujud pada gerakannya yang tak terlalu lincah namun cukup untuk menghindari hampir semua serangan musuh. Kecuali saat Si Nyonya Besar menusukkan ujung salah satu sulurnya yang runcing telak di dada Declan yang berpelindung terkuat.

Si pendeta mundur setapak. Luka-luka yang relatif ringan masih memampukannya bergerak cepat, menggores sulur-sulur lainnya yang terjulur cepat dengan tombaknya.

Tanpa mereka sadari, kedua pemuda itu bertarung sambil terus lari, menjauh dari lawannya. Mereka hanya menangkis serangan beruntun tanpa jeda dari berbagai jenis senjata yang menyatu pada satu tubuh ini.

“Declan, apa kau... augh! Sudah tahu titik lemahnya? Aahh!” seru Reyl saat terpukul di bahu dan tersayat di punggung.

“Belum! Pola serangannya tak terbaca... ugh! Dia membabi-buta! Tapi, aduh! Pertahanan sulurnya terlalu rapat, sulit memasukkan serangan!” Dua luka lagi merekah di tubuh Declan.

“Ada belokan ke kiri, awas!”

Peringatan Reyl terlambat. Declan yang terpecah perhatiannya antara jalan dan musuh terbentur punggungnya di dinding gua di belokan. Detik berikutnya, cakar Udmelekh melesat untuk membuat sate dari pemburu yang tersudut ini.

Dengan tenaga yang lima puluh persen pulih, Declan menjatuhkan diri ke lantai sambil menyusur maju. Sementara cakar monster menghantam hingga melubangi tembok.

Belum sempat Declan mengambil nafas, satu cakar lagi meluncur turun ke arahnya. Tak sempat menghindar, ia mengangkat tombaknya dengan dua tangan dan menangkis sekuat tenaga. Jari-jari Udmelekh membentur tombak, ujung kuku-kukunya tinggal dua jengkal jauhnya dari wajah Declan. Tangan Udmelekh menekan lebih kuat, dan cakarnya tinggal sejengkal lagi...

Terhenti. Ada sesuatu yang menahannya. Pedang Reyl.

Alhasil, tekanan di tombak Declan mengendur, dan si empunya mendorong sekuat tenaga lalu sekali lagi berguling ke samping.

“Awas, dia akan menyemburkan lendir lagi!”

Teriakan Reyl itu membuat Declan beringsut cepat, sejauh mungkin dari lawan sambil memutar-mutar tombaknya seperti baling-baling.

Sekali lagi, mulut ultrabesar Udmelekh memuntahkan lendir hijau yang lebih banyak dari sebelumnya, hingga bercipratan di lorong gua yang luas itu. Akibatnya, kaki-kaki Reyl dan Declan seakan lengket, menempel di lantai dan tak bisa digerakkan.

Tak hanya itu, lendir juga menyelubungi sebagian tubuh kedua pemuda itu. Rasa gatal makin parah. Cakar-cakar dan sulur-sulur maut sang monster melesat sesaat kemudian untuk membebaskan semua rasa tersiksa itu, selamanya. Jantung Declan serasa meledak di hadapan maut, yang kali ini mustahil dihindarinya...

Tiba-tiba langkah Udmelekh terhenti. Monster itu malah tersurut selangkah ke belakang. Kepala besarnya yang menyatu dengan bahunya menegadah, ada darah hijau menyembur dari sana.

Penasaran, Declan menajamkan penglihatannya yang terhalang lendir. Matanya samar-samar melihat sesuatu tertancap di kepala monster itu, tepat di posisi mata kiri yang sebesar mata manusia itu. Sebatang anak panah.

Terkesiap, ia menoleh ke belakang. Dilihatnya dua sosok wanita. Yang satu berdiri tegak memegang busur-panah sambil membidik, yang satu lagi menyeruak maju sambil mengacungkan tongkat sihirnya.

Wanita berambut kemerahan itu merapal, “Petrasancti Tempra!”

Seketika, Air Suci tercurah dari ujung kristal tongkatnya, mencuci bersih lendir dari tubuh Reyl dan Declan. Rasa gatalpun berganti jadi kepanasan serasa kulit melepuh, dan setelahnya normal kembali.

“Maven, Sophia! Senangnya kalian datang tepat waktu,” seru Declan. “Terima kasih.”

“Nanti saja saling sapanya,” ujar Reyl, pasang kuda-kuda lagi. “Si Nyonya Besar sudah mengamuk, kita harus terus bertarung sambil lari.”

Benar juga, Udmelekh memang sedang sibuk sendiri saat itu. Anak panah Maven yang menghilangkan mata kirinya membuatnya menghentak-hentak kesakitan, berputar-putar.

Declan, yang larinya paling lambat di antara keempat pemburu sekali lagi menoleh ke belakang. Udmelekh membusungkan dada lalu membungkuk, membuka mulutnya lebar-lebar seraya meraung murka.

Kaki-kaki monster itu melangkah cepat, dalam sekejap jarak antara dia dan keempat lawannya sudah terlampaui separuhnya.

Satu anak panah lagi melesat, dan kali ini ditangkis dengan sulur Udmelekh. Reylpun menembakkan serangan jarak jauhnya, Sabit Api Tajam dan lagi-lagi mentah di perisai cangkang siput si monster.

“Gila, tak bisakah kita melukainya cukup parah?” teriak Declan yang nampak mulai frustrasi, menangkisi serangan demi serangan sambil lari.

Reyl menjawab, “Ya, kita hanya bisa bertahan. Sophia, coba sihir dia!”

Sophia yang berlari paling depan bersama Maven menyahut panik, “T-tak bisa! Panah Es, mantra tercepatpun percuma, pasti ditangkis juga!”

Tiba-tiba Maven berseru, “Hei! Aku punya akal!”

Setelah ia mendapat perhatian rekan-rekannya, ia menunjuk-nunjuk sebagai isyarat. Ketiga pemburu lainnya mengangguk tanda mengerti. Reyl ganti memberi isyarat dengan satu jari, dua jari, lalu tangan dikepal.

“An Jokul’me Infer!” Sophia menembakkan Panah Es tunggal, seiring tiga panah Maven yang ditembakkan sekaligus. Ditambah pula selarik Sabit Api Tajam Reyl dan segaris sinar putih tajam yang melaju dari tombak Declan: jurus Cahaya Iman Penerang Jalan.

Enam serangan ke enam sasaran berbeda: kepala manusia, mata, dada, perut kiri, perut tengah dan mulut monster. Tentu saja si Nyonya Besar lumayan cepat mengayunkan lengan-lengan dan sulur-sulurnya untuk menangkis. Dari serangan itu, yang mengenai sasaran adalah sabit Reyl di dada dan sinar tombak Declan di perut kiri. Kekuatan kedua serangan itu sudah cukup membuat Udmelekh tersurut satu langkah.

Si Nyonya Besar lantas maju sambil meraung lagi, namun para lawannya sudah jauh dari jangkauan.

“Bagus, sepertinya kita berhasil menjauhinya.” Reyl tersenyum sambil terus berlari di depan rekan-rekannya, melewati belokan dan percabangan gua.

Sesaat kemudian, langkah-langkah berat berirama cepat kembali terdengar.

Reyl menoleh ke belakang. Senyumnya sirna, berganti matanya yang terbelalak. “Gila! Udmelekh menyusul kita!”

Declan menyahut, “Reyl, lihat di peta, cari jalan menuju pusat gua tadi!”

Reyl kembali melihat petanya. “Oh ya! Tak jauh dari sini! Kita ke sana! Kurasa aku bisa menebak rencanamu itu, Dec.”

“Oh ya? Memang sederhana saja, tapi kuharap Udmelekh sudah kehilangan kecerdasan manusianya dan tak menebak rencana ini.”

Maven terus berlari sambil menunjuk. “Ada celah di sana, itukah jalan sempitnya?”

“Ya! Tak salah lagi!” Reyl mengangguk lalu berbelok masuk. “Kita akan tahan Udmelekh di sini! Sophie, siapkan sihir terkuatmu!”

“Baik!” Sophia mengangguk cepat, mengambil posisi paling belakang dan mengacungkan tongkat sihirnya. Tampak aura es seperti hamparan kristal menyelubungi tubuhnya.

Raungan Udmelekh terdengar.

“Itu dia datang... Tahaann!”

Tubuh si Nyonya Besar tentu terlalu besar untuk lorong sempit ini. Hanya perut gendutnya saja yang tampak dari dalam lorong. Sontak Reyl dan Declan menghujani perut itu dengan sabetan-sabetan bertenaga penuh. Bilah-bilah tajam senjata mereka hanya menggores-gores tumpukan lemak tebal itu, seperti sebelumnya.

Disusul teriakan Maven, “Lihat, teman-teman! Pusar besar di perutnya itu berkerut aneh! Sepertinya akan... menembakkan sesuatu!”

Declan berseru panik, “Aagh! Kita tak punya bahan untuk menyumbatnya di sini! Cepat, Sophie, tembak dia dulu!”

“Tapi kekuatannya belum cukup!” Sophia masih terus menghimpun tenaga, tak bergerak.

“Menghindar!” teriak Reyl. Declan, Reyl dan Maven segera beringsut ke belakang si penyihir.

Secepat kilat, Maven menembakkan panah ke dalam lubang pusar raksasa itu sebagai usaha pertahanan terakhir. Bukan tersumbat, pusar itu malah berkerut makin dalam.

“Terpaksa mantra ini saja! An Jokul’me Fyasch!”

Selarik tembakan Badai Es meluncur dari tongkat Sophia, lurus menuju pusar Udmelekh. Saat bersamaan, pusar besar si monster menembakkan sinar hitam, yang kekuatannya “mengukir” lorong sempit itu menjadi sedikit lebih besar.

Saat berikutnya, dua kekuatan itu saling bertumbukan, dorong-mendorong.

“Aah, gawat! Badai Es ditekan sinar hitam!” Declan berseru.

“Sudah kubilang... ini bukan... sihir tingkat tertinggi! Aaaghh! Aku tak kuat! Maaf, teman-te...”

Sebelum Sophia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba sepasang tangan lembut menyentuh bahunya.

“Ayo Sophie, kami bantu! Tahan balik dia!” seru Maven, mengalirkan tenaga dalamnya sendiri ke tubuh rekannya itu. Declan juga menyentuhkan tangan di bahu Maven. “Ya! Bersatu kita teguh!”

Reyl di paling belakang ikut mengalirkan tenaga tanpa bicara.

Dengan kekuatan tambahan berlipat ganda ini, Badai Es Sophia berangsur-angsur menekan balik larik sinar hitam itu. Perlahan tapi pasti makin dekat, dekat ke arah musuh.

Teriakan Reyl membahana, “Udmelekh lebih kuat dari kita berempat, tapi bukan berarti ia tak bisa dikalahkan! Hentakan terakhir, Heeaaah!”

Declan dan Maven ikut menghentak. Sophia mewujudkannya dengan mengirim satu gelombang badai yang bergulung bak roda gila ke arah musuh.

Tumbukan dua kekuatan kali ini menimbulkan satu ledakan dahsyat yang melontarkan keempat pemburu ini ke tempat terbuka...

... Inti Gua Mordsgard, sarang Udmelekh.

Declan terkapar, nyeri menjalari seluruh tubuhnya. Ia bangun dan terduduk. Dilihatnya Sophia dan Reyl terkapar tak jauh darinya.

Hanya Maven yang pelan-pelan bangun. Gadis itu berdiri limbung, menyandang kembali busurnya dan menggenggam belati kembarnya dengan tangan bergetar.

Sesaat kemudian, raungan Udmelekh terdengar lagi. Declan berusaha bangkit lagi, dan jatuh lagi. Ia lantas berseru, “Lari, Maven!”

Maven bergeming. “Tidak! Aku takkan meninggalkan kalian!”

Seruan Maven itu disambut Si Nyonya Besar yang menyeruak masuk.

“Hei, Nyonya Besar! Kejar aku!”

Maven dengan lincahnya melesat. Kaki-kakinya melompati dinding, stalaktit, stalagmit dan tiang gua. Si monster raksasa menyibak-nyibakkan sulur dan tangannya, seakan mengusir nyamuk yang berseliweran dan menyengat tanpa henti.

Hingga kemudian, si monster gendut menyabetkan dua tangan kirinya sekuat tenaga, lagi-lagi hanya menyibak udara kosong.

Tiba-tiba Maven mendekat dan sontak menghujani kepala monster itu dengan kombinasi tusukan berkekuatan penuh bagai bor, Pusaran Pembelah Roh. Lagi dan lagi, tanpa henti, seakan mengikis kulit kepala setebal kulit badak itu.

Darah lendir hijau mulai memercik dari kepala Udmelekh seiring raungan kesakitannya. Sesaat monster itu tampak pasrah, diam saja di tempat. Saat berikutnya ia melesatkan sulur-sulur guritanya, membelit tubuh Maven dari dada sampai kaki.

Maven terperanjat. Rupanya ia terlalu sibuk menyerang hingga lupa bertahan, menghindar dan salah memperkirakan sisa kekuatan lawan hingga jurus pamungkasnya ini dipatahkan dengan mudahnya. Kini ia terjepit bagai calon mangsa ular boa pembelit. Sedetik kemudian petir menjalari sulur-sulur maut itu.

Tubuh Maven kejang-kejang, bola matanya jadi putih berkilat. Jilatan petir magis keluar dari mulutnya yang ternganga. Tanpa tenaga dalam dan aura pelindung, pasti ia sudah tewas sekarang.

“Maveennn!” Declan berusaha bangkit untuk menolong, tapi tubuhnya seakan tak mau menuruti otaknya. Keputusasaan mulai tersirat di wajahnya.

Terdengar raungan, namun itu suara manusia. Declan menoleh dan melihat Reyl berdiri agak bungkuk, dengan aura bagai api hitam menjilat-jilat di sekujur tubuhnya. Kedua matanya yang jadi merah menatap nyalang, muncul kerutan aneh seperti nadi menonjol pada dahinya. Tak percaya penglihatannya, Declan memaksakan diri bangkit.

Menggenggam pedang dengan dua tangan, Reyl merangsek maju. Sambil terus meraung, pemuda itu menyabet-nyabetkan pedang dengan ganasnya.

Udmelekh menghunjamkan cakarnya ke arah musuh. Mendadak lengan besar itu malah melayang putus seperti baru dipenggal dengan golok raksasa.

Tak hanya itu, Reyl yang kini bagai kesetanan memenggali sulur-sulur gurita, hingga korban yang dibelitnya itu terlepas, jatuh ke tanah.

Udmelekh lalu mencondongkan kepalanya untuk menelan Reyl bulat-bulat, disambut dengan sabetan menggila yang memporakporandakan mulut si raksasa itu. Terus, membacoki kepala si Nyonya Besar tanpa ampun.

Disusul satu tusukan pamungkas seperti serangan bor di kulit kepala yang sudah retak oleh serangan Maven tadi, menjebol kepala monster itu hingga darah lendir hijaunya bercipratan kemana-mana.

Sampai bilah pedang Reyl terbenam sepenuhnya di kepala Udmelekh.

Monster raksasa itu terhuyung sesaat. Ia tumbang menyamping di lantai gua, tak lagi bernyawa.

Reyl mendarat mulus di tanah, tanpa pedangnya.

Declan yang kini berdiri limbung terperangah melihat Reyl yang melakukan kengerian tadi. Ia lalu menghampiri pria yang setengah membungkuk dan masih diselubungi hawa iblis itu sambil berkata, “ Reyl, itu tadi... kekuatan iblis... mustahil itu kekuatan dari dirimu sendiri.”

Ia langsung menunjuk. “Ah, lihat! Kalung di dadamu itu berpendar! Jangan-jangan...”

Belum sempat Declan selesai bicara, tiba-tiba Reyl maju menerjang. Menghujani si pendeta sesat itu dengan tinju membabi-buta.

Declan terpaksa menangkis dengan tombaknya sambil berseru, “H-hey! Reyl! Gila! Reyl, ini aku, Declan, temanmu! Re… uuuff!”

Satu tinju mendarat di perut Declan, disusul satu lagi di pelipisnya. Setelahnya, hujan pukulan tak terkendali lagi hingga tombak pendeta itu terjatuh.

“Siaaal! Mau main kasar? Makan ini! Dan ini!”

Kedua pria itu bertukar tinju, tanpa jeda sedetikpun. Walau sama-sama punya aura pelindung, tampak wajah Declan mulai bengkak-bengkak membiru.

Sebaliknya, Reyl masih gelap mata, memberondong dengan pukulan dan tendangan. Lalu ia meluncurkan satu tinju berkekuatan penuh, menghantam perut lawan hingga terpental jauh ke belakang, membentur bangkai monster.

Declan yang kini kepayahan hanya bisa terbaring pasrah. Apalagi melihat lawan kembali menerjang ke arahnya. Satu tinju Reyl yang dilambari tenaga gelap mampu memecahkan kepala, menghabisi lawan.

Declan terlalu terkejut untuk menangkal maut di depan mata.

Tiba-tiba sang maut tersapu ke samping, arah serangannya melenceng habis. Declan mencoba memusatkan penglihatannya yang kabur pada Reyl. Anehnya, pemuda kesetanan itu tampak sibuk menghajar beberapa makhluk yang mengeroyoknya.

Dilihat lebih jelas, ternyata para pengeroyok itu adalah monster-monster . Rupanya, mereka mengamuk melihat ratu mereka sudah tewas. Naluri mendorong para monster membunuhi siapa saja yang masih berdiri, juga saling bunuh antar mereka sendiri.

Lambat-laun, yang tampak adalah Reyl yang tenggelam di tengah lautan monster. Lalu ia melayangkan pandangan pada Maven yang pingsan. Sophia terduduk di dekatnya, menyaksikan semua ini dengan tangan gemetar.

Sesaat kemudian, ruang kubah gua sarang si Nyonya Besar serasa berputar, berangsur-angsur makin redup, redup dan gelap... seiring suara tubuh Declan yang roboh di lantai gua.

Lalu segalanya jadi hitam, tak terasa apapun lagi. 

1 komentar untuk chapter ini