Crylionel

Gambar referensi untuk Kalung Crylionel dari Elegantgemstore.com

Masih di Gua Mordsgard, Maven membuka kedua matanya. Samar-samar tampak olehnya seraut wajah manis Sophia.

“Ah, Maven, kau sudah siuman?”

Mendengar suara gadis itu, si elf hanya menatap, memaksakan senyum lemah. Tubuhnya masih terasa nyeri dan kebas karena siksaan energi petir tadi.

“Harus kuakui, kau terhitung hebat, Mave. Kalau saja aku yang terkena petir sedahsyat itu, aku pasti sudah tewas. Kau memang sungguh terberkati, beruntung,” ujar Sophia sambil terus meraba-raba tangan dan dahi Maven, memeriksa kondisinya.

Penasaran, Maven menoleh ke arah lain. Ia menemukan Reyl dan Declan masih terkapar di tengah-tengah tumpukan bangkai monster yang menggunung.

“Reyl! Declan...! Apa... apa yang terjadi? Apakah mereka...?”

“Mereka tidak tewas, Mave. Apa kau tak tahu? Reyl menyelamatkanmu, menyerang Udmelekh dengan kekuatan berlipat ganda hingga menewaskannya. Tapi ia malah terus mengamuk dan menyerang Declan. Saat berikutnya, sepasukan monster mengeroyoknya, dan kini ia pingsan kehabisan tenaga. Aku membasmi monster-monster lain dengan sihir, dan sisanya melarikan diri.”

“Reyl, dia... mustahil dia sekuat itu...”

“Sudahlah, Mave, jangan bahas itu lagi. Istirahatlah dulu, biar aku yang berjaga di sini,” ujar Sophia sambil membaringkan rekannya ini di dinding gua.

Pandangan Maven makin jelas, menerawang ke sekeliling. Matanya terpaku pada bangkai Si Nyonya Besar, kepala monsternya sudah terburai isinya dan menyebar bau yang sangat busuk. Ia lalu larut dalam pikirannya sendiri...

Waktu terus dan terus berlalu...

“Ah, Declan? Kau sadar juga,” seru Sophia.

Maven tersadar dari lamunannya. Lalu ia menatap si pendeta sesat yang kini terduduk, menggeleng sambil memegangi kepalanya.

“Berapa lama aku pingsan?” ujar Declan.

Si penyihir membantunya duduk. “Entahlah. Sulit menentukan waktu di gua gelap ini.”

Declan menengok. “Wah, Maven sudah sadar juga? Hebat sekali dia, padahal lukanya lebih parah daripadaku.”

Sophia berkomentar, “Kadangkala aku penasaran apakah semua elf punya daya pulih hebat seperti dia... dan mengapa mereka semua memiliki anugerah itu dan kita, manusia, tidak. Ah, lupakan saja. Yang penting, sekarang tinggal Reyl yang belum sadar. Kita harus keluar dari Mordsgard sebelum monster-monster berdatangan lagi.”

“Reyl? Tunggu dulu…” Declan memaksa diri bangkit berdiri, menghampiri pemuda berambut hitam itu. Ia membalik tubuh yang tertelungkup itu seraya menunjuk. “Sophie, lihat kalung yang berpendar itu! Kita harus melepaskan benda itu dari dadanya, kalau tidak dia akan mengamuk lagi saat dia bangun nanti!”

Ia lalu mengulurkan tangannya.

Tiba-tiba, Sophia menahan dan menarik tangan itu. “Jangan, Dec! Itu Crylionel, kalung kristal hadiah ulang tahun dariku.”

“Begitukah?” Declan menoleh. “Apa kau lebih suka dia membantai kita semua daripada kehilangan satu hadiah ulang tahun? Pikir!”

“Tapi, kata Guru Lei...”

Tak mau mendengar alasan lagi, Declan meraih Kalung Sukma Es.

Tiba-tiba, kalung itu memancarkan sinar menyilaukan, melontarkan Declan ke belakang. “Aaah!” teriaknya.

“Apa? Bagaimana bisa...?”

Sophia baru akan menghampiri Reyl saat Maven memalangkan tangannya di depan tubuh saingan cintanya ini.

Maven menunjuk. “Tahan, Sophie. Lihat itu.”

Semua mata tertuju pada Reyl, terutama pada kalung kristal yang terangkat sendiri dari dadanya. Benda itu terus membubung ke udara, bahkan tubuh si empunya ikut terangkat.

Melayang, diam sesaat.

Saat berikutnya, kalung itu memancarkan cahayanya yang paling menyilaukan. Maven menutup mata dan mengangkat tangannya. Kedua temannya juga melakukan yang sama.

Setelahnya, cahaya itu hilang mendadak, dan tubuh Reyl jatuh ke tanah. Tak tahan lagi, Sophia sontak menghambur ke samping kekasihnya.

“Sophie, jangaan!”

Peringatan Maven datang terlambat. Sophia terlanjur memangku Reyl dan berseru sambil mencucurkan air mata. “Reyl! Reyl! Kumohon, jangan tinggalkan aku! Oh, Vadis, tolonglah dia! Aku takkan bisa hidup tanpanya!”

Tak disadarinya, air matanya menetes di wajah tampan Reyl. Pemuda itu mengerjapkan mata berbola birunya perlahan-lahan. Bibirnya bergerak-gerak, lalu dari mulutnya keluar suara amat lemah. “... Sophie?”

Mendengar itu, Sophia langsung memeluk Reyl erat-erat. “Oooh, Reyl! Kau sudah siuman! Kukira kau tadi sekarat karena ledakan itu! Ooh, terima kasih, Vadis!”

Dipeluk erat begitu, napas Reyl sesak. “Uugh... Sophie-ackk... tolong lepas... sesak...!”

“Apa? Oh, maaf, Reyl, maaf,” ujar Sophia sambil melepaskan pelukannya. Sesaat kemudian, ujung tombak salib bermata tiga Declan teracung di depan leher Reyl.

“Sedikit saja kau bergerak, tombakku akan mencabut nyawamu, Reyl Adelant,” ujar si pendeta sesat itu dingin.

“Apa-apaan ini, Declan...? Apa kau...?” Reyl mengerutkan dahi.

“Jangan pura-pura bodoh, Reyl. Sadar atau tidak, kau tadi mengamuk tak terkendali dan hampir membunuhku. Aku harus memastikan itu tak terjadi lagi.”

“Aku tak mengerti maksudmu.”

Maven lalu menengahi dengan menarik tombak Declan menjauh dari sasaran. “Tahan, Dec. Reyl sedang tak mengamuk sekarang, biar aku bicara baik-baik padanya.”

“Tapi, Mave... Ah, sudahlah,” gerutu Declan sambil menarik tombaknya.

Reyl menyela, “Apa maksud... semua ini, Mave, Dec? Yang terakhir kulihat... Maven dibelit Udmelekh... dan setelahnya... ah... aku tak ingat lagi.”

Maven menjawab dengan wajah serius, “Kalau begitu, biar kuceritakan kejadiannya...”

==oOo==

Reyl menggenggam kalung di dadanya itu. Saat ia ingin melepasnya, ternyata liontin kristal biru berbentuk bunga es itu menempel erat seakan telah menyatu dengan dadanya.

“Sial, tak bisa dilepas! Harus bagaimana aku ini? Terkekang seumur hidup? Aku-tak-suka-ditekan-begini!” Reyl memukuli dadanya sendiri, frustrasi.

Sophia menahan tangan kekasihnya. “Jangan! Jangan gegabah, Reyl, semua masalah pasti ada jalan keluarnya! Jangan ambil jalan pintas!”

Sambil mengelus pinggulnya yang ngilu, Declan menyela, “Bicara soal jalan keluar, kudengar tadi Sophie bilang kalung itu adalah hadiah darinya, dan ia juga menyinggung Guru Lei. Apakah semua itu saling bertautan?”

“Oh, iya.” Maven bertepuk tangan. “Karena ini hadiah ulangtahun dari Sophie, dan kalung itu tampak terlalu berharga untuk dibeli oleh pemburu monster yang hidup sederhana. Jadi, seseorang memberikan kalung itu pada Sophia untuk diteruskan pada Reyl, dan orang itu pasti...”

“Guru Lei,” aku Sophia. “Dia yang membantuku mencarikan hadiah karena aku ingin mengalahkan hadiah dari Maven.”

Reyl mendelik. “Jadi aku ini sekedar hadiah pertandingan? Belum pernah aku dihina seperti ini.”

“Bukan, bukan!” seru Sophia panik. “Aku sungguh tulus mencintaimu, Reyl. Hanya saja aku harus membuktikan pada Maven bahwa kau milikku, bukan untuk dibagi dengan yang lain, agar dia tak mengganggumu lagi untuk seterusnya.”

“Dengan kata lain, kau cemburu,” ujar Declan.

Sophia tak menjawab, ia hanya tertunduk saja.

Reyl baru akan bicara saat Declan menyela lagi, “Hei, aku tahu ini bukan urusanku, tapi bertengkarnya tolong ditunda dulu. Kita punya urusan yang lebih mendesak, seperti keluar dari ‘kerajaan monster’ ini.”

“Dan Reyl,” ujar Maven sambil menatap tajam pemuda itu. “Jagalah agar jangan terlalu emosional, karena emosi tinggi dan kemarahan bisa membuat kalung itu bereaksi lagi.”

==oOo==

Singkat cerita, keempat petualang muda itu sibuk memulihkan diri, dibantu dengan sihir penyembuhan Declan dan ramuan-ramuan sihir yang mereka bawa. Setelah merasa cukup kuat, barulah mereka berangkat. Tak lupa Declan dan Reyl memenggal kepala manusia si Nyonya Besar sebagai bukti untuk diserahkan pada Serikat Pemburu.

Dengan stamina cukup keempatnya berhasil melompati jurang dalam gua. Berkat panduan peta Reyl mereka keluar dari Mordsgard tanpa perlawanan berarti. Perjalanan pulang ke Lu Vazr lantas ditempuh dengan suasana agak canggung, tanpa pembicaraan yang berkesan.

Sesampainya di kota, mereka langsung ke Serikat Pemburu, lalu keluar lagi dari sana dengan wajah lebih ceria dari sebelumnya.

“Seribu crown, dibagi berempat,” ujar Declan sambil menepuk pundi-pundi menggembung dalam kantung jubah pendetanya. “Ayo, kita mampir dulu ke Bank Melchior untuk menyimpan sebagian uang ini, lalu ke kedai terdekat untuk merayakan keberhasilan kita menaklukkan si Nyonya Besar.”

Dengan wajah serius Maven menyela, “Ini bukan saat yang tepat untuk perayaan, Dec. Kita harus memecahkan misteri kalung Crylionel dan...,” Ia menyikut siku si pendeta sambil menunjuk ke arah kedua rekan lainnya dengan ibu jari tangannya. “Kau tahu ‘kan?”

“Oh, iya, benar juga.” Declan garuk-garuk kepala.” Rupanya terlalu lama berdiam diri-basa-basi di jalan membuatku agak lupa urusan.”

Sementara Reyl dan Sophia yang ditunjuk-tunjuk malah terus berdiam diri. Sophia menatap Reyl sekilas. Tapi yang ditatap malah memalingkan wajahnya, hingga gadis itu hanya bisa gigit jari.

Singkat cerita lagi, setelah “mengamankan” uang mereka, keempat anak muda ini kembali di jalanan kota. Maven angkat bicara, “Nah, soal kalung Reyl, kurasa kita harus menemui Nepathya Lei dan menanyakan asal-usul kalung itu. Kurasa ia menyembunyikan sesuatu dari kita.”

Mendengar itu, Reyl langsung mempercepat langkahnya. “Tunggu apa lagi? Ayo kita ke rumahnya sekarang.”

“Hei, tunggu! Kita belum sempat istirahat dari perjalanan jauh, tak bisakah nanti saja?” Declan berseru protes. Tapi karena ketiga rekannya terlanjur jalan menjauh, ia hanya bisa berjalan gontai di belakang.

==oOo==

Matahari baru akan turun ke peraduannya di sebuah bukit di luar Kota Lu Vazr. Sebuah gubuk reot berdiri di sana. Empat orang tiba di depan gubuk itu dengan berjalan kaki.

“Whew, inikah rumah gurumu, Sophie?” ujar Declan sambil mengernyitkan dahi. “Apa kau yakin dia bisa tinggal di gubuk reot yang sewaktu-waktu bisa runtuh ini?”

Sophia tidak menjawab, ia masih terlalu tegang memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Wajahnya masih tampak gundah dipenuhi rasa bersalah, ditambah Reyl yang tak mau bicara padanya. Diacuhkan begitu, si pendeta hanya bisa angkat bahu.

Reyl mengetuk pintu sambil berseru, “Guru Lei! Guru Lei!” Sekali lagi ia mengetuk pintu, dan karena tak ada yang menyahut, Reyl berbalik pada teman-temannya. “Guru Lei tak ada di rumah.”

“Yah, mau tak mau kita harus tunggu,” kata Maven sambil duduk di emperan gubuk. Declan duduk di sebelahnya. Reyl mondar-mandir di depan gubuk dan Sophia duduk agak menjauh dari teman-temannya dengan kepala tertunduk lesu. Tak satupun dari mereka bicara sedikitpun.

Kira-kira setengah jam kemudian, saat hari mulai gelap, Maven melihat si guru sihir Nepathya Lei berjalan pulang ke rumahnya sambil menjinjing kantung kain dan menyandang sabit.

Satu mata sang guru mendelik melihat tamu-tamu sore hari itu. Saat sudah dekat, ia berujar, “Lho, kalian sudah kembali dari Mordsgard? Apa kalian berhasil memburu si Nyonya Besar?”

“Kami berhasil membunuh Udmelekh, Guru Lei, dan orang-orang di Serikat Pemburu memuji kami karenanya,” jawab Reyl.

“Tapi ini sungguh kebetulan. Ada apa kalian berempat datang ke gubuk reotku ini? Bukankah kalian lebih nyaman di rumah Sophie?”

“Terus-terang di rumah Sophie memang lebih nyaman. Guru tahu ‘kan, aku tak pernah betah di gubuk yang penuh-sesak ini,” ujar Reyl dengan santai. Sebelum Lei sempat protes, ia menambahkan lagi. “Tapi ada hal yang mendesak, yaitu soal kalung ini.”

Reyl menunjukkan Crylionel yang tampak seakan melesak ke dalam kulit dadanya.

“Astaga...!” Mata Lei terbelalak dan mulutnya ternganga. “Ayo kita ke dalam dan bicara.”

Kelima orang itu masuk. Segera saja mereka memadati ruangan yang sudah penuh dengan kotak-kotak, rak-rak dan stoples-stoples besar yang berisi perlengkapan sihir dan peralatan-peralatan alkimia.

Bau-bauan menyengat menusuk hidung, membuat Declan berbisik pada Maven, “Wuah, blak-blakannya Reyl tadi cukup beralasan juga...”

“Aku dengar itu, anak muda,” seru Lei. “Aku bisa paham, sebagai pendeta kau pasti lebih terbiasa di tempat yang bersih dan rapi. Jadi maaf saja, kalau kau tak betah, kau boleh pergi dari sini kapan saja.”

“Eh... maaf, Guru Lei. Aku tak bermaksud menyinggung, hanya kelepasan bi...”

Ucapan Declan itu langsung dipotong oleh Maven, “Kita langsung saja, Guru Lei. Kalung itu adalah pemberian guru pada Sophia, bukan? Untuk ulang tahun Reyl?”

“Oh, Sophiekah yang memberitahumu?” Sudut mata Lei berkedut sesaat. Ia lalu menyentuhkan tangan pada perban yang selalu menutupi sebagian wajahnya dan menjawab, “Ya, memang aku yang memberikannya pada Sophie. Dan kurasa aku bisa menebak pertanyaanmu yang berikutnya, apa aku tahu kalau kalung ini punya efek samping?”

Keempat anak muda itu hanya menatap Lei tanpa berkedip.

“Oh, benar rupanya,” lanjut sang guru. “Tidak, aku tak tahu tentang itu.”

Baru kali ini Sophia angkat bicara, “Kalau guru tak tahu banyak tentang kalung itu, mengapa guru memberikannya padaku? Apa guru tak peduli perasaanku? Bagaimana kalau Reyl sampai celaka? Bukankah itu berarti mencelakaiku juga?”

Tak mampu lagi gadis itu meredam curahan air matanya.

Melihat itu, sang guru menghampiri Sophia. Ia memeluk dan membelai murid kesayangannya itu sambil bicara pelan, “Maafkan guru, Sophie. Pedagang keliling yang menjual kalung itu tak menceritakan seluruh detilnya, hanya bilang kalung itu bisa menghangatkan tubuh saat udara dingin, menyejukkan saat udara panas dan melindungi pemakainya dari sihir elemen api, itu saja. Aku terlalu terpengaruh keindahannya hingga lupa menanyakan efek sampingnya. Bilamana kesalahanku ini telah membuat kalian hampir celaka, dari lubuk hatiku yang terdalam mohon maafkanlah insan ceroboh ini.” Ia tertunduk.

Maven melihat titik-titik air mata berjatuhan dari wajahnya ke tanah. Suasana hening beberapa saat. “Sudahlah,” kata gadis mungil yang mudah terharu itu. “Daripada mencari-cari siapa yang salah, kita sebaiknya mencari cara menyembuhkan Reyl dari pengaruh Kalung Sukma Es. Seperti yang guru lihat, liontin kristal itu sudah menempel pada dadanya. Segala usaha melepasnya sudah gagal, dan sekarang kami kehabisan akal. Apa guru bisa membantu kami menemukan solusinya?”

Declan menimpali, “Ya, tentunya pengetahuan dan pengalaman guru lebih banyak dari... yah, aku, contohnya.” Ia mengepal-ngepalkan tangannya yang rupanya masih sedikit kesemutan akibat menarik langsung kalung Reyl waktu itu.

“Beri waktu aku untuk berpikir,” sahut Lei sambil bangkit dan melangkah gontai ke sudut ruangan yang dipenuhi tumpukan-tumpukan buku sihir. Terpaksa empat sekawan itu duduk menunggu dalam diam. Beberapa lama kemudian, tiba-tiba terdengarlah suara aneh seperti tanah amblas.

Sontak keempatnya bangkit dengan senjata di tangan.

“Suara apa itu?” seru Maven.

Detik berikutnya, Declan mengangkat tangan. “Eh... maaf, teman-teman, itu tadi suara perutku.”

“Apa?” Sophia terbelalak.

“Ya ampun!” Reyl menepuk dahi.

“Dec, aku tahu perutmu itu seperti sumur tak berdasar. Tapi masa’ tak ada cara yang lebih sopan seperti bilang ‘aku lapar’, ‘gitu?” Maven berkacak pinggang sambil memelototi Declan lekat-lekat.

“Iya deh, iya, maaf.” Jurus Garuk-garuk Kepala Declan muncul lagi. “Begini saja, aku akan ke kota dulu beli makanan untuk kita berlima, lalu kembali kemari, bagaimana? Pakai uangku saja.”

“Ya sudah, silakan, Dec. Kalau bisa kembalilah secepatnya, supaya Guru Lei tak terganggu konsentrasinya oleh ‘paduan suara perut keroncongan’ kami,” ujar Maven nakal.

“Yaa, boleh aku ikut? Suara perutku ‘kan paling keras, merdu pula...”

Lelucon si pendeta disambut satu jitakan dari Reyl, disertai hardikan, “Sudah, jangan bercanda lagi! Pergi beli makanan sana cepat! Hush, hush!” Tangan Reyl mengibas-ngibas angkuh.

“Wah, menyebalkan sekali!” sahut Declan. Lalu dengan gontai ia melangkah keluar rumah.

Sepeninggal Declan, Sophia yang kini tampak agak reda emosinya berkomentar, “Emmm... apa tak sebaiknya Maven saja yang pergi beli makanan? Firasatku mengatakan, Declan sudah mengambil tugas yang paling mudah, tapi dia bakal kembali sangat terlambat.”

Maven menjawab, “Bukankah sama saja, siapapun yang pergi? Memangnya ada tugas yang lebih sulit dari... oh.”

Ia baru menyadari sesuatu saat seruan Lei datang, “Hei, anak muda! Kalian jangan melamun saja! Ayo bantu aku! Kita ada banyak pekerjaan di sini!”

Maven tertunduk lesu, diikuti kedua rekannya. “Aku baru mengerti maksudmu sekarang, Sophie.”

==oOo==

“Bukan, bukan yang ini. Ambilkan buku di rak ujung sana itu. Itu, yang bersampul hijau!” seru Lei sambil menunjuk-nunjuk.

“Lho, yang mana, guru? Semua buku di sana kelihatan hijau-hijau!” ujar Maven sambil garuk-garuk kepala, tertular kebiasaan Declan.

“Hmmph...! Coba yang ada tulisan ‘Benda Sihir’-nya! Dan kau, Reyl.” Suara Nepathya berubah lebih halus. “Tolong kaubaca buku-buku di tumpukan sana itu dan cari tentang benda sihir.”

“Ya, guru,” ujar Reyl tanpa ekspresi di wajahnya, langsung melakukan apa yang disuruh. Sementara Sophia sendiri terbenam dalam buku mantra lainnya, diterangi sinar lilin.

Beberapa saat kemudian, ada ketukan di pintu dan seruan Declan, “Haloo, aku sudah pulang bawa makanan.”

Mendengarnya, Maven meninggalkan rak buku itu. Lalu melangkah ke arah pintu, membukanya dan mendamprat Declan yang berdiri di bawah gelapnya malam.

“Kau ini, mengapa lama sekali! Pasti makan dulu, ‘kan?”

Dengan santai Declan menjawab, “Ya iya toh? Aku kan memang sudah lapar, dan jalan kaki pulang-pergi ke kota ‘kan perlu energi! Memangnya kamu bisa melakukannya tanpa merasa lapar, Mave?”

“Eh, sebenarnya sih... bisa...”

“Iya deh, yang separuh elf.”

Declan baru saja melangkah ke dalam rumah saat seruan Nepathya Lei menggema, “Ah, ya! Ini dia! Aku dapat!”

Empat sekawan cepat berkumpul di dekat guru sihir itu. Lei menyibakkan rambut putih berkepang duanya agar bisa membaca lebih jelas.

Ia mulai membaca. “Lihat ini, kebetulan sekali ada keterangan tentang kristal Crylium, yang ciri-cirinya mirip liontin Kalung Sukma Es. Ini kristal yang sangat langka, hanya terdapat di satu tempat di Terra Everna. Zaburyvostok di Negeri Es Val’shka, yang juga terkenal sebagai...”

Declan menyela, “... Istana Es Abadi Sang Dewi Es, Frei Val’shka.”

Wajah Declan, Reyl dan Maven langsung berubah pucat seperti baru melihat hantu.

Sebaliknya, Sophia malah melongo melihat reaksi ketiga temannya itu. “Lho, memangnya siapa itu Frei Val’shka? Apa dia itu monster raksasa semacam Si Nyonya Besar?”

Lei menjawab, “Bukan, Sophie, tapi kekuatan yang jauh lebih mengerikan daripada itu. Di Zaman Dunia Pertama, Everna pernah mengalami Ragnarok, yaitu perang antar dewa, iblis dan segala makhluk. Di puncak dan akhir perang, terjadilah kiamat, yaitu seluruh dunia musnah oleh api.

Namun kiamat itu bukanlah akhir, karena Sang Sumber, pencipta Everna cepat memadamkan seluruh api dengan es abadi. Maka dimulailah Zaman Es.

Dalam zaman yang berlangsung seribu tahun itu muncullah Frei Val’shka. Ia adalah makhluk abadi yang jadi yang terkuat karena memanfaatkan Zaman Es, menguasai seluruh dunia sebagai Dewi Es. Maharani Seribu Tahun itu terus berkuasa hingga Zaman Es berakhir.

Dua abad setelah berakhirnya Zaman Es, Val’shka bangkit, ingin mengembalikan zaman kekuasaannya lagi. Kaisar Ketiga Arcadia bernama Lesnar Geine menggalang para pahlawan, menggelar perang dan menumpas habis Val’shka bersama laskar monster esnya.

Walaupun demikian, Istana Kristal Zaburyvostok itu masih tetap berdiri sampai kini, didiami oleh berbagai jenis monster dan makhluk gaib. Pengaruhnya sebagai sumber kekuatan gaib es abadi masih terasa sampai ke hutan luas di sekitarnya, hingga hutan itu selalu dipenuhi salju sepanjang tahun dan disebut ‘Hutan Putih’.”

“Wow, kelihatannya misi kali ini akan sangat ‘dingin’,” ujar Declan sambil berpangku tangan dan berlagak menggigil.

“Ya,” lanjut Lei. Di buku ini tak tertulis efek kristal Crylium ini, hanya ada daftar nama kristal yang terdapat di tambang itu beserta ciri-ciri fisiknya. Tapi aku yakin di tempat asal kristal itu pasti ada penawarnya, dan mungkin itu adalah salah satu dari kristal-kristal di daftar ini.”

“Jadi kita akan berkutat di istana itu dalam waktu yang cukup lama? Mencoba semua kristal satu-persatu dan mencoba-coba semua efeknya? Whew...” gumam Sophia. Matanya menerawang lalu menatap Reyl.

Sesaat kemudian, air muka gadis berambut merah itu berubah tegang. “Aah! Guru, lihat! Reyl... wajahnya pucat sekali! Dan dadanya! Lihat, ada kerut-kerutan aneh!”

Lei langsung bangkit dari tempat duduknya. Ia berjongkok di samping pemuda berbaju hitam itu, mengamati dada dan wajahnya, meraba dahinya.

Saat berikutnya, Lei mundur selangkah dan menghela napas. “Kita harus bergegas sekarang juga. Tampaknya kristal di kalung Reyl sedang menyedot daya hidup inangnya sedikit-demi-sedikit. Waktunya sangat mendesak, kita harus ke Val’shka sekarang juga. Jangan sampai terlambat menemukan penawarnya, atau nyawa Reyl akan melayang.”

Seperti petir di siang hari bolong, pernyataan itu seperti sebuah ultimatum mutlak. Mereka yang mendengarnya terpaku, terperangah, terdiam dalam tegang.

Di sisi lain, Reyl bangkit, berjalan menuju pintu sambil berseru, “Ayo, tunggu apa lagi? Kita kembali ke rumah, siapkan perbekalan dan peralatan.”

Ketiga sobat Reyl melongo mendengar reaksi bersemangat dari orang yang “sekarat” itu. Sesaat kemudian merekapun saling bertukar senyum semangat.

Sophia menengok ke arah Lei. “Guru, ikutlah dengan kami. Perjalanan kali ini akan sangat lama dan berat. Pengalaman, pengetahuan dan kehebatan guru akan sangat membantu kami agar bisa pulang dari Val’shka dengan selamat.”

Nepathya Lei menyentuhkan jarinya di dagu sejenak lalu berkata, “Hmmm... baiklah. Petualangan bisa menempa kembali kemampuan sihirku. Ayo kita berkemas.” 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?