Memerahkan Putih

Naga Es di Hutan Putih, Val'shka

Val’shka adalah negeri yang luas wilayahnya hampir setara dengan luas negeri-negeri lainnya di Benua Aurelia. Jarak antara keenam kota di kekaisaran ini sangat berjauhan, terpisahkan oleh hamparan hutan yang sangat luas.

“Wilayah itu adalah Hutan Putih Joklfrey, yang mengitari danau es serta sungai beku yang melintasinya. Kalian lihat? Istana Kristal berdiri tepat di tengah-tengah hutan itu,” kata Nepathya Lei sambil menunjuk ke arah timur.

Maven menatap ke arah yang ditunjuk dengan mata terbelalak takjub. Sebentuk kristal runcing bening seakan bersatu membentuk gunung tampak di kejauhan, dikelilingi hamparan putih bagai awan berarak. Bahkan udara dinginnya masih terasa sampai di tebing tempat Maven berdiri bersama Reyl, Sophia dan Declan.

“Konon, hampir tak ada manusia yang tinggal di wilayah itu. Jelas saja, karena masih banyak sekali wilayah yang lebih layak huni daripada Hutan Putih,” tambah Lei. “Tak ada peta yang jelas di hutan yang menyesatkan ini, jadi kita harus mengandalkan kompas, dan kalau bisa, mencari pemandu.”

“Whow, kalau sampai kita menemukan pemandu di hutan seluas itu, berarti kita sedang sangat beruntung.” Declan kali ini menggaruk punggung kepalanya.

“Tetap saja, ada atau tak ada pemandu, kita harus terus maju. Waktu tak akan menunggu,” sergah Reyl yang langsung melangkah meninggalkan tebing.

“Hei, tunggu, Reyl! Kita harus istirahat dulu di sini! Hari hampir gelap!”

Reyl mengacuhkan Declan begitu saja. Ia melangkah makin jauh, diikuti Sophia yang setengah berlari dengan wajah cemas dan Lei yang tanpa ekspresi.

“Ya ampun, orang ini! Menyebalkan! Mengapa pula aku membantunya jauh-jauh kemari?” si pendeta melangkah sambil mencak-mencak.

Maven menepuk pundak pria berambut pirang ini. “Karena dia ini sahabatku, sama seperti kau, sahabat sejak masa kecilku. Aku tak perlu mengulang alasannya, kan?”

“Ya, ya, tak perlu,” ujar Declan sambil berjalan bersisian dengan gadis bertubuh kecil ini. Kalaupun ia harus menyabung nyawa, ia akan melakukannya demi kebahagiaan gadis yang telah meluluhkan hatinya ini.

==oOo==

Kaki-kaki lincah Maven melangkah di antara pohon-pohon pertama di tepian Hutan Putih. Rasa dingin mulai merasuki tubuhnya, walau teredam mantel pendek berkerah bulu dan blus berbahan kulit tebal khusus untuk perjalanan musim dingin.

Keempat teman seperjalanannya yang dibalut pakaian tebalpun mulai merasakan dingin yang sama, bahkan Sophia mulai menggigil. Mata coklat jeli Maven beralih pada Reyl yang terus berjalan di depan rombongan bersama Guru Lei, menolehpun tidak pada kekasihnya itu.

Sebaliknya, Declan melepaskan selendang yang melingkari lehernya lalu menyerahkannya pada Sophia. “Ini, Sophie, pakailah. Kau lebih memerlukannya daripada aku.”

Sophia tak segera menyambut uluran selendang ini, malah mendelik. “Lho, memangnya kau tahan dingin hanya bermodalkan jubah dan bajumu saja, Dec?”

“Oh, tentu!” ujar si pendeta pirang mantap sambil menepuk dadanya. “Profesi boleh pendeta, tapi soal adu kuat aku jagonya. Tak usah kuatir, kau pakai saja.”

“Ew... makasih ya...,” ujar Sophia yang menerima selendang itu. Ia mengalungkannya di lehernya lalu bergegas menyusul Reyl.

Declan yang jalan di belakang Sophia rupanya gantian menggigil. Maven menghampirinya sambi berbisik, “Baik, tapi bodoh. Bodoh, tapi baik. Itulah kamu.”

“Lho, ini kan namanya ‘membantu sahabat’, seperti saranmu,” protes Declan sambil membusungkan dada. “Sedikit kedinginan tak masalah...”

“Ssst! Awas!” Maven menyiapkan busur-panahnya, sementara Declan mengacungkan tombak bermata tiganya.

Di depan, Reyl juga pasang kuda-kuda dengan pedangnya. Sophia dengan tongkat berkaitnya berdiri di sisi Lei. Guru sihir itu bersenjatakan tongkat kayu sepanjang kira-kira lima jengkal.

Sesaat kemudian, sesosok makhluk terbang menyambar. Reyl mengibaskan pedangnya ke atas, menyapu udara kosong. Tiba-tiba si monster tumbang ke tanah dengan anak panah menembus kepalanya. Maven menghampirinya. Ternyata itu adalah hornet, sejenis lebah raksasa.

“Awas! Dia pasti tak sendirian!”

Riuh-rendah dengungan lebah terdengar, seolah mengiyakan peringatan Maven. Dengan cekatan, gadis berambut coklat itu mencabut anak panah dari bangkai lebah pertama. Ia membidik lalu melesakkannya ke tubuh dua lebah sekaligus.

Kelebatan sabetan pedang Reyl membelah tubuh dua lebah lagi, sementara tusukan tombak Declan menghancurkan kepala lebah ketiga. Ketiga pendekar lalu sibuk menembak-nembak dengan jurus-jurus yang sama, hanya mondar-mandir dalam formasi. Sementara musuh yang unggul di udara jumlahnya masih sekitar sepuluh. Pergerakan terbang mereka makin lincah, menghindari jurus lawan dan menyerang balik layaknya jagoan pedang.

Saat para pendekar mulai kewalahan, datanglah suara lantang, “An Jokul’me Shuryv!”

Sophia dan Lei mengangkat tongkat sihir mereka tinggi-tinggi, dan Hujan Panah Es lebat tercurah dari langit. Para monster yang terkena curahan itu jatuh bertumbangan, sementara para pendekar saling melindungi dengan memutar-mutar senjata, menangkisi tiap serpihan es tajam itu sekaligus memanfaatkan pohon untuk pelindung dan aura pelindung tambahan dari Declan sebagai pertahanan terakhir.

Hujan itu reda dalam hitungan detik, namun para lebah kembali muncul. Rupanya ada beberapa di antara mereka yang berlindung atau kebetulan ada di bawah pohon pula, terhindar dari “hujan maut” tadi.

“Tembaki terus mereka! Tembak!” Reyl berteriak-teriak.

Satu lebah bahkan berpusar seperti bor, berniat membenamkan sengatnya di punggung Declan, mundur, lalu “mengebor” lagi berulang kali agar aura pelindung musuh jebol. Saat sengat meluncur lagi, si pendeta cepat-cepat tiarap hingga sengat itu tertancap erat di batang pohon bersalju. Sebelum lebah itu sempat mencabut sengatnya, bilah tombak Declan memisahkan tubuhnya jadi dua.

Tiga lebah lagi menerjang amat cepat ke arah para pemburu dalam formasi sejajar. Melihat itu, Maven memasang tiga anak panah sekaligus pada busurnya dan langsung menembak cepat. Alhasil ketiga panah itu menancap dan di kepala dan mata faset dua lebah. Lebah ketiga, terdorong naluri terus menerjang si penembak secepat kilat. Bilah pedang berkelebat, dan kepala lebah itu terpenggal seketika.

“Kalian tak apa-apa?” tanya Reyl sambil membasuh bilah pedangnya yang berlendir dalam salju yang berceceran jalan.

“Ya, tak ada yang serius selain luka dan pegal-pegal di punggung,” jawab Declan yang membungkuk seperti kakek-kakek memegangi punggungnya.

Maven yang bertugas memegang kompas menunjuk ke satu arah.

“Ayo, ikut aku. Kita harus berjalan terus ke timur laut. Sialnya, tak ada jalan setapak di hutan ini, mau tak mau kita harus menerobos di antara pepohonan.”

“Aduh, berarti kita tak bisa cepat karena harus hati-hati. Bagaimana ini? Nanti Reyl terlanjur...”

Nepathya Lei menggamit bahu muridnya sambil menyela, “Yang penting kita sudah berusaha, Sophie, sekuat tenaga menembus segala halangan. Biarlah sisanya kita serahkan pada kehendak Vadis, Sang Pengendali Nasib.”

“Ya, guru, aku mengerti sekarang,” sahut Sophia sambil melangkah di belakang rekan-rekannya.

Baru beberapa mil mereka melangkah, lagi-lagi serombongan monster menyerang mereka. Kali ini mereka adalah makhluk-makhluk berbulu putih lebat berperawakan seperti manusia yang disebut wendigo.

Walaupun hanya sepuluh jumlahnya, kelincahan gerakan makhluk mirip gorila tanpa kepala ini cukup membuat rombongan Maven kewalahan. Sabetan pedang Reyl berhasil melukasi satu wendigo, dengan bayaran luka cakaran di dada atasnya.

“Gawat! ‘Orang-orang hutan’ itu terlalu cerdas dan tangguh untuk dibunuh!” teriak Maven. Bahkan anggota terlincah dalam kelompok inipun mulai frustrasi. Anak panah yang dilepasnya seakan diredam oleh bulu-bulu tebal monster setinggi manusia dewasa itu.

Dalam kekacauan itu terdengarlah lolongan riuh-rendah. Detik berikutnya bayangan-bayangan putih melaju secepat kilat di bawah pepohonan.

“Aaah! Serigala salju!” teriak Sophia. Salah satu serigala sebesar kuda poni itu menerjang dengan rahang menganga. Mempertontonkan gigi-giginya yang besar dan runcing, mampu mengoyak mangsa berkulit tebal sekalipun.

Tinggal segaris tipis antara si penyihir berambut merah dengan kematian. Tiba-tiba, bilah tombak bermata tiga menancap dari bawah rahang sampai menembus otak si serigala.

Melihat itu, Sophia menghembuskan napas lega. Declan yang baru menyelamatkan nyawanya itu menyahut, “Kembali. Hey, ayo rapal satu-dua mantra untuk menakut-nakuti monster-monster ini!”

Lei lantas masuk ke tengah formasi. “Ide bagus, anak muda! Vare Jokulhaups Nek’havr!”

Memanfaatkan medan bersalju di sekelilingnya, Lei memutar tongkat sihirnya dengan gerakan datar-melingkar, mengerahkan sihir terkuatnya, Terjangan Salju Longsor. Tampak ombak salju maha dahsyat yang melanda ke segala arah, segala wilayah yang dilaluinya. Bahkan daun-daun beku di pohon-pohon turut tersapu pula.

“Mengerikan...” Maven menutup mulutnya, terkesiap.

“Oh, yang lebih mengerikan akan segera muncul,” ujar Nepathya sambil mengacungkan tongkatnya lagi.

“Lho, apa maksud guru?” kata Declan.

“Jangan banyak tanya, tetap dalam formasi!” hardik Reyl.

Maven dan rombongan maju perlahan-lahan dalam formasi. Saat berikutnya terdengarlah bunyi-bunyi gemerisik dari hamparan salju di sekitar mereka. Ia bergerak maju untuk melihat lebih jelas, dan rupanya ada beberapa makhluk yang bangkit dari salju itu. Para wendigo.

“Monster-monster itu tahan dingin! Berpencar! Declan, jaga Sophie dan guru!” Reyl melesat.

“Baik, ketua regu!” Declan malah bercanda.

Tanpa bicara, Maven melesat ke arah berlawanan dengan Reyl. Ia memanfaatkan kelincahan gerakannya, melompat dari pohon ke pohon seperti kera tumbuh sayap, menikam kepala wendigo yang tak siap.

Si monster mencoba menggapai penyerangnya. Apa daya, dengan otak yang rusak ia jatuh terkapar, menyepuh salju putih jadi merah dengan darahnya.

Lagi, Maven berkelebat bagai terbang, menikam wendigo kedua agak di punggung. Kali ini belatinya serasa menembus bantal bulu angsa. Maven segera menusukkan belati kedua, dan kakinya tiba-tiba ditarik oleh tangan kekar wendigo ketiga. Alhasil, Maven jatuh terjerembab.

Meringis menahan sakit, elf itu mengungkit tubuhnya dari tanah. Saat bersamaan, tiga wendigo menghantamkan tangan-tangan kekar, membuat ceruk di tanah bekas jatuhnya Maven tadi.

Melihat kesempatan, Maven menghunjamkan belatinya dalam-dalam, dari belakang dengan jurus Tikaman Khianat di sisi-sisi kepala si monster tak berleher itu, hingga darahnya menyembur ke atas. Kepala. Itulah kelemahan wendigo.

Sesaat kemudian, tangan kekar berbulu menghantam pinggang Maven, hingga ia terpental dan belatinya lepas. Dua wendigo langsung menyerang, mengerubungi si elf yang masih meringkuk kesakitan, tak berdaya. Maven hanya bisa menegadahkan kepalanya, siap untuk mati-matian...

Suara geraman datang tiba-tiba. Disusul pukulan-pukulan berat. Penasaran, Maven menegadahkan kepalanya. Dalam pandangannya, tubuh-tubuh besar bagai bola bulu beterbangan ke segala arah. Yang tersisa tinggal satu sosok setengah raksasa yang menyerupai tumpukan bulu putih.

Maven mengerjapkan matanya untuk melihat lebih jelas. Tiba-tiba makhluk itu melentur jadi tinggi-besar, dengan kaki, tangan dan tubuh sangat kokoh. Wajah bulatnya menghadap Maven. Lalu binatang itu membuka rahangnya lebar-lebar, meraung bagai guntur.

Tak salah lagi, ini seekor beruang kutub.

Maven beringsut mundur hendak lari saat seruan bergema, “Tobar, tenanglah!”

Teriakan pria bersuara berat ini rupanya membuat beruang itu menurut. Hewan itu kembali berdiri dengan empat kaki, menggeleng sekali, mendengus, lalu diam di tempat.

Maven terperangah melihat ini semua. Tanpa sadar ia berdiri saja, tak ambil ancang-ancang untuk apapun. Saat berikutnya, muncullah sesosok gemuk-pendek seperti manusia, mengenakan pakaian dan kerudung bulu putih.

Si kerdil itu lalu bicara lewat mulutnya, yang menyelip di antara janggut coklat lebat yang ujungnya dikepang dua. “Hei, nona! Apa yang membawamu ke hutan salju abadi ini?”

“Aku datang bersama teman-temanku. Ceritanya panjang, tapi tolong bapak perkenalkan diri dulu. Aku Maven Istravel, pemburu monster.” Si gadis elf jadi was-was sejenak.

“Maafkan ketidaksopananku. Namaku Bangor, dan aku tinggal di hutan ini sebagai pemburu bersama rekanku yang setia, Tobar.” Si pria cebol menunjuk beruangnya dengan telapak tangannya yang dibalut sarung tangan putih tebal. “Tadi aku sedang membuntuti jejak kawanan wendigo dan menemukan nona di sini dalam bahaya.”

Mendengar keterangan Bangor, Maven menurunkan bahunya yang tadi menegang. Lalu ia mencari-cari sepasang belatinya dan menemukannya masih tertancap di bangkai wendigo.

Setelah menyarungkan belatinya Maven berujar, “Oh, begitu rupanya. Terima kasih Pak Bangor dan Tobar, kalian sudah menyelamatkan nyawaku.”

“Nay, nay, tak perlu sungkan,” ujar Bangor.

Saat berikutnya, Maven terkesiap. “Oh, iya... Pak Bangor tinggal di hutan ini, kan? Pemburu pula. Jadi, bapak tentunya tahu seluk-beluk jalan di hutan yang menyesatkan ini, bukan?”

“Aye, tentu saja.” Bangor mengangguk mantap.

“Jadi bapak bisa memandu kami, kan?”

“Bisa, tapi bukan berarti...”

“Syukurlah! Puji Vadis! Teman-temanku pasti akan senang!” Tiba-tiba Maven menepuk dahinya. “Duh, ya ampun! Aku sampai lupa, mereka mungkin masih dalam bahaya! Ayo pak, ikut aku!”

“Oi, tunggu! Dengar dulu...”

Cepat-cepat Maven menarik tangan si cebol, Tobar si beruangpun bergegas mengikuti keduanya dari belakang.

Akhirnya Bangor hanya bisa angkat bahu. “Anak muda, terlalu semangat hingga lupa sopan-santun.”

Sesampainya di daerah terbuka, Maven melihat rekan-rekannya masih kewalahan dikepung kawanan wendigo tadi. Langsung saja ia, Bangor dan Tobar merangsek maju. Alhasil serangan mendadak mereka mengacaukan pergerakan mosnter-monster itu.

Kesempatan ini tak sia-sia. Satu wendigo tercacah sekaligus terbakar oleh sabetan pedang berkekuatan api, satu jadi sate di tombak Declan, dan satu lagi kabur dengan tangan terkoyak taring beruang si pemburu. Para wendigo yang masih hidup berpencaran ke segala arah.

Declan mengacungkan jempol pada Maven. “Bagus, Mave! Manuver yang hebat!”

Lei juga berkomentar, “Tak disangka, ternyata kau memang piawai dalam taktik tarung. Ngomong-ngomong, siapa itu yang datang bersamamu, Maven?”

Senyum Maven kembali mengembang. “Ini Tobar si beruang kutub dan ini rekannya, Bangor.”

“Kenalkan, aku Nepathya Lei, dan mereka ini Sophia, Declan dan...”

Saat itu pula Reyl muncul dari sisi hutan yang lain. Tubuhnya penuh luka dan napasnya memburu. “Huff, huff... aneh, wendigo lawanku tiba-tiba kabur begitu saja. Apa yang membuat mereka ketakutan?”

Sophia menimpali, “Penyebabnya beruang kutub itu dan majikannya, si kurcaci.”

“Hee?” Reyl menoleh, lalu menghampiri Bangor. “Kurasa memang aku berhutang budi pada anda, pak...”

“Bangor, dan ini beruangku, Tobar.”

“Reyl Adelant, senang bertemu anda.” Pemuda berambut hitam itu menjabat tangan Bangor. “Satu hal yang membuatku penasaran, keberuntungan apakah yang mempertemukan kita dengan sang penolong yang budiman ini?”

“Aku dan Tobar sedang berburu. Lalu kami mendengar suara pertarungan dan datang menolong.”

Maven berujar, “Yap, persis begitu. Nah, menyambung pembicaraan tadi, seperti yang bapak lihat, aku dan teman-teman sedang kesulitan di hutan raya ini dengan hanya mengandalkan kompas saja. Kami ini seakan berputar-putar saja di tempat dan malah dikepung wendigo. Kami butuh pemandu, dan rupanya Vadis mengirim bapak pada kami seperti mukjizat. Jadi sekali lagi aku bertanya, maukah bapak membantu kami?”

“Demi Joldin, masalahnya...”

“Kumohon...!”

“Tapi dengar dulu...”

Ikut-ikutan Maven, Sophia pasang wajah memelas. “Tolonglah, pak. Keselamatan kami dan Reyl tergantung dari itu.”

Melihat dua wajah manis-manis itu, ekspresi wajah Bangor berubah dari tegang jadi melembut. Lalu ia menghela napas. “Aye, aku akan membantu kalian.”

Disambut seruan polos Maven, “Asyik! Makasih, pak!”

“Eit, tunggu dulu,” ujar Bangor sambil mengulurkan telapak tangannya. “Ada syaratnya. Pertama, kalian harus menyerahkan hasil dari semua monster yang kalian buru di hutan ini padaku.”

Reyl menjawab, “Hmm, tak masalah. Yang penting kami bisa keluar-masuk hutan ini dengan selamat. Ada syarat lain?”

“Aye,” ujar Bangor. “Aku tak mau masuk ke istana kristal terkutuk itu. Sesampainya kita di sana, aku akan berburu di hutan lagi sambil menunggu kalian kembali.”

“Oh, begitu?” Giliran Declan bicara dengan nada sinis. “Kukira pemburu berpengalaman seperti bapak pasti berani menjelajah ke tempat-tempat paling berbahaya sekalipun.”

“Hey, anak muda, kau belum mengenalku cukup baik untuk menilaiku seperti itu. Aku punya alasanku sendiri berdasarkan pengalaman, jadi kalian hanya bisa percaya saja padaku. Bagaimana? Apa kalian setuju dengan syarat-syaratku atau tidak?”

==oOo==

Beberapa jam kemudian, Maven kembali berlompat-lompatan dari pohon-ke-pohon seperti kera. Di bawahnya, Reyl, Lei, Sophia dan Declan berjalan beriringan di antara pepohonan bersalju.

Di depan rombongan, tampaklah sosok kerdil Bangor. Kurcaci pemburu itu mengamati dan menyentuh pohon demi pohon yang dilihatnya untuk menentukan arah. Di sebelahnya, Tobar si beruang besar berjalan dengan gagahnya layaknya pengawal.

Rombongan memang sudah sempat beristirahat sejenak setelah bertarung lawan gerombolan monster tadi. Sekarang langkah-langkah mereka jadi lebih ringan dan lincah. Perjalanan ini terasa lebih mudah karena Bangor memilih untuk menghindari monster yang berkelompok terlalu banyak. Para pemburu ini hanya bertempur jika terpaksa, tak ada pilihan lain.

Dan rupanya, tantangan yang mereka hadapi tak terlalu berat. Segalanya tampak cukup lancar dan mereka akan tiba secepatnya dan seutuh-utuhnya di istana kristal.

Hingga sampailah rombongan di sebuah ruangan terbuka luas. Maven menatap sekeliling pada hamparan es, bukan tanah di bawah kakinya.

“Ya, tentu saja. Ini danau yang membeku, bagian dari Hutan Joklfrey. Mau tak mau kita harus menyeberanginya. Hati-hati melangkah. Ini bukan musim dingin, jadi ada banyak lapisan esnya yang agak tipis,” ujar Bangor.

“Hmm, danaunya memang sangat luas. Perlu waktu seharian untuk memutarinya, dan waktu kita sempit,” ujar Guru Lei sambil menunjuk ke wajah Reyl yang makin lama makin pucat.

“Tak ada pilihan lain. Ayo kita seberangi. Jaga formasi. Jangan berjalan terlalu rapat tapi juga jangan berjauhan,” ujar Reyl yang kaki-kakinya mulai melangkah.

Para anggota rombongan lainnya mengikuti Reyl. Kecuali Tobar yang berbobot amat berat. Ia lari, mengambil jalan memutar menyusuri tepi danau.

Bahkan Maven yang tubuhnya relatif kecil dan ringanpun melangkah dengan perlahan dan sangat hati-hati. Diperhatikannya setiap jengkal es yang ditapakinya. Bola mata kecoklatannya menangkap beberapa bayangan kecil yang hilir-mudik dalam beningnya biru jauh di bawah sana.

“Teman-teman, lihat, ada banyak ikan di bawah sini,” selorohnya sambil terus berjalan.

Declan menengok ke bawah lalu berseru, “Ya, kau benar, Mave. Hei, aku punya akal. Bagaimana kalau kita berhenti sebentar, melubangi es ini lalu memancing? Lumayan, buat menambah perbekalan.”

“Jangan!” Bangor langsung berseru. “Bukankah kalian sedang terburu-buru menyelamatkan si Reyl ini? Lagipula, kalau kalian bisa melihat ikan itu, berarti esnya benar-benar tipis. Jalan terus, hati-hati melangkah!”

“Ya, ya, aku mengerti, dasar kakek cerewet...”

Sambil menggerutu, Declan melangkah terus ke arah yang agak berjauhan dari rekan-rekannya. Tiba-tiba, ada bunyi retakan di bawah kakinya.

Dengan cueknya, Declan terus melangkah.

Suara retakan makin keras.

Maju selangkah lagi.

Makin keras suaranya.

Tanpa sadar Declan menengok ke bawah. Matanya langsung terbelalak.

“Esnya retak!” teriaknya.

Reyl langsung bereaksi. “Lari, semuanya!” Sontak kelima orang itu lari.

“Jangan! Kita masih bisa... Ah, terlambat!” Bangor akhirnya lari juga.

Justru berlari membuat retakan pada permukaan es makin besar, besar dan menyebar. Lagipula, orang-orang itu kadang juga menginjak lapisan es tipis, hingga retakan makin parah, seakan “mengejar” mereka.

Maven berlari samping-menyamping. Kakinya menapak es dengan ringannya. Sesaat kemudian kakinya terpeleset di es yang licin dan ia terjerembab.

Dengan cepat es pecah di belakangnya. Gadis itu berusaha berdiri, namun terpeleset dan jatuh lagi. Ujung kakinya merasakan dinginnya air, dan tangannya menggapai sejauh mungkin disertai teriakan putus asanya, “Tolooonggg!”

Seakan ditarik ke dalam kuburan beku oleh setan neraka.

Seketika, ada yang menariknya keluar, ke arah berlawanan. Hingga ia berdiri, matanya mengenali si penolong. Reyl. Kaki Reyl baru akan melangkah ketika tiba-tiba pijakan es pecah dan amblas, hingga si penolong tercebur ke air.

“Reeyll!”

“Mave! Kita terus lari!” Declan cepat-cepat menarik lengan si elf itu, lari menjauh.

“Tapi, Reyl...!”

“Bukan itu maksudku! Lihat!”

Refleks, Maven melihat ke arah yang ditunjuk. Di sana, seorang penyihir merapal lantang, “An Jokul’me Fyasch!”

Daya sihir Badai Es menerpa retakan. Bukan memecahnya, sihir itu malah “menambal” retakan itu. Alhasil, lapisan beku di permukaan air danau seketika merapat dan menebal lagi.

“Cukup. Kita tolong Reyl sekarang,” kata si perapal, Nepathya Lei. Rupanya tadi ia menghimpun tenaga sambil berlari, kemampuan yang hanya dimiliki penyihir tingkat tinggi. Semoga belum terlambat.

Kali ini Declan yang maju ke tepian es itu, melongok ke arah tempat Reyl tadi jatuh dengan wajah tegang. Sesaat kemudian, sesosok pria muncul dari air. Declan langsung mengulurkan pangkal tombaknya dan pria itu meraihnya, lalu si pendeta menariknya sampai ke tempat kering di atas es. Pria itu duduk dan menggigil hebat.

Sophia langsung membenamkan diri dalam pelukan kekasihnya. “Oh, Reyl! Tadi aku takut... takkan melihatmu lagi! Tapi tadi... seharusnya air danau itu membekukan... mengapa kau tidak...?”

“Sudahlah, jangan bicara lagi. Sungguh keajaiban Reyl bisa tahan dan berenang dalam danau itu. Ayo cepat! Kita harus ke tepian sebelum hari gelap!” seru Bangor.

Declan membantu Reyl berdiri, memapahnya.

Rombongan kembali bergerak lagi dengan langkah hati-hati seperti semula.

Maven memperlambat gerakan dan langkahnya supaya tak tergelincir lagi, dan matanya tertuju pada Reyl yang mendapat banyak perhatian di sana. Ekspresi wajah pemuda itu tetap pucat dan murung, dan satu tangannya seolah menutupi Kalung Sukma Es yang berpendar merah lembut.

Tersirat kesan, untuk sekali ini saja Reyl bersyukur kalung ini ada.

==oOo==

Kira-kira dua jam kemudian para pemburu tiba di tepi danau, duduk dan beristirahat sejenak untuk melepas tegang, melegakan rasa lapar dan dahaga. Karena tak sedang ingin bicara, Maven melayangkan pandangan pada matahari di ufuk barat dan langit yang kian meredup, dan bias cahaya senja di permukaan danau beku itu.

Tanpa sadar ia bergumam, “Sungguh indah, tapi aku tak mau menyeberangi danau ini lagi.”

Rombongan kembali bertolak saat sebersit cahaya fajar membasuh daun-daun beku di pepohonan. Mereka bergerak cepat, dan istana kristal tampak semakin dekat.

Maven kembali jadi “kera”, mengawasi keadaan di sekelilingnya. Ia kerap kembali ke depan rombongan dan melapor pada pemandu.

“Pak Bangor, Tobar telah menyusul kita dan sedang menuju kemari.”

“Oh, bagus,” ujar si janggut berkepang dua itu. “Apa ada monster yang kaulihat di sekitar?”

“Tidak ada, pak,” jawab si “asisten”. “Tak terlihat satupun, bahkan sampai ke dekat istana.”

Ekspresi wajah Bangor berubah terperangah, lalu ia berseru pada para anggota rombongan yang lain, “Semuanya, hati-hati! Siapkan senjata kalian.”

Kali ini menghunus belatinya, dengan wajah bingung Maven kembali bertanya, “Lho, bukankah tak ada monster? Seharusnya perjalanan jadi mulus dan aman, toh?”

“Anak muda, jangan sok tahu. Dari pengalamanku, kalau sampai tak ada monster sama sekali, hanya ada dua kemungkinan: sebagian dari mereka sedang hibernasi di musim dingin, atau sedang ada monster yang sangat kuat di sini hingga yang lain menyingkir.”

“Dan ini bukan musim dingin, jadi... hanya ada kemungkinan kedua.”

Terdengarlah suara celetukan Declan, “Tak ada istilah ‘terlalu mudah’ di wilayah sarat bahaya ini, itu pasti.”

Disambut suara raungan sangat keras.

Mendengar itu, Declan malah berkacak pinggang. “Hei, aku tahu candaku tak lucu, tapi apa tak ada jawaban yang lebih kreatif daripada geraman marah?”

“Bukan, bodoh! Di atasmu!”

Reyl menunjuk ke udara dan Declan menegadah. Dengan gerak refleks si pendeta menjatuhkan diri ke samping, bersamaan dengan cakar-cakar raksasa yang menyambar ke atas tanah tempatnya berdiri tadi.

Maven yang bertengger di pohon mengamati saat makhluk raksasa itu turun sambil mengepakkan sayap-sayap raksasa dengan rentang sepanjang tujuh pohon cemara di bawahnya, mematahkan empat batang di antaranya.

Lalu tampaklah kepala yang terjulur dengan leher panjang seperti leher jerapah. Matanya yang biru dan seluruhnya bulat menatap nyalang ke sekitarnya. Makhluk raksasa bersisik putih kebiruan itu lalu membuka rahangnya lebar-lebar, mempertontonkan sederetan taring panjang sambil meraung memekakkan telinga.

Bahkan si penyihir senior Nepathya Lei terpaku, ternganga. “Naga... naga salju putih...”

Reyl berteriak, “Awas! Dia akan menembak! Lari, semuanya!”

Para pemburu berhamburan ke berbagai penjuru, sementara sang naga menyemburkan hawa es membekukan bagai sihir Badai Salju ke semua sasaran yang bisa dijangkaunya sambil berjalan maju.

Pontang-panting Maven melompat dari pohon ke pohon untuk menghindar. Semburan es itu lantas berhembus ke arahnya. Gadis itu mengelak lagi, dan kaki kirinya mendadak kaku, mati rasa. Gerakan Maven terhenti, lalu ia kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Tubuh Maven membentur tanah. Untunglah posisinya tak terlalu tinggi di pohon. Tak ada tulang yang patah. Tapi kalau ia tak bergerak, naga itu akan melumat tubuhnya.

“Hei, kau! Kadal jelek! Lihat kemari!”

Datang suara bernada mengejek dari sisi lain, disusul sinar putih jurus Cahaya Iman Penerang Jalan. Alhasil naga salju putih menengok ke arah lain.

“Oh, ya. Sini, datanglah pada ayah.”

Maven terkesiap. Hanya satu orang di sini yang cukup bodoh menantang naga, yaitu Declan. Gadis itu menggunakan kesempatan ini dengan bangkit dan menjauh. Sementara jurus tusukan beruntun Serangan Cepat Jiwa Giat melesat dari atas pohon, ke arah titik kelemahan naga manapun, yaitu matanya.

Mendadak, rahang sang naga melesat deras ke arah Declan, seakan ingin menelan lelaki itu bulat-bulat.

“An Jokul’me Fyasch!”

Sihir Badai Es datang tiba-tiba bagaikan palu godam, memukul kepala sang naga hingga terdorong ke samping. Declan yang lolos dari maut menoleh pada si perapal, Sophia. Mata mereka bertatapan, Declan mengangguk tanda terima kasih.

Sementara itu kaki kanan Maven dapat bergerak lagi. Ini berkat Reyl yang menyalurkan energi api dengan menempelkan sisi pipih bilah pedangnya di bagian yang beku.

Setelahnya, semua anggota rombongan termasuk Bangor dan Tobar menghujani kadal bersayap sebesar gedung itu dengan serangan sekuat tenaga. Namun sang naga malah dengan mudahnya menggeliat seperti kegatalan. Ia merentangkan sayapnya dan mulai membubung ke langit.

“Lihat! Apa naga itu sudah bosan bermain, lalu pergi begitu saja?” Declan menunjuk ke atas.

Dibalas seruan Bangor, “Ya, dia memang bosan, tapi dia takkan pergi tanpa menghabisi kita terlebih dahulu! Sekarang kalian tahu alasan syarat-syaratku itu, kan? Aku tak mau jadi korban naga itu!”

“Oh, pantas saja,” ujar Sophia sinis. “Lebih baik kau membiarkan kami mati di sini karena peranmu tak lebih dari pemandu saja.”

“Sudahlah! Kita tak sempat berdebat lagi!” Reyl berseru. “Lihat! Ada cahaya lagi di mulut naga, serangannya kali ini pasti akan sangat dahsyat!”

“Kau benar, Reyl! Kita tak bisa lari lagi!” seru Maven. “Terpaksa kita harus menggabungkan kekuatan dan menahannya di sini, sama seperti saat melawan Udmelekh!”

“Tak perlu! Kalian cepat larilah! Biar aku yang menahannya di sini!”

Semua mata tertuju pada orang yang menyerukan usul gila itu. Si guru sihir, Nepathya Lei berdiri tegak dengan tongkat teracung ke arah lawan. Rambut putih berkepang duanya berkibar-kibar bagai ular menari. Tubuhnya terselimuti sinar kebiruan yang memancar ke segala arah.

Reyl mengulurkan tangannya hendak membantu. “Tak bisa, guru! Kita harus menahannya bersama-sama! Kalaupun harus mati, kita mati bersama!”

“Bodoh!” Satu mata Lei melotot nyalang. “Jangan buang nyawa sia-sia di sini! Biar aku, si cacat cela yang berkorban. Percuma mendebatku! Lari, sekarang!”

“Cih!” Reyl berbalik dan lari, menyusul Declan, Bangor dan Tobar.

Bahkan Maven harus menarik lengan Sophia yang lari sambil menoleh ke belakang, menangis sejadi-jadinya. “Guru! Jangan! Ayo lari juga!”

Wajah sang guru yang terbalut perban makin jauh, juga sosoknya. Hanya teriakan seraknya yang sayup-sayup terdengar. “Selamat tinggal, Sophie, muridku tersayang! JOKLGAEANOS!”

Dengan refleks Maven berhenti melangkah dan berbalik. Tampak olehnya dua larik gelombang putih memancar, satu ke atas dan satu ke bawah. Kedua kekuatan sejenis itu bertumbukan, teriring ledakan dahsyat yang bagai badai gelombang kejut, melontarkan Maven, Sophia dan segala benda yang dilandanya.

Punggung Maven terbentur batang pohon cemara hingga ia roboh ke depan. Masih meringis kesakitan, gadis elf mungil itu membuka matanya.

Di kejauhan sebuah gunung es menjulang tinggi, siluet sosok naga raksasa terkurung membeku di puncaknya. Lerengnya tampak mencondong miring, dengan dasarnya meliputi daerah yang cukup luas di permukaan tanah.

Inilah hasil tumbukan dua kekuatan setara, yang salah satunya berasal dari sihir es terkuat, Kiamat Zaman Es. Melihat hasil seperti ini, mustahil si perapal, Nepathya Lei lolos dan selamat.

“Guru... Guuurruu!” Sophia berlutut dan menangis sejadi-jadinya, histeris.

Penuh haru, Maven menghampiri dan memeluk gadis berambut merah jagung itu. Dengan lembut ia berkata, “Guru Lei telah berkorban demi kebahagiaanmu, Sophie. Jadi sekarang kita harus terus bergegas ke Istana Es Abadi, agar Reyl selamat dan pengorbanan guru tak sia-sia.”

Maven berbalik lalu menatap bangunan es yang menjulang lebih tinggi daripada gunung buatan di belakangnya. Tanpa sadar ia bergumam, “Sudah dekat. Tak lama lagi. Semoga, semoga kami bisa menuntaskan ini semua dan pulang berempat, bersama-sama.”

Semua yang berkumpul di sana mendengar gumaman Maven itu, lalu sama-sama menatap ke arah Zaburyvostok. Keempat pendekar muda itu menumpangkan tangan, satu di atas yang lain. Bersama-sama mereka berseru, “Datang bersama, berjuang bersama, dan pulang bersama.”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?