Mata Kristal

Rytsaried, Ksatria Ular Es

Mengagumkan, segalanya yang kita lakukan demi cinta.

Enam insan berdiri tegak, menatap bangunan yang menjulang tinggi di hadapan mereka. Rupa bangunan itu bagai serangkaian kristal, bagai dua telapak tangan terkatup dan berjari-jari runcing, menggapai, mencakar langit.

“Aneh, tak ada penjaga di istana tak bertuan ini,” ujar Maven, menyiagakan busur-panahnya.

“Dan tak ada monster yang berkeliaran di sekitar gerbang ini. Selain karena naga salju putih tadi, penyebabnya pasti karena ada yang jauh lebih mengerikan di dalam sana,” ujar Sophia yang tak menitikkan air mata lagi, wajahnya tampak tegar.

Si pemandu, Bangor menunjuk. “Lihat, Tobar sudah gelisah dan mundur menjauh. Jadi jelas, kan, aku tak bisa ikut kalian. Kalau kalian butuh kami lagi, pakailah peluit pemanggil beruang ini dan kami akan datang. Kami akan menunggu dalam hutan tak jauh dari sini, seperti janjiku sebelumnya untuk mengantar kalian semua pulang dengan selamat.”

“Terima kasih.” Reyl menerima peluit itu.

Declan menyela dengan wajah cemas, “Eeh, Reyl, apa kau yakin? Peluit itu ‘kan bekas dipakai olehnya. Apa tak ada pilihan lain lagi? Benda apa saja, deh, asal jangan yang bekas-bekas!”

“Hmm, tentu saja aku yakin ini yang terbaik. Karena itulah aku mempercayakan peluit ini padamu.” Reyl tersenyum sambil menaruh barang “bekas mulut orang” itu di tangan Declan.

Si pendeta kocak hanya bisa melangkah sambil menggerutu tak jelas, dengan kata-kata seperti “mulut bau”, “janggut kutuan” dan “ketularan bau sampai tua”.

Maven tertawa geli sambil berjalan mendahului rekan-rekannya. Kedua kakinya melangkah ringan seakan tak menyentuh tanah, membawanya memasuki gerbang utama istana. Gerbang itu sangat tinggi, tersusun dari kristal-kristal yang membentuk ekor burung merak yang terkembang.

Tak henti-hentinya Maven menengok ke segala arah, mengamati ruangan sekitarnya. Menatap bayangan wajahnya sendiri di permukaan dinding kristal.

Sambil terus melangkah Maven bicara pada rekan-rekannya, “Lorong-lorong istana sebesar gunung ini sangat menyesatkan. Tanpa peta, lambat-laun kita akan mati kedinginan atau tersesat. Mencari kristal penyembuh untuk Reyl bisa jadi seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.”

Dengan wajah agak santai Declan menyela, “Maven, Maven, jangan pesimis dulu. Aturan dasar ilmu perburuan harta karun adalah, tempat pertama untuk mencari sesuatu adalah tempat yang paling ketat dijaga, yang berarti adalah sumbernya. Tambahan dalam kasus ini, karena ini adalah istana es, semakin dingin suhunya, semakin dekat kita ke sumber segala ‘pendinginan’ dan segala kristal ini.”

Sahut Reyl, “Bagus, Dec, baru kali ini kau menyumbangkan usul yang berguna.”

Dipuji begitu, Declan langsung melirik pada Maven. Ia membusungkan dada, melangkah tegap seperti jenderal di depan pasukannya. “Ayo, jangan buang waktu lagi, kita berangkat!”

Reyl tak segera jalan. Ia malah berbisik pada kedua rekannya, “Pangkat si Dec baru naik dari ‘idiot total’ jadi ‘kuli panggul’, tapi lagaknya sudah seperti jenderal saja.”

Maven dan Sophia tertawa kecil mendengarnya. Reyl juga tersenyum karena lelucon pertamanya sepanjang perjalanan ini ternyata mengena. Ia melangkah lebih mantap kini, dengan pedang terhunus.

Di sisi lain, Maven kembali melesat ke benda unik pertama yang dilihatnya. Kristal dengan tujuh warna di tiap irisan permukaannya.

Hmm, kira-kira apa ya kekuatan gaibnya?

Maven mengulurkan tangan dan menyentuhnya...

Tak terjadi apa-apa.

Ia mencoba meraba-raba, menggosok-gosok kristal itu, tetap tak ada reaksi.

“Percuma saja, Mave. Itu Archivelium, kristal langka yang biasa digunakan pandai besi untuk memperkokoh dan memperingan zirah atau senjata. Aku pernah membacanya di perpustakaan biara.”

Maven langsung mendelik ke arah Declan yang bicara tadi. “Heeehh? Mengapa tak katakan sejak tadi? Apa kau tak lihat aku tadi meraba-raba, membuang waktu memeriksa satu kristal saja seperti orang bodoh? Daasaar!”

Kesal, Maven menjitak kepala Declan keras-keras.

“Whaduuh! Apa salahku?” Declan mengelus-elus kepalanya dengan wajah kebingungan.

Datang Sophia menimpali, “Mengapa tak bilang kalau kau tahu banyak tentang kristal gaib? Kita pasti akan bisa menghemat lebih banyak waktu daripada memeriksa setiap kristal yang ada di sini!”

“Yah, memang aku pernah baca satu-dua hal tentang kristal gaib, tapi aku hanya tahu sedikit jenisnya yang umum digunakan. Kadangkala...” Declan menundukkan kepala, “Aku lupa, kadang baru ingat kalau melihat langsung satu per satu.”

“Seharusnya kau membantu kami saat mencari data tentang kristal gaib di rumah Guru Lei waktu itu,” ujar Reyl, lagi-lagi dengan dahi berkerut. “Kita pasti akan menghemat lebih banyak waktu.”

Si pendeta berkelit, “Eit, waktu itu kan aku bertugas membeli makanan. Lagipula otakku agak ‘macet’ kalau perut keroncongan. Lagipula, saat aku kembali, Guru Lei sudah menemukan solusinya.”

Maven menyela, “Sudahlah, tak usah berdebat lagi. Sekarang begini saja: kita jalan dalam formasi. Aku di depan melacak musuh dan jebakan, Reyl dan Sophia di kiri-kanan mencari kristal dan kau, Declan, coba ingat dan beritahu mereka tentang tiap kristal yang mereka lihat sepanjang jalan.”

“Aku setuju, Mave.” Reyl mengangguk. “Yang terpenting sekarang kita harus segera mencari ruangan inti istana es ini, karena waktuku...” Ia menunjuk ke wajahnya yang lebih pucat dari tadi, “... makin sempit.”

Maven terpana melihat wajah Reyl itu sesaat, lalu melesat maju tanpa bicara lagi. Rasanya ia ingin menangis saat teringat situasi terjepit sahabatnya yang juga pria idamannya ini. Tapi bukankah kini ia sedang berjuang mati-matian demi menolong sahabat? Kalau perlu, seperti Guru Lei, ia rela mengorbankan nyawanya, memberi arti pada kehidupan si burung gereja pengembara ini.

Tiba-tiba suara Sophia membuat Maven menoleh. “Wow! Gundukan kristal ini besar sekali! Ada dua pula! Dec, apa kau tahu ini jenis kristal apa?”

“Hmm, apa yaa?” Declan menoleh ke atas sambil mengusap-usap dagunya. “Alluvium? Bukan, warnanya terlalu pucat. Halizeum? Arsenium? Jelas bukan. Cumlaudium? Kalau Sophie menyentuhnya, dia pasti akan mengoceh tak henti-hentinya karena dia jadi super jenius. Midasium? Sekali sentuh, dia akan jadi patung emas. Thaumaturvium? Bukan... Lantas apa ya?”

“Declan, awas!” seru Maven.

Tiba-tiba dua bongkah kristal raksasa itu bergerak, menimbulkan bunyi gesekan batu yang mencericit. Bentuk mereka berubah menjadi sosok-sosok bertangan-kaki seperti manusia raksasa. Saat berdiri tegak, mereka lebih tinggi-besar dibanding Tobar si beruang.

Makhluk-makhluk tak berwajah ini mengarahkan mata tunggal mereka, yang adalah sebongkah kristal bulat seperti batu mirah. Lalu, mata itu bersinar merah, suara dengungan keras menggema di seantero lorong berdinding es-kristal nan luas itu.

Keempat pendekar menutupi telinga mereka. Declan berseru keras-keras, “Mata mereka, itu kristal Golemium! Mereka ini golem kristal!”

Disusul teriakan Reyl, “Berpencar! Makhluk-makhluk ini kebal sihir dan senjata, kita harus cari titik lemah mereka yang bisa diserang!”

“Baik!” sahut ketiga rekannya bersamaan.

Kedua golem raksasa merangsek maju, menghantamkan tinju-tinju dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang beruang.

Tepat waktunya, keempat pendekar terlatih itu berpencar ke arah berjauhan.

Memanfaatkan kelincahan alaminya, Maven memanjat tembok dan meloncat kesana-kemari, sesekali menyengat tepat di persendian si raksasa kristal itu. Sang lawan malah sama sekali tak terpengaruh dan terus melayangkan tinjunya. Dengan mudahnya gadis bertubuh mungil itu berkelit dari serangan-serangan berat dan lamban ini.

Sebaliknya, satu tinju golem berdesir tinggal sejengkal dari tubuh Declan, yang menyertai Maven menyerang raksasa yang satu ini. Parahnya, si pendeta tetap terpental terkena gelombang hawa pukulan lawan.

Declan terjatuh di lantai kristal yang licin. Ia mencoba bangun, tergelincir lalu bangkit dengan berpegangan pada tembok kristal.

Tiba-tiba, satu tinju kristal berdesir keras tepat ke wajahnya. Dengan refleks Declan berkelit ke arah lain. Tinju itu menghantam dinding hingga serpihan kristal bersebaran, meninggalkan ceruk dangkal di dinding.

Melihat gelagat lawan yang cenderung mengincar Declan, Maven mencoba menyelinap ke belakang si golem. Dengan lincah ia memanjati tubuh kristal itu dengan ringannya sampai ke ubun-ubun. Lalu menghunjamkan satu Tikaman Khianat dengan sepasang belati pada satu sasaran, mata kristal merah Golemium.

Terdengar bunyi seperti pisau menghantam kaca dan serpihan kristal merah bertebaran, disusul bunyi hantaman di rusuk Maven. Rasa sakit merasuk sampai ke tulangnya. Rupanya satu sapuan tangan golem raksasa menghantam Maven sekenanya, seperti mengibas lalat yang menyengat mata. Tapi itu cukup untuk mementalkan si elf mungil.

Sungguh harga mahal yang dibayarnya, namun bukan tanpa hasil. Maven jatuh terduduk dengan tubuh serasa remuk.

Saat ia pasang mata dilihatnya Declan meloncat tinggi-tinggi. Pria itu menombak sambil berseru, “Makan ini, raksasa mata kristal! Suara Tunggal Kebenaran!”

Sekali lagi, suara tumbukan logam dan kristal, kali ini lebih nyaring.

Si golem raksasa diam mematung. Sedetik kemudian ia tumbang ke belakang. Declan mencabut tombaknya, menjejak tubuh kristal raksasa. Dengan gerakan akrobatik melenting ke belakang, mendarat dengan berjongkok di lantai.

Pria berotot keras itu lalu menghampiri Maven. “Mari, kurawat lukamu.”

“Tak usah,” jawab si gadis lemah. “Tak parah, kok, sebentar lagi aku pulih. Kau bantu saja Reyl dan Sophia dengan ‘solusi jitu’-mu itu.”

“Oh, ya. Jaga dirimu, ya.” Declan melesat pergi.

Di kejauhan, masih tampak hiruk-pikuk pertarungan dan bisingnya benda-benda yang beradu. Maven menghela napas lega sejenak lalu menoleh...

... Ke arah tiga sosok hitam seukuran dan serupa manusia berlari cepat, menyerbu ke arahnya.

Gawat! Maven mencoba bangkit, tapi satu tinju mendarat di tubuhnya. Rasanya bagai dihantam palu.

Maven menggerakkan tangannya. Mendadak sepasang tangan hitam menyelinap dari belakang, meringkus dan mengunci pundak dan tengkuknya, hingga tak bisa bergerak.

Sosok hitam pertama lantas menghadapkan wajahnya yang hanya dipenuhi sebongkah merah bulat itu, memancarkan sinar semerah darah dari mata kristalnya. Ia mengubah kedua lengannya menjadi sepasang bilah pedang panjang dan merangsek maju untuk menghabisi lawan. Mata coklat Maven terbelalak.

Tiba-tiba sosok besar menyambar si sosok hitam, menjauhkan lengan-lengan mautnya.

Sebelum Maven sempat mengenali bentuk si sosok besar, si sosok kedua yang jauh lebih kecil lantas menghantamkan palunya, memecahkan kristal merah di wajah sosok hitam itu.

Cekalan di bahu Maven mengendur. Ia menggeliat cepat dan menghunjamkan belatinya ke belakang tanpa melihat, memecahkan kristal merah bulat di wajah lawan hingga pecah berantakan. Jurus Tikaman Khianat itu membuat lawan roboh tak berdaya.

Rasa nyeri akibat luka-luka tadi kembali mendera Maven. Di hadapannya terlihat samar-samar kedua sosok besar dan kecil tadi menghampirinya. Si elf pasang kuda-kuda siaga, dan baru bernapas lega saat jelas dua sosok ini dikenalinya.

“Bangor dan Tobar!” serunya riang. “Kalian datang tepat waktu dan menyelamatkanku lagi. Sekali lagi, terima kasih!”

Si beruang menanggapi dengan dengusan pelan. Lalu hewan itu melesat, menyerbu si golem kristal raksasa yang masih berdiri. Sementara si kurcaci berjanggut lebat dikepang mengeluarkan ramuan penyembuh berwarna merah, meneteskannya pada luka luar di bahu Maven.

Ujar Bangor, “Kau ini benar-benar gila, elf mungil. Untuk kedua kalinya kau sendirian, dikepung musuh-musuh kuat.”

Maven tersenyum lemah. “Yah, mau bilang apa, mungkin bakatku yang kerap membawaku dalam posisi terjepit dan ditolong berkali-kali pula, mau hati-hatipun sama saja... Ah, ngomong-ngomong, apa yang membuat kalian datang di sini? Bukankah Tobar...”

Bangor mengangkat bahu. “Yah, tahulah, naluri binatang sulit diduga. Sesaat ia kabur ketakutan, tapi saat berikutnya ia malah berbalik sendiri dan masuk tempat ini.

Lagipula, nuraniku mengusikku untuk secara penuh memandu kalian anak-anak muda pemberani keluar-masuk tempat ini dengan selamat, juga didorong rasa ingin tahuku tentang ruang inti istana kristal, satu-satunya yang belum pernah berhasil kumasuki. Oh, ya, aku memang mengenal tempat ini, dan tempat inilah alasanku sesungguhnya untuk tinggal di hutan ini.”

“Kalau begitu, Pak Bangor,” Maven yang merasakan lukanya merapat dan pulih dengan cepat langsung bangkit, “Ayo kita cepat bantu teman-teman kita!”

==oOo==

Saat Maven dan Bangor berhasil menyusul rekan-rekan mereka, pedang Reyl sudah tertancap di mata golemium yang sudah luluh-lantak, pada sosok raksasa yang kini tak ubahnya patung tumbang.

“Terima kasih, Declan untuk solusi yang jitu ini,” ujar Reyl dengan lembut dan tulus, sementara Declan hanya mengangguk saja di bawah tatapan tajam Maven.

“Lho, Pak Bangor? Tobar?” Wajah Sophia nampak kesenangan kedatangan bala-bantuan ini.

“Syukurlah, dengan bantuan kalian, kita pasti bisa sampai lebih cepat ke balairung inti istana.”

“Hey, hey, siapa bilang kami akan memandu kalian di dalam istana? Kalian salah mengerti,” kata Bangor dengan telapak tangan teracung. Lalu wajahnya berubah tersenyum. “Kami juga akan bertarung bersama kalian sampai tuntas. Sudah, tak usah tanya alasannya, ayo ikut kami sekarang!”

Sambil berkata begitu, si kurcaci dan si beruang melenggang pergi. Keempat orang muda ini langsung melangkah di belakangnya tanpa basa-basi lagi.

Setelahnya, penjelajahan istana kristal ini diisi dengan aksi-aksi menyelinap, menghindari monster dan golem penjaga. Para golempun jadi lebih mudah dikalahkan setelah titik kelemahan mereka terungkap.

Bangor dan Tobar membantu dengan menghindarkan para rekannya dari jebakan-jebakan yang bertebaran sepanjang jalan, baik yang sudah terpakai, rusak ataupun yang masih aktif.

Hingga tibalah mereka di sebuah balairung tak berdinding, tak berlantai. Hanya langit-langit dan tiang-tiang yang menjulang sampai ke kegelapan di bawahnya.

Declan mencoba melongok ke kegelapan itu. Wajahnya berubah pucat. “Tonggak-tonggak es, runcing seperti duri-duri raksasa... Kalau jatuh, matilah kita...”

“Bagaimana kita bisa lewat kalau tak ada jalan?” seru Sophia.

Jawab Bangor, “Kalian bawa tali dan kait, kan? Siapkan sekarang di tangan. Maven, kau siapkan busur-panah, dan Sophia, kau mungkin harus gunakan sihir esmu sewaktu-waktu. Soal jalan, sabar saja. Mustahil Dewi Es Abadi menjebak dirinya sendiri. Lihat, itu jalan kita.”

Semua mata tertuju ke arah yang ditunjuk Bangor. Sebuah benda berwarna nila bening mengapung di udara, melayang perlahan ke arah mereka.

“Kristal Gravitium berbentuk pijakan!” Declan terkesiap. “Dan kelihatannya sudah disihir hingga melayang teratur.”

Sophia berkomentar, “Sihir yang tak luntur setelah berabad-abad... Ini pasti karya penyihir tingkat tinggi.”

Reyl menimpali, “Kelihatannya pijakan itu hanya cukup untuk satu orang. Biar aku coba dulu.”

Sambil memegangi tali dan kaitnya, Reyl ambil ancang-ancang akan meloncat ke pijakan yang sudah cukup dekat kini. Namun tangan Maven menghalanginya.

“Jangan, biar aku saja,” ujar elf itu sambil meloncat. Kaki-kakinya lalu mendarat mulus di pijakan itu. Perlahan, ia berdiri.

Si gadis lincah memasang anak panah di busurnya sambil mengawasi sekitarnya. Sementara pijakan kristal berubah arah, kali ini menjauh dari rekan-rekannya.

Tanpa berkedip, selalu waspada

Tak bergerak, selalu siaga

Tanpa berucap, siap berlaga

Langit-langit di atas dan lantai di bawah sama saja, penuh es mengkristal bagai lautan stalaktit dan stalagmit yang siap mencabut nyawa. Di antaranya pasti ada yang berbentuk cukup datar untuk dijadikan tempat berpijak. Itu dia, di kejauhan. Rupanya itu sebuah jalan setapak.

Selain itu, Maven melihat makhluk-makhluk bulat berwarna gelap dari jauh melesat ke arahnya. Matanya terbelalak, tangan kanannya menarik tali busur sekuat tenaga...

Anak panah melesat kencang bagai sambaran petir, menembus satu bulatan terbang itu. Tiga bulatan terbang yang lain membuka mata mereka yang berukuran raksasa dan memenuhi seluruh permukaan tubuh. Sayap-sayap kelelawar berwarna hitam mengembang, mengepak cepat. Karena sayapnya agak pendek, makhluk-makhluk itu tak bisa terbang cepat.

Maven berteriak, “Awas! Monster mata iblis beterbangan ke arah kita!”

Sekali lagi ia menembakkan panahnya, tepat mengenai mata raksasa berbola kemerahan itu sampai bocor seperti balon air. Sesaat kemudian, dua mata terbang balas menembakkan larik cahaya hitam dari bola mata mereka.

Maven, si sasaran malah dengan refleks meloncat jauh-jauh dari pijakannya. Ia bersalto satu kali di udara, lalu meluncur ke bawah dengan kaki terjulur. Terus, sampai akhirnya...

... Menjejak permukaan yang datar.

Dengan sigap Maven berbalik. Ia menyandang busurnya dan menghunus belatinya.

Sementara dua mata iblis tadi itu memutar tubuh di udara, menghadapkan mata mereka pada sasaran yang takkan menembak balik itu. Apa gadis itu sudah gila?

Sontak Maven diberondong cahaya hitam. Apa akal? Kedua mata gadis itu malah terkatup. Kedua tangannya serta tubuhnya melenggok cepat, mengayunkan belati dengan amat cepat. Alhasil, Maven tampak seperti bidadari yang menari. Melambaikan selendang, menepis segala hitam dengan basuhan angin putih suci.

Tak hanya menepis saja, belati juga memantulkan sinar hitam ke sudut lain. Maven berusaha mengarahkan pantulan itu agar mengenai lawan, namun ia gagal. Alhasil, berondongan tembakan lawan ada yang menyerempet tubuh Maven.

Tiba-tiba kedua monster itu terbelah sekaligus terpanggang.

Maven menghentikan aksinya. Ia menatap ke arah si penyelamat. Reyl menghampirinya dengan pijakan kristal, lalu meloncat dan mendarat di sisinya.

“Indah sekali tarianmu tadi, Mave,” ujar Reyl dengan senyum langkanya. “Untuk sesaat aku terpana, dan saat berikutnya kukerahkan Sabit Api Tajam.”

“Fiuh, syukurlah. Memang sudah niatku untuk tak menghabiskan anak panahku pada mereka. Terpaksa mengandalkan teman lagi.” Maven menyarungkan kembali belatinya.

“Ya, benar itu. Jadi lain kali, jangan selalu beraksi pertama. Cobalah bergantian dengan yang lain supaya tak ada yang terlalu cepat kehabisan tenaga.”

“Dan malah memperlambat perjalanan. Ya, aku mengerti. Nah, lihat, Sophia menyusul.”

Si gadis berambut merah yang ditunjuk itu meloncat dan mendarat di samping Maven dan Reyl, melihat keakraban keduanya dengan dahi berkerut.

Sebaliknya, Reyl malah berbalik sambil berujar, “Sekarang giliranku maju duluan.” Ia bergegas menyusuri jalan setapak dari kristal keras itu, meninggalkan Sophia. Wajah Maven tampak bingung.

Bukankah Reyl dan Sophia adalah sepasang kekasih? Mengapa terasa ada jurang yang melebar di antara mereka saat ini?

==oOo==

Yang lebih aneh lagi, Sophia kini lebih banyak berbincang-bincang dengan Declan. Walaupun isi pembicaraan yang didengar Maven hanya sebatas membandingkan pengetahuan Declan, catatan Sophia dari buku Guru Lei dan benda nyata, nada bicara mereka jadi makin akrab. Bahkan nyaris berbisik hingga tak dapat didengar dari jauh, bahkan oleh Maven yang pendengarannya paling tajam sekalipun.

Lagipula, Maven lebih sibuk berjaga-jaga dan melacak bersama si pemandu. Sebentar-sebentar Maven menengok, melihat keadaan Reyl yang wajahnya makin memucat. Reyl, bertahanlah, batinnya.

Lorong-lorong kristal yang besar nan agung ini terasa sangat sunyi.

Tiba-tiba Tobar menghentikan langkahnya.

Bangor berbisik ke Maven dan kelompoknya, “Berhenti. Aku merasakan...” Ia mengendus-endus udara, meraba lantai kristal dengan dua tangan lalu merapatkan telinganya di lantai itu, “Ada penjaga di sini.”

Maven terperangah. “Golem kristal lagi?”

Bangor menggeleng. “Bukan. Lebih BESAR dari golem kristal.”

Sophia terkesiap. “Apa? Jangan-jangan itu...”

Declan mengangguk. “Tempat yang paling dijaga. Ini berarti kita sudah dekat dengan ruang inti istana es, bukan?”

“Ditambah udara dingin yang makin menusuk, sangat mungkin sekali,” ujar Bangor yang lalu tertunduk lesu. “Tapi aku tak pernah tahu pasti, karena di sinilah aku dan Tobar dikalahkan dan harus pulang dengan tangan hampa.”

Giliran Reyl angkat bicara, “Tapi kali ini pasti akan lain, karena ada kami berempat yang membantu kalian.”

Maven menambahkan, “Lagipula kita belum berhasil menemukan penawar Kristal Crylium, jadi ruang inti adalah pertaruhan terakhir. Kita tak punya cukup waktu lagi untuk menjelajahi semua sudut di istana maha besar ini.”

Declan menanggapinya, “Kalau begitu, aku akan memperbarui sihir pelindung kita, Omnigalatr!”

Tombak bermata tiganya memancarkan cahaya putih, membasuh semua anggota tim hingga tubuh mereka berpendar putih, sejuk dan teduh.

“Terima kasih, Dec.” Sophia tersenyum manis pada si pendeta tampan. “Aku juga sudah menghimpun tenaga, siap merapal sihir.”

Pada kesempatan itu Reyl menatap kelima rekannya. Dengan bibir bergetar ia berucap, “Terima kasih, teman-teman karena sudah datang sejauh ini demi menolongku, orang biasa yang bukan pahlawan, bukan orang penting ini.”

“Tapi kau sungguh ‘orang penting’ bagi kami, Reyl,” jawab Maven. “Kau adalah sahabat kami, yang mengisi hidup kami dengan arti.”

Bangor menambahkan, “Bahkan bagi orang tak dikenal sekalipun, kebaikan dan budi tanpa pamrih adalah ciri persahabatan sejati. Jadi mari, kita satukan tekad untuk menuntaskan apa yang telah kita mulai, kita perjuangkan dengan penuh pengorbanan ini bersama.”

Tobar menggeram pelan, seolah tergugah oleh tekad kelima rekannya.

Enam pribadi itu lantas berjalan beriringan dalam formasi tempur, siap menghadapi apapun.

Maven berjalan paling depan bersama Reyl memasuki sebuah ruangan yang luar biasa luas, dengan kubah yang menjulang tinggi hingga ke puncak seperti kawah gunung berapi.

Sinar matahari tampak menyusup dari kisi-kisi di puncak langit-langit, dipantulkan ke dinding-dinding kristal sampai ke lantai hingga ruangan itu tampak terang-benderang.

Di ujung ruangan, tepat di bawah puncak kristal Maven melihat sebongkah kristal es raksasa yang menjulang tinggi. Didorong rasa penasaran, ia melangkahkan kakinya terus dan terus...

“Awas, Mave!”

Terkesiap, Maven berbalik. Detik berikutnya tubuhnya diterjang Reyl sampai jatuh terlentang.

“Aduuh!” Mata si gadis mungil menatap lurus pada wajah pemuda tampan yang tampak dekat sekali dengan wajahnya ini. Lalu terbelalak melihat satu tangan raksasa turun menghantam ke arahnya.

“Awass!” Refleks, Maven menarik tubuh Reyl sampai berguling-guling ke samping. Mereka terhindar sepenuhnya dari hantaman yang membuat ceruk di lantai, yang memang sudah tidak rata lagi akibat pertempuran-pertempuran sebelumnya.

Segera saja Maven dan Reyl bangkit dan berdiri tegak. Di hadapan mereka berdirilah sosok seperti manusia raksasa berzirah kristal yang menutupi ujung kepala hingga pangkal pahanya. Sedangkan tubuh bagian bawahnya seperti tubuh ular naga raksasa, merayap di lantai. Ia menggenggam sebilah pedang kristal raksasa di tangan kanan, siap dihantamkan kapan saja.

Keringat dingin mengucur dari dahi Maven di hadapan makhluk setengah dewa ini. Ia menoleh sesaat ke belakang, melihat keempat rekannya sedang sibuk bertarung melawan tiga golem obsidian hitam di kejauhan.

Lantas ia menoleh lagi pada Reyl yang berseru keras, seakan meraung.

Dada Reyl membusung, aura api pekat melambari tubuhnya dan Kalung Crylionel berpendar lagi. Gawat! Apakah pemuda ini akan mengamuk lepas kendali lagi seperti saat melawan Udmelekh dulu?

Maven melangkah mundur, mencoba menjauh. Tatapannya kini terpaku pada si monster ksatria es, yang berdiri terpaku di tempat sambil menundukkan kepala. Dengan wajah kebingungan ia menoleh ke belakang, ke golem-golem hitam yang malah berlutut khidmat, semua ke arah Reyl.

“Lha, Mave, apa-apaan ini? Semua monster di sini berlutut menghormat pada Reyl seakan-akan kedatangan raja?!” Bahkan Declan yang cukup berpengetahuan itu garuk-garuk kepala melihatnya.

“Entahlah... aku tak tahu. Kita ikuti saja dia,” jawab Maven sambil menunjuk pada Reyl yang berjalan maju melewati si ksatria es.

Maven, Declan, Sophia, Bangor dan Tobar lalu ikut melangkahkan kaki dengan sangat was-was. Tanpa menoleh, Reyl terus berjalan, terus sampai ke tugu kristal es yang bentuknya menyerupai pohon cemara itu.

Dalam tugu itu, Maven melihat sesosok siluet yang bentuknya menyerupai tubuh seorang wanita. Rasa penasaran kembali mendorongnya untuk mendekat dan melihat lebih jelas.

Tiba-tiba terdengar suara seruan wanita, “Wah, wah, yang ditunggu-tunggu rupanya telah datang. Bagus, sempurna sekali.”

Maven terkesiap, dan bersama keempat temannya pasang kuda-kuda siaga.

“Siapa itu? Apa maksudmu? Tunjukkan dirimu!” Maven menoleh kesana-kemari, waspada.

“Wah, wah, masa’ kalian tak mengenali suaraku? Anak muda zaman sekarang memang daya ingatnya makin parah.”

Ditegur begitu, Sophia terkesiap.” Aaah? Itu kan suara... Mustahil, guru... bukankah kau telah...”

“Mati? Semudah itukah? Hai orang-orang kurang percaya, mungkin kalian baru yakin setelah melihatku.”

Sambil bicara, wanita yang diduga “guru” oleh Sophia itu keluar dari balik tugu kristal. Ia berdiri tepat di sisi kanan wanita berambut terjurai panjang yang membeku dalam es itu, yang kini terlihat jelas.

Perhatian Maven seluruhnya tersita pada wanita yang berdiri di hadapannya ini, sosok yang sangat dikenalinya.

“Ne-Nepathya Lei...” Bibirnya bergetar.

“Ya, kurasa itulah namaku,” ujar wanita sintal itu, menumpangkan tangan kirinya pada poni rambut putih panjang yang kini tak lagi berkepang, tergerai berantakan.

Maven tercengang melihatnya. “Guru Lei, syukurlah kau masih hidup. Tapi... perban di wajahmu sudah tak ada.”

Nepathya Lei tertawa kecil. “Ha, ha, karena aku sudah merasa lebih dari sekedar hiduplah, perban tak kuperlukan lagi. Pengamatanmu cukup jeli, Maven, tapi belum memadai. Yang terpenting bukanlah perbannya, tapi wajah di baliknya. Lihatlah baik-baik!”

Sang guru sihir lantas menaikkan poni rambut yang tergerai menutupi sebagian wajah itu, memperlihatkan sisi kiri wajahnya yang lumayan mulus, sama seperti sisi kanannya. Yang berbeda hanyalah mata kiri yang tampak bersinar biru cemerlang.

Di balik sinar itu tampaklah bola matanya yang jelas bukan bola mata biasa. Bentuk permukaannya bening tanpa pupil. Kelihatannya bagai permata, atau lebih tepatnya...

Mata kristal.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?