Terbanglah, Burung Gereja

Frei Val'shka, Mahadewi Es Abadi dan Maharani Seribu Tahun

Nepathya Lei.

Penyihir yang diduga tewas saat bertarung melawan naga salju putih kini muncul tiba-tiba di inti istana es, menunjukkan mata kristal misteriusnya. Apa arti semua ini?

Maven menggelengkan kepala, tak mempercayai penglihatannya.

Sementara sang guru sihir malah tertawa dibuat-buat. “Hahaha, kalian memang benar-benar naif, naif sekali. Anak-anak muda yang hanya memandang dunia dari hitam dan putih saja. Asal tahu saja, masih banyak warna-warna lain, seperti merah,” Lei menunjuk mata kanannya, “dan biru.” Menunjuk mata kirinya.

“Apa maksud guru?” tanya Sophia sambil maju. “Kristal itu... di mata kiri guru, apakah itu Cyrilium?”

“Bukan. Ini adalah Malevium. Bentuk dan warnanya memang seperti Cyrilium, tapi kekuatan gaibnyalah yang berbeda. Jadi, keduanya bagaikan dua saudara kembar yang saling melengkapi.”

Bagai tersambar petir, Maven berkata terbata-bata, “M-maksudmu, kristal penyembuh yang kami cari-cari selama ini ternyata ada di mata kirimu?”

“Tepat sekali, elf,” ujar Lei sambil bertepuk tangan. “Ini salah satu kristal terlangka di dunia yang berasal dari saripati kekuatan gaib Frei Val’shka sendiri. Kristal di mataku ini adalah satu-satunya yang bisa kutemukan di sini. Sekarang, akan kudemonstrasikan kekuatan gaib mata kristalku ini.”

Dengan santai ia melambaikan tongkat sihirnya. Tiba-tiba tubuh Reyl terangkat dari lantai tempatnya berdiri.

“Reyl!” Maven yang baru menyadari kondisi Reyl yang masih terpengaruh daya kristal langsung mengulurkan tangan dan mencoba menarik kaki pemuda itu ke bawah.

Tapi Reyl malah membubung makin tinggi. Maven terpaksa melepaskan pegangannya.

“Eleviant!” Selarik cahaya bagai seutas tali melesat dari tongkat berkait Sophia, membelit tubuh Reyl dan menariknya. Sihir Pelayang Benda.

Tubuh Reyl malah melayang lebih dekat ke arah wanita bermata kristal.

Sophia menggertakkan gigi ingin tambah tenaga. Declan segera muncul di sisinya, berseru, “Percuma saja Sophie, jangan buang-buang tenaga. Lihat saja nanti. Kau ingin Reyl terbebas dari kristal terkutuk itu, kan?”

Tali-temali di tubuh Reyl lenyap seketika. Tiga sekawan itu hanya berdiri terpaku, tak berani sembarangan bertindak agar tak mencelakakan Reyl.

Perlahan tubuh Reyl turun. Lei mengulurkan tangannya, lalu menyentuh, merengkuh liontin kristal yang terbenam di dada pemuda itu. Bahkan dalam keadaan tersihirpun Reyl berteriak kesakitan.

“Hahaha! Sebentar lagi! Sebentar lagi semuanya sempurna!” seru Lei.

Sementara satu lagi tangan Lei terulur ke arah tugu kristal, menyentuhnya tepat di depan siluet dewi di dalamnya. Sebuah arus energi hitam mengalir dari dada Reyl ke tangan kiri, tubuh atas, mata kristal, tangan kanan Lei terus ke dalam tugu kristal. Lalu, dari dalam tugu kristal mengalirlah arus energi putih ke tangan Lei, terus ke mata kristalnya.

Lei bicara lagi, “Ya, seperti yang kalian duga, dalam tugu ini bersemayam Frei Val’shka, Sang Dewi Es. Aku menggunakan energiku dan energi kehidupan Reyl yang terkumpul dalam Crylionel untuk memaksa energi gaib Dewi Es yang tersisa keluar dari raganya yang membeku. Lalu merasuki, memperkuat diriku.”

Declan menghardik, “Memperkuat diri? Untuk apa? Bukankah kau sudah cukup kuat, mengalahkan naga salju putih sendirian?”

“Kaupikir kekuatan sebiji sesawi itu cukup buatku? Tidak! Aku ingin lebih! Aku ingin jadi dewi, jadi yang terkuat, pewaris Frei Val’shka!”

“Lalu, setelah jadi yang terkuat di dunia, apa yang akan kaulakukan?” Maven ambil ancang-ancang dengan dua belati erat di tangan. Tindakannya selanjutnya tergantung dari jawaban si insan ambisius ini.

“Tentu saja menciptakan Zaman Es Kedua di Everna. Menjadi Maharani Penguasa Dunia selama seribu, selaksa, sejuta tahun, bukan, selama-lamanya!”

“Dan membuat segala makhluk yang hidup saat ini punah? Termasuk manusia, termasuk aku? Guru, teganya kau...” Mata Sophia mulai berkaca-kaca lagi.

“Oh, tidak, tentu tidak,” jawab Nepathya sambil tersenyum licik. “Kalian sudah banyak berjasa padaku. Kalian semua akan kujadikan jenderal-jenderal kepercayaanku. Khusus Reyl, yang paling berjasa, dia akan jadi panglima...”

Selarik cahaya putih melesat tepat ke wajah Lei. Semacam medan pelindung di depan tubuh wanita itu memantulkan sinar dari jurus Cahaya Iman Penerang Jalan.

Diiringi seruan lantang si empunya jurus, Declan. “Enak saja! Kami takkan membiarkan orang gila sepertimu memunahkan kehidupan di Everna!”

Maven beringsut ke depan Declan seraya mengacungkan belatinya. “Cukup sudah satu Frei Val’shka, satu Zaman Es. Kami sebagai sesama makhluk dan warga dunia yang sudah damai ini berkewajiban menghentikan siapapun yang ingin merusak kedamaian ini, termasuk kau!”

“Dan kau, guru, telah menipu dan memperdayai aku, Reyl dan semua yang ada di sini. Aku, Sophia Wellss sungguh malu pernah mengakui orang gila sepertimu sebagai guru.”

“Ah, kau juga menentangku, Sophie?” Nepathya terkesiap sesaat. Lalu senyum liciknya kembali mengembang. “Oh, tak apa. Lagipula aku tak butuh murid bodoh, cengeng dan penakut sepertimu. Sihir Salju Longsor saja tak mampu kaukuasai. Aku bisa saja mengangkat ribuan murid yang lebih berbakat daripadamu, tapi kau kupertahankan agar dapat terus memanipulasi Reyl.”

“Hnggh, kau…!” Emosi Sophia meledak. Declan segera menahan gadis itu agar tak gegabah.

Lei melanjutkan, “Ya. Aku butuh banyak sekali waktu untuk menguasai kekuatan kristal Malevium di mataku ini. Karena itu pulalah aku selalu berusaha mempertahankan hubunganmu dengan Reyl, kalau perlu kau menikah dini dengannya. Tapi apa yang terjadi? Datang Maven mengganggu. Aku harus mati-matian meyakinkan Maven agar mundur dan pergi saja. Bahkan kalung Crylionel, yang rencananya akan jadi hadiah pernikahan kalian, harus kuserahkan lebih awal. Alhasil, Maven pergi, kau senang dan Reyl terjebak.”

“Semua ini...” Seluruh tubuh Sophia bergetar hebat. “Semua ini... hubunganku dengan Reyl... kebahagiaanku... semua hanyalah bagian dari rencana gilamu saja?”

“Ya. Selangkah lagi, sebentar lagi rencanaku akan rampung sempurna, dan takkan kubiarkan siapapun merusaknya! Siapapun, termasuk kalian! Rytsaried! Laskar Obsidian! Temani para pengganggu ini main-main! Setelah kalian bosan, habisi mereka!”

Sosok raksasa Rytsaried dan lima sosok golem obsidian segera bergerak, mengepung empat pendekar dan satu beruang di tengah ruangan panjang nan luas itu.

Bangor si kurcaci berseru, “Maven, Declan, Sophia, kalian tangani Rytsaried! Biar aku dan Tobar menuntaskan dendam lama pada makhluk-makhluk kepala batu ini.”

“Baik!” Dengan satu entakan, Maven melesat ke arah si ksatria es raksasa.

Rytsaried meraung keras, mengayunkan pedang raksasanya menyamping ke arah Maven. Namun yang disapunya hanya angin. Si raksasa lalu menengok kanan-kiri, mencari-cari sasarannya.

Sesaat kemudian, Maven melesat ke arah tubuh atas lawannya dengan meniti bilah pedang kristal raksasa. Rytsaried melambaikan tangan seolah ingin menghalau lalat. Saat berikutnya, dengan lincahnya Maven melompat tinggi dan terjun ke sasaran, yaitu tenggorokan lawan.

Belati Maven menusuk lurus, namun agak meleset dari sasaran. Itu karena Rytsaried dengan refleks menengok ke arah Declan, yang menusukkan tombaknya berkali-kali dengan kecepatan super jurus Serangan Cepat Jiwa Giat ke arah tubuh bagian bawah.

Kontan si raksasa es membalas. Satu tinjunya telak menghantam Declan sampai terpental.

Wajah tampan Rytsaried yang bagai patung tanpa ekspresi lalu terarah ke Sophia.

Penyihir itu merapal mantra, “Pyroagnios!”

Selarik gelombang membara ditembakkan dari tongkat sihirnya, menghantam telak dada Rytsaried. Alhasil, ksatria itu mundur empat langkah.

“Kubalaskan pukulanmu ke Declan tadi. Rupanya Sambaran Api Besar-ku kuat juga.”

Belum sempat Sophia beraksi lagi, pedang Rytsaried menusuk cepat ke arahnya. Saat berikutnya, satu tendangan ke sisi pipih bilah pedang mementalkan senjata itu ke samping. Sambil melentingkan tubuhnya dari pedang Rytsaried, Maven memberi isyarat kedipan mata pada Declan.

Si pendeta menyambutnya dengan anggukan.

Selanjutnya, giliran Rytsaried yang bergerak ke kanan-kiri bagaikan menari. Sementara Maven dan Declan berkelebat kesana-kemari, menyengati si ksatria dari arah berbeda-beda.

Hingga akhirnya, satu tusukan Maven menyengat tengkuk Rytsaried. Makhluk setengah dewa itu meraung kesakitan untuk pertamakalinya.

Si ksatria es berseru dengan suara membahana, “Sial! Harus kuakhiri ini sekarang!”

Rytsaried membusungkan dadanya. Lalu sebentuk kristal biru raksasa yang berbentuk mirip Cyrilium di tengah-tengah zirah kebiruannya itu berpendar. Cahaya putih kebiruan membentuk bola besar. Lalu, dari bola besar itu terpancar sinar kebiruan yang terarah lurus menuju lawan.

Declan dan Sophia yang jadi sasaran pertama segera menghindar dengan menjatuhkan diri ke samping. Rytsaried memutar tubuhnya dan sinar biru itu beralih ke arah Maven. Malangnya, gadis mungil itu gagal menghindar. Ia sontak terkungkung dalam gundukan es beku, dan tembakanpun usai.

“Maven! Sophie, tolong dia! Biar aku yang menahan monster ini!” Declan langsung melesat menyongsong si monster dari samping, lalu merangsek dengan jurus Serangan Cepat Jiwa Giat lagi, menusuki pinggul kirinya.

“Ya, monster! Aku di sini! Coba hajar aku!”

Ejekan Declan itu disambut sabetan pedang yang lebih cepat dari dugaan, hingga menorehkan luka sayatan yang dangkal di dadanya.

Walau masih kesakitan, Declan memanfaatkan posisi Rytsaried yang membungkuk. Ia cepat berlari memutari tubuh besar si monster yang bereaksi lambat, mendaki sampai ke punggungnya, lalu melompat.

“Suara... Tunggal... Kebenaran!”

Satu tusukan. Dengan segenap tenaga suci terpusat di ujung tombak. Itu saja yang diperlukan Declan untuk menaklukkan makhluk dewata ini. Kepastianpun tampak saat ujung bilah tombak bermata tiga melesak masuk ke tengkuk Rytsaried.

“Tidaak! Jangan lagi!” Rytsaried nampak kesakitan. Tangannya terkulai lemas, menjatuhkan pedangnya.

Melihat gejala ini, Declan mengetatkan pegangan pada tombaknya

Ia berseru, “Kau belum mati, monster? Salah sendiri titik lemahmu mudah ditemukan.”

“Ini kutukan...,” jawab Rytsaried lirih. “Kutukan dari raga inang baruku ini. Belum setengah abad aku bersatu dengannya, aku harus terpisah lagi? Jadi roh pelindung yang penasaran lagi? Aku tak rela! Aku sungguh tak rela!”

Tak tampak ekspresi apapun dari wajah makhluk dewata yang harus takluk dari manusia biasa ini. Sebuah gagasan muncul di benak Declan.

“Kau masih mau hidup dengan raga ini, Rytsaried? Mengabdilah padaku. Dengan ilmu perlindungan dan penyembuhanku, luka mematikanpun bisa kusembuhkan. Bagaimana? Keputusan ada padamu,” ujar si pendeta lantang. Satu saja gerakan mencurigakan dari Rytsaried, tombak dicabut dan tamatlah riwayatnya.

Hening sesaat.

Lalu perlahan Rytsaried menoleh ke arah majikannya saat ini, Sang Pewaris Dewi Es. Tapi yang didapatnya hanya hardikan, “Dasar monster tak berguna! Takluk dengan begitu mudahnya dari manusia biasa. Kau ingin aku menolongmu, heh? Hei, kalaupun aku ingin, aku tak bisa! Sedikit saja kulepaskan sambungan ini, transformasiku sebagai manusia dewa akan gagal total! Bebaskan dirimu sendiri, Rytsaried, baru kau pantas jadi tangan kananku!”

Sikap Nepathya itu membuat Rytsaried kembali tertunduk hening. Lalu bicara, “Kau... bukan Frei Val’shka. Sang Dewi Es tak pernah meninggalkanku. Ia tewas terkungkung di es itu karena menyelamatkanku. Walau akhirnya aku tewas pula bersamanya, tapi takkan pernah kulupakan kesetiaan kekasihku itu untuk selamanya. Sungguh menyesal aku mendukung kau, Nepathya Lei, sebagai pewaris Sang Dewi. Kini, akan kupastikan kau gagal memenuhi ambisimu itu. Kau tak pantas menjadi dewi!”

Dengan satu hentakan, Rytsaried mementalkan Declan menjauh. Lalu, dengan energi kehidupannya yang terakhir ia menggembungkan mulutnya, memuntahkan sebutir mutiara biru pucat.

Mutiara itu melesat, bertumbukan, melebur dalam bola magis yang tertatah di tongkat berkait Sophia. Tongkat sihir itu berpendar biru menyilaukan.

Maven, yang baru sadar setelah es yang mengungkungnya dicairkan oleh Sophia tercengang melihat tindakan Rytsaried itu. Lebih terganga lagi saat ia melihat tubuh Sophia terangkat ke udara, bercahaya biru terang.

Di sisi lain, raga kasar Rytsaried tak lagi bernyawa. Namun ia masih tegak berdiri, ditopang dengan pedangnya yang tertancap tegak lurus di lantai.

Segera Maven menoleh pada wanita berambut putih itu sambil menghardik, “Guru Lei, lihat! Rytsaried saja masih punya rasa kehormatan sebagai ksatria sejati, mengapa guru membuangnya? Tolong renungkan dari nuranimu yang terdalam. Pantaskah membuang kebahagiaan demi kekuasaan semu? Masih ada kesempatan! Guru masih bisa menghentikan semua ini, lalu pulang bersama Sophia, Reyl, kami semua, bersama menjalani hidup bahagia, penuh cinta...”

“Dan terlupakan begitu saja sebagai manusia biasa?” hardik Nepathya Lei sambil meneruskan prosesnya. “Tidak! Aku ingin dikenang selama-lamanya, sebagai seorang dewi yang menciptakan perdamaian dan mempersatukan dunia. Untuk tujuan itu, aku telah banyak berkorban. Tekadku sudah bulat! Percuma saja membujukku! Sekarang giliranku memberi kalian kesempatan terakhir. Membantuku kalian jaya, menentangku kalian mati!”

Declan malah maju. “Jawaban kami sudah jelas, tak perlu diulang lagi.”

Sophia juga mengacungkan tongkatnya. “Yang pasti, Guru Lei yang kami kenal selama ini sudah tiada, sudah jadi monster haus darah seperti Udmelekh!”

“Hmm, jadi kalian akan menyerangku sekarang? Tidakkah kalian peduli pada Reyl, teman kalian ini?” Lei mencengkeram dada Reyl lebih erat.

Declan berbesar mulut. “Berkorban untuk membasmi monster sepertimu, aku yakin Reyl takkan keberatan. Ayo kita serang dia bersama-sama! Siap, semua! Satu, dua, tiga!” Ia menembakkan selarik sinar putih dari tongkatnya.

“Pyroagnios!” Sophia menembakkan Sambaran Api Besar. Rupanya selama ini ia diam-diam melatih sihir api dan merahasiakannya dari siapapun, terutama gurunya.

Diberondong dan dikeroyok, Lei malah diam saja. Tembakan gabungan api dan cahaya bertumbukan dengan medan pelindung kasatmata di dekat wanita itu dan Reyl. Daya sihir meledak, menyebar percikan api dan asap yang meletup-letup, bagai tunas-tunas jamur merekah.

Sesaat kemudian, gumpalan asap besar luntur menghilang. Lei tampak masih berdiri tegak bersama Reyl yang kakinya kini berpijak di lantai. Mereka sama sekali tak nampak cedera. Aliran energi tak terganggu, proses peralihwujudan masih berjalan.

“Hanya sebegitu saja? Ayo, jangan simpan-simpan lagi, kerahkan serangan terkuat kalian.”

Declan dan Sophia tak menanggapi ejekan Lei itu. Mereka hanya terpaku, diam seribu bahasa.

Kembali Lei bersilat lidah. “Kau juga, Maven, apa lagi yang kautunggu? Mana jurus pamungkasmu?”

Digertak begitu, Maven malah tetap pasang kuda-kuda siaga. Ia hanya berseru pada kedua rekannya, “Kalian tak usah buang tenaga. Kita hanya bisa menunggu sampai prosesnya selesai. Percuma saja sekarang, medan pelindungnya terlalu kuat.”

“Oh, lantas kaupikir pertahananku akan melemah setelah transformasi? Justru sekaranglah kondisiku yang terlemah! Ayo, serang lagi!”

Giliran Declan menghardik, “Maven benar. Jangan harap kami terpancing tipuanmu, Nepathya Lei.”

Si penyihir bermata kristal malah mengulum senyum. “Baik, jika kalian ingin mati di tangan Sang Dewi, aku takkan menundanya lagi. Saatnya beralih wujud!”

Mendadak, hawa energi es pekat menyelimuti Lei. Perlahan-lahan tubuhnya mulai berubah. Seluruh kulitnya berubah warna jadi biru. Mata merahnyapun berubah jadi persis seperti mata kristalnya. Bahkan rambutnya yang putih jadi tampak seperti jarum-jarum es yang panjang membiru.

Seluruh penampilannya berubah mirip sosok dewi dalam tugu es, kecuali pakaiannya. Seakan Frei Val’shka kini punya saudari kembar.

Sesaat kemudian, Lei melepaskan sentuhan pada tugu kristal dan Reyl. Pria yang tak sadarkan diri itu tumbang bagai layangan putus. Lei menoleh ke arah tugu, melihat bayangannya sendiri yang kini mirip dengan sosok di dalamnya.

Lei menegadah, tawanya membahana. “Berhasil! Kekuatan Dewi Es kini jadi milikku! Mulai sekarang, segala makhluk akan bertekuk lutut padaku. Saksikanlah dimulainya zaman baru, Zaman Es Abadi! Dengan pemimpin tunggalnya, aku! Dewi di atas segala dewa-dewi!”

Sophia menyela dengan suara bergetar, “Guru, kau benar-benar telah tersesat, dikelabui ambisimu sendiri.”

“Ya, benar,” ujar Maven dengan mata terbelalak nyalang. “Bilamana ada di dunia ini yang mengaku sebagai dewa tertinggi, tentu Vadis, Adair dan Enia takkan tinggal diam.”

“Dan kami mewakili mereka mencegah pengacau sepertimu memusnahkan kehidupan!” seru Declan. “Inilah amanat Vadis, Suara Tunggal Kebenaran!” Berteriak penuh semangat, Ia melesat bagai terbang, menusuk lurus ke arah lawan.

Pandangan mata Dewi Lei tampak meremehkan. “Ingin menaklukkanku dengan jurus sederhana macam itu? Jangan mimpi!”

Dengan kibasan malas, tangannya menghalau jurus Declan. Sebelum tertangkis, si pendeta mendadak mengubah jurusnya. Tombaknya menyabet-nyabet dengan gerakan acak tak terbaca. Jurus Jalan Terjal Kebajikan.

Diserang seperti itu, Sang Dewi malah tersenyum sinis. “Kena kau. Medan Inti Kutub Beku!”

Ia merentangkan kedua tangannya, lalu melambaikannya dengan membentuk lingkaran yang berputar terus-menerus. Sebuah pusaran muncul dari titik tengah pergerakan tangan itu. Nampaknya seperti badai es yang berpusar bagai angin puyuh.

Declan yang posisinya tepat di mulut pusaran tiba-tiba merasakan jurus acaknya tambah kacau. Tubuhnya serasa sedang tersedot ke dalam pusaran itu. Gawat! Tenaga dalam Declan sudah terkuras oleh pengerahan dua jurus sekaligus, dan ia tak sempat lagi mengubah jurus. Luka parah atau maut tercacah di depan mata...

Sesaat kemudian, Maven melesat, masuk ke pusaran itu. Tubuh gadis itu berputar deras, mengikuti arah pusaran. Sepasang belatinya menusuk deras ke inti pusaran.

Nepathya Lei terkesiap melihat jurus Pusaran Pembelah Roh ini. Ia cepat-cepat mengibaskan tangannya ke samping. Namun ujung belati sudah mengenai bahunya, terus berpusar seperti bor. Tak ayal lagi, darah biru menyembur dari lukanya itu.

“Mau membunuhku? Tak semudah itu!” Sambil berkata begitu, Sang Dewi menundukkan kepala. Rambutnya yang bagai duri-duri landak deras menembus pusaran bor, menghunjam tubuh Maven.

Jurus pusaran bor terhenti, Maven terpelanting jauh ke sisi balairung.

“Ayo, siapa lagi yang menantangku?” Sang Dewi membusungkan dadanya.

“Aku! An Rytsaried Aschi!” Sophia mengacungkan tombaknya ke lantai. Di lantai itu terbentuklah sebuah medan cahaya gaib berbentuk bulat, dengan bintang bersudut enam di dalamnya.

Perlahan, dari dalam medan sihir itu muncul sosok kepala yang mengenakan helm lancip hampir menyerupai kerucut. Lalu berangsur tampil tubuh berzirah kristal kebiruan, hingga bagian bawah tubuhnya yang adalah tubuh ular raksasa.

Seringai sinis Lei mengembang. “Rytsaried, kau pengkhianat! Membantu musuh dalam wujud roh pelindung?! Mana kata-kata heroikmu tentang kesetiaan dan pengabdian tanpa akhir? Dasar cecunguk tak berguna yang hanya bisa omong kosong saja!”

Sosok roh Rytsaried yang wajahnya seperti topeng tanpa ekspresi itu menjawab, “Apa kau lupa? Justru kaulah pengkhianat itu! Aku tetap setia pada Frei Val’shka dan tugasku adalah membasmimu!”

Rytsaried maju sambil memutar-mutar pedang kristal raksasanya. Ia mengerahkan energi es yang terus berlipat ganda. Sementara aura es yang amat pekat terpancar dari tubuh lawannya, yang malah tak bergerak, menangkis atau semacamnya.

“Menyerangku dengan jurus picisan? Kenangan Frei Val’shka memberitahuku penangkalnya!”

Tiba-tiba rambut Lei menegang lagi ke arah lawan. Tangannya terulur lurus, menembakkan larik-larik benang sinar biru dari ujung-ujung jari dan rambutnya, menembusi zirah si ksatria es.

Tak beraga kasar, Rytsaried yang kini berwujud sebentuk energi melaju terus. Lalu dengan ganas menyabet-nyabetkan pedangnya ke tubuh Dewi Lei. Tak sampai semenit, ia menghentikan serangannya dan beringsut mundur. Aneh, tubuhnya kini nampak seperti bayangan yang memudar, disertai lubang-lubang seperti pusaran air disana-sini.

Kepala Rytsaried tertunduk seiring suara lirihnya, “Medan pelindungnya... telah kubongkar... Sekarang kuserahkan selanjutnya pada kalian... Sampai jumpa lagi...”

Seiring kata terakhirnya, tubuh Roh Pelindung Es itu lenyap seluruhnya. Warna mutiara biru di tongkat Sophia berubah kusam.

“Hmph... cecunguk keparat! Kalau begini caranya, biar kugagalkan segala jerih-payahmu itu!” Lei melesat maju dengan rambut dan kuku-kukunya, menusuk tepat ke arah Sophia.

Sementara Sophia hanya menatap pasrah. Teriakpun tak sempat di hadapan maut...

Hingga tiba-tiba terdengar suara lantang seorang pria, “Kau lupa, masih ada aku.”

Selarik Sabit Api Tajam nyaris memenggal kedua tangan atau bahkan tubuh Lei. Tak mau rugi, terpaksa Lei mengalihkan serangan ke Sophia itu, menangkis sabit api dengan perisai es. Ujung tajam sabit menggores sedikit kulit kebiruan Dewi Lei, daya tangkisan mendorongnya mundur setapak.

Seorang pemuda menerjang maju dengan pedang teracung. Tubuhnya berbalut aura api, pekat membara. Saat masuk jarak serang, gerakan pedang berubah menjadi sabetan-sabetan ganas ke segala arah, dengan pola Sayap Api Phoenix.

“Reyl, kau cepat sekali pulih rupanya. Cintamu pada Sophie-kah yang membakar semangatmu? Percuma saja, anak muda, akhirnya kau pasti mati di tanganku. Anggap saja kehormatan bagi kalian berempat jadi tumbal kebangkitan Dewi Zaman Baru,” sergah Nepathya. Ia bergerak menghindar, menangkisi serangan Reyl dengan perisai es dan rambut-rambut jarumnya.

Sebaliknya, pemuda yang baru “sembuh” dari pengaruh Crylionel ini malah bergerak makin cepat, makin bersemangat. Ia bagaikan burung phoenix menari.

“Aku sudah dengar semua saat proses perubahan wujudmu tadi. Walau kau telah membebaskanku dari kalung terkutuk itu, aku tetap takkan membiarkan rencanamu berhasil!”

Sambil mengatakannya, Reyl menyabetkan pedangnya bertubi-tubi ke pinggang kiri Dewi Lei. Sekali lagi, darah biru tercurah.

Tanpa mempedulikan rasa sakit, tusukan-tusukan kuku dan rambut Sang dewi mendarat bertubi-tubi di tubuh lawan. Reyl terpelanting jauh dan terpuruk di lantai kristal.

Sesaat kemudian, Sang Dewi menoleh ke sekitarnya. Lalu ia menegadah ke langit-langit sambil tertawa dibuat-buat. “Tak adakah dari kalian yang mampu berdiri menghadapiku? Mana sesumbar kalian tadi? Dasar, kalian berempat hanya sekumpulan anak muda yang pembual saja! Jangankan jadi jenderalku, jadi kutu di rambutkupun kalian tak pantas! Maka, seperti kutu pula kulumat kalian satu-persatu!”

Satu suara menyahut, “Oh, bagus, sekarang kami dikatai kutu. Asal tahu saja, dewi setengah takar! Selama masih bernafas, kutupun masih bisa menggigit.”

Terkesiap, Dewi Lei melayangkan pandangan ke sumber suara lantang itu. Rupanya Declan si pendeta sesat sudah bangkit berdiri. Ia balik menggertak sambil mengacungkan tombak.

Menyusul pula Sophia di sisi lain. Makin ia diremehkan, semangatnya makin menyala-nyala. Tatapan matanya berapi-api.

“Jangan meremehkan semangat anak muda. Semakin kami ditekan, semakin tersiksa, kami jadi makin kuat,” ujar Maven, juga siaga dengan sepasang belatinya.

Bahkan Reylpun bangkit. Lagi-lagi aura api pekat membungkus tubuhnya.

“Oh, begitukah?” sahut Si Pewaris Frei Val’shka, mata kristalnya berpijar tajam. “Kalau begitu akan kuhancurkan kalian, biar kalian mati beku seperti si naga salju putih itu. Rasakanlah sihir pamungkas dari segala pamungkas, sihir yang pernah mengakhiri dunia, Kiamat Zaman Es!”

Sambil berkata begitu, semua rambut panjang Dewi Lei hingga kepalanya tampak seperti matahari biru di tengah hari. Kedua tangannya terentang. Dari dinding-dinding kristal terpancar jaring-jaring gelombang energi yang merambati rambut dan kuku-kukunya.

Menyadari gelagat ini, Declan segera berlari ke balik tubuh kaku Rytsaried. Ia berseru, “Cepat, teman-teman! Kita harus tahan dia di sini! Gabungkan kekuatan!”

Sophia berseru balik, “Lho, mengapa di sini? Tidakkah sebaiknya kita kabur ke jarak aman?” Ia berdiri di samping Declan.

Reyl memposisikan berdirinya di sisi lain si pendeta. “Tidak, Sophie. Kalau kita lari, dia akan mengejar kita. Kita akan membahayakan Bangor dan Tobar yang sedang menghalau musuh-musuh lain. Ikuti saja cara Declan!”

“Ya, benar! Salurkan saja energi padaku. Semoga taktik ini berhasil.” Declan mengangguk.

Kedua tangan Maven menyentuh bahunya. “Semua ada di tanganmu sekarang, Dec!”

Selarik berkas energi berwarna hijau mengalir keluar dari tubuh Maven, masuk melalui punggung Declan. Begitu pula larik merah Reyl dan larik biru Sophia.

Berkas aura putih di tubuh Declan membesar dan membesar. Rambut si pendeta itu terlepas ikatannya, terurai dan melambai-lambai, seolah diterpa badai dahsyat. Declan memegang tombak sihirnya tegak lurus menghadap punggung kaku Rytsaried. Wajahnya menegang dan matanya terbelalak.

"Joklgaeanos!" Sang Dewi merapal mantranya.

Saat hampir bersamaan Declan juga berseru lantang, “Summa Omnigalatr!”

Sebentuk kubah cahaya bening melingkupi keempat pendekar ini.

Sementara di sisi lain, daya es dewata membentuk bola energi raksasa di atas kedua tangan Sang Dewi yang terangkat tinggi-tinggi. Pusaran bertambah cepat lalu meledak, diiringi suara dentuman dahsyat.

Tak hanya sampai di situ, ledakan itu juga menyebar gelombang kejut berkecepatan tinggi ke seluruh ruangan. Mengikis ceruk-ceruk baru pada dinding-dinding kristal yang sudah rusak akibat pertempuran hebat sebelumnya. Tanah bergetar bagai gempa bumi. Bahkan raga raksasa Rytsaried yang tak ubahnya dinding itupun tercabik-cabik dan terpenggal.

Saat daya ledakan es itu bertumbukan dengan Medan Pertahanan Mutlak, suara retakan terdengar.

Sophia terbelalak, kesakitan.

“Uugh... Tahaaan! Tambah tenaga!” Tangan Declan bergetar hebat, berusaha menjaga posisi tombaknya agar tetap tegak-lurus.

Urat-urat di wajah Reyl samar-samar terlihat.

Sementara gelombang demi gelombang kejut menghantam bertubi-tubi, terus-menerus. Suara-suara retakan makin sering dan nyaring...

“Siap, teman-teman!” Maven mengetatkan sentuhannya di bahu Declan. Ia memijak lantai kuat-kuat.

Medan Pertahanan Mutlak akhirnya ambrol, seiring suara pecahan kristal yang nyaring. Tinggal hawa pelindung tubuh saja yang jadi perisai terakhir terhadap daya dewata ini.

Anehnya, tiba-tiba Maven menghilang. Lenyap begitu saja. Apakah tubuhnya musnah dilalap energi penghancur?

Sesaat kemudian, percikan-percikan tusukan mengenai sekujur tubuh Dewi Lei. Alhasil, daya sihirnya jadi kacau, berujung pada ledakan yang melontarkan tubuh Lei mundur. Sesaat kemudian, Maven menunjukkan dirinya lagi. Ia mendarat sambil berlutut di lantai. Rupanya Maven melancarkan jurus pamungkas terlarang yang ia curi belajar dari Geng Viperwolves, Serigala Tanpa Bayangan.

Melihat Sang Dewi masih berdiri, Reyl berseru, “Semuanya, serangan balik!”

Reyl berlari ke sisi kanan musuh, menyabet-nyabetkan pedangnya dengan pola teratur membentuk Sayap Api Phoenix.

Belum lagi serangan Reyl mengenai lawannya, datang pula kombinasi sabetan dan tusukan tombak ke sisi kanan tubuh Lei. Teriring seruan Declan, “Jalan Pencerahan Agung!”

Sekali lagi wanita yang menyebut dirinya dewi itu jadi bulan-bulanan, dikeroyok dua “manusia biasa”. Jangankan menyerang balik, menangkis tiap sabetanpun ia kerepotan. Sirkulasi tenaga dalam tubuhnya masih kacau tak terkendali.

Beberapa saat kemudian Reyl dan Declan melompat menjauh. Berondongan pada Dewi Lei mereda sesaat, hanya untuk disusul dengan serangan lapis ketiga.

“Inferno!”

Tiba-tiba pilar-pilar api bersemburan dari lantai di bawah kaki Lei, berkobar ganas bagai Lautan Api Neraka. Kekuatan sihir pamungkas ini sanggup memanggang siapapun yang terperangkap dalam daerah bergaris tengah lima tombak di atasnya.

Bahkan dewi yang satu ini berteriak kesakitan saat mencicipi siksaan bagai di neraka ini. Kulit birunya berangsur-angsur berubah warna, menghitam bagai hangus. Tubuhnya terangkat ke udara, mengambang lepas kendali.

Kobaran api terus menggila beberapa saat. Lalu lidah-lidah api itu berangsur-angsur memendek, hingga lenyap sama sekali. Yang tersisa hanyalah ceruk hangus di lantai.

Nepathya Lei berdiri limbung. Tangannya terangkat ke arah matanya yang terbelalak.

Kulit tangan itu tampak kotor, bernoda hitam seperti baru dilumuri abu. Warna dasarnya bukan lagi kebiruan, melainkan kembali ke warna kulit manusia normal. Zirah kristal dewatanyapun hangus, lenyap.

“Apa... mengapa begini? Kulitku... tubuh dewaku?” Ia meraba-raba tubuhnya sendiri dari rambutnya yang acak-acakan. Lanjut ke wajah, luka-luka di sekujur tubuhnya dan... darah di tangannya.

“Merah... darahnya merah... Habislah sudah... Segala usahaku... lenyap... Impianku... musnah...“

Sophia yang berdiri bertopang tongkat berujar lemah, “Belum, guru, semuanya belum berakhir. Kekuatan dewa memang belum sepenuhnya menyatu dalam tubuhmu. Tapi setidaknya ia telah melindungimu hingga tak tewas akibat sihir Lautan Api Neraka tadi. Dengan kata lain, ia memberimu kesempatan terakhir untuk bertobat dan memulai hidup baru.”

Sang guru menatap mantan muridnya itu sesaat. Lei berjalan terseok-seok menghampiri Sophia, menorehkan sedikit senyum di wajah gadis itu.

Tangan sang guru terulur...

Tiba-tiba Lei memiting tangan Sophia hingga tongkat yang dipegangnya jatuh. Lei menangkap tongkat itu lalu menempelkan ujung kaitnya yang tajam di leher halus muridnya ini.

“Agh, Guru Lei, kau...!” Dalam keadaan lemah setelah mengerahkan sihir pamungkas, Sophia hanya bisa pasrah ditodong gurunya sendiri.

“Hmph, walaupun kau ternyata mampu menguasai sihir api tertinggi, menunjukkan bakat terpendammu tanpa sepengetahuanku, kau tetap saja murid bodoh dan polos,” ujar Lei, ekspresi wajahnya aneh seperti layaknya orang gila. “Bukankah sudah kukhotbahi panjang lebar kalau aku lebih baik mati daripada menghabiskan sisa hidup sebagai ‘orang biasa’? Karena aku akan segera mati, setidaknya ada muridku tersayang ini yang menemaniku ke neraka... hehehe.”

Dari belakang keduanya muncul Reyl dengan tubuh penuh luka. Ia mengacungkan pedangnya ke arah Lei sambil berseru, “Nepathya Lei, kau sudah benar-benar gila. Lepaskan Sophia. Kalau mau mati, matilah sendiri. Jangan libatkan kami dalam dunia gilamu itu.”

“Reyl, Reyl, Reyl. Ksatria Zirah Berkilap yang selalu siap menyelamatkan kekasih hati,” ujar Lei. Ia berbalik menghadap lawannya bersama sandera. “Aku punya ide yang lebih baik: bagaimana kalau kau ikut menemaninya saja ke neraka?”

Satu suara bergema. “Tidak! Jangan! Ambillah nyawaku saja, lepaskanlah Sophia. Biar aku saja yang menemanimu di neraka. Aku ini ceria dan suka bercanda, kau pasti takkan bosan!”

Semua mata beralih pada Declan, yang tadi berseru dengan sikap seakan mengiba. Tanpa mengancam, tanpa pasang kuda-kuda.

“Wow, satu lagi pemuda ksatria, rela mengorbankan diri demi kebahagiaan sepasang kekasih. Cukup mengharukan, tapi tetap saja aku memilih Sophia. Aku tak suka tampang bodoh-sok jagoanmu itu.” Tangan Nepathya Lei lantas menegang, siap dengan tongkat berkait di leher sanderanya. “Sudahlah, cukup basa-basinya. Selamat jalan, Sophie... sebentar lagi guru menyusulmu.”

“Tunggu!”

Satu teriakan menghentikan aksi Lei. Tepat di hadapannya berdirilah Maven, tegak dengan busur tergenggam erat di tangan kiri yang terjulur lurus. Sebatang anak panah terpasang pada tali busur yang ditarik kuat-kuat dengan tangan kanan, siap ditembakkan tiap saat.

“Hoho, apa lagi ini? Si elf cengeng mau sok jadi pahlawan pula? Percuma! Kalau kau menembak, panahmu akan mengenai Sophia pula! Kalaupun tidak, tongkat berkaitku pasti akan mencabut nyawanya.”

Mata Elang Maven menatap tajam. Nampak wajah dan tubuh Lei tertutupi seluruhnya di belakang tubuh Sophia yang dijadikan perisai. Salah tindak, nyawa Sophia akan ikut melayang. Inilah yang disebut “situasi saling kunci”.

“Kalau begitu ada baiknya dicoba,” ujar Maven, bergeming. “Aku toh tak keberatan mencabut satu-dua nyawa lagi. Aku harus memastikan orang gila berambisi gila sepertimu enyah dari Everna. Pengorbanan ini sungguh layak, Sophia pasti akan setuju.”

Tak ada tanggapan dari Sophia. Gadis itu terlanjur pucat-pasi dan gemetaran.

“Oh, begitukah? Ini baru pemikiran yang kucari. Setan pencabut nyawa, cocok untuk jadi pewarisku...” Tanpa sadar, si mantan dewi menggeser sisi kiri wajahnya dari balik kepala Sophia, memperlihatkan mata kristalnya.

Melihat kesempatan ini, mata Maven berkilau tajam. Tali busur dilepaskannya. Panah melesat.

Menghunjam tepat di mata kristal Lei.

Terus melesak, menembus kepala wanita ambisius itu.

Tambahan pula, daya tembakan panah berkekuatan melontarkan tubuh Lei ke belakang. Alhasil, tongkat berkait di tangannya terlepas, ujungnya hanya sedikit menggores kulit leher Sophia.

“Aaack...! Aku tak percaya...”

Sebelum Lei sempat menyelesaikan kalimatnya, ia sudah meregang nyawa. Tubuhnya terus melayang bak layangan putus hingga membentur tugu kristal es tempat sang dewi berada. Menodainya dengan darahnya sendiri.

Sesaat kemudian, tugu itu bereaksi. Lapisan es gaibnya membekukan darah, membungkus jasad sang pewaris sepenuhnya, memeteraikan nasibnya. Nepathya Lei berbagi ruang dengan Frei Val’shka dalam tidur tak berujung.

Melihat akhir nasib gurunya, Sophia tak menangis. Dengan gemetar, ia memungut tongkat sihirnya dari lantai. Ia memandangi tugu berisi dua jasad itu sejenak, lalu terjatuh lemas di lantai.

“Sophie!” Declan si pendeta sesat menghampiri Sophia dan memapahnya. “Kau tak apa-apa?”

“Yah, aku terluka, kelelahan dan trauma setelah segala yang terjadi tadi. Kurasa aku butuh waktu untuk pulih sebelum mengambil langkah selanjutnya,” ujar Sophia lemah dan terbatuk-batuk.

Tentu saja Reyl, kekasih resmi Sophia juga mendekat. Ia berujar, “Sophie, ini salep penyembuh untuk lukamu. Tenangkanlah dirimu supaya cepat pulih.”

Perasaan sesak merasuki hati Maven. Wajahnya berubah muram melihat Sophia yang dihujani perhatian dua pria. Declan mungkin memang melaksanakan tugasnya sebagai tabib saja. Tapi sikap Reyl tegas menunjukkan rasa cintanya pada kekasihnya, yang tak tergoyahkan sampai kapanpun juga.

Sesaat kemudian wajah Maven berubah serius, memancarkan satu tekad baru. Masih agak lemah akibat luka-lukanya, ia berbalik. Kakinya mulai melangkah nyaris tanpa suara, meninggalkan balairung inti kristal.

==oOo==

Dengan langkah gontai Maven berjalan menyusuri lorong-lorong istana kristal. Di sana-sini ia melihat beberapa golem obsidian dan golem kristal raksasa berdiri mematung atau terkapar, dalam keadaan utuh atau hancur.

Baguslah, mungkin tugu kristal itu adalah kristal utama pengendali seluruh istana. Dayanya telah diserap oleh Nepathya Lei, lalu terkuras saat “dewi baru” itu kalah. Perjalananku jadi lebih ringan, tapi aku tetap harus tetap waspada. Sambil membatin, Maven menggenggam erat-erat sepasang belatinya.

Langkah Maven tiba-tiba terhenti. Matanya menangkap sesosok orang kerdil yang berlutut di samping sesosok beruang yang terkapar.

“Lho, Pak Bangor? Tobar kenapa?” Maven yang mengenali keduanya tergesa-gesa mendekat.

Dibalas dengan suara sesegukan. Kepala pria kerdil berjanggut lebat dikepang dua itu menoleh, kedua matanya tampak sembab. “Seperti yang kaulihat, Tobar telah berkorban demi menyelamatkanku. Saat kami tengah bertarung, tiba-tiba serangkaian gelombang kejut melanda.

Golem-golem terlempar atau hancur, tapi aku hanya terluka. Gelombang kejut terus datang, disusul serangan inti yang membekukan. Saat itulah Tobar berdiri merentangkan tubuhnya, menjadi perisaiku. Setelah serangan usai ternyata Tobar roboh dan mati. Tubuhnya membeku, tak kuat lagi menahan deraan bertubi-tubi itu.”

Dengan mata berkaca-kaca dan perasaan campur aduk antara kekaguman dan duka, Maven menghampiri tubuh beku si beruang. Ia menyentuhnya sesaat sambil bergumam, “Tobar, sang beruang perkasa... aku pasti akan mengenang kepahlawananmu ini seumur hidupku, meneruskan semangatmu ini pada generasi penerus.”

Maven lalu berbalik, menepuk lembut bahu si kurcaci. Ia berkata lembut, “Aku ikut berduka atas hilangnya rekan dan sahabatmu, pak. Aku juga minta maaf, gara-gara kami bapak jadi menderita.”

“Ah, tak usah minta maaf, anak muda,” ujar Bangor sambil menyeka air mata dari pipinya yang kemerahan. “Lagipula, aku sendiri yang memutuskan untuk menaklukkan ketakutanku dan masuk ke istana es. Aku sudah puas melihat inti istana es. Apapun yang menimpa kami adalah resiko profesi yang kami jalani ini. Jadi, jangan kuatirkan aku, nak. Aku akan baik-baik saja.”

“Kuharap begitu, pak. Hmm... aku baru ingat. Karena sudah tak ada penjaganya, kini kristal-kristal yang sangat beragam di istana ini bebas untuk dipelajari dan dimanfaatkan.”

“Aye! Benar katamu! Kelihatannya pengorbanan Tobar takkan sia-sia. Aku pasti akan memanfaatkan segala sumber daya magis ini demi kebaikan seluruh dunia.” Bangor nyaris terlonjak-lonjak kegirangan. Ia berdehem, kembali menjaga sikapnya jadi tersenyum lebar saja.

“Baiklah kalau begitu, Pak Bangor. Saya minta diri dulu. Sampai jumpa lagi,” ujar Maven sambil melambaikan tangan. Lantas ia berbalik.

“Hei, tunggu! Mana teman-temanmu? Kalian pasti butuh pemandu untuk keluar dari sini, ‘kan?” seru Bangor.

Demi kesopanan Maven menoleh. “Reyl, Sophia dan Declan masih di balairung inti. Bapak bantu mereka saja. Aku masih hapal jalan-jalan di tempat ini.” Ia menunjuk-nunjuk dahinya sendiri. “Lagipula, sudah waktunya aku berpisah dengan mereka, melangkah sendirian menuju petualangan-petualangan baru, membangun jati diriku sendiri.”

“Wah, aku tak mengerti duduk permasalahannya. Jadi aku hanya bisa bilang semoga segala cita-citamu tercapai, Maven.”

Sambil mengatakan “terima kasih”, Maven melesat meninggalkan kurcaci budiman itu. Terbersit bayangan dalam benaknya, Bangor akan hidup berlimpah sebagai pengusaha pertambangan kristal gaib terbesar di Aurelia Timur. Iapun menjadi teladan sebagai pengusaha yang sukses lewat kejujuran.

==oOo==

Seperti sesumbarnya, kira-kira dua jam kemudian Maven berhasil mencapai gerbang utama istana. Dengan lincah kaki-kakinya melangkah keluar. Matanya tak lepas menatap pemandangan hutan berselimut salju yang terhampar. Cahaya mentari pagi terpantulkan embun, salju dan es. Segalanya jadi nampak berkelap-kelip cemerlang.

Walau nampaknya tak ada burung di sini, suara-suara hewan lain terdengar dari kejauhan.

Maven terus berjalan ke arah berseberangan dari arah matahari terbit. Belum sampai lima ratus langkah tiba-tiba kakinya dan seluruh tubuhnya terasa ngilu. Rupanya tubuh gadis elf ini minta istirahat. Sebaiknya “peringatan” ini dituruti, karena gejala ini artinya ia sudah sangat kelelahan dari rentetan pertarungan yang nyaris tanpa henti tadi.

Jadilah ia menemukan sebuah batu besar, membersihkan salju di sana. Gadis itu duduk bersandar, beralaskan gaunnya yang sudah kotor dan koyak, penuh sobekan dan bercak darah.

Saat beristirahat itulah pikirannya menerawang. Bayang-bayang kenangan bermunculan dalam benak Maven seperti gambar-gambar bergerak.

Masa kecilnya di Biara Santo Ambrosius.

Persahabatannya dengan Declan, si “kakak besar”.

Pelatihannya untuk profesi pencuri oleh Geng Viperwolves.

Tarungnya dengan Baron Croac le Toadt.

Pertemuannya dengan Reyl.

Petualangannya melintas benua bersama Reyl hingga tiba di Lu Vazr.

Aksi pencurian Rosario Santo Ambrosius bersama Declan.

Pengorbanan Bapa Nigel di katakombe.

Aksi balas dendam dalam pertarungan melawan Calhoun dan Theana.

Perburuan Udmelekh, “Si Nyonya Besar” di Gua Mordsgard.

Niatnya menolong teman yang ternyata berujung menyelamatkan dunia.

Terbersit niat Maven untuk menuliskan segala pengalaman luar biasa ini, sebagai kenangan hidup yang sungguh keras bagi si gadis perasa ini.

Saat benaknya berpacu merangkai kata demi kata, tiba-tiba sebuah seruan mengusiknya, “Maven! Ah, di sini kau rupanya. Untunglah kau belum jauh.”

Maven sontak menoleh. Matanya terbelalak, seiring uap yang mengepul dari hidung mungilnya. Di hadapannya berdirilah sosok pemuda berambut hitam dengan seraut wajah tampan yang sangat dikenalnya... juga dikaguminya.

“Reyl?” Maven ternganga, tak mempercayai penglihatannya sendiri.

“Ya, ini aku,” jawab Reyl lembut sambil menyunggingkan senyum langkanya. “Kau tak menduga aku akan menyusulmu, kan? Aku sudah mencarimu kemana-mana. Untung tebakanku tepat, mengikutimu ke arah barat dan menemukanmu di sini. Kau pergi meninggalkan kami tanpa pamit, Maven. Setidaknya sopan sedikitlah, tinggalkan pesan seperti kali lalu.”

“Apa bedanya dengan kali ini?” jawab Maven ketus. “Apapun yang kulakukan, sekeras apapun aku berusaha, keadaan tak akan berubah, kan? Niatku menolongmu hanya untuk membalas budimu, tak lebih, tak kurang. Jadi, setelah semua tuntas, lebih baik aku, si pengganggu ini menghilang saja. Lagipula, kelihatannya Declan betah sekali berada di antara kalian. Reyl dan Sophia, sepasang kekasih yang cepat atau lambat akan menikah...”

Reyl menyela, “Aku dan Sophia takkan menikah. Kami sudah putus.”

Mendengar itu Maven tersentak, lidahnya kelu mendadak. “A-apa? B-benarkah katamu tadi?”

“Ya, Maven. Sophia minta putus denganku. Semula kukira dia melakukannya karena hubungan kami hanya semata-mata bagian dari rencana Nepathya Lei. Tapi rupanya dia menyukai Declan yang meminati hal yang sama. Jadilah mereka berbagi tujuan hidup baru, yaitu mempelajari kristal gaib.”

“Jadi singkatnya... Sophia selingkuh dengan Declan, lalu putus denganmu?”

Reyl mengangguk. “Yap. Mereka akan diam di Zaburyvostok untuk sementara. Bersama Bangor, mereka akan mengumpulkan contoh-contoh kristal gaib untuk dipelajari. Saat mereka kembali ke Lu Vazr nanti, aku harus sudah angkat kaki dari rumah Sophie.”

Sudut bibir Maven menegang. “Lantas, apa rencanamu selanjutnya?”

“Yah, karena aku sudah tak punya rumah lagi, aku akan berkelana lagi, berdagang dari kota ke kota. Aku sudah punya cukup uang untuk beli kuda baru, jadi semuanya pasti beres.”

“Oh, begitu. Sudah kuduga, kau memang tipe pedagang dan pengelana berjiwa bebas. Yah, semoga kau sukses dan menemukan kebahagiaan yang kauimpikan.” Maven mengulurkan tangannya.

Namun Reyl tak segera menjabat tangan berkulit putih halus itu. Ia malah bertanya balik, “Tunggu dulu, Mave. Rencanamu sendiri apa?”

“Yah, selain menjalani profesi sebagai pemburu monster, aku ingin pergi ke Thyrine untuk mencari tahu tentang ayahku. Aku juga harus ke Redne, mencari tahu asal-usul ibuku di kediaman Keluarga Bouvignon. Setelahnya, kemanapun angin bertiup, kesanalah aku pergi.”

“Kedengarannya cukup menarik,” ujar Reyl, lagi-lagi tersenyum. “Boleh aku ikut? Yah, siapa tahu kau butuh seseorang untuk berbagi suka-duka. Pada dasarnya kita ini masih bermitra, ‘kan?”

Kedua mata jeli berbola kehijauan Maven berkaca-kaca. Ia yang tak pernah sanggup menyembunyikan perasaannya ini tersenyum semanis-manisnya. Rupanya ia takkan sendirian dalam lanjutan perjalanan hidupnya ini.

Belum sempat ia ungkapkan segala rasa pada pujaan hatinya ini. Belum, belum tiba waktunya. Cukuplah ini dulu sebagai permulaan untuk sesuatu yang indah. Cukuplah jadi sahabat berbagi suka-duka dahulu. Mungkin benih asmara akan tumbuh dan bunga cinta akan mekar pada waktunya nanti. Tak perlu terburu-buru.

“Kuanggap itu berarti ‘ya’,” ujar Reyl, menjabat tangan Maven dengan lembut. Kedua tangan mereka bersambut. Keduanya berdiri bertatapan, lama sekali. Mereka saling bertukar harapan, kekaguman, rasa terima kasih dan kebahagiaan tanpa kata-kata.

Di dua jalan hidup yang mulai bertaut.

Hingga akhirnya suara Reyl memecah kesunyian. “Oh ya, aku baru ingat, Mave. Apa kau sudah merampungkan lagu karanganmu ‘Balada Burung Gereja’ itu? Aku ingin dengar lanjutannya.”

“Sebenarnya baru saat ini aku tahu bait penutupnya. Kisahnya sendiri masih berlanjut menuju babak baru, sedangkan lagunya rampung sampai di sini,” ujar Maven.

Gadis bertubuh mungil itu lantas melayangkan pandangan ke hamparan serba putih di sekitarnya. Lalu ia mulai melantunkan tembang dengan suaranya yang merdu.

Bertekad bulat, kutetapkan tujuanku

Terbang kembali ke pohon asalku

Bahkan awan, angin, hujan membantu

Hingga kurebut sarangku dari gagak itu

Lantas mengapa kurasa hampa?

Ingin kujenguk pohon bertuan itu, sekali saja

Kujalani sekali itu, hanya ternyata

Pohon meranggas, entah apa sebabnya

Tanpa pamrih akupun berjuang

Jangan sampai pohon itu tumbang

Rupanya penyebabnya hama garang

Walau berat, melawannya kumenang

Kini kubangun sarang baru

Karena tuan pohon ini telah berlalu

Sampai kapan, selama apa, kutak tahu

Dalam keteduhan, kubentang sayapku

Terbang tinggi

Bebas bersama angin

Terbang tinggi

Bebas bersama angin

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?