Episode 00 Prolog

Hari itu cuaca sangat cerah, pancaran sinar matahari tepat berada di atas kepala menerobos masuk melewati dedaunan yang menutupi dataran di tengah hutan yang menunjukan sudah tiba pada tengah hari. Terlihat sesosok anak laki-laki bersandar di balik pohon besar seperti sedang menunggu sesuatu, dilihat dari sosoknya, anak laki-laki itu sekitar berumur 15 tahun. Badannya terlihat lebih kecil dan kurus dibanding anak seusianya dengan pakaian serba hitam dan mengenakan sepatu kulit yang juga berwarna hitam, mata bulat berwarna hitamnya terlihat berbinar, rambutnya berwarna hitam sedikit berantakan karena tertiup angin. Terdapat pedang kayu yang disandarkan di sebuah pohon yang berada tepat di depannya, jika diukur sepertinya panjang pedang kayunya terlihat sama dengan tinggi tubuhnya.

Kenapa lama sekali bukankah ini sudah lewat tengah hari, bisiknya dalam hati dengan sedikit kecewa.

“Maaf aku sedikit terlambat,” suara dari kejauhan muncul dengan nada yang tertatih.

seketika anak laki-laki itu menoleh ke arah suara tersebut, terlihat sesosok anak perempuan sedang menunduk memegangi lututnya karena kelelahan berlari. Wajahnya yang tertunduk tertutup oleh rambut panjangnya yang berwarna perak, jika diperhatikan anak perempuan itu memiliki tubuh yang sedikit lebih tinggi dari anak laki-laki yang kini sedang berdiri menatapnya.

“Kenapa lama sekali aku hampir mati menunggumu,” ujarnya dengan nada sedikit meledek.

“Maafkan aku, ada pelajaran tambahan di sekolah.” balasnya dengan nafas yang masih terengah karena kelelahan, mata bulat berwarna biru safir menatap ramah laki-laki itu seraya meminta maaf, kulitnya terlihat sangat putih dan halus dengan rambut berwarna perak panjang terurai membuatnya terlihat bak dewi.

“Duduk dan istirahatlah kau terlihat sangat lelah,” anak laki-laki itu duduk kembali ditempatnya bersandar tadi, diikuti anak perempuan itu di sebelahnya.

“Hey Lyto, apa kau bolos sekolah lagi hari ini?” Tanya anak perempuan itu sambil mengeluarkan bekal makan siang untuknya dan anak laki-laki itu yang diketahui bernama Lyto.

”hmm … anu … a-aku tidak bolos kok aku ….” Lyto terdiam ketika melihat anak perempuan itu memelototinya.

“Hey tunggu aku bisa jelaskan Rei–”

‘BAAM’ sebuah pukulan mendarat tepat di atas kepala Lyto.

“Tak ada yang perlu kau jelaskan dasar bodoh apa sekolah tidak penting bagimu!” anak perempuan yang bernama Reina itu terlihat sedikit marah. “Kau pikir apa yang bisa kau lakukan dengan tidak datang ke sekolah, bukankah kau ingin pergi ke <BlackWorld>? bagaimana bisa kau pergi kesana jika kau bahkan tidak bisa membaca dan menulis, apa kau ingin mati sia-sia bodoh!”

“Aku bisa membaca dan menulis, lagi pula apa aku harus melakukannya ? bukankah ada kau yang akan melakukan itu semu-”

“Tidak, Tidak akan. Kau pikir aku akan ikut denganmu? aku tidak akan melakukan hal bodoh.” Reina memotong perkataan Lyto.

“Haaah? kau harus ikut bukankah kita teman?” ujar Lyto dengan nada memelas.

“Sudahlah, makan bekalmu aku rasa cacing diperutmu sudah sekarat,” Reina memberikan bekal makan siang milik Lyto.

“Akwu bwersyukyur akwu bwisa myawkan mwakanan swelezya–”

“Jangan berbicara saat kau sedang makan, lihatlah makananmu menyembur keluar dari mulutmu. Dan kenapa kau makan sambil menangis seperti kau tidak pernah makan, kau membuatku menjadi tidak nafsu makan, menjijikan.” ucap Reina dengan ekspresi yang masih terlihat marah.

“Akwu Mwintwa ma–”

‘BAAM’ pukulan kedua Reina tepat dikepala Lyto yang terus menyantap makan siangnya.

“Diamlah! bisakah kau diam untuk sesaat,” gumam Reina sambil memasang wajah cemberut.

Setelah menyelesaikan makan siangnya, mereka melanjutkan pembicaraan seperti yang biasa mereka lakukan setiap hari. Lyto dan Reina adalah teman sejak kecil, mereka bersama sejak berumur 4 tahun atau sebenarnya mungkin mereka sudah bersama sejak lahir karena orang tua mereka yang berteman baik. Reina lebih muda 5 bulan dari Lyto, tapi Reina yang selalu mengenakan dress berwarna biru langit dengan motif mawar di bagian tengahnya terlihat lebih dewasa dari Lyto, tidak hanya dari penampilan tetapi sifatnya juga.

Setelah keheningan sesaat, Reina memecah keheningan dengan menanyakan tentang bagaimana perkembangan latihan berpedang Lyto.

“Hmm … aku rasa aku bisa membunuh seekor babi hutan dewasa dengan sekali tebas sekarang,” Lyto memperagakan gerakannya dan menyombongkan diri.

“Aku harap kau tidak mati karena terlalu sering berbohong lyt.”

“Pft … memangnya ada orang mati karena berbohong.”

Latihan pedang. Saat ini, itulah satu-satu nya hal yang dilakukan Lyto selain sekolah selama 2 tahun terakhir atau mungkin memang itulah hal yang dikerjakannya setiap hari karena Lyto selalu bolos saat pelajaran sekolah dan memilih berlatih pedang di tengah hutan di sebelah timur desa tempat tinggalnya. Hal itu dilakukan Lyto setelah 2 tahun lalu secara tidak sengaja mendorong rak buku tua tempatnya bersandar di perpustakaan desa. Dia menemukan sebuah buku catatan kuno yang seakan-akan buku catatan itu disembunyikan dari semua orang.

Buku catatan itu berisi catatan tentang sebuah dunia selain dunia yang di tempati Lyto saat ini, dimana ada makhluk selain manusia yang tinggal, binatang-binatang yang hanya ada dalam dongeng yang diceritakan ibunya sebelum tidur dan tempat-tempat kuno yang memiliki kekuatan sihir.

Kenapa buku bersejarah seperti ini disembunyikan dari orang lain, apa yang ada di dalamnya?

Menganggap tidak ada yang memilikinya karena buku itu tidak ada tanda pengenal dari perpustakaan, secara diam-diam Lyto membawanya pulang karena penasaran dan membacanya halaman demi halaman setiap malam sebelum tidur hingga akhirnya Lyto menetapkan hatinya untuk dapat pergi melihat sendiri dunia itu dengan kedua matanya suatu hari nanti. Sadar dirinya belum cukup kuat, hal itu yang membuat Lyto berlatih keras setiap hari sehingga pada saatnya tiba ia sudah cukup kuat untuk menjelajah dunia itu.

Lyto menceritakan tentang buku dan dunia itu hanya kepada sahabatnya, Reina. Tentu pada awalnya Reina menganggap yang dilakukan Lyto itu hal yang buruk karena mencuri dari perpustakaan, tetapi setelah mendapat penjelasan dari Lyto dan melihat tingkah Lyto yang begitu bersemangat saat menceritakan tentang buku itu membuat Reina mengurungkan niatnya untuk melapor ke perpustakaan dan ia tahu Lyto akan kecewa jika Reina melakukan itu.

Reina pun secara diam-diam tanpa sepengetahuan Lyto mempelajari tentang dunia seperti yang disebutkan di dalam buku itu. Namun, tidak dapat ditemukan dibuku manapun yang ada di perpustakaan. Reina mencari informasi tentang dunia itu karena dia tahu Lyto itu orang yang ceroboh dan bodoh, meskipun memiliki buku catatan itu bukan berarti Lyto dapat memahami isinya dengan benar.

Lelah setelah pencariannya tak menemukan hasil, Reina meminjam buku itu dari Lyto untuk ia pelajari lebih lanjut. Sejak kecil Reina adalah sosok yang rajin dan pintar, kebalikan dari Lyto yang ceroboh dan sedikit bodoh, tetapi Lyto memiliki rasa ingin tahu yang begitu tinggi. Karena alasan itulah yang membuat Reina mau tidak mau membantu Lyto karena tidak ingin sahabat satu-satunya itu celaka akibat hal bodoh.

Setelah 2 tahun mempelajari Reina mulai memahari sedikit tentang dunia lain dari buku catatan itu, sebuah dunia yang disebut dengan <BlackWorld>. 

2 komentar untuk chapter ini

Bagus Surya
Ane komentarin yang rada trivial, jadi maaf :D

“Diamlah! bisakah kau diam untuk sesaat,” gumam Reina sambil memasang wajah cemberut.

Saran: Ganti kata guman dengan sesuatu yang lebih ekspresif seperti gerutu, geram, bentak. Guman itu kesannya pasif dan sembunyi-sembunyi, sama sekali bertolak belakang dengan tindakan menempeleng kepala orang karena kesal
Takahiro Kei
@bagus surya : terimakasih sarannya, ditampung sarannya :)