Episode 11 Kota Asing Sovovad

“Lyt genggam tanganku.” Reina meraih tangan Lyto. “Lyt … Lyto … jangan lepaskan genggamanmu.”

Kata-kata terakhir yang diucapkan Reina kepada Lyto sebelum keduanya terpisah masih terus terngiang dipikiran Reina. Apa yang dilakukannya? Kenapa dia melepaskan genggamanku? Kenapa kami terpisah? Apa yang dilakukannya sekarang? Pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan di kepala Reina yang khawatir dengan keadaan Lyto.

Setelah merasa kesadarannya diambil alih saat membuka gerbang sihir, Reina yang kesadarannya kembali begitu gerbang terbuka meminta Lyto untuk mendekat dan tetap berpegangan tangan, tetapi Lyto melepaskan genggamannya sesaat sebelum mereka terdistorsi ke tempat yang berbeda. Setelah kejadian itu, mereka terpisah satu sama lain.

Kini Reina berada di sebuah kota yang cukup besar, tetapi kota ini terlihat cukup suram dengan kemiskinan masyarakatnya. Kehidupan di kota ini benar-benar menyedihkan. Bangunan-bangunan di kota ini saling berdekatan dan berhadap-hadapan dengan lebar jalan hanya 1 ren, sampah-sampah menggunung di beberapa sudut kota, menciptakan bau menyengat yang luar biasa, benar-benar kota yang tak layak untuk dihuni.

Meskipun kehidupan penduduk kota ini tidak berkecukupan, penduduk kota ini begitu ramah, Reina yang baru pertama kali datang ke kota ini disambut dengan hangat seperti sudah menjadi bagian dari penduduk kota itu sendiri. Reina diundang ke salah satu rumah penduduk dan diberikan suguhan yang membuatnya bertanya-tanya, mereka hidup ditengah kemiskinan tetapi masih dapat memberikan suguhan cukup mewah kepada tamu yang datang, dari mana mereka mendapatkan semua makanan ini? Bukankah sebaiknya makanan-makanan ini mereka simpan untuk konsumsi sehari-hari. Karena merasa tidak sopan jika dia sebagai tamu tidak memakan suguhan yang diberikan, Reina memakan beberapa potong kue yang rasanya membuatnya ketagihan.

Reina tiba di kota ini setelah distorsi ruang ketika memasuki gerbang sihir, Reina ditemukan tak sadarkan diri di sebuah lahan pertanian di sisi timur kota oleh seorang petani. Reina terbangun pada keesokan harinya mendapati dirinya terbaring dikasur tua pada sebuah ruangan kecil, ruangan persegi dengan tembok batu dan lampu tempel sebagai pelengkap. Itu adalah sebuah kamar dengan ukuran kecil.

Reina sedikit terkejut melihat sesosok wanita tertidur di sebelahnya atau lebih tepatnya tertidur di kursi yang berada di sebelahnya dengan menyandarkan bagian atas tubuhnya ke kasur tempat Reina tertidur. Reina mengira orang ini lah yang menjaga dirinya saat tidak sadarkan diri.

Reina mencoba untuk bangun secara perlahan dan menarik tubuhnya bersandar di sudut tempat tidur, bergerak perlahan agar tidak sampai membangunkan orang itu, tetapi orang itu menyadarinya dan langsung terbangun. Reina meminta maaf karena telah membangunkannya dan hanya mendapat balasan senyum ramah.

“Ano … maafkan aku … aku ada di mana? dan bibi siapa? Maafkan aku jika aku lancang karena langsung bertanya.” Reina menundukkan kepalanya untuk meminta maaf dan melihat sekelilingnya.

“Kau pasti lapar, bukan? Aku akan menyiapkan makanan untukmu, setelah itu kau boleh bertanya sepuasmu,” jawab bibi itu lembut.

“Ah tidak perlu ak-” belum selesai dengan kalimatnya, bibi itu sudah meninggalkan kamar Reina untuk menyiapkan makanan.

Di mana ini? Kenapa aku bisa ada disini ?Apa yang terjadi? Di mana Lyto? Kepala Reina penuh dengan pertanyaan-pertanyaan, terlebih saat ini dia berada di tempat yang sangat asing, bahkan ruangan kamarnya pun terlihat asing.

Reina menghabiskan makanan yang disajikan bibi itu dan kini bersiap untuk meluncurkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah menggumpal di kepalanya sejak tadi.

“Terimakasih atas makanannya, bibi.”

“Jadi apa yang ingin kau tanyakan?”

“Hmm … ini di mana? dan kenapa aku ada di sini?” Reina sedikit kebingungan memulai dari mana dan pada akhirnya menanyakan tentang keberadaannya lebih dulu.

“Sebelumnya aku akan memperkenalkan diri, namaku Sion,” sapa bibi itu dengan senyum lembutnya, “Saat ini kau sedang ada di rumahku, suamiku menemukanmu tak sadarkan diri di dekat ladang kami, lantas ia membawamu pulang dan membiarkanmu beristirahat, aku diminta untuk menjagamu hingga kau sadarkan diri karena pasti kau akan kebingungan jika terbangun sendiri di tempat yang tak kau ketahui.”

“Sudah berapa lama aku tertidur?” Tanya Reina.

“Sudah satu hari sejak kau dibawa ke sini.”

“Apa aku hanya sendiri? Apa kau tidak menemukan orang lain bersamaku?”

“Tidak, suamiku menemukanmu sendirian dan tidak ada orang lain lagi, ada apa?”

“Tidak … tidak apa-apa, bibi.” Reina menghela nafas sebelum melanjutkan, “Bibi, apa aku boleh meminta izin untuk berkeliling kota saat ini? Aku ingin menitip barang-barangku di sini.”

“Tentu saja, silahkan, jangan sungkan.” Bibi itu mempersilahkan dan memberi tahu beberapa tempat yang sebaiknya dihindari. Reina hanya mengangguk dan meninggalkan ruangan.

Keberadaan Reina di kota ini ternyata diketahui hampir seluruh penduduk, setiap jalan yang dilewatinya pasti ada saja penduduk yang menawarinya untuk datang ke rumah mereka.

Dan di sinilah Reina saat ini, di sebuah rumah milik salah satu penduduk yang menawarkannya untuk mampir. Karena cukup lelah setelah keliling kota, Reina memutuskan mampir sambil menggali beberapa informasi tentang kota ini.

“Paman, Bibi, terimakasih atas jamuannya. Aku ingin bertanya sesuatu, apa boleh?”

“Tentu saja boleh, tanyakan apapun yang kau ingin tanyakan.” Jawab paman pemilik rumah dengan ramah.

“Maafkan aku jika ini sedikit kasar dan tidak sopan, aku melihat kota ini terlihat sangat kumuh dan penduduknya seperti hidup kekurangan, tetapi kenapa kalian sangat ramah kepadaku dan bahkan menyajikan makanan yang mewah ini? Sekali lagi maafkan aku karena bertanya yang tidak sopan.”

Reina sedikit kebingungan karena pertanyaannya justru dibalas tawa dari paman dan bibi pemilik rumah.

“Tidak perlu khawatir tentang itu … hwahwahwa … Nona, penduduk kota ini sebenarnya sangat berkecukupan, tetapi ini sudah menjadi tradisi turun-temurun bagi para penduduk kota ini untuk hidup secara sederhana. Hanya saja beberapa bagian kota memang terdapat tumpukan sampah yang seharusnya sudah diangkut beberapa hari lalu dan tampilan kota yang tua dan saling berdekatan membuat seperti kota ini sangat kumuh.”

Mendengar penjelasan paman itu, Reina langsung berdiri dari kursinya dan menunduk seraya meminta maaf karena pertanyaan lancangnya.

“Tidak perlu meminta maaf, lagi pula kami ini manusia biasa berada di kasta terendah. Jadi, sudah menjadi tradisi kami untuk berpakaian sederhana.”

“Kasta terendah?” Reina bertanya dengan nada rendah seperti bergumam.

“Ya, kami manusia yang tidak mimiliki sihir berada di kasta terendah di kerajaan ini.” Paman itu menjelaskan.

“Sihir?” Reina kembali bertanya karena semakin bingung.

“Ada apa? Kau terlihat sangat bingung?”

“Ti-tidak apa-apa, Paman apa nama kota ini?”

“Sovovad, di pulau Toru. Kota ini adalah tempat tinggal manusia tanpa kekuatan sihir, penduduk di sini bekerja sebagai petani, peternak atau nelayan. Meski begitu, penduduk kota ini hidup dengan berkecukupan, tidak seperti yang kau bayangkan.”

Hanya sedikit perkataan paman itu yang masuk ke kepala Reina, yang dipikirkannya adalah saat ini dia berada di luar dunia yang diketahuinya.

Sihir, Sovovad, pulau, nelayan, kata-kata yang baru kudengar. Ini bukanlah Castella, kami berhasil, kami menyeberang ke benua lain, catatan itu nyata Lyt, Blackworld itu nyata, kita berhasil. Reina tampak kegirangan tapi seketika kembali merenung karena ia tidak tahu keberadaan Lyto saat ini.

Setelah mendapat beberapa informasi tambahan, Reina kembali ke tempat tinggalnya saat ini, ya, ke rumah salah seorang petani yang menyelamatkannya. Di sana ia disambut layaknya keluarga. Bibi Sion dan suaminya sangat senang dengan kehadiran Reina di sana, mungkin karena pasangan itu belum dikaruniai anak meski menikah sudah cukup lama. Kehadiran Reina sudah seperti anak bagi mereka. Reina pun tidak menolak anggapan itu karena pasangan itu adalah orang yang sangat baik.

***

Sebulan telah berlalu, Reina sudah mendapat begitu banyak informasi tentang dunia ini. Walaupun dia sama sekali tak menemukan informasi tentang Lyto sedikitpun. Setelah menceritakan kepada Bibi Sion dan suaminya bahwa dia datang kesini tidak sendirian melainkan bersama sahabatnya, Reina disarankan untuk pergi ke pulau utama Yggdrasil. Di pulau utama tersebut, informasi apapun akan mudah kau dapatkan. Selain itu Reina disarankan untuk masuk ke akademi sihir dan mempelajari tentang sihir, kedua orang tua angkatnya merasa Reina memiliki bakat yang sangat besar dalam hal sihir.

Hari ini akhirnya tiba, Reina bersiap untuk meninggalkan kota Sovovad untuk menuju pulau utama Yggdrasil. Reina sudah mendapatkan banyak bekal informasi yang didapatkan dari penduduk kota tentang pulau utama Yggdrasil. Cukup berat meninggalkan tempat yang sudah seperti rumah baginya, untuk kedua kalinya Reina harus mengucapkan perpisahan kepada tempat tinggalnya.

Reina pun mulai berlayar menuju titik baru petualangannya di dunia sihir.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?