Episode 15 Aku Benar-Benar Mati


‘DUARRR’

“Tolong … Tolong ….”

“Kyaaa ….”

“… Huaaa ….”

Sebuah ledakan sangat keras terdengar diikuti teriakan-teriakan wanita dan anak-anak yang berhamburan ke jalan. Berlari tanpa arah di tengah ledakan-ledakan yang merusak bangunan kota.

Terdengar suara orang-orang yang berkumpul di sebuah lapangan dengan membawa staf kayu serta senjata yang digunakan untuk menyerang. Mereka adalah kumpulan penyihir yang bersiap untuk melakukan serangan balasan terhadap orang-orang yang menyerang kota.

Saat ini kota Milenidad tengah berada dalam keadaan waspada setelah serangan dari kelompok tak dikenal. Para penduduk biasa dan anak-anak segera di evakuasi ke tempat aman, sedangkan para penyihir dikumpulkan untuk melakukan serangan balik.

Serangan mendadak membuat jatuhnya korban tak terelakan, beberapa penduduk biasa dan penyihir kelas rendah menjadi korban karena tidak sempat menyelamatkan diri.

Kota Milenidad dikenal sebagai kota kebebasan dengan penyihir-penyihir hebat tinggal di dalamnya, tetapi nyatanya sekarang kota ini sedang dalam penyerangan oleh kelompok tak dikenal. Pastinya mereka cukup kuat untuk berani menyerang kota ini.

Sebuah ledakan kembali terdengar tidak jauh dari lokasi ledakan sebelumnya, ledakan itu terjadi di sebuah toko alat-alat sihir dan menghancurkan bangunan itu seutuhnya. Untungnya tidak ada korban karena semua orang di lokasi sudah di evakuasi.

Hingga saat ini belum diketahui siapa penyerang dan apa motif dibalik serangan ini, tidak ada klaim dari pihak penyerang dan motif di balik serangannya. Para penyihir yang bersiap melakukan serangan balik pun kebingungan karena tidak ada tanda-tanda serangan secara langsung dari pihak lawan.

Para penyihir di kota dibagi beberapa kelompok dan menyusuri kota mencari jejak pelaku, sebagian kelompok bertugas untuk memadamkan api yang masih berkobar di lokasi ledakan sembari mencari korban selamat dan petunjuk lain dari penyerangan. Para penduduk di evakuasi ke sebuah bunker yang terletak di bawah gedung pemerintahan yang berada di pusat kota.

Lyto yang sedang berada di rumah mungil di atas bukit segera keluar mendengar ledakan-ledakan keras dan suara bising dari kota. Matanya terbelalak melihat pemandangan kota yang dilihatnya.

Asap mengepul tinggi ke langit, bangunan-bangunan terbakar dan dilahap api yang semakin membesar, nyala api sangat terang memenuhi kota pada malam hari. Lyto yang tertegun melihat pemandangan mengerikan itu segera tersadar dan langsung mengambil longswordnya dari dalam rumah kemudian berlari secepat yang dia bisa menuju kota yang tengah dalam penyerangan.

‘DUARRR’

Sebuah ledakan kembali terjadi, ledakan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Semua mata mengarah ke titik ledakan. Ledakan itu terdengar di pusat kota, tepatnya gedung pemerintahan sekaligus rumah bangsawan kota Milenidad.

“Tidak mungkin.” Semua orang mengucapkan kata yang sama.

Ledakan-ledakan yang terjadi sebelumnya adalah pengecoh, karena tujuan awal penyerang itu adalah gedung pemerintahan. Saat para penyihir menyebar ke kota untuk mencari pelaku, maka gedung pemerintahan luput dari pengawasan dan minim penjagaan. Pada saat itulah pelaku itu menyerang gedung pemerintahan yang minim penjagaan.

“Sialan, kenapa bisa begini!”

“Ini jebakan!”

“Kurang ajar, semua orang segera berkumpul ke pusat kota!”

Teriakan-teriakan dari para penyihir yang panik memenuhi kota, para penyihir itu segera berlari ke pusat kota tempat lokasi ledakan besar terjadi. Sudah terlambat pastinya, pusat kota pasti sudah dipenuhi oleh kelompok penyerang saat ini.

Namun, hal sebaliknya terjadi. Kelompok penyerang itu masih berada di depan gerbang gedung pemerintahan dengan tatapan terkejut. Beberapa penyihir kota tiba di gedung pemerintahan dan mengepung para penyerang, tetapi tampaknya para penyerang terlalu kuat bagi para penyihir sehingga terhempas terkena sihir angin dari kelompok penyerang.

Beberapa orang yang baru tiba di pusat kota pun terkejut melihat keadaan saat ini, kepulan asap beserta api yang sangat besar terus memakan bangunan gedung pemerintahan, di depannya terdapat sekelompok yang diketahui dalang di balik penyerangan ini berjumlah sekitar 20 orang. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah sesosok laki-laki dengan luka di sekujur tubuhnya berdiri tepat di depan gerbang pemerintahan.

Memang mengejutkan melihat kelompok penyerang terdiri dari 20 penyihir yang berada di kelas elit penyihir atau dapat disamakan dengan seribu penyihir kelas rendah. Tetapi, yang lebih mengejutkan tentu saja sosok laki-laki dengan pedang tertancap ditanah dan kedua tangan diletakkan di bagian pommel longsword putihnya.

Salah seorang penyihir kota kelas rendah mengenali sosok itu, sosok itu adalah Lyto, itu memang dia dilihat dari sisi mana pun. Tapi apa yang dilakukannya? Bagaimana dia bisa berada di sana? Mengapa dia masih bisa berdiri dengan luka mengerikan disekujur tubuhnya?

***

Saat Lyto mendengar ledakan dan berlari menuju kota, pandangannya teralihkan dengan seorang dengan jubah hitam menutupi tubuhnya dengan staf kayu di lengannya berlari di atas bangunan menuju pusat kota.

Lyto mengikutinya tanpa sadar dan mendengar suara ledakan yang sangat keras di pusat kota. Sesaat kemudian dia melihat kepulan asap menjulang dari gedung pemerintahan.

Saat tiba dia melihat sekelompok orang dengan jubah hitam berdiri di depan gerbang gedung pemerintahan. Orang yang Lyto ikuti pun bergabung dengan sekelompok orang itu. Lyto masih bersembunyi di balik bangunan dekat gedung pemerintahan.

Kemudian sekelompok orang datang menyerang dan dengan mudah dihempaskan ke langit dan terjatuh hingga tak sadarkan diri. Lyto melihat kengerian itu secara langsung membuat tubuhnya kaku, tatapannya tak pernah meninggalkan kelompok itu yang kini mulai bergerak mendekati gerbang.

Tubuhku bergerak sendiri, ada apa ini? Tidak, tidak, jangan kesana. Pikiran Lyto tak selaras dengan tubuhnya yang sudah berlari menuju gerbang dan menghentikan langkah dari kelompok berjubah itu.

“Matilah aku,” gumamnya pelan.

“Minggirlah atau kau ingin mati?” Terdengar suara mengintimidasi dari salah seorang berjubah itu.

“Tidak akan, majulah jika berani!”

Apa yang baru saja kukatakan, bodoh, kenapa aku malah memprovokasinya seharusnya bukan itu yang ingin kukatakan. Kenapa kau malah mengucapkan kata itu mulut sialan.

“Kau cukup berani untuk ukuran bocah!”

“Tidak ada yang perlu ditakuti hanya karena melawan sekelompok penjahat seperti kalian!” Lyto malah semakin memprovokasi para penjahat itu.

Eh? Habislah sudah. Kenapa aku malah mengatakan itu,sialaaaaaan. Perkataan yang tidak sejalan dengan pikirannya membuatnya hanya tersenyum getir melihat kelompok berjubah di hadapannya.

Seketika sebuah serangan menerpanya, itu adalah serangan yang sama seperti yang mereka lakukan kepada penyihir kota sebelumnya. Lyto terlempar kebelakang dan membentur gerbang cukup keras, tetapi serangan itu belum cukup untuk menjatuhkannya.

Lyto memegang gagang pedang dengan kedua tangannya dengan sikap siaga, kemudian meluncur maju menuju salah seorang berjubah yang berada di paling kanan. Lyto berpikir penyihir hanya bisa melakukan serangan jarak jauh, tetapi dia salah besar.

‘Bugg’

Sebuah pukulan keras menghantam Lyto yang mencoba menusukkan pedangnya ke salah seorang dikelompok berjubah. Lyto terkejut melihat serangannya dihindari dengan mudah dan Lyto tak dapat mengelak dari pukulan keras yang menghantam wajahnya.

Lyto terlempar dan kembali membentur gerbang. Darah segar mengalir dari hidung dan pelipisnya yang robek. Lyto tidak mengira bahwa penyihir memiliki kemampuan bertarung jarak dekat yang hebat.

Lyto kembali berdiri dan lebih berhati-hati. Namun, sudah terlambat untuk kembali menyerang setelah beberapa orang di kelompok berjubah merapalkan mantra dan melepaskan sihir angin yang merobek-robek tubuh Lyto membuatnya mengerang menahan rasa sakit.

Belum sempat keluar dari rasa sakitnya, Lyto kembali mendapat terjangan. Kali ini sihir angin berbentuk padat yang memberikan pukulan keras dan melemparkan Lyto dan menabrak gerbang untuk kesekian kalinnya.

Beberapa orang dari kelompok itu kembali merapalkan mantra, kali ini Lyto lebih konsentrasi dan memperhatikan gerak bibir orang yang mengucap mantra untuk mengetahui serangan apa yang selanjutnya dilancarkan.

[Wind Slash]

Mantra berhasil dirapalkan, angin berbentuk tebasan membentuk lintasan dan menyerang ke arah Lyto, tetapi Lyto sudah mengantisipasi serangan kali ini dan menghindari setiap tebasan angin yang datang menyerangnya. Meski begitu Lyto tidak dapat menghindari semua serangannya, beberapa serangan itu merobek bagian tubuhnya dan mengucurkan darah segar.

Dari pengamatan Lyto, ada dua serangan umum yang digunakan para penyihir berjubah itu. Yang pertama adalah [Wind Slash] serangan angin dengan kecepatan tinggi membentuk ketajaman seperti tebasan pedang sedangkan yang kedua adalah [Wind Compression], itu adalah sihir angin dengan memadatkan udara disekitar dan melemparkannya atau mengarahkannya ke arah tujuan.

Kedua sihir itu adalah sihir kelas rendah tetapi ketika digunakan penyihir kelas elit akan menyebabkan kerusakan yang cukup besar seperti yang dialami Lyto saat ini.

Lyto terbilang cukup kuat karena mampu bertahan setelah mendapat kedua serangan ini. Mungkin karena kekuatan fisiknya yang luar biasa membuatnya mampu bertahan sejauh ini. Namun, tentu saja tidak akan lama lagi sebelum akhirnya tumbang.

Lyto melihat secerca harapan setelah kelompok penyihir kota yang menyebar kembali, tetapi harapannya setelah kelompok itu dihabisi hanya dengan sekali serang. Lyto berdiri tegak kemudian menancapkan pedangnya ke tanah dan meletakkan tangannya di atas pedangnya. Senyum tersungging dari wajahnya yang lebam dan penuh darah.

***

Kelompok penyihir kota sudah mulai memenuhi pusat kota dan mengelilingi para penyihir berjubah yang menyerang kota. Para penyihir berjubah itu mengucapkan kata-kata yang tidak jelas, kemungkinan mereka marah karena rencananya digagalkan bocah bodoh yang tidak kompeten.

Pertarungan kembali terjadi, kelompok penyihir berjubah di pecah menjadi beberapa kelompok untuk mengatasi para penyihir kota yang sudah semakin banyak berdatangan. Sisanya mencoba menjatuhkan Lyto dan menerobos ke dalam gedung pemerintahan.

“Tidak semudah itu!” Lyto berteriak mulai kembali bersemangat.

Lyto menerjang dengan cepat menutup jarak dan melancarkan serangan sebelum penyihir-penyihir itu menyelesaikan mantranya. Lyto berhasil menerobos pertahanan mereka dan memberikan tebasan diagonal yang ditahan staf kayu yang sudah diperkuat milik salah satu penyihir berjubah.

Dua penyihir lainnya mundur beberapa langkah dan mengucapkan mantra. Lyto merubah target serangan dan berlari ke orang yang sedang fokus merapalkan mantra, tetapi dirinya dihalangi oleh penyihir yang sebelumnya.

“Kuh,” Lyto mengeluh dan mundur beberapa langkah.

Mantra selesai dirapalkan dan serangan angin mengarah padanya, itu adalah [Wind Compression] dari dua penyihir. Serangan membentuk kepalan tangan raksasa itu mengarah ke arah Lyto. Dia berhasil menghindarinya, tetapi serangan itu berhasil menghancurkan gerbang yang berada di belakang Lyto.

“Serangan seperti itu tidak akan mengenaiku lagi.”

“Kami tidak mengincarmu, sejak awal serangan itu ditujukkan ke gerbang di belakangmu.” Ucap salah seorang penyihir berjubah sambil menunjuk ke gerbang yang sudah hancur.

“Sialan, kenapa tidak menyerangku!”

Lyto terlihat cukup kesal karena serangan itu bukan untuknya, tidak, sebenarnya bukan itu yang harusnya dia katakan, apa yang sebenarnya dipikirkan orang bodoh itu.

Ketiga penyihir berjubah yang berada di hadapannya cukup terkejut mendengar kata-kata Lyto. bukannya ia kesal karena gerbang yang dijaganya ditembus, dia malah kesal karena penyihir itu tidak menyerangnya.

“Kau tidak berniat melindungi gerbang itu? Kalau begitu menyingkirlah!” Seru salah seorang penyihir berjubah.

“Tidak, kalian sudah meremehkanku! Kalian harus mengalahkanku dulu!”

Sebenarnya apa yang dipikirkan bocah tolol ini, pikir salah satu penyihir berjubah yang melirik ke arah dua temannya.

“Kalian meremehkanku, Sialan!”

Lyto menghentakan kakinya dan menerjang sangat cepat ke hadapan para penyihir berjubah itu. Melihat Lyto yang tersenyum tepat dihadapannya salah seorang penyihir berjubah terperanjat lalu melompat mundur dan memposisikan staf kayunya dalam posisi bertahan.

‘Wussh’

Sabetan longsword lyto menembus pertahanan staf kayu penyihir itu dan membelahnya menjadi dua, sabetan itu juga merobek jubahnya kemudian menembus kulit dan merobek perutnya hingga menyemburkan darah yang sangat banyak. Satu penyihir jatuh.

Dua penyihir lainnya berpencar dan mencoba merapalkan sihirnya. Dengan cepat Lyto menuju penyihir yang ada di kanannya. Belum sempat menyelesaikan rapalannya, penyihir itu mendapatkan kedua tangannya yang memegang staf kayu terjatuh ke tanah dan berteriak sangat keras, dengan cepat Lyto mengarahkan longswordnya dan menusukkan tepat ke jantung penyihir itu. Dua penyihir jatuh.

Menuju ke penyihir terakhir, Lyto terlambat karena penyihir itu sudah selesai merapalkan sihir tingkat tinggi. Sebuah tekanan hebat menjatuhkan Lyto ke tanah, melepaskan longswordnya dan menekannya semakin menyatu dengan tanah.

Itu adalah sihir angin tingkat tinggi yang dimodifikasi menjadi sihir gravitasi. Nama sihir itu adalah [Gravity Wall] sebuah sihir angin berkompresi tinggi yang membuat lawan yang berada di dalam wilayah serangan itu terjatuh karena tekanan tinggi dari gravitasi.

Dengan kondisi Lyto saat ini tentu saja dia tidak akan dapat melepaskan diri dari tekanan gravitasi yang luar biasa. Hanya penyihir tingkat tinggi lah yang dapat melepaskan diri dari [Gravity Wall] sehingga Lyto yang belum belajar sihir hanya bisa berharap keajaiban datang sebelum tubuhnya hancur.

Kesadaran Lyto perlahan-lahan menghilang, dirinya sudah tidak kuat menahan tekanan gravitasi. Tubuhnya mulai remuk, nafasnya semakin terengah-engah, darah kembali keluar dari luka yang didapatnya, kali ini tubuhnya kehilangan kekuatannya dan benar-benar kehilangan kesadaran.

“Aku mati, kali ini aku benar-benar mati.”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?