Episode 21 Canis Sang Penyihir Agung

“Bagaimana keadaan di pengungsian?”

“Tak ada masalah, semua kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi.”

“Bagaimana dengan Dewan Kota?”

“Tidak masalah, dia baik-baik saja. Dan juga nona, anak yang kau suruh aku untuk mengawasinya sudah pulih sepenuhnya.”

“Begitu, terimakasih. Kau boleh kembali dan tolong panggilkan dia.”

Kekalahan dalam pertempuran beberapa hari yang lalu memaksa seluruh penduduk kota dan penyihir kota terbuang dari kota Milenidad. Kota itu sudah sepenuhnya di kuasai penyihir hitam. Adapun para penduduk kini harus mengungsi dan membuat barak jauh di sebelah utara kota.

Beruntungnya tak ada korban tewas dalam pertempuran itu. Mungkin lebih dikatakan aneh, baru pertama kali terjadi sebuah pertempuran besar tak memakan korban. Kota menyerah tanpa syarat dan kini menjadi basis dari penyihir hitam.

Lyto yang ikut berpartisipasi dalam pertarungan pun tak bisa berbuat banyak. Sempat membuat kejutan pada awalnya, tapi pengalaman dan kemampuannya yang masih tingkat rendah membuatnya harus rela menyerahkan kota pada penyihir hitam.

“Kau memanggilku?” Tanya Lyto berdiri di belakang wanita dengan jubah putih bercorak emas.

“Bagaimana keadaanmu?” Wanita itu balik bertanya.

“Aku baik-baik saja, tapi-”

“Lyto, pergilah bersama para penduduk yang lain dan tinggalkan kota ini.”

“Apa maksudmu? Kau tidak bercanda ‘kan? Kita harus merebutnya kembali!” Bentak Lyto.

“Dengarkan a-”

“Kau yang harusnya mendengarkanku! Canis, kemana saja kau saat kota diserang? Sebelumnya hal ini juga pernah terjadi ‘kan? Aku punya kekuatan sekarang, aku tak akan mundur lagi!” Lyto memotong ucapan Canis dengan penuh kemarahan.

“Jangan bodoh! Apa yang bisa kau lakukan dengan kekuatanmu! Hah!”

Lyto tertunduk lesu dan mengepalkan tangannya. Dia tidak pernah melihat Canis begitu marah. Lyto berpikir sejak ia tinggal bersama Canis, ia sudah sering mendengar Canis marah. Namun, kali ini berbeda. Canis benar-benar menakutkan kali ini, tatapannya tajam dan dingin. Aura di sekitarnya pun membuat leher terasa tercekik.

Lyto yang keras kepala benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi. Lyto berbalik memunggungi Canis dan kembali ke barak pengungsian. Dia bersiap merapikan barang bawaan untuk mengikuti perintah Canis dan meninggalkan kota.

***

Gedung Pemerintahan, Kota Milenidad.

“Apa ada pergerakan dari penyihir kota?”

“Tidak ada, Tuan. Sepertinya para penduduk memilih untuk meninggalkan kota seperti yang kita katakan.”

“Kerja bagus, Gayle. Aku tidak ingin melihat pertempuran yang memakan korban.”

“Ya, Tuan.”

Gedung pemerintahan sudah sepenuhnya dikuasai penyihir hitam. Bantuan kerajaan mungkin baru akan tiba 3 sampai 4 hari ke depan. Jika mereka sudah menguasai pusat pemerintahan, akan mudah untuk mengatur strategi melawan pasukan kerajaan.

Di dalam ruangan yang di hiasi warna merah ini, Gayle, laki-laki bertubuh kurus dengan wajah pucat berdiri menghadap seseorang yang memakai jubah hitam dan topeng. Seperti yang terjadi di pertempuran sebelumnya. Orang pemakai topeng adalah penyihir dengan sihir [Reverse] sedangkan Gayle adalah laki-laki yang mengalahkan Lyto.

Saat ini mereka sedang berdiskusi tentang kedatangan pasukan kerajaan dan antisipasi untuk melawannya. Tidak ada yang tahu pasti motif penyerangan dari penyihir hitam ini. Tidak banyak informasi tentang keberadaaannya ataupun pergerakannya. Tapi kali ini mereka tiba-tiba muncul dan membuat kegaduhan.

Kelompok yang dipimpin wanita bertopeng dan tidak pernah membunuh lawan saat pertempuran, tidak ada yang mengetahui apa tujuan mereka.

“Aku mendengar Canis ada di pulau ini sekarang, apa itu benar?” Tanya pemimpin bertopeng.

“Benar tuan, beberapa anak buah melihatnya berada di barak pengungsi. Tapi sepertinya tidak ada pergerakan yang mencurigakan darinya.”

“Kirim satu orang untuk menyampaikan pesan, aku ingin bertemu dengannya.”

“Ya, Tuan.”

Setelah menerima perintah, Gayle menunjuk orang kepercayaannya dan mendatangi barak pengungsian sebagai penyampai pesan.

***

“Jadi, kau akan pergi ke kota sendirian?” Tanya Lyto dengan ekspresi murung.

“Tak akan ada yang terjadi padaku, jadi kau memutuskan untuk pergi,” balas Canis menatap Lyto.

“Ya, tapi sebelum itu … bisakah kau … membawaku bersamamu ke kota,” ucap Lyto ragu.

“Apa ada yang terjadi?”

Lyto hanya menggelengkan kepalanya. Canis akhirnya mengizinkan Lyto ikut sebagai pengawalnya, yah, walaupun tak akan berguna juga. Lyto menjadi sumringah dan kembali ke dirinya seperti biasa.

Lyto dan Canis kini berada di depan pusat pemerintahan. Masih teringat saat pusat pemerintahan di serang beberapa waktu yang lalu. Kini gedung kokoh itu tampak seperti baru, sepertinya para penyihir hitam sangat menjaga tempat itu. Melihat kondisi kota pun tampak bersih dan tak ada bekas pertempuran sedikitpun, padahal baru beberapa hari lalu pertempuran sengit terjadi di sini.

Lyto dan Canis di undang masuk ke dalam. Tapi hanya Canis yang diperbolehkan masuk ke ruang pertemuan, Lyto hanya diperbolehkan menunggu di balik pintu.

“Yo, kau bocah menarik. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Itu tak ada urusannya denganmu, Paman kurus licik.” Lyto mendengus dan mengalihkan pandangannya.

“Tampaknya kau masih marah dengan kejadian itu. Jadi, apa kau ingin bergabung sekarang? Setelah keras kepalamu yang menolak tawaran baik dariku, akhirnya kau sadar juga. Hwahwahwa.”

“Diamlah paman, tawamu itu sangat mengganggu. Saat itu aku sedang lengah, jika kita bertarung lagi, kau tak akan bisa memukulku!”

“Hwahwahwa. Kalau begitu kenapa kita tak lakukan sekarang? Waktu pertemuannya tak akan sebentar, aku akan mengajarkanmu banyak hal.”

Dengan angkuh Lyto menyetujui tawaran Gayle. Mereka berjalan menuju taman belakang gedung pemerintahan. Cukup luas untuk melakukan pertarungan.

Lyto menyiapkan longswordnya dan memasang kuda-kuda, di sisi lain, Gayle tampak tak peduli dengan hanya berdiri loyo seperti tidak ada tenaga. Dari yang orang lain katakan, Gayle adalah penyihir tingkat master, itu berarti tak ada kesempatan sedikitpun bagi Lyto untuk menang. Meskipun Gayle bertubuh kurus dan loyo, dia adalah penyihir elemen angin yang sangat kuat.

Saat pertarungan akan dimulai, suara ledakan terdengar cukup keras dari ruang pertemuan. Gayle yang kehilangan fokus karena mendengar ledakan itu melupakan Lyto yang siap untuk bertarung. Tanpa aba-aba, Lyto menyerang Gayle yang tanpa pertahanan dan menghempaskannya jauh ke belakang.

Gayle memuntahkan darah dan tersungkur di pojok taman. Serangan [Lightning Tree] dari Lyto berdampak cukup besar pada tubuh tak terlindungi Gayle. Gayle hendak bangkit, tapi sayangnya gelombang listrik memasuki tubuhnya dan membuatnya tak bisa bergerak.

Lyto mengangkat pedangnya tinggi dan berteriak puas. Pukulan dibalas pukulan. Satu serangan Gayle dibalas satu serangan Lyto. Gayle meringis kesakitan dengan luka bakar di bagian perut kirinya, sekeras apapun dia berusaha berdiri, kekuatan seakan meninggalkannya.

Beberapa pasukan yang melihat Gayle tersungkur mencoba membawanya pergi, sebagian pasukan lagi berdiri mengelilingi Lyto, satu lawan dua puluh. Lyto sangat yakin tak akan kalah lagi kali ini.

Lyto melepaskan tebasan-tebasan petir yang menciptakan suara mendecit dari longsword yang diselimuti petirnya. Sebuah pemandangan baru yang ditemui para penyihir hitam, di tengah kekaguman, para penyihir hitam mulai menyerang dengan serangan cepat jarak dekat. Tidak ada rapalan yang lama sehingga Lyto kesulitan menghentikan rapalan lawan-lawannya.

Bola-bola api terbang ke arahnya, Lyto menghindari beberapa dan menebas beberapa dengan longswordnya. Di tengah kepungan penyihir Hitam, Lyto bergerak cepat menuju salah seorang penyihir hitam. Dikejutkan oleh gerakan Lyto, penyihir itu lepas kendali saat melepaskan sihir dan menyerang ke arah temannya sendiri.

Lyto berdiri di tengah penyihir hitam dan sekali lagi melepaskan [Lightning Tree], cabang-cabang petir itu meluas dan menyerang penyihir hitam yang berada dalam jangkauannya. Beberapa penyihir hitam terkena serangan dan terlempar ke belakang.

Lyto semakin menguasai teknik ini, walaupun dia tidak bisa menggunakannya secara terus menerus, tapi penguasaan sihirnya sudah semakin membaik. Sangat hebat mengingat Lyto belum sebulan belajar sihir.

Suara ledakan keras kembali terdengar, Lyto meninggalkan pertarungannya dan segera berlari menuju ruang pertemuan.

***

Di ruang pertemuan.

Canis melepaskan aura sihir yang beradu dengan aura sihir pemimpin bertopeng. Kekuatan keduanya begitu dahsyat hingga menimbulkan ledakan yang besar. Canis tampaknya tidak senang dengan arah pembicaraan dalam pertemuannya.

“Kenapa kau harus melakukan ini?”

“Kenapa? Sudah jelas aku ingin merevolusi kerajaan pembunuh ini!” Jawab pemimpin bertopeng dengan nada marah.

“Kalian bisa menyerah sekarang, aku tidak yakin kalian bisa mengalahkan pasukan kerajaan.”

“Karena itu Canis, tidak … Penyihir Agung Canis. Aku memintamu untuk bergabung denganku,” pinta Pemimpin bertopeng yang tampaknya sudah di duga oleh Canis.

“Kalau begitu kau memilih bertarung. Pergilah, tinggalkan kota ini sekarang, aku tidak ingin menyakitimu.” Ucap Canis lembut.

“Fufufu, kau tidak berubah. Bukankah lebih baik kau bergabung denganku.”

Ajakan keras kepala dari pemimpin bertopeng membuat Canis kesal. Dia berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan. Namun, pemimpin bertopeng tak mau begitu mudah melepaskannya. Penyihir pemimpin menciptakan area gravitasi yang cukup besar dengan daya gravitasi yang begitu besar.

DUARRR

Canis melepaskan sihir gravitasi pemimpin penyihir dan menciptakan pelindung mengelilingi tubuhnya.

“Seperti yang diharapkan dari seorang penyihir agung.”

Canis yang tak dibiarkan pergi menjadi benar-benar marah. Aura di sekitarnya meningkat, ini seperti saat ia melepaskan [Lightning Thor] yang menyelamatkan kota waktu itu. Tapi kali ini jauh lebih kuat dan lebih pekat. Dengan waktu yang begitu cepat, Canis melepaskan sihir cahaya yang di arahkan ke pemimpin bertopeng.

[Death Star]

Sebuah pilar cahaya muncul dari langit dan menerjang gedung pemerintahan, seketika ruang pertemuan menjadi hancur perantakan. Sebuah serangan yang sangat mengerikan, sihir tingkat tinggi yang dilepaskan dengan waktu singkat begitu menakutkan.

Namun, serangan pilar cahaya itu tampaknya tidak berdampak apapun pada pemimpin penyihir. Sang Pempimpin itu dapat berlindung di saat-saat terakhir, sebuah selaput hitam pekat melindungi tubuhnya dari pilar cahaya.

“[Dragon’s Immunity] … kau sudah bisa menguasainya,” ucap Canis terkejut.

“Aku bukan lagi anak kecil yang hanya mengikuti arahanmu,” balas Pemimpin penyihir tampak puas.

“Ya, tapi kau tetap tidak bisa mengalahkanku.”

Canis kembali bersiap menciptakan sihir penghancur. Area serangannya jauh lebih besar, itu tingkat tertinggi dari [Lightning Thor]. Canis berada dalam kondisi penuh untuk melancarkan serangan. Pemimpin bertopeng melihat kesempatan untuk menyerang, ia mulai merapalkan sihir angin dan melepaskan sihir tingkat atas yang dengan cepat menerjang ke arah Canis.

BOOOM

Benturan keras terjadi. Sihir tingkat tinggi dari pemimpin bertopeng berhasil dipatahkan. Lyto yang melihat Canis tengah dalam konsentrasi penuh tak melihat serangan datang ke arahnya, dengan cepat berlari dan menebaskan longsword berlapis petirnya menghantam sihir angin tingkat tinggi itu.

Lyto berhasil menahan serangan, tapi dampak yang diterima juga cukup besar. Lyto mendapatkan luka di beberapa bagian tubuhnya dan beberapa tulangnya bergeser. Namun, itu sudah cukup untuk memberikan waktu bagi Canis menyelesaikan rapalannya.

“Lyto!” Canis dikejutkan Lyto tepat di hadapannya.

“Kau berhutang nyawa padaku sekarang, nenek tua!”

Melihat Canis berhasil menyelesaikan rapalannya, pemimpin bertopeng itu tampak gusar. Canis dikenal sebagai penyihir gila yang menghancurkan apapun tanpa pandang bulu. Saat ini, langit kota milenidad sudah berubah menjadi hitam pekat dengan petir menggelegar dimana-mana.

Lyto merasakan déjà vu melihat pemandangan ini, ini persis seperti apa yang terjadi sebelum dia kehilangan kesadaran pada saat penyerangan kota yang pertama. Langit gelap dengan petir menyambar, benar-benar sihir yang menakutkan.

[Lightning Thor]

Puluhan petir menerjang tanah dan menghancurkan bangunan-bangunan yang ada ditemuinya. Dampak yang luar biasa yang bahkan bisa menghanguskan kota dalam satu kali serangan.

Lyto yang di tarik Canis sebelum petir menyambar kini berada di depan pintu gerbang gedung pemerintahan yang sudah hancur menjadi reruntuhan. Pemandangan kota setelah serangan petir itu benar-benar kacau, asap keluar dari berbagai arah, api juga membakar bangunan-bangunan yang terkena serangan.

“I-ini … tak bisa dipercaya,” Lyto terkagum melihat dampak serangan petir itu.

“Jangan lengah, lawan belum kalah,” tegas Canis.

“Ja-jadi … penyihir hebat yang selalu kuceritakan padamu itu adalah … seorang nenek tua!” Mata Lyto berkaca-kaca mengetahui orang yang dikaguminya tak sesuai harapannya.

“Hora … siapa yang kau panggil nenek tua! Dasar bocah kurang ajar!”

BAAAM

Pukulan staf sihir Canis ke kepala Lyto membuatnya berguling-guling di tanah.

“Fufufu, nenek tua! Ternyata selain aku, ada juga yang memanggilmu seperti itu.”

Suara lemah yang muncul dari reruntuhan membuat Canis dan Lyto langsung kembali bersiaga.

Dari balik reruntuhan, sesosok wanita dengan rambut perak dan pakaian compang-camping berdiri dan menahan sakit di seluruh tubuhnya yang penuh luka. Wajahnya masih tertutup topeng, tapi rambut perak curlynya tak dapat disembunyikan lagi.

Pakaiannya yang compang-camping memperlihatkan kulit mulusnya yang dipenuhi luka. Dengan tubuh setengah telanjang dia masih berdiri tanpa ada perasaan malu, mengingatkan Lyto pada seseorang yang dikenalnya.

“Tak kusangka payudaramu sudah tumbuh sebesar itu, sepertinya kau merawatnya dengan baik,” ucap Canis begitu santai.

“Tidak … tidak, bukankah seharusnya kau tidak berkata begitu,” pikir Lyto dalam hati terheran dengan kelakuan Canis.

“Fufufu, lihatlah kau membuatku hampir telanjang seperti ini. Aku tahu kau akan melakukan hal tak berperikemanusiaan seperti itu. Untungnya aku memerintahkan pasukanku untuk mundur sebelum pertemuan kita.”

“Kau memang sudah dewasa. Aku merasa payudaramu sudah mengalahkanku sekarang.”

Lyto hanya bisa menggaruk kepala mendengar percakapan aneh yang terjadi. “Apa kalian ini guru dan murid? Perilaku kalian benar-benar sama, aku yakin isi otak kalian juga sama-sama mesum,” pikir Lyto dalam hati.

Pemimpin bertopeng yang seorang wanita itu melepaskan pakaiannya yang compang-camping membuatnya tak mengenakan apapun sekarang. Pemandangan yang membuat mata Lyto melotot dengan mulut menganga, jika dia boleh berkata saat ini, dia ingin mengatakan “Tubuhmu jauh lebih bagus dari tubuh Canis, sungguh!”

Sayangnya pemandangan indah itu tak berlangsung lama, wanita bertopeng itu kini memakai gaun cantik berwarna ungu dengan memegang payung yang senada dengan pakaiannya di tangan kanannya. Rambut curlynya terurai menjadi nilai tambah baginya, sayangnya topengnya tak juga dilepas meski beberapa bagian sudah pecah.

“Aku tak menyangka rencanaku gagal dengan begitu cepat, tapi setidaknya aku senang bisa bertemu denganmu,” ucap wanita itu yang mulai berubah menjadi transparan.

“Aku juga senang … Tuan Putri.” 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?