Episode 22 Malam ini, aku akan memberikan ....


“Apa kau baik-baik saja, Gayle?”

“Aku baik-baik saja, Tuan. Jadi, rencana kita telah gagal?”

“Tidak sepenuhnya gagal, kita sudah berhasil menarik perhatian pihak kerajaan. Aku yakin setelah kejadian ini pihak kerajaan menjadi lebih berhati-hati.”

Di dalam kapal laut besar milik penyihir hitam, Gayle sedang berbincang dengan tuannya. Meski gagal menguasai kota Milenidad, sepertinya tujuan Tuannya telah tercapai. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju salah satu pulau yang dihuni manusia biasa.

“Aku dengar kau menemukan anak yang menarik?”

“Ya, Tuan. Anak itu menguasai teknik [Enchantred] dan luka ini disebabkan oleh serangannya. Namun, pada saat itu aku sedang lengah.” Gayle menjawab sambil menundukkan kepalanya.

“Ceritakan padaku tentang kemampuannya.”

“Anak itu menggunakan longsword berwarna putih yang dilapisi oleh petir. Sejujurnya, dia masihlah penyihir tingkat rendah. Namun kemampuan bertarungnya setara penyihir tingkat menengah, terlebih dia hanya bisa menyerang dari jarak dekat. Jika kita merekrutnya, aku yakin dia akan menjadi penyihir yang hebat di masa depan.” Gayle menjelaskan.

“Aku pernah bertemu dengannya. Dia dapat menepis sihir tingkat tinggi, ternyata itu bukan kebetulan. Oh iya, baru-baru ini di ibukota juga sedang ramai membicarakan pendaftaran masuk akademi sihir. Apa mereka sudah siap?”

“Ya, tuan. Mereka sudah berada di ibukota.”

Pemimpin penyihir hitam hanya tersenyum puas mendengar jawaban bawahannya.

***

Pelabuhan Milenidad, Pulau Hitam.

Setelah kehancuran kota, sebagian besar penyihir dan penduduk kota mengungsi ke pulau Yggdrasil hingga perbaikan kota selesai. Namun, masih ada sebagian kecil penyihir dan penduduk yang memilih bertahan dan membantu pihak kerajaan dalam pembangunan kembali kota yang hancur.

Pelabuhan Milenidad luput dari kehancuran. Pada dasarnya, kota yang hancur adalah bagian pusat dan sekitarnya, sedangkan pelabuhan yang berada di sebelah timur kota tidak terkena dampaknya.

Lyto yang tangan kirinya masih terbungkus perban berdiri di sisi lautan. Ini adalah pengalaman pertamanya untuk mengarungi lautan dengan benda yang disebut kapal. Lyto tak bisa berhenti gemetar bahagia hanya dengan memikirkannya saja.

“Kau tampak senang, Bocah.”

Lyto menoleh ke arah suara lembut dari belakangnya. Canis berjalan mendekat dengan anggun, tidak seperti biasanya yang selalu vulgar, hari ini Canis menutupi tubuh montoknya dengan jubah berwarna putih dengan hiasan bulu berwarna emas.

“Inilah kenapa aku sangat ingin berpetualang,” jawabnya menatap laut.

“Memangnya kenapa?” Tanya Canis antusias.

“Tentu saja dengan berpetualang kita selalu menemukan hal-hal baru dan luar biasa. Memikirkan diriku naik kendaraan yang berjalan di atas laut, itu benar-benar seperti aku bersyukur karena masih hidup hingga saat ini,” jawab Lyto sumringah.

Kapal pengangkut yang disediakan kerajaan pun siap untuk berlayar. Kapal yang mampu mengangkut lebih dari 40.000 jiwa itu sangat besar dan mewah. Terbuat dari baja terapung dan kayu besi terbaik di Kerajaan, kapal ini adalah kebanggaan Kerajaan Magidad.

Lyto hanya mampu melotot dan berteriak ‘whoah’ setiap kali melihat sesuatu yang menarik hatinya.

(“Selamat datang di [Royal Rosario], kapal laut terbesar dan termegah di kerajaan. Silahkan nikmati waktu anda selama perjalanan menuju Yggdrasil, kapal akan berangkat sesaat lagi.”)

Suara dari kapten kapal disampaikan melalui pengeras suara dari batu sihir …. terdengar ke seluruh bagian kapal.

“Kau dengar itu! Suaranya menggema ke seluruh bagian kapal, hebat!” Seru Lyto seraya menujukkannya pada Canis.

“Itu diciptakan oleh sihir angin [Soundwave] yang ditransmisikan ke batu sihir … sehingga dapat menciptakan suara yang keras.” Canis memberikan penjelasan.

Tentu saja penjelasan itu tak akan dimengerti Lyto yang seorang otak otot.

Lyto masih mengelilingi setiap bagian kapal. Layaknya sebuah mansion mewah, kapal ini juga memiliki banyak fasilitas yang mewah mulai dari interior ruangan yang didasarkan dari bahan kayu besi yang di cat cokelat, kamar dengan tempat tidur yang luas, hingga pemandian air panas dalam ruangan.

Setelah dengan riangnya berkeliling-keliling kapal, Lyto kini berada di dek kapal dengan wajah membiru karena mabuk laut.

“Apa yang terjadi dengan semua energimu itu?” Tanya Canis dengan nada mengejek.

“Diamlah! Perutku seperti akan meledak. Berapa lama lagi kita tiba di daratan?” Jawab Lyto yang sudah tak bertenaga.

“Tujuh hari lagi.”

“Turunkan aku … sekarang.”

***

“Aku bersumpah tak akan naik kendaraan mengerikan seperti itu!”

“Apa? Bukankah waktu itu kau bilang ‘memikirkan diriku naik kendaraan yang berjalan di atas laut, itu benar-benar seperti aku bersyukur karena masih hidup hingga saat ini’. Kemana hilangnya keyakinan itu.” Canis mengejek Lyto dengan meniru suara dan ucapannya sebelum perjalanan.

Setelah tujuh hari di lautan, saat ini mereka tiba di salah satu pelabuhan terbesar dan tersibuk di Kerajaan Magidad. Ya, saat ini mereka telah tiba di Pelabuhan Ordad, sebuah pelabuhan yang terletak di kota Ordad, Yggdrasil.

Terdapat ratusan kapal yang bersandar di pelabuhan ini, mulai dari kapal berukuran kecil milik nelayan, hingga kapal berukuran besar seperti [Royal Rosario].

“Ayo, sebaiknya kita segera mencari penginapan,” ajak Canis.

“Kota ini sedikit berbeda dengan Milenidad, bagaimana aku mengatakannya … ini terlihat tua dan sedikit bau amis.”

Canis menjelaskan kepada Lyto bahwa kota ini adalah kota perdagangan hasil laut terbesar di kerajaan. Tak heran jika aroma amis sedikit tercium di kota. selain itu, kota ini adalah kota ketiga tertua di kerajaan sehingga sebagian besar bangunan di kota ini adalah peninggalan dari zaman dahulu.

Setelah berjalan beberapa menit mengelilingi sisi kota, Lyto dan Canis berdiri di depan sebuah penginapan dengan papan yang tergantung di atas pintu masuk bergambar ikan bersayap dan sebuah tombak. Penginapan ikan terbang, sepertinya itulah nama penginapan ini, seorang penduduk kota merekomendasikan tempat ini kepada Lyto dan Canis.

Suara lonceng terdengar ketika Lyto membuka pintu penginapan, diikuti dengan salam hangat dari beberapa pelayan yang sedang bekerja di penginapan. Seorang pelayan berambut cokelat berjalan menghampiri Lyto dan Canis.

“Satu kamar dengan dua tempat tidur.” Canis meminta kepada pelayan sebelum pelayan itu berbicara.

“Ba-baiklah, mohon untuk menunggu sebentar,” jawab pelayan itu gugup.

Setelah memeriksa ketersediaan kamar, pelayan itu mengantar Lyto dan Canis ke kamar mereka. Pelayan itu terlihat sangat gugup, mungkin ia belum lama bekerja di tempat ini.

“I-ini kamar tuan, ji-jika ada yang tuan butuhkan bisa memanggil saya atau pelayan yang lain, kalau begitu saya undur diri.”

Dengan ucapan yang terbata-bata dan langkah yang gugup, pelayan itu berjalan meninggalkan Lyto dan Canis yang juga masuk ke kamar mereka.

“Gadis itu memiliki tubuh yang bagus, bukankah begitu?”

“Gadis yang mana? Bisakah kau tidak membicarakan hal-hal yang vulgar seperti itu!” Tegas Lyto.

“Kau ini memang tidak jantan, Bocah!” Gerutu Canis.

“Lihat, kau mengajakku berkelahi, hah? Lagipula kenapa kita harus satu kamar seperti ini, aku akan turun dan meminta kamar lain.”

Lyto bergegas meninggalkan Canis yang sedang telungkup di kasur lembutnya dengan tubuh mulusnya yang terekspos jelas.

Tak lama kemudian.

“Kenapa kau kembali?” Ejek Canis yang melihat Lyto kembali ke kamar.

“Mereka bilang semua kamar sudah penuh,” jawab Lyto tak bersemangat.

“Hahaha, lalu bagaimana sekarang? Bukankah jika kita sekamar kita bisa melakukan banyak hal yang menyenangkan.” Canis berkata dengan nada erotis sambil memamerkan tubuh seksinya.

Lyto hanya bisa menutup telinganya dengan bantal, mendengar suara menggoda dari gadis seksi yang sebenarnya adalah seorang nenek tua membuatnya mual hanya dengan memikirkannya.

Setelah selesai makan malam, Canis mengajak Lyto ke kamar dan mengatakan ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan. Meskipun Lyto agak ragu dengan perkataan Canis, tapi tatapan serius Canis membuatnya menuruti perintah wanita gila itu.

Canis menatap Lyto dengan serius membuat suasana di dalam kamar menjadi aneh, begitu sunyi sehingga Lyto hanya bisa menelan ludah. Tak ada satupun yang memulai percakapan, lalu sebuah kalimat terucap ….

“Malam ini, aku akan memberikan keperawananku padamu.”

Dengan cepat Lyto mengambil longswordnya dan mengayunkannya ke arah nenek tua tak tahu diri itu.

“Kupikir ada sesuatu yang serius, kurang ajar!” Lyto berteriak sambil terus menebaskan longswordnya yang masih bisa dihindari Canis.

Canis tertawa terpingkal-pingkal hingga mengeluarkan air mata melihat ekspresi serius Lyto. Dia tak menyangka Lyto akan begitu serius menanggapinya.

Setelah selesai dengan permasalahannya, Canis duduk di tepi tempat tidur dan mengahadap Lyto yang menyembunyikan kepalanya dengan bantal.

“Kupikir besok kita harus berpisah.” Canis berkata lembut. Kemudian melanjutkan perkataannya, “Lyto, aku ingin kau pergi ke Magidad dan masuk ke akademi sihir. Aku yakin kau akan berkembang di sana.”

“Apa maksudmu?” Lyto mengeluarkan kepalanya dan bertanya karena tidak mengerti perkataan Canis.

“Kau ingat saat kita bertemu, kau mengatakan ingin mencari sesuatu. Kupikir akademi sihir adalah tempat yang tepat untuk memulai pencarianmu. Selain itu, jika kau ingin bertambah kuat, maka akademi sihir adalah tempat yang paling cocok untukmu.”

“Lalu bagaimana denganmu?” Tanya Lyto sembari duduk menghadap Canis.

“Aku? Kau tak perlu mengkhawatirkan aku. Aku tak membutuhkan orang di sampingku. Besok siang ada jadwal perjalanan kereta yang menuju ke Magidad, pergilah, sebagai gurumu aku memberikan tugas pada muridku untuk menimba ilmu lebih dalam di akademi sihir. Aku yakin kau tak akan menyesal masuk ke sana.”

Tak ada jawaban setuju atau anggukan tanda setuju dari Lyto. Dia hanya tertunduk lesu, Lyto menyadari bahwa selama ini dia sudah melupakan hal yang sangat penting baginya. Tapi dia juga merasa berat berpisah dengan orang yang sangat berjasa dalam hidupnya.

Akhirnya Lyto tak menjawab sepatah kata pun, dia kembali ke tempat tidurnya dan kembali menyembunyikan kepalanya dengan bantal. Melihat tingkah Lyto, Canis hanya mengembuskan napas panjang sebelum berjalan keluar kamar.

***

“Dia benar-benar pergi. Setidaknya biarkan aku mengucapkan terimakasih, dasar nenek tua.” Lyto hanya bergumam melihat catatan yang ditinggalkan Canis. Senyum tipis tersungging dari bibirnya.

Canis meninggalkan Lyto yang tertidur pulas di kamarnya dan hanya meninggalkan sebuah catatan kecil, atau sebenarnya ada dua catatan yang baru di sadari Lyto ketika ingin meninggalkan penginapan.

Lyto yang tadinya ingin lebih menghormati Canis setelah perpisahan semalam mengurungkan niatnya. Canis meninggalkan catatan di meja resepsionis yang tertulis, “Tolong bayar semua tagihan selama kita menginap, kulihat kau membawa banyak harta bersamamu, jadi aku mengambil sebagian. Anggap saja itu sebagai pembayaran hutangmu padaku. Omong-omong aku akan tetap menunggumu untuk mengambil keperawananku.”

“DASAR NENEK TUA SIALAN!” Lyto berteriak di depan meja resepsionis sambil melemparkan kertas catatan yang sudah diremas menjadi bola.

“Ly-lyto!”

Lyto langsung menoleh ke sumber suara yang terdengar sangat familiar baginya. Sangat tak diduga, orang yang memanggil namanya pun begitu familiar dengannya.

“… Reina.”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?