Episode 23 Reina


“… Reina.”

Lyto membuka mata lebar melihat hal yang tak dipercayainya. Reina, sahabatnya yang terpisah ketika tiba di benua ini, kini ada tepat di hadapannya.

“Ly-lyto … kau kah itu?” Reina berkata seolah tak percaya.

Reina berjalan mendekati Lyto sebelum akhirnya berlari dan memeluk Lyto penuh kekhawatiran. Lyto merintih saat dekapan Reina menyekap lukanya yang belum pulih.

“Aku bernar-benar tak percaya kita bertemu di sini, kupikir kita tak bisa bertemu lagi. Aku sangat takut.”

Reina menumpahkan semua kekhawatiran dengan dekapan yang semakin erat. Meski hanya sekitar dua bulan, itu sudah terlalu lama bagi mereka terpisah. Terlebih mereka terpisah di dunia yang tak mereka ketahui.

Air matanya terus mengalir tanpa henti, Reina benar-benar merasa khawatir saat Lyto tak ada di sampingnya. “Kau bodoh! Aku sangat khawatir, kau tahu!” Suara terisak Reina memenuhi lobi penginapan.

Reina mengabaikan tatapan orang-orang yang ada di sekitarnya. Yang terpenting baginya saat ini adalah ia bisa bertemu dengan sahabatnya lagi.

Setelah dapat menenangkan diri, Reina mengajak Lyto ke meja makan di sudut ruangan yang disediakan untuk para tamu. Yah, bagaimanapun pertemuan ini tidak direncanakan. Sehingga ia ingin menghabiskan waktu bersama selagi menyantap menu sarapan.

“Kenapa tubuhmu penuh luka, Lyt?” Tanya Reina Khawatir.

“Ceritanya panjang, tapi sebelumnya aku ingin menghabiskan makananku dulu, bagaimana jika kau menceritakan lebih dulu di mana kau selama ini?”

Reina mendesah melihat Lyto hanya fokus pada makanannya dan mulai menceritakan tentangnya selama ini.

“Sebelumnya, aku tidak tahu apa yang terjadi sebelum kita terpisah. Aku hanya merasa kau melepaskan genggamanku dan menghilang begitu saja dari hadapanku. Aku begitu panik, pandanganku kabur dan berubah menjadi gelap total.

Aku ditemukan di sebuah ladang pertanian milik salah seorang penduduk di kota Sovovad. Aku tersadar di rumah orang yang menyelamatkanku. Mereka adalah orang yang sangat baik, mereka bahkan tak menanyakan dari mana aku berasal, tapi mau menerimaku.

Di sana aku mencari dirimu, tapi aku tak mendapat informasi apapun tentangmu. Aku sangat khawatir, terlebih dirimu sering membuat kekacauan. Aku takut kau melakukan hal bodoh saat aku tak ada.

Aku tinggal di kota itu sekitar satu bulan. Pada awalnya aku merasa takut berada di tempat asing, tapi orang-orang di kota itu sangat ramah padaku. Mereka menerimaku seperti bagian dari kota itu.

Di kota itu aku menyadari bahwa aku, kita, tidak lagi berada di Castella. Ini pastilah berada di salah satu benua yang tertulis dalam buku. Sovovad, Sihir, Pulau, kata-kata itu sangat asing bagiku. Setelah aku menggali informasi lebih jauh, aku menjadi yakin bahwa kita saat ini berada di sebuah benua yang di kenal dengan Benua Biru Darkor.

Aku yakin kau juga pasti menyadarinya. Yah, walaupun kau bodoh, tapi kau pasti menyadarinya setelah melihat laut. Selama sebulan di kota Sovovad, aku terus mengumpulkan informasi, terutama yang berkaitan tentangmu.

Sayangnya, kota itu hanya dihuni manusia tanpa sihir, sehingga berita-berita penting dari pulau lain tidak masuk dengan cepat. Bibi yang merawatku menyarankanku untuk pergi ke pulau ini. Dia berkata di pulau ini aku dapat mengetahui informasi apapun yang kuinginkan.

Seperti perkataannya, begitu tiba di pulau ini aku sangat mudah mengakses informasi, termasuk keberadaanmu. Pertama kali aku tiba di sini sekitar beberapa minggu yang lalu, aku mendengar kabar tentang seorang pengguna pedang melindungi gedung pemerintahan Milenidad. Kemudian aku mendengar lagi tentang pengguna pedang petir yang melawan penyihir hitam di kota yang sama belum lama ini.

Setelah mendengar lebih rinci informasi itu, aku yakin itu adalah dirimu. Aku tak bisa tidur memikirkanmu, bagaimana bisa kau bertindak begitu ceroboh hingga berani menentang penyihir hitam.

Setiap hari aku mengelilingi kota untuk mencari informasi terbaru, sampai pada seminggu yang lalu kapal yang dikirim kerajaan mulai berlayar dari Milenidad menuju kota ini. Aku berharap kau termasuk dalam rombongan itu.

Begitu kapal itu bersandar di pelabuhan, aku langsung berlari dan mencari setiap sudut pelabuhan. Aku berharap segera bertemu denganmu, tapi aku tak menemukanmu di manapun, aku sempat berfikir yang tidak-tidak tentangmu. Aku begitu kecewa melihat kau tak ada di dalam rombongan itu.

Tapi hari ini … hari ini … kau berdiri di hadapanku. Aku sangat bersyukur kau selamat. Aku berjanji mulai saat ini tak akan jauh darimu. Aku takut ditinggalkan sendiri. Aku sempat berfikir, apa yang kulakukan jika kau tak pernah kembali? Atau apa yang terjadi padaku jika kau dikalahkan penyihir hitam? Aku tak ingin ditinggalkan sendiri lagi, aku … takut.

Tapi kau tahu, kebiasaan burukmu yang membuat orang lain khawatir itu tak pernah hilang. Aku tak tahu apa yang kau lakukan di sana, tapi sepertinya kau sudah bertambah kuat.

Seminggu dari sekarang akan ada penerimaan siswa baru di Akademi Sihir Magidad. Jika aku tidak menemukanmu di sini, aku akan masuk akademi itu selagi mencari informasi tentangmu. Tapi sepertinya itu tidak diperlukan lagi.”

“Memangnya kenapa? Aku juga mau masuk ke sana kok.” Lyto membuka suara setelah mendengar cerita panjang Reina.

Reina masih terperangah mendengar jawaban santai Lyto. Dia merasa seperti berbicara dengan orang lain.

“K-kau ingin masuk akademi sihir? Kau yakin?” Tanya Reina yang masih dalam keterkejutannya.

“Tentu saja, karena itu aku ada di sini. Yah, biarpun terpaksa. Tapi sepertinya menyenangkan, bagaimana jika kita pergi bersama.”

“… hmm.” Reina mengangguk setuju membalas ajakan Lyto.

Bagi Reina, ini masihlah begitu mengejutkan. Bertemu kembali dengan Lyto dan diajaknya pergi untuk masuk ke akademi sihir. Untuk orang seperti Lyto mengajaknya sekolah, itu sedikit … aneh.

“Apa kau bisa menggunakan sihir, Lyt?”

“Tentu saja, kau akan takjub melihatnya. Bagaimana denganmu?”

“Aku tidak tahu, aku belum pernah mencobanya. Aku hanya mempelajari mantra sihir tingkat rendah dari buku. Namun aku belum pernah mencobanya secara langsung.”

Reina tertunduk lesu, karena mungkin saja ia tidak berbakat dalam sihir. Meski Bibi Sion mengatakan Reina orang yang berbakat, tapi di dalam hatinya memiliki keraguan yang besar. Terlebih setelah dia membunuh orang dengan sihir, itu membuatnya menjadi ragu-ragu dalam menggunakan sihir.

“Jadi selama ini kau hanya mencariku?” Tanya Lyto

“Hmm … begitulah, memangnya kau tidak mencariku?”

“Eh- … ano … aku mencarimu … terkadang,” jawab Lyto mengalihkan pandangannya.

“Terkadang? Apa kau tidak peduli padaku? Setelah semua kekhawatiranku, kau tidak memikirkanku sedikitpun!”

“Bukan begitu, aku mencarimu, sungguh! Tapi seperti yang kau tahu, banyak kejadian yang terjadi di sana.” Lyto menatap langit-langit mencari alasan.

“Hmph!” Reina menyilangkan tangannya dan menggembungkan pipinya.

Lyto terus mencari cara agar Reina memaafkannya. Tak terasa, waktu berlalu cepat dan kini sudah hampir pada tengah hari.

Dari informasi yang diberikan Canis, kereta menuju ibu kota akan berangkat setelah lewat tengah hari. Dengan Reina yang masih dalam mode marahnya, Lyto memaksanya untuk bergegas ke titik keberangkatan.

Setibanya di titik keberangkatan, Lyto terperangah melihat apa yang ada di hadapannya. Sebuah kendaraan dari logam berbentuk memanjang berada tepat di depannya. Di pikirannya, kereta adalah kendaraan yang di tarik dengan kuda. Namun yang ada di hadapannya saat ini menghancurkan semua imajinasinya.

“I-inikah kereta itu?” Tanya Lyto terkagum.

“Ya, pada awalnya aku juga takjub melihat perkembangan teknologi di kerajaan ini, tapi begitu kau tiba di ibu kota, kau tak akan henti-hentinya merasa takjub. Kapal [Royal Rosario] dan kereta ini hanya sebagian kecil dari begitu banyaknya hal menakjubkan di kerajaan ini,” jawab Reina antusias.

“Lalu, bagaimana benda ini bergerak jika tak ada yang menariknya?” Lyto kembali bertanya, karena masih tidak mengerti tentang apa yang ada di hadapannya.

“Kereta ini berjalan di atas jalur yang terbuat dari sihir tanah yang disebut rel. Kemudian, kereta ini digerakkan menggunakan sihir angin yang membentuk sirkuit di sepanjang rel dari kota ini hingga ibu kota, sehingga kereta ini dapat melaju dengan sendirinya. Jika kau berada di dalam sirkuit itu, kau akan merasa tertarik atau terdorong dengan keras. Karena itu kereta ini bisa bergerak, dengan adanya rel membuat kereta bergerak sesuai jalurnya.”

Lyto hanya memiringkan kepala mendengarkan penjelasan Reina, meskipun Reina tahu Lyto tak akan mengerti, tapi sudah menjadi kebiasaannya untuk tetap menjelaskan apapun itu pada Lyto.

Pertemuan tak terduga mereka membawa keduanya ke petualangan baru di akademi sihir. 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?