Episode 25 Ujian Akhir

Melewati masa-masa sulit selama di akademi sihir, tanpa disadari Lyto sudah menjadi bagian penting di dalam kelasnya, terutama bagian dalam hal menjadi contoh buruk bagi teman-temannya. Beruntungnya adalah ia selalu selamat dari setiap ujian evaluasi yang di adakan oleh para guru. Hal yang membuat teman-teman sekelasnya yang sebelumnya memandang remeh menjadi sedikit melunak. Hanya saja teman-temannya tidak tahu apa yang terjadi sebelum ujian dilaksanakan.

Karl dan Sasa adalah teman yang mengetahui dibalik kebenaran Lyto yang selalu selamat dalam ujian evaluasi. Melihat teman sekelasnya terkejut saat Lyto melewati ujian evaluasi dengan mudah membuat Karl dan Sasa hanya bisa tertawa.

Pada ujian evaluasi pertama, Lyto dan Karl diajar habis-habisan oleh Sasa hingga malam sebelum ujian dan hasilnya cukup baik karena Lyto dan Karl dapat melewatinya walaupun dengan nilai yang pas-pasan.

Begitu pula dengan ujian evaluasi kedua dan ketiga, keduanya mampu melewati ujian dengan hanya satu tingkat di atas kegagalan. Lagi-lagi Sasa yang menjadi dewi penyelamat. Tak terhingga berapa banyak hutang yang mereka miliki pada Sasa.

Namun, ujian yang sebenarnya baru akan mereka hadapi sebentar lagi. Ya, ujian akhir akademi akan di gelar kurang dari sebulan, ujian ini adalah ujian yang memperlihatkan perkembangan para siswa akademi selama setahun terakhir. Jika mereka gagal menujukkan perkembangan setelah belajar selama satu tahun, bukan tidak mungkin mereka diturunkan ke kelas yang lebih rendah atau bahkan dikeluarkan.

***

Di taman asrama perempuan.

“Sasa tolonglah kami sekali lagi.” Karl bersujud di hadapan Sasa.

“Ba-ba-baiklah … tolong berdirilah kalian,” jawab Sasa gugup.

Sasa yang memiliki sifat lugu dan baik hati itu tidak bisa menolak permohonan kedua temannya, terkadang sifat baiknya itu justru menjadi buruk untuknya.

“Tapi apa kau tahu seperti apa ujian tahun ini?” Tanya Karl.

“Ujian tahun ini?” Lyto bertanya sedikit bingung.

“Ujian akhir selalu berbeda setiap tahunnya, terkadang dilakukan pertarungan satu lawan satu, terkadang dilakukan pertarungan tim atau mungkin ujian seperti saat ujian masuk dulu. Sistemnya selalu berbeda setiap tahunnya,” jelas Karl.

Lyto hanya memiringkan kepalanya.

Sasa yang sejak tadi tampak gugup mulai berbicara, “sebelum itu aku ingin minta maaf, mungkin aku tidak bisa banyak membantu di ujian kali ini.”

“Hah? Kenapa? Bukankah kau murid paling pintar di kelas?” Tanya Karl sedikit heran.

“Aku mungkin pintar dalam pelajaran, tapi aku sangat buruk dalam hal pengendalian sihir. Aku tidak percaya diri dengan sihirku,” ujar Sasa yang menyembunyikan wajah mungilnya di balik staf kayu miliknya.

“Jangan khawatir, setiap orang punya kekurangan,” ucap Lyto dengan wajah penuh kesucian.

“Apa-apaan tampang sok suci mu itu!”

Karl memukul Lyto yang bertingkah menjijikan.

Harapan keduanya untuk bisa melewati ujian akhir dengan lancar menjadi sirna, keduanya malah mendapat teman baru yang berada di ambang kegagalan. Sasa yang mereka harapkan justru tak dapat diandalkan di saat-saat genting seperti ini.

Masih ada waktu dua minggu hingga ujian akhir digelar, para siswa di bebaskan oleh pihak akademi untuk berlatih secara mandiri. Satu per satu siswa meninggalkan akademi untuk berlatih di tempat masing-masing, ada juga yang tetap berada di akademi dan berlatih di lingkungan akademi.

“Masih ada harapan untuk kita,” kata Lyto dengan penuh keyakinan.

Karl dan Sasa menatap Lyto penuh harap.

***

Keesokan harinya di depan asrama perempuan.

“Apa kau yakin ini akan berhasil Lyt?”

“Tenang saja Karl, dia akan membantu kita.”

Setelah perbincangan singkat Karl dan Lyto di depan asrama wanita, Sasa dengan tampang lugunya muncul bersama gadis berambut perak dengan gaun indah berwarna putih.

“Ada apa Lyt? Tidak biasanya kau memanggilku seperti ini, ” ucap Reina.

“Kau tahu kan sebentar lagi akan diadakan ujian akhir. Jadi, jika tidak keberatan … maukah kau menolong kami?” Pinta Lyto.

“Tidak,” jawab Reina singkat sambil kembali ke dalam asrama.

“Tolonglah Rei, tolong aku, bukankah kita teman.”

Lyto memeluk kaki Reina yang menolak permintaan mereka.

“Ano … mungkin ini tidak sopan, tapi aku harap kau mau membantu kami. Ini sangat penting bagi kami, jika tidak … kami bisa saja dikeluarkan.” Sasa berkata sambil menundukkan kepalanya.

Sangat jarang Sasa yang seorang gadis bangsawan menundukkan kepalanya kepada orang biasa, Karl yang melihatnya langsung ikut menundukkan kepalanya.

“Baiklah, baiklah aku akan membantu kalian. Tapi aku akan menghukumnya terlebih dahulu.”

Setelah puas memarahi Lyto, Reina kembali menghampiri Karl dan Sasa yang memasang tatapan takut. Reina mungkin kuat dan mau membantu mereka, tapi melihat apa yang barusan ia lakukan pada Lyto membuat tulang belakang mereka merinding.

Hanya kurang dari dua minggu sampai ujian akhir tiba. Mereka memutuskan untuk meninggalkan akademi dan berlatih di utara magidad, sebuah hutan yang memiliki kontraksi sihir yang cukup banyak untuk berlatih sihir.

Reina menemukan tempat itu saat sedang mencari obat-obatan untuk penelitian, meskipun tempat itu bukanlah tempat rahasia, tapi masih sedikit orang yang berpikiran untuk berlatih di hutan itu.

Tanpa membuang waktu, selesai makan siang mereka langsung bergegas menuju hutan itu. Hutan yang tidak memiliki nama dan orang-orang menyebutnya hutan magidad. Membutuhkan waktu setengah hari untuk sampai di hutan. Jadi, mereka akan tiba tepat saat matahari tenggelam.

Perjalanan menuju hutan magidad tidaklah sesulit yang dibayangkan, sudah ada jalan yang mengarah ke hutan membuat perjalanan menjadi lebih cepat. Seperti yang diperkirakan, mereka tiba di hutan tepat sebelum matahari tenggelam. Mereka mencari tempat yang nyaman untuk bermalam dan memutuskan memasang tenda tak jauh dari hutan dan terdapat sumber air di dekatnya.

[Create Magic]

Reina merapalkan sihir yang cukup asing di telinga Lyto dan dua temannya. Sesaat kemudian, kayu muncul dari tanah dan membentuk bangunan seperti sebuah villa kecil. Lyto terkejut dan menatap Reina dan bangunan itu secara bergantian.

“Sihir apa itu?” Karl bertanya heran.

“Ini adalah sihir spesial elemen milikku, aku dapat menciptakan benda apapun dari kayu sesuai dengan jumlah mana yang ku miliki. Bisa dibilang ini hanya sihir dasar yang aku kembangkan.”

“Kelas S memang menakjubkan,” gumam Sasa, takjub.

“Jadi, ini hanya sihir tingkat rendah?” Tanya Karl yang masih bingung.

“Begitulah,” jawab Reina dengan senyuman manisnya.

***

Hari ujian akhir akademi telah tiba, Lyto, Karl dan Sasa yang mendapat pelatihan khusus dari Reina kembali ke akademi sehari sebelum hari ujian. Kini mereka berada di halaman utama akademi, tempat yang sama seperti saat mereka melakukan ujian masuk ke akademi hampir setahun yang lalu.

Belum ditentukan ujian seperti apa yang akan dilaksanakan tahun ini, semua siswa yang berkumpul mulai cemas. Barisan dibentuk sesuai urutan kelas, ujian dimulai dari kelas terendah, yaitu kelas E.

Semua mata terpaku pada sekumpulan orang dengan energi sihir yang luar biasa, dengan penampilan yang elegan membuat mereka tampak luar biasa. Mereka adalah para murid kelas S yang berbaris di tempat yang telah disediakan terpisah dari murid kelas lainnya, semakin menegaskan perbedaan tingkat mereka.

Para dewan sihir dan para pengajar mulai memasuki balkon yang telah disediakan. Mereka lah yang berhak menentukan apakah para peserta ujian berhak masuk ke kelas yang lebih tinggi atau diturunkan ke kelas yang lebih rendah, bahkan dapat dikeluarkan jika tak mampu memberikan perkembangan setelah satu tahun belajar di akademi.

“Hey Karl, kau tahu kenapa kita harus dikeluarkan jika tidak berkembang?” Tanya Lyto penasaran.

“Kenapa baru kau tanyakan sekarang.”

“Aku tidak tahu, hanya ingin bertanya sekarang saja.”

“Bodoh! Tentu saja agar akademi tetap mempertahankan kurikulumnya dan menghasilkan penyihir yang hebat, karena itu mereka menyingkirkan orang yang tidak berbakat.” Karl berbisik menjawab pertanyaan Lyto.

“Bisakah kalian diam, ujiannya akan segera dimulai,” sela Sasa yang berada tepat di belakang mereka.

Salah seorang yang ada di balkon berdiri dan mulai berbicara, orang itu adalah salah satu pengajar yang menjadi pembawa acara dalam ujian akhir ini. Ia mulai berbicara kesana-kemari mengagungkan betapa hebatnya akademi. Hal yang tentu membuat Lyto sangat bosan mendengarnya, tapi itu adalah kalimat pembuka yang selalu dibawakan disetiap acara yang diadakan oleh akademi.

Setelah pembukaan yang membosankan, pembawa acara itu mulai menjelaskan peraturan ujian kali ini, para siswa dengan seksama mendengarkan tanpa satu katapun yang terlewat. Ini sangat penting bagi mereka, tentu mereka akan melakukannya dengan serius karena menyangkut masa depan mereka.

“Jadi, ujian kali ini adalah mengekstrak sihir kita ke dalam batu Kristal itu? Untuk apa aku berlatih keras jika ujiannya hanya seperti itu,” ujar salah seorang murid yang terlihat sombong.

“Kau salah paham anak muda, Kristal ini akan menilai seberapa besar sihir yang kau miliki. Kami memiliki data kalian saat ujian masuk. Jadi, jika nilai saat kalian masuk tidak berubah hingga saat ini, maka sudah dipastikan kalian tidak mengalami perkembangan. Tentu saja itu buruk untuk kalian. Karena itu dalam ujian ini kalian diperbolehkan mengeluarkan sihir terkuat kalian kepada Kristal itu.”

Murid yang tadinya terlihat sombong itu menjadi terdiam dan menundukkan kepalanya.

“Lalu bagaimana cara kami mengekstrak sihir ke dalam Kristal itu?” Tanya salah satu murid dari kelas E.

“Apa aku belum menjelaskannya?” Pembawa acara itu balik bertanya kepada para murid. Kemudian ia melanjutkan, “aku akan menjelaskannya sekarang. Ada dua cara untuk mengekstrak sihir ke dalam Kristal itu untuk menentukan sebesar apa sihir kalian. Pertama adalah dengan cara transmisi mana, sama seperti saat kalian mentransmisikan mana ke dalam staf sihir kalian, hanya saja itu ditransmisikan ke dalam kristal sihir itu dan dilakukan dengan seluruh kekuatan yang kalian miliki. Cara ini di gunakan untuk mereka yang kuat dalam sihir pertahanan atau pengobatan.”

“Lalu yang kedua?”

“Yang kedua adalah dengan menyerang Kristal itu dengan sihir kalian, serang dengan seluruh kekuatan yang kalian miliki. Cara ini digunakan untuk mereka yang memiliki sihir penyerangan yang kuat.”

Setelah mendengar penjelasan dari pembawa acara, para murid mulai paham dan mempersiapkan diri mereka untuk memberikan yang terbaik dalam ujian.

Ujian pun dimulai dari kelas E, satu persatu secara bergantian menuju ke arah Kristal sihir yang terletak di tengah lapangan. Kristal itu berubah warna setiap sihir dimasukkan ke dalamnya, kemungkinan warna itu lah yang menentukan tingkatan atau perkembangan sihir seseorang.

Waktu berlalu tanpa terasa kini sudah giliran kelas A untuk melakukan ujian. Sasa yang biasanya sudah gugup menjadi jauh lebih gugup, bahkan untuk mengajaknya berbicara saja sulit.

Satu per satu murid kelas A melakukan ujian dan saat ini giliran Karl untuk menunjukkan perkembangannya. Karl yang dasarnya memiliki kekuatan sihir yang besar seharusnya tidak mengalami kesulitan.

Karl merapalkan sihir api dan menciptakan sihir [Fire Ball] yang menerjang Kristal yang tepat berada di tengah lapangan, hawa panas mengelilingi lapangan. Sihir tingkat menengah dengan kekuatan yang luar biasa besar, sebuah perkembangan yang sangat baik bagi Karl. Kristal berubah warna menjadi merah darah, cukup mengejutkan karena berbeda dari murid-murid lain yang memiliki warna-warna cerah.

Berselang beberapa murid, sekarang giliran Lyto maju untuk menunjukkan perkembangannya. Dengan longsword putih di tangan kanannya yang masih membuat heran murid-murid yang lain sampai saat ini. Lyto mulai berkonsentrasi dan merubah aura di sekitar lapangan.

[Phase One Realease]

[Lightning Sword Dance]

Suara petir mendecit mengelilingi pedangnya, sesaat kemudian longsword itu berbubah memanjang seperti cambuk dan menyerang Kristal itu hingga menyebabkan ledakan yang cukup besar dan menimbulkan asap pekat di sekitarnya.

Sihir lain selain [Lightning Tree] yang dikembangkan Lyto, ini adalah kali pertama ia menunjukkan teknik barunya di depan banyak orang. Asap yang ditimbulkan setelah ledakan mulai menghilang, para murid yang terkejut melihat kejadian itu mulai memicingkan matanya menatap Kristal yang baru saja menerima serangan dahsyat.

Hitam, itu warna hitam pekat. Lyto tidak tahu arti warna itu dan kembali ke barisannya. Murid yang lain pun bertanya-tanya kebingungan. Para dewan sihir dan pengajar saling tatap dan memberikan senyuman puas. Tampaknya itu menujukkan hal yang positif.

Ujian terus berlanjut, Sasa pun sukses melakukan tugasnya meskipun dipenuhi rasa gugup. Api birunya mampu menciptakan warna merah pekat di dalam Kristal itu.

Hanya kelas S yang tidak mengikuti ujian, kelas S memiliki ujian yang berbeda dengan tingkat kesulitan yang jauh berbeda. Pengumuman ujian diberikan tiga hari setelah pelaksanaan ujian.

Sebuah kelegaan setelah latihan berat akhirnya terbayarkan, kini mereka hanya menunggu hasil dari latihan yang mereka lakukan.

“Dengan selesainya ujian hari ini, saya mewakili akademi menyatakan bahwa liburan akhir akan dimulai setelah hasil ujian diterima, kalian akan mendapatkan waktu liburan selama satu bulan. Diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing dan jangan lupa untuk tetap berlatih. Selamat menikmati liburan.”

Ucapan penutup dari pembawa acara membuat para murid melompat kegirangan setelah seharian penuh ketegangan.

Waktu liburan pun dimulai.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?