Episode 26 Kemunculan Hydra

“Aku lulus, aku lulus! Lihatlah! Hey,hey lihatlah ini Rei!”

BAAAM

“Diamlah bodoh!”

Pukulan mendarat di kepala Lyto.

“Kenapa kau memukulku!” Tegas Lyto sambil meringis kesakitan.

“Sedang ingin saja, kurasa aku sudah lama tidak melakukannya,” balas Reina, santai.

Karl dan Sasa hanya tertawa melihat tingkah konyol Lyto.

Hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian, mereka berkumpul di aula gedung akademi untuk menerima hasil ujian. Hasilnya, mereka semua lulus dan tetap berada di kelas A. Sedangkan Reina yang mengikuti ujian terpisah dari yang lainnya juga lulus menjadi bagian dari 3 orang teratas di kelas S.

“Sudah kuduga, kelas S memang luar biasa,” ucap Sasa kagum.

“Tidak ada yang berbeda Sasa, aku hanya sedikit beruntung.” Reina membalas ucapan Sasa dengan lembut.

“Jadi, apa yang akan kalian lakukan?” Tanya Karl

“….”

Semua orang hanya terdiam bingung.

“Ini liburan loh, liburan! Apa kalian tidak ingin mengunjungi suatu tempat?”

“A-aku tidak tahu, jika boleh aku ingin ikut liburan dengan Lyto dan Reina,” jawab Sasa sambil memohon kepada Reina.

“Kalau begitu sudah diputuskan, ayo kita liburan bersama.” Lyto berucap dengan santainya.

“EHH~”

Sasa sedikit terkejut mendengar perkataan Lyto. Selama ini, tidak ada temannya yang berani mengajaknya liburan karena statusnya sebagai bangsawan.

“Yosh!” Karl menyetujui.

“Ano … tapi kita mau ke mana?” Tanya Sasa.

“Tidak tahu.” Lyto menjawab dengan tampang polosnya.

Setelah berdiskusi tentang liburan, akhirnya mereka memutuskan melakukan pengambilan suara untuk memutuskan tujuan liburan mereka. 3 orang memilih kota Milenidad, tidak ada yang merasa keberatan dan mereka memutuskan menghabiskan waktu liburan di kota Milenidad. Kota yang memiliki kenangan mendalam dengan Lyto.

“Ano, aku penasaran siapa yang memilih liburan ke pulau astral?”

“Ah, itu aku.” Lagi-lagi Lyto menjawab pertanyaan Sasa dengan polosnya.

Sasa melirik Reina dan Karl, mereka hanya mengangkat bahu yang membuat Sasa hanya tersenyum pasrah.

***

Pelabuhan kota Milenidad.

“Waaahhh rindunya, sudah lama aku tidak ke sini.”

“Benar juga, Lyto berasal dari kota ini, lalu apa Reina tidak merasa rindu dengan kota ini? Kau dari kota ini juga, kan?” Tanya Karl penasaran.

“… hmm … sebenarnya aku dari Sovovad,” jawab Reina ragu.

“EHH~ ta-tapi bukankah kalian teman kecil?” Sasa bertanya heran.

Reina hanya bisa tersenyum menjawab pertanyaan itu, toh jika ia memberitahu mereka belum tentu mereka akan percaya.

“Sudahlah lupakan, yang penting sekarang kita nikmati liburan ini, bukan begitu, Lyt?” Karl menyela percakapan Reina dan Sasa.

“….”

“Lyt?”

“….”

“Ke mana menghilangnya anak bodoh itu!!!”

Karl berteriak melihat Lyto yang sudah tidak berada di belakangnya.

Liburan dimulai dengan mencari penginapan di sekitar pelabuhan, karena pemandangannya yang indah mereka memilih penginapan yang berada di sekitar pantai. Mereka mencari penginapan tanpa Lyto yang menghilang entah kemana.

Usai beristirahat sejenak, Karl mengajak Sasa dan Reina berkeliling sekitar pelabuhan. Meski cukup lelah karena perjalanan panjang, mencari angin segar di sekitar pelabuhan tidak buruk juga.

Mereka berjalan menyusuri pantai, sayup-sayup terdengar suara yang memanggil mereka. Karl menoleh mencari suara itu lalu kembali berjalan setelah tak menemukan apapun. Suara itu semakin jelas, mereka menjadi semakin resah dan terus mencari sumber suara.

“Hoi, Hoi … di sini … di sini … Reina! Karl! Sasa!”

Ketiganya menoleh sumber suara yang terdengar sangat dekat, tapi tak menemukan apapun.

“di atas sini, di atas!”

“Apa yang kau lakukan di atas sana bodoh!”

Reina berteriak melihat Lyto sedang bersantai di atas mercusuar tak jauh dari tempat mereka berada.

“Di sini sangat menyenangkan lho! Shi shi shi.”

“Bukan itu maksudku! Cepatlah turun bodoh!”

Reina memasang mode marah, rambut perak cantiknya menjadi seperti monster saat ia marah.

Setelah sedikit berkeliling, mereka kembali ke penginapan dengan tambahan satu orang yang sejak tadi memasang tampang cemberut. Lyto hanya bisa menggerutu sepanjang jalan setelah menerima kemarahan Reina.

Hari yang cukup melelahkan dan ini baru awal dari liburan panjang mereka.

***

Penginapan kota Milenidad.

“Hujannya tidak mau berhenti, padahal seharusnya sudah musim panas.” Sasa membuka percakapan.

“Aku bosan, biarkan aku keluar.” Lyto meronta sejak tadi ingin segera keluar penginapan.

Cuaca hari ini di kota milenidad memang cukup buruk, meskipun masih musim panas tapi hujan mengguyur kota ini sejak pagi hari. Jadwal mereka hari ini pun menjadi kacau, Lyto dan teman-temannya hanya bisa mengeluh di meja makan yang disediakan penginapan.

Selama ini belum pernah terjadi hal yang seperti ini, tentu saja hal ini bukanlah hal yang wajar. Orang-orang yang berkumpul di tempat makan pun semakin ramai, banyak yang membicarakan hal buruk seperti bencana akan datang.

Semua orang menjadi gelisah tentang apa yang akan terjadi dengan cuaca buruk hari ini. Di tengah pembicaraan serius orang-orang di penginapan, Lyto masihlah menyandarkan kepalanya ke meja dan terus merengek untuk bisa segera pergi keluar.

Petir menyambar semakin kencang, angin bertiup mengoyak kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan, hujan turun semakin deras diikuti gelombang laut yang semakin tinggi. Kondisi langit pun sangat gelap seperti malam hari.

Tak lama berselang, terdengar suara peringatan dari mercusuar, peringatan yang mengumumkan hal yang buruk terjadi. Lyto sudah sangat mengerti akan apa yang terjadi, setiap kali ia mendengar suara peringatan itu maka selalu terjadi hal buruk yang menghampiri kota ini, ia cukup berpengalaman tentang hal ini.

Semua orang di penginapan menjadi panik, Karl, Sasa dan Reina yang tidak mengerti apa yang terjadi hanya berdiri mematung melihat banyak orang berhamburan keluar penginapan. Dilihatnya Lyto sudah berada di pintu sambil mengatur orang-orang yang terlihat panik.

Sangat buruk untuk meninggalkan penginapan di cuaca seperti ini, tapi mungkin akan terjadi hal yang lebih buruk jika orang-orang itu masih berada di sini, pikir Reina. Dengan segera Reina membantu Lyto mengatur orang-orang yang panik.

“Apa yang terjadi, Lyt?” Tanya Reina dengan nada sedikit berteriak.

“Hal buruk akan terjadi, kita harus mengungsikan orang-orang ke pusat kota.” Lyto menjawab dengan nada tegas.

Mendengar hal itu, Karl dan Sasa berinisiatif untuk membantu Lyto dan Reina. Setelah selesai dengan seluruh orang yang berada di penginapan, mereka berpencar dan memandu orang-orang yang masih dilanda kepanikan untuk segera menjauh dari laut.

Sasa yang berpencar dengan yang lainnya begitu kebingungan, ia yang selalu gugup harus menghadapi orang-orang yang sedang panik. Tanpa disadari ia juga terbawa rasa panik dan hanya bisa menangis di tengah badai.

Di tempat lain, Lyto dengan cekatan membantu orang-orang yang terlihat kesulitan dan mengarahkannya menuju pusat kota. Ia sudah berkembang menjadi lebih kuat sekarang, tentu ia tidak ingin mengalami hal buruk seperti yang pernah dialaminya setahun yang lalu.

“It-it-itu! Makhluk apa itu!” Salah seorang penduduk kota berteriak menunjuk ke arah laut.

Semua orang melihat ke arah yang ditunjuk laki-laki paruh baya itu dan berteriak panik, kondisi orang-orang menjadi tak terkendali, mereka berlari berdesak-desakkan tanpa memedulikan perempuan atau anak-anak.

Tidak ada yang bisa dilakukan Lyto dan yang lainnya, dalam keadaan ini semua orang hanya mementingkan keselamatannya sendiri. Beruntungnya penyihir kota tiba tak lama setelah kegaduhan terjadi, Lyto menyerahkan masalah para penduduk sepenuhnya kepada penyihir kota dan berlari ke arah yang ditunjuk laki-laki paruh baya sebelumnya.

Setibanya di pelabuhan, Lyto melihat Reina dan Karl sudah tiba lebih dulu dan hanya berdiri mematung menatap laut. Beberapa penyihir kota pun sudah berkumpul disekitar pelabuhan.

“Ap-apa itu?” Lyto berteriak spontan.

Makhluk raksasa bersisik menyerupai naga, tetapi memiliki 5 buah kepala muncul tidak jauh dari pelabuhan. Ukurannya begitu besar dengan sisik tebal berwarna hitamnya.

“Itu Hydra, makhluk mythical beast yang hidup di lautan darkor.” Seorang laki-laki paruh baya menjawab pertanyaan Lyto.

“Ah, paman yang waktu itu. Jadi makhluk itu berbahaya?”

Lyto kembali bertanya pada laki-laki yang ternyata dikenalnya saat perang melawan penyihir hitam tahun lalu.

“Makhluk itu dikenal sebagai penjaga lautan oleh penduduk kerajaan ini.”

“Oh begitu, dia baik jadi tidak masalah,” ucap Lyto dengan ekspresi polos.

“Baik darimananya! Dia itu bisa menghancurkan kota ini bodoh!” Karl mengomentari perkataan polos Lyto sambil menggaruk kepala.

“EHH~ benarkah?”

Karl hanya menghela napas panjang dan mengabaikan Lyto, saat ini makhluk mengerikan yang ada dihadapannya jauh lebih penting daripada makhluk berotak kosong disampingnya itu.

Dari cerita rakyat yang berkembang, Hydra adalah makluk sejenis naga yang memiliki 5 kepala dan hidup di lautan kerajaan Magidad. Hydra dikenal sebagai pelindung laut, tapi tidak ada yang tahu pasti kenapa makhluk itu bisa disebut pelindung laut. Yang jelas saat ini keberadaaannya dapat membahayakan kota Milenidad.

Penyihir tingkat atas berkumpul dan mulai merapal mantra untuk menyerang makhluk itu. Puluhan bola api terbang dan menerjang Hydra dan menghancurkan salah satu kepalanya. Penyihir kota bersorak atas keberhasilan mereka.

Namun, hal yang diluar dugaan terjadi, hanya berselang beberapa detik makhluk itu kembali beregenerasi dan memunculkan kembali kepala yang sudah dihancurkan sebelumnya. Makhluk yang salah untuk dijadikan lawan.

Makhluk itu berteriak keras hingga memekakkan telinga, kemudian air laut disekitarnya berputar dan kelima kepalanya bersiap untuk menembakkan sesuatu dari mulutnya.

“Ini buruk,” celetuk Karl.

“Semua orang siapkan sihir pertahanan terkuat kalian!” Teriak orang yang memimpin penyihir kota.

Puluhan orang mengucapkan mantra yang sama dan menciptakan sihir pertahanan mutlak [Water Barier]. Tepat setelah sihir diaktifkan, semburan air dari kelima kepala Hydra mengarah pada para penyihir yang berada di pelabuhan.

Sebuah ledakan terjadi, semburan air Hydra sepertinya jauh lebih kuat dari sihir pertahanan penyihir kota. Meskipun penyihir kota yang ada saat ini adalah penyihir tingkat atas, tapi masih tidak mampu menahan serangan dari Hydra.

Beberapa orang terlempar terkena ledakan dari serangan itu. Reina segera mengucapkan mantra dan menciptakan sihir [Life of Tree]. Sebuah sihir penyembuhan yang hanya dimiliki Reina. Akar dari pohon yang diciptakannya menjalar menuju penyihir kota yang terluka dan menyembuhkannya seketika.

Sihir luar biasa yang membutuhkan jumlah mana yang juga luar biasa. Semua orang menatap heran Reina yang dibalas senyuman hangat.

Para penyihir kota kembali fokus untuk menyerang dan mengucapkan berbagai macam mantra. Ada jeda setelah Hydra menyemburkan air hingga makhluk itu bisa melakukannya lagi, saat ini adalah sebuah kesempatan untuk penyihir kota melakukan serangan.

[Fire Ball]

[Dragon’s Roar]

[Icy Waterfall]

Berbagai sihir dilepaskan dan menghujam makhluk itu terus menerus, satu-satunya cara mengalahkannya adalah dengan menyerang terus-menerus sebelum makhluk itu beregenerasi. Sihir-sihir tingkat menengah terus dilepaskan, Karl termasuk orang yang ikut melakukan penyerangan.

Beberapa orang mulai kehabisan mana dan menghentikan serangannya, jumlah penyihir kota yang kehabisan mana semakin bertambah sedangkan regenerasi Hydra masih berlangsung cepat sampai akhirnya semua penyihir kota kehabisan mana dan Hydra kembali ke bentuk semula.

Semua orang menjadi pasrah akan akhir hidup mereka, satu serangan dari Hydra akan menghancurkan mereka, termasuk menghancurkan kota. Tak ada lagi sihir pertahanan yang dapat mereka rapalkan. Reina pun sudah kehabisan mana setelah menyembuhkan banyak penyihir kota sekaligus.

Hydra kembali bersiap untuk melancarkan serangan kedua, kelima kepalanya sedang mengumpulkan kekuatan untuk menyemburkan air. Saat semua orang sudah pasrah dengan nasibnya, Lyto berlari menuju laut yang mengejutkan semua orang.

“Apa yang kau lakukan, Lyt!” Teriak Reina.

Sesaat sebelum Hydra melepaskan semburan airnya, Lyto mencelupkan longswordnya ke dalam laut dan melepaskan sihir [Lightning Tree]. Berharap hal yang sebelumnya ia gunakan kepada penyihir hitam dapat terulang.

Petir bercabang menyambar lautan dan menghantam Hydra dengan keras, suara ledakan disertai asap mengepul menyelubungi Hydra, semua orang berharap serangan barusan berhasil. Namun, tatapan para penyihir kota menjadi lemah setelah melihat Hydra masih kokoh berdiri di tengah kepulan asap.

Tapi sedikit aneh karena makhluk itu masih terdiam kaku, kelima mulutnya yang siap menyemburkan air malah mengeluarkan asap, meskipun tidak berdampak pada tubuhnya, tetapi serangan Lyto tampaknya mengenai telak kelima kepala Hydra karena disetiap kepalanya hendak mengeluarkan semburan air yang malah meledak terkena petir Lyto dan melukai dirinya sendiri.

Suara yang memekikkan telinga kembali terdengar dari makhluk itu sebelum akhirnya perlahan menghilang kembali ke dalam laut. Cuaca buruk yang sejak pagi menerjang kota juga berangsur membaik, dan cuaca cerah kembali menghiasi kota milenidad sekali lagi.

“Ini berakhir.”

“Akhirnya ….”

“Ki-kita selamat!”

Para penyihir kota mulai bersorak dan meluapkan kegembiraan mereka.

“Yang barusan itu apa?” Tanya Karl penasaran.

“Itu [Lightning Tree] bukankah kau sudah tahu?”

“Ya, ta-tapi kenapa bisa menjadi sebesar itu dampaknya?”

Reina setuju dengan perkataan Karl, sebelumnya yang Lyto tunjukkan pada mereka adalah sihir tingkat rendah yang hanya memiliki dampak beberapa *ren saja.

“Aku juga tidak tahu, aku hanya percaya itu berhasil saja,” balas Lyto tidak peduli.

Karl juga akhirnya menyerah dan tidak membahas hal itu lagi. Namun, Karl menyadari ada yang hilang dari mereka.

“Di mana Sasa?”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?