Arc 1 Ch 10 - Pesta Penutup

Sekarang, aku harus hadir di pesta utama sebelum acara inagurasi. Berbeda dengan pesta yang diadakan sebelum pertandingan, pada pesta ini peserta, dengan kata lain para Regal Knight, juga ikut berpartisipasi.

Awalnya Emir dan Tuan Putri Yurika bermaksud memberiku pakaian pesta yang sangat mewah seperti bangsawan, tapi akhirnya aku bisa membujuk mereka agar aku diperbolehkan hanya mengenakan setelan abu-abu. Alasannya? Mudah saja. Aku tinggal bilang ayahku mengenakan setelan yang sama. Jadi, aku tidak bileh mengenakan pakaian yang lebih baik supaya tidak memberi nama buruk pada ayah. Masa si anak mengenakan pakaian yang jauh lebih mewah, kan gak mungkin banget. Dan karena orang-orang sudah mengenal perangai ayah dengan baik, maka tidak akan terlalu aneh kalau aku juga mengenakan setelan seperti ayah. Mereka hanya akan menganggap "ayah dan anak sama saja", dan memang sama.

Pesta ini diadakan di hall kerajaan. Kamu bisa melihat lampu mengeluarkan cahaya putih kekuningan yang menenangkan dari lampu besar di tengah ruangan dan juga lampu-lampu yang dipasang di tiang-tiang samping ruangan. Di samping ruangan juga disediakan buffet untuk makanan dan minuman sementara bagian tengah ruangan disediakan sebagai lantai dansa.

Aku bisa sedikit berdansa, setidaknya cukup agar aku tidak menginjak kaki lawan dansaku. Tapi, apa yang kulakukan? Tentu saja melakukan wisata kuliner di dalam ruang pesta ini. Aku mengambil dan mencicipi semua makanan dan minuman yang disediakan. Dan akhirnya, aku berhenti pada satu minuman bernama sarasva.

Sarasva dibuat dari fermentasi beras dan ragi yang dicampur dengan sedikit gula merah cair. Rasa asin, asam, dan manisnya benar-benar memberikan sensasi yang berbeda di mulut. Dan meskipun minuman ini adalah hasil fermentasi, pelayan mengatakan minuman ini bukanlah minuman beralkohol, jadi aku bisa bebas meminumnya. Ahh, setelah aku mendapatkan uang perbulan itu, aku akan memastikan kulkasku selalu terisi oleh sarasva.

Tentu saja, teman-teman SMA ku yang keluarga bangsawan atau setidaknya keluarga yang terpandang, juga datang di pesta ini. Illuvia, Ardi, dan Maila adalah orang pertama yang memberikan selamat padaku setelah Ninlin, Ayah, Ibu, Emir, Tuan Putri Yurika, dan Zage. Setelah itu diikuti oleh teman-teman SMAku yang lain, klien, dan kenalanku. Sebelumnya, tidak ada satupun klienku yang mengenal nama asliku, tapi dengan partisipasiku, nama asliku pun akhirnya muncul ke permukaan. Yah, setidaknya mereka menyatakan akan melakukan beberapa pesanan khusus. Lucky.

Lalu, bagaimana dengan yang lainnya? Orang-orang yang tidak mengenalku, terutama kontestan Battle Royale, tentu saja memandangku dengan pandangan dingin, tidak terkecuali regal Knight dari keluarga Emir, kecuali Zage tentu saja. Mereka menganggap aku tidak layak menang karena aku tidak memegang teguh kode etik kesatria, tapi karena mereka tahu kalau aku bukan lulusan sekolah kesatria dan hanya rakyat jelata, bukan bangsawan, mereka tidak bisa mengatakannya blak-blakan.

Meskipun pandangan dingin yang sekarang kurasakan adalah pandangan dingin terparah yang pernah kurasakan dalam hidupku, bahkan lebih parah dari pandangan dingin keluarga besar Alhold, aku tidak memedulikannya. Justru sebaliknya, aku bersyukur mereka tidak mengkonfrontasiku. Dengan begitu, aku tidak perlu terlibat perdebatan kecil dengan mereka. Tapi tentu saja, seperti biasa, tidak semuanya berjalan sesuai keinginan.

Siapa lagi yang membuat keinginan itu tidak berjalan mulus selain keluargaku sendiri? Ralat, keluarga besarku. Keluargaku yang terdiri dari ayah, ibu, dan Ninlil tentu saja tidak termasuk. Orang itu adalah Ufia Zas Alhold. Kini, dia mengenakan gaun pesta berwarna abu-abu yang memiliki belahan di bagian pinggulnya. Belahan itu menerus ke bawah sehingga aku bisa menikmati pemandangan pahanya yang mulus. Rambutnya dikepang di belakang kepalanya dengan menyisakan sedikit rambut pendek sekitar wajahnya. Dan tentu saja, pakaiannya tidak memberikan sex appeal di sisi depannya.

Sebagai catatan, entah mungkin kutukan atau apa, semua perempuan yang lahir dari keluarga Alhold tidak pernah memiliki ukuran dada yang standar, selalu di bawah standar. Ninlil pun tidak mampu lolos dari kutukan itu. Hal itu membuat Ninlil selalu menambahkan pad di dalam gaun atau pakaiannya. Untuk ukuran ibu, dia standar karena dia tidak berasal dari keluarga Alhold. Sebagai info tambahan, kalau aku harus meletakkan urutan ukuran lingkar dada, dari yang paling kecil adalah perempuan keluarga Alhold, lalu di tengah-tengah yang standar ada Emir dan Tuan Putri Yurika, dan yang paling besar, adalah Illuvia dan Maila.

"Aku tidak akan mengakuimu sebagai pemenang. Camkan itu baik-baik Lugalgin."

"Ya, ya, aku akan camkan itu baik-baik."

Aku berusaha mengakhiri pembicaraan ini sesegera mungkin dan berjalan meninggalkan Ufia, mau mengisi kembali gelasku dengan sarasva.

"Heh, kamu mau kabur?"

Uhh, merepotkan sekali perempuan ini. Terpaksa aku berhenti atau dia akan berteriak dan membuat keributan.

"Kalau kau mendatangiku untuk mengatakan itu, kau sudah mengatakannya. Bahkan aku sudah mencamkan baik-baik ucapanmu seperti yang kau inginkan. Lalu, apa lagi yang kau inginkan?"

"Ka, kau..."

Ufia tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Wajahnya mulai memerah, mendidihkan darah di kepalanya.

"Lugalgin, selamat ya atas kemenanganmu. Kamu benar-benar hebat tadi. Bahkan tidak kehilangan HP sedikitpun. Benar-benar sebuah pencapaian yang luar biasa."

Dan Zage pun datang, masuk ke pembicaraan antara kami berdua. Meskipun dia sudah mengucapkan selamat di ruang tunggu, sekarang dia melakukannya lagi. Aku paham sebenarnya dia ingin menolongku untuk memperbaiki citraku dengan memberi selamat di depan umum, tapi perempuan ini bukan—

"Pa, pak Zage, kenapa anda memberi selamat pada inkompeten ini."

Eh? Kok nadanya melembut. Ada apa ini? Kalau aku ingat baik-baik Zage adalah satu dari sepuluh lulusan sekolah kesatria dengan nilai terbaik sepanjang sejarah. Apa predikat itu membuat Ufia mau tidak mau menghormatinya? Atau mungkin dia memiliki perasaan untuk Zage? Tapi Zage sudah menikah dan memiliki anak, jadi tampaknya perasaannya terhenti pada sekedar hormat. Mungkin.

"Kalau orang sehebat Lugalgin disebut inkompeten, aku penasaran sebutan apa yang layak bagi kita yang kalah darinya."

"Tapi pak," Ufia mencoba membatah ucapan Zage dengan nada yang masih halus. "Inkompeten ini tidak memegang teguh kode etik kesatria. Dia tidak ragu untuk menunggu lawannya kehabisan stamina dan menyerang dari belakang. Dia—"

"Ufia, dengarkan."

Zage menyela, tidak membiarkan Ufia menyelesaikan kalimatnya. Setelah Ufia terdiam sejenak, Zage meletakkan tangannya di bahu Ufia, menenangkannya. Dan benar saja, tangan Zage di bahu Ufia benar-benar membuat perempuan ini menjadi lebih tenang.

Sementara itu, aku meminta pelayan mengisi gelasku dengan sarasva baru dan kembali melanjutkan minumku.

"Aku sudah dikirim ke medan peperangan berkali-kali dan aku bisa bilang, apa yang Lugalgin lakukan tidaklah salah. Dia selalu bertahan, menghindar, dan menyerang dengan cara yang seefisien mungkin dan memiliki tingkat keamanan yang paling tinggi untuknya. Dan lagi, tidak ada aturan yang menyatakan kalau peserta harus memegang teguh kode etik kesatira. Peserta memegang teguh kode etik kesatria tidak lebih dari peraturan tidak tertulis karena semua pesertanya adalah bangsawan atau lulusan sekolah kesatria. Ini adalah pertama kalinya rakyat jelata yang tidak memiliki latar belakang sekolah kesatria berpartisipasi."

"Ta, tapi pak...."

"Lugalgin."

Akhirnya Zage menyeretku kembali. Aku berhenti minum dan menurunkan tanganku. Ufia yang melihatku bersantai sambil minum terlihat semakin kaku, wajahnya. Tampaknya perasaan tidak terima, marah, dan kebenciannya muncul bersamaan di wajahnya.

"Ya pak Zage?"

"Jelaskan pada kami, bagaimana kamu bisa bertarung seperti itu? Melihat dari caramu bertarung, tidak dipungkiri kamu memiliki pengalaman bertarung di dunia nyata."

Aku tidak mau menjelaskan dan memberikan cerita yang panjang lebar, jadi aku langsung jawab saja sesingkat mungkin.

"Anggap saja hidup sebagai seorang tanpa pengendalian, seorang inkompeten, tidak mudah."

"Hoo, dan apakah kesulitannya? Bukankah kau lahir di keluarga Alhold yang—"

"Maaf pak Zage, tapi bapak tidak tahu apapun mengenai hidup kakak."

Entah darimana, Ninlil tiba-tiba saja muncul di sampingku dan menyela ucapan Zage.

"Kakak, yang tidak memiliki pengendalian, adalah target bully semua keluarga besar Alhold dan teman-temannya. Tidak jarang juga mereka melakukan kekerasan pada kakak. Tentu saja, tentu saja,"

Ninlil tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Tampaknya kesedihannya menumpuk, membuatnya tidak mampu berkata-kata lagi.

Aku mengusap rambut Ninlil dan memberikan minumku padanya. Setelah meminum sarasva dari gelasku, akhirnya dia bisa sedikit menenangkan dirinya.

Baiklah, biar aku akhiri perbincangan ini. Perbincangan ini mulai berbahaya bagi Ninlil.

"Seperti yang dijelaskan adikku. Kehidupanku tidak pernah mudah. Terutama dari keluarga besar Alhold. Hanya ayah, ibu, dan Ninlil lah yang peduli dan baik padaku. Mengenai perlakuan keluarga besar Alhold yang lain, aku tidak perlu bilang. Anda bisa kumpulkan sendiri rumor dan info mengenai hal itu."

Aku menekankan pada bagian keluarga Alhold. Ini untuk memberikan kesan pada Ufia dan Zage kalau aku membenci keluarga Alhold, terutama pada Ufia. Tentu saja, aku memastikan ucapanku terdengar oleh beberapa keluarga Alhold yang berusaha menguping dari tadi. Dengan aku memberikan kesan kalau aku membenci keluarga Alhold, mereka tidak akan memiliki niat untuk mendekatiku yang telah juara battle royale.

Sejujurnya, aku tidak membenci keluarga besar Alhold. Aku sudah tidak peduli lagi dengan keluarga besar Alhold. Mereka bisa mengejekku semau mereka. Bahkan kalau mereka memutuskan hubungan keluarga denganku, aku akan sangat bersyukur. Sayangnya, mereka tidak akan mampu melakukannya karena Ninlil adalah kepala keluarga selanjutnya. Kalau mereka melakukannya, mereka khawatir pada apa yang mungkin Ninlil lakukan setelah dia menjadi kepala keluarga.

Setelah aku mengatakan itu, aku bisa merasakan keluarga Alhold lain yang menguping melemparkan pandangan dingin, tidak terkecuali Ufia. Aku sudah mengumbar aib kalau aku mendapatkan perlakuan buruk dari keluarga Alhold, di depan umum. Meskipun rumornya sudah beredar, namun ini adalah pertama kalinya aku, sebagai pihak pertama, membenarkannya. Dengan ini, reputasi keluarga Alhold pun akan anjlok meskipun aku juara dan berasal dari keluarga Alhold. Namun di lain pihak, aku tidak lupa menyebutkan bagaimana ayah, ibu, dan Ninlil berlaku baik padaku. Aku melakukannya supaya mereka mendapatkan nama baik di tengah-tengah hancurnya keluarga besar Alhold.

Zage yang mendengar jawabanku menunjukkan muka yang masam. Dia sadar kalau dia sudah mendengarkan sebuah aib yang sebaiknya tidak didengarkan. Tapi itu sudah terlambat. Kamu sendiri yang memulainya.

Karena keadaan mulai diluar kendali, aku meninggalkan Zage dan Ufia. Aku mengantarkan Ninlil kembali ke ayah dan ibu dan meminta maaf pada mereka. Setelah itu, aku menjelaskan apa yang sudah kulakukan dan rencanaku ke depan. Aku menceritakan bagaimana aku menghadapi Ufia yang mengkonfrontasiku dan Zage yang ada di dekatnya. Dan lalu, aku juga menjelaskan rencanaku pada mereka tentang bagaimana aku akan hidup sendiri setelah ini.

Sedari aku SMP, aku sudah bercerita pada ayah dan ibu bagaimana aku akan hidup sendiri setelah aku lulus SMA, jadi mereka tidak terlalu terkejut pada keputusanku. Karena aku sudah menang battle royale dan akan mendapatkan sejumlah uang tiap bulannya, mereka pun tidak terlalu khawatir. Untuk diskusi lebih detailnya akan kami bahas ketika kami sudah pulang. Saat ini, yang bisa kami lakukan, hanyalah melanjutkan pesta ini, menjalani prosesi inagurasi, dan lalu pulang.

Aku meminta maaf karena setelah ucapanku, tidak diragukan lagi ayah dan ibu akan mendapatkan pandangan dingin juga dari keluarga besar Alhold. Meskipun aku tahu, dan memang, mereka lebih mementingkan diriku daripada hubungannya dengan keluarga besar Alhold, aku tidak bisa tidak merasa bersalah karena menyeret mereka.

"Kamu bilang apa? Sudah tanggung jawab orang tua untuk ikut menanggung kesalahan anaknya."

Ayah memberikan jawaban pada permintaan maafku.

"Ayahmu benar gin. Ayahmu dan ibu sudah bersiap dengan hal ini semenjak kami mengetahui kamu tidak memiliki kekuatan pengendalian. Meskipun kami sedikit merasa bersalah pada Ninlil karena sudah memberinya masalah juga."

"Tidak, tidak apa bu. Aku tidak keberatan."

Keluarga ini benar-benar adalah hal yang paling kusyukuri dalam hidupku. Mereka adalah hal yang terpenting dalam hidupku. Aku tidak peduli walaupun aku harus membuat keluarga besar Alhold atau bahkan kerajaan Bana'an menjadi musuhku. Kalau mereka berani macam-macam dengan keluargaku, akan kupastikan mereka hancur. Dan dengan predikatku sebagai juara battle royale, semua orang tidak akan macam-macam dengan keluargaku.

Aku memisahkan diriku dari keluargaku, harus pergi ke kamar mandi. Tampaknya aku terlalu banyak minum Sarasva. Hahaha, aku benar-benar lupa kendali agar tidak minum terlalu banyak. Minuman itu enak sekali sih, nagih.

Setelah menyelesaikan urusanku di kamar mandi, akupun keluar dari kamar mandi tapi tidak berjalan kembali ke ruang pesta, melainkan berjalan ke arah lain, masuk lebih dalam ke istana ini. Aku berjalan menyusuri koridor dan berbelok. Tepat setelah berbelok, aku langsung bersandar pada dinding, agak jauh dari belokan agar tidak terlihat sebelum orang tersebut berbelok. Dan akhirnya, orang itupun muncul di persimpangan koridor ini. Dia berhenti ketika melihatku menunggunya.

"Jadi, apa yang diinginkan oleh agen Schneider dariku?"

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?