Arc 1 Ch 13 - Lamaran pt 2

Aku dan Tuan Putri Yurika kembali ke ruang tamu dimana perdebatan antara ibu dan Yang Mulia Paduka Raja masih berlanjut. Aku menuangkan teh ke semua cangkir yang ada di meja itu dengan dibantu oleh Tuan Putri Yurika.

"Maaf ya, suamiku membuat kerusuhan di rumahmu di hari minggu ini."

"Tidak, tidak apa. Justru kami merasa terhormat karena keluarga kerajaan sudi mampir ke rumah sederhana kami."

Permaisuri Rahayu mengungkapkan permintaan maafnya. Meskipun sang ibu meminta maaf, tapi ketiga putranya masih melihatku dengan pandangan dingin. Aku paham kalau kalian merasa aku sudah merebut saudari kalian, tapi apa kalian tidak berlebihan? Kalau begini terus, aku jadi berpikir kalau kalian memiliki sister complex.

Setelah selesai, aku pun duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya. Dan seperti sebelumnya, Emir masih menunduk dengan wajah merah.

"Hey, Emir, coba minum teh ini dulu. Teh ini akan menenangkanmu."

Meski aku mengatakannya, Emir tetap tidak bergerak. Dia masih menundukkan kepalanya tanpa memberi respon.

"Wah, teh ini benar-benar lembut. Memberikan perasaan yang menangkan. Teh apa ini? Aku belum pernah meminumnya."

Di lain pihak, permaisuri Rahayu justru memuji teh buatanku dan bertanya tentangnya.

"Itu adalah teh Alpine. Sejauh yang aku tahu, teh herbal tidak pernah dihidangkan di kalangan kerajaan dan bangsawan, jadi mohon maaf kalau seandainya tidak sesuai dengan lidah keluarga kerajaan."

Ya, benar sekali. Keluarga kerajaan dan bangsawan yang lebih suka meminum teh murni tanpa campuran apapun, tidak akan pernah meminum teh herbal seperti ini. Meskipun kadang ada beberapa klien bangsawanku yang meminta untuk membelikan mereka teh herbal, tapi itu di luar catatan. Keluarga kerajaan dan bangsawan tidak diperbolehkan terlihat meminum teh campuran seperti teh herbal. Mereka memiliki citra untuk dijaga.

"Huh, teh seperti ini memang layak untuk kalian rakyat jelata yang tidak bisa memahami kelezatan teh murni."

Maxwell, rasanya aku sulit menerima ucapanmu kalau kamu mengatakannya sambil minum tehnya.

"Teh alpine memiliki efek menenangkan pikiran. Teh ini selalu aku minum kalau sedang stres atau ada masalah yang cukup berat."

Ketika aku mengatakannya, aku menoleh sedikit ke arah ibu, Yang Mulia Paduka Raja, dan Emir.

Ya, aku membutuhkan teh ini untuk menenangkan pikiranku, memastikan diriku tidak termakan emosi.

"Menenangkan pikiran ya, mungkin teh ini akan cocok untuk orang-orang istana yang mengurus dokumen kerajaan setiap harinya."

Aku hanya tersenyum pada ucapan Tuan Putri Yurika. Seperti biasa, dia benar-benar memainkan logikanya sampai maksimal. Tapi tentu saja, dia mengatakan itu tanpa maksud apapun. Dia tahu benar kalau teh herbal tidak akan bisa diterima di kalangan kerajaan.

"LUGALGIN!"

Tiba-tiba saja sebuah panggilan muncul. Yang memanggilku bukan hanya ibu, tapi juga Yang Mulia Paduka Raja. Mereka memanggilku secara bersamaan. Kalau saja mereka mau meminum teh ini, mungkin keadaan bisa lebih tenang. Tapi, tampaknya, menginginkan mereka meminumnya kurasa terlalu berlebihan.

"Katakan, apa yang kamu lihat dari pada perempuan ini!"

"Jelaskan pada ibumu apa yang membuat Emir pantas menjadi istrimu!"

Dan akhirnya pandangan seluruh orang di ruangan ini jatuh padaku.

Ahh... aku terdiam sejenak sambil meminum teh di tanganku. Aku memejamkan mataku sejenak, mencoba memikirkan apa yang ingin kukatakan. Kalau aku mau mengatakan jujur, saat ini, aku hanya melihat Emir sebagai perempuan tomboi yang mungkin tidak bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik.

Karena selama ini Emir hidup di istana, besar kemungkinan dia tidak mandiri dan membutuhkan pelayan untuk membantu melakukan semua hal. Belum lagi dia belum pernah merasakan hidup sebagai rakyat jelata. Aku ragu dia bisa bertahan kalau dibiarkan sendirian. Tapi, kalau aku mengatakan hal itu, ibu pasti akan merasa menang dan mengatakan pada Yang Mulia Paduka Raja kalau perempuan seperti itu tidak cocok menjadi istri seorang rakyat jelata.

Kalau aku mengatakan itu semua, aku merasa kasihan pada Emir, dan aku juga merasa bersalah pada Tuan Putri Yurika. Kalau aku pikir-pikir, sebenarnya, aku tidak merasa bersalah pada Tuan Putri Yurika. Daripada merasa bersalah, aku lebih merasa terancam pada Tuan Putri Yurika. Dari percakapanku dengan Tuan Putri Yurika sebelumnya, aku yakin Tuan Putri Yurika ingin aku membayar hutangku dengan menjadi suami Emir. Kalau aku menolaknya, entah apa yang akan dia ajukan untuk aku membayar hutang itu.

Kalau aku boleh menilai, Tuan Putri Yurika memiliki kepribadian yang lebih cocok untuk menjadi istri. Dia tenang dan pikirannya rasional, tidak meledak-ledak dan temperamen seperti Emir. Namun, itu hanya sebatas kepribadiannya. Aku berani bertaruh dia tidak akan bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik, sama seperti emir.

Yah, tidak ada fungsinya juga aku berpikir demikian. Tuan Putri Yurika tidak akan pernah mundur dari posisi bangsawan, dan aku pun tidak ada niat untuk menjadi bangsawan. Jadi, selamat tinggal Tuan Putri Yurika. Bye bye.

Kembali ke topik utama. Kalau aku mengatakan pikiranku begitu saja, Yang Mulia Paduka Raja pasti tidak akan terima dan terus memaksaku. Di lain pihak, kalau aku memihak Yang Mulia Paduka Raja, ibu lah yang akan terus mengeluarkan penolakan. Tampaknya aku harus mengajukan jalan tengah.

"Sebelum aku mengatakan pendapatku, aku meminta semua pihak mendengarkan semua ucapanku, mulai dari awal sampai akhir, dengan kepala dingin dan pikiran terbuka. Bagaimana?"

"Ya Gin, tentu saja kami akan melakukannya."

"Hahaha, tentu saja kami akan mendengarkannya baik-baik."

Ibu, Yang Mulia Paduka Raja, nada kalian yang menekan tidak sejalan dengan kalimat kalian. Aku menghabiskan teh di cangkirku dan meletakkannya di atas meja. Sebelum aku memulai penjelasanku, aku menuangkan teh lagi ke cangkirku.

"Kalau aku melihat Emir, meskipun aku bisa melihat dia tidak cocok menjadi keluarga kerajaan, tapi tidak bisa dipungkiri dia mendapatkan perlakuan sebagai keluarga kerajaan. Dan aku bisa bilang dia pasti belum bisa mandiri karena semua hal itu. Sekarang, dia hidup sebagai seorang rakyat jelata seperti kami. Dan sebagai rakyat jelata, kami lebih sering melakukan pekerjaan rumah seperti bersih-bersih rumah, mencuci pakaian, dan lain sebagainya sendiri, tanpa ada bantuan pelayan. Dari hal ini, aku bisa bilang Emir belum siap untuk itu semua."

Sementara aku memberikan pernyataanku, ibu menyeringai dan melemparkan pandangan pada Yang Mulia Paduka Raja. Di lain pihak, Yang Mulia Paduka Raja hanya menggertakkan giginya, merasa kalah.

"Kalau aku boleh mengajukan ide, mungkin proses lamaran ini bisa ditunda dulu hingga Emir siap untuk menjadi seorang istri dan ibu."

"Tuh, dengar sendiri kan apa kata putraku? Putrimu belum siap menjadi seorang istri dan ibu."

"Ugh... sial....."

Aku berharap ibu dan Yang Mulia Paduka Raja mau membicarakan ini baik-baik dengan menggunakan kepribadian yang biasa mereka tunjukkan.

"Tapi," aku meneruskan. "Emir sendiri sudah bukan keluarga kerajaan. Kalau keluarga kerajaan diberi tanggung jawab untuk memandu Emir, aku cukup yakin orang-orang yang dikirim tetap akan memperlakukannya sebagai keluarga kerajaan. dan ini tidak akan membantunya. Jadi, aku memiliki sebuah saran."

Ibu dan Yang Mulia Paduka Raja terdiam dan mengarahkan pandangan mereka padaku. Yang lainnya masih melemparkan pandangan padaku tanpa mengeluarkan sebuah respon sama sekali. Mereka menanti pada apa yang akan kuucapkan. Aku meminum tehku sedikit, mencoba menenangkan pikiranku.

"Setelah ini, aku kan akan tinggal di rumah baru, keluar dari rumah ini. Di rumah baruku, Emir bisa tinggal denganku selama setahun ke depan. Selama setahun ke depan, aku akan memandunya agar dia bisa mandiri. Setelah satu tahun berlalu, kita kembali ke prosesi lamaran dan aku akan memberikan jawaban atas lamaran ini. Itu pun kalau tahun depan Emir belum mengubah pikirannya soal menjadi istriku."

"Ti—"

"Tidak!"

Belum sempat ibu dan Yang Mulia Paduka Raja mengeluarkan sanggahan, Emir sudah terlebih dahulu menyela mereka.

Akhirnya, sejak perdebatan ini dimulai, Emir tidak menundukkan kepalanya dan melihat ke arahku. Aku masih bisa melihat wajahnya yang memerah.

"Meskipun aku sudah mandiri dan lebih baik dari diriku yang sekarang. Aku yakin aku tidak akan mengubah pikiranku untuk menjadi istrimu. Bahkan, aku yakin kalau aku akan semakin jatuh hati padamu. Dalam waktu satu tahun ini, aku akan memastikan kalau aku pantas menjadi seorang istri yang baik bagimu dan ibu yang baik bagi anak-anak kita. Ya, aku yakin itu."

Dan Emir pun mengatakan sesuatu yang tidak terduga. Tapi, setelah mengatakan itu dengan lantang, wajahnya semakin memerah dan dia kembali menundukkan kepala, dengan kedua tangan di atas kaki. Dia menjadi semakin malu setelah mengatakan itu semua..

Sebelum Emir menyela, aku yakin ibu dan Yang Mulia Paduka Raja tidak akan setuju dan tidak akan mengizinkanku tinggal dengan Emir di bawah atap yang sama, terutama keluarga Yang Mulia Paduka Raja. Mereka pasti akan menolak ideku mentah-mentah meskipun secara logika saranku adalah yang paling masuk akal. Harga diri mereka tidak akan mengizinkannya. Tapi, sekarang, opini tambahan muncul dari Emir. Dan dia sendiri sudah mendeklarasikan kalau dia akan menjadi seorang istri yang baik bagiku dan ibu yang baik bagi anak-anak kami.

Emir yang tampak malu seperti ini lucu dan manis juga. Benar-benar berbeda dengan sosok Emir yang tomboi yang biasa kutemui. Kalau dia sering berlaku seperti ini, mungkin momen ketika aku jatuh hati padanya tidak terlalu jauh.

Sementara itu, ibu dan Yang Mulia Paduka Raja terdiam. Mereka berdua mencoba menenangkan diri dengan meminum teh buatanku. Tampaknya deklarasi Emir yang barusan membuat mereka memikirkan ulang semuanya.

Di lain pihak, ada beberapa orang yang tidak setuju dengan ideku.

"Tidak! Tidak bisa diterima! Aku tidak bisa menerima idemu tinggal satu atap dengan Emir!"

"Benar! Kami tidak tahu apa yang akan kamu lakukan pada kak Emir!"

"Kak Emir tidak pantas hidup satu atap denganmu, seorang rakyat jelata!"

Ketiga putra mengemukakan pendapatnya, menolaknya. Bahkan mereka sampai berdiri untuk menolak usulanku.

Sementara itu, di sisi keluargaku, aku bisa melihat Ninlil yang tampak kebingungan. Tampaknya dia ingin mengatakan sesuatu tapi takut menyinggung perasaan keluarga Emir. Ketika pandangan Ninlil bertemu dengan pandanganku, aku mengangguk kecil, membuatnya mengemukakan pendapatnya.

"Me, menurutku, ide kakak adalah yang paling masuk di akal. Meskipun aku khawatir Tuan Putri Emir akan merepotkan kakak, tapi aku rasa ini adalah jalan tengah terbaik yang mungkin dicapai."

Yap, seperti biasa, Ninlil bisa menerima semuanya dengan logikanya. Kepribadiannya yang masih memikirkan orang lain adalah senjata yang tidak dimiliki ibu. Sifatnya yang ini adalah keturunan dari ayah. Aku beruntung aku juga memilikinya.

Ung, sebentar, aku terkejut Ninlil melupakan satu hal. Apa dia tidak khawatir kalau aku tiba-tiba menyerang Emir di malam hari? Atau mereka berpikir aku tidak punya nyali untuk melakukannya? Yah, itu tidak penting.

"Apa kau bilang? Dasar rakyat jelata!"

"Hi..."

Maxwell membentak Ninlil sementara Ninlil langsung mengangkat tangannya ke depan wajahnya, mencoba melindungi dirinya.

Dasar bangsawan!

"Maxwell, tenangkan dirimu."

Yang Mulia Paduka Raja kembali dari pemikirannya dan menghentikan Maxwell. Dia menjulurkan tangannya ke kiri, ke arah ketiga putranya.

"Ta, tapi ayah."

"Maxwell!" Yang Mulia Paduka Raja meninggikan nadanya. "Jangan lupa, mereka adalah keluarga Alhold. Mereka adalah salah satu pendiri Kerajaan Bana'an. Kalau bukan karena permintaan leluhur mereka, mereka pasti sudah menjadi bangsawan bergelar Duke, bangsawan tertinggi di kerajaan ini. Kamu tidak boleh merendahkan mereka. Tenangkan dirimi!"

"Ba, baik. Maaf atas kelancanganku, ayah."

Yang Mulia Paduka Raja melihat ke arahku. Tampaknya dia sadar kalau Maxwell sudah menyinggungku. Bukan hanya aku, aku yakin, kalau ibu pasti juga tersinggung ketika Maxwell membentak Ninlil.

Kalau Yang Mulia Paduka Raja tidak menghentikan Maxwell, maka posisinya dalam lamaran ini, atau aku harus bilang negosiasi, akan langsung jatuh. Tidak peduli alasan apapun yang diucapkannya, kalau dia membiarkan Maxwell meneruskan kalimatnya, maka ibu tidak akan mungkin menerima semua tawaran yang muncul.

Maxwell langsung meminta maaf ketika mendengar Yang Mulia Paduka Raja meninggikan nadanya. Bukan pada NInlil, tapi pada ayahnya. Setelah itu dia, dan kedua adiknya kembali duduk dan menundukkan kepala.

Ada satu hal menarik yang baru saja muncul. Keluarga Alhold sebagai salah satu kendiri kerajaan Bana'an adalah sebuah informasi yang tidak pernah kudengar. Buku sejarah dan catatan sejarah di perpustakaan kota hanya menyatakan keluarga Alhold sebagai salah satu keluarga yang berkontribusi untuk Raja pertama, tidak lebih.

Aku tidak pernah memedulikannya, tapi aku baru sadar kalau catatan itu cukup aneh. Normalnya, jika sebuah keluarga memiliki kontribusi yang besar terhadap pendirian negara, maka akan disebutkan kontribusi macam apa itu. Namun tidak dengan kontribusi keluarga Alhold, seolah-olah ada sesuatu yang ingin disembunyikan.

Tapi, saat ini, bukanlah waktunya untuk memikirkan hal itu.

"Meskipun aku khawatir pada keamanan putriku, tapi melihat putriku begitu memercayaimu, dan bahkan sampai membuat sebuah pernyataan yang berani tadi, tampaknya aku tidak memiliki pilihan selain menyetujui idemu, Lugalgin Alhold. Bagaimana, Rahayu?"

Ah, ternyata Yang Mulia Paduka Raja masih normal. Dia khawatir pada kemungkinan aku menyerang putrinya.

"Aku juga setuju dengan saran Lugalgin. Sarannya adalah saran yang logis dan seimbang untuk kedua belah pihak."

Baiklah, keluarga perempuan sudah setuju. Meskipun ketiga putranya tampak tidak setuju, tapi mereka tidak mengatakan apapun.

"Baiklah, dengan begini, aku juga bisa melihat sejauh apa determinasi perempuan itu untuk menjadi istri Lugalgin. Dan aku tidak akan menerima hasil yang setengah-setengah." Ibu mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana dengan kalian, Ayah, Ninlil?"

"Aku tidak keberatan," ayah memberi jawaban pada ibu. "Lugalgin sudah cukup mandiri sejak kecil dan aku yakin dia tidak akan melakukan sesuatu yang berakibat buruk pada Emir."

"Ya, aku juga setuju. Menurutku kakak akan menjadi pemandu yang baik bagi Tuan Putri Emir untuk memulai hidup sebagai rakyat jelata."

Ayah, Ninlil, pendapat kalian mengenaiku terlalu tinggi, way over the top.

Dengan kedua belah pihak setuju, maka keputusan pun telah diambil.

Dan sekarang, karena keinginan kedua belah pihak sudah terpenuhi, atau mungkin ketiga belah pihak termasuk dengan Emir? Yah, intinya sekarang waktunya aku mengajukan permintaanku. Aku menenggak teh lebih banyak, memastikan pikiranku mampu tenang.

"Sebelum berakhir, aku memiliki permintaan. Atau lebih tepatnya sebuah kondisi tambahan," aku menambahkan. "Saat ini, status Emir adalah sebagai rakyat jelata kan? Maka aku perlu memperingatkan kalau dia diangkat kembali menjadi tuan putri, walaupun aku sudah menikahinya, aku akan langsung mengajukan cerai."

"HAH?"

Bukan hanya pihak keluarga Emir yang terkejut, bahkan keluargaku juga terkejut. Tampaknya mereka sama sekali tidak menduga permintaanku.

"Perlu aku tekankan lagi. Aku tidak mau, dan tidak akan, menjadi bangsawan atau yang semacamnya. Kalau sampai ada indikasi Emir diangkat kembali menjadi tuan putri dan aku terpaksa menjadi bangsawan, kondisi yang kujelaskan akan berlaku. Kalau kalian keberatan, maaf, tapi aku terpaksa menolak Emir meskipun kalian sudah sepakat."

Tidak ada respon, mereka hanya saling melihat satu sama lain. Sudah kuduga ini akan terjadi. Yah, aku tidak keberatan walaupun seperti ini.

"Tidak kukira keras kepala keluarga Alhold menurun—"

"Jangan samakan aku dengan keluarga Alhold," aku menyela Yang Mulia Paduka Raja. "Aku tidak mau menjadi bangsawan tidak–"

"Kak?"

"Gin!"

Tanpa aku sadari, ayah sudah meletakkan tangannya di bahuku. Tampaknya, tanpa aku sadari, emosiku sudah mengambil alih. Bahkan ketika aku sadar, aku sudah mengacuhkan pandangan Tuan Putri Yurika.

Aku kembali meminum teh alpine ini sebanyak mungkin, memaksa pikiranku tenang. Aku harus tenang.

"Putraku sudah menyatakan syaratnya. Apa kalian mampu memenuhinya?"

Terima kasih ibu karena sudah menyetir kembali pembicaraan ini.

"Sebenarnya, ini cukup sulit untukku, karena kalau demikian, aku benar-benar harus melepaskan Emir. Tapi," Yang Mulia Paduka Raja mengalihkan pandangannya pada Permaisuri Rahayu. "Rahayu, menurutmu bagaimana?"

"Aku tidak memiliki masalah selama yang bersangkutan tidak masalah," Permaisuri Rahayu menjawab. "Emir bagaimana denganmu? Ini membutuhkan jawaban darimu."

Emir terdiam, dia kembali menegakkan pandangannya. Dia melihat ke arah Yang Mulia Paduka Raja sejenak. Tampaknya dia bingung harus berkata apa.

Aneh, kenapa dia tidak melihat ke ibunya, tapi malah ke Yang Mulia Paduka Raja?

Yang Mulia Paduka Raja hanya mengangguk. Tampaknya Emir sudah mendapatkan jawabannya.

"Ya, Gin, aku setuju dengan syarat itu."

Baiklah, semua pihak sudah setuju.

Setelah menghabiskan dua cangkir teh alpine lagi, pikiranku sudah tenang.

"Baiklah, dengan begini, berarti Emir akan mulai hidup denganku setelah aku membeli rumah." Aku berhenti sejenak dan melihat ke samping ruangan. "Sudah jam 12 siang. Setelah makan siang, kami akan pergi untuk mencari rumah. Kalau hari ini lancar dan aku bisa mendapatkan rumah, minggu depan Emir sudah bisa tinggal bersamaku. Bagaimana, Emir?"

"Ba, baik," Emir menjawab. "Terima kasih, Lugalgin."

Meskipun aku tidak bisa mendengar kalimat terakhirnya karena Emir berbisik, tapi aku bisa membaca gerakan bibirnya. 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?