Arc 2 Ch 4 - Paksaan

"Dan, siapa kau?"

Aku bertanya pada sosok laki-laki dengan pakaian mewah dan ekstravagan ini. Dari jumlah ornamen yang tidak fungsional itu, ditambah dengan kata-kata 'regal knightku', sudah jelas kalau dia adalah salah satu putra selir. Laki-laki ini memiliki rambut pirang bergelombang yang menyentuh bahu. Terlalu panjang untuk seorang laki-laki. Menurutku.

Di belakangnya, berdiri beberapa pelayan dan dua orang dengan menggunakan baju zirah ringan. Baju zirah yang mereka kenakan umum digunakan oleh penjaga istana atau pasukan lini belakang. Aku menduga kedua laki-laki berbaju zirah itu adalah regal knightnya.

"Maaf, aku lupa memperkenalkan diriku, namaku adalah Charisma Sabarbian, putra pertama dari Julia Sabarbian. Di kananku adalah Regal Knightku yang sekarang, Nordi Einztatts, dan di kiriku adalah mantan regal knightku yang telah pensiun, Eliot Armstead,"

Sebenarnya, aku sudah mengetahui siapa sosok laki-laki ini. Dia sudah kumasukkan ke dalam daftar hitamku.

Di lain pihak, Nordi Einztatts, aku mengingatnya karena dia adalah salah satu orang yang kukalahkan di Battle Royale. Dia memililiki rambut pirang berdiri dengan mata biru. Tapi laki-laki ini tidak penting. Yang penting adalah laki-laki yang satunya.

Eliot Armstead adalah laki-laki yang sudah cukup tua. Dia sudah tidak memiliki rambut, tapi kumisnya sangat panjang, tanpa janggut, seperti tokoh oriental kuno. Meski terlihat cukup tua, aku bisa merasakan dia cukup sigap dan siap bertarung kapan pun.

"Ah, maaf atas kelancangan hamba, Pangeran Charisma."

Aku meminta maaf, hanya basa-basi.

"Kukira Eliot sudah mengirimkan surat tantangan padamu. Apa kau tidak menerimanya?"

Ya, aku menerimanya. Ada beberapa surat tantangan dari seseorang bernama Eliot. Karena aku tidak tertarik, aku mengabaikan dan membuang surat itu. Tentu saja aku tidak mungkin mengatakannya. Aku membutuhkan alasan.

"Maaf, tapi saat ini hamba lebih fokus untuk membimbing Emir menjadi calon istri yang baik. Menurut hamba, Emir, yang mungkin akan menjadi keluarga hamba, adalah prioritas yang lebih penting daripada tantangan dari seseorang yang tidak hamba kenal."

Setelah aku mengatakannya, aku sedikit melirik ke belakang, melihat reaksi Emir. Dan sesuai dugaanku, wajahnya merona seolah-olah dia mendidih. Bahkan, dia berdiri di balik Jeanne untuk menyembunyikan wajahnya. Tapi, percuma dia berdiri di balik Jeanne kalau wajahnya tetap muncul dari bahu Jeanne.

"Kalau begitu, mumpung saat ini kau sedang melatih regal knight Jeanne, kau tidak keberatan kan untuk bertarung dengan Eliot?"

"Maaf, tapi hamba harus menolak permintaan tersebut."

"Hoh? Dan kenapa itu? Apa kau takut kalah? Apa juara battle royale yang menang tanpa kehilangan HP sedikit pun takut terhadap regal knight yang telah pensiun? Apa kau takut prestasimu dihancurkan karena kamu tidak mampu menggunakan cara licikmu?"

Laki-laki ini mencoba memancing emosiku. Sayangnya, aku tidak memedulikannya. Kalau aku terpancing oleh konfrontasi sesederhana itu, pasti aku sudah lama mati di dunia pasar gelap.

"Bukan maksud hamba. Tapi saat ini, hamba harus melatih Ufia yang minggu depan harus mengawal Tuan Putri Jeanne ke Kerajaan Mariander. Meskipun Kerajaan Bana'an dan Mariander sedang dalam keadaan berdamai, tapi kemungkinan pemberontakan oleh minoritas tak bisa dikesampingkan. Nyawa Tuan Putri Jeanne adalah taruhannya. Hamba memohon agar Pangeran Charisma maklum."

Sebenarnya, aku tidak mau menerima tantangannya hanya karena aku tidak mau repot. Bukan hanya itu, aku tidak melihat untungnya walaupun aku menang. Ini bukan battle royale, permintaanku tidak bisa dikabulkan.

"Huh, ternyata juara battle royale terbaik hanyalah seorang pecundang yang bersembunyi di balik tugas," Charisma kembali mengejekku. "Emir, permintaanmu untuk menjadi rakyat jelata dan menikahi laki-laki pecundang ini memang tepat. Kamu yang pecundang dan juga kakakmu yang meminta permintaan itu sama-sama pecundangnya. Kalian adalah keluarga pecundang."

Ahh, apakah ini adalah drama dan perselisihan antara keluarga selir dan keluarga permaisuri yang sering kudengar? Oh iya, ngomong-ngomong, Charisma ini seumur dengan Tuan Putri Yurika, lebih tua empat tahun dariku, tapi dari cara berbicaranya, aku hanya bisa melihat anak kecil yang kesal karena mainannya diambil oleh orang lain.

"APA KAMU BILANG?!"

Sudah kuduga. Emir tidak akan tinggal diam. Yah, menurutku normal sih dia marah, keluarganya baru saja dihina.

"AKU MENJAMIN ELIOT TIDAK AKAN BISA MENANG! DIA TIDAK AKAN MUNGKIN BISA MENGALAHKAN LUGALGIN YANG MAMPU MENGALAHKAN ZAGE DAN AKU!"

Dan, keadaan semakin runyam.

"Oh, benarkah itu? Lalu kenapa dia tidak mau menerima tantangan dari Eliot? Bukankah itu adalah bukti kalau dia hanya pengecut?"

"KAU—"

Aku langsung menjulurkan tangan kananku ke kanan, menghentikan Emir yang hampir maju melewatiku.

"Lugalgin..."

Ahh, baiklah, saatnya aku menghentikan kelakuan baikku. Tapi, sebelum itu.

"Tuan Putri Jeanne, karena hamba adalah tamumu, hamba meminta izin untuk mengemukakan pendapat kepada Pangeran Charisma tanpa menggunakan bahasa formal."

"Baiklah, aku mengizinkannya."

Jeanne mengangguk, memberikan ijinnya padaku.

Baiklah, saatnya memulai pemerasanku.

"Pangeran Charisma, bisa tolong kau beri alasan kenapa aku harus bertarung melawan Eliot? Karena jujur, meskipun aku menang, aku tidak melihat keuntungannya."

"Apakah kau bukan seorang kesatria? Pertarungan ini adalah sesuatu yang harus kau terima untuk membuktikan kekuatanmu pada semua orang, terutama pada sosok laki-laki itu. Dengan pertarungan ini, kalau kau menang, maka kau akan mendapatkan pengakuan dan penghormatan. Kau tidak akan lagi mendapatkan pandangan mata merendahkan seperti yang sekarang kau alami."

Itu adalah kesalahan terbesarmu.

"Maaf, tapi aku bukanlah seorang kesatria. Aku hanyalah seorang pedagang. Bagi pedagang, pengakuan dan penghormatan tanpa keuntungan bukanlah sesuatu yang kami cari. Dan lagi, tidak peduli setinggi apapun reputasi yang kudapatkan, keluarga Alhold tidak akan menerima orang sepertiku. Itu adalah fakta."

Aku melempar pandangan pada Bastion ketika mengatakan setengah dari ucapanku. Benar saja, dia menggertakkan giginya ketika aku melihatnya dengan pandangan merendahkan.

"Lalu apa yang kau cari?"

"Maaf, aku tidak mau mengatakannya. Ini adalah masalah pribadiku."

"Huh, pada ujungnya kau memang hanyalah seorang pecundang. Kau benar-benar cocok dengan keluarga pecundang itu."

"KAU—"

Emir kembali meledak. Ah, aku mulai bosan dengan rutinitas ini.

"Emir, tenangkan dirimu."

"Tapi..."

"Tenangkan dirimu."

Aku mengulang ucapanku. Emir yang mendengarku pun terpaksa diam. Dia hanya melempar pandangan ganas ke Charisma.

"Kalau aku tidak mengenal beberapa keluarga kerajaan, aku pasti sudah berpendapat kalau semua keluarga kerajaan adalah orang yang hanya bisa menghina orang lain ketika tidak mendapatkan keinginannya."

"Apa kau bilang?"

"Dibandingkan Tuan Putri Jeanne dan Tuan Putri Yurika, kau hanyalah bangsawan rendahan yang menggunakan hinaan untuk memancing lawan. Bahkan, aku mengenal beberapa Baron yang berkelakuan lebih terhormat darimu.

"KAU...."

Aku bisa melihat Charisma mulai naik pitam. Beberapa urat nadi sudah muncul di ubun-ubunnya.

Ketika aku membandingkannya dengan Baron, harga dirinya pasti tidak akan bisa menerimanya. Bagaimana bisa, salah satu gelar bangsawan tertinggi di Kerajaan ini dibandingkan dengan gelar bangsawan terendah?

Aku mengeluarkan semua ucapanku bukan karena aku lupa pada posisiku, yang adalah rakyat jelata. Di kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan, terutama klienku, Charisma tidak memiliki prestasi yang baik. Dia tidak bisa bernegosiasi. Kalaupun aku mengatakan semua hinaan itu, hanya sedikit bangsawan dan keluarga kerajaan yang protes.

Apalagi, saat ini, aku berada di bawah perlindungan Jeanne. Dengan demikian, kabar yang beredar adalah Jeanne menyetujui kata-kataku. Ketika itu terjadi, fraksi yang tidak menyukai Charisma justru akan mendapatkan kekuatan.

Aku memutar tubuhku dan berjalan ke arah Ufia.

"Ufia, kita lanjutkan latihannya di tempat kemarin saja. Tempat ini tidak kondusif lagi."

Belum sempat aku mendengar jawaban Ufia, instingku sudah aktif. Aku merendahkan tubuhku, menghindar dari tebasan pedang di atas kepala. Aku memutar dan mengayunkan toyaku ke tangan penyerang, mematahkannya.

"AAAHHHHHH!!!!!"

Penyerangku adalah Nordi, regal knight Charisma.

Masih dalam posisi tubuh rendah, aku melepaskan tendangan ke perut Nordi, melemparnya ke ujung ruangan.

Tanpa perlindungan amulet, inilah yang akan terjadi ketika senjata menghantam tubuhmu. Dia adalah lulusan sekolah kesatria, aku yakin dia tidak menyangka hal ini.

"Ironis sekali. Beberapa minggu yang lalu kau menghinaku karena tidak memegang teguh kode etik kesatria, tapi sekarang justru kau menyerangku dari belakang."

"KAU—"

"Baik, sudah cukup," Jeanne menyela. "Ini sudah mulai di luar kendali. Charisma, kalau kau tidak memiliki sesuatu yang diinginkan oleh Lugalgin, kau tidak memiliki hak untuk menantangnya. Dan lagi, saat ini, dia adalah tamuku. Kalau kau ingin mengambil waktunya dariku, kau juga harus menawarkan sesuatu padaku. Mengerti?"

"PEREMPUAN DIAM SAJA!"

Klang

Seketika itu juga, aku dan Eliot sudah berdiri di antara Jeanne dan Charisma. Kami menyilangkan senjata kami.

Di belakang Eliot, Charisma sudah hampir menghunus pedangnya. Di belakangku, Jeanne tidak bergeming.

Dari luar, Jeanne terlihat diam, saja tidak melakukan apapun. Namun, kalau kamu melihat ke tangannya, kamu akan melihat kalau dia sudah bersiap menarik pisaunya yang tersembunyi.

"Anak muda, bagaimana kalau kita bertarung saat ini juga?"

"Aku tidak memiliki keuntungan walaupun aku menang. Aku tidak mau."

Eliot dan aku bertukar pendapat sementara senjata kami masih berseteru. Akhirnya, kami berdua sama-sama mundur, menjaga jarak.

Aku harus bilang, mungkin dia lebih kuat dari Zage.

"Apakah tidak ada yang kau inginkan?"

"Baiklah kalau kalian memaksa. Aku mau semua panti asuhan yang ada di bawah nama Pangeran Charisma dipindah manajemen ke yayasan Haia, Pangeran Charisma bersumpah untuk tidak mendirikan panti asuhan lagi, dan keluarga Sabarbian bersumpah untuk tidak akan pernah mengincar posisi permaisuri lagi."

Semua orang terdiam. Tidak terdengar satu pun respon. Tampaknya mereka tidak menyangka keinginanku sama sekali.

"Kau, memang kau kira siapa kau? Berani membuat tuntutan itu?"

Charisma mendidih. Aku bisa melihat wajahnya yang memerah.

"Dalam peraturan kerajaan, pihak yang ditantang berhak mengajukan syarat hadiah yang diinginkan. Aku tidaklah salah. Kalau kau tidak bisa memenuhinya, silakan pergi. Dan lagi," aku berhenti sejenak. "Instingku mengatakan kalau aku kalah, kau akan memaksaku menjadi regal knightmu dan memenangkan dua battle royale selanjutnya yang akan datang, kan?"

"Anak muda, serakah ada batasnya."

"Aku tidak serakah," aku menolak ucapan Eliot. "Kalau aku memenangkan dua battle royale yang akan datang, keluarga Sabarbian otomatis akan menjadi permaisuri. Adalah hal yang normal kalau kau kalah justru mendapatkan hal yang sebaliknya."

Di lain pihak, Charisma terdiam setelah mendengar penjelasan panjangku. Dia hanya menggertakkan giginya. Tapi, akhirnya, kalimat muncul dari mulutnya.

"Baiklah. Aku menyetujui permintaanmu. Dengan begini, pertarunganmu dan Eliot bisa dilakukan hari ini juga."

"Tidak secepat itu," Jeanne menyela. "Seperti yang kubilang, Lugalgin adalah tamuku, jadi aku juga menginginkan imbalan, tidak peduli Jeanne menang atau kalah."

"Hah?"

"Kalau kau tidak mau, aku tidak akan menerima tantanganmu." Jeanne mempertegas pernyataannya. "Saat ini, waktu Lugalgin adalah milikku, bukan milikmu. Aku mau kau membayar karena sudah mengambil waktunya yang harusnya digunakan untukku."

"Guh. Apa yang kau inginkan?"

"Sepuluh juta zenith cukup. Bagaimana?"

"Huh? Hanya sepuluh juta? Baiklah. Aku akan memberimu sepuluh juga zenith sekarang juga."

Charisma mengambil handphone dari sakunya. Tidak lama kemudian, salah satu pelayan Jeanne menghampiri Jeanne dengan membawa handphone. Jeanne menyeringai ketika melihat layar handphonenya.

"Baiklah, kau boleh menantang Lugalgin."

Jadi ini alasan dia mengajak kami berlatih di sekolah ini.

"Baiklah, dengan ini, pertandingan antara Lugalgin Alhold melawan Eliot Armstead akan dilakukan di aula latihan ini. Saya, sebagai guru dan instruktur, Bastion Zas Alhold, akan menjadi juri dan wasit pertarungan ini."

Tanpa isyarat apapun, Bastion tiba-tiba mendeklarasikan dirinya sebagai juri dan wasit.

"Untuk menyeimbanginya, saya, Maria Ahrienna, pelayan Tuan Putri Jeanne, juga akan menjadi juri dan wasit."

Dua orang juri dan wasit? Kalian pasti bercanda. Meskipun seimbang, satu memihak lawan dan satu memihakku, mereka tidak akan pernah menghasilkan keputusan yang bulat. Kita membutuhkan satu wasit lagi, yang benar-benar netral. Aku tidak melihat siapa pun yang cukup netral dalam kondisi ini.

"Kalau begitu, izinkan saya menjadi juri dan wasit ketiga."

Sebuah suara baru masuk. Kami semua menoleh ke suara itu dan melihat seorang laki-laki dengan rambut dan janggut putih panjang. Dia memiliki tubuh yang cukup tegap meskipun sudah tua. Keriput yang memenuhi wajahnya menunjukkan usianya sudah tidak muda.

"Pak kepala sekolah? Apa yang membuat Anda datang kesini?"

Bastion adalah orang pertama yang merespon kedatangan kepala sekolah ini.

Tanpa mengindahkan Bastion, kepala sekolah ini datang ke arah Jeanne.

"Maafkan saya, Tuan Putri Jeanne. Seharusnya ruangan ini sudah dipesan oleh Tuan Putri Jeanne, tapi waktu Anda sudah terganggu. Sekali lagi, saya memohon maaf."

"Tidak apa. Meskipun Charisma hanyalah pangeran, bukan putra mahkota, Anda tetap tidak memiliki kuasa untuk menghentikannya. Hal ini tidak terelakkan."

***

"Jadi ini ya rencanamu."

"Kamu marah?"

"Tidak juga," Aku menolak ucapan Jeanne. "Setidaknya aku akan memenuhi salah satu tujuan hidupku dengan pertarungan ini."

"Tapi, aku tetap harus meminta maaf. Maafkan aku, Lugalgin. Dan, nanti aku beri sebagian uang yang aku dapat dari Kharisma."

Jeanne meminta maaf padaku. Dia bahkan sedikit menundukkan kepala dan bungkuknya. Bahkan tanpa dia melakukan itu semua, aku sudah memaafkannya.

Aku mendapatkan sesuatu yang kuinginkan dari pertarungan ini.

"Tidak usah minta maaf. Cepat atau lambat ini akan terjadi karena aku selalu mengabaikan surat tantangan Eliot. Justru dengan adanya kamu di sini, aku bisa mengucapkan semua hinaanku pada Charisma tadi."

Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya. Entah sejak kapan aku bisa mengobrol sesantai ini dengan seorang Tuan Putri. Entahlah, aku tidak sadar. Mungkin ini semua berkat Emir.

"Tapi, ada apa dengan panti asuhan itu? Kenapa kamu memintanya?"

Wajar saja kalau Jeanne menanyakannya. Permintaanku benar-benar di luar dugaan semua orang. Apa dia benar-benar perlu menanyakannya? Tapi, kalau dia menanyakannya, berarti agen Schneider masih belum mengetahui track record penuhku.

"Anggap saja aku membayar hutang. Dan lagi, kalian seharusnya tahu kan apa yang sebenarnya terjadi di balik panti asuhan milik Charisma."

Jeanne terdiam sejenak. Dia melihatku tajam-tajam.

"Kamu mengetahuinya?"

Aku tidak menjawab Jeanne. Aku hanya tersenyum

"Gin, maaf ya tadi aku sudah lepas kendali."

Emir tiba-tiba masuk ke pembicaraan kami.

"Tidak masalah. Justru itu adalah hal yang tepat. Kalau tadi kau diam saja ketika keluargamu dihina, penilaianku terhadap kamu justru akan turun drastis."

"Ehehe, terima kasih."

Sementara itu, Ufia hanya duduk terdiam di samping hall, beristirahat. Selain beristirahat, aku menyuruhnya melihat dan menganalisis pertandinganku baik-baik. Selain itu, aku juga memaksanya makan dengan porsi lebih. Latihan tanpa asupan nutrisi dan istirahat yang cukup hanya akan menjadi sia-sia.

Dari informasi yang diberikan Jeanne dan Emir, Eliot adalah salah satu regal knight terkuat dalam sejarah. Dia mampu mengendalikan belasan anak panah dan menggunakan dua pedang secara bersamaan. Belasan anak panah itu digerakkan seperti burung yang akan terus berputar dan menyerangku.

Eliot sudah berusia 60 tahun lebih. Dia pensiun sebelum Zage menjadi regal knight, jadi tidak ada yang benar-benar tahu kemampuannya kalau dibandingkan Zage. Dia juga adalah lulusan sekolah kesatria, salah satu lulusan terbaik sepanjang sejarah, sama seperti Zage. Namun menurutku, dia lebih kuat dari Zage.

Kami, Eliot dan aku, mengenakan amulet dan sebuah layar di ujung hall ini menjadi indikator hp kami. Sementara itu, Nordi sudah tidak terlihat lagi. Dia dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Hm... aku tidak tahu senjata apa yang harus kugunakan untuk melawan Eliot.

Aku datang ke aula ini membawa kotak arsenal utamaku. Kotak ini memiliki ukuran 1,5 meter x 0,5 meter x 0,8 meter.

Isi kotak arsenal utama adalah sepasang perisai dan toya yang kugunakan di battle royale, mini gun kaliber 8 mm yang dipasang perisai di bagian samping, sepasang pistol kaliber 9 mm dengan bayonet sepanjang 30 cm, dan pelindung punggung tangan.

"Gin, kamu tidak mau melawan Eliot dengan serius?"

Emir mengajukan pertanyaan padaku, yang masih bingung memilih senjata.

Aku melihat ke Emir. Dia tidak melihat ke mataku, tapi ke tanganku. Ya, aku memakai sarung tangan kulit. Dengan sarung tangan ini, kemampuanku untuk menghilangkan kekuatan pengendalian lawan tidak akan bisa kugunakan.

"Tidak, aku tidak mau."

"Apa kamu yakin kamu bisa menang?"

"Ung? Apa aku tidak salah dengar? Emir yang keras kepala dan berdarah panas bertanya apakah aku bisa menang? Bukankah kamu sendiri yang mendeklarasikan kalau aku pasti menang?"

"Ta, tapi..... aku menjawabnya karena emosi. Aku—"

"Emir," aku menyela Emir. "Percayalah pada calon suamimu ini."

Emir terdiam. Dia melihat ke arahku dengan sebuah pandangan yang kembali bersinar, tidak gelap seperti sebelumnya.

"Baik."

Yah, kalau aku memang mau serius, aku tinggal melepas sarung tangan.

"Oke, oke. Waktu bermesraan sudah habis," Jeanne menyela kami. "Gin, segera pilih senjata dan lawan Eliot. Dia sudah menunggu tuh."

"Eit, ada yang iri..."

Jeanne hanya terdiam dan mengembungkan pipinya.

Hahaha, aku merasa menang ketika dia mengembungkan pipinya tanpa balasan.

Baiklah, kurasa aku akan membawa semuanya. Aku memasang pengait di pinggang, di kanan dan kiri, dan mengaitkan sepasang pistol. Pistol ini adalah pistol dengan magasin biasa. Satu-satunya perbedaan adalah aku menambah sebuah lubang di ujung untuk meletakkannya di pengait di pinggang.

Aku mengenakan perisai di kedua bahuku. Aku mengubah toyaku menjadi three sectional staff dan kuletakkan di belakang pinggang. Kedua pelindung tanganku juga kukenakan. Yang terakhir, aku mempersiapkan mini gun di tangan kanan. Kemampuan mini gun ini sudah aku turunkan menjadi hanya 300 peluru per menit, tidak 2000 peluru per menit.

Di punggungku terpasang sebuah tas berisi peluru yang tersambung dengan mini gun. Tas ini memiliki kapasitas sebanyak 800 peluru.

Ini adalah pertama kalinya aku membawa semua senjata di arsenal utamaku secara bersamaan. Benar-benar berat. Tapi, mumpung ada kesempatan bertarung dengan aman, aku ingin mencoba melakukan ini.

"Gin, apa kamu tidak berlebihan dengan senjatamu? Terutama mini gun itu."

"Kalau kamu bilang mini gun ini berlebihan, lalu kamu sebut apa turret tank milik Emir?"

Aku dan Jeanne melempar pandangan pada Emir. Emir hanya tersenyum dan melemparkan pandangannya.

Aku berjalan ke tengah Aula, dimana Eliot sudah bersiap.

"Baiklah, apakah kedua pihak sudah siap?"

Aku mengangguk.

Eliot mengangguk.

Kepala sekolah mengangguk.

"Baiklah. Pertarungan dimulai."

==================================================================

Halo semuanya, terima kasih sudah membaca sampai chapter ini. tidak disangka, chapter ini bisa begitu panjang (hampir satu setengah kali lebih panjang dari biasanya). Tapi, mungkin, chapter ke depannya akan kembali normal.

Sekali lagi. Terima kasih sudah membaca sampai chapter ini. votenya bisa lho :)

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?