Arc 2 Ch 5 - Lugalgin vs Eliot

Arrowhead yang digunakan oleh Eliot. Karena bahasa indonesia terlalu panjang, yaitu mata anak panah, maka digunakan versi basa inggrisnya, yaitu arrowhead. Selamat membaca

===========================================================

Drrrrngggggg

Suara minigun tidak kunjung berhenti. Aku terus melepaskan tembakan ke arah Eliot, tapi dia bergerak cukup cepat, menghindari serbuan peluru. Dia pasti menggunakan pengendalian pada zirah di tubuhnya untuk menambah kecepatan, sama seperti Jeanne.

Sekalinya peluru minigunku mampu mencapai Eliot, lima belas arrowhead akan membentuk perisai berlapis. Dia tidak menghalau peluruku secara frontal. Arrowheadnya miring, mengubah jalurnya. Meskipun hanya sejenak, dia menggunakan momen itu untuk menyerangku.

Begitu dia mendekat, aku menggunakan perisai yang terpasang di minigun untuk menahan serangannya. Saat itu, aku menggunakan tangan kiri untuk menarik pistol yang tergantung di pinggang kiri, melepaskan tembakan ke arah Eliot.

Eliot langsung mundur ketika aku melepaskan tembakan. Di saat itu, aku langsung berpindah tempat.

“Dasar pengecut!”

“Jangan hanya menggunakan proyektil. Lawan Eliot secara jantan kalau berani!”

Suara cemooh pun mulai bermunculan dari samping.

Hei, dia juga menggunakan proyektil, kenapa hanya aku yang dicemooh?

Di lain pihak, samping aula sudah penuh dengan siswa menonton pertandingan ini. Hal ini terjadi karena Bastion bersikeras agar pertarungan antara aku dan Eliot dapat ditonton oleh seluruh siswa. Selain penonton di aula ini, pertarungan ini juga disiarkan ke seluruh sekolah melalui monitor yang tersebar.

Di bagian samping aula, beberapa siswa menggunakan kekuatan pengendaliannya untuk membuat lapisan pelindung, mencegah seranganku dan Eliot keluar dan melukai penonton. Mereka mengendalikan serbuk perak yang disebar di udara. Kemudian, di serbuk perak itu dialiri listrik. Dengan kombinasi ini, mereka membuat sebuah dinding yang tidak terlihat.

Aku meneruskan tembakanku.

Sekarang Eliot hanya bergerak ke sana kemari, menghindari serangan. Tampaknya dia menunggu peluru minigun ini habis. Dan dugaannya benar, tidak lama kemudian, minigun ini sudah kehabisan peluru.

Aku menjatuhkan minigun ini beserta, tas di punggungku. Dengan sebuah sebuah tombol di atas minigun, tas di punggungku terlepas secara otomatis.

Ahh, tubuhku benar-benar terasa ringan setelah aku melepaskan minigun dan tas peluru ini.

Eliot tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia langsung menerjang dan menebaskan pedangnya. Dengan cepat, aku mengambil kedua pistolku dan menahan pedang Eliot dengan bayonet.

Dengan sedikit mengubah sudut pistol, aku melepaskan tembakan ke arah Eliot. Dia pun kembali mundur.

Baiklah, sejauh yang aku amati, dia memiliki stamina yang sangat tinggi. Dia sudah bergerak sebanyak itu tapi tidak terlihat tanda-tanda kehabisan nafas. Dia hanya menggunakan arrowheadnya sebagai pertahanan, tidak menyerang.

Ketika tempo seranganku melambat, atau berhenti, Eliot memotong jarak antara kami dan menyerang. Setelah gagal, dia akan mundur dan mengulangi pola yang sama.

Ayolah, pertarungan macam apa ini? Memangnya ini pertarungan bos di dalam game?

Akhirnya bayonet pistolku dan pedang Eliot bertemu kembali.

Aku mencoba sesuatu yang berbeda. Kali ini, aku tidak menahan pedang Eliot, tapi menangkisnya dan lalu menyerang dengan bayonet.

Kami pun saling bertukar serangan. Namun, tidak ada satu pun serangan yang berhasil mendarat. Eliot dan aku sama-sama berhasil menangkis atau menghindari serangan lawan.

“Aku ingin bertanya.”

Hah? Sekarang juga? Di saat kita saling melempar serangan? Tapi, baiklah.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Apa kau benar-benar tidak berencana untuk serius?”

“Kau tahu, menguping adalah kebiasaan yang buruk. Tapi, ya, aku tidak berencana untuk serius.”

“Dan kenapa demikian?”

“Maaf, tapi aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawabmu. Tapi, aku ingin mengajukan pertanyaan juga,” sekarang giliranku. “Kau tahu kan apa yang terjadi di panti asuhan di bawah Charisma?”

“Huhuhu, aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawabmu kan?”

Aku mengambil asumsi dia tahu.

“Kenapa kau masih sudi menjadi regal knightnya?”

“Seperti yang kubilang, aku tidak memiliki—“

Aku melepaskan tembakan dan Eliot pun mundur. Aku tidak perlu memperpanjangnya lagi. Aku memang tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan kedua darinya, tapi aku menjawab pertanyaan pertamanya kan. Seharusnya dia menjawab minimal satu pertanyaanku. Yah, aku memang tidak berharap apapun sih.

Oke, kembali ke pertarungan. Kalau di tengah-tengah pertarungan ada jeda, entah untuk berdialog atau berhenti sejenak, biasanya dia akan mengganti pola serangannya. Ya, itu kalau aku menggunakan analogi game sih.

Dan aku benar. Hahaha, bodoh sekali rasanya.

Dalam waktu singkat, arrowhead yang dia kendalikan bertambah. Bukan, bukan bertambah, tapi arrowheadnya memisah. Kini jumlahnya menjadi tiga kali lebih banyak dari sebelumnya.

Semua arrowhead itu terbuat dari bahan khusus yang tidak mampu dihancurkan oleh minigun, apalagi dengan pistol kaliber 9 mm yang kini kupegang. Aku membutuhkan tipe peluru yang lain.

Aku melepas magasin di pistol dan menggantinya dengan magasin lain di pinggang.

Bzztt

Eh? Suara apa itu? Suara itu tidak terlalu jauh, bahkan aku bisa mendengarnya dengan cukup jelas.

Aku melihat ke belakang, ke sumber suara. Aku melihat listrik statis kecil muncul di udara. Tidak jauh dari listrik statis itu, terlihat seorang siswi yang memegang amulet. Dia adalah satu dari delapan siswi yang bertugas membuat lapisan pelindung.

“Tung—“

“Maju, pasukan berkudaku!”

Belum sempat aku berteriak tunggu, Eliot sudah bergerak terlebih dahulu.

Eliot mengarahkan tangannya ke depan, memberikan sinyal pada semua arrowhead untuk menerjangku.

Sebenarnya, kalau aku mau, aku bisa saja melompat ke samping. Namun, aku yakin, kalaupun aku melompat ke samping, semua arrowhead itu akan mengikutiku. Dan lagi, saat ini, aku tidak bisa menghindar. Kalau jalur berbeloknya terlalu jauh, dan aku menghindar, akan sangat berbahaya.

Aku berbalik dan berlari ke belakang, berhenti tepat di depan siswi itu.

“Eh?”

Siswi itu kaget, tapi aku tidak memiliki waktu untuk meresponnya.

CQC pistol.

Dor dor dor dor dor dor dor

Dengan kedua tangan, aku mengayunkan kedua pistol dengan cepat ke semua arrowhead. Aku melepaskan tembakan berkali-kali ke arrowhead yang datang dari depan, samping, dan atas.

CQC pistol kupelajari di pasar gelap. CQC pistol adalah bela diri yang menggunakan pistol untuk melumpuhkan lawan yang jumlahnya banyak atau datang dari berbagai arah. Pengguna CQC pistol diam di tempat, kaki tidak bergerak, sementara lengan, tangan, dan badan, bergerak. Gerakan ini hanya bisa digunakan kalau semua lawan maju menerjang, tidak ada satu pun yang melepaskan tembakan dari jarak jauh.

Kedua pistolku memiliki magasin yang sudah kumodifikasi sehingga satu magasin mampu menampung 30 peluru. Dua pistol ini mencakup 60 peluru, Eliot memiliki 45 arrowhead. Kalau secara hitungan sederhana, aku unggul, tapi tentu saja tidak semudah itu.

Beberapa tembakan meleset. Aku kehabisan peluru sebelum melumpuhkan semua arrowhead. Hampir 20 arrowhead lolos.

Aku menangkis arrowhead yang datang dengan bayonet di ujung pistol. Sebagian terpental ketika aku menahannya dengan perisai di bahu. Sebagian lagi mampu menggores tubuhku, mengurangi HPku.

Eh? Tunggu dulu, aku merasakan rasa sakit? Lebih tepatnya, aku merasa tergores. Ya, pipi kananku tergores. Apakah amulet yang kukenakan juga cacat?

Dugaanku benar, satu arrowhead sudah terjatuh di lantai meskipun belum menerima tembakanku. Arrowhead itu pasti sudah tidak bisa dikendalikan karena darahku yang menempel.

Aku bergerak cepat. Aku mengganti magasin pistol dan melepaskan tembakan pada semua arrowhead yang berputar, menjauh dariku, dan yang terjatuh di lantai tapi belum kutembak.

Begitu semua arrowhead sudah kulumpuhkan, aku menembakkan sisa peluru di magasin ke Eliot. Dia bergerak sangat cepat. Dengan kedua pedangnya, dia mampu menangkis semua peluru yang kulepaskan.

Insting dan gerakannya benar-benar tidak manusiawi. Sama seperti Zage, dia bisa mempertemukan senjata dengan peluru.

Tapi, justru itu yang kuharapkan.

“Apa ini?”

Eliot terkejut ketika melihat pedangnya sudah berwarna hitam.

Peluru yang kugunakan bukanlah peluru biasa. Peluru ini adalah peluru khusus yang akan pecah dan menempel pada benda yang dihantamnya. Dan, berat peluru ini jauh lebih besar dibanding logam biasa. Bahkan, kalau orang belum pernah menggunakan peluru ini, mereka tidak akan bisa menahan berat pistol yang menggunakan peluru ini.

Begitu peluru khusus ini menempel pada semua arrowhead, Eliot tidak akan bisa mengendalikan arrowheadnya karena terlalu berat. Begitu juga pedangnya, aku berani bertaruh berat pedangnya sudah mencapai tiga kali lipat dari yang sebelumnya.

Semua ini terjadi kurang dari 10 detik, jadi aku yakin dia sendiri baru menyadari kalau dia tidak bisa mengendalikan arrowheadnya.

Aku menerjang Eliot.

Eliot menyambutku dengan pedangnya. Kami pun saling bertukar serangan, lagi. Dan seperti sebelumnya, kami sama-sama mampu menghalau atau menghindari serangan lawan. Gerakan Eliot lebih lambat, tapi karena berat pedangnya bertambah, kekuatan tebasannya lebih besar.

Dia mengangkat pedangnya tinggi dan menebaskannya ke bawah. Aku menahannya dengan perisai bahuku. Pedangnya benar-benar kuat. Dia membuatku berlutut di hadapannya, secara harfiah.

“Pertarungan ini sudah selesai.”

Aku setuju.

Aku melemparkan pistolku ke wajah Eliot. Dia refleks memundurkan kepalanya, menghindari pistolku. Saat itu juga, aku mencengkeram kaki Eliot dan menariknya.

Eliot, yang berusaha menghindari pistol, tidak memiliki keseimbangan yang baik. Selain itu, di dekat kakinya banyak peluru yang tadi kumuntahkan dari minigun, memperburuk keseimbangannya. Ada alasan aku terus melepaskan tembakan dan berpindah tempat menggunakan minigun.

Begitu aku menarik kakinya, dia pun terjatuh ke lantai.

Dengan posisi masih berlutut, aku melepaskan beberapa tembakan dari perisai bahu kiriku.

Dor dor dor dor

“Pemenang, Lugalgin.”

Kepala sekolah dan pelayan Jeanne mengumumkan hasil pertandingannya. Bastion tidak sudi mengatakannya.

Setelah aku menang, banyak cemooh terdengar. Seperti biasa, mereka menganggap cara bertarungku kotor.

Tapi, dibalik semua cemooh, aku mendengar beberapa sorak sorai. Tampaknya, tidak semua siswa di sekolah ini membenciku.

Sebelumnya, aku harus memastikan satu hal. Aku berdiri dan mengarahkan perisaiku ke satu titik. Ke tempat dimana aku menangkis semua arrowhead.

“Eh?”

Semua orang terkejut.

Aku mengangkat tangan dan melepaskan sebuah tembakan dari perisai bahu.

Bbzzzttttttttt

Begitu peluru yang aku lepaskan menghantam dinding pelindung, sebuah suara listrik statis terdengar. Suara itu menyebar bersamaan dengan listrik statis dan menghilang.

“I, ini...“

Kepala sekolah terkejut setelah melihat pemandangan ini.

Aku berjalan menuju ke siswi yang tadi memegang amulet di belakangku.

Siswi itu melangkah mundur, ketakutan dengan sosokku.

“Ahh...”

Dia hampir berteriak ketika aku menjulurkan tanganku.

Aku tidak menyentuhnya, aku hanya mengambil amulet yang dia pegang. Amulet yang dia pegang memiliki sebuah batu hijau berbentuk lingkaran dengan ornamen bintang enam. Pada bagian batunya, aku melihat sebuah retakan. Retakan ini tidak terlalu terlihat karena warna batu yang cerah. Kalau warna batu ini gelap, pasti retakan ini sudah terlihat jelas.

Aku pun melepas amulet yang kupasang di dadaku. Tidak seperti amulet yang dipegang siswi ini, tidak terlihat adanya retakan ataupun cacat di amulet yang kugunakan.

“Lugalgin, ada apa?”

Jeanne mengajukan sebuah pertanyaan padaku.

Dalam waktu singkat, Jeanne, Emir, dan Ufia datang.

“Jeanne, apakah semua sekolah kesatria selalu mendapatkan fasilitas terbaik dari Kerajaan?”

“Ya, benar, Kerajaan selalu memastikan sekolah kesatria mendapatkan fasilitas yang terbaik.”

“Lalu, bagaimana kamu menjelaskan ini?”

Aku memberikan amulet yang baru saja kuambil dari siswi itu pada Jeanne. Jeanne menerimanya dan memperhatikannya baik-baik.

“Batu energi pada amulet ini retak?”

Tampaknya mata Emir lebih awas daripada Jeanne, atau dia lebih cepat menyuarakan pendapatnya.

Batu energi adalah sebuah batu yang digunakan untuk meningkatkan akurasi dan kekuatan pengendalian. Penggunanya, yang adalah siswi ini, menggunakan batu energi tersebut untuk mengendalikan debu perak yang menjadi dinding.

Pengendalian debu sangat sulit karena ukuran material yang terlalu kecil. Oleh karena itu, batu energi ini dibutuhkan. Sebelum kamu bertanya, listriknya adalah bagian dari pengendalian perak ini. Jadi, listriknya juga dihasilkan oleh kemampuan pengendalian siswi ini.

Dengan retaknya batu energi yang digunakan, secara langsung, efeknya pun akan menurun. Kalau salah satu arrowhead Eliot menghantamnya, seperti yang baru saja kulakukan, pelindungnya akan hancur.

“Jadi, alasan kamu mundur ke titik ini tadi karena kamu melindungi siswi ini?”

“Jujur, aku kira kamu mundur karena kamu tidak mau menghadapi serangan dari belakang.”

Sementara Jeanne memberikan pendapat positif, Emir memberikan pendapat yang benar-benar murni berhubungan taktik bertarung.

“Untuk memerhatikan hal sekecil itu, saya benar-benar kagum.” Kepala sekolah datang. “Kalau tadi kau memilih untuk menghindar, aku yakin siswi ini pasti sudah terluka oleh serangan Eliot. Saya benar-benar berterima kasih.”

“Tidak usah. Salahku juga karena sudah menekan kekuatan pelindung ini dengan minigunku.”

Ya, kalau aku tidak menggunakan minigunku dan menghantam dinding pelindung ini berkali-kali, mungkin dinding pertahanan ini masih memiliki kekuatan yang besar. Aku beruntung dinding ini tidak rusak ketika aku menggunakan minigun.

“Gin,”

Tiba-tiba saja Emir meletakkan tangannya di wajahku.

“Pipimu,” Emir berbisik.

“Ya, aku tahu,” aku menjawab Emir dengan berbisik juga.

Emir menyadari luka goresan di pipiku dan mengusapnya dengan tangan. Meski dia tahu dia akan kehilangan pengendaliannya ketika melakukan kontak dengan tubuh dan darahku, dia tidak ragu-ragu.

Dari rasa sakitnya, harusnya goresan itu hanyalah luka kecil, sangat kecil. Tapi tetap saja, kalau terlihat ada darah di wajahku, orang lain akan mempertanyakan amulet yang kugunakan. Dan kalau tidak ada kerusakan, mereka akan mempertanyakanku.

Aku harus meminta satu amulet untuk kuteliti sebelum menerima tantangan lain seperti ini.

Tanpa ada yang memperhatikan, Charisma, Eliot, dan para pelayannya pergi meninggalkan aula ini.

Jeanne melihat ke arahku

“Jangan khawatir, akan kupastikan dia menepati ucapannya.”

“Terima kasih.”

“Tu, tuan....”

Ung?

Tiba-tiba, sebuah suara asing muncul. Aku menoleh ke belakang, ke arah siswi yang tadi kulindungi.

Siswi ini memiliki rambut coklat yang umum dijumpai sepertiku. Rambutnya padahal pendek, mungkin di atas bahu, tapi dia menguncir bagian belakangnya. Hanya rambut di samping matanya yang turun ke bawah. Dia memiliki mata coklat gelap. Benar-benar fitur yang generik, sama sepertiku.

Untuk seorang siswi kesatria, aku mengira dia adalah perempuan yang liar seperti Emir. Namun, tidak, aku bisa merasakan kelembutan dari kata-katanya.

“Panggil aku kak. Aku baru lulus SMA tahun ini.”

“Ba, baik.” Siswi itu mengangguk. “Terima kasih sudah melindungiku, kak. Ternyata kakak baik meskipun cara bertarung kakak tidak jantan.”

Ung. Itu pujian atau hinaan?

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?