Arc 2 Ch 6 - Latihan Selesai dan Informasi

Lima hari berlalu sejak aku melawan Eliot. Setelah pertarungan itu, lokasi berlatih kami pindah ke zona militer kerajaan. Amulet untuk pengguna, seperti yang aku dan Ufia gunakan, tidak memiliki perbedaan. Namun Amulet yang digunakan untuk membuat dinding jauh lebih maju dibandingkan sekolah kesatria. Satu Amulet dapat membuat dinding pelindung hingga beberapa ratus meter persegi. Dan yang membuat dinding pelindung ini adalah salah satu pelayan Jeanne.

Aku menggunakan minigun untuk melepaskan hujan amunisi pada Ufia.

Ufia sudah berkembang sangat pesat. Dia sudah bisa membuang kode etik kesatrianya. Dia juga tidak sungkan menggunakan tanah, pasir, atau benda apapun yang bisa digunakan untuk melawanku.

Sambil menghindari hujan amunisi, Ufia mengirim bazoka ke atas atau ke belakangku, menyerang dari titik buta. Dia sudah melakukannya beberapa kali. Ketika aku lengah karena menghindari serangan bazoka, Ufia menerjangku.

Blarr blarr blarr

Beberapa ledakan muncul.

Ufia mundur sebelum ledakan-ledakan tersebut menghantam tubuhnya. Aku hanya mampu membalikkan badanku, menutupi kepala dari ledakan.

Sebelum ini, oleh permintaanku, Jeanne memberiku Amulet yang biasa digunakan oleh militer maupun sekolah kesatria. Setelah aku bongkar, aku mendapati Amulet tidak menggunakan kekuatan pengendalian seseorang untuk pengoperasiannya. Sebelum digunakan, amulet tersebut telah diisi dengan tenaga pengendalian seseorang. Dengan sistem komputer, amulet tersebut menggunakan pengendalian perak yang telah disimpan, membuat pelindung di sekitar tubuh pengguna.

Sederhananya, amulet ini adalah alat pengendali debu perak otomatis.

Kalau debu perak di amulet beroperasi dengan kekuatan pengendalian, maka pengendalian itu akan menghilang ketika mengalami kontak dengan kulitku. Kalau ada serangan yang datang ke wajahku, atau tubuhku yang tidak tertutup oleh kain, maka serangan itu akan mendarat ke tubuh. Hal ini menjelaskan kenapa tanganku mampu mencapai wajah Ufia di battle royale dan arrowhead Eliot menggores pipiku.

Keputusanku, untuk tidak sepenuhnya percaya pada amulet, di battle royale benar-benar tepat. Kalau aku membiarkan satu peluru saja mendatangi kepalaku, pasti hidupku sudah berakhir saat itu juga.

Karena sistemnya otomatis, menggunakan komputer, aku mampu memodifikasinya juga. Selain melindungi tubuh dari luka, normalnya, Amulet ini juga membuat penggunanya tidak merasa sakit. Aku memodifikasinya sehingga tubuh tetap menerima rasa sakit tapi tidak meninggalkan luka. Ufia harus membiasakan tubuhnya dengan rasa sakit. Dan tentu saja, aku dan Ufia mengenakan amulet yang telah kumodifikasi ini.

Dan karena modifikasi ini juga, sekarang aku merasa seolah-olah kulitku terbakar. Karena wajahku tidak terlindungi, aku harus menutupinya dengan tubuh.

"EMIR! KALAU MAU MENYERANG LIHAT-LIHAT! KAMU TIDAK TAHU SAKITNYA TERKENA LEDAKANMU!"

"Maaf..."

Tidak menyia-nyiakan kesempatan, ketika aku berbicara pada Emir, Ufia maju menerjang dengan pedang besarnya. Karena serangannya berasal dari atas, aku bisa menahannya dengan perisai bahu. Dan, seperti biasa, Ufia tidak memancarkan haus darah sama sekali. Membuatku harus menajamkan insting.

"Baik, istirahat!"

Aku menghentikan latihan ini sejenak.

"Hah, hah, hah, terima kasih."

Ufia mengucapkan terima kasih sambil mengatur nafas.

Wajar saja Ufia kehabisan nafas. Dia bergerak kesana kemari dengan pedang besar yang harus dikendalikan. Belum lagi, dia mengirim bazoka ke belakang dan atasku. Semakin jauh benda yang dikendalikan, semakin besar juga stamina dan konsentrasi yang dibutuhkan.

Aku juga berkeringat, tapi nafasku masih normal jika dibandingkan dengan Ufia. Kami berjalan menuju samping arena latihan, dimana Jeanne dan Emir sudah menanti dengan sebotol minuman.

Tanpa aba-aba, aku menarik pistol dan melepaskan tembakan ke Ufia. Ufia mampu menghalau tanganku, membelokkan jalur tembakan.

Ufia tersenyum sambil melihatku. Aku pun tersenyum.

Bagus. Instingnya sudah aktif meskipun dia tidak bertarung. Dengan begini dia sudah cukup layak untuk menjadi agen Schneider, meskipun sebenarnya aku tidak tahu persyaratan untuk menjadi agen Schneider sih.

Kami melanjutkan perjalanan ke Emir dan Jeanne.

"Ahh, panas sekali ya kalau latihan di luar ruangan."

"Itu bukan alasan untukmu membuka jaket." Jeanne menghentikan Emir yang meletakkan tangannya di ritsleting jaket. "Emir, Lugalgin sudah mengingatkanmu terus-terusan, tapi kok kelihatannya kamu enggak paham juga ya?"

"Panas. Di dalam jaket ini aku pasti sudah basah kuyup karena keringat."

Emir tidak mau mengalah. Dia menyanggah Jeanne.

"Justru itu adalah alasan utama kenapa kamu tidak boleh melepas jaketmu."

"Kamu yang mengenakan kaos dan celana kasual tidak punya hak untuk mengatakannya."

"Aku memang berlatih untuk bertarung menggunakan pakaian kasual. Kalau kamu protes, kenapa kamu tidak mengenakan kaos dan celana kasual juga?"

Aku mengayunkan tanganku, yang memegang botol air, ke arah Emir dan Jeanne, menyiram air ke kepala mereka.

"Di sini sudah panas, jangan membuat keadaan semakin panas."

"Ma, maaf."

Emir dan Jeanne menjawabku dengan nada memelas.

Di lain pihak, Ufia tidak lagi memrotesku seperti dulu. Dulu, kalau aku memperlakukan Emir dan Jeanne seperti ini, pasti dia akan langsung marah dan protes, mengatakan kalau aku lancang dan lupa posisi. Tampaknya, dia sudah menganggap posisiku dan Jeanne sama. Atau dia takut aku berhenti melatihnya?

Di lain pihak, Jeanne juga tidak protes atau merasa tersinggung dengan caraku memperlakukannya. Justru sebaliknya, setelah melihat caraku berbicara dan memperlakukan Emir, dia ingin aku memperlakukannya mirip seperti aku memperlakukan Emir.

Kalian adalah bangsawan yang tidak normal.

"Ufia, menurutku, kamu sudah cukup layak untuk menjadi agen schneider. Kamu sudah bisa membuang kode etik kesatria dan instingmu pun tetap aktif meskipun tidak bertarung. Jadi, selama dua hari ke depan, yang perlu kamu pelajari hanyalah teknik bertarung dan meningkatkan kemampuan fisikmu.

"SIAP!"

Ufia menjawab dengan sigap.

Tunggu dulu! Kenapa dia malah menjawabku seperti seorang tentara. Ini bukan yang aku inginkan. Aku jadi khawatir.

Baiklah, aku ingin mencoba sesuatu.

"Ufia, buka jaketmu."

"SIA--Eh? Eh? Buka jaketku? Di sini?"

"Iya, buka jaketmu. Cepat lakukan!"

Wajah Ufia memerah, pipinya benar-benar merona. Dia mencoba menutupi tubuhnya dengan kedua tangan. Meskipun ragu, Ufia mendekatkan tangannya ke ritsleting jaket.

Begitu tangan Ufia menyentuh ritsleting jaket dan mulai membukanya, aku langsung menyiramkan air di botolku ke kepalanya.

Ufia terdiam, tidak bergerak, tidak mengatakan apapun. Kini tubuhnya basah kuyup, bukan oleh keringat, tapi oleh air minum.

Di lain pihak, Emir dan Jeanne melempar pandangan dingin padaku, tapi aku tidak memedulikannya.

"Baiklah, sekarang kepalamu seharusnya sudah cukup dingin. Ufia, apa kamu sadar kesalahanmu?"

Ufia tidak mengeluarkan jawaban. Dia hanya menggelengkan kepalanya.

"Meski aku memberi syarat agar kamu menuruti semua perintahku, tapi kamu seharusnya mempertanyakan ketika aku memberi perintah barusan. Aku tidak mendidikmu untuk menjadi tentara. Aku tidak juga mendidikmu agar kamu menjadi agen Schneider yang baik karena aku tidak tahu apa itu agen yang baik.

"Aku mendidikmu agar kamu bisa bertahan di dunia pasar gelap. Kalau kamu menuruti semua ucapanku, atau ucapan atasanmu, aku bisa pastikan umurmu pendek. Kalau kamu mendapatkan perintah yang patut dipertanyakan, jangan langsung dituruti atau nyawamu taruhannya. "

"Ba, baik!"

Ufia menjawabku dengan nada tinggi. Setelah mendengar ucapanku, entah kenapa dia tiba-tiba bersemangat.

Di lain pihak, aku mengajarkan Ufia untuk berontak jika menerima perintah yang aneh. Seharusnya, ajaranku tidak cocok untuk tentara atau agen. Namun, karena Jeanne tidak protes, aku pun tidak memedulikannya.

Tambahan.

"Emir, kamu lihat reaksi Ufia kan?" aku mengalihkan pembicaraan ke Emir. "Itu adalah reaksi perempuan yang normal kalau kamu disuruh melepas jaket."

"Eh... tapi kan kalau pakai jaket panas."

"Tidak ada tapi-tapian."

Aku memukulkan botol plastik kosong ke kepala Emir.

"Baik, waktu istirahat sudah selesai."

***

Di malam hari, rutinitas kembali seperti semula, aku melatih Emir untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik. Dan seperti biasa, untuk malam hari aku mengajarkan Emir cara memasak.

"Aduhhh..."

Aku berhenti mengaduk sup ketika mendengar rintihan Emir. Aku mengecilkan api kompor dan berjalan menuju Emir. Seperti biasa, Emir tidak sengaja memotong jarinya ketika mencoba memotong sayuran.

"Sini." Aku menarik tangan Emir ke tempat cuci piring, menyiramnya dengan air keran. "Sudah aku bilang, kalau tanganmu teriris, segera disiram dengan air supaya tidak infeksi."

Emir merintih pelan ketika air menyentuh lukanya. Bukan karena bertarung, tangannya justru penuh luka karena belajar memasak.

Aku mengambil sebuah plester luka dari kotak pertolongan pertama. Sejak emir datang, aku menyiapkan kotak ini di pojok dapur. Oke, dengan begini, lukanya sudah tertutup.

"Masih mau lanjut?"

"Ya, tentu saja."

Meskipun berkali-kali gagal, memotong jarinya sendiri, dan berkali-kali kumarahi, Emir tidak pernah patah semangat. Dia akan mencobanya berkali-kali hingga akhirnya berhasil, meskipun rasio keberhasilannya masih di bawah 40 persen sih.

Makan malam kami cukup sederhana, yaitu nasi, daging semur, sup, salad, dan teh hangat. Malam ini, Jeanne menyatakan ingin ikut makan malam bersama kami. Oleh karena itu, kami memasak porsi lebih banyak dari biasanya.

Percakapan kecil terjadi di atas meja sambil kami menyantap hidangan malam. Meski aku bilang terjadi di atas meja, yang lebih banyak mengobrol adalah Jeanne dan Emir, aku dan Ufia lebih sering mendengarkan. Mereka berdua membicarakan beberapa hal mengenai istana atau kebiasaan bangsawan lain.

Di saat santai seperti ini, bukan di tengah latihan, Ufia tidak berani menerima pandanganku. Setiap aku melihat ke arahnya, dia akan langsung melempar muka. Namun, kalau aku tidak melihat, dia terus menatap ke arahku.

"Ufia, apa ada yang mau kamu katakan?"

"A, ah, itu..."

"Apa ini mengenai perlakuanmu padaku selama ini?"

Ufia tidak memberikan respon. Dia menundukkan kepalanya dan mengangguk secara perlahan.

"Sudahlah, aku tidak mempermasalahkannya. Daripada aku, kamu justru harus mengkhawatirkan dirimu sendiri."

Apalagi semenjak Charisma terpaksa melepaskan manajemen semua panti asuhannya.

"Eh? Maksudmu?"

Sudah kuduga. Dia tidak menyadarinya.

"Kamu kira... tidak," aku mengoreksi ucapanku. "Kalian kira, kalian menghina dan menghujatku karena aku inkompeten atas kesadaran kalian sendiri?"

Ufia memicingkan matanya. "Apa maksudmu?"

"Aku belum memiliki bukti pasti, tapi menurut perkiraanku, kalian semua melakukannya karena perintah dari kepala keluarga yang sekarang, Umma Alhold, kakek. Dia adalah dalang di balik semua ini. Menurutmu, bagaimana bisa semua orang di keluarga Alhold kompak menghina satu orang hanya karena seorang inkompeten. Padahal keluarga Alhold adalah keluarga yang menjunjung tinggi pencapaian dan prestasi."

Mata Ufia membelalak. Berbeda dengan sebelumnya ketika dia terus menghindari pandanganku, kini dia menatap mataku dalam-dalam, mencari konfirmasi dari ucapanku.

"Aku belum tahu alasannya. Tapi, mungkin, dua agen Schneider ini mengetahuinya."

Emir dan Jeanne membuang pandangan mereka. Bahkan, mereka tidak berusaha menyembunyikannya lagi.

"Karena kamu agen Schneider, mereka berdua pasti akan menceritakannya padamu cepat atau lambat. Jadi, aku tidak—"

Sebuah alunan musik rock terdengar, menyelaku. Tidak kuduga dia akan menghubungiku sekarang.

"Maaf, aku harus menerima telepon ini."

"Ya, silakan." Jeanne dan Emir merespon bersamaan.

Aku menarik handphone lipat dari sakuku dan berjalan meninggalkan meja.

Aku mengangkat telepon. "Sebentar,"

Setelah keluar rumah, di samping jalan, baru aku melanjutkan pembicaraan.

"Baiklah, apa yang kalian dapatkan?"

[Apa itu kalimat yang pantas setelah lama tidak menghubungi kami dan tiba-tiba meminta informasi?]

Sebuah suara jengkel terdengar dari handphone.

"Daripada protes, Mulissu, kemampuan kalian untuk mendapatkan informasi menurun drastis sejak aku pergi. Apa kalian baik-baik saja?"

[Informasi yang kamu minta tidak mudah dicari. Bahkan kami harus memeras informasi dari agen Schneider dan Gugalanna.]

Baru saja aku keluar, aku sudah merasakan kehadiran orang lain. Aku menduga agen Schneider lain mencoba menguping pembicaraanku. Aku tidak perlu khawatir karena semua komunikasi yang melalui handphone ini melalui jalur aman yang tidak bisa dilacak atau disadap. Jadi, hanya ucapanku yang perlu kuatur.

"Jadi?"

Mulai dari titik ini, aku menggunakan kata atau kalimat seambigu mungkin. Orang yang menguping ucapanku tidak akan memahaminya, tapi perempuan ini akan memahaminya.

[Sesuai seperti pengetahuan kita. Perang dingin antara Bana'an dan Mariander tidak pernah terjadi. Hubungan Bana'an dan Mariander memang panas, tapi tidak sampai pada level perang dingin.]

Sudah kuduga.

[Kamu sudah menduganya kan? Yah, namanya juga Lugalgin. Namun, mereka benar-benar getol menyebarkan informasi bahwa 'sebenarnya' Bana'an dan Mariander sedang perang dingin. Sebagian organisasi pasar gelap pun mulai memercayainya.]

"Apakah mereka ini adalah kedua belah pihak?"

[Haha, kamu menyadarinya ya.] Mulissu tertawa puas. [Tidak. Hanya pihak Bana'an yang getol menyebarkan informasi ini. Pihak Mariander tidak menyebarkan informasi ini.]

Lalu kenapa kamu mengatakan mereka? Tapi aku tidak mengatakan itu blak-blakan. Aku hanya berteriak di pikiranku.

[Untuk lengkapnya, ya, biasa lah.]

Aku akan mendapatkan file lengkapnya yang dicetak pada kertas yang mudah terbakar. Tidak sekarang, tentu saja.

"Lalu, apa ada yang perlu mendapat perhatian lebih?"

[Ya, kelompok revolusioner di Mariander sedang berada pada titik tertingginya. Mereka sudah menumbangkan dua Duke. Hebat kan?]

"Ah.... lalu? Kenapa hal ini harus mendapat perhatian lebih?"

[Di dalam kelompok mereka, ada inkompeten sepertimu.]

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?