Arc 2 Ch 7 - Peringatan

Pada Chapter ini, sudut pandang tidak dari Lugalgin. Dari siapa? Rasanya sudah cukup jelas. Silahkan membaca dan terima kasih.


===================================================


LUGALGIN! KAMU KENAPA SIH?!

Aku berteriak sekuat tenaga, di dalam pikiran.

Semalam, tiba-tiba saja Lugalgin mengatakan kalau dia ingin pergi ke Mariander terlebih dahulu. Dia bilang dia harus mencari informasi mengenai lokasi-lokasi yang akan kita datangi. Namun, aku yakin dia memiliki rencana lain. Dan dia tidak memberitahuku!

Apa dia tidak bisa memercayaiku?

Aku, yang emosi, melepaskan tembakan dengan Krat secara membabi buta. Aku beralasan kalau Ufia perlu meningkatkan refleks dan kecepatannya, meskipun sebenarnya aku hanya melampiaskan kekesalanku.

"Emir,"

Tiba-tiba saja bahuku ditepuk. Aku menoleh dan melihat wajah Jeanne terpampang.

"Sudah waktunya istirahat. Jangan kamu lampiaskan kekesalanmu pada Ufia."

"Tapi—"

"Kamu mau aku menelepon Lugalgin dan melaporkan ini?"

Cih, sial. Bawa-bawa Lugalgin lagi perempuan ini.

"Iya deh..."

Aku terpaksa menghentikan seranganku. Aku mengubah bentuk Krat ke kubus berukuran 1 meter lagi dan meletakkannya di samping.

"Ufia! Waktunya Istirahat!"

Jeanne berteriak sementara aku bergegas duduk. Aku masih belum bisa melampiaskan semua kekesalanku. Aku melahap makan siang dengan cepat, berharap emosiku mereda.

Tidak lama kemudian, Ufia pun datang dan menyantap makan siangnya.

"Maaf, Emir, kalau aku boleh tanya. Kamu kok kelihatannya kesal sekali?"

"Habis," aku menjawab Ufia tanpa menghentikan asupan makanan ke mulutku. "Lugalgin tiba-tiba saja menyatakan ingin pergi lebih awal. Meski dia bilang harus mencari informasi mengenai jadwal dan lokasi, tapi aku gak sepenuhnya percaya."

"Apa yang kamu harapkan? Kita sendiri juga menyimpan rahasia darinya kan?"

"Ini dan itu berbeda! Kita terpaksa menyimpan rahasia karena ini tugas kita, tapi dia kan tidak memiliki tugas apapun yang mengharuskannya menyimpan rahasia!"

Aku tidak bisa menerima ucapan Jeanne.

Setelah semua usahaku untuk menyimpan rahasia Lugalgin dari ayah dan agen Schneider lainnya, apa ini balas budinya?

"Dan, kalau seandainya kamu tahu rahasia Lugalgin, apa itu akan membuatmu merasa lebih baik?"

Itu...

"Tidak kan? Dan ingat, kamu hanyalah tim pembersih, tim frontal garda depan. Kamu tidak bisa berbohong atau menyimpan rahasia dengan baik. Bahkan, aku terkejut ketika ayah memberi tahu alasan kenapa beliau melepasmu ke Lugalgin begitu saja."

Ugh!

Aku benci mengakuinya, tapi ucapannya tepat sasaran. Perempuan ini benar-benar seperti Kak Yurika. Aku membencinya.

"Daripada kamu terus kesal, aku ingin menanyakan beberapa hal mengenai Lugalgin."

"Apa itu?"

Entah kenapa, aku merasa sedikit kesal ketika Jeanne mencari informasi soal Lugalgin.

"Apa dia benar-benar tidak pernah menanyakan alasan sebenarnya kamu mau menjadi istrinya?"

"Tidak. Tidak pernah. Setiap hari dia fokus untuk mengajariku cara menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik. Dia tidak pernah menanyakan alasan kenapa aku mau menjadi istrinya. Kenapa?"

Jeanne terdiam sejenak. Dia memegang dagunya.

Memangnya aneh ya kalau Lugalgin tidak menanyakannya? Bukankah berarti Lugalgin percaya sepenuhnya kalau aku memang berniat menjadi istrinya tanpa ada niat tersembunyi?

"Anu, maaf, Tuan Putri Jeanne, Emir," Ufia menyela. "Kalau boleh saya tahu, apakah Emir menjadi calon istri Lugalgin adalah sebuah misi dari Yang Mulia Paduka Raja?"

Aku hampir lupa kalau ada Ufia di sini. Dan, tampaknya, Jeanne belum menceritakan keadaan Lugalgin dan aku padanya.

"Ah, iya, karena kamu sudah terlepas dari cuci otak keluarga Alhold, kurasa sudah saatnya kamu mendengar misi yang diberikan ayah yang sebenarnya."

Jeanne menjawab Ufia.

"Ah, cuci otak?"

"Seperti yang Lugalgin bilang semalam. Kamu kira kamu menghina Lugalgin karena keinginanmu sendiri?"

"Itu, saya belum yakin."

Sudah kuduga. Ufia masih menggunakan bahasa formal pada Jeanne, padahal dia sudah bisa menggunakan bahasa informal padaku.

"Dengar, misi ini adalah misi prioritas utama Kerajaan Bana'an."

Aku memperhatikan Ufia baik-baik. Dia menahan nafasnya, menanti jawaban Jeanne. Apa aku bilang saja sekarang? Aku ingin melihat reaksi Jeanne kalau aku tiba-tiba menyelanya.

"Singkat cerita, ayah berusaha membuat agar Lugalgin menjadi Raja Kerajaan Bana'an yang selanjutnya."

Dan Akhirnya Jeanne mengatakannya. Aku mengubah arah pandanganku, mengalihkannya ke Ufia. Aku ingin melihat reaksi Ufia. Aku benar-benar ingin melihat reaksinya ketika dia mengetahui orang yang selama ini dihina oleh seluruh keluarganya akan menjadi orang nomor satu di kerajaan ini.

Ufia hanya terdiam. Mulut dan matanya terbuka lebar. Bahkan, sendoknya berhenti tepat di depan mulut.

Wah, aku ingin memfoto momen ini dan menunjukkannya pada Lugalgin. Dia pasti akan tertawa terbahak-bahak ketika melihat reaksi Ufia. Sayang sekali aku tidak membawa kamera.

"Aku tidak mengetahui informasi lengkapnya. Aku bahkan tidak tahu apakah ada orang lain selain ayah yang mengetahui detailnya."

"Yang kami ketahui adalah," aku ingin masuk ke pembicaraan ini! "Seharusnya, bukan keluarga Exequeror yang menjadi Raja, tapi keluarga Alhold."

Belum ada reaksi dari Ufia. Ahh, aku benar-benar ingin memfotonya dan menunjukkannya pada Lugalgin.

Jeanne melanjutkan. "Leluhur keluarga Alhold menyerahkan posisi sebagai Raja pada keluarga Exequeror. Keluarga Exequeror menerima posisi sebagai Raja dengan berat hati dan sebagai gantinya, keluarga Alhold mendapatkan posisi khusus dimana mereka tidak harus menuruti perintah Raja atau bangsawan lain. Tapi, keluarga Exequeror juga mengikrarkan sebuah janji, jika suatu saat nanti lahir seorang inkompeten dari keluarga Alhold, maka keluarga Exequeror akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menjadikan inkompeten tersebut sebagai Raja Kerajaan Bana'an."

"Ah, sebentar, sebentar..."

Ufia meletakkan sendoknya dan memegang kepala. Dia mencoba memijat kepalanya pelan.

Hahaha, tampaknya ini semua terlalu mengejutkan bagi Ufia. Aku juga sama terkejutnya dulu saat mendengar informasi singkat itu.

"Kenapa harus inkom—"

Belum sempat Ufia menyelesaikan pertanyaannya, instingku berontak, sebuah haus darah muncul. Aku bangkit dan mengubah Krat menjadi dinding, melindungi kami bertiga dari arah barat.

Klang klang klang

Suara logam berdenting terdengar. Tanpa melihat ke luar, Ufia melayangkan bazokanya ke atas, melewati dinding. Namun, belum sempat Ufia melepaskan tembakan, beberapa benda sudah menyerbu bazokanya.

"Ufia, ledakkan bazokamu! Jangan biarkan bazokamu terjatuh!"

"Baik!"

Ufia menuruti ucapan Jeanne dan membuat bazokanya meledak.

Di momen singkat sebelum bazoka Ufia meledak, aku melihat beberapa pisau menancap di bazoka itu. Aku tidak tahu pengendalian apa yang digunakan oleh penyerang ini, tapi yang jelas, dia bukan orang biasa. Dia bisa melewati garis pertahanan militer dan menyerang kami.

Suara dentingan logam masih terdengar. Tampaknya penyerang ini menggunakan pengendalian pada pisau untuk terus menyerang kami. Aku sempat berpikir untuk membuat permukaan Krat menjadi lembek, menahan pisaunya. Namun, tidak ada jaminan kalau dia tidak mampu menarik pisaunya.

"Sudah kuduga, kualitas agen Schneider sudah menurun drastis."

Tanpa kami sadari, sebuah sosok sudah berdiri di atas Krat.

Aku langsung menghempaskan Krat, memaksa sosok itu menjauh.

Akhirnya aku bisa melihat sosok penyerang kami. Pakaian militer dan jubah hitamnya sama sekali tidak menyembunyikan sosoknya di tengah siang ini, seolah-olah dia memang ingin menjadi pusat perhatian.

Di sekitar tubuh penyerang, terlihat seekor lipan panjang dan besar mengitari tubuhnya. Bukan, bukan seekor lipan, tapi rentetan pisau yang berjajar, memberikan kesan seperti lipan. Selain rentetan pisau yang berjajar seperti lipan, terlihat ada belasan, atau bahkan puluhan pisau beterbangan di sekitarnya.

Namun, yang memberikan identitas penyerang kami adalah topeng dan rambut putih panjangnya. Di wajahnya, terpasang sebuah topeng badut dengan gambar bintang merah di pipi kanan. Senyum di topengnya memberikan kesan kalau dia menikmati serangan ini. Rambut putih panjangnya memantulkan sinar matahari dengan sempurna, menyilaukan mata, seolah-olah mengatakan pada semua orang kalau dia ingin dilihat.

"Kinum dari Agade?"

Jeanne mengatakannya tanpa keyakinan sama sekali. Bukan hanya Jeanne, aku pun tidak tahu respon apa yang harus kutunjukkan.

Tanpa peringatan, Kinum memancarkan haus darah kembali ke udara.

Aku terjatuh, dadaku terasa begitu sesak. Pandanganku pun mulai bergoyang, mencoba kabur. Tubuhku tidak mau tenang. Mereka juga ingin kabur, pergi, menjauh dari tempat ini. Bukan hanya tubuhku, bahkan Krat tidak lagi menuruti perintahku.

Haus darah ini benar-benar berbeda dari yang tadi dia lepaskan. Kali ini, dia benar-benar mengerahkan seluruh haus darahnya. Hanya dengan haus darahnya, sosok dengan sebutan Kinum ini mampu membuat atmosfer terasa begitu berat. Bukan hanya aku, Ufia dan Jeanne pun tergeletak di atas aspal. Mungkin mereka merasakan hal yang sama denganku.

"Ups, aku hampir membunuh kalian dengan haus darahku."

Tiba-tiba saja, atmosfer menjadi ringan kembali. Dadaku tidak lagi sesak. Pandanganku pun kembali stabil. Tampaknya, dia menarik haus darahnya. Perlahan, aku mendudukkan tubuhku, melihat sosok bertopeng badut ini. Tanpa aku sadari, Kinum sudah merendahkan tubuhnya di depanku. Wajahku berhadapan dengan topengnya.

"Kalian benar-benar merepotkan kami dengan informasi perang dingin palsu melawan Mariander, kalian tahu? Banyak transaksi terhambat karena kami harus meyakinkan bahwa isu itu hanyalah isu palsu. Dan, sayangnya, Sarru sudah merasa terganggu oleh isu ini. Kalian tahu apa maksudku kan?"

Aku tidak bisa fokus. Meski dia tidak memancarkan haus darahnya lagi, aku masih kesulitan bernafas. Meski aku bisa mendengar ucapannya, aku tidak yakin aku akan mampu mengingat apa yang dia katakan.

"Sekarang, katakan! Kenapa kalian menyebarkan isu ini? Aku menginginkan jawaban!"

"A, A..."

Aku berusaha menjawabnya, tapi mulutku tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Semuanya terhenti di tenggorokanku, menolak untuk keluar.

Aku, takut. Tidak. Aku belum mau mati. Lugalgin, tolong aku.

"Menjauh kau darinya!"

Jeanne sudah berdiri di depanku. Dia membuat Kinum menjauh.

"Hoo, hebat juga kau. Tapi, apa kau bisa bertahan dari seranganku yang selanjutnya?"

Cling cling cling cling

Suara logam berdenting dan bergesek terdengar. Lipan di sekitar tubuh Kinum terlihat bergerak, memutari tubuhnya. Namun, tiba-tiba, suara itu berhenti. Lipan itu berhenti bergerak.

"Aku mengurungkan niatku. Akan kubiarkan kalian hidup. Tapi, camkan ini baik-baik. Kami, Enam Pilar, menginginkan kalian segera mencabut isu perang dingin ini. Ketahui lah, Enam Pilar sudah bersabar terlalu lama."

Dengan peringatan itu, Kinum pergi.

Jeanne tidak mengejarnya. Dia hanya berdiri di depanku

Ketika Kinum pergi, tanpa aku sadari, tubuhku kembali tergeletak di atas aspal. Aku tidak ingin bergerak. Aku, hanya ingin tiduran di sini. Lugalgin, kamu dimana? Aku takut.

"Emir, Ufia, kalian baik-baik saja?"

Tanpa aba-aba, Jeanne menusuk jariku dengan pisau.

"Aww!"

Aku langsung bangkit dan memegang jariku. Padahal jariku sudah penuh dengan plester, tapi Jeanne menambah luka dengan begitu mudahnya. Tampaknya dia melakukan hal yang sama pada Ufia.

Namun, aku harus berterima kasih pada Jeanne. Kalau dia tidak menusuk jariku, mungkin aku masih tergeletak di tanah. Ketika rasa takut menyelimutimu, rasa sakit adalah cara tercepat menyadarkan pikiranmu. Selain itu, aku juga harus berterima kasih karena dia membuat Kinum menjauh dariku. Kalau tidak, mungkin aku sudah mengompol lagi.

Aku melihat ke arah Jeanne. Pahanya sudah berlumuran darah. Tampaknya dia menyadarkan dirinya dengan menusuk paha.

"Apa yang kamu lakukan? Kamu yang bermasalah. Cepat duduk!"

Kami, Ufia dan aku, merendahkan Jeanne dan mendudukkannya di atas aspal.

Di kejauhan, aku melihat orang-orang di markas militer ini mendatangi kami. Aku tidak bisa menyalahkan mereka karena baru datang. Maksudku, bahkan aku saja tidak berkutik di depan Kinum, apalagi mereka?

Tapi, tidak kukira sosok Kinum dari Agade akan muncul di sini. Agade adalah satu dari enam mafia terbesar di Kerajaan Bana'an. Enam Mafia ini menyebut diri mereka sebagai Enam Pilar. Komoditas utama Agade adalah senjata. Jika ada pemberontakan, mereka akan menjual senjata pada pihak pemberontak maupun pihak Bangsawan yang diserang. Hal yang sama juga terjadi ketika ada perang geng atau perang mafia.

Kinum adalah pemimpin Agade. Tentu saja kami tahu kalau nama itu bukanlah nama aslinya. Tapi, itu tidak penting! Di masa lalu, Kinum, seorang diri, mampu menghancurkan mafia kelas tengah dengan mudahnya. Bahkan rumor mengatakan, dia melakukannya tanpa membiarkan pakaiannya terciprat darah lawan.

Dulu, aku berpikir cerita itu hanyalah cerita yang dibesar-besarkan, hiperbola. Namun, setelah menghadapinya secara langsung, aku sadar kalau cerita itu tidak berlebihan. Bahkan, kini, aku mengerti kenapa kami, agen Schneider, mendapatkan peringatan untuk segera kabur jika berhadapan dengannya.

"Sial, padahal besok aku harus ke Mariander."

"Tuan Putri, jangan khawatirkan hal itu. Kita harus segera merawat lukamu."

"Ufia benar. Kita harus segera merawat lukamu."

"Itu urusan gampang. Kita harus mengirimkan informasi ini pada ayah."

Jeanne mengabaikan ucapan kami.

Aku paham kalau kamu khawatir, tapi setidaknya pikirkan dulu tubuhmu sebelum yang lain.

"Iya, iya, kita akan sampaikan informasi ini pada ayah setelah selesai merawat lukamu."

Aku mengubah Krat menjadi pisau dan menyobek celana Jeanne. Ufia langsung menyiram paha Jeanne dengan air dan menekannya dengan handuk.

"Emir, apa kamu mendengar ucapan Kinum tadi?"

"Ya, aku mendengarnya, tapi, maaf, aku tidak mampu mengingatnya. Rasa takutku menguasaiku tadi."

"Begitu ya," Jeanne memaklumiku. "Kalau begitu, biar aku ulangi ucapannya yang menurutku paling penting. Dia bilang 'Sarru sudah merasa terganggu oleh isu ini'."

"Sarru? Apa itu berarti?"

"Ya, tampaknya, Sarru belum tewas."

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?