Arc 2 Ch 8 - Pertemuan Bilateral

Chapter ini kembali ke Lugalgin. Enjoy....

=======================================

Akhirnya mereka datang juga. Aku sudah berdiri di landasan pacu bandara bersama petugas. Bandara ini sudah disterilkan sejak pagi dan tidak akan ada pesawat yang berangkat atau datang hingga 2 jam ke depan. Bahkan, tidak ada satu pun pengunjung yang berada di terminal ini. Semua pengunjung dan penumpang dialihkan ke terminal lain. Wartawan pun hanya mampu mengambil gambar dari terminal lain tersebut.

Pengamanan ini sangat ketat, terlalu ketat. Apa pihak Bana'an meminta Mariander melakukan pengamanan ini untuk memperkuat kesan mereka sedang perang dingin? Meski pihak Mariander tidak menyebarkannya, tapi bisa saja Bana'an meminta bantuan mereka.

Ya, aku tidak peduli karena pengamanan ini mempermudah pekerjaanku.

Akhirnya, jet pribadi yang membawa Jeanne dan lain mendarat. Aku melepas penutup telinga dan mendatangi tangga yang turun dari jet itu.

Jeanne muncul diikuti Ufia, Emir, dan personel keamanan lain dari Bana'an.

Baiklah, ada yang aneh. Jeanne mengeluarkan terlalu banyak keringat. Dan meski hampir tidak terlihat, tapi gerakan kaki kirinya lebih kaku dari kaki kanan. Apa dia terluka? Bisa saja. Kalau benar dia terluka, maka aku bisa memperkirakan kalau dia menaruh nikel di sekitar kaki kiri dan mengendalikannya.

Aku melihat ke arah Ufia dan Emir. Ufia sudah bisa memandangku tanpa mengalihkan pandangannya. Tampaknya, dia sudah mengatasi kekhawatiran atas penghinaan yang dia lakukan padaku selama ini.

Di lain pihak, Emir mengalihkan pandangannya dariku. Seperti biasa, dia mudah dibaca.

Apa yang terjadi setelah aku pergi ke sini? Ya, akan aku cari tahu nanti.

Sama sepertiku, Ufia dan Emir mengenakan pakaian militer dan amulet. Di bawah pakaian militer kami, tentu saja terdapat pakaian igni. Perlu dicatat kalau amulet tidak memberi jaminan keamanan. Banyak peluru militer yang didesain mampu menembus amulet. Jadi, amulet hanyalah pengamanan terhadap serangan non militer.

Sebagai catatan, peluru yang kugunakan untuk melatih Ufia dan di battle royale bukanlah peluru kelas militer.

Bagaimana dengan saat ini? Tentu saja aku menggunakan peluru kelas militer. Sementara yang lain hanya membawa pistol atau SMG (Sub Machine Gun), aku membawa kotak arsenalku yang berbentuk peti mati di punggung. Aku sadar kalau aku mencolok. Namun, lebih baik berjaga-jaga lebih daripada menyesal kemudian.

Bersamaku adalah rombongan penyambut dari Kerajaan Mariander, beberapa bangsawan dan satu Pangeran. Pangeran ini adalah Karisma Kai Behequem. Dia adalah putra mahkota Kerajaan Mariander. Berbeda dengan kerajaan Bana'an yang bangsawannya memiliki rambut hitam, bangsawan Mariander didominasi oleh rambut pirang.

Ketika Jeanne turun, Pangeran Karisma merendahkan tubuh dan meraih tangan Jeanne, sebuah gestur yang umum dilakukan terhadap tamu kerajaan.

"Terima kasih telah datang ke Kerajaan Mariander. Adalah sebuah kehormatan untuk menyambut kedatangan Tuan Putri Jeanne."

"Kehormatan adalah milik kami. Terima kasih karena Mariander sudi menerima kunjungan Kerajaan Bana'an."

Mereka bertukar basa-basi tata krama kerajaan.

Jadwal hari ini adalah makan siang bersama bangsawan kerajaan lalu dilanjutkan dengan kunjungan ke fasilitas pemerintah. Di saat kunjungan, Jeanne dan pihak Mariander akan mendiskusikan hubungan dan kerja sama dua negara dan sebagainya.

Untuk besok, kami akan naik pesawat dan pindah kota di pagi hari. Kami akan mengunjungi beberapa panti asuhan, fasilitas kesehatan, dan sekolah. Hari kedua diisi dengan kegiatan sosial. Sesuai permintaan Jeanne, acara sosial akan dilakukan di kota lain.

Di hari ketiga, acaranya adalah liburan kerajaan dan lalu ditutup dengan pesta di malam hari. Hari keempat, kami sudah bisa kembali ke Bana'an.

***

Aku tidak pernah mendatangi pertemuan bilateral antar kerajaan. Namun, tidak kuduga atmosfernya terasa begitu familier bagiku. Kenapa aku bilang familier? Mudah saja. Suasana dan prosesnya mirip ketika dua mafia melakukan perundingan.

Jeanne dan Karisma masing-masing duduk di sebuah kursi, yang tampak mahal, yang dipisahkan oleh sebuah meja bundar. Masing-masing pengawal berdiri di belakang tokoh utama.

"Tidak bisa. Kami tidak bisa memberikan bantuan lebih dari ini tanpa adanya kompensasi yang setara."

"Tapi Kerajaan Bana'an telah memberikan bantuan kepada kota Ernesti yang beberapa bulan lalu mengalami bencana besar kan? Tanpa bantuan kami, aku tidak yakin Ernesti sudah berdiri lagi seperti sekarang."

"Kami tidak meminta bantuan kalian. Kalian sendiri yang datang sendiri dan membawa bantuan. Bahkan tanpa bantuan kalian, kami bisa membangun Ernesti kembali tanpa masalah?"

"Benarkah itu? Apa anda bisa mengatakan itu ke hadapan para penduduk Ernesti?"

Aku tidak akan pernah menduga kalau bantuan terhadap bencana gunung api di Ernesti akan dibawa-bawa ke meja diskusi.

Yup, mereka tidak jauh berbeda dari mafia. Mereka sama-sama menggunakan ancaman dan membawa-bawa jasa yang pernah mereka lakukan.

"Baiklah kalau begitu, kami akan menyanggupi permintaanmu untuk izin ekspor barang ditambah. Namun, hanya untuk produksi kulit. Tidak lebih. Tidak ada pengecualian juga untuk pajak produksinya."

Akhirnya permintaan penambahan volume izin ekspor produksi dan kerajinan kulit disetujui oleh Pangeran Karisma.

"Tapi sebagai gantinya, Kerajaan Bana'an harus mengirimkan beberapa ahli pengrajin kulit untuk mengajar di beberapa sekolah di Mariander."

"Baiklah, kami setuju dengan syarat itu."

Jeanne tidak mengajukan keberatan sama sekali. Tampaknya dia sudah menduga permintaan Karisma.

Dari informasi yang kumiliki, Kerajaan Mariander tidak memiliki alat dan pengrajin kulit sebagus Bana'an. Oleh karena itu, banyak kerajinan kulit yang beredar di pasar gelap. Dan ya, tentu saja, aku terkadang memperjual belikan kerajinan kulit Bana'an kepada orang Mariander.

"Lanjut ke pembahasan selanjutnya, yang kebetulan adalah masalah topik terakhir. Masalah pemberontakan di perbatasan."

Akhirnya negosiasi ini tiba di penghujung acara.

Pembahasan yang terakhir adalah mengenai pemberontakan di kerajaan ini.

Dari informasi yang kudapatkan kemarin, muncul pemberontak di daerah-daerah tertinggal, daerah terluar, dan daerah terpencil. Sebenarnya, Kerajaan Bana'an juga memiliki masalah pemberontakan yang sama, tapi skalanya belum sebesar Kerajaan Mariander.

Menurut informasi, pada satu dari tiga hari ketika Jeanne melakukan kunjungan, kelompok pemberontak ini akan melancarkan serangan. Antara mereka ingin Kerajaan Bana'an membantu mereka atau mereka hanya ingin uang tebusan. Masalah ini lah yang harus aku hadapi dalam tiga hari ke depan.

Aku jadi penasaran siapa sponsor utama pemberontakan ini? Mungkin pihak asing, mungkin juga bangsawan kerajaan ini.

"Kelompok pemberontak ini menyebut mereka sebagai True One." Karisma memberi penjelasan singkat. "Mereka memiliki tujuan untuk menggulingkan sistem kerajaan dan monarki di Mariander dan menggantinya dengan sistem lain. Dari informasi yang kami dapatkan, mereka menganggap sudah waktunya demokrasi mengambil alih. Sistem kerajaan dan monarki sudah tidak memiliki tempat di dunia ini."

"Tampaknya kita memiliki masalah yang sama untuk hal ini." Jeanne sependapat dengan Karisma. "Tapi, apa kelompok ini sudah menjadi ancaman yang cukup serius sehingga dibawa dalam diskusi ini?"

"Ya, tentu saja."

Aku penasaran siapa yang membuat nama itu, True One. Nama yang benar-benar aneh. Sederhana, tapi aneh. Kenapa tidak sebut saja diri kalian pasukan revolusi atau para revolusioner, itu lebih sederhana dan lebih jelas kan?

"Benar," Karisma membenarkan Jeanne. "Dan kebetulan anda membawa orang yang mungkin dapat membantu kami."

Pangeran Karisma diam. Dia hanya terdiam dan mengarahkan pandangannya pada....... aku.

Aku menoleh ke samping, memastikan kalau dia tidak memandang ke orang lain. Tapi tidak! Yang lain juga memandang ke arahku. Bahkan, Jeanne sedikit memutar lehernya dan melihat ke arahku.

"Saya?"

Aku pura-pura bodoh.

"Benar."

Tiba-tiba saja sebuah nampan dengan dokumen melayang dari depan Pangeran Karisma. Nampan itu berhenti di depanku dan aku mengambil dokumen di atasnya.

Ketika aku bilang melayang, Pangeran Karisma tidak melemparkannya. Dia menggunakan pengendaliannya untuk membuat nampan ini melayang.

Aku pun membukanya dan melihat beberapa nama dan foto di dalamnya.

"Coba cek pada nama Etana."

Aku membolak-balik dokumen di tangan, mencari orang bernama Etana. Meski aku sudah mendapatkan informasi ini sebelumnya, tapi aku tidak mungkin mengatakannya.

Akhirnya aku menemukannya. Laki-laki dengan rambut coklat panjang dikuncir. Wajahnya terlihat tidak terlalu mengancam, tapi matanya berbeda. Matanya terlalu tajam untuk wajahnya yang tampak polos. Yang cukup mencolok adalah dagunya yang lebar. Dan ya, satu kolom yang menjelaskan semua.

Pengendalian : tidak ada.

"Dia, seorang inkompeten?"

"Ya, benar. Setidaknya, itulah informasi yang kami miliki."

Pangeran Karisma membenarkan ucapanku.

Aku juga tertarik dengan laki-laki ini. Jarang sekali ditemukan seorang inkompeten di zaman sekarang. Tidak. Bahkan kata jarang masih terlalu melebihkan.

Dan ya, dia sama sepertiku. Well, sama, tapi ada aspek yang berbeda.

"Apakah ada informasi yang bisa anda berikan mengenai seorang inkompeten? Kami tidak memiliki satu orang pun inkompeten di kerajaan ini. Etana adalah satu-satunya inkompeten di kerajaan ini. Lalu," Pangeran Karisma menambahkan. "Tidak peduli baik dia atau dirimu, tampaknya, kalian para inkompeten memiliki kemampuan yang luar biasa. Kalian berdua mampu diakui dan mendapatkan posisi yang cukup tinggi di dunia kalian. Aku mencurigai ada sesuatu yang kalian miliki yang tidak kami ketahui."

Tidak semua inkompeten sukses seperti dia dan aku. Tapi, ini bahasan untuk lain kali.

"Apa dia seperti kamu?"

Tiba-tiba sebuah suara berbisik di sebelahku.

Aku sedikit menoleh dan melihat Emir yang mendekatkan wajahnya ke dokumen.

Yang dimaksud Emir seperti aku bukanlah kami sama-sama inkompeten, tapi kami memiliki kemampuan yang sama, menghilangkan pengendalian orang lain.

"Menurutmu?" Aku berbisik padanya dan menunjukkan sebuah senyum.

Baiklah, aku tidak mungkin menjelaskan kemampuanku yang sebenarnya pada orang-orang di ruangan ini. Namun, aku juga tidak mungkin mendiamkan pertanyaan pangeran Karisma.

Tapi, tentu saja, aku melihat ke Jeanne sebelum memberi jawaban. Dia mengangguk pelan.

Aneh, aku kira dia akan meminta sebuah persyaratan pada Pangeran Karisma sebelum aku menjawabnya.

Apa yang kamu rencanakan?

"Tidak banyak informasi yang bisa saya berikan," aku menjawab. "Yang jelas adalah, orang-orang seperti kami terbiasa hidup menggunakan tangan dan kaki kami sendiri. Oleh karena itu, saya bisa bilang, kami memiliki kelincahan, kekuatan, dan kemampuan fisik yang lebih hebat dari orang normal, bahkan tentara. Sederhananya, spek fisik kami lebih tinggi."

Raut wajah Pangeran Karisma tidak berubah.

"Dan satu lagi," aku menambahkan. "Kalau saya pasti akan mempelajari dan menguasai semua jenis senjata yang ada. Bagi saya, variasi senjata adalah sebuah keunggulan."

Di masa ini, menguasai semua jenis senjata adalah sebuah keunggulan yang sangat besar. Ketika orang-orang dengan pengendalian harus menyesuaikan diri dengan satu senjata, kami bisa menggunakan senjata apapun semau kami.

Orang-orang dengan pengendalian harus membiasakan diri dengan satu senjata karena kalau bentuk benda yang digunakan berbeda, maka tingkat konsentrasi yang dibutuhkan juga berbeda. Oleh karena itu, jumlah lebih diutamakan dibandingkan variasi oleh para pengguna kekuatan.

Ambil contoh Emir. Turret tank yang dia kendalikan bisa mencapai angka 6 atau bahkan lebih. Namun, tidak terdapat perbedaan variasi bentuk dari semua turret tank itu.

Ufia juga sama. Kalau dia menggunakan pedang dengan bentuk lain, misal lebih kecil, dia tidak akan bisa melakukannya dengan baik. Ada kemungkinan besar dia menggunakan terlalu banyak pengendalian pada pedangnya. Hal ini membuat seolah-olah dia mengayunkan ranting, tenaganya tidak akan terkumpul dan tersalurkan dengan efektif. Refleks tubuhnya tidak terlalu terlatih.

Namun, kami para inkompeten berbeda, atau setidaknya bagiku. Bagi kami, variasi senjata adalah hal yang terpenting. Kami tidak menggunakan konsentrasi dan pikiran kami hanya untuk mengendalikan benda. Kami mengendalikan benda dengan tenaga fisik. Pikiran hanya digunakan untuk menyusun strategi dan membaca gerakan lawan. Kami, yang lebih sering menggerakkan tubuh, lebih mudah menguasai semua senjata karena tubuh kami akan mengingatnya secara refleks.

Ya, menurutku, hanya itu sih kelebihan inkompeten. Namun, kalau orang yang bersangkutan tidak melakukan latihan fisik, maka dia tidak akan memiliki kelebihan itu.

Itu tidak memasukkan faktor penghilang pengendalian karena aku tidak tahu apakah semua inkompeten memilikinya.

"Hmm, begitu ya." Pangeran Karisma memberi respon lemah. "Tampaknya laporan dimana dia menggunakan lebih dari satu senjata bukanlah sebuah kebohongan."

Hahaha, tampaknya dia tidak puas dengan jawabanku.

"Baiklah, demikian saja untuk diskusi ini." Pangeran Karisma menutup diskusi. "Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk diskusi ini."

"Sama-sama. Kami juga mengucapkan terima kasih karena Kerajaan Mariander sudah sudi menerima kami."

Pangeran Karisma dan Jeanne sama-sama berdiri.

Aku berdiri di samping Jeanne dan memberikan tanganku. Dia terlihat cukup terkejut ketika aku memberikan tanganku.

Sudah, jangan pura-pura. Kamu terlalu memaksakan diri dengan kakimu. Setidaknya, kalau kamu sudah berdiri, bebanmu lebih ringan.

Jeanne menghela nafasnya pelan. Dia pasti merasa kalah ketika aku mengetahui kalau dia terluka.

Jeanne pun menerima tanganku dan aku membantunya berdiri.

Jeanne dan Pangeran Karisma mendekat dan berjabat tangan. Dengan begini, sesi diskusi, atau aku bilang negosiasi, selesai.

Kami semua keluar dari ruangan dan mengadakan jumpa pers. Jumpa pers berjalan normal tanpa adanya serangan atau apapun. Setelah jumpa pers selesai, kami pun meninggalkan ruangan konferensi.

"Seharusnya, saya dan adik saya yang akan mendampingi anda dari hari ini hingga hari terakhir. Sayangnya, saya ada agenda mendadak dari Yang Terhormat Paduka Raja dan adik saya pun baru menyelesaikan panggilan Yang Terhormat Paduka Raja. Tampaknya ada urusan gawat darurat. Saya meminta maaf karena hanya adik saya yang akan menemani anda."

"Ah, tidak apa. Kami tidak keberatan."

Agenda apa yang lebih penting dibandingkan menemani tamu negara? Apakah itu? Ada rumor yang mengatakan masalah suksesi kerajaan, ada juga yang mengatakan masalah pemberontakan.

Namun, menurutku, Jeanne yang disambut oleh putra mahkota sudah mendapatkan perlakuan yang lebih dari cukup. Normalnya, hanya putra mahkota yang pantas disambut oleh putra mahkota. Dengan kata lain, hanya Maxwell yang seharusnya mendapatkan perlakuan seperti ini.

Begitu kami tiba di lobi gedung, terlihat sebuah sosok sudah menunggu kami. Sebuah sosok yang akan membuat Emir terkejut.

"Perkenalkan, ini adalah adik saya yang akan menemani anda. Namanya adalah Inanna Arc Spicante."

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?