Arc 2 Ch 10 - Kebohongan Berlanjut

"Uuuuu!!!!!"

Aku mengobati luka di paha kiri Jeanne sementara Emir dan Ufia memegangi tubuhnya. Jeanne sendiri menggigit handuk yang sudah digulung untuk meredam teriakan.

"Dan, di luar dugaan, Tuan Putri Inanna sudah mengetahui kalau kamu terluka." Aku menyuntikkan morfin ke paha Jeanne. "Tapi jangan khawatir, Tuan Putri Inanna mengatakan kalau tidak seorang pun selain dia yang mengetahuinya."

Ya, aku juga cukup terkejut. Sebelum kami berpisah, masuk ke kamar masing-masing, Inanna mendatangiku dan memberi sebuah kotak.

Di saat itu, dia berbisik, "Ini untuk meredakan rasa sakit pada kaki Jeanne. Jangan khawatir, cuma aku yang tahu kok."

Setelah mengatakan hal itu, dia hanya tersenyum kecil.

Ngomong-ngomong, kamar Inanna ada di samping kamar ini, kamar 3 perempuan. Kamarku ada di seberang lorong dengan satu pengawal lain.

Akhirnya, perawatan selesai dan aku sudah mengganti perban di paha Jeanne. Jeanne pun terbaring lemas di atas kasur, ditemani Ufia dan Emir.

Aku lebih memilih duduk di sofa, agak jauh dari kasur.

"Baiklah," aku membuka percakapan. "Aku paham kenapa kalian tidak membawa dokter, yaitu untuk menghindari orang kerajaan ini tahu kalau Jeanne terluka. Tapi, aku tidak paham kenapa Jeanne bisa terluka separah ini. Ada yang bisa menjelaskan?"

Emir dan Ufia membuang wajah. Mereka tidak mau memandangku. Jeanne juga melakukan hal yang sama. Meskipun Jeanne bisa berbohong, entah kenapa dia lebih memilih untuk tidak bicara, dengan memalingkan wajah.

"Aku bilang," aku menahan nafas sejenak, memejamkan mata. Aku membuka mata dan melepaskan haus darah sambil menekan nada bicaraku. "Ada yang bisa menjelaskan?"

Mereka bertiga masih tidak menjawab. Namun, kali ini, mereka tidak bisa menjawab bukan karena mereka tidak mau, tapi tidak bisa. Mata mereka melotot, nafas tersengal-sengal, keringat mengalir.

Tunggu dulu. Apa mereka serius?

Aku menarik kembali haus darah yang kupancarkan. Seketika itu juga, Ufia dan Emir terjatuh dari kasur, ke lantai. Bahkan, mereka berdua sudah menitikkan air mata, sedikit. Hanya Jeanne yang belum menitikkan air mata.

"Tunggu dulu, apa kalian benar-benar agen Schneider?"

"Gin," Jeanne menjawab. "Pangkat Emir masih di bawahku. Dan Ufia, dia belum ada satu bulan menjadi agen—"

"Jadi," aku menyela Jeanne. "Kerajaan memperkerjakan orang yang tidak bisa menahan haus darah pada level itu? Apa kalian kekurangan orang?"

"Sayangnya, ya. Kalau tidak kekurangan orang, ayah tidak akan pernah memperkerjakan remaja seperti kami. Sebagai catatan, Mariander juga mengalami masalah yang sama."

"Aku tidak peduli jika Mariander mengalami masalah yang sama."

Kukira kalian diperkerjakan karena kemampuan kalian, bukan karena kekurangan orang. Kalau seperti itu, kerajaan hanya sedikit di bawah pasar gelap yang memperkerjakan anak-anak.

"Baiklah, aku tidak akan membahas kompetensi kalian, tapi bisa tolong jelaskan bagaimana kamu mendapatkan luka itu?"

"Baiklah. Tapi, sebelumnya," Jeanne menghentikan pembicaraan kami. "Bisa tolong sadarkan mereka?"

Ah, iya, aku hampir lupa kalau Emir dan Ufia masih terkapar di lantai.

Aku mendatangi dan menampar mereka cukup keras.

"Aduh!"

"Aw!"

Akhirnya mereka berdua sudah sadar.

Sementara Ufia kembali fokus pada Jeanne, Emir menatapku tajam-tajam sambil menggertakkan giginya, masih dengan sedikit air mata di ujung kelopak. Dia pasti kecewa dengan caraku meminta penjelasan dan menyadarkannya.

Aku mengabaikannya.

Jeanne pun menceritakan apa yang terjadi. Sederhananya, mereka diserang oleh sosok yang mereka yakini adalah Kinum ketika berlatih. Awalnya, mereka tidak mau mengatakan kenapa Kinum menyerang mereka. Namun, setelah aku mengatakan kalau aku tahu perang dingin Bana'an dan Mariander adalah palsu, mereka pun menjelaskannya. Jadi, isu perang dingin tersebut membuat Sarru dan Enam Pilar terganggu.

Meskipun aku ingin menanyakan kenapa mereka menyebarkan isu perang dingin ini, tapi aku mengurungkan niatku. Mungkin ini adalah perintah calon mertua itu dan mereka tidak mengetahui tujuannya.

Di lain pihak, mungkin orang akan menganggap Jeanne bodoh karena melukai dirinya terlalu parah. Namun, dengan tingkat kekebalan haus darah yang tidak terlalu tinggi, aku bisa bilang dia lulus. Dia panik, tapi dia masih bisa mengambil keputusan. Sayangnya, dia tidak bisa mengendalikan tenaganya.

Daripada itu, aku menaruh perhatianku pada hal lain.

"Apa kalian serius? Apa Kinum benar-benar mengatakan hal itu?"

Jeanne terdiam. Dia hanya mengangguk lemah. Emir dan Ufia juga diam, mengonfirmasi jawaban Jeanne.

Sial, kondisi ini benar-benar di luar dugaan. Hanya jalur penyelundupan internasional yang terdampak oleh isu perang dingin. Jadi, aku yang lebih sering berdagang di jalur domestik, tidak benar-benar tahu kalau mereka segeram ini.

Namun, Sarru dan Kinum ya...

Baiklah.

"Aku akan mencoba mencari informasi setelah kita pulang dari sini. Tapi, untuk saat ini, kita akan fokus pada kunjungan ini. Mengerti?"

"Mengerti!"

Tiga perempuan ini menjawabku bersamaan.

***

Tidak ada kendala dan masalah saat makan malam tadi. Jeanne mampu melewati sesi makan malam, dan sedikit berjalan-jalan di kota, dengan lancar. Inanna juga tidak terlalu membebani Jeanne dengan cara sering beristirahat.

Sekarang, mereka bertiga sudah masuk kamar untuk beristirahat. Aku tidak yakin apakah istirahat yang mereka maksud adalah tidur atau masih bangun tapi mengobrol.

Aku, di lain pihak, sedang beristirahat di restoran yang terletak di lantai paling atas hotel. Aku menyantap roti dan minum kopi sambil melihat pemandangan kota. Kota ini benar-benar indah. Kamu bisa melihat gemerlap lampu di setiap sudut kota. Gemerlap lampu yang tersebar tidak terlalu terang, agak sedikit remang, memberikan kesan kalau bintang bertabur di kota ini.

Hart, pengawal Jeanne yang satu kamar denganku, stand by di kamar, berjaga-jaga kalau ada keadaan darurat. Sebenarnya dia memintaku tidur karena aku sudah bekerja dari kemarin. Namun, daripada tidur, aku lebih memilih untuk bersantai di restoran dengan pemandangan indah ini.

Sayangnya, ada kejadian di luar dugaan lain yang terjadi. Ayolah Tuhan, kenapa Kamu suka sekali mengacaukan rencanaku?

Di depanku, di balik meja, duduk seorang perempuan yang seharusnya tertidur di kamarnya, Tuan Putri Inanna. Ketika aku datang ke front desk restoran, mereka bilang ruang pribadi sudah disiapkan untukku.

Aku tidak pernah memesan ruang pribadi. Namun, aku pun penasaran dan mendatangi ruang pribadi yang dimaksud. Di dalam, Inanna sudah menantiku. Selain itu, tidak peduli baik di dalam maupun di luar ruangan ini, aku tidak melihat satu pun pengawal. Dengan kata lain, tampaknya, dia menyelinap.

"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?" aku langsung to the point.

Inanna tersenyum. Tampaknya dia senang ketika aku tidak formal. Aku membuang sikap formalku karena ruangan ini adalah ruangan pribadi, tanpa kamera pengawas atau apapun.

"Topik yang sama dengan siang ini," Inanna menjawab. "Aku ingin mengetahui alat penghilang pengendalian itu. Dan jangan bilang alat itu adalah rahasia agen Schneider. Aku sudah tahu kalau kamu bukan agen Schneider."

"Jeanne mengatakannya padamu? Atau kamu mencari tahu sendiri? Ya, aku tidak peduli bagaimana kamu tahu karena itu hanya bualanku."

Aku menjawab pertanyaanku sendiri sebelum Inanna memberi jawaban.

"Kamu dan Jeanne dekat ya. Seolah-olah kalian—"

"Iya, kami dekat. Kami teman game online. Kami sering melakukan pertemuan online dan sesekali berlibur ke tempat yang sama untuk bertemu. Puas?"

Inanna meninggikan nadanya. Senyumnya menghilang. Aku tidak lagi melihat Inanna yang tenang dan santai. Kedua tangannya menggenggam erat-erat. Kalau dibiarkan, bisa-bisa telapak tangannya terluka oleh jarinya sendiri.

Aku menyeruput kopi, pelan, membiarkan uap kopi menghalangi pandanganku ke Inanna. Tampaknya perempuan ini terdesak sekali.

"Apa untungnya untukku?"

"Apa aku harus meminta Jea—"

"Jeanne tidak bisa memerintahku untuk hal ini," aku menyela Inanna. "Kontrakku hanyalah memastikan keamanan Jeanne selama di sini, tidak lebih dan tidak kurang.

"Sebenarnya. bisa saja aku menolak permintaan Jeanne untuk membuang formalitas ke kamu, tapi aku tidak mempermasalahkannya karena itu hanyalah hal minor. Namun, ini adalah urusan yang berbeda."

Inanna menggertakkan giginya. Dia melihatku tajam-tajam, dalam-dalam. Beberapa kali mulutnya terbuka, tapi tidak terdengar satu kata pun.

"Apa yang kamu inginkan?" Inanna menundukkan kepalanya,

Hmm, aku tahu kalau dia sedang putus asa, tapi, entah kenapa, aku ingin sedikit menjahilinya.

Aku meletakkan cangkir kopi. "Aku mau kamu meninggalkan statusmu sebagai bangsawan. Tinggalkan kerajaan ini dan menjadi istri keduaku. Bagaimana?"

Tentu saja aku hanya bercanda. Untuk apa aku memiliki istri lebih dari satu? Apalagi dua-duanya berasal keluarga kerajaan. Aku berani bilang pasti Inanna sama seperti Emir dimana dia tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga.

Inanna hanya terdiam. Dia masih menundukkan kepalanya. Poninya, dan lampu ruangan yang agak remang, membuatku sulit melihat raut wajahnya.

Baiklah, sudah cukup bercandanya.

"Aku hanya—"

"Baiklah, aku akan melakukannya," Inanna menyelaku.

Sebuah kesunyian muncul, untuk sesaat.

"...hah?"

"Aku akan memenuhi permintaanmu." Inanna berdiri dari kursinya, meletakkan wajahnya tepat di depanku. "Aku akan meninggalkan statusku sebagai bangsawan, meninggalkan kerajaan ini, dan—"

"Aku hanya bercanda."

"...."

Dia terdiam. Aku terdiam. Kami membiarkan ruangan ini berbicara, yang adalah diam.

Perlahan, Inanna kembali duduk. Dia menundukkan kepalanya, lagi.

Baiklah, aku mengaku bersalah. Aku tidak menyangka dia akan mengiyakan syarat konyol yang kuajukan. Tampaknya, dia benar-benar terpojok.

Dan lagi, kalaupun Inanna setuju, dia adalah seorang putri selir dari kerajaan ini. Dia tidak bisa meninggalkan statusnya begitu saja. Di Kerajaan ini, tidak ada cara yang bisa ditempuh untuk meninggalkan status seperti Battle Royale di Kerajaan Bana'an, kan? Iya kan?

Baiklah, kembali ke pokok masalah.

"Kenapa kamu menginginkan informasi mengenai alat penghilang pengendalian ini? Kalau hanya menekan pemberontak, aku yakin kerajaan ini pasti sanggup melakukannya kan?"

"Itu," Inanna memberikan jawaban tanpa mengangkat wajahnya. "Aku mendapatkan informasi kalau wilayah keluargaku adalah target True One yang selanjutnya, Provinsi Afee. Ibu dan adikku terancam."

Sistem selir di Mariander berbeda dengan Bana'an. Kalau semua selir Kerajaan Bana'an hidup dan mengatur permasalahan wilayah dari ibu kota. Selir di kerajaan Mariander tidak diperbolehkan meninggalkan wilayahnya tanpa seizin dari Yang Mulia Paduka Raja. Jadi, seperti kata Inanna, kalau ada serangan, keluarganya akan terancam.

"Kenapa tidak meminta bantuan pada Yang Mulia Paduka Raja? Atau minta bantuan melalui militer kerajaan? Atau agen Gugalanna yang lain?"

Inanna terdiam sejenak. Dia sudah tidak menundukkan wajahnya, jadi aku bisa melihat matanya yang sedikit membelalak. Sedikit. Sangat sedikit.

Apa yang membuatmu terkejut? Fakta kalau aku menyimpulkan kalau kamu adalah agen Gugalanna? Kamu pasti bercanda kan?

Inanna menghilangkan keterkejutannya dan menjawab, "Ibu hanyalah selir di perbatasan. Dia tidak termasuk dalam 10 selir favorit Yang Mulia Paduka Raja, jadi permintaan dari wilayah kami tidak akan mendapat prioritas.

"Kalaupun ibu tewas dalam serangan, maka Yang Mulia Paduka Raja tinggal memilih salah satu dari kami, putra putrinya, sebagai pengurus Afee yang baru atau memberikan pengelolaan Afee pada selir yang lain."

Secara sekilas, sistem ini tampak kejam. Namun di lain pihak, sistem ini membuat masing-masing selir menjadi mandiri, terutama untuk pengamanan dan pengelolaan wilayahnya. Mereka harus memastikan wilayah mereka tetaplah milik mereka dan anak cucunya.

Meskipun tampak sederhana, dimana selir cukup bertahan hidup, tapi sistem ini cukup kompleks. Selain memperkuat militer, selir juga tidak bisa mengelola wilayahnya asal-asalan. Kalau terjadi pemberontakan atau dia dikhianati anak buahnya, maka semua itu akan percuma. Dia harus mengelola dan memerintah wilayahnya sebijaksana mungkin.

"Apakah ini adalah alasan yang sebenarnya kenapa kamu mau menemani Jeanne? Untuk menanyaiku?"

"Tentu saja tidak!" Inanna menolak mentah-mentah. "Aku memang ingin bertemu Jeanne. Kedatanganmu di luar dugaanku. Namun, mungkin, kedatanganmu memberi sedikit harapan padaku."

Aku bisa memahami keadaannya. Namun, sayangnya, aku masih tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Waktunya memfabrikasi sebuah cerita.

"Sederhananya, kamu hanya fokus pada Etana."

"Etana?"

"Ya, Etana," aku menegaskan. "Sederhananya, dia dan aku adalah satu dari SANGAT SEDIKIT orang yang memiliki akses pada alat ini."

Aku menekan pada bagian sangat sedikit, menunjukkan kalau bagian ini adalah bagian terpenting.

"Tunggu dulu! Kamu mengenal Etana?"

"Hanya sekedar tahu namanya." Ya, aku tahu namanya kemarin lusa. "Aku tidak bisa mengatakan banyak. Kalau aku mengatakan lebih dari ini, nyawaku akan terancam. Dan, Etana juga mendapatkan syarat yang sama. Dengan kata lain, hanya dia yang memiliki akses pada alat tersebut."

Inanna terdiam. Dia menatapku tajam-tajam, mencoba mencari secercah kebohongan dari pandanganku. Sayangnya, tidak peduli selama apapun kamu mencarinya di mataku, kamu tidak akan bisa menemukannya.

"Seberapa yakin kamu kalau hanya dia yang memiliki akses? Bisa saja ada orang lain di True One yang memiliki akses juga, kan?"

"Tidak. Aku berani menjamin," aku meneruskan bualanku. "Kami semua memiliki daftar nama orang yang memiliki akses ke alat ini. Kalau ada isu alat ini digunakan tapi tidak ada nama yang kami kenal, kami harus mencari siapa pengkhianatnya."

"Tapi—"

"Seperti yang kubilang sebelumnya," aku menyela Inanna. "Hanya sebatas ini informasi yang bisa kuberikan."

Inanna terdiam setelah aku menegaskan ucapanku, atau lebih tepatnya, bualanku. Beberapa saat berlalu, dengan kesunyian. Dia memikirkan baik-baik informasi palsu yang baru saja dia dapatkan dariku. Aku yakin dia tidak puas dengan jawabanku.

Akhirnya, Inanna memecahkan kesunyian ini.

"Terima kasih, Lugalgin. Aku tidak akan menyia-nyiakan informasi ini."

"Dan pastikan tidak ada orang lain tahu."

"Ya, tentu saja," Inanna menyanggupi permintaanku. "Kalau ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk informasi ini, katakan saja. Aku berhutang budi padamu."

Hutang ya. Hmm... biar aku tagih sekarang saja hutang ini.

"Apa yang kamu lakukan di Bana'an saat itu?"

"Maaf, aku tidak bisa menjawabnya."

Inanna menjawab dengan cepat, tanpa jeda, tanpa waktu berpikir.

Ah, sayang sekali, hutangnya belum terbayar.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?