Arc 2 Ch 14 - Operasi Penyelamatan

“Gunakan Tangga dan jangan tergesa-gesa.”

Aku memberi instruksi pada orang-orang yang baru kulepaskan. Sayangnya, tidak seorang pun menuruti instruksiku. Mereka berlari tergesa-gesa.

Dari informasi yang kudapat dari salah satu pemberontak, setelah kuperas dan kuancam tentu saja, para tawanan dikumpulkan di lantai 18, 29, 31, 44, dan 50. Keluarga Inanna ada di lantai 50 dan karyawan ada di lantai lainnya. Aku sudah membebaskan tawanan di lantai 18, 29, dan 31. Sekarang, aku akan menyelamatkan tawanan di lantai 44.

Ah, ngomong-ngomong, aku membiarkan satu pemberontak, yang memberi informasi, hidup. Aku berjanji padanya. Hanya kedua tangannya saja yang kulumpuhkan.

Setelah masuk ke lobi, aku tidak pergi ke atas, tapi ke basemen. Seperti gedung komersial pada umumnya, sakelar listrik berada pada basemen.

Setelah itu, aku mengirim pesan ke Inanna agar mereka menyalakan jammer dan memutus semua komunikasi gedung. Dengan demikian, True One tidak bisa menghubungi siapa pun.

Meski awalnya Inanna khawatir hal ini akan membuat True One panik dan membunuh semua tawanan, aku berhasil meyakinkannya. Aku mengatakan kalau saat ini True One memilih untuk mengeksekusi semua tawanan, mereka tidak akan bisa membuat klaim kalau pemerintah yang memulai.

Kalau semua orang di dalam tewas, maka pemerintah pun bebas membuat cerita apa pun, termasuk mengklaim kalau True One telah menyebutkan nama sponsor utamanya. Kalau hal itu terjadi, sponsor di balik True One, mau tidak mau, akan memutus semua hubungan.

Aku yakin True One tidak menginginkan hal ini. Itu kalau mereka cukup pintar sih. Tapi kalau mereka semua bodoh, maka semua tawanan pun akan tewas saat itu juga. Dan, untungnya, mereka cukup pintar, atau ragu-ragu.

Setelah Jammer dinyalakan, tentu saja sinyal radio, handi talki, mereka pun mati. Jadi anak buah yang di bawah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka hanya bisa menunggu orang dari atas turun ke bawah, berjalan melewati tangga, dan memberikan perintah langsung.

Misi ini cukup repot karena tidak seorang pun dari mereka mengenakan penutup muka. Jadi, aku tidak bisa mengambil pakaian mereka dan menyelinap. Oleh karena itu, satu-satunya jalan hanyalah masuk secara paksa.

Di lantai 18, aku melepaskan bom asap, membuat pemberontak menghabiskan peluru mereka sebelum akhirnya aku masuk dan membunuh mereka. Di lantai 29, aku mencoba melakukan hal yang sama tapi gagal. Mereka sabar menanti hingga asapnya menghilang. Aku pun menggunakan peti arsenal sebagai perisai, menghabisi mereka semua dari baliknya.

Di lantai 31, aku tidak bisa menggunakan peti arsenal sebagai perisai. Mereka sudah bersiap di atas tangga, membuatku tidak bisa bergerak karena harus menahan hujan peluru dari atas. Di saat itu, aku terpaksa menggunakan pelontar granat, meruntuhkan lantai di sekitar tangga. Aku hanya berharap tawanan tidak ada di tempat itu. Dan aku beruntung.

Sekarang, aku sudah ada di lantai 43. Aku memperkirakan metodeku yang sebelumnya tidak akan berguna. Jadi, aku akan mencoba metode lain dengan membawa dua buah tubuh teroris yang sudah tidak bernyawa.

Aku harus bilang misi penyelamatan ini cukup repot. Kenapa? Karena mereka semua menggunakan senjata api, tidak ada seorang pun yang menggunakan pengendaliannya. Kalau mereka semua menggunakan pengendaliannya, misi ini akan sangat mudah.

Tapi, keberuntungan lain yang lain adalah, tangga bangunan ini tidak diletakkan di samping bangunan dan memanjang seperti tangga darurat, melainkan tengah bangunan seperti tangga normal.

“True One di lantai 44!” aku berteriak. “Kalau kalian mau menyerah, aku menjamin nyaw–”

“Jangan bercanda! Kami tidak akan menyerah!”

Dan mereka menyelaku.

Baiklah, jangan salahkan aku. Aku mengambil golok dari peti arsenal dan memotong salah satu tubuh yang kubawa. Pertama, aku lempar kepalanya.

“KYAAA!!!!”

Suara tembakan pun terdengar riuh. Kepala yang aku lempar pun menjadi bulan-bulanan. Menemani suara tembakan itu, sebuah teriakan, entah dari teroris atau tawanan.

Tidak lama kemudian, suara tembakan berhenti. Setelah itu, aku melempar dua buah tangan, lalu kaki. Suara tembakan kembali terdengar setiap aku melempar bagian tubuh. Terakhir, aku melempar badan. Namun, tidak ada suara tembakan lagi kali ini.

Akhirnya, persiapan selesai. Aku meletakkan peti arsenal di tangga dan membawa satu tubuh lain bersamaku. Aku berlari, melompat, dan terjatuh di lantai 44, bersama dengan tubuh tanpa nyawa. Sesuai rencana, mereka tidak melepas tembakan karena mengira tubuh ini, dan aku, hanyalah tubuh tanpa nyawa.

“Hei, apa sudah selesai?”

“Entahlah.”

“Coba kamu periksa.”

“Eh? Aku?”

“Cepat!”

“Ba-baik.”

Tampaknya mereka sedikit berdebat.

Aku masih belum bergerak, menanti. Akhirnya, satu orang berdiri di depanku, di balik tubuh. Dia tidak melihat ke arahku, tapi ke bawah tangga.

“Am—“

Dor

Belum sempat dia mengatakan “aman”, aku sudah menyarangkan peluru di kepalanya. Dengan cepat, aku mengangkat tubuh yang kubawa dan tubuh baru ini di depanku, menjadikan keduanya sebagai perisai.

Peluru pun menghujani dua tubuh ini. Mereka terus melepaskan tembakan. Bahkan, suara ‘cklek cklek’ ketika senjata mereka kehabisan peluru terdengar berkali-kali, mereka tidak langsung mengisi pelurunya.

Aku melepaskan kedua tubuh ini, membiarkannya terjatuh, dan melepaskan tembakan. Dua orang tewas, masih tersisa tiga orang. Ketiga orang itu berlindung di balik tiang penyangga lantai yang memiliki lebar 2 meter.

Sekarang, keadaan terbalik. Para teroris itu berlindung sementara aku melepaskan tembakan. Aku terus melepaskan tembakan sambil berjalan, mendekati mereka.

Cklek cklek cklek cklek

Pistolku kehabisan peluru. Di saat singkat itu, musuh keluar dan mencoba melepaskan tembakan. Namun, belum sempat dia melepaskan tembakan, tubuhnya sudah meledak. Aku sudah melepaskan tembakan dari perisai lengan kiri. Dua orang yang sebelumnya akan keluar kembali bersembunyi.

Alasan kenapa mereka tidak segera mengisi ulang pelurunya tadi adalah karena mereka sudah panik. Teror sudah mengusai mereka setelah aku melempar bagian tubuh rekannya satu per satu. Di saat itu, pikiran mereka sudah tidak jernih. Tubuh mereka hanya teringat untuk menarik pelatuk.

“Bagaimana? Tawaranku masih berlaku. Kalau kalian mau menyerah, aku akan menjamin nyawa kalian. Aku beri kalian waktu lima detik. Satu,” aku mulai berhitung. “dua, tiga,”

“PERSETAN!”

Satu orang keluar dan mengarahkan senjatanya. Belum sempat dia menarik pelatuk, peluru sudah bersarang di kepalanya.

“Empat,” aku masih berhitung. “Li–“

“Aku menyerah!”

Akhirnya.

“Geserkan semua senjatamu ke lantai. Jangan dilempar.”

“Baik,”

Suaranya agak pelan. Pistol dan beberapa senjata api lain pun bergeser di lantai.

Akhirnya, teroris ini keluar dengan kedua tangan terangkat, menunjukkan sosok perempuan bertubuh ramping dengan potongan rambut bob pendek.

Ini perasaanku doang atau akhir-akhir ini aku lebih sering berurusan dengan perempuan? Sebentar, tunggu dulu, apa baru akhir-akhir ini? Atau aku sudah sering tapi aku tidak terlalu peduli? Ya, tidak penting juga memikirkan hal itu.

Tapi, rambut dan mata hitam?

“Bangsawan?”

Dia tidak menjawab. Dia hanya mengalihkan pandangan.

Dari semua anggota True One yang kutemui, baru perempuan ini yang menunjukkan fitur bangsawan. Meski minoritas, rambut dan mata hitam adalah fitur milik bangsawan kerajaan ini juga. Hal ini disebabkan karena dulu Mariander dan Bana’an adalah satu kerajaan, sehingga sebagian dari Bana’an pun bisa muncul di Mariander, begitu juga sebaliknya.

Dugaanku, dia adalah bangsawan yang sudah runtuh. Nama keluarganya sudah hancur karena suatu skandal, jadi gelar bangsawannya pun dicabut.

Dan aku tidak peduli.

“Lepaskan ikatan para tawanan. Kalau aku melihat gelagat aneh sedikit saja, ucapkan selamat tinggal pada dunia.”

Dia mengangguk kecil.

Kami berdua pun berjalan menuju ke arah tawanan.

“Kyaaa!!!!”

“Tolong!!!!”

Para tawanan berteriak ketika kami mendekat. Mereka bukan berteriak karena perempuan itu, tapi karena aku.

Aku tidak heran. Maksudku, saat ini tubuhku bersimbah darah, meskipun bukan darahku. Ditambah lagi, tadi, aku menggunakan tubuh pemberontak sebagai perisai. Mereka juga pasti melihat anggota tubuh yang kulempar satu per satu.

Bahkan, mereka masih tidak berani bergerak setelah ikatannya dilepaskan. Aku kembali ke tangga dan mengambil peti arsenalku.

“Aku dikirim oleh Tuan Putri Inanna. Kalian silakan pergi ke lantai satu dan tentara akan mengamankan kalian.”

Tidak ada respon. Mereka semua terdiam.

“CEPAT PERGI!”

“Ba, baik...”

Akhirnya, mereka pun berlari menuruni tangga, meninggalkan kami berdua.

Di lain pihak, perempuan ini justru melihatku dengan pandangan iba.

“Kenapa?”

“Apa kau tidak kesal? Kau sudah melakukan itu semua untuk menyelamatkan mereka, bahkan bersimbah darah, tapi mereka merasa ketakutan padamu.”

“Aku tidak peduli. Aku bukan orang kerajaan ini.”

“Kalau kau diperlakukan sama di kerajaanmu?”

Perempuan ini tiba-tiba jadi cerewet ya. Ya, tidak apa-apa lah. Aku juga ingin mendapatkan informasi.

“Masih tidak peduli. Aku melakukan ini karena Tuan Putri Inanna memintaku, tidak lebih dan tidak kurang. Setelah ini, dia akan berhutang budi padaku, yang bisa kumanfaatkan di masa depan. Dan lagi, aku juga akan mendapat bayaran tambahan dari Tuan Putri Jeanne.”

Perempuan ini terdiam. Dia hanya membuka mulutnya lebar, tanpa suara.

“Ada yang salah dengan alasanku?”

“Kau mengatakannya seolah-olah kau melakukan ini semua demi sebuah keuntungan. Apa kau tidak memiliki loyalitas terhadap kerajaanmu sendiri?”

“Tidak, aku tidak memiliki loyalitas pada kerajaanku,” Aku menjawab cepat. “Loyalitasku pada kerajaan, bangsawan, dan keluarga Alhold sudah hilang lima tahun yang lalu.”

“Eh?”

“Itu tidak penting. Sekarang, kita harus ke lantai paling atas.”

Aku membuat perempuan ini berjalan di depan sementara kedua tanganku masih siaga di pistol. Meski aku merasa perempuan ini tidak akan memberi perlawanan, tidak ada salahnya berjaga-jaga.

“Nin,”

“Hah?”

“Namaku. Nin Ur Enheduanna.”

“Dari keluarga Enheduanna?”

“Ya.”

Ah, pantas dia bergabung dengan revolusi ini. Enheduanna adalah bangsawan kerajaan ini yang hak atas wilayah telah hilang dan dicabut oleh Raja. Terdapat banyak kejanggalan dan keanehan dalam pencabutan gelarnya sebagai bangsawan.

Informasi yang beredar di pasar gelap adalah kejatuhannya disebabkan oleh keluarga bangsawan lain, Keluarga Tashlultum. Namun, karena Keluarga Tashlultum memiliki posisi yang tinggi, tidak ada seorang pun di kerajaan ini yang berani mengusik mereka.

Bahkan, Raja akan berpikir dua kali kalau dia mau memusuhi keluarga Tashlultum. Kalau sampai hal ini terjadi, bisa terjadi perang sipil di Kerajaan Mariander. Bahkan, ada rumor yang mengatakan kalau keluarga Tashlultum mengincar posisi sebagai Raja. Jadi, ada kemungkinan.

“Apa ini berarti Keluarga Tashlultum adalah salah satu sponsor kalian?”

“Tidak secara langsung. Tapi, ya.”

“Kau tidak peduli walaupun membantu orang yang sudah menghancurkan nama keluargamu?”

“Aku tidak peduli. Karena pada akhirnya, sang Raja lah yang mencabut gelar bangsawan keluargaku. Meskipun rumor dan informasi di pasar gelap sudah jelas, tapi Raja masih saja mencabut gelar keluargaku.”

Dia mengatakan Raja sampai dua kali. Aku bisa melihat kebenciannya terhadap Raja.

Dan, Nin benar. Tidak peduli apapun yang dilakukan oleh keluarga Tashlultum, gelar bangsawan tidak akan bisa dicabut tanpa persetujuan sang Raja.

“Meskipun dalangnya adalah orang lain?”

“Mereka akan mendapatkan giliran. Saat ini, sang Raja. Lalu, mereka. Satu per satu.”

Kemana sosok perempuan yang tampak pemalu dan penakut tadi? Kini, dia tampak bengal dan berontak.

“Aku sudah cukup mendengar soal keluargamu. Katakan, apakah sang selir atau putra pertama yang menjadi orang dalam kalian?”

“Sang kakak. Dia lah orang dalam kami.”

Aku terdiam sejenak. Aku mengatakan itu hanya asal-asalan. Memang ada dasarnya sih, tapi aku tidak menduga dia akan memberi jawaban semudah ini.

“Kau menjualnya?”

“Dia tidak memenuhi kesepakatan. Dia bilang misi ini akan mudah. Tidak ada seorang pun dari kami yang akan tewas. Tapi, sekarang, hanya aku dan empat orang lain yang masih hidup.”

Hahaha. Papsukkal pasti tidak akan mengira yang menggagalkan rencananya adalah kakaknya sendiri. Kalau Inanna tidak memanggilku, mungkin rencana Papsukkal akan berjalan dengan lancar.

“Namamu, kamu belum memberi tahu namamu.”

“Namaku Lugalgin Alhold.”

“Lugalgin Alhold? Lugalgin Regal Knight terkuat itu?”

Seriously, siapa sih yang menyebarkan nama itu?

“Ya, Lugalgin yang itu.”

Aku hanya bisa memijat pelipisku pelan.

“Heeh, Tuan Putri Inanna mendapatkan kartu yang menjanjikan. Atau malah, kamu yang mendapatkan kartu yang menjanjikan.”

Aku tersenyum kecil menanggapinya.

“Kalau kamu mau meninggalkan True One dan berkecimpung di dunia pasar gelap, kamu bisa menghubungiku.”

“Hee.... kamu menawariku pekerjaan?”

“Anggap demikian. Kamu bisa berpikir rasional dan instingmu cukup peka. Dengan sedikit latihan dan didikan, aku bisa menjadikanmu orang yang disegani di pasar gelap.”

Nin tersenyum kecil, “mungkin nanti saja setelah Mariander sudah menjadi republik.”

“Kalau waktu itu tidak kunjung datang, dan kamu lelah, cari saja aku.”

“Baik.”

Akhirnya, kami mencapai lantai 49, satu lantai di bawah lantai terakhir. Kami menaiki tangga, dengan posisi Nin di depan dan aku di belakang.

“Jangan tembak. Ini aku, Nin.”

“Nin?”

Mereka tampak terkejut ketika Nin muncul dengan kedua tangannya terangkat.

Di dalam ruangan ini, ada empat teroris dan tiga tawanan. Aku hanya mengenal satu wajah dari teroris yang ada di ruangan ini, Shera. Perempuan ini memiliki rambut coklat panjang yang dikuncir, sama seperti Etana. Apa mereka mencoba pair look?

Yang lain adalah Selir Filial, Papsukkal, dan Ninshubur. Selir Filial memiliki rambut panjang hitam berkilau yang dibiarkan terburai. Dia memiliki fitur wajah yang mirip dengan Inanna, hanya tampak lebih tua. Di lain pihak Ninshubur juga memiliki fitur yang sama. Tiga perempuan ini benar-benar mirip. Ya, namanya juga keluarga.

Di lain pihak, Papsukkal, tidak menunjukkan fitur yang sama. Bahkan, rambutnya agak aneh, pirang dan hitam bercampur. Di akar, tampak hitam, tapi semakin dekat ke ujung, menjadi pirang. Itu rambut aslinya atau dia mencatnya? Tidak penting. Wajahnya pun tidak terlalu mencolok. Tampan, tapi tidak mencolok seperti Pangeran Karisma.

Mereka semua mengenakan pakaian kasual dan dalam posisi tangan terikat, duduk di lantai.

Ah.... kenapa sih ada anak kecil di sini? Aku benci melakukannya di depan anak kecil.

“Aku tidak mau nyawa lain melayang. Jadi, dengarkan ucapanku.”

“Kau mau kami mendengarmu sementara kamu menawan kaw–”

“Aku adalah penggembala yang diangkat ke puncak demi menyatukan dan menyetarakan semua orang.”

Mereka semua terdiam dan memandangku tajam-tajam. Bahkan, Nin sedikit membalikkan badan untuk melempar pandangan.

Aku mendapatkan kalimat itu dari Etana. Kalimat itu semacam password yang bermakna “Dia bisa dipercaya. Silakan bernegosiasi.”. Mereka pasti tidak menyangka aku akan mendapatkan kalimat itu. Karena, dari berita yang beredar, seharusnya, Etana sudah dikalahkan oleh aku dan kini sudah ditahan.

“Sebelum memulai, perkenalkan, namaku adalah Lugalgin Alhold.”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?