Arc 2 Ch 16 - Alhold

“Jadi, apa yang kalian inginkan?”

Aku berbicara pada dua orang tua di kanan dan kiriku. Meski aku bilang orang tua, mereka belum mencapai usia pensiun, 60 tahun. Dua orang tua ini adalah Yang Mulia Paduka Raja Fahren Falch Exequeror dan yang Mulia Paduka Raja Arid Kai Behequem. Kami bertiga sedang berendam di pemandian air panas milik istana Mariander.

Aku diberi hak menggunakan pemandian air panas ini sebagai ucapan terima kasih oleh Mariander. Ucapan terima kasih itu diberikan karena aku berhasil menekan pemberontak di dua tempat berbeda. Namun, tidak lama setelah aku masuk, dua orang tua ini masuk. Dengan kata lain, ucapan terima kasih tersebut hanyalah kedok.

Aku tidak merasakan kehadiran orang lain, dan karena ini kamar mandi, tidak ada kamera pengawas juga. Karena tidak ada orang lain, aku pun menerima perintah mereka untuk membuang formalitasku.

“Kami ingin berbicara denganmu.”

“Dan, karena ini juga menyangkut masa depan Bana’an, aku pun ada di sini.”

Jujur, aku memiliki perasaan tidak enak. Lebih tepatnya, aku memiliki perasaan kalau aku tidak akan menyukai topik pembicaraannya.

“Yang Mulia Arid, bukankah Anda seharusnya berada di pesta, saat ini? Seharusnya, Anda bersama keluarga kerajaan yang lain, menemani dan melepas kepergian Tuan Putri Jeanne. Dan, Yang Mulia Fahren, aku tidak mendengar berita apapun tentang Anda datang ke sini.”

“Hahaha, aku selalu memiliki orang yang bisa menggantikan posisiku seperti sekarang.” Yang Mulia Arid menjawab dengan sebuah tawa keras.

“Begitu juga denganku. Kalau tidak ada hal yang urgen, aku bisa pergi kemana pun semauku. Seperti sekarang.”

Dengan kata lain, dua orang ini meninggalkan pekerjaan mereka demi berada di sini, untuk bertemu denganku.

Di saat itu juga, aku menyadari satu hal. Kalau saat ini aku membunuh Yang Mulia Fahren, besar kemungkinan aku bisa lolos dengan mudah. Maksudku, mereka tidak mungkin mengumumkan kalau Yang Mulia Fahren dibunuh ketika dia pergi tanpa pengawal kan? Aku bisa melamp–

Tidak. Tidak. Aku harus menekannya. Aku tidak boleh membunuhnya. Semua itu sudah berakhir. Aku harus menganggapnya berakhir.

“Jangan terlalu kaku. Karena, di masa depan nanti, kami hanyalah bawahanmu.”

“Hah?”

“Ya, Arid benar. Di masa depan, kamu lah yang akan menjadi atasan kami.”

Apa maksud mereka? Aku sama sekali tidak memahami ucapan mereka.

“Lugalgin,” Fahren mencari perhatianku. “Apa menurutmu, pertemuanmu dengan Emir dan Inanna di tol, adalah kebetulan?”

Aku tidak memberi jawaban.

“Hah! Aku rasa dia tidak akan berpikir begitu,” Arid menyambung ucapan Fahren. “Iya, kan? Lugalgin Alhold.”

Aku mencoba berdiri dari pemandian dan berbalik.

“Hei, tunggu, mau ke mana kamu?”

“Jangan terburu-buru.”

Arid dan Fahren menahan bahuku sebelum aku bisa berdiri. Mereka tidak membiarkanku pergi.

“To the point! Apa yang kalian inginkan?”

Mereka berdua melepaskan tangan mereka dari bahuku. Meski aku sudah tidak ditahan lagi, aku belum beranjak

“Hei, ada apa denganmu? Kenapa pandanganmu tajam seperti itu?”

“TO.THE.POINT!”

Aku tidak memedulikan pertanyaan Arid.

“Baik, baik.” Fahren menurut. “Singkat cerita, kami ingin kamu menjadi Raja dan menyatukan lima kerajaan kembali.”

“Lima kerajaan?”

“Lebih tepatnya, empat kerajaan dan satu republik,” Arid mengoreksi Fahren.

Setelah itu, mereka berdua pun memberikan sebuah cerita yang sudah diberi pada pelajaran sejarah.

Dulu, berdiri satu kerajaan yang besar. Kerajaan itu menguasai dua pertiga benua Ziggurat. Nama kerajaan itu adalah Kish. Namun, satu ketika, wabah penyakit menyerang.

Warga menganggap bangsawan dan keluarga kerajaan menyimpan obat wabah itu untuk diri mereka sendiri, tidak memberi bantuan kepada warga. Meski faktanya, bangsawan dan keluarga kerajaan juga menjadi korban dan tidak memiliki jalan keluar, tidak terkecuali sang Raja.

Merasa telah dibuang oleh pemimpin mereka, pemberontakan pecah dimana-mana. Mereka menyerang bangsawan dan keluarga kerajaan dengan dalih mencari obat yang disembunyikan. Namun, hingga kerajaan Kish runtuh, obat itu tidak ditemukan. Tanpa obat, orang-orang yang masih hidup menyadari kalau bangsawan dan keluarga kerajaan yang mereka bantai juga adalah korban.

Di saat itu, perang sipil pecah. Orang-orang yang masih hidup menginginkan takhta kerajaan. Setelah itu, terbentuklah lima negara yang kini berdiri, Bana’an, Mariander, Nippur, Agrab, dan Nina. Dari kelima negara yang berdiri setelah perpecahan, hanya Agrab yang tidak menganut sistem monarki, tapi republik.

Karena mereka berdua menceritakan hal yang sudah jelas, aku mengancam akan pergi. Namun, mereka kembali menahanku. Kali ini, mereka akan menceritakan hal yang tidak terdapat di dalam buku sejarah. Sejarah yang hanya diketahui oleh Raja Bana’an dan Raja Mariander.

Raja Kish adalah seorang inkompeten. Bukan hanya Raja, semua keturunan dari Raja Kish adalah seorang inkompeten. Semua inkompeten memiliki kemampuan khusus, yaitu menghilangkan pengendalian orang lain. Ada yang menggunakan penglihatan, sentuhan, tulisan, darah, jarak, dan lain sebagainya.

Dari abad ke abad, sistem pemilihan Raja ditentukan dengan kompetisi. Setiap anak laki-laki Raja wajib mengikuti kompetisi tersebut. Seolah sudah mendarah daging, semua keturunan Raja tidak memiliki ambisi atau antusias untuk menjadi pemimpin. Jadi, orang yang menjadi Raja justru dianggap tidak beruntung.

Saat Kish runtuh, diyakini semua keluarga kerajaan telah tewas. Dua kesatria setia Raja, leluhur pendiri Bana’an dan Mariander, Unug Fach Exequoer dan Kulaba Kai Behequem, mendapatkan fakta lain. Mereka berdua menemukan seorang keturunan Raja yang mengasingkan diri, namanya adalah Zababa Alhold. Ya, nama keluarga Raja adalah Alhold.

Berbeda dengan sistem yang diterapkan oleh Bana’an dan Mariander, dimana hanya keluarga permaisuri yang mengenakan nama keluarga Raja, semua istri Raja di Kerajaan Kish menyandang nama Raja, Alhold. Dengan demikian, semua istri Raja memiliki status yang setara.

Saat mereka berdua menemukan Zababa Alhold, mereka berdua ingin agar Zababa muncul, menyatukan kerajaan yang telah terpecah. Namun, Zababa menolaknya. Mengingat bagaimana sifat keluarga Raja, keluarga Alhold, mereka berdua tidak heran. Namun, ternyata, itu bukanlah alasan utama.

Zababa mengajak Unug dan Kulaba ke tempat persembunyiannya. Di saat itu, mereka mendapati sesuatu yang sangat mengejutkan. Putra Zababa bukanlah inkompeten. Putra kandung Zababa memiliki kekuatan pengendalian.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui kenapa putra kandung Zababa bukan inkompeten. Mereka berdua menganggap wabah penyakit adalah penyebabnya. Di saat itu, Zababa menceritakan sebuah legenda yang hanya diketahui oleh keluarga Alhold.

Menurut legenda dan kepercayaan yang dianut oleh keluarga kerajaan, keturunan keluarga kerajaan akan terus menghasilkan inkompeten selama mereka dibutuhkan. Kemampuan inkompeten untuk menghilangkan pengendalian orang lain diperlukan untuk menuntun manusia ke arah yang lebih baik.

Dengan fakta keturunan Zababa bukan seorang inkompeten, menurut Zababa, era inkompeten untuk memerintah sudah habis. Inkompeten sudah tidak dibutuhkan lagi oleh umat manusia. Manusia sudah bisa berjalan tanpa perlu dituntun.

Meski mereka berdua tidak meyakini fakta itu, tapi, mereka berdua menyadari kalau pun Zababa menjadi Raja, Kish tidak akan bertahan lama. Bangsawan akan menganggap Zababa tidak memiliki keturunan karena anaknya bukanlah inkompeten. Mereka akan menganggap bahwa Raja yang baru hanyalah anak adopsi dan akan dikudeta sesegera mungkin.

Dengan demikian, Unug dan Kulaba pun membuat sebuah rencana baru. Mereka berdua memimpin dua pasukan dan mendirikan dua kerajaan baru. Setelah peperangan selesai, dan lima negara berdiri, Unug dan Kulaba kembali mendatangi Zababa.

Karena kebetulan Zababa tinggal di wilayah Bana’an, Unug memberikan sumpah dimana keluarga kerajaan dan bangsawan tidak berhak memberi perintah pada keluarga Alhold walaupun hanya berstatus warga biasa. Zababa tidak menginginkan hal itu.

Setelah sedikit berdebat, Zababa menerima sumpah tersebut dengan syarat selama keluarga Alhold tidak menjadi bangsawan atau ikut serta dalam operasi militer. Menurut Zababa, akan repot kalau keturunannya ikut serta dalam operasi militer tapi tidak menuruti perintah.

Selain itu, Unug dan Kulaba membuat sumpah lain. Mereka berdua bersumpah untuk mengembalikan takhta ketika inkompeten dari keluarga Alhold atau pun luar keluarga Alhold muncul.

Meskipun saat ini mereka hanya mengetahui satu orang Alhold yang hidup, tapi, tidak bisa dipungkiri, di luar sana mungkin ada anggota keluarga Alhold lain yang masih hidup, hidup menyendiri dan mengganti namanya.

Nama Alhold baru muncul ke permukaan setelah Zababa meninggal. Oleh karena itu, meski banyak orang mendatangi keluarga Alhold, mereka hanya dihadapi dengan kekecewaan karena tidak bisa bertemu dengan keluarga Raja.

Bahkan, orang-orang mempertanyakan kenapa nama Alhold masih dipergunakan. Namun, karena Unug menyatakan keluarga Alhold dilindungi oleh Raja, maka tidak ada yang berani mempertanyakannya. Setelah beberapa generasi berlalu, cerita yang tersisa hanyalah “keluarga kerajaan atau bangsawan tidak akan pernah menggunakan kuasanya untuk memerintah keluarga Alhold”.

Di lain pihak, hubungan kedua kerajaan, Bana’an dan Mariander, terlihat sengit di permukaan. Namun, hubungan antar Raja bisa dibilang sangat baik. Dari generasi ke generasi, Raja Bana’an dan Mariander akan bertemu secara rahasia, membawa Raja selanjutnya.

Mereka, calon Raja selanjutnya, diharuskan meneruskan sumpah Unug dan Kulaba. Sumpah tersebut adalah syarat untuk menjadi Raja yang baru. Jika Raja yang baru tidak bersedia, maka sang Raja akan mengalihkan gelar tersebut pada putra yang lain.

Akhirnya, cerita mereka berdua pun selesai.

Baiklah, aku tidak menduga kalau dua negara ini memiliki sejarah yang cukup merepotkan. Namun, setidaknya, mendengarkan cerita mereka sudah membuat amarahku hilang. Aku dapat menekan emosiku dengan baik.

Jujur, aku terkejut Kish bisa menguasai dua pertiga benua dengan Raja dan keturunan seperti itu. Bahkan, aku cukup penasaran bagaimana Kish baru hancur ketika wabah penyakit itu menyerang. Maksudku, kalau aku, aku pasti sudah memilih orang lain untuk menjadi Raja. Namun, setelah aku pikir-pikir, mungkin saja sih. Aku adalah contoh nyatanya.

Selain itu, kalau orang-orang ini mengerti rekam jejak dan latar belakang lengkapku, kurasa mereka tidak akan memilihku menjadi Raja. Ya, aku tidak cocok untuk menjadi Raja.

Oleh karena itu, aku memberi satu jawaban yang pasti.

“Aku menolak. Aku tidak mau menjadi Raja.”

“Yup, dia benar-benar keturunan Alhold.”

“Hahaha, jadi seperti ini ya perasaan leluhur kita saat keluarga Alhold menolak menjadi Raja.”

Arid dan Fahren menjawab dengan enteng. Mereka tidak mengindahkan ucapanku sama sekali. Kalau aku mendengar dari cerita mereka, ada kemungkinan mereka berdua akan membuat rencana, yang entah bagaimana, berujung pada aku menjadi Raja dua negara. Atau bahkan, menyatukan lima negara.

“Kita kesampingkan dulu tentang aku menjadi Raja.” Aku mencoba mencari informasi lain. “Jadi, meski belum ada seorang pun yang tahu, kalian sudah tahu kalau aku mampu menghilangkan pengendalian seseorang?”

“Ya,” Arid menjawab. “Di ruang ganti, aku meletakkan beberapa gram emas. Sebelum aku menyentuhmu, aku masih bisa mengendalikan dan merasakannya. Namun, begitu aku memegangmu, aku sudah tidak bisa merasakan emas itu lagi.

“Aku juga melakukan hal yang sama. Aku tidak bisa lagi memutar kenop keran, yang terbuat dari perak, setelah aku memegangmu.”

Ah, jadi mereka memegangku untuk memastikannya ya.

“Lalu, Emir dan Inanna?”

“Emir adalah satu dari putriku yang kusiapkan untuk menjadi istrimu di masa depan.” Fahren memberi jawaban. “Jalanmu menjadi Raja bukanlah jalan yang mudah. Di saat itu, ada kalanya lawan akan menyandera keluargamu. Jadi, aku tidak bisa membiarkan putriku menjadi kelemahanmu, kan?”

“Hal yang sama juga kulakukan dengan Inanna. Kalau boleh jujur, kami sudah melakukan ini sejak Mariander dan Bana’an berdiri. Kami selalu bersiap, kalau seandainya seorang inkompeten muncul. Jadi, setelah ini, siap-siap saja menerima Inanna di rumahmu.”

Baiklah, aku mulai membenci informasi ini. Kalau mereka berdua mengatur pertarungan Emir dan Inanna, maka, ada kemungkinan, jalan hidupku sudah mereka atur. Namun, ketika aku memikirkan hidup yang kulalui selama ini, aku menjadi ragu kalau mereka memiliki kendali atas hidupku.

“Apa Emir dan Inanna mengetahui hal ini?”

“Inanna belum mengetahuinya,”

“Emir sudah mengetahuinya, dan Jeanne, dan beberapa agen Schneider.”

Aku terdiam. Arid terdiam. Hnya suara air mengalir yang terdengar.

“KAMU SERIUS? APA MAKSUDMU WOI!?”

Arid mencengkeram kedua bahu Fahren. Wajahnya terlihat memerah, entah karena marah atau sudah kelamaan berendam di air panas.

Di lain pihak, Fahren hanya tersenyum kecil, tidak memedulikan protes Arid.

“Mereka tidak mengetahui alasannya. Yang mereka ketahui hanyalah ‘kita akan menjadikan Lugalgin sebagai Raja yang selanjutnya’. Dan tentu saja, hanya orang-orang yang paling kupercaya yang mengetahuinya. Dengan demikian, aku bisa membuat jalanmu menjadi Raja sedikit lebih mudah.”

“Lalu,” aku menyela, memberikan pandangan dingin. “Apa Emir ingin menjadi istriku hanya karena ini? Hanya karena misi darimu?”

Fahren terdiam ketika melihatku. Dia tidak lagi menunjukkan sikap santainya seperti yang dia tunjukkan pada Arid.

“Kamu tenang saja. Aku baru mengatakan hal ini pada Emir setelah dia—“

“Apa kau bisa memberi bukti? Mengingat pertemuanku dengan Emir dan Inanna, dan tampaknya kunjungan ini juga, adalah skenario darimu, dari kalian, aku tidak bisa memercayai ucapan kalian.”

Fahren tidak melanjutkan jawabannya. Dia hanya mengalihkan pandangan.

Aku bisa mengetahui kalau dia memiliki sedikit rasa bersalah. Meski aku tidak melihat ada kebohongan dari ucapannya, tapi, tampaknya, dia tidak yakin dengan jawabannya.

Alasan kenapa dia tidak yakin adalah mungkin Emir sudah mengetahui hal ini sebelumnya dari agen Schneider lain, misal Jeanne. Kalau benar, maka Emir tidak benar-benar jatuh hati padaku. Dia hanya menjalankan misi.

“Aku akan menanyakannya langsung pada Emir. Kalau sampai aku mendengar jawaban yang tidak aku suka, kau bisa ucapkan selamat tinggal pada putrimu. Hal ini juga berlaku untuk Inanna.”

Aku berdiri dan berjalan, meninggalkan dua raja yang masih berendam.

“Dari cerita kalian, aku mendapati satu hal yang aneh,” aku berhenti sejenak. “Kalian bilang Raja Kish dipilih dengan kompetisi kan? Namun, kalau ucapan kalian benar, mengenai semua keturunan Alhold memiliki perangai sepertiku, tidak mau menjadi Raja, lalu, siapa yang akan memenangkan kompetisi itu? Mereka semua akan mencoba kalah, kan? Oleh karena itu, aku mendapatkan kesimpulan lain.”

Aku berbalik, melempar pandangan pada dua Raja, “Meski kompetisi yang diadakan adalah mencari yang terbaik, tapi, menurutku, praktik di belakang layar justru sebaliknya. Ketika kompetisi berlangsung, para kandidat Raja akan melakukan cara apapun untuk kalah atau membuat kandidat lain menjadi yang terbaik. Entah memanipulasi kompetisi, memeras kandidat Raja lain, membuat skenario kecelakaan, atau lain sebagainya.

“Sederhananya, mereka akan membuat diri mereka kalah atau didiskualifikasi tanpa mengurangi harga diri. Dan, orang yang menjadi Raja adalah korban terakhir. Raja ini dinobatkan entah karena keluarganya diancam, atau hasil tesnya naik, atau lawannya mengalami kecelakaan.”

Arid dan Fahren terdiam. Mereka membuka mulut lebar-lebar.

Tampaknya kesimpulanku benar. Dan, menurutku, hal ini pasti tidak diketahui khalayak umum. Mungkin, selain keluarga kerajaan, hanya pengawal pribadi keluarga kerajaan yang mengetahuinya. Kalau hal ini diketahui khalayak umum, maka kepercayaan mereka pada Raja akan hilang.

“Berbahagialah. Aku akan menghidupkan kembali tradisi tersebut. Aku akan memastikan diriku tidak menjadi Raja yang selanjutnya.”

===========================================

Author's Note :

Kalau kalian berpikir chapter minggu lalu adalah penutup Arc 2, kalian salah. Chapter minggu lalu adalah penutup serangan True One XD. Chapter ini yang benar-benar chapter penutup Arc 2 :P

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?