Arc 3 Ch 0 – Interlude

“Jadi? bagaimana?”

“Aku salah paham. Dia memang sepertiku….”

Seorang laki-laki, berambut coklat panjang dikuncir dan dagu lebar, memberi jawaban. Dia adalah Etana. Saat ini, Etana sedang melihat video di ruang utama.

Kelompok pemberontak memiliki markas yang terletak di kota mati, reruntuhan. Kota mati itu disulap sehingga memiliki bangunan bawah tanah. Bangunan bawah tanah inilah yang menjadi markas True One. Desain markas tersebut memiliki banyak pintu masuk dan keluar, memastikan mereka tidak terjebak jika diserang.

Di samping Etana, seorang perempuan dengan warna dan model rambut yang sama, ikut melihat video. Shera melihat ke video yang diputar, tapi belum bisa memahami ucapan rekannya.

“Bisa tolong jelaskan? Maksudku, bagaimana dia seperti kamu? Aku tidak paham jalan pikiran kalian, orang-orang yang rela melakukan operasi demi menghilangkan kekuatan orang lain.”

Cerita yang diberikan Etana pada rekan-rekannya adalah dia mampu menghilangkan kekuatan orang ketika orang tersebut berada di pandangannya. Jadi, Etana menyatakan kalau mata yang dimilikinya adalah mata palsu. Namun, hal itu tidak mengganggu penglihatannya.

Meskipun rekan-rekannya ragu, tapi mereka tidak memiliki pilihan selain percaya ketika menyadari ucapan Etana, mengenai kekuatan pengendalian yang hilang, benar. Dan, secara kebetulan, cerita yang diberikan Etana dan Lugalgin, yang diberikan pada Inanna, adalah benar.

“Coba kamu lihat pada bagian ini.”

Etana mengambil remote televisi dan memutar balik video yang mereka tonton. Video yang mereka tonton adalah rekaman pertandingan Lugalgin di battle royale, yang tersebar luas di internet. Akhirnya, rekaman berhenti ketika Lugalgin melepaskan sarung tangannya, sebelum menghadapi Ufia.

“Baik, coba lihat baik-baik di sini. Aku akan menjalankannya pelan-pelan.”

Video tersebut kembali berjalan maju, tapi hanya seperempat kecepatan normal.

Shera melihat baik-baik rekaman itu, momen ketika Lugalgin menekan Ufia ke tanah dan melepaskan tembakan.

Etana menghentikan rekaman.

“Sudah paham?”

“Uuu...belum...” Shera menggelengkan kepala.

“Ah.... ya sudah, biar aku jelaskan,” Etana memutar balik lagi video hingga Lugalgin melepas sarung tangan. “Di sini, apa yang Lugalgin lakukan?”

“Ung, melepas sarung tangan?”

“Ya, melepas sarung tangan. Menurutmu kenapa itu?”

“Um.... karena dia mulai serius? Maksudku, beberapa orang menganggap bertarung dengan sarung tangan adalah tanda ketidakseriusan kan?”

“Setengah benar. Bagian dia mulai serius benar, tapi bukan karena tanda ketidakseriusan. Biar aku jalankan lagi.”

Etana menjalankan video tersebut. Kali ini, videonya berhenti ketika Lugalgin menekan Ufia ke tanah.

“Baik, di sini, apa kamu melihat ada yang aneh?”

Shera terdiam. Dia melihat ke rekaman tersebut dengan saksama. Namun, tidak peduli selama apapun dia melihat ke rekaman tersebut, dia tidak bisa menemukan keanehan di rekaman itu.

“Maaf, aku tidak tahu.”

“Ahh...” Etana mendengus. “Coba lihat baik-baik ke tangan perempuan itu. Apa kamu tidak merasa aneh ketika pedangnya terjatuh? Sebelumnya, dia tampak mengangkat pedang besar itu dengan mudah. Namun, di sini, kenapa kok seperti pedangnya menjadi begitu berat, seolah-olah dia....”

Etana tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia menunggu, berharap Shera mampu melanjutkan ucapannya.

“Tapi, bukankah itu normal? Maksudku, tampaknya, konsentrasi perempuan itu pecah ketika laki-laki itu, Lugalgin, menekan kepalanya hingga ke tanah.”

“Tidak, tidak, tidak....” Etana mengoreksi Shera. “Kalau perempuan itu adalah orang yang tidak terbiasa bertarung, mungkin benar. Namun, dia adalah Regal Knight, kesatria elite di Bana’an. Bahkan, dia sudah menjadi juara pertandingan itu satu kali. Kamu sendiri tidak langsung kehilangan konsentrasi ketika lawanmu menerjang kan?”

“Iya juga ya....” Akhirnya, Shera mulai dapat menyamakan pendapat dengan Etana. “Jadi, menurutmu?”

“Berbeda denganku, yang mengganti mataku, tampaknya dia mengganti tangannya. Hal ini lah yang membuat pengendalian perempuan itu menghilang ketika dia menyentuhnya.”

“Ah, begitu ya.” Shera terdiam sejenak. Dia mencoba mencerna ucapan Etana dengan baik. “Lalu, sekarang, apa yang akan kita lakukan? Dia sudah menggagalkan rencana kita sekali. Dan sekarang, dengan Putri Inanna menjadi calon istrinya, ada kemungkinan dia akan kembali kalau Putri Inanna memintanya, kan?”

“Ah, iya. Soal itu...”

***

Seorang laki-laki tua terduduk di balkon. Dia melihat ke pemandangan laut yang tersebar di belakang mansion bergaya klasik. Dengan sebuah cerutu, laki-laki tua itu menambah kenikmatan kopi yang baru diminum. Meski tidak terlihat sehelai rambut di kepalanya, tapi janggut dan kumisnya menjalar panjang, tidak menyambung, menunjukkan kalau dia memiliki nenek moyang dari barat. Laki-laki tua itu adalah Enlil Alhold, kepala keluarga Alhold saat ini.

Umurnya sudah hampir mencapai 70 tahun, tapi belum terlihat tanda-tanda dia akan melepaskan posisi kepala keluarga pada Barun, yang di masa depan akan diteruskan pada Ninlil. Untuk laki-laki dengan usia lanjut, badannya terlihat cukup fit, bahkan atletik.

“Paman,”

Seorang laki-laki datang dari dalam mansion, menuju ke Enlil.

“Ada apa?”

“Inkompeten itu kembali masuk berita.”

“Kali ini berulah apa lagi dia?”

“Berita bilang, berkat jasanya di Mariander, Raja Arid memberikan salah satu putrinya kepada Lugalgin sebagai istrinya.”

Laki-laki itu menekankan kata “berita bilang” untuk memperjelas kalau itu bukanlah ucapannya.

Enlil mengambil cerutunya dari mulut, membiarkannya di tangan.

“Lalu, apa perempuan itu sudah ada di Bana’an.”

“Dari info yang kami dapat, perempuan itu sudah berada di rumah inkompeten itu.”

“Kalau inkompeten itu menerima perempuan itu, berarti Barun dan Yueni sudah menyetujuinya. Dasar, mereka benar-benar tidak memiliki niatan untuk menurutiku hingga akhir ya.” Enlil terdiam. Dia menggaruk kepalanya yang tidak memiliki sehelai pun rambut. “Segera panggil inkompeten itu. Aku mau dia menemuiku.”

“Tapi, paman, kalau kita langsung memanggilnya tanpa melalui Barun dan Yueni, apa ini tidak akan memantik masalah?”

“Aku tidak peduli!” Enlil mengabaikan peringatan keponakannya. “Panggil inkompeten itu! Aku mau dia sudah ada di depanku minggu ini juga!”

****

Satu minggu setelah kasus penyerangan pada Provinsi Afee, Selir Filial tidak lagi memiliki wilayah kekuasaan. Semua wilayah kekuasaan di bawahnya diberikan pada Selir yang lain. Hal ini disebabkan oleh pengkhianatan putranya.

Sebagai gantinya, Selir Filial beserta putrinya, Ninshubur, dikirim ke Bana’an sebagai duta besar. Pemasukan yang dia terima pun menurun drastis. Jika dibandingkan dengan pemasukan ketika dia memiliki wilayah kekuasaan, kurang dari sepersepuluh.

Ketika Raja Arid mengumumkan akan memberikan Inanna pada Lugalgin, sebagai hadiah atas kerja keras Lugalgin menekan pemberontakan, bangsawan dan selir lain menganggap Selir Filial sudah tidak memiliki harta tersisa untuk mempertanggungjawabkan pengkhianatan putranya. Dengan kata lain, mereka meyakini Inanna dijual oleh Selir Filial sebagai pertanggujawaban.

Malam itu, perempuan dengan rambut hitam berkilau panjang pulang dari kantor kedutaan. Dia menaiki kendaraan umum ke rumah yang disediakan oleh pemerintah Mariander. Rumah yang dia tinggali hanyalah rumah sederhana dengan dua kamar tidur. Namun, hanya satu kamar yang terisi.

Setelah mandi dan berganti ke gaun tidur, Selir filial mengambil handphonenya dan pergi ke ruang tamu. Sebenarnya, dia ingin berada di rumah itu bersama kedua putrinya, Inanna dan Ninshubur. Namun, kini, Inanna dan Ninshubur tinggal dengan orang lain. Inanna bersama Lugalgin sedangkan Ninshubur bersama orang tua dan adik Lugalgin.

Karena masalah pemberontakan, dan perebutan posisi permaisuri, nyawa Selir Filial tidak serta merta aman begitu dia meninggalkan Mariander. Sebagian selir masih memiliki dendam karena usaha mereka merebut posisi permaisuri digagalkan oleh Selir Filial. Tanpa ada pengawal dan keamanan pribadi, akan sangat mudah mengincar nyawa Selir Filial.

Lugalgin memberi saran agar Ninshubur dititipkan pada orang tua dan adiknya. Dengan demikian, keamanan Ninshubur dapat dijaga.

Selir Filial pun menyetujui saran Lugalgin. Sayangnya, mereka terpaksa berpisah rumah karena tempat tinggal orang tua Lugalgin dan Selir Filial berbeda kota.

Sebuah alunan musik blues terdengar dari handphone di tangan Selir Filial. Telepon yang dia nantikan setiap malam.

Selir Filial mengangkat telepon itu, membuat proyeksinya menempel pada tembok seolah-olah dia melihat layar televisi. Proyeksi itu menunjukkan dua gambar, anak-anak dan remaja.

Selir Filial, Inanna, dan Ninshubur memiliki fitur wajah yang sangat mirip. Bahkan, kalau foto mereka dijajarkan, orang akan mengira ketiga foto itu adalah perubahan usia seseorang.

[Ibuuu.....]

“Malam, Ninshubur. Bagaimana sekolah tadi?”

[Sekolah menyenangkan. Hari ini kami menggambar hewan. Kucingnya tadi lucu sekali. Ini gambar yang Ninshubur buat tadi.]

Pada proyeksi telepon, Ninshubur menarik buku gambar dan membukanya. Di dalamnya, terlihat gambar kucing dengan warna putih dan kuning bermain di taman, lazim seperti gambar anak-anak pada umumnya.

“Wah, bagus gambarnya,” Selir Filial memuji Ninshubur. “Lain kali coba gambar ibu ya.”

[Ung.....] Ninshubur mengangguk.

“Lalu, bagaimana denganmu, Inanna?”

[Haha.] Inanna tertawa kecil. [Entah kenapa, hari ini Emir menantangku memasak, ingin melihat siapakah di antara kami yang bisa menghidangkan makanan lebih enak untuk Lugalgin.]

“Lalu, hasilnya?”

[Aku menang.]

[KAMU BELUM MENANG! AKU CUMA MENGALAH TADI!]

Tiba-tiba saja, seorang perempuan terlihat di belakang Inanna. Belum sempat perempuan itu melakukan hal lain, seorang laki-laki sudah muncul dan menariknya, keluar dari pandangan.

[Emir, diam! Inanna sedang telepon! Maaf ya In, aku melepaskan pandanganku dari perempuan ini sebentar dan dia sudah membuat ulah.]

[Tidak apa-apa.] Inanna memberi respon ringan pada laki-laki itu.

Bukan hanya Inanna, Selir Filial dan Ninshubur ikut tertawa ketika mendengar suara perempuan dan laki-laki itu.

Sebenarnya, Selir Filial sudah diberi tahu oleh Raja Arid tentang memberi Inanna pada Lugalgin jauh sebelum penyerangan provinsi Afee. Jadi, tidak peduli apakah putra Selir Filial, Papsukkal, terbukti bersekongkol atau tidak, Inanna akan tetap dilepaskan ke Lugalgin.

Meski Raja Arid tidak menjelaskan alasannya, Selir Filial tidak memiliki hak untuk menolak. Sudah menjadi kewajiban orang-orang yang lahir sebagai bangsawan untuk menikahi orang pilihan orang tuanya.

Pada awalnya, Selir Filial menaruh harapan besar pada Lugalgin. Putrinya, Inanna, yang jarang membicarakan laki-laki, terlihat bahagia ketika menceritakan Lugalgin. Namun, harapannya sempat hancur ketika Lugalgin menyandera Ninshubur.

Harapan Selir Filial kembali muncul ketika dia melihat Lugalgin tidak ada niatan menyakiti Ninshubur. Bahkan, Lugalgin mencoba mencari keuntungan di balik kekacauan itu. Dari situ, Selir Filial yakin, siapa pun yang menjadi keluarga laki-laki itu akan mendapatkan jaminan keamanan, baik keamanan fisik maupun materi. Dan kini, hal itu dibuktikan dengan Ninshubur berada di rumah orang tua Lugalgin.

Kalau seandainya, skenario terburuk terjadi yaitu keluarga Lugalgin disakiti atau bahkan tewas, Selir Filial yakin kalau Lugalgin akan membalas dendam berkali-kali lipat. Di mata Selir Filial, Lugalgin adalah seekor singa tidur. Oleh karena itu, walaupun sedih, Selir Filial mendapatkan ketenangan ketika mengetahui kedua putrinya telah bersama laki-laki dan keluarga yang hebat.

Selir Filial pun meneruskan perbincangan dengan kedua putrinya. Dia memiliki rutinitas tersebut sejak dirinya menjadi duta besar.

***

“Emir, memangnya nanti Lugalgin mau membicarakan apa? Kok kelihatannya serius?”

Seorang perempuan berambut hitam panjang dan mata hijau, Inanna, bertanya pada perempuan berambut dan mata merah di sampingnya, Emir. Mereka berdua sedang menyiapkan makan malam untuk calon suami mereka.

“Entahlah.” Emir menggelengkan kepala.

“Apa mungkin ini berhubungan dengan penyerangan itu?”

“Tidak, menurutku bukan,” Emir menolak dugaan Inanna. “Dia bilang, dia mendapatkan imbalan yang sangat besar dari penyerangan kemarin. Terakhir kali aku melihat Lugalgin seserius itu adalah ketika aku memintanya menjadi Regal Knight. Mungkin, dia memiliki memasalah dengan ayah.”

“Eh? Dengan Yang Mulia Paduka Raja?”

“Ya,” Emir membenarkan. “Aku khawatir ayah tidak bisa memenuhi janjinya dengan Lugalgin.”

“Sebentar,” Inanna mematikan kompor dan berjalan menuju meja makan, menyiapkan piring. “Maksudmu, Lugalgin akan mempermasalahkan kalau Yang Mulia Paduka Raja tidak memenuhi janjinya? Maksudku, apa dia bermaksud melawan Yang Mulia Paduka Raja?”

“Jangan salah. Dia pernah mengancamku, bahkan membuatku sampai meng—“ Emir terhenti sejenak. Dia hampir saja mengatakan mengompol, tapi dihentikan oleh harga dirinya. “Sampai membuatku gemetaran. Bahkan, waktu aku mengancam akan melaporkan tanda ketidaksetiaan Lugalgin, dia malah mengancam akan kabur ke luar negeri.”

“Hmm... aku bisa membayangkannya. Dia sudah menentang kapten operasi penyelamatan provinsi Afee saat akan menyelamatkan ibuku. Tapi, rasanya, masih sulit untukku percaya kalau dia akan mengancam keluarga kerajaan.”

Tanpa Inanna ketahui, ibunya telah menjadi salah satu korban ancaman Lugalgin.

“Sebenarnya, aku mendapatkan rumor kalau Lugalgin sebenarnya membenci bangsawan dan keluarga kerajaan. Dan, aku bisa bilang kalau rumor itu benar. Ketika Lugalgin berhadapan dengan orang normal, rakyat jelata, dia tampak menunjukkan kebaikan dengan tulus, tanpa niat tersembunyi.

“Namun, ketika dia berbicara dengan bangsawan, aku merasa dia hanya melihat lawannya sebagai rekan bisnis, tidak lebih. Dulu, aku sempat mendapat pandangan itu. Aku kembali melihat pandangan itu ketika Jeanne datang ke sini.”

Emir selesai memasak dan mematikan kompor. Dia membawa panci berisi sop ke meja makan, memindahkannya ke tiga mangkok yang berjajar.

“Aku setuju dengan itu. Aku juga merasakan pandangan itu ketika aku mengobrol dengan Lugalgin untuk pertama kali.” Inanna memindahkan mangkuk yang telah diisi sup ke dekat piring. “Memangnya apa yang sudah dilakukan bangsawan negeri ini?”

Emir menggeleng. “Aku tidak tahu. Informasi agen Schneider tidak menyebutkan apapun mengenai Lugalgin memiliki masalah dengan bangsawan. Aku tidak tahu apakah informasi yang kami miliki tidak lengkap atau—“

“Aku pulang!”

Sebuah suara laki-laki muncul, menghentikan perbincangan Emir dan Inanna.

***

Seorang laki-laki berambut hitam keabu-abuan duduk di balik meja kerja. Meski matahari sudah terbenam, matanya masih tajam melihat dokumen-dokumen di depannya. Dia mengecap dan menandatangani beberapa dokumen. Di sebelah kirinya, terdapat dokumen yang bertumpuk cukup tinggi, bahkan bisa menutupi orang di baliknya. Namun, berbalikan, di sebelah kanan meja terdapat satu dokumen yang hanya berisi beberapa puluh halaman.

“Akhirnyaaa......”

Laki-laki tersebut, Raja Fahren, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, mencoba melemaskan otot bahu yang kaku. Dia menyandarkan punggung dan menyeruput teh yang ada di atas meja.

“Sayang, apa kamu sudah selesai?”

Seorang wanita dengan rambut merah muda lembut, panjang terburai, masuk ke dalam ruang kerja. Dia memandang Raja Fahren dengan lembut. Dengan dagu yang lancip dan wajah tanpa keriput, orang akan percaya kalau dia mengatakan baru berusia 30 tahun, meskipun angka yang sebenarnya jauh di atas. Wanita itu adalah Permaisuri Rahayu Falch Exequeror.

“Iya, sudah selesai.” Raja Fahren menjawab Permaisuri Rahayu dengan nada bahagia.

Permaisuri Rahayu berdiri di samping meja dan melihat dokumen kecil yang ada di kanan meja. Dia membuka-buka dokumen tersebut.

“Dokumen mengenai tragedi keluarga Cleinhad? Dokumen ini yang diminta Lugalgin?”

“Iya, benar. Dan, hanya untuk menyusun dan memperbolehkan dokumen ini mencapai tangan Lugalgin, aku harus menyetujui dan menstempel dokumen-dokumen ini.”

Raja Fahren memukul dokumen yang ada di kiri meja dengan lembut. Dia tidak mau tiba-tiba menjatuhkan dan membuat dokumen-dokumen tersebut berantakan.

“Akan digunakan untuk apa dokumen ini?”

“Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang diinginkan Lugalgin. Yang jelas, dia meminta dokumen ini sebagai imbalan menjadi pengawal Jeanne.”

Permaisuri Rahayu membuka-buka dokumen itu, memperhatikan isinya sekilas.

“Kalau saja tragedi itu tidak menimpa keluarga Cleinhad, mungkin pasar gelap kerajaan ini masih bisa ditekan, dan kamu tidak akan kekurangan orang untuk menjadi agen Schneider.”

“Ya, apa yang terjadi biarlah terjadi. Masa lalu tidak bisa diubah.”

Mata Permaisuri Rahayu sedikit berkaca. Dia tidak mampu memendam kesedihannya ketika memikirkan anak-anak yang menjadi yatim piatu karena tragedi yang ada di tangannya.

“Aku berharap, anak-anak keluarga Cleinhad yang masih hidup tidak ditimpa tragedi yang sama. Aku kasihan pada mereka. Setelah seluruh keluarganya tewas, hanya menyisakan anak-anak, mereka masih harus disebar di panti asuhan yang berbeda-beda.”

=========================================================

Author's Note:

Mohon maaf ya, minggu ini updatenya telat banget (lewat jam 9 malam). Deadline novel lain yang sudah dekat dan kerja real life juga sedang padet banget menjadi penyebab utama.

Anyway, terima kasih sudah membaca "I am No King" Hingga chapter ini. Dukungan kalian adalah penyemangatku untuk terus melanjutkan "I am No King".

Chapter ini bisa dibilang prolog untuk Arc 3. Pada chapter ini, tidak diberikan satu plot utuh, tapi hanya potongan-potongan kejadian dan cerita orang-orang yang berhubungan dengan Alulim.

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?