Arc 3 Ch 3 – Konfrontasi kecil

“Terima kasih, Gin.”

“Yo, sama-sama.”

Aku berjalan pelan, meninggalkan toko teh favoritku di mal terbesar Kota Haria. Sebenarnya, aku adalah pemilik toko teh herbal itu. Selain tempat menjual teh herbal, toko itu juga sebuah kafe, bernama ‘ease’. Selain teh herbal dan variasinya, kafe ease juga menghidangkan kue, roti, kopi, dan camilan lainnya. Tapi, tentu saja, teh menjadi senjata andalan kafe.

Meski aku bilang pemilik, aku hanyalah pemberi modal dan pemberi ide. Untuk eksekusi, ada satu manajer dan beberapa pegawai. Dan, dengan adanya kafe itu, aku tidak perlu repot-repot mencari teh herbal sendiri.

“Maaf, permisi...”

Baru saja aku berjalan dari eskalator, mencapai lantai dasar, seorang perempuan dengan rambut coklat dan mata coklat, sepertiku, menghentikanku. Meski rambutnya pendek, dia masih menguncirnya, memberikan sebuah pemandangan jelas ke tengkuk lehernya. Dia mengenakan hoodie abu-abu dengan kaos dan celana jeans berwarna biru gelap

Di kanan dan kirinya, dua orang laki-laki berdiri dengan pakaian kasual. Keduanya memiliki potongan cepak. Yang satu berambut coklat generik, yang satu hitam bangsawan.

Jujur, rasanya aku pernah melihat perempuan ini sebelumnya. Ah, sekarang aku ingat.

“Ah, kau perempuan yang hampir terluka saat aku melawan Elliot.”

“I, iya, benar. Suatu kehormatan Anda mengingat nama–“

“Berhenti, Shinar.” Laki-laki berambut hitam menghentikan perempuan yang bernama Shinar ini. “Kenapa kamu menggunakan bahasa formal dan sopan? Kamu ini bangsawan, jangan merendahkan posisimu di depan rakyat jelata seperti dia.”

“Tapi, Der,”

“Der benar,” laki-laki berambut coklat ikut nimbrung. “Kamu tidak perlu menggunakan bahasa sopan pada rakyat jelata. Ingat posisimu.”

“Der, Kutha, kenapa kalian begitu kasar padanya... eh?”

Dan, perempuan bernama Shinar itu baru sadar kalau aku sudah berjalan meninggalkannya. Aku tidak mau mendengar racauan ABG labil. Membuang waktuku saja.

“Ma, maaf.” Shinar sudah berdiri di depanku dan membungkukkan badan. “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Aku tidak ada niatan menghina atau merepotkanmu.”

Dia sudah menggunakan kata normal, tidak lagi kata sopan dan formal seperti sebelumnya. Meskipun aku tidak terlalu peduli, tapi, yang jelas, ini sudah merepotkan.

“Sayangnya, saat ini, kau sudah merepotkanku,” ucapku sinis sambil menoleh ke belakang.

Benar saja, dua laki-laki itu datang dengan wajah merah mendidih.

Kalau perempuan ini benar-benar bangsawan, sangat lah memalukan jika dia menundukkan kepala, bahkan badan, kepada rakyat jelata sepertiku. Setidaknya, itu lah yang dipikirkan oleh para bangsawan itu.

“Kalau kau memang tidak mau merepotkanku, lebih baik kau tahan dua temanmu itu sementara aku pergi.” Aku berjalan, meninggalkan Shinar. “Dan aku sudah menerima ucapan terima kasihmu. Sama-sama.”

Tanpa melihat ke belakang, aku mendengar perempuan itu berselisih dengan dua teman laki-lakinya. Ah, kenapa sih susah sekali untuk aku bisa hidup tenang.

Aku pun pergi dari mal, menuju halte. Halte yang kutuju bukan halte mal. Kalau aku menggunakan halte mal, aku harus transit dua kali untuk mencapai halte dekat rumah. Jadi, aku berjalan kurang lebih 1 kilo menuju halte lain. Melalui halte yang kutuju, aku bisa pulang tanpa perlu transit.

Ah iya, ngomong-ngomong, soal tawaran Jeanne untuk menjadi instruktur agen Schneider, aku menolaknya. Jeanne tidak memaksaku. Justru dia akan merasa aneh kalau aku menerima tawaran itu tanpa adanya keuntungan yang jelas. Bukan aneh, mungkin dia justru khawatir aku meminta sesuatu yang aneh.

Inanna hanya menurut ketika aku menolak tawaran itu. Di lain pihak, Emir bertanya-tanya kenapa aku menolak. Ufia tidak memberi respon karena dia masih khawatir dengan jawabanku atas panggilan Enlil.

Kemarin, aku tidak bisa menceritakan kenapa aku menolak tawaran menjadi instruktur karena ada Jeanne dan Ufia. Aku ingin mengajak mereka malam hari ini. Selain menjelaskan alasanku menolak tawaran Jeanne, aku juga akan menjelaskan motif Raja Fahren dan Arid, sekalian memastikan Inanna dan Emir.

Melihat hubungan Inanna dan Raja Arid yang tidak terlalu baik, menurutku, Inanna akan mendukungku. Namun, aku meragukan Emir. Apakah dia benar-benar mencintaiku? Atau dia hanya menjalankan misi? Kalau dia hanya menjalankan misi, malam ini juga aku akan langsung mengusirnya dari rumah.

Ya, aku sudah tahu jawabannya sih.

Tring Tring Tring

Handphoneku berdering. Aku melihat nama di layar sejenak lalu mengangkatnya. Karena aku tidak mau percakapan ini menjadi konsumsi umum, aku menempelkan handphoneku di telinga, mematikan fitur monitor.

[Heh, Gin, gara-gara kamu, Ufia diusir dan diasingkan nih dari keluarga Alhold.]

“Sudah kubilang kan kemarin.” Aku menjawab Jeanne dengan enteng. “Sekarang, dia dimana?”

[Di rumahku!] Jeanne berteriak. [Tanggung jawab. Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya, kamu harus membuat Ufia diterima lagi.]

Aku mendengus. “Apa kamu mendengar ucapan Inanna dan Emir kemarin? Walaupun aku pergi menemui tua bangka itu, Ufia tidak akan serta merta diterima lagi. Bahkan, kalau aku semakin berselisih dengan keluarga Alhold, ada kemungkinan posisi Ufia akan semakin parah.”

Di keluarga Alhold, ada sebuah ajaran yang menyatakan “Kalau kamu tidak bersamaku, maka kamu musuhku”. Jadi, saat ini, karena Ufia tidak lagi sependapat dengan keluarga Alhold, dia pun dianggap sebagai musuh. Hanya ayah dan ibu yang mampu keluar dari ajaran itu. Dan, tentu saja, aku dan Ninlil pun juga tidak menggunakan ajaran itu.

“Hei, Lugalgin!” Sebuah suara memanggilku dari belakang.

Aku mengenal suara ini. Aku berbalik dan melihat dua om-om dan satu laki-laki sebaya denganku. Mereka semua memiliki rambut hitam. Bukan rambut hitam bangsawan, tapi rambut hitam Alhold. Mereka adalah Om Nagi, Om Ian, dan Arun, Paman dan sepupuku. Mereka adalah keluarga Alhold.

“Jeanne, saat ini, tiga orang dari keluarga Alhold mendatangiku. Setelah ini, aku bisa menjamin kalau kondisi keluarga Alhold akan semakin parah. Jadi, lebih baik, kamu berpikir cara agar Ufia bisa menerima kenyataan kalau dia adalah musuh keluarga Alhold.”

[Eh? Apa mak–]

Aku memutus telepon dan memasukkan handphone ke saku jaket.

Senjata yang hari kubawa adalah pisau survival di kaki kanan, terikat di betis di dalam celana.

Tiga laki-laki ini berdiri di depanku. Di kejauhan, aku melihat ada sebuah mobil. Tampaknya, mereka ingin memaksaku pergi bersama mereka, menemui Enlil.

Aku mengabaikan mereka dan kembali berjalan.

“Lu–“

“HEI!”

Sebuah suara menyela om Nagi. Aku berbalik dan melihat dua laki-laki yang tadi mencemoohku muncul.

“Kau! Kau kira kau siapa, berani pergi meninggalkan bangsawan begitu saja?”

“Selain itu, kau juga berani menyuruh-nyuruh Shinar begitu saja?”

“Ma, maaf, Kak Lugalgin, aku tidak bisa menghentikan mereka.”

Mereka meracau tidak jelas. Di lain pihak, tiga laki-laki Alhold ini tampak kesal karena disela begitu saja.

“Siapa kalian?” Om Nagi, bertanya.

“Hah? Sebelum kalian bertanya identitas orang lain, sebutkan dulu identitas kalian!”

“Bagaimana kalau kalian di– Tunggu, LUGALGIN!”

Dan Om Nagi berhasil menyadari kalau aku berusaha pergi.

Aku berhenti sejenak. “Ini jawabanku. YBS! Yang butuh siapa! Kalau Enlil ingin menemuiku, maka dia yang harus bertamu ke rumahku, bukan sebaliknya. Katakan itu padanya.”

Aku mengabaikan Nagi dan meninggalkan mereka.

“KAU!”

Tanpa menoleh, aku merendahkan badanku, membuat cengkeraman tangan Nagi meleset. Di saat itu, aku meraih lengan bajunya dengan tangan kiri dan tangan kananku menumpu di ketiak. Dengan cepat, aku membantingnya ke aspal.

Lima orang yang tersisa membuka mulut dan mata mereka lebar-lebar. Tampaknya, mereka cukup terkejut dengan apa yang baru saja kulakukan.

“Ayo!”

“Eh?”

Aku menarik tangan Shinar, membawanya pergi dari tempat ini.

“EH? Kau mau membawa Shinar kemana?”

Dua laki-laki yang mengikuti Shinar mengikuti kami.

Aku menoleh sedikit ke belakang.

“Tiarap!”

Aku menarik Shinar dan memberi perintah pada dua laki-laki di belakang kami. Tepat saat itu, beberapa pisau melayang, melewati atas tubuh kami.

“Aku titip, ya.”

“Eh?” Shinar merespon pelan ketika aku menyodorkan teh herbal yang baru aku beli.

Kau tidak bisa memberi respon selain “eh” apa? Ya, tidak penting.

Aku menarik celana jeansku ke atas dan mengambil pisau survivalku. Di bagian bawah hendel ada sebuah cincin besar.

Om Nagi, Om Ian, dan Arun, sudah bersiap menyambutku. Terlihat beberapa pisau melayang di dekat mereka. Satu per satu pisau melayang dengan cepat, menerjang ke arahku. Namun, aku mampu menghindari setiap serangan.

Aku melempar pisauku. Sesuai dugaan, mereka mampu menangkis pisauku dengan mudah. Aku menarik cincin besar yang tertinggal di tanganku, menarik pisau. Pisau dan cincin besar ini dihubungkan oleh benang logam, yang membuatku bisa melempar dan menariknya hingga beberapa meter.

Aku melangkah ke kiri, menghindari beberapa pisau yang menerjangku dari belakang. Dua pisau menancap pada tubuh Arun, sementara Om Nagi dan satu orang dewasa yang lain berhasil menghindar. Bodoh sekali si Arun bisa terkena serangannya sendiri.

Beberapa pisau yang melayang berubah menjadi cairan lalu cambuk. Keluarga Alhold memang sarang orang berbakat, jadi perubahan bentuk benda yang seharusnya sulit adalah lazim.

Om Ian menggunakan cambuk itu dengan sangat piawai. Yang lebih repot lagi, panjangnya bisa berubah semaunya.

Aku terus menghindari serangan cambuk dan pisau yang dilancarkan padaku. Untuk serangan pisau, aku bisa menangkisnya. Namun, aku tidak mungkin mempertemukan cambuk Om Ian dengan pisauku. Kalau aku melakukannya, dia akan melucutiku.

Dan lagi, aku tidak boleh membiarkan mereka melukaiku. Kalau mereka berhasil melukaiku, dan menyentuh darahku, objek yang mereka gunakan tidak akan bisa dikendalikan lagi.

Kalau aku berencana membunuh mereka dengan tujuan menghilangkan saksi aku tidak akan memiliki masalah. Namun, aku tidak mungkin membunuh tiga orang di sore hari seperti ini, apalagi dengan banyak orang melihat di kejauhan.

“Melihat kalian membawa senjata, kalian tidak ada niatan membawaku dengan damai, kan?”

“Untuk apa? Walaupun kami membuatmu menderita, Paman tidak akan keberatan.”

Well, aku sedikit penasaran kenapa Enlil begitu membenciku. Sedikit.

Dan, sampai saat ini, mereka belum sadar. Bagus.

Di saat itu, tiba-tiba dua orang datang di depanku. Dengan pedang medieval, mereka mampu menangkis pisau Om Nagi dan cambuk Om Ian.

“Apa yang kalian lakukan?”

“Meski aku tidak suka kau, kami adalah kesatria. Kami tidak bisa meninggalkan orang yang diserang begitu saja.” Laki-laki berambut hitam, Der, menjawabku.

“Der, benar, kami adalah kesatria.” Kutha ikut menjawab.

Sayang sekali. Padahal, aku sudah menambah jarak secara perlahan-lahan, bersiap untuk menarik mereka ke salah satu gang dan menyerang mereka di situ. Tampaknya, aku terpaksa beralih ke rencana alternatif.

Kalau kalian penasaran kenapa mereka membawa pedang, hal itu karena siswa sekolah kesatria diberi besi yang bisa mereka bawa kemana saja. Besi itu juga berfungsi ganda sebagai izin membawa senjata tajam. Jadi, jika siswa yang bersangkutan mampu mengubah bentuk besi itu menjadi pedang, mereka otomatis memiliki izin. Kalau tidak bisa... ya, sudah cukup jelas.

“Kalian jangan ikut campur! Ini urusan keluarga kami?”

“Hah?” Der melihat ke arahku.

Aku mendengus. “Sayangnya, aku tidak bisa mengelak kalau mereka dan aku memiliki hubungan darah.”

Di belakangku, Shinar sudah berdiri dengan pedang. Dia berjaga kalau ada pisau melayang dari belakang lagi.

“Kak Lugalgin, kita hanya perlu bertahan hingga polisi datang. Saat ini, pasti sudah ada yang melaporkan kejadian ini.”

Mungkin ada yang melapor, tapi aku yakin polisi tidak akan datang. Kenapa? Kemungkinan pertama, beberapa anggota keluarga Alhold sudah berjaga di sekitar, memastikan polisi tidak akan mengganggu.

Kemungkinan kedua, Raja Fahren sudah mendapat laporan kalau aku diserang, tapi dia tidak akan bergerak. Justru sebaliknya, dia akan melarang polisi datang. Dengan demikian, dia akan mampu memberi alasan seperti “kalau kamu mau menjadi instruktur (dan menjadi calon raja), maka kami akan memberimu perlindungan”. Semacam itu.

Seriously. Orang-orang ini mulai memberiku masalah.

“Kalau begitu, aku pinjam pedangmu.”

Tanpa menunggu jawaban, aku langsung mengambil pedang di tangan Shinar. Aku berlari, melewati Der dan Kutha, menuju Nagi dan Ian. Dengan pedang di tangan kiri, aku menangkis semua pisau yang dikirim Nagi.

Ian melakukan perubahan bentuk lagi. Dia memendekkan cambuknya dan menyerang.

Aku membiarkan cambuk itu melilit pedang di tangan kiriku, dan melepasnya. Aku melepas sepatuku dan melemparnya ke arah Nagi.

Kini, dengan Nagi terpaksa menghindar dari sepatu yang kulempar, dan cambuk Ian belum siap menghadapiku, aku melempar pisau, dan menancapkannya di perut Ian. Setelah cukup dalam, aku menarik pisauku, membuat darah menyembur dari perut Ian.

“AAAHHHH!!!!!”

Sebuah teriakan terdengar. Ian terjatuh dengan tangan memegang perut.

“KAU!”

Nagi kembali meluncurkan beberapa pisau, tapi aku bisa menangkis semua pisau yang dia luncurkan dengan mudah.

“Apa kau yakin mau menyerangku terus? Luka di perut Om Ian cukup dalam, belum lagi bagian belakang pisauku bergerigi. Berbeda dengan Arun, tidak ada pisau yang menancap di perut Om Ian untuk menghentikan pendarahan. Kau tahu kan apa artinya, Om Nagi?”

“Guh,”

Om Nagi pun berhenti menyerang. Dia mengabaikan tangan ke satu tempat. Dalam waktu singkat, mobil yang tadi bersembunyi muncul, membawa mereka bertiga.

Aku berjalan agak jauh, mengambil sepatuku.

Tidak jauh dariku, Shinar datang dan mengambil pedangnya.

“Terima kasih ya sudah menjaga tehku.” Aku mengambil kembali teh herbalku yang ada di tangan Shinar. “Dan, maaf ya sudah melibatkan kalian dalam masalah keluargaku. Dah...”

Aku berjalan, meninggalkan Shinar dan yang dua laki-laki itu.

“Anu, Kak Lugalgin.”

Aku tidak berhenti.

“Ah, um, apa benar Kak Lugalgin mendapat tawaran untuk menjadi instruktur di sekolah kesatria?”

“Hah?”

Akhirnya, Shinar berhasil membuatku berhenti.

“Darimana kau mendengarnya?”

“Rumor itu sudah beredar di sekolah kesatria.” Kutha menambahkan.

“Alasan lain kenapa kami menghentikanmu adalah ingin menanyakan hal itu.” Der menambahkan.

Sudah beredar di sekolah kesatria? Apa ini pekerjaan Raja Fahren itu juga?

“Ya, benar. Lebih tepatnya, aku diminta untuk menyeleksi siswa yang berpotensi untuk menjadi agen schneider.”

“Hah?”

Mereka bertiga memberi respon yang sama.

“Tapi aku menolaknya.“

“Tolong pertimbangkan lagi.”

Tiba-tiba saja, Shinar sudah membungkukkan badannya di depanku.

“Kenapa aku harus menerimanya?”

“Itu... itu....”

Shinar tidak kunjung memberi jawaban. Tampaknya dia ragu-ragu. Mungkin alasannya sensitif, tapi aku tidak peduli. Kalau dia tidak mau memberikan alasannya, aku tidak akan menerimanya.

“Kalau kau tidak mau memberiku alasan, kenapa aku harus menerimanya.”

“Tunggu dulu!” Kutha menghentikanku.

Aku melirik ke Der dan Kutha. Mereka menggertakkan gigi, menahan amarah.

“Apakah uangnya kurang?” Der memberi tawaran lain.

“Aku tidak butuh uang. Aku masih memiliki hadiah battle royale. Dan jangan bilang harga diri dan kehormatan, karena aku tidak peduli dengan hal-hal semacam itu.”

Tidak ada jawaban lain muncul. Mereka masih diam seribu bahasa.

“Kalau kalian tidak mau mengatakannya, aku akan pergi.”

Aku berbalik, meninggalkan mereka bertiga.

Ah, jadwal kepulanganku jadi terlambat ya. Sekarang aku harus menunggu setengah jam lebih untuk bus yang selanjutnya datang. Tidak keluarga Alhold, tidak keluarga kerajaan, sama-sama merepotkan. 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?