Arc 3 Ch 5 – Kerajaan Bana'an dan Pasar Gelap

daripada keseringan minta maaf (yang kelihatannya annoying banget di post), aku mengumumkan ada kemungkinan ke depannya sering update malem. Kalau sedang normal, tidak ada gangguan, Rabu siang sudah update. Tapi, kalo ada gangguan, entah pergelangan tangan geser, sakit, demam, sibuk, atau lain sebagainya, kemungkinan besar update malem.

anyway, silakan dibaca

================================================

“Silakan tunggu di sini.”

Kami bertiga, aku, Emir, dan Inanna, diminta menunggu. Meskipun Emir adalah putri raja dan Permaisuri Rahayu, tapi secara status, dia bukan lagi keluarga mereka. Oleh karena itu, kami berada di mansion untuk menerima tamu yang tidak memiliki urusan administrasi.

Sebelumnya, biar aku bicarakan mengenai tata letak istana secara singkat. Istana Bana’an bukanlah istana jaman primitif seperti yang ada di buku sejarah, melainkan sebuah kompleks bangunan. Bagian dalam istana terbagi menjadi beberapa kawasan, yaitu kawasan administrasi, kawasan militer, kawasan pemukiman, kawasan hiburan, dan bangunan inti.

Stadium untuk battle royale berada di kawasan militer sedangkan ruang pesta dan ruang audiensi berada di bangunan inti. Bangunan inti juga berfungsi sebagai tempat tinggal Raja dan Permaisuri.

Bangunan pertama yang harus kamu datangi adalah bangunan penerima tamu. Bangunan ini adalah bangunan pertama yang harus didatangi setelah melewati gerbang. Kamu harus melapor pada petugas mengenai keperluanmu datang ke istana. Apakah pengaduan, meminta pertemuan, pengajuan keringanan upeti atau pajak, permintaan pengawalan, dan lain sebagainya. Lalu, setelah itu, baru diantar ke kawasan yang dituju.

Normalnya, untuk pertemuan, kami harus datang dua kali. Pertama, kami mengisi formulir untuk mengetahui pihak yang akan ditemui beserta tujuannya. Selanjutnya, bagian administrasi akan mengecek apakah pertemuan itu bisa dilakukan dengan keluarga kerajaan yang dimaksud. Seminggu kemudian, orang yang ingin bertemu akan kembali ke istana untuk mengecek apakah pertemuan itu bisa dilakukan.

Pemberitahuan diberikan dengan surat dalam amplop bersegel. Istana menolak memberi pemberitahuan secara online atau melalui telepon untuk menghindari penipuan. Bahkan, arsip mereka juga offline.

Namun, karena yang meminta pertemuan adalah Emir, kami pun dipandu ke bangunan ini. Kami dibawa ke kawasan pemukiman, dimana selir dan anak-anaknya tinggal. Bangunan ini diperuntukkan untuk selir atau anak-anaknya menerima tamu sebelum dibawa ke rumah mereka.

Aku ke kamar mandi untuk mengambil sebuah senjata. Aku membuka tempat air kloset duduk dan mengambil sebuah plastik kedap air. Di dalam plastik kedap air itu, terdapat sepasang pistol dengan bayonet dan beberapa magasin peluru.

Pistol ini bukanlah yang kubawa di Arsenalku, tapi disediakan oleh Mulisu. Aku meneleponnya tadi malam dan mengatakan kondisiku. Dan, dia menyatakan akan meletakkan senjata di dalam kamar mandi, di tempat air kloset.

Namun, melihat kondisi ini, dimana senjata bisa diselundupkan ke kawasan pemukiman istana, keamanan kerajaan ini benar-benar sudah bobrok. Dulu aku tidak terlalu tahu karena tidak peduli. Tapi, semenjak serangan orang yang mengaku bernama Kinum itu, aku mulai mencari tahu keadaan kerajaan ini. Dan, hasilnya cukup mengejutkan. Kerajaan ini diambang kehancuran.

Ya, aku tidak bisa protes sih karena aku lah alasan utama kenapa keadaan bisa menjadi seperti ini.

Aku kembali ke ruang utama dimana aku meninggalkan tas selempangku. Tas itu hanya berisi satu botol air mineral. Aku mengeluarkan botol itu dan memasukkan pistol ini. Pisau di kakiku disita saat pemeriksaan di gedung administrasi.

“Dari mana kamu mendapat pistol itu?” Inanna bertanya.

“Di kamar mandi. Aku meminta kenalanku memasukkannya karena aku tahu kalau senjataku akan disita di gerbang.”

“Heh... keamanan kerajaan ini bobrok sekali ya.”

“Ya, aku tidak memungkirinya.” Aku memberi tas ini ke Inanna. “Pelurunya adalah peluru timah berjaket baja. Jadi, kamu juga bisa mengendalikannya.”

“Hehe, terima kasih.” Inanna tersenyum sambil menerima tas.

Berbeda dengan Inanna yang penasaran dan bertanya, Emir hanya terdiam dan melihat ke pintu.

Sejak kemarin malam, Emir tidak bisa tenang. Bahkan, aku meniadakan latihan menjadi ibu rumah tangganya tadi malam.

Klak

Tidak lama kemudian, knop pintu berputar. Kami melihat ke pintu dan mendapati empat orang berdiri. Empat orang itu adalah Permaisuri Rahayu, Tuan Putri Yurika, Raja Fahren, dan satu kesatria.

Permaisuri Rahayu dan Yurika mengenakan kemeja dan rok panjang berwarna putih, membuat rambut merah muda mereka tampak semakin lembut. Raja Fahren, dengan rambut hitamnya, mengenakan setelan dengan jubah kerajaan. Untuk si kesatria, dia mengenakan baju zirah ringan lengkap dengan tombak, perisai, helm. Di pinggangnya, tampak sebuah sub machine gun dan pedang.

Ketika melihatku, si kesatria itu menggertakkan geraham dan memicingkan mata. Tampaknya, dia adalah salah satu dari orang yang memandangku... ung, tunggu dulu, tampaknya aku pernah melihat wajahnya. Ah, sudahlah.

“Ah, Ayah, ibu, kakak.”

“Ah, sayang...”

Permaisuri Rahayu adalah yang pertama bergerak, meraih dan memeluk Emir erat. Mereka melepas kerinduan setelah beberapa bulan tidak bertemu. Permaisuri Rahayu memeluk Emir dengan erat.

“Ibu kangen sekali.”

“Aku juga kangen, bu.”

Permaisuri Rahayu tidak kunjung melepaskan Emir. Namun, setelah beberapa saat, akhirnya Permaisuri Rahayu melepaskan Emir.

Setelah permaisuri Rahayu, giliran Tuan Putri Yurika lalu Raja Fahren. Seperti halnya Permaisuri Rahayu, Tuan Putri Yurika juga merangkul Emir cukup lama. Hanya Raja Fahren yang merangkul Emir sejenak.

Kalau orang normal melihat, mereka pasti akan merasa tersinggung. Seharusnya, raja dulu, baru permaisuri dan tuan putri. Tapi, ini adalah lingkungan istana, peraturan yang berlaku adalah berbeda.

“Lugalgin, terima kasih sudah mau mengantar Emir ke sini,” Permaisuri Rahayu berbicara padaku.

“Tidak perlu berterima kasih. Bagaimanapun juga, Emir adalah kandidat istriku. Aku tidak bisa membiarkannya pergi sendirian.”

“Tetap saja, terima kasih.” Permaisuri Rahayu mengalihkan pandangan ke Inanna. “Apa ini calon istrimu yang diberi oleh Raja Arid?.”

Jujur, aku agak tersinggung dengan kata “diberi” yang digunakan oleh Permaisuri Rahayu. Dia mengatakannya seolah-olah Inanna adalah barang. Tapi, aku tidak mengatakannya.

“Selamat siang, hamba adalah Inanna Arc Spicante, Putri dari Selir Filial Arc Spicante dan Raja Arid Kai Behequem.”

Inanna memberi perkenalan layaknya tentara.

“Benar-benar menawan. Selain itu, dia tampak begitu disiplin. Aku tidak tahu apakah kedisiplinannya karena dia putri selir atau karena latar belakang militernya.”

“Yang Mulia terlalu memuji.”

Sementara itu, aku dan Raja Fahren saling melempar pandangan. Tidak seperti yang lain yang bertemu dengan tenang tanpa konflik, kami justru memiliki konflik. Tanpa sepatah kata pun, kami saling melempar pandangan sengit. Tidak mau mengalah.

“Baiklah,” Permaisuri Rahayu menyela kami. “Karena Emir ingin berbicara denganku dan Yurika, sayang, bisakah kamu keluar.”

“Oh, baiklah, sayang.” Raja Fahren melihat ke arahku. “Lugalgin, apa kamu tidak mau menemaniku? Aku sudah menyiapkan teh untuk kita berbincang-bincang di teras. Jangan khawatir, kesatria ini akan menjaga mereka.”

“Oh, hamba merasa terhormat.” Aku melempar pandangan ke Inanna. “Inanna, kamu di sini saja ya, temani dan jaga Emir.”

“Oke.” Inanna merespon cepat.

“Maaf, Permaisuri Rahayu, Tuan Putri Yurika, bukannya saya tidak percaya pada kalian dan kesatria itu, tapi saya mengkhawatirkan kalau tiba-tiba ada serangan. Saat ini, Emir tidak berada pada kondisi yang bisa bertarung.”

“Kamu perhatian sekali, Lugalgin.”

Tuan Putri Yurika memberikan respon yang hangat. Di lain pihak, wajah kesatria itu semakin masam.

Raja Fahren dan aku pun keluar, menuju ke teras dimana sebuah teh sudah menunggu di atas meja. Bagian atasnya terpasang payung besar, menghalangi matahari mencapai kami.

“Jadi, apa yang kau inginkan?”

“Dingin sekali kamu. Jangan lupa, bagaimanapun juga, aku adalah Raja Bana’an. Kalau ada yang mendengar, atau melihat, sikapmu padaku, kamu sudah ditahan.”

“Kalau itu terjadi, sama saja kau menggali kuburanmu, iya kan? Raja Bana’an, kerajaan yang berada di ujung kehancuran.”

Di saat itu, pandangan Raja Arid menjadi serius.

“Apa yang kau ketahui?”

Aku menjelaskan kondisi Bana’an. Bana’an diambang kehancuran bukan karena faktor luar atau faktor masyarakatnya, tapi karena faktor pasar gelapnya. Sejak tragedi keluarga Cleinhad, kekuatan militer Kerajaan ini turun drastis. Oleh karenanya, kerajaan ini tidak mampu lagi menekan pasar gelap.

Kalau dunia pasar gelap mau, sebenarnya, kerajaan ini sudah hancur sejak lama. Namun, mereka tidak bisa melakukannya begitu saja. Kalau mereka menghancurkan Kerajaan Bana’an, maka mereka tidak akan bisa melakukan transaksi. Tanpa pemerintah, Bana’an akan kacau, menyebabkan pemasok barang dan klien akan berhenti melakukan transaksi.

Ketika hal itu terjadi, hanya mafia yang bertransaksi senjata yang akan diuntungkan. Untuk mafia yang bergerak di lini lain, tidak. Oleh karena itu Mafia yang tidak bergerak di bidang transaksi senjata harus mengawasi Mafia yang bergerak di bidang itu.

Bana’an menyadari hal ini dan memanfaatkannya. Mereka menyatakan tidak akan mengganggu pasar gelap selama pasar gelap tidak serakah dan mengganggu stabilitas Kerajaan. Bahkan, Bana’an akan membiarkan transaksi yang terjadi selama enam pilar memberi kabar soal transaksi itu.

Kondisinya adalah semua pihak, mafia dan kerajaan, saling menodong. Tapi, menurutku, pistol yang ditodongkan oleh pihak kerajaan adalah pistol kosong. Kenapa? Sebenarnya, kalau pasar gelap mau, mereka bisa meletakkan raja lain di kursi Fahren dan mengendalikan Bana’an dari bayangan. Tapi, tidak ada satu pun mafia yang mampu melakukannya.

Bukan karena keamanan kerajaan yang ketat, tapi karena dihalangi oleh mafia lain. Kalau satu mafia mengendalikan Bana’an dari bayangan, mafia itu akan mendapatkan kekuatan yang sangat besar, membuatnya tidak bisa dibendung. Kalau sudah begitu, pasar gelap akan dikuasai dan dimonopoli oleh mafia tersebut. Dengan kata lain, ancaman pemerintahan diterima karena masalah antar mafia.

“Jadi, alasan lain kenapa kau menginginkanku menjadi raja adalah karena aku berasal dari pasar gelap. Kau berharap aku bisa membuat transaksi dan mengendalikan mafia-mafia itu, dan memastikan keamanan kerajaan ini, kan?”

Raja Fahren tersenyum. Bukan senyum sini, atau masam, tapi senyum lega. Bahkan, dia menyandarkan punggung dan memejamkan matanya. Tidak lama kemudian, dia merendahkan tubuhnya, mengambil sesuatu dari bawah kursi, dan meletakkan benda itu di atas meja.

“Ini adalah dokumen yang kau minta.”

Aku mengambil amplop coklat di atas meja dan membukanya. Aku mengambil dokumen di dalamnya dan membacanya dengan cepat.

Sementara aku membaca dokumen ini, Raja Fahren tidak mengatakan apapun.

Setelah beberapa menit, aku selesai membaca dokumen ini. Sebuah pertanyaan muncul di benakku.

“Kenapa kau memberi dokumen ini sekarang? Kenapa tidak nanti saja saat aku mau meninggalkan tempat ini?”

“Penyebab semua kejadian ini adalah isi dokumen itu. Keluarga Cleinhad adalah keluarga yang telah menjaga Kerajaan ini dari bayangan sejak berdiri. Lebih dari setengah anggota Keluarga Cleinhad adalah agen schneider aktif. Aku berharap, dengan kau membaca dokumen itu, kau mengerti separah apa keadaan kerajaan ini. Dan, dengan demikian, aku berharap kamu mau mengambil alih kerajaan ini dariku.”

Caranya meminta tolong agak berputar-putar.

“Untuk tawaranmu menjadi instruktur Agen Schneider, apa tujuanmu?”

“Mudah saja, karena kamu akan membutuhkan Agen Schneider baru. Sejak dua tahun lalu, sejak tragedi itu, perekrutan dan pelatihan Agen Schneider diambil alih oleh Keluarga Azzaha. Permasalahannya adalah, hanya keluarga Cleinhad yang mengerti bagaimana dunia pasar gelap beroperasi.

“Di lain pihak, keluarga Azzaha tidak tahu apa-apa soal pasar gelap. Mereka bahkan merekrut orang-orang dari sekolah kesatria untuk menjadi Agen Schneider. Sekolah kesatria didirikan untuk melatih kesatria di lini depan peperangan. Mereka adalah orang bersih. Tidak seperti agen schneider yang harus bekerja di dunia kotor.

“Kamu lihat sendiri kan bagaimana Emir dan Ufia? Jeanne adalah orang terakhir yang direkrut dan dilatih oleh keluarga Cleinhad.”

Ah, itu menjelaskan kenapa Emir yang tidak mampu berbohong dipilih menjadi agen schneider. Dan, hal ini juga yang menyebabkan walaupun Emir dan Ufia, meski tidak mampu menahan aura haus darah atau niat membunuh, bisa menjadi agen schneider.

Aku sedikit bersimpati dengan keadaan agen schneider. Sedikit.

“Sebelum itu, aku ingin menanyakan satu hal mengenai dokumen ini.”

“Apa itu?”

“Aku meminta dokumen tentang semua hal yang berhubungan dengan keluarga Cleinhad, tapi, yang ada di dokumen ini, hanya yang berhubungan dengan tragedi itu.”

Raja Fahren terdiam sejenak. Dia sedikit memicingkan mata, melihatku dalam-dalam.

“Apa tragedi itu bukan alasan utama kamu meminta dokumen ini?”

“Bukan. Aku tidak peduli dengan tragedi itu,” aku menjawab dengan tegas. “Yang aku cari adalah data mengenai anak-anak korban perdagangan anak yang dilakukan oleh Keluarga Cleinhad. Siapa rekan transaksinya dan posisi mereka.”

Raja Fahren sontak berdiri. Dia melihatku dengan mulut dan mata terbuka lebar-lebar. Keringat dingin mulai mengalir, membasahi tubuhnya.

“Ka, kamu...”

“Alasan utama enam pilar dan mafia pasar gelap berani mengarahkan taring mereka ke kerajaan adalah karena tidak ada lagi yang memasok mereka dengan anak-anak. Tanpa anak-anak yang disuplai oleh Keluarga Cleinhad, mafia kesulitan mencari dan melatih orang baru.”

“Dari mana kamu mengetahui semua itu?”

Aku terdiam sejenak, menyeruput teh yang sudah tidak panas ini.

“Kau sudah tahu kan kalau aku adalah pedagang di pasar gelap. Apa yang membuatmu berpikir kalau informasi ini tidak akan mencapaiku?”

“Tidak mungkin!” Raja Fahren menolak pertanyaanku. “Hanya enam pilar dan mafia-mafia ring 1 yang mengetahui informasi ini. Pedagang kelas teri sepertimu tidak mung–“

Raja Fahren menghentikan kalimatnya. Keringatnya semakin deras mengalir. Bahkan, dia melangkah mundur, menjauhiku. Tampaknya, dia mulai menyadari satu hal.

Aku menyeringai. “Pedagang kelas teri?”

Bersambung

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?