Arc 3 Ch 6 – Pilihan Emir

“I, ibu, kakak, sebenarnya...”

Aku menceritakan kembali penjelasan yang aku dengar dari Lugalgin. Meski aku ragu apakah ibu dan Kak Yurika boleh mengetahuinya, tapi aku ingin mereka tahu. Aku tidak tahu harus berbuat apa dan aku butuh masukan mereka. Ini adalah pertama kalinya juga ibu dan kak Yurika mengetahui kalau aku adalah agen schneider.

Aku menjelaskan kalau keluarga Alhold adalah keluarga inkompeten, tapi aku tidak bercerita kalau inkompeten memiliki kemampuan menghilangkan pengendalian orang lain.

Beberapa kali, Inanna masuk, mencoba menutupi penjelasanku yang lemah karena berusaha menghindari topik inkompeten. Tidak lama kemudian, ceritaku pun selesai. Aku hanya bisa berharap mereka bisa menerima cerita yang tampak dipaksakan ini.

“Apa Lugalgin serius? Apa ayah benar-benar melakukan semua itu?”

Aku mengangguk, memberi konfirmasi pada ucapan Kak Yurika.

Kak Yurika membuka mulutnya, tapi aku tidak mendengar sepatah kata pun. Bibirnya hanya bergerak tak karuan.

Di lain pihak, ibu tidak memberi respon. Dia tampak begitu tenang. Apa ini berarti ibu sudah mengetahuinya? Tapi kata Lugalgin, baru aku, Jeanne, dan beberapa agen schneider yang mengetahui kalau dia adalah kandidat raja.

“Jujur, meski aku marah pada ayah, tapi aku tidak punya hak.” Kak Yurika memegangi pelipisnya. “Kita adalah putri ayah, Raja Bana’an. Sejak lahir, kita diberi hak atas kemewahan dan keistimewaan, tapi sebagai gantinya kita tidak memiliki hak untuk memilih pasangan hidup kita.”

“Yurika,” ibu masuk. “Saat ini, yang Emir butuhkan adalah saran apa yang sebaiknya dia lakukan. Dia tidak perlu mendengar itu darimu.”

“Tapi bu–“

“Dan lagi,” ibu menyela. “Apa kamu lupa kalau status Emir bukan lagi keluarga kerajaan, melainkan rakyat jelata?”

“I, itu....” Kak Yurika terdiam sejenak. Dia melihat ke arahku lalu melanjutkan ucapannya. “Apa menurut ibu, ayah akan menerima alasan itu? Maksudku, ayah adalah seorang Raja. Dia bisa saja langsung menarik Emir kembali.

“Atau, kalau dia mau, dia akan bersekongkol dengan salah satu putra putri selir lain agar mereka menang battle royale. Dengan demikian, ayah bisa menarik Emir kembali menjadi tuan putri dengan mulus. Ditambah lagi, Emir adalah agen schneider. Dia tidak bisa menolak perintah ayah begitu saja.”

Setelah mendengar semua ucapan Kak Yurika, aku merasa gravitasi menjadi semakin berat.

Kak Yurika benar, ayah tidak akan tinggal diam begitu saja. Bisa saja ada putra putri selir lain yang akan menang dua battle royale selanjutnya dan membuatku kembali menjadi tuan putri. Ketika hal itu terjadi, kalau Lugalgin menepati ucapannya, dia akan langsung menceraikanku.

Tidak. Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku tidak mau.

“Yurika, apa menurutmu Lugalgin akan membiarkan ayahmu melakukan hal itu?”

“Eh?”

Tidak. Lugalgin tidak akan membiarkannya begitu saja. Tapi, tapi....

“Apa ibu tidak salah? Kalau Lugalgin melakukan hal itu, sama saja dia menentang Raja kan? Apa dia bersedia menjadi musuh kerajaan ini hanya untuk Emir? Sejauh yang aku kenal, Lugalgin orangnya tenang dan logis. Aku ragu dia akan melakukannya.”

“Huhuhu,” ibu tertawa pelan. “Ibu tidak yakin,” Ibu melempar pandangan padaku dan Inanna. “Emir, Inanna, kalian adalah agen schneider dan gugalanna. Informasi apa yang kalian miliki mengenai rekam jejak Lugalgin di pasar gelap?”

“Eh?”

Aku dan Inanna menjawab hampir bersamaan. Kami saling memandang, memastikan kalau kami tidak salah dengar. Aku juga melihat keraguan di mata Inanna. Berarti, kami tidak salah dengar.

“Informasi yang kumiliki,” aku mulai duluan. “Lugalgin adalah penjual barang antik.”

“Sama, aku juga mendapatkan informasi yang sama.”

Ibu masih menyeringai. “Lalu?”

“Lalu?” aku memiringkan kepalaku. “Apanya yang lalu?”

“Sayangnya, hanya itu.” Inanna menjawab dengan tegas.

Ibu melihat ke Inanna. “Inanna, tampaknya kamu sudah paham.”

Inanna mengangguk.

Eh? Apa? Apa? Apa yang sudah kamu pahami tapi aku belum?

Aku melihat ke arah Kak Yurika. Mata kak Yurika melotot dengan mulut setengah terbuka. Tampaknya dia sudah mengetahui maksud ucapan ibu dan Inanna.

“Ung, maaf, bisa tolong jelaskan padaku apa maksud ucapan kalian? Aku tidak paham.”

“Hah, Emir,” ibu memegangi pelipis. “Kamu ahli strategi dan bertarung, tapi, sayangnya, kamu bodoh kalau dalam hal seperti ini.”

Eh? Apa itu pujian? Atau hinaan?

“Dengar,” ibu mulai memberi penjelasan. “Apa menurutmu tidak aneh seorang yang berkecimpung di dunia pasar gelap hanya dikenal sebagai penjual barang antik? Maksud ibu, usaha yang dilakukan Lugalgin, menjual barang antik, bukan benar-benar kegiatan ilegal. Normalnya, dia tidak perlu terjun ke pasar gelap hanya untuk menjual barang antik.”

Ung, setelah kupikir-pikir benar juga ucapan ibu. Normalnya, orang akan berpikir Lugalgin membutuhkan koneksi untuk mampu menjual barang-barang itu. Tapi, dengan kualitas barang-barang yang bagus, tanpa perlu Lugalgin terjun ke pasar gelap pun barangnya akan tetap terjual. Kalau begitu...

“Ditambah lagi,” Inanna menambahkan. “Informasi yang beredar tentang Lugalgin hanyalah informasi yang umum diketahui seperti dia inkompeten dan menjual barang antik. Mungkin, akan lebih jelas kalau aku bilang, informasi yang beredar, tidak peduli dari sumber mana pun, adalah sama.”

Sama?

Tidak. Tidak mungkin.

Kak Yurika berdiri. “Apa ibu dan Inanna mau bilang kalau Lugalgin menghilangkan rekam jejaknya di dunia pasar gelap?”

“Atau,” Inanna kembali menambahkan. “Dunia pasar gelap sepakat untuk tidak mengatakan apapun mengenai Lugalgin selain dia adalah pedagang barang antik.”

Dunia pasar gelap sepakat? Kalau begitu, Lugalgin bukanlah–

“Baiklah, cukup sampai di situ saja.” Ibu menyela. “Tidak perlu terlalu jauh. Kita di sini untuk membicarakan apa yang sebaiknya dilakukan oleh Emir, bukan masa lalu Lugalgin. Sederhananya, kita tidak perlu memikirkan apa yang akan Lugalgin lakukan.”

Kak Yurika, Inanna, dan aku, saling melempar pandang. Meskipun kami sedikit tidak puas dengan pembicaraan yang dihentikan di tengah, tapi ibu benar. Kami pun kembali ke topik utama.

“Lalu, menurut ibu, apa yang harus aku lakukan?” Aku langsung bertanya pada ibu.

“Sebelum ibu menjawab, ibu ingin bertanya satu hal padamu. Kenapa kamu ragu?”

Eh?

“Sayang, ibu sudah membesarkanmu sejak kamu lahir. Ibu tahu benar kalau kamu sebenarnya sudah membuat keputusan, tapi kamu ragu. Dengan kata lain, sebenarnya, kamu datang ke sini bukan mencari saran, tapi mencari pembenaran atas keputusanmu.”

“I, itu...”

“Emir,”

Tanpa aku sadari, Ibu sudah merendahkan badannya di depanku. Ibu meletakkan tangannya di pipiku. Aku bisa merasakan kehangatan tangan ibu meresap di pipi, memberiku rasa tenang. Hanya dengan belaian tangan ibu, entah kenapa, mulutku bergerak sendiri.

“Aku ingin bersama Lugalgin. Tapi, aku tidak yakin dengan perasaanku. Setelah mendengar cerita Lugalgin, aku menyadari kalau pertemuanku dan Lugalgin sudah diatur oleh ayah. Aku takut! Jangan-jangan, aku jatuh hati pada Lugalgin hanyalah bagian dari rencana ayah. Jangan-jangan, aku tidak benar-benar jatuh hati pada Lugalgin. Aku takut.”

Entah kenapa, bibirku terasa semakin sulit untuk berbicara. Padahal, aku ingin mengatakan banyak hal, tapi bibirku terasa berat, membuat ucapanku terpatah-patah.

“Dan, dan, kalau aku bersama Lugalgin, aku takut aku harus menentang ayah, yang secara tidak langsung sama saja dengan aku melawan ibu, kak Yurika, Kak Maxwell, Lexicon, dan juga Bemmel. Aku takut, kalau ada saat dimana aku harus menyakiti kalian. Aku tidak mau.”

Ah, akhirnya aku tahu kenapa bibirku terasa begitu sulit untuk bergerak. Tanpa aku sadari, aku sudah menangis, membuat suaraku tersedak-sedak.

“Ibu, aku, aku....”

“Sayang,”

Tiba-tiba saja, ibu merengkuhku, membenamkanku dalam pelukan. Ibu pun mengelus punggungku dengan lembut, mencoba menenangkanku.

Di saat ini, entah mengapa, aku bisa merasakan kekhawatiranku perlahan menghilang. Aku merasa semua ketakutanku sudah menghilang, meleleh oleh kehangatan ibu. Aku tidak peduli berapa lama waktu yang sudah berlalu, aku tidak ingin melepaskan diri dari kehangatan ini. Namun, sayangnya, aku harus.

Aku melepaskan diri dari ibu, melihat dalam-dalam ke mata ibu.

“Sudah tenang?”

Aku mengangguk.

“Bagus, duduk lagi ya.”

Aku dan ibu pun kembali duduk. Aku di sebelah Inanna sedangkan ibu di sebelah kak Yurika.

“Sekarang, biar ibu memberi sedikit jawaban atas keraguanmu. “Ibu menatapku dalam – dalam. “Pertama, menurut ceritamu, dan dari gosip yang aku dengar, memang benar pertemuanmu telah diatur oleh ayahmu. Bahkan, kamu jatuh hati pada Lugalgin adalah rencana ayahmu.”

Kalau begitu–

“Tapi,” Ibu menyela dugaanku. “Kamu bukan satu-satunya. Ayahmu mengirim hampir semua putri selir dan permaisuri sebelum aku untuk mendekati Lugalgin. Entah lewat sekolah, pelanggan di kafe milik Lugalgin, menjadi klien barang antik, atau apapun itu. Bahkan, kakakmu ini juga sudah jatuh hati pada Lugalgin.”

“Eh?”

“Ah?”

“Hah?”

Aku, kak Yurika, dan Inanna mengeluarkan respon yang hampir bersamaan. Aku dan Inanna melihat baik-baik ke arah kak Yurika. Dari kami bertiga, teriakan kak Yurika adalah yang paling keras. Dengan kata lain, dia yang paling tidak menduga dengan ucapan ibu.

Kak Yurika berusaha kabur dari pandanganku dan Inanna. “Sejak kapan ibu tahu?”

“Kamu kira ibu tidak tahu? Nadamu yang biasanya tegas langsung melembut setiap kali kamu membicarakan Lugalgin. Bahkan, kamu beberapa kali mencoba mengoreksi adik-adikmu yang menghina Lugalgin.”

“I, ibu. Sudah, ibu.” Kak Yurika memohon.

Ibu melihat ke arahku. “Menurutmu, apa alasan kakakmu ini berkali-kali menawari Lugalgin status bangsawan? Supaya dia bisa menikahi Lugalgin. Bukan hanya kakakmu, banyak putri selir dan bangsawan lain yang melakukan hal yang sama.

Tapi, akhirnya apa? Lugalgin tidak goyah. Dia tetap teguh dengan pendiriannya. Karena itu, orang-orang itu pun menyerah, termasuk kakakmu. Hanya kamu yang bersedia mengejar Lugalgin meskipun harus membuang gelar keluarga kerajaan dan bangsawan.”

Aku terdiam sejenak mendengarkan cerita ibu. Aku sama sekali tidak menduga dengan perkembangan ini, atau hanya aku yang tidak sensitif?

“Dan, aku berani bertaruh ayahmu itu bilang ‘nanti, setelah kalian menikah, aku akan menarikmu kembali menjadi putriku supaya Lugalgin bisa menjadi Raja yang sah’. Iya, kan? Itu kan alasan utama kamu melihat ke ayahmu ketika Lugalgin mengajukan syaratnya?”

Ibu, bagaimana ibu bisa tahu apa yang ayah katakan padaku? Aku amat sangat yakin tidak ada seorang pun yang mendengarkan percakapan kami.

“Jadi, jangan khawatir. Meski kamu jatuh hati adalah sebagian dari rencana Fahren, aku bisa meyakinkan kalau perasaanmu adalah nyata. Kamu jatuh hati pada Lugalgin atas pilihanmu sendiri. Ketika yang lain memilih untuk menyerah, kamu memilih untuk terus berjuang. Bukti apa lagi yang kamu butuhkan untuk meyakinkan kalau perasaanmu adalah nyata? Ditambah, syarat yang diajukan Lugalgin di saat lamaran itu telah merusak rencana ayahmu secara langsung.”

Aku jadi teringat dengan wajah ayah ketika Lugalgin mengajukan syaratnya. Saat itu, ayah hanya mengangguk tanpa menunjukkan ekspresi lain. Apa itu berarti ayah sudah pasrah saat itu? Bisa saja.

“Lalu, untuk yang kedua, ibu yakinkan kamu kalau kamu tidak akan melawan kami. Ya, mungkin kamu akan berhadapan dengan ayahmu, tapi tidak dengan kami berlima.”

“Tapi, dari mana ibu mendapatkan keyakinan itu? Kalau kami–“

“Kamu tidak usah pusing memikirkannya.” Ibu kembali menyela. “Percayalah.”

Normalnya, aku tidak akan puas dengan jawaban seperti itu. Tapi, entah kenapa, aku bisa percaya dan yakin dengan ucapan ibu.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Aku menutup mataku sejenak, memastikan agar aku bisa mengatakan ini dengan tegas, tanpa keraguan, tanpa terputus-putus.

“Ibu, terima kasih. Dengan ini, aku bisa menyatakan kalau aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa mendampingi Lugalgin dalam hidupnya. Meski aku akan menentang ayah dan tidak lagi menjadi agen schneider, aku sudah yakin.”

Ibu menyambut ucapanku dengan senyuman. Ketika aku melihatnya, aku merasa seolah-olah senyuman itu mampu membuatku semakin yakin dengan keputusanku, meski sebenarnya aku sudah sangat yakin.

Sregg....

“Dari mana kamu mengetahui semua itu?”

Tiba-tiba terdengar suara kencang dari teras mansion. Meskipun bukan teriakan, tapi suaranya cukup keras hingga terdengar kesini.

Kami pun melihat ke arah teras. Di balik Jendela, kami melihat ayah yang berdiri sedangkan Lugalgin masih duduk.

Tampaknya, konfrontasi ini adalah konfrontasi awalku mendampingi Lugalgin dan menentang ayah.

Bersambung

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?