Arc 3 Ch 8 – Kunjungan Tidak Terduga

Sori. Kemarin tidak sempat post karena gak ada koneksi internet (paket abis). So, terpaksa hari ini baru bisa post. Anyway, enjoy. Dan terima kasih telah membaca :)

==========================================

[Maaf, Lugalgin, bisa tolong ulangi lagi? Bagian akhirnya saja. Rasanya sudah cukup.]

“Hah....” Aku menghela nafas. “Besar kemungkinan aku akan ditunjuk menjadi pemimpin intelijen kerajaan ini. Dan, saat itu terjadi, aku akan merekrutmu sebagai instruktur.”

Diam. Tidak ada respon.

Saat ini, aku sedang berjalan pulang dari rutinitas pagi sambil menelepon Mulisu.

Semua kejadian, mulai dari penunjukan aku sebagai kandidat raja karena inkompeten, masalah dengan dua raja, masalah dengan keluarga Alhold, dan penunjukanku sebagai pemimpin intelijen kerajaan.

Tentu saja, aku masih menyembunyikan soal kekuatanku menghilangkan pengendalian.

[Lugalgin, kamu tidak bercanda, kan?]

Akhirnya dia memberikan respon. Tapi, responsnya belum berubah.

“Apakah aku pernah bercanda?”

[Sering.]

Aku terdiam. Baiklah, tampaknya aku salah berucap.

“Baik, maaf. Intinya, ini semua benar dan serius. Aku tidak bercanda.”

[Hah....]

Aku bisa mendengar suara nafas Mulisu yang mendengus.

[Aku akan jujur saja. Jujur, untukku, aku tidak keberatan. Bahkan, kalau perlu, kamu tidak perlu mencari inkompeten lain dan langsung jadi raja saja. Tapi, apakah menurutmu mereka bisa menerima keputusan ini? Bukan hanya mereka. Kamu pun juga demikian. Apa kamu bisa menerima keputusan ini, menjadi bagian dari sistem kerajaan ini?]

“Aku tidak yakin mereka bisa menerima keputusan ini. Bahkan, aku tidak akan terkejut kalau mereka langsung pergi. Untukku,” aku terdiam, terhenti, sejenak. “Entahlah. Aku tidak yakin.”

[Worst case scenario adalah,] Mulisu menyambung. [Ketika kamu lelah dan tidak mampu menerima semua ini, kamu akan menghancurkan kerajaan ini hingga fondasinya, tidak menyisakan apapun bahkan pasar gelap.]

Aku kembali berjalan. “Kamu mengatakannya seolah-olah aku adalah raja iblis yang ada di novel-novel.”

[Memang,] Mulisu menjawab cepat. [Tapi, aku tidak akan menyampaikan ini. Kamu harus menyampaikannya langsung pada mereka. Dan, sekalian, kamu perlu membawa dua calon istrimu itu dan memperkenalkannya pada mereka.]

“Hah?” Aku sedikit meninggikan suara. “Bagian aku yang harus menjelaskan, aku paham. Bagian aku harus membawa Emir dan Inanna, aku tidak paham.”

[Dengar. Cepat atau lambat, dengan kamu menjadi pemimpin intelijen kerajaan dan aktif kembali di pasar gelap, mereka akan mengetahui siapa kamu yang sebenarnya. Kalau kita tidak memberi tahu, dan menanamkan hal ini sedari awal, ada kemungkinan mereka akan mengkhianatimu. Jangan lupa kalau Ukin masih berkeliaran.]

Ukin. Sudah lama sekali rasanya aku tidak mendengar nama itu diucapkan.

“Kalau begitu, bisa kamu datang ke rumah dan menjelaskan semua itu pada mereka? Aku tidak terlalu suka membicarakan diriku sendiri.”

[Hahaha, kamu masih malu-malu kalau ngomong tentang diri sendiri,] Mulisu merespon dengan tawa. {Ya, bisa diatur. Nantikan kedatanganku ya...]

“Ya....”

Aku mengakhiri panggilan.

Tidak lama, aku pun tiba di rumah. Rutinitas kembali seperti semula dimana Inanna sudah siap dengan sarapan di meja makan dan Emir masih mengenakan piama, seolah-olah keputusan Fahren untuk menjadikanku pemimpin intelijen kerajaan tidak pernah terjadi, atau setidaknya mereka tidak peduli.

“Lugalgin!”

Tiba-tiba saja, sebuah suara terdengar dari halaman, memaksa kami bertiga menoleh.

Di halaman, di balik jendela, terlihat seorang perempuan berambut coklat gelap panjang yang diikat dua bagaikan laut dibelah. Dia mengenakan celana jeans hijau tua dan tank top putih, yang samar-samar menunjukkan bra hitam di bawahnya. Terlihat tan line di bahu, menunjukkan dia adalah tipe outdoor yang suka mengenakan pakaian minimal. Beberapa bintik kecil di pipinya memberi kesan kalau dia masih peduli dengan penampilan, tapi tidak bisa menang melawan genetik. Mata hitamnya tampak begitu cerah, berkilau, seolah dia tidak menanggung beban apapun di hidupnya.

Melihat perempuan ini aku hanya bisa mengurut pelipis pelan.

“Aku tidak bilang harus hari ini, apalagi pagi ini.” Aku berbisik.

Tanpa seizin siapa pun, perempuan itu membuka jendela, masuk ke rumah, dan duduk di sebelahku. Tentu saja, dia sudah melepas alas kaki sebelum masuk.

Emir dan Inanna terdiam. Mereka melempar pandangan ke perempuan ini, lalu ke aku, lalu ke perempuan ini lagi.

“Heh, penampilan mantan tuan putri Emir ini erotis juga ya. Bahkan, aku yang sama-sama perempuan sedikit terangsang. Beruntung sekali kamu Gin bisa menikmati pemandangan ini setiap pagi.”

Setelah mendengar ucapan perempuan ini. Emir langsung menutupi dada dan bawah pinggangnya dengan kedua tangan.

“Hmm, jam segini sudah rapi, kelihatannya sudah mandi, dan aku berani bertaruh kamu yang menyiapkan sarapan ini. Kamu benar-benar cocok menjadi ibu rumah tangga. Waktu luang Lugalgin akan lebih banyak karena dia tidak perlu mengurusi rumah.”

“Eh, ah, te-terima kasih.”

Inanna menjawab dengan pandangan tertunduk, wajahnya merona.

“Ahahahaha,”

Perempuan ini tertawa puas melihat reaksi Emir dan Inanna.

“Lugalgin, kamu mengenal perempuan ini?” Emir menancapkan pandangan ke aku.

“Iya, aku mengenalnya.”

“Mengenal? Ayolah, hubungan kita lebih dari itu....”

Perempuan ini mendekat dan meletakkan kedua tangannya di pipiku. Perlahan, wajahnya semakin mendekat. Namun, belum sempat bibir kami bertemu, sebuah nampan sudah menempel di wajahku, wajah kami.

Aku meraih nampan itu dan menoleh, melihat Inanna yang menjulurkan tangan.

“Baik, sudah cukup jahilnya.”

Aku meletakkan kedua tanganku di bahu perempuan ini dan mendorongnya, memberi jarak antara kami.

“Hehehe,” perempuan ini masih terkekeh.

Aku kembali melihat ke arah Emir dan Inanna. Ketika aku sadar, Emir sudah mengancingkan piamanya. Sial. Gara-gara perempuan ini pemandangan favoritku jadi terhenti.

“Perkenalkan, perempuan ini adalah Mulisu An Kassite. Partnerku ketika aku masih aktif di pasar gelap.”

“Sampai sekarang. Baik di pasar gelap, maupun di ran–“

“Aku meminta dia datang untuk menjelaskan beberapa hal pada kalian. Terutama mengenai rencana kita ke depan.”

Aku menyela Mulisu sebelum dia bisa mengatakan ranjang. Aku tidak mau dia melemparkan kata seenaknya yang akan membuatku kerepotan. Kalau Emir dan Inanna mendengar Mulisu, ada kemungkinan mereka merasa tersaingi dan akan melakukan hal yang sama untuk menyamakan kedudukan. Padahal, apa yang dikatakan perempuan ini adalah sebuah kebohongan.

Tapi....

“Mulisu, aku masih belum yakin akan menceritakan mereka soal semua ini.”

“Kenapa? Kamu tidak mau mereka tahu siapa dirimu yang sebenarnya? Apa ini berarti, kamu belum mampu memercayai mereka? Kalau begitu, apa menurutmu mereka layak menjadi istrimu? Kalau begini, kurasa, lebih baik, aku saja yang menikahimu karena hanya aku yang mampu kamu percaya.”

Inanna dan Emir sempat melempar pandangan tajam ke arah Mulisu. Sempat. Namun, kini, mereka mengarahkan pandangan padaku. Matanya yang tampak ditarik ke bawah itu tampak seolah ingin menangis.

Aku tidak sepenuhnya mengelak ucapan Mulisu, tapi aku juga tidak sepenuhnya menerima ucapannya.

“Tidak, bukan itu maksudku.” Aku melihat ke arah Emir dan Inanna, memastikan maksudku tersampaikan. “Hanya saja, mungkin, akan sulit bagi kalian untuk percaya. Daripada langsung diceritakan semuanya, mungkin, lebih baik–“

“Supaya mereka mempelajari siapa kamu perlahan-lahan, menunggu semuanya terbuka dengan sendirinya? Apa kamu mau mengulangi kejadian Ukin?”

Nada ringan dan bercanda Mulisu menghilang. Kini, dia menekan nadanya dan menatapku tajam-tajam, dalam-dalam.

Aku menghela nafas. Ucapan perempuan ini benar. Aku tidak bisa mengulangi kesalahan yang sama.

“Tenang saja. Aku tidak akan langsung menceritakan semuanya. Kalau aku langsung menceritakan semua, pasti akan sulit untuk mereka mencernanya. Ke depannya, aku akan memberi informasi mengenai dirimu secara perlahan.”

“Baiklah,” aku menurut. “Tapi, sebelum itu.“ Aku menoleh ke Emir. “Emir, kamu mandi dan ganti baju dulu.”

***

Sekarang, kami duduk di ruang keluarga. Televisi di seberang meja kami biarkan menyala tapi dengan volume yang direndahkan. Hanya sekadar mengisi kesunyian, tapi tidak cukup untuk mengganggu konsentrasi dan perhatian kami.

Aku duduk di tengah sofa dengan Inanna di kiri dan Emir di kanan. Mulisu duduk di sofa untuk satu orang di ujung, di sebelah kanan. Tampaknya, Emir dan Inanna masih siaga dengan Mulisu yang tampak begitu dekat denganku. Mungkin, mereka tidak mau Mulisu dekat-dekat denganku.

“Jadi, Mulisu, apa yang akan kamu ceritakan pada dua calon istriku ini?”

“Baik, sebelum itu,” Mulisu membuka cerita dengan sebuah pertanyaan. “Apa yang kalian ketahui tentang Lugalgin selain dia penjual barang antik?”

Emir dan Inanna saling melihat, meskipun aku berada di antara mereka. Mereka mengangguk dan menoleh ke Mulisu.

“Tidak ada.”

Wow, kompak sekali kalian. Kalian bisa mengatakannya secara bersamaan, bahkan hingga nada dan penekanannya.

“Rekam jejak Lugalgin sebagai pedagang barang antik?”

Emir menggeleng. “Tidak. Informasi yang kudapatkan berhenti pada ‘oh, pedagang barang antik itu? Entahlah. Sejauh yang kutahu dia hanyalah pedagang barang antik. Tidak lebih.”

“Kalau hanya beberapa orang yang mengatakannya, kami pasti percaya.” Inanna menyambung. “Namun, semua informasi hanya sampai di situ. Tidak lebih. Seolah-olah pasar gelap sepakat untuk tidak mengatakan apapun.”

Setelah mendengarnya, Mulisu meletakkan kedua tangan di depan mulut. Aku bisa melihat tubuhnya yang bergetar dan kelopaknya yang sedikit mengalirkan air mata. Dia sedang berusaha menahan tawanya.

“Hahahaha,” Mulisu tidak mampu menahan tawa. “Kamu dengar itu Lugalgin? Mereka menganggap pasar gelap sepakat untuk tidak mengatakan apapun. seolah-olah, seolah-olah,” Mulisu berusaha berbicara, tapi justru tawa yang muncul.

Emir dan Inanna saling memandang, lalu melihat ke arahku dan sedikit memiringkan kepala. Tanpa perlu berkata apapun, aku bisa mendengar mereka berkata ‘apa aku salah?’ di dalam pikiran mereka.

“Maaf, biar, kulanjutkan.” Mulisu berhasil menghentikan tawanya. “Jawaban yang benar adalah, sebenarnya, pasar gelap sama sekali tidak mengenal siapa itu Lugalgin Alhold. Nama Lugalgin Alhold baru muncul dua tahun yang lalu. Dan, sesuai informasi, orang-orang hanya mengenal Lugalgin Alhold sebagai pedagang barang antik karena dia memang hanya pedagang barang antik, dan tidak terkenal.”

“Eh? Tidak mungkin.” Emir menolak. “Barang-barang buatan Lugalgin memiliki kualitas tinggi. Harusnya, barang-barang itu mencapai–“

“Telinga kolektor, kan? Dan, menurutmu, berapa banyak kolektor yang tertarik dengan barang antik?”

Emir terdiam, tidak mampu memberi respon lebih lanjut.

“Jadi,” Inanna memberi respon menggantikan Emir. “Kamu mau berkata Lugalgin hanya dikenal sebagai pedagang barang antik hanya karena dia jarang aktif di pasar gelap?”

“Yap, tepat sekali.” Mulisu mengiyakan. “Setidaknya, sebagai Lugalgin Alhold.”

Sebuah senyum lebar terkembang di wajah Mulisu.

Inanna memicingkan mata. Dia mencurigai senyuman, dan jawaban, Mulisu.

“Sebagai Lugalgin Alhold?”

“Ya.”

Inanna mencoba mempertegas pernyataan Mulisu dan Mulisu pun memberikan konfirmasi.

“Tunggu,” aku mengangkat tangan, menghentikan perbincangan mereka. “Mulisu, apa kamu menyebarkan rumor lain mengenaiku?”

“Hah? Tidak. Aku belum menyebarkan rumor apapun.”

“Kalau begitu,” aku berdiri, berjalan menuju balkon, dan membuka jendela. “Perbincangan ini, lebih baik, kita lanjutkan lain kali.”

“Eh?”

Mulisu langsung bangkit dan berlari ke sampingku. Tanpa perlu kuarahkan, Mulisu sudah menyamakan pandangannya denganku.

“Tampaknya aku diikuti. Dia cukup jauh, pantas aku tidak merasakannya.”

Kami melihat ke kejauhan. Dari rumah, mungkin jaraknya beberapa ratus meter. Ada satu rumah yang kordennya sedikit terbuka. Dari korden yang terbuka itu, sebuah cahaya memantul, yang kuperkirakan berasal dari teropong.

Aku sendiri melihatnya hanya secara kebetulan karena bosan dan melihat ke arah luar. Kalau seandainya orang ini melakukan pengintaian ini pada malam hari, dan dengan lampu mati, aku pasti tidak akan mengetahuinya.

Korden itu tertutup. Tampaknya begitu kami mengetahui kalau dia sedang mengintai, dia langsung pergi.

“Mulisu, tolong cek tempat itu.”

“Baik.”

Mulisu mengenakan alas kaki dan berlari, melompati dinding belakang halaman dengan mudah.

“Ada apa Gin?”

Emir datang ke samping beserta Inanna.

“Ada yang mengintai kita.”

“Eh?”

Inanna dan Emir berteriak bersamaan.

Tidak lama kemudian, aku merasakan getaran di saku kanan celana. Aku mengambil handphone lipat di dalam dan membukanya.

Emir dan Inanna terdiam ketika aku mengeluarkan handphone yang belum pernah mereka lihat.

[Lugalgin, lima orang, pemilik rumah ini dan keluarga, telah tewas. Luka tusukan tepat di leher. Menurutku, mereka sudah tewas sejak beberapa hari yang lalu.]

Berarti, kemungkinan, orang itu sudah mengintaiku sejak beberapa hari lalu tapi aku baru mengetahuinya sekarang.

“Baiklah, kami akan segera ke sana.”

“Ada apa, Lugalgin?” Inanna bertanya.

“Penghuni rumah itu, lima orang, tewas.”

“Hah?”

Aku tidak memedulikan ucapan reaksi mereka berdua. Aku membuat panggilan lain ke nomor pribadi Raja Bana’an.

[Hai, Lugalgin, ada apa? Apa kamu sudah mau menerima posisinya tanpa aku perlu memberi dokumen itu?]

“Tidak,” aku langsung menolak. “Kirim dua agen schneider. Satu sudah menjadi agen lebih dari dua tahun, yang satu lagi belum ada dua tahun.”

[Hah?]

“Rumahku diawasi. Aku tidak tahu apakah yang melakukannya orang pasar gelap atau orang kerajaan.”

Bersambung

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?