Arc 1 Ch 7 - Battle Royale Dimulai

Akhirnya, momen untukku berpartisipasi dalam battle royale telah datang. Dengan bantuan Lugalgin, aku yakin aku bisa menang. Seandainya saja aku boleh berpartisipasi sendiri, pasti aku sudah berpartisipasi dari dulu. Sayangnya ayah tidak memperbolehkannya.

[Dan peserta terakhir kita, Lugalgin Alhold, adalah peserta yang mewakili Tuan Putri Emir Falch Exequoer. Lugalgin Alhold adalah seorang lulusan SMA Eksas dan memiliki nilai ujian teori tertinggi di Kerajaan Bana’an. Tapi dia lain pihak, dia adalah seorang inkompeten. Di lain cerita, ini adalah pertama kalinya Tuan Putri Emir Falch Exequoer berpartisipasi dalam Battle Royale. Apakah yang Tuan Putri Emir lihat dari partisipan Lugalgin Alhold ini? Mari kita saksikan bersama.]

Eh, kok singkat sekali? Apa tidak ada hal yang lain bisa dimunculkan dari Lugalgin. Dan lagi, itu lebih seperti hinaan pada Lugalgin.

“Eh, Emir, Lugalgin menjadi Regal Knightmu?”

Aku menoleh ke kiri ketika mendengar pertanyaan dari Kak Yurika. Kak Yurika adalah kakak pertama di keluargaku sedangkan aku adalah anak ketiga. Rambut merah mudanya memberikan sebuah kesan lembut, tidak seperti rambut merahku yang memberikan kesan horor. Dia memilki warna mata yang senada juga dengan rambutnya. Image keluarga kerajaannya semakin kuat dengan model rambut twin tailnya.

Tapi yang tidak aku duga adalah, tampaknya Kak Yurika benar-benar mengenal Lugalgin. Dasar! Jadi Lugalgin berbohong ya ketika dia bilang tidak kenal kakak.

“Iya kak, aku menujuk Lugalgin menjadi kandidat Regal Knightku.”

“Kandidat? Biar kutebak, pasti dia yang menolak menjadi Regal Knightmu kan?”

Uh, kok kak Yurika lebih mengenalnya dariku. Aku jadi makin sebal nih.

“Ngomong-ngomong, kak Yurika mengenal Lugalgin sejak kapan?”

Aku harus mencoba mencari tahu. Sampai mana kebohongan Lugalgin.

“Ahhh, sebentar, mungkin sekitar dua tahun.”

Apa? Lugalgin mengenal kak Yurika lebih lama dari dia mengenalku? Tidak bisa dimaafkan. Diam-diam dia ternyata mendekati kak Yurika.

“Tapi, kalau seandainya dia menang, apa yang akan kamu lakukan?”

“Eh?”

“Kalau Lugalgin menjadi...”

Apa kak? Aku tidak bisa mendengar kak Yurika. Kalau mau ngomong jangan tutupin mulutnya pakai kipas dong.

***

[Baiklah seperti biasa, peserta akan diberi amulet yang mereka pasangkan di anggota tubuhnya. Masing-masing amulet akan memberi perlindungan pada peserta sekaligus menjadi indikator apakah peserta masih diperbolehkan melanjutkan pertandingan atau tidak. Indikator itu adalah HP bar pada layar.]

Amulet yang dimaksud oleh komentator adalah sebuah batu abu-abu berbentuk lingkaran dengan ornamen membentuk huruf T. Amulet ini dapat ditempel pada setiap bagian tubuh peserta, jadi aku menempelkannya pada zirah besi di dadaku.

Tampaknya Amulet ini terkoneksi dengan layar raksasa di samping stadion tertutup ini. Aku bisa melihat ada 21 foto orang dengan bar berwarna hijau di sampingnya. Untuk indikator yang dimaksud, sejauh yang aku tahu, ini berhubungan dengan bar berwarna hijau di layar. Jadi bar hijau itu seperti HP, health point, pada game. Kalau bar itu habis, maka aku akan tereliminasi.

Dengan sistem Amulet dan HP ini, semua peserta dapat bertarung sepenuh hati tanpa khawatir terluka atau melukai lawannya. Dan bagiku, aku tidak perlu khawatir senjata lawan menggores tubuhku dan membuatku berdarah. Kalau senjata lawan menyentuh darahku, kekuatan pengendalian mereka pun akan menghilang. Dan hal itu bisa membuat kemampuanku terkuak. Aku tidak mau.

Dari semua lawan, yang paling tangguh adalah Zage Merduke, Regal Knight tuan putri Yurika. Dia mengenakan baju zirah berat berwarna abu-abu dengan garis kuning yang umum digunakan di lini depan peperangan. Senjata utamanya adalah sebuah tombak dan perisai. Selain dua senjata itu, terlihat sebuah pedang tersarungkan di pinggangnya. Tidak terlihat senjata jarak jauh sama sekali. Rambutnya yang dipotong setengah centi menunjukkan warna coklat seperti matanya. Meski tidak bisa melihatnya karena ditutupi seluruh baju zirahnya, tapi aku yakin dia pasti mengenakan pakaian igni di bawahnya.

Berbeda denganku yang baru berusia 18 tahun, dia sudah berusia 29 tahun. Mungkin kamu berpikir kalau tuan putri Yurika sudah berusia hampir sama dengan Regal Knightnya, tapi salah. Tuan Putri Yurika baru berumur 22 tahun, lebih tua 4 tahun dariku dan lebih tua 3 tahun dari Emir.

Zage Merduke sudah menjadi Regal Knight sejak Tuan Putri Yurika berusia tujuh tahun. Jadi, kira-kira, saat itu Zage sudah berusia empat belas tahun. Dalam waktu empat belas tahun menjadi Regal Knight putri Yurika, Zage sudah berpartisipasi dalam semua battle royale, sebanyak empat kali, dan menjadi juara sebanyak dua kali. Berkat kemenangannya yang pertama lah, kira-kira 9 tahun yang lalu, keluarga tuan putri Yurika berhasil naik tingkat dari selir menjadi permaisuri.

Dia berasal dari keluarga bangsawan bergelar Duke. Gelar bangsawan Duke keluarganya juga adalah berkat kemenangan battle royale nya yang kedua. Normalnya untuk sebuah Baron naik pangkat menjadi Duke, butuh usaha yang benar-benar besar. Mungkin butuh dua hingga tiga generasi untuk Baron naik ke Duke. Belum lagi, kemungkinan gelar bangsawannya dicabut jauh lebih besar selama dua atau tiga generasi itu. Aku cukup beruntung karena Zage berada di sisi lain stadion ini. Jaraknya denganku merupakan yang paling jauh dibanding dengan peserta lain.

Lawan tersusah kedua adalah Ufia Zas Alhold, perempuan yang merupakan anak bungsu dari adik kedua ayah. Matanya yang berwarna hitam senada dengan rambut hitam panjangnya yang dikepang panjang, di belakang lehernya seperti sebuah ekor. Dia memiliki tinggi yang hampir sama denganku, mungkin sekitar 175 atau 176 cm.

Ufia menggunakan sepasang meriam melayang sebagai senjata jarak jauhnya. Untuk senjata jarak dekatnya dia menggunakan sebuah pedang besar sepanjang satu setengah meter. Menurutku, tubuh langsingnya itu tidak terlihat cocok kalau membawa pedang sebesar itu. Dia pasti menggunakan kekuatan pengendaliannya untuk mengayunkan pedang itu.

Ufia mengenakan pakaian igni berwarna ungu dengan kevlar dan celana kargo berwarna biru gelap, tanpa kaos atau pakaian lain di bawah kevlarnya. Aku jadi ingin menyerang kevlarnya dan melihat lekuk tubuhnya yang hanya dibalut pakaian igni. Sayangnya itu tidak akan bisa terjadi karena ada amulet pelindung ini. Ahh, sungguh disayangkan, tapi ya sudahlah.

Dari namanya, kamu bisa mengetahui kalau Ufia juga berasal dari keluarga Alhold. Nama tengahnya, Zas, menunjukkan kalau dia bukan keluarga utama sepertiku. Karena ayahnya menikah muda, maka otomatis anak-anaknya lebih tua dari aku dan Ninlin. Dia sendiri berusia tiga tahun lebih tua dariku, menjadi Regal Knight kira-kira empat tahun yang lalu.

Dia berhasil menjadi juara di battle royale pertamanya tiga tahun lalu. Dan karena dia, atau mungkin kami, tidak berasal dari keluarga bangsawan dan keluarga Alhold memiliki prinsip dasar untuk tidak menjadi bangsawan, terima kasih kepada pak pendiri, maka dia hanya meminta surat rekomendasi dan perkenalan dari Yang Mulia Paduka Raja.

Keluarga kerajaan yang menjadi tuannya adalah Tuan Putri Jeanne Herizzeta. Saat Ufia menang, entah kenapa dia tidak meminta agar ibunya menjadi permaisuri. Dia hanya meminta agar ibunya diberikan daerah untuk diperintah. Mungkin dia menyadari menjadi keluarga permasuri hanyalah sesuatu yang membawa banyak masalah dan menjadi keluarga selir relatif jauh lebih aman. Yah, aku paham kalau alasannya itu. Kalau.

Untuk peserta lainnya? Normal. Peserta lainnya sudah pernah berpartisipasi dalam battle royale dan kemampuannya bisa dibilang tidak terlalu mencolok. Pencapaian mereka di luar battle royale juga tidak terlalu wah. Yah, sebagian besar berasal dari keluarga bangsawan sih, jadi aku tidak terlalu khawatir. Yang mengkhawatirkan adalah beberapa orang yang tidak berasal dari keluarga bangsawan. Mereka adalah lulusan terbaik sekolah kesatria di kerajaan ini. Meski demikian, menurutku, orang-orang bukan bangsawan ini cukup normal kalau di dunia pasar gelap.

“Oke, waktu analisis sudah selesai, waktunya bertarung,” aku menggumam sendiri.

Terlihat semua peserta sudah bersiap dengan semua senjata mereka. Kami semua saling bertukar pandang, menyusun strategi.

[Dengan ini, Battle royale ke 67 dimulai.]

Bersamaan dengan ucapan komentator, sebuah suara bell keras berbunyi. Semua peserta pun langsung bergerak. Peserta yang lebih mengutamakan senjata jarak jauh langsung mundur sedangkan peserta yang lebih mengutamakan senjata jarak dekat langsung maju.

Aku? Tentu saja aku mundur. Aku langsung melompat dan salto beberapa kali ke belakang hingga akhirnya aku berada di ujung arena. Aku bersandar di dinding pembatas arena.

[Oh, ada apa ini? Lugalgin yang seharusnya menggunakan senjata jarak pendek, toya, malah mundur hingga ke ujung arena. Apakah dia takut terhadap pertarungan yang sedang terjadi di depannya?]

Hah? Takut? Tentu saja tidak. Aku mundur karena aku ingin menyimpan stamina untuk bertarung dengan orang yang tersisa. Ini adalah strategi bertarung standar di dunia pasar gelap. Namun bagi orang-orang yang menganggap kehormatan kesatria sebagai hal yang penting, aku yang meninggalkan kode etik kesatria, yang selalu menghadapi lawan dengan gagah berani dari depan, pasti dianggap sebagai pengecut dan pecundang. Aku juga tidak peduli meskipun penonton di atasku melemparkan caci maki. Aku bukan kesatria kok.

Awalnya peserta lain terkejut tindakanku, tapi akhirnya mereka kembali fokus pada pertarungan di depan matanya. Tidak jarang juga beberapa serangan peluru dan laser datang ke arahku. Aku berhasil menghindarinya atau menahannya dengan menggunakan perisai, mencegah berkurangnya HPku. Sementara itu, aku melihat di layar kalau banyak peserta sudah kehilangan hampir setengah HPnya.

Di pertandingan ini, sangat mungkin menggunakan senjata lawan kalau kebetulan kekuatan pengendalian penyerang dan lawannya sama. Karena hal inilah, tiap peserta yang menggunakan senjata melayang akan menjaga agar senjata mereka tidak terlalu jauh dari tubuh mereka. Semakin jauh senjata mereka melayang dari tubuh mereka, akan semakin besar juga kemungkinan senjata mereka digunakan oleh lawannya.

Akhirnya ada salah satu peserta yang menerjangku secara langsung. Laki-laki itu menggunakan baju zirah ringan yang biasa digunakan oleh penjaga istana dan sebuah tombak. Tanpa pikir panjang, aku mengangkat lengan kiriku dan menekuk sikuku. Dengan gerakan khusus di jari dan sikuku, aku melepaskan sebuah tembakan dari perisai di kiriku. Sebuah peluru dengan kekuatan penetrasi tinggi meluncur dengan cepat.

Tanpa efek suara ledakan atau apapun, kepala laki-laki itu langsung mundur ke belakang, diikuti dengan tubuhnya. Dia pun terjatuh ke belakang. Seketika itu juga, aku melihat bar HP laki-laki itu turun dari yang sebelumnya sudah berwarna oranye langsung ke warna merah lalu habis.

[Ohh, ada apa ini? Peserta kita yang sebelumnya mundur dan melarikan diri dari pertarungan justru melakukan first kill. Apakah berarti dia memang menunggu momen ini?]

Dan sang komentator memberikan komentar yang kasar. Yah, aku tidak peduli juga sih. Untung Emir tidak memaksaku untuk bertarung dengan menggunakan kode etik kesatria. Dan tentu saja, aku yang melakukan first kill menjadi perhatian semua peserta.

Dari semua peserta, aku bisa merasakan pandangan Ufia adalah yang paling dingin. Meski sejak lahir dia selalu menghina dan memandangku sebelah mata, kali ini aku bisa merasakan hal lain dari pandangannya. Aku tahu kalau dia menganggapku sebagai pengotor nama keluarga Alhold. Dan dengan perlakuanku yang tidak menunjukkan kode etik kesatria ini, dia pasti menganggapku lebih rendah daripada sebelumnya.

Selain dari Ufia, aku bisa mendengar caci maki dari tribun di atasku ini semakin keras. Kalau bukan karena membran pelindung di arena ini, pasti sudah banyak benda terbang menuju ke arahku.

Setelah first kill yang kulakukan, peserta demi peserta mulai kalah dan tereliminasi. Dan tentu saja, aku terus menghindari dan menahan semua serangan jarak jauh yang datang padaku. Satu peserta lain mendatangiku. Laki-laki itu menggunakan sepasang basoka sebagai senjata jarak jauhnya dan pedang dan perisai untuk senjata jarak dekatnya.

Dia menembakkan kedua basokanya ke arahku. Karena tembakannya adalah pelontar granat, aku tidak bisa menghentikannya dengan perisaiku. Bukan karena takut perisaiku hancur. Aku yakin sekali kalau perisaiku tidak akan hancur oleh tembakan basokanya. Namun kalau aku menahannya, maka asapnya akan mengepul dari perisaiku dan menghalangi pandangan.

Aku berlari menuju ke arahnya sambil merendahkan tubuhku, menghindari kedua tembakannya. Tanpa memberinya kesempatan untuk melepaskan tembakan tambahan, aku melepaskan tembakan pertama dari perisai kiri. Dia berhasil menghindari tembakan pertamaku, tapi aku tidak membiarkannya begitu saja. Aku melepaskan tembakan kedua dari perisai kananku. Karena dia baru bergerak, dia tidak mampu mengubah jalur tubuhnya secara tiba-tiba. Aku memaksanya menggunakan perisai di tangan kirinya.

Bumm

Peluru yang kutembakkan meledak di perisainya, menghasilkan asap hitam dan menghalangi pandangannya. Normalnya, orang akan akan menyerang ke sisi kanannya dimana dia memegang pedang. Karena kalau dia diserang, akan sulit untuk bertahan dengan menggunakan pedang. Namun aku melakukan hal yang berbeda, sisi kirinya adalah sasaranku.

“Apa?”

Dia terkejut ketika menyadari aku berada di sisi kiri padahal dia sudah bersiap dengan pedang di sisi kanan. Aku mengayunkan toyaku tepat ke arah kepalanya, tapi dia tidak menyerah begitu saja. Refleksnya cukup cepat sehingga dia sempat memindahkan perisainya untuk menghentikan toyaku. Sayangnya, itu juga sudah kuperkirakan.

Aku memutar sedikit tanganku di ujung toya ini. Setelah aku melakukannya, sepertiga ujung toyaku langsung patah. Bukan patah, tapi berubah bentuk. Sementara bagian tengah toyaku ditahan oleh perisainya, sepertiga bagian sisanya berbelok di belakang perisainya dan menghantam kepalanya. Laki-laki itu pun langsung terjatuh ketika menerima seranganku.

Toyaku bukanlah sekedar toya. Dengan sedikit memutar pada bagian tertentu, maka toya ini akan berubah menjadi three-sectional-staff. Dan dengan kembali memutar satu bagian, toyaku menjadi sebuah tongkat panjang normal seperti sebelumnya.

Aku melihat ke layar dan melihat hanya tersisa tujuh orang yang masih bertahan. Laki-laki yang baru saja kuserang ini akhirnya kehabisan HPnya. Dia sudah tereliminasi.

Dari enam peserta yang tersisa, tentu saja Zage dan Ufia termasuk. Dengan orang-orang yang tersisa, aku rasa sudah saatnya aku turun langsung ke medan pertempuran. Mereka tidak akan membiarkanku bersantai seperti sebelumnya. Dengan pikiran itu, aku kembali menggumam pelan pada diriku sendiri.

“Baiklah, waktunya beraksi.”

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?