Persona Non Grata 

Jazdia Crystalspark menapakkan kakinya di istana itu dengan seluruh kepercayaan diri yang ia miliki.

Dengan sekuat tenaga, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa gesture semacam ini bukanlah bentuk keangkuhan, namun sebagai simbol bahwa dia datang kemari sebagai tamu yang diundang dan kedudukannya sederajat dengan tuan rumah.

Jazdia tahu pertemuannya dengan pemimpin kerajaan besar tidak pernah berjalan mulus. Tiap monarki memiliki tuntutan, tiap raja memiliki ambisi, dan dia sendiripun memiliki ego yang tidak bisa ditawar-tawar. Ketika kau memiliki kekuatan besar dan memimpin sebuah organisasi yang sanggup mengatur jalannya dunia, kerendahan hati menjadi hal yang mudah dikesampingkan.

"Anda harus berhati hati dengan seorang Edmus Ferdinant..." bisik pendampingnya, seorang duta besar senior dari Castediar. "Edmus adalah orang yang menjunjung tinggi etika dalam istananya, dan cenderung keras kepala dengan protokolir tradisional."

"Bukankah semua Raja termasuk rajamu juga begitu?" tanya Jazdia dengan nada sarkastik. Ia mengerti protokolir semacam itu berarti sang Raja harus dihormati setinggi-tingginya. Masalahnya sekarang, Jazdia punya standar berbeda soal bagaimana ia harus saling hormat-menghormati, dan itu sama sekali tidak bisa di kompromikan.

Tujuannya datang kemari adalah demi misi diplomatik. Dalam tiga tahun kepemimpinannya di CSA, Jazdia dan tiga kerajaan penting di benua Tenera telah menginisiasi pembentukan Liga Bangsa-Bangsa. Tujuannya adalah untuk memelihara perdamaian dan penegakan hukum-hukum internasional berdasarkan Perjanjian Lama.

Proposal penawaran telah dikirimkan beberapa bulan sebelumnya pada kerajaan ini dan pihak monarki Tretagor setuju untuk mengadakan pertemuan untuk membahas rencana aliansi tersebut.

Bagi Jazdia, ini lebih sekedar perjanjian untuk persekutuan. Kerajaan Tretagor adalah satu dari tiga kekuatan besar yang dalam beberapa dekade ini gencar melakukan penaklukan -dan kalau boleh disebut dengan istilah yang lebih kasar, penjajahan terhadap negeri-negeri dan suku-suku yang tak mampu mempertahankan diri. Ini mengakibatkan banyak masalah. Bukan hanya mengganggu perdamaian beradab yang tengah diusahakan oleh organisasinya, tapi juga menambah bentuk kebiadaban lain; perbudakan, penjajahan dan berbagai kejahatan lain terhadap kemanusiaan.

Jazdia menarik napas dalam-dalam. Seandainya saja mereka punya pengadilan internasional untuk mengadili pemimpin zalim seperti ini.

Itu bisa diatur, pikirnya. Tapi nanti, raja-raja ini harus dijinakkan terlebih dahulu.

Pintu balairung raja dibuka oleh dua orang prajurit berbaju jirah. Sebelum keduanya masuk, seorang pria tinggi berusia paruh baya menghadang mereka.

"Namaku Jendral Moris Vernon, komandan divisi Legiuner imperium Tretagor. Aku yang berwenang menyambut kalian, "Ia melirik ke Jazdia." Dan, ehem! memastikan kalian cukup pantas untuk menghadap yang mulia. Nona, kami tidak bisa membiarkanmu masuk dengan senjatamu."

Meski kesal, Jazdia tahu etiket seperti ini tak bisa dibantah. Maka dengan berat hati ia melepas busur dan anak panahnya dan menyerahkan mereka ke seorang chamberlain.

"Aku mohon jaga baik-baik. Busur ini dulu milik Ratu Serena."

Jendral itu mengangguk, masih mempertahankan mimik wajahnya yang keras, ia akhirnya mempersilakan mereka masuk.

Setelah perjalanan yang panjang menyusuri sebuah lorong dengan banyak patung, sampailah mereka di depan pintu lain. Jazdia berharap semoga ini pintu terakhir dan tak ada lorong lain di baliknya.

Seperti yang bisa diharapkan dari sebuah imperium makmur, ruangan raja Tretagor terlihat luar biasa mewah, bahkan untuk ukuran sebuah ruang tahta. Lantainya terbuat dari marmer yang dipoles mengkilap, Tiang-tiangnya bersanding dengan belasan patung yang dipahat sempurna dan dilapisi emas, tira-tirainya dari sutra, dan di atas tahta raja tersemat tiga batu berlian berwarna kehijauan. Sulit rasanya membayangkan bahwa segala kemewahan ini dibayar oleh darah dan keringat para budak dan petani di wilayah jajahan mereka.

Di atas tahtanya yang terbuat dari pualam, Sang Raja, seorang pria berusia tiga puluhan duduk dan menatap khidmat. Wajahnya kelihatan lelah dan pucat, namun tampak seperti seorang dengan wibawa tinggi.

Meski mantel dan baju kebesarannya tebal dan banyak hiasan, postur tubuhnya masih terlihat ideal: tinggi dan tegap, diperkuat dengan garis-garis wajahnya yang jelas dan tegas menunjukkan ambisi yang kuat, optimisme dan nafsu menguasai yang sepertinya telah ditempa sejak ia masih kecil.

Raja itu seperti menanti sebuah pengumuman penting tentang dirinya. Jazdia bisa melihatnya tersenyum, dan menegakkan scepternya dengan gerak-gerik yang luwes.

"Hadirin sekalian, saya akan meminta kalian untuk membungkuk pada Yang Mulia Raja Edmust Ferdinant, penguasa tunggal Imperium Tretagor, Penakluk Wilayah Utara dan Selatan!"

Chamberlain itu menyeru dan membungkuk, diikuti oleh yang lain; sang Jendral, para diplomat, dan tamu-tamu penting yang kebetulan hadir disana. Semua, terkecuali Jazdia, yang tetap berdiri tegak di tempatnya.

"Membungkuk!" bisik si Jendral, tapi wanita itu tak bergeming.

"Terima kasih atas sambutannya, Raja Edmus." ucap Jazdia dengan rasa hormat terbaik yang bisa ia tunjukkan. Raja itu tak mengatakan apapun, dan soal apakah dia akan tersinggung atau tidak, Jazdia tak perduli.

"Bangun."

"Baik, Yang Mulia."

Para hadirin kelihatan tegang, beberapa menarik napas panjang dan sebagian lagi mencuri-curi pandang ke arah Jazdia sambil mengguman cemas. Ini adalah audiensi ketiga baginya, dan di setiap balairung, ia selalu selalu menggunakan sikap yang sama. Jazdia tak pernah ambil pusing tentang opini yang muncul setelah pertemuan ini.

Chamberlain mereka, dengan ketangkasan dan keterampilan yang luar biasa dalam membaca situasi, bergegas mendekati raja itu dan membisikkan intisari dari pertemuan ini. Raja itu mengangguk beberapa kali. Matanya yang coklat cerah menyapu seisi ruangan dan sebentuk senyum ganjil merekah di wajahnya yang lelah.

"Aku sudah membaca proposal kalian dan maaf saja aku tanpa sengaja melemparnya ke perapian. Tenang saja, aku masih ingat pokok-pokoknya."

"Kami membawa salinannya yang mulia." ucap sang duta besar.

"Ah bagus sekali. Makan siangku satu jam lagi, jadi mari kita langsung pada intinya. Kalian tidak keberatan pertemuannya dilangsungkan di sini kan?"

"Sama sekali tidak yang mulia." Jawab duta besar itu lagi.

Di sebelah kanan balairung itu sudah disiapkan sebuah meja panjang dengan banyak kursi. Para hadirin segera mengisi tempat duduk masing-masing, dengan Sang Raja tetap di tahtanya.

Duta besar itu menyerahkan dokumen-dokumen penting yang mereka bawa dan langsung diedarkan ke si Jendral, serta beberapa menteri setempat yang Jazdia tak tahu namanya.

Beberapa menit berlalu, halaman dibolak balik, dan beberapa pembicaraan-pembicaraan tertutup mulai terdengar diantara para hadirin. Hanya Jazdia yang tetap diam, memperhatikan. Sifat perundingan ini sudah jelas dan hak-hak tiap pihak telah diatur berdasarkan rasa keadlian yang pantas. Baginya tidak ada negosiasi dalam pertemuan ini; pilihan mereka adalah ambil atau tinggalkan.

Lalu Jendral itu berdiri dan menghampiri sang Raja. Mereka berbicara dalam bisikan, dan sesekali raja itu mengangguk, melotot dan memandang ke arah mereka.

Setelah si jendral mohon diri untuk kembali ke tempat duduknya, raja itu kelihatan berpikir sejenak. Lantas ia berdiri dan menuruni undak-undak tahtanya sambil bertolak pinggang. Jubah merahnya menyapu lantai dan scepter kebesarannya terdengar mengetuk-ngetuk tiap kali ia melangkah.

"Aku mendapat sedikit penyegaran dari jendralku, dan katanya kalian ingin menawarkan gencatan senjata."

Ia tertawa sebentar, lalu menghampiri si duta besar dan menunjuk ke mukanya. "Kau mewakili Istana Castediar, negara besar dengan rajanya yang sombong, si Williem. Hah, akhirnya dia mati di negeri sekutu kalian kan? Dan siapa yang menggantikannya? Putra mahkotanya yang bahkan belum puber? Benar-benar menyedihkan!"

Ketika ia mengatakan 'sekutu' Jazdia bisa melihat muka raja itu melirik ke padanya.

"Dan kini, ketika negara kalian lemah dan tak stabil, kalian datang kemari, mengotori istanaku dan mengemis untuk gencatan senjata? Hahahaha... lelucon apa lagi yang mau kalian sampaikan?"

Raja itu tertawa semakin kencang, dan semakin ramai ketika para menterinya pun ikut merasa bahwa semua ini adalah lelucon yang lucu. Duta besar itu hanya diam di kursinya, dengan pandangan kosong dan telinga yang memerah.

Jazdia yang dari tadi diam saja mulai tidak nyaman dengan olok-olok ini. Layaknya dua rival yang akhirnya menyaksikan kejatuhan dari salah satunya, selebrasi kekanak-kanakan seperti ini adalah umum di kalangan manusia. Jazdia sudah mafhum, namun sebaiknya pertemuan ini tidak boleh kehilangan fokusnya.

"Tuan-tuan. Harap di ingat bahwa gencatan senjata ini tidak hanya melibatkan dua negara." Ujar Jazdia dengan suara tegas. "Ada pihak ketiga yang merasa keberatan dengan rencana invasi kalian, dan sebagai pemimpin dari pihak ketiga tersebut, aku turut hadir menjadi penengah di perundingan ini."

Tawa yang hampir riuh itu berhenti seketika.

"Apa maksudmu, nona?"

Saat Jazdia melanjutkan, seorang ajudan memembentangkan sebuah peta dengan pembagian wilayah yang sudah diperbaharui. Di sepanjang perbatasan antara Tretagor dan Westernant, sebuah wilayah baru dengan warna berbeda terlukis memanjang di antara dua kerajaan.

"Wilayah kami." Jazdia menunjuk bagian peta tersebut. "Kerajaan Westernant dan Helvetia dengan baik hati menyumbangkan sedikit wilayahnya, jadi aku bisa pastikan tak ada patok perbatasanmu yang tergeser."

Raja itu tertawa lagi, seolah olah apa yang ia sampaikan bukanlah hal penting. "Dan kau berpikir wilayah sekecil ini bisa menghentikan kami?"

"Percayalah... 'Yang Mulia' kami lebih dari mampu untuk sekedar mempertahankan diri." Jawab Jazdia dengan nada setengah mengancam. "Tapi kami berharap tidak perlu ada pertikaian diputuskan di pertemuan ini."

"Kenapa tidak harus? Oh astaga! Seorang moralist rupanya." sebuah senyum licik terbentuk di wajah Raja itu. "Kau membenci peperangan, nona Jazdia? Penaklukan dan penguasaan adalah bentuk penindasan bagimu?"

"Melihat dari apa yang terjadi pada negeri yang pernah kau jajah, aku rasa jawabanku jelas."

Edmus menepuk keningnya dan tertawa pelan. "Oh astaga, satu lagi orang jelata yang cukup bodoh untuk termakan rumor-rumor yang menyesatkan. Biar aku jelaskan tujuan baik dibalik semua penguasaan ini, nona. Sebuah kerajaan butuh wilayah dan penduduk. Lebih banyak wilayah, lebih banyak tanah yang bisa dimanfaatkan, lebih banyak orang yang bisa dipekerjakan dan pada akhirnya semakin makmur negerinya. Bukankah benar Westernant sudah lemah? Bukankah lebih baik jika ia berada di bawah kekuasaan kami dan ikut menikmati kemakmuran itu?"

"Saya tidak ada kewajiban untuk menjawab pertanyaan anda. Terkait penjajahan, saya tidak perduli retorika murahan tentang konsep persemakmuran--"

"Penjajahan itu buruk atau bukan?" desak Edmus.

"Buruk." jawab Jazdia mantap. "Kalau anda berpikir sebaliknya, sudikah anda melakukan referendum di wilayah kolonial Tretagor?"

Wajah raja itu memerah.

"Oy! Siapa orang bodoh yang menunjuk wanita elf sok idealis ini untuk berbicara masalah kemanusiaan?"

Tidak ada yang menjawab.

Jazdia menggeleng letih. "Aku sarankan anda tak perlu mempertanyakan hal yang sudah jelas, Raja Edmus. Itu hanya akan buang-buang waktu, dan seperti katamu, waktu makan siangmu kurang dari sejam lagi. Mendebat tentang ideologi dan idealisme di forum ini adalah hal sia-sia dan tak produktif. Kami hanya ingin mengetahui apakah anda menyetujui gencatan senjata ini atau tidak."

Raja itu kelihatan ingin meledak, tapi tampaknya ia kembali bisa menguasai amarahnya setelah berbalik, berjalan mondar mandir sebentar dan meminta minuman beralkohol pada pelayannya yang terdekat.

"Baiklah! Jika kau menginginkan gencatan senjata, maka harus ada harga yang dibayar untuk itu. Kalian harus menyerahkan wilayah Reginford, kota Riga dan Kastil Artamis sebagai imbalan, dan mungkin aku akan memikirkannnya."

Duta besar itu hendak mengatakan sesuatu, namun Jazdia buru-buru menyela. Ia sudah gerah dengan permainan politik ini. "Anda meminta terlalu banyak, Yang Mulia. Dan sebenarnya proposal ini lebih kepada tuntutan daripada permintaan. Invasi militer sepihak dan tanpa dasar terhadap suatu negara berdaulat adalah dilarang menurut perjanjian perdamaian Reinvig dan disahkan kembali di Kongres Liga Bangsa-Bangsa tahun 1302."

Raja yang sudah marah itu menyobek-nyobek dokumen di tangannya dan menghamburkannya ke depan wajah Jazdia.

Sang Ranger tak bergeming.

"Tuntutan? Nona elf, kau sudah menghinaku dengan tidak membungkuk, dan sekarang kau berani melempar tuntutan padaku?" ia menunjuk-nunjuk wajah Jazdia dan berbicara dengan tergesa-gesa sampai air liurnya bertempias.

"Memangnya siapa lagi yang perduli pada perjanjian lama? Dan apa pula pentingnya patuh pada sekumpulan peraturan yang ditanda tangani oleh orang yang sudah lama mati?"

"Perjanjian itu juga ditanda tangani oleh buyutmu, Leingarding Kedua, dan memiliki kekuatan hukum tetap sampai peraturan yang sama kuat telah di tetapkan. Sekarang, jika anda sudah selesai menghina leluhurmu sendiri, tolong segera berikan jawaban anda."

Jawaban yang datang dari raja itu adalah lemparan gelas kaca kearahnya. Untung saja Jazdia cepat menghindar dan segera berdiri siaga di atas kakinya.

"Seseorang, tolong bungkam jalang ini! Harusnya aku menyeretmu ke penjara! Kau sudah kelewatan! Aku lupa betapa mudahnya seorang elf bisa bersikap kurang ajar!"

Pertemuan bubar hanya dengan satu perintah saja. Para menteri serentak berdiri dari kursi-kursi mereka dan mundur teratur ke dekat pintu masuk, meninggalkan Jazdia sendirian di tengah-tengah ruangan.

Ia sendiri hampir tak terkejut ketika menyadari betapa cepat situasi menjadi begitu berbahaya. Ada enam prajurit mengepungnya dengan senjata terancung. Semuanya adalah anggota Vanguard, pasukan berbaju jirah istana Tretagor. Situasi ini benar-benar terasa familiar.

"Seret dia ke penjara bawah tanah dan pastikan aku mendengar jeritannya nanti malam!" raja itu lalu menunjuk pada si duta besar. "Kau akan bergabung dengannya dan di eksekusi besok. Setidaknya kalian tak perlu melihat ketika kami menyerang negerimu, menduduki istanamu dan memperbudak penduduknya!"

Jika ada suatu kebodohan konyol yang dibuat seorang raja, maka kebodohan itu adalah bersikap meremehkan dan merasa bisa berbuat sesukanya pada tamu mereka. Jazdia menyingkap roknya dan menarik bedil kaliber lima-tujuh yang terikat di paha kanannya. Letusan dan dentingan baja beradu baja menggema di ruangan itu, tiga prajurit Vangard tumbang dengan lutut berlubang. Tiga lagi menyusul dan jatuh ke lantai dengan lubang pergelangan kaki masing-masing.

Di luar, ada keributan lain terdengar.

Sekelompok agen mendobrak masuk ke dalam sambil menenteng beberapa pucuk senapan. Bukan, ini bukan senapan musket kotor yang sudah umum di banyak pasukan negara manapun. Bentuknya lebih ringkas dengan semacam bidikan kaca di bagian atas dan kotak kotak peluru terpasang di bagian bawah.

"Tuan-tuan, aku harap kalian tidak mencoba apapun di sisa waktu pertemuan ini, atau akan lebih banyak yang terluka" Ketika para agen itu sudah mengambil posisi masing masing dan memastikan bahwa situasi telah terkendali, Jazdia menyarungkan kembali senjata genggamnya dan mengatur nadanya agar terdengar lebih tenang. "Lain kali, mintalah arsitek kalian untuk tidak merancang balairung raja terlampau jauh ke belakang istana. Pintu lorong sudah di kunci, ruanganmu terlalu mewah sampai-sampai nyaris kedap suara. Tidak akan ada pertolongan datang."

"Dan kau, Yang Mulia Edmus. Lidahku terasa terbakar saat menyebutmu dengan gelar-gelar hormat, jadi ayo kita sudahi pertemuan ini dan jabarkan hasilnya; Tuntutanmu atas Reginford, Riga dan Artamis tidak dapat dipenuhi, maka kau menolak proposal kami dan akan melanjutkan kampanye militermu, sekaligus menegaskan bahwa monarkimu menentang Perjanjian Lama. Pihak Westernant akan mempertahankan wilayahnya bersama kami dan gencatan senjata ini dinyatakan gagal!"

"Ini perbuatan jahanam!" umpat Edmus, namun tak berani melangkah sedikitpun. Kekurangajaran ini adalah provokasi perang!"

"Diamlah kau raja tolol yang hanya memikirkan perang dan penaklukan!" umpat Jazdia. "Kau dipersilahkan membawa pasukanmu ke wilayah kami. Sesegera mungkin kalau bisa jadi masalah ini cepat selesai!"

Raja itu hanya bungkam. Keringat menetes dari dahinya dan ia hanya bisa saling bertukar pandangan dengan sang Jendral dan para menterinya yang tak bisa berbuat apa-apa.

"Tapi aku ingatkan satu hal. Raja Edmus, ini tentang pasukanmu dan apa yang akan menunggu mereka."

Salah satu ajudan itu memberikan sepucuk senapan pada Jazdia.

"Ini adalah salah satu senapan tempur pasukan kami." Jazdia melepaskan beberapa tembakan ke patung-patung di sisi ruangan dan menghancurkan kepala-kepala mereka. "Kaliber tujuh koma enam dua millimeter, 600 tembakan permenit, jarak efektif 800 meter."

Ia meludah ke seorang prajurit yang terbaring kesakitan di lantai.

"Lihat apa yang terjadi dengan kesatria terbaikmu! Hanya butuh satu tembakan, dan mereka jadi tak berguna. Kau ingin menyerang kami? Silahkan, tapi aku ingatkan, ribuan prajuritmu akan bernasib seperti ini, mungkin lebih buruk. Di saat mereka merangkak tak berdaya, kesakitan dan terluka, tak akan ada yang menolong, dan yang selamat akan menceritakan kengerian ini sampai tiap-tiap penduduk di kerajaanmu bergidik ngeri bila teringat hari itu. Aku tahu cara perwiramu menggiring pasukan di pertempuran; tinggalkan yang terluka dan maju terus, pertanyaanya bagaimana jika sebagian besar prajuritmu mati seperti ini?"

Jazdia menginjak luka anggota vanguard tersebut dan membiarkan teriakannya terdengar di seluruh penjuru ruangan.

"Lihat dia, Yang Mulia Edmus, mungkin benar kau tak perduli pada nasib mereka yang mengabdi padamu, mungkin benar bagimu mereka hanyalah alat, dan mungkin benar meski satu prajurit mati, kau bisa menggantinya dengan seribu prajurit yang lain. Tapi mereka ini seorang manusia juga, mereka punya orang yang dicintai dan tiap-tiapnya memiliki keluarga yang perduli akan nasib mereka. Apa menurutmu pendudukmu akan patuh dan menyerahkan anak-anak mereka di kampanye-kampanye militermu yang berikutnya? Apakah menurutmu para ayah akan rela begitu saja melihat putra-putra mereka mati pelan-pelan dan diabaikan oleh negaranya sendiri? Pikirkanlah! Itu harga yang akan kau bayar seandainya invasi ini tetap dilanjutkan."

Tidak ada jawaban keluar dari bibir Sang Raja, dan ia kini sama diamnya seperti patung-patung yang selamat dari tembakan wanita itu. Jazdia sendiri pun tak mengharapkan jawaban apapun; harusnya demonstrasi singkat barusan cukup untuk membuat mereka berpikir ulang, lagi dan lagi.

"Tuan Denwarren. Terima kasih sudah mengambilkan busurku" katanya pada seorang agen lain. "Kau bisa nyalakan spell teleportasinya sekarang. Urusan kita di sini sudah selesai

2 komentar untuk chapter ini

Funky Boy
Narasi ceritanya lumayan padat, solid. Namun, kalau boleh terus terang, narasi seperti ini cukup melelahkan buatku, mungkin juga untuk pembaca awam yang kurang senang dengan alur semacam ini. Jadi, sasarannya mungkin cocok untuk pembaca yang menggemari tema yang berat.

Impresi yang kudapat dari tokoh Jazdia jelas sekali angkuh dengan harga diri(?) yang tinggi. Demikian pula dengan idealismenya. Peran tokoh dari pihak Tretagor, terutama sang raja, menjalankan perannya dengan baik sebagai antagonis arogan pada pembukaan utama bagian satu.

Aku sedikit bingung dengan tema abad pertengahan yang memadukan dengan senjata mesiu dari masa industri hingga masa modern. Perpaduan yang tidak biasa, menarik dan mengherankan pada saat bersamaan.

Aku merasa Jazdia dan tim CSA tak ubahnya agen super dengan kelebihan muktahir yang dimilikinya, untuk melancarkan perundingan (atau mengancam?) dengan kerajaan yang bertentangan dengan HAM. Tambah lagi, rasanya cerita ini juga menambahkan unsur politik internasional dari masa modern.

Kesimpulan sementaraku, ide cerita ini memadukan abad pertengahan dan abad industri(?)-modern dalam satu wadah. Cukup mengesankan.
Bagus Surya
Co writer ane bakal seneng banget baca komentar ente.

Sedikit banyaknya, ini semua berkat naik daunnya tema 'isekai' di jagat per fiksian. Ane mikirnya, ngapain bawa satu orang, cuma badan aja dan tanpa hal spesial sama sekali kecuali fakta kalau dia dari dunia modern? Kenapa gak bawa satu organisasi sekalian? Lengkap dengan teknologi dan ideologi yang setara dengan masa sekarang. Maka jadilah CSA. CIA, NATO, dan Pasukan perdamaian ala PBB digabung jadi satu, dalam setting abad pertengahan.

Ya, Jazdia itu angkuh. Kayaknya di Unruly Child ane udah ngasih hint yang mengesankan ini anak besarnya pasti degil dan memiliki harga diri tinggi. Sebagain pembaca mungkin gak suka karakter yang sombong begini, tapi inilah kekurangan yang harus ada dan membentuk Jazdia yang kita tahu.