Countermeasure 

Jazdia Crystalspark memandang padang gersang di depannya dengan perasaan kalut. Tidak, bukan ia takut akan banyaknya bala tentara yang akan menyerbu benteng ini, yang ia cemaskan adalah berapa banyak dari mereka yang akan mati sia-sia karena ambisi seorang pria.

Bravo-Six adalah salah satu dari lima markas paling strategis bagi CSA. Letaknya di sudut kaki sebuah plateu, diapit oleh dua barisan karang yang membentuk huruf U dengan ujung menyempit sebagai pintu masuk dan sebuah terowongan besar di sebelah barat daya nya sebagai pintu keluar. Menurut legenda, seekor naga kolosal terbunuh di sini dan dari tubuh raksasanya terbentuk barisan-barisan bukit yang memanjang. Kedua gugusan karang ini adalah rahangnya.

Di kedua barisan karang itu, CSA membangun pertahanan berupa pos-pos yang saling berhubungan satu sama lain. Tiap posnya berupa bunker-bunker beton dengan jendela sempit dan dilengkapi dengan persenjataan dan peralatan komunikasi. Warnanya yang gelap menyamarkan keberadaan mereka, memungkinkan para agen untuk menyiapkan serangan kejutan yang efektif dan presisi dari titik-titik yang tak terjangkau musuh. 

Hari ini bunker-bunker itu telah siaga penuh. 

Target operasi ini jelas; menghentikan pasukan Tretagor dan mencegah mereka menduduki benteng serta mengamankan celah pegunungan yang menuju Jalan Selatan; rute tercepat bagi siapapun yang ingin menyebrangi sungai Odisei.

Radio portable di telinga Jazdia menyala diikuti desis pendek.

“Bravo Six, di sini Red Eagle memanggil untuk melapor.”

“Di sini Slyph dan aku mendengarmu. Red Eagle, kau dipersilahkan untuk melapor.”

“Uh, baiklah bu. Laporan dari pengintai kita menyebutkan ada camp-camp tambahan di markas mereka. Sepertinya Tretagor berniat menambah pasukan dengan mengirim sejumlah batalion infantry dari wilayah jajahannya. 

"Berapa banyak?"

"Antara lima belas sampai dua puluh ribu." 

Suara agen tersebut tidak sedikipun terdengar gentar.  Tentu saja, mereka adalah unit terlatih, disiapkan sebagai pasukan tempur modern dan efisien. Jumlah mereka yang terbatas tidak menjadi masalah. Disaat pasukan terbaik dari negara paling kuat masih bertempur dengan pedang, tombak dan panah, CSA sudah mengembangkan berbagai senjata api otomatis dan peralatan tempur canggih lainnya. Kelebihan yang secara langsung menggandakan efektivitas tempur tiap-tiap agen mereka sampai puluhan kali lipat seorang infantri terlatih.

Semua itu juga ditunjang dengan kemampuan CSA untuk memperoleh intel dari mana saja dan fleksibilitas dalam hal pengaturan strategi. Selalu ada cari bagi Jazdia untuk meminimalisir jatuhnya korban dari pihaknya seandainya hal paling buruk terjadi. 

Meski begitu, sebenarnya tidak banyak resiko di pertaruhkan di pertempuran hari ini. Bahkan jika mereka kalah pun, Jazdia tetap punya rencana darurat untuk secepat mungkin mengevakuasi skuadronnya dengan scroll portal ke markas Delta-Two, dan melakukan perebutan kembali dengan jumlah agen yang lebih banyak. 

Tapi dia tak berniat gagal, dan akan sebisa mungkin mempertahankan Bravo-Six dengan persediaan yang mereka punya. Kota Evantine, Riga, dan desa-desa di sekitarnya akan menjadi yang pertama dihancurkan oleh kebringasan legiuner-legiuner Tretagor seandainya mereka berhasil menembus wilayah ini.

“Dimengerti, Red Eagle. Kau dan tim mu disarankan untuk tetap di pos kalian dan menunggu-aba berikutnya.”

“Roger that. Red Eagle out.”

Jauh di ufuk timur, matahari mulai menampakkan rona-rona keemasannya, namun benteng itu masih belum tersentuh cahaya fajar dan kegelapan masih menguasai lembah-lembah di bawah bayangan perbukitan.

 Mengingat waktu saat ini, Jazdia menduga bahwa sepertinya pihak Tretagor memaksa para prajuritnya untuk berjalan saat malam. Apakah itu demi efisiensi waktu atau mengharapkan bahwa mereka bisa menyerang Bravo-Six dengan serangan fajar, dua-duanya tak akan banyak membuat perbedaan. Reconnaissance Unit CSA sudah sejak tiga hari yang lalu mengawasi pergerakan mereka, dan tak ada yang luput dari pengawasan para pengintai terlatih tersebut dalam radius seratus kilometer. 

Jazdia masih mengunyah sepotong croissant ketika radio di telinganya berbunyi lagi, menginformasikan bahwa pasukan itu sudah dekat dan hampir mencapai mulut lembah. Dia menanggapinya dengan tak tergesa-gesa, bahkan masih sanggup menanyakan pada seorang agen dimana dia tadi menaruh cangkir tehnya.

“Baiklah tuan-tuan. Tetap di posisi kalian, pastikan senjata kalian terisi dan cadangan amunisi tersedia. Ingat, kita tidak menembak kecuali mereka menyerang duluan.”

Dari balik pagar benteng, Jazdia menoleh keluar dan menyaksikan barisan manusia mulai memenuhi lembah seperti lautan serangga hitam. Jika ini adalah serangan fajar dengan elemen kejutan, maka jendral mereka menerapkan strategi yang benar-benar bodoh.

Lalu pasukan itu berhenti. Tepat di depan level tanah yang mulai menanjak. Itu adalah satu satunya hal benar yang mereka lakukan di usaha pengepungan sia-sia ini. Namun pertanyaan paling penting adalah, berikutnya apa?

Seorang prajurit berkuda keluar dari barisan. Bukan, itu bukan prajurit biasa. Baju jirahnya didekorasi dengan hiasan-hiasan yang mencolok; bulu di helm, trim kulit berwarna putih gading di pelindung dada, dan panji perang Tretagor berkibar di tombaknya. Seorang perwira, namun bukan panglima yang Jazdia temui di Coblenz. Di mana dia?

Perwira itu memacu kudanya untuk mendaki tanjakan bukit, dan berhenti beberapa puluh meter di depan dinding benteng. Mengingat bahwa tanjakan itu sudah dipasangi ranjau-ranjau peledak, cukup mengejutkan dia bisa sampai di sana dengan selamat

Dari atas bagian benteng yang menjorok keluar seperti haluan kapal. Jazdia menampakkan dirinya pada perwira beruntung itu; tanda pertama bahwa masih ada waktu untuk mundur dan membatalkan penyerangan sia-sia ini.

“Akhirnya!” seru penunggang itu angkuh. “Apa kau siap menyerahkan benteng ini dan berlutut didepan Yang Mulia Edmus? Masih belum terlambat untuk menyerah!”

Tampaknya si perwira juga berpikiran sama. Hanya saja dia tak sadar posisinya.

“Aku tidak akan menyerahkan apa-apa.” jawab Jazdia dengan lantang "Kau dipersilahkan melanjutkan agenda penyeranganmu atau mengambil langkah yang lebih bijak; kembali ke rajamu dengan selamat.”

Ambil atau tinggalkan. Ini bukan negosiasi dan dia tak ingin membuang waktunya untuk beradu mulut dengan seorang pesuruh raja, maka Jazdia berbalik dan melangkah pergi dari sana.

“Aku belum selesai, jalang licik!” teriak perwira itu. “Tidakkah kau lihat di depanmu? Puluhan ribu Legiuner berbaris menunggu perintah untuk menyerang, dan kau akan mempertahankan kastil ini dengan apa? Beberapa ratus prajurit? Sihirmu yang menyedihkan? Di mana orang orang dari Westernant? Mereka bahkan tak ada di sini untuk membantu. Tak ada harapan bagimu! Kami akan menduduki benteng ini, membunuhi siapapun yang di dalamnya dan memastikan kau mendapat nasib yang lebih buruk dari kematian. Kau dengar aku?!”

Bukan kali pertama dia mendengar ancaman seperti ini, dan kemungkinan besar ini tidak akan jadi yang terakhir.  Begitu pun ia kesal, Jazdia masih bersikap seolah acuh tak acuh. 

“Kapten Andrei.” Katanya pada seorang sniper. “Saat perwira itu kembali ke barisan. Tembak kepalanya.”

“Kau benar benar tersinggung dengan ancamannya ya?” Celetuk seorang agen senior berambut coklat. 

“Tidak ada alasan personal. Aku memintanya karena membunuh perwira untuk mengacaukan formasi musuh adalah taktik yang umum.”  

"Tapi kenapa kepalanya? Bukannya jantung atau leher atau selangkangan mungkin?"

"Lakukan sajalah!" 

"Ah baiklah bu."

Sniper itu masih menyeringai culas ketika ia membidik lewat sebentuk teropong bundar yang terpasang di atas frame senapan tersebut.

Sangkakala sudah dibunyikan, dan lenguhannya menggema di perbukitan. Sesaat kemudian, bunyi letusan terdengar, dan perwira dengan dandanan menor tersebut jadi yang paling pertama tewas.

Langkah-langkah kaki mereka yang ramai, teriakan-teriakan sinting para infantri dan dentuman berirama dari genderang yang ditabuhkan mulai memenuhi lembah dalam gegap gempita yang hampir memekakkan telinga.

Legiuner Tretagor maju serentak, namun barisan kedua tetap di tempatnya untuk beberapa lama. Panah-panah terlontar ke angkasa, dan menukik ke bawah, menghujani benteng dan tembok-tembok batu yang dingin. Pasukan itu terlalu gegabah, dan tak pernah menyadari bahwa begitu banyak perlindungan bisa digunakan oleh para agen CSA yang jumlahnya tak seberapa.

Selagi para pemanah itu berfokus pada benteng, Jazdia bisa mendengar suara ledakan dari ranjau-ranjau mereka. 

"All team, be advised! You are free to engage!"

Bunyi nyaring senapan otomatis menyalak jelas di udara. Hujan panah berhenti, dan Jazdia segera bergegas kembali ke atas dinding benteng. Lurea, busur kepercayaanya ia siagakan, kedua matanya yang kini keunguan menyorot tajam ke pertempuran di bawah. 

Ia menakikan sebatang panah di senar Lurea dan sihir berkumpul di mata panahnya. Dan sekali ia lepaskan, panah itu melesat kencang dan menghantam tanah dengan ledakan besar. 

Panah demi panah ia tembakkan. Tubuh-tubuh berterbangan, terpelanting kesana kemari bersama debu, api dan bebatuan. 

Ini lebih banyak dari yang ia perkirakan, dan meski ia bisa menghancurkan sekumpulan prajurit sekaligus, yang lain langsung maju menggantikan seperti tanpa rasa takut. 

Sejenak, Lurea berhenti bernyanyi dan Jazdia menarik napas untuk memulihkan tenaganya. Terlalu banyak sihir ia gunakan dan energinya mulai terkuras. Tidak masalah, serbuan musuh masih jauh dari kata berhasil, dan ia tidak menghalau semuanya sendirian. 

Titik-titik cahaya bermuculan di kedua karang. Seperti bintang yang berkelap-kelip dengan cahaya kuning terang. Dari titik-titik cahaya tersebut, kilatan-kilatan berwarna merah dan hijau melesat cepat kebawah, menghujani pasukan tersebut dengan ribuan logam panas yang mematikan.

Begitu banyak manusia di bawah sana dan mereka semakin mendekat. Suara jerit dari yang sekarat dan yang masih bertahan berbaur sampai hampir tak bisa dibedakan. Untuk sementara penyerbuan dapat ditangkal, dan belum ada satupun dari infanteri Tretagor yang berhasil mencapai dinding benteng, apalagi memanjatnya. 

Lalu di kejauhan, siluet-siluet tinggi besar muncul di keremangan, bergerak maju perlahan dengan iringan genderang yang membahana. 

"Slyph, di sini Red Eagle. Aku lihat mereka membawa mesin-mesin pendobrak sejenis trebuchet, balista dan sebuah mesin pendobrak. Terlalu gelap jadi sulit melihat berapa banyak unit yang mereka siapkan. Haruskah kami merubah prioritas serangan?"

Jazdia tak langsung menjawab. Mengalihkan prioritas serangan berarti mengubah arah tembakan dari infantri ke garis belakang, tempat di mana mesin-mesin itu disiagakan. 

Memutuskan bahwa mesin-mesin itu merupakan ancaman yang lebih besar, Jazdia mengkonfirmasi saran kopral itu  dengan beberapa pos tetap pada rencana semula.

Para prajurit belakang Tretagor masih berusaha menjalankan mesin-mesin tersebut meski tentetan timah panas telah diberondong sengit kearah mereka. Satu balista telah rusak, namun tembakan-tembakan yang begitu fokus tak cukup menghentikan semua. 

Sebentuk gumpalan berapi berhasil terlontar dari sebuah trebuchet yang sudah rusak parah dan benda itu mendesing keras saat ia melayang cepat kearah benteng. Jazdia dengan sigap membidik  dan melesatkan anak panahnya ke gumpalan tersebut, memecahnya menjadi percikan-percikan api kecil. Satu bahaya sudah teratasi, namun bahaya lain, sama namun tak terduga datang dengan cepat. 

Jazdia merasakan benturan hebat menerjang tubuhnya. Untuk sesaat, pandangannya terasa terlempar, dan proses itu berakhir dengan bunyi bedebuk dan rasa sakit di pinggang. Pikiran bawah sadarnya sebagai pengendali sihir elemen api terpicu dan dengan cepat menyelamatkannya dari api yang menyebar dengan membentuk aura pelindung tipis. 

Hal pertama yang bisa ia dengar adalah suara radio di telinganya yang berbicara dengan gemerisik. 

"Jaz! Jaz! Kau bisa mendengarku? Jazdia!"

Sang General-Ranger bangkit dan melihat ke sekelilingnya dengan pandangan liar. Selain rasa sakit di pinggangnya, tidak ada luka lain terlihat, hanya ada beberapa sobekan dan sedikit bekas-bekas terbakar di jaket yang ia kenakan. 

"Aku baik baik saja!" Jawabnya saat menerima uluran tangan dari Andrei. Mengabaikan cedera yang ia derita, ia kembali beranjak ke dinding benteng, dan mengutuk keras ke arah para penyerbu di bawah. 

Ia hanya lengah beberapa saat, dan pasukan Tretagor mulai membuat kemajuan. Kini mereka telah mencapai dinding benteng dan mulai mendirikan tangga-tangga. Meski hampir separuh legion sudah tewas, jumlah keseluruhannya masih sangat banyak dan cukup untuk mendobrak sebuah benteng yang penjagaanya longar. 

"Siaga! Siaga! Bart, bawa tim mu untuk berjaga di sini. Kita tidak bisa biarkan titik ini ditembus musuh! Red Eagle, masuklah! Keadaan sudah menjadi sedikit diluar kendali!" Jazdia mengalihkan pandangannya ke gugusan karang dan dengan cepat menyadari bahwa titik-titik cahaya di perbukitan mulai bersinar lebih jarang. Cepat atau lambat persediaan amunisi yang terbatas akan menjadi masalah jika mereka tidak menyiapkan strategi baru. 

"Red Eagle, kembali fokuskan tembakan ke infantri. Koordinasi dengan lima tim lain dan terapkan peraturan isi ulang bergilir. Supressing fire ke arah dinding benteng sampai aba-aba berikutnya!"

"Siap bu!"

"Kopral Petrov. Tempatkan lima anggotamu di tiap-tiap menara dan ganti senjata mereka dengan SCAR dan Hellriegel. Berikan senapan G36 tim mu pada agen yang bertahan di sini. Di sana mereka akan butuh stopping power dan akurasi, disini kita butuh senapan yang bisa menembak cepat. Siapkan posisi kalian! Tuan-tuan, akan ada jeda saat strategi ini di terapkan dan itu akan membuat kita lebih terdesak lagi. Jadi bersiaplah. Sekarang."

Bunyi deru senapan otomatis berangsur-angsur mereda, setidaknya di benteng tersebut. Para agen CSA dengan cepat menukar senapan mereka, dan berlarian menukar kotak amunisi dengan yang sesuai. Enam detik yang menegangkan dengan pertahanan yang rentan.

Lalu semua kembali siap di tempatnya, dan Jazdia membuka serangan balik dengan melepaskan sebuah panah berpeledak ke arah pangkal tangga yang hampir di dirikan. 

Strategi baru itu terbukti ampuh. Para agen di menara melepaskan tembakan dengan kuantitas dan akurasi yang efektif, sementara rekan mereka yang bertahan di tepi benteng dengan mudah menumpas musuh yang sempat berhasil mencapai bagian atas dinding. 

Meski sebagian telah terpukul mundur dan kabur lewat jalan masuk, para legiuner yang tersisa masih belum menyerah. Tidak, tidak semudah itu, mereka terus mendaki, maju menerjang dalam satu serangan masal dengan senjata dan perisa-perisai mereka. Tangga-tangga lain disiapkan, pendobrak-pendobrak mulai digotong dan perisai mereka angkat tinggi-tinggi.

Ia merasa ngeri, ngeri bercampur kagum pada para kesatria dan perwira yang masih bertahan dan mengambil alih komando. Jazdia tak tahu motivasi atau fanatisme apa yang membuat mereka tetap nekat maju, dan sejujurnya dia berharap pasukan yang sudah babak belur itu mundur saja dan menghentikan penyerangan, terlalu banyak yang sudah mati dan harusnya mereka sudah sadar sekarang kalau usaha penyerbuan ini tidak akan berhasil.

Maju! Terus maju! Demi Sang Raja dan negara, begitu teriakan para perwira sambil mengayunkan cambuk ke prajuritnya sendiri, sampai mereka lupa bahwa satu demi satu prajuritnya jatuh berguguran dan tumpukan mayatnya menjadi kian meninggi.

Kini giliran para penunggang maju menerjang, melompati rekan-rekan mereka yang hidup maupun yang tewas seperti diserang kegilaan.  

Siapakah komandan bodoh yang memerintahkan pasukannya masuk dalam perangkap?  

Sesaat para legiuner berhasil membawa pendobrak itu ke depan gerbang, namun Jazdia memerintahkan tim Red Eagle dan sebagian anggota CSA untuk membasmi prajurit manapun yang berada di dekat pendobrak tersebut, serta memerintahkan sebagian tim lain di ujung lembah untuk menembaki formasi itu dari belakang. Dampaknya fatal; baru separuh jalan mereka menyerbu dan formasi itu pecah, jalan di depan tertutup, pintu gerbang masih berdiri kokoh dan tak ada jalan untuk kabur. Kuda-kuda tak berpenunggang meringkik tak terkendali, berlarian ke segala arah sebelum akhirnya ditembak jatuh dan bernasib sama seperti tuan mereka.

Seperti kertas rapuh, baju jirah dan pelindung-pelindung menjadi tak berguna. Divisi infantry dan Kavelri yang katanya paling hebat di seentaro benua kini tak lebih dari sekumpulan sasaran tembak. Barisan-barisan mereka tercerai-berai, dan yang selamat berlarian kesana kemari mencari-cari perlindungan, atau dengan sia-sia menutupi tubuh mereka dengan perisa-perisai kayu.

                                                                                            ***

Hanya butuh kurang dari satu jam bagi CSA untuk memecah pengepungan dan tak ada seorang pun terbunuh dari enam ratus agen yang mempertahankan tempat ini.

Setelah memastikan bahwa tak ada lagi perlawanan signifikan dari pihak musuh, Jazdia memerintahkan para agen dan beberapa tim medis untuk berkumpul dan menyisir area pertempuran. Senjata siaga, dan para sniper tetap diminta untuk memberikan tembakan perlindungan apabila diperlukan.

Sang pemimpin CSA bergabung dengan mereka.

Bunyi rantai yang berderit memecah kesunyian dan diakhiri dengan bunyi berdebum ketika gerbang diturunkan. Bau kematian menyerbu masuk, dan semakin Jazdia melangkah maju, semakin sulit ia menahan diri untuk tidak muntah.

Ribuan telah mati hari ini, dan tangannya berlumuran darah mereka.

Ini bukan perang…

Ini pembantaian. 

2 komentar untuk chapter ini

Funky Boy
Taktik perang yang digunakan oleh CSA dalam menghadapi gempuran pasukan Tretagor lumayan, persiapannya matang. Aku masih tak bisa melepaskan keterkejutanku karena perang ini bias dari kubu masing-masing. Kubu CSA yang bertahan di benteng dengan jumlah kecil dilengkapi dengan senpi canggih dan sihir, sedangkan pada kubu Tretagor hanya mengandalkan kuantitas tentara dan sejumlah senjata pengepung benteng. Kurang lebih pertempuran kualitas versus kuantitas.

Alur perangnya berjalan baik dan lancar meski kesan bias tak terhindarkan, menegangkan. Aku agaknya tersentil geli melihat adegan Jazdia tampak santai(?) menikmati kue, apalagi menanyakan cangkir tehnya ke agen pada situasi sedemikian bahaya. Yah, mungkin adegan tersebut untuk meringankan sebentar tempo ceritanya sebelum memasuki sajian utama.

Perang? Aku lebih melihatnya sebagai ajang unjuk gigi CSA dalam 'menyapu' puluhan ribu tentara Tretagor. Seperti yang tertulis pada akhir bagian cerita; pembantaian.
Bagus Surya
Ane emang merasa begitu. Ini bukan cerita yang menampilkan banyak perjuangan tokoh utama dan kami memang menulis keseluruhan cerita ini sebagai ajang show-off bagi CSA dan Jazdia. Tentu kami udah mempersiapkan cerita yang lebih kompleks dari ini.