Aftermath

Jazdia Crystalspark, pemimpin utama Central Security Agency melangkahkan kakinya dengan mantap ke ruang sidang. Meski ia bisa menjaga posturnya agar tetap terlihat tenang, ingatan mengerikan dari pertempuran lima hari yang lewat masih menganggu benaknya. 

Di hadapan para dewan, yang kini memposisikan diri mereka sebagai hakim dan ia sebagai terdakwa, Jazdia mengeraskan hatinya sekuat yang ia bisa, bahkan ia akan membunuh perasaanya sendiri apabila diperlukan. Tak boleh sedikitpun ia menampakkan raut penyesalan, tidak boleh, dia bukanlah seorang kriminal, apalagi penjahat perang.

“Nona Crystalspark. Anda berada di sini atas permintaan dewan untuk mengklarifikasi apa yang terjadi di site Bravo-Six pada tanggal 14 Maret 1513. Pasukan dari Tretagor—"

“Kita semua tahu apa yeng terjadi pada hari itu. Jadi ayo langsung ke intinya saja." Potong Jazdia cepat "Anda mempermasalahkan tindakan saya yang mencoba mempertahankan territorial kita?” 

“Bukan.” Ujar satu orang angota dewan senior. “Masalahnya adalah anda sebagai diplomator tidak melaksanakan tugas anda dengan baik sehingga menyebabkan konflik yang tidak perlu."

“Maaf, tapi anda mengangkat saya sebagai pemimpin CSA, bukan sebagai diplomator. Jika bagian pekerjaanku adalah untuk tugas-tugas diplomasi, maka saya sudah melakukannya sebaik mungkin menurut cara saya.”

“Dan sebaik mungkin berarti menolak memberi hormat dan meladeni provokasi perang?”

Jazdia menatap anggota dewan senior itu dengan sorot mata tajam.

“Dengan segala hormat, tuan-tuan. Saya tidak akan membuang waktu saya untuk membungkuk dan bermanis bibir di depan penguasa lalim sementara setiap hari pasukannya menindas rakyat jelata dan menjajah mereka. Di samping itu, klausal perundingan kita sudah baku di kasus Tretagor ini dan tidak ada negosiasi lagi. Saya pikir CSA tidak boleh menurunkan posisi tawarnya sedikitpun."

“Fleksibilitas, nona Crystalspark. Kau tidak bisa bersikap kaku di pertemuan politik.”

“Tuan Ramsey, jika anda merasa lebih tahu, lowongan sebagai diplomator utama CSA selalu terbuka bahkan sebelum saya diangkat. Kenapa hari itu bukan anda yang mengajukan diri untuk ikut?"

Menanggapi argumentasi sengit Jazdia, anggota dewan itu tak menjawab. 

"Baiklah, anda mungkin ingin melihat kapasitas saya sebagai pemimpin sekaligus seorang duta, namun seperti yang anda lihat beginilah cara saya menempatkan organisasi yang saya pimpin dalam sebuah hubungan bilateral. Sejujurnya saya tidak menginginkan perundingan berakhir dengan keputusan perang, tapi apa yang diinginkan pihak kedua adalah di luar kuasa saya."

Para anggota dewan itu berhenti sebentar, dan saling berpandangan satu sama lain dengan air muka gusar. Sang ketua dewan menurunkan sedikit kaca matanya dan membaca lagi dari secarik kertas yang sepertinya sudah ia siapkan.

Jazdia berhenti sebentar, memandangi wajah mereka satu per satu dengan raut tak sabar. “Selain masalah diplomasi yang gagal, apakah anda menemukan pelanggaran prosedur dari apa yang terjadi di 14 Maret kemarin?”

“Sayangnya tidak ada. Kecuali sedikit penyimpangan SOP dengan langsung membebaskan tahanan perang hari itu juga.”

“Jika anda lupa, dalam Code of Conduct tertulis bahwasanya saya berhak bertindak di luar SOP dengan pertimbangan-pertimbangan yang bijaksana.”

“Ya, saya tahu.” Jawab si penanya. “Dan apakah pertimbangan anda?”

“Disamping alasan kemanusiaan, saya tak melihat ada informasi berharga yang bisa diperoleh dari tahanan-tahanan itu.”

“Begitu…”

“Ya! Ada lagi yang perlu saya klarifikasi? Atau anda sekalian akan terus membuang waktuku dengan sidang yang sia-sia ini?”

“Tidak ada yang sia-sia di sidang ini, Nona Jazdia.” Ucap salah seorang anggota dewan yang paling tua. Professor Anderson. “Terkait pembelaanmu bahwa mencegah invasi adalah di luar kekuasaanmu, saya beranggapan berbeda. Seandainya tata cara diplomasimu lebih halus, tentulah konflik seperti ini dapat dihindarkan.

“Seperti yang saya katakan; itu bukan tugas saya.”

“Kau salah. Tugas CSA adalah mencegah perang.” cecar Anderson lagi. 

Di titik ini Jazdia merasa muak

“Kita tidak akan bisa mencegah apapun dengan merendahkan diri dan terlalu banyak berkompromi dengan tuntutan para penguasa. Tuan Anderson, anda tidak di sana ketika Raja itu merendahkan dan mengancamku dengan kata-kata yang tak pantas.”

"Hal itu patut disesali. Namun tentu tak ada asap apabila tak ada api."

"Memang, terlebih jika api itu datang dari keangkuhan sang raja yang bukan hanya rakus terhadap kekuasaan tapi juga haus penghormatan."  

Pria tua itu berhenti sejenak, dan Jazdia merasa pandangannya seperti seorang guru yang tengah menyerah menghadapi anak muridnya yang keras kepala. 

"Nona Crystalspark, saya mengerti pendirian anda yang tak kompromi terhadap masalah martabat, dan saya juga paham anda cenderung egaliter dalam lawatan diplomatik anda, hal itu tidak akan kami permasalahkan lagi di sidang ini,  namun saya jadi berpikir, seandainya anda bisa sedikit menurunkan harga diri anda, tentulah Raja Edmus mau mendengarkan dan menyutujui proposal yang kita ajukan. Perang tentu tak akan jadi pilihan, apakah anda merasakan penyesalan terhadap apa yang terjadi hari itu?”

“Adalah sebuah kebohongan kalau saya bilang tidak." jawab Jazdia. "Tapi sekali lagi, itu di luar kuasa saya untuk mencegah seorang raja yang menginginkan invasi. Saya hanya bisa melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, bersiap untuk mempertahankan wilayah dan melawan balik. Lagipula, Edmus menginginkan satu kadipaten sebagai harga yang harus kita bayar, dan siapa yang bisa menjamin dia tidak meminta atau merongrong lebih banyak lagi?" Jazdia berhenti sebentar, tak ada yang menjawab maka ia mempertegas pendiriannya. 

 "Saya akan lebih memilih  perundingan yang berakhir konflik ketimbang membiarkan satu wilayah dijajah musuh dan rakyatnya ditindas.”

Sekali lagi, tidak ada sanggahan dari mereka, maka Jazdia melanjutkan.

“Saya orang yang berfikir positif. Konflik di Bravo Six memang adalah sebuah tragedi, tapi setidaknya di sana CSA telah menunjukkan pada dunia bahwa ada konsekuensi yang menunggu setiap negara yang berani mengusik kita. Jika katamu saya harus memperbaiki cara saya berdiplomasi, maka hasil pertempuran kemarin itu adalah diplomasi paling efektif untuk meningkatkan posisi tawar kita atas kerajaan manapun.”

“Tanganmu berlumuran darah mereka yang mati pada hari itu. Apakah kau masih menganggapnya hal yang positif, nona Crystalspark?”

“Apa anda kehabisan argumen sehingga harus menjegal dengan mempertanyakan moralitas dari keputusan yang saya ambil? Sekali lagi saya hanya melakukan tugas saya. Pasukan itu datang kesana mencari pertumpahan darah bukan atas undangan saya tapi dari perintah raja mereka. Bukan salah saya jika belasan ribu prajurit dengan sukarela berjalan menuju kebinasaan mereka.” Jazdia berhenti sebentar sambil menyunggingkan senyum getir. "Nah sekarang, jika anda semua sudah kehabisan ide dan tak ada lagi pertanyaan, bolehkah aku sarankan supaya sidang ini disudahi?”

Ketua dewan itu menggelengkan kepalanya. Kadang Jazdia begitu menikmati saat-saat dimana dia berhasil membuat para orang-orang tua ini merasa menyesal telah mengangkatnya.

"Baiklah. Kami akan segera merumuskan pokok-pokok yang dihasilkan dari sidang ini—"

"Saya tidak perlu mendengarnya karena sudah jelas." potong Jazdia lagi. "Biarlah itu di umumkan di antara para dewan."

Keriput-keriput di wajah ketua dewan itu jelas menampakkan bahwa ia tersinggung dan Jazdia sudah kelewat batas, namun seperti yang bisa diharapkan dari seorang tua yang banyak berpikir dan meng klaim dirinya bijaksana, pria tua itu tak terpancing, dan tetap menjaga sikapnya tetap tenang, meski dari cara ia bicara ada ancaman tersirat. Tidak, bukan ancaman, mungkin gertakan adalah kata yang paling tepat. 

“Anda mungkin begitu percaya diri karena apapun hasil sidang ini tidak akan berpengaruh banyak terhadap posisi anda. Tapi ingatlah nona Crystalspark. Penilaian kami akan ada dampak politisnya di sidang bersama anggota-anggota Liga Bangsa-Bangsa. Akan sangat menyedihkan jika dalam internal CSA sendiri ada ketidak sepakatan dan itu akan menganggu ‘posisi tawar’ yang tadi kau bicarakan.”

“Aku mengerti. Kalian sudah selesai?”

“Ya, sidang di tutup. Semoga harimu menyenangkan.”

“Ah ya, satu lagi.” Ucap Jazdia sebelum beranjak. “Tuan-tuan, kalian tidak menyebutkan rencana apapun untuk menyikapi sikap politik Tretagor, terlebih sanksi terhadap invasi militer mereka yang illegal terhadap wilayah kita. Saya akan anggap anda semua menyerahkan hal tersebut pada kebijaksanaan saya. Terima kasih." 

Sudah terlambat bagi para dewan itu untuk menghentikannya, dan ketika Jazdia melewati ambang pintu, ia bisa mendengar diskusi-diskusi mereka di lanjutkan, dengan tensi yang tinggi. 

1 komentar untuk chapter ini

Funky Boy
Perdebatan dalam sidang, ya? Tampaknya, Jazdia tetap kukuh dengan pendiriannya, dan tidak merasa bersalah atas perang (berat sebelah) sebelumnya. Namun, pada satu titik, adegan ini mengingatkanku akan perselisihan antara kaum muda dengan kaum tua, tentu saja dalam konteks lain.

Satu hal yang pasti, pembawaan sifat Jazdia yang terkesan keras kepala berjalan dengan baik, tokoh lainnya pun juga demikian. Dia tetap terlihat kukuh meski dalam hatinya mungkin(?) tersimpul kegentaran.

Aku tak bisa bicara banyak soal segi teknis, karena bagian ini--dan bagian-bagian sebelumnya pun--masih bisa dibaca nyaman meski agak cacat.