Resolution

Penginapan itu bernama Rosemary, terletak Lima Belas kilometer di sebelah selatan kota Riga. Bangunannya bergaya arsitektur klasik dengan sentuhan kayu yang memberikan kesan natural namun tetap dirancang kokoh dan lega untuk mengakomodir berbagai pengunjung yang hilir mudik di sepanjang tahun.

Separuh dari lantai pertama ditujukan sebagai restoran dengan meja-meja berlapis taplak bersih berwarna putih serta bangku-bangku beralas bantal tipis. Interiornya wangi dan sejuk, dan suasananya terasa rileks dengan alunan musik live yang rutin ditampilkan saat-saat jam makan.

 Mengingat lokasinya yang berada cukup jauh dari dinding kota, siapapun yang berkunjung kemari tentulah setuju bahwa tempat ini adalah sepotong kemewahan yang dibangun tidak pada tempatnya.

Tapi yang paling penting, Rosemary menawarkan tiga hal yang tidak ditawarkan penginapan-penginapan lain; beraneka parfait lezat yang bisa dinikmati siapa saja, keamanan yang terjamin dan suplai intel yang dapat diandalkan untuk investor mereka, CSA.

Di belakang meja dengan sebuah papan kayu kecil bertuliskan angka delapan, Jazdia duduk sambil mengetuk-ngetukkan jari-jemarinya ke meja, sementara kedua matanya yang awas menyapu seluruh ruangan. Orang yang ia tunggu belum datang.

“Ini pesananmu, nona Jazdia.” Ucap seorang innkeeper sambil menyunggingkan senyum yang terlatih.

“Terima kasih.”

Jazdia mulai mencicipi es krim yang ia pesan, dan meski ini bukan kunjungan pertamanya ia mengerti betul bahwa kliam parfait terlezat di Tenera bukanlah omong kosong belaka. Di sendokan yang kedua, dia berpikir bahwa semua ini aneh… maksudnya, agen yang merangkap jadi innkeeper adalah hal yang wajar, tapi seorang agen intelejen yang bisa membuat es krim dengan cita rasa sempurna? Itu terlalu mengagumkan untuk jadi nyata!

Mata biru cerah sang general-ranger kini menyorot pada sesosok pria yang masuk dengan tergesa-gesa. Perawakannya tinggi besar, dan sulit melihat wajahnya karena tertutupi bayangan hoodie yang ia kenakan.

Jazdia sama sekali tak terkejut ketika orang itu mendekat dan duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengannya.

“Anda datang lebih cepat tiga puluh enam menit.” Ucap Jazdia.

“Ada banyak patroli, jadi saya berangkat lebih cepat dengan rute yang paling tidak biasa.”

Pria itu membuka hoodienya dan kembali memperkenalkan diri sebagai Moris Vernon, seorang panglima perang dari Tretagor. Tentu saja Jazdia ingat, tapi dasar orang Tretagor senang dengan formalitas simbolik yang tak penting.

“Saya malah terkejut anda datang sendiri, tuan Vernon. Apakah hubunganmu dengan raja Edmus mulai memburuk?”

Sebelum pria itu bisa menjawab, seorang pelayan menghampiri mereka dan bertanya dengan sopan. “Anda ingin memesan sesuatu tuan?”

Jendral itu kelihatan ragu.

“Pesan saja,” ucap Jazdia. “Akan sangat tidak sopan jika tuan rumah tidak menjamu tamunya.”

Jendral itu mendesah lelah seperti orang yang pasrah, lalu dengan senyum yang agak dipaksakan, ia berbicara pada pelayan itu. “Tolong bawakan wine dan crêpes, terima kasih.”

Lalu ia kembali menatap Jazdia

“Saya lihat anda senang sekali bersikap sarkastik, nona Crystalspark. Jika raja Edmus tahu pertemuan ini, saya pasti sudah mati dan hanya masalah waktu sampai dia menemukan keluarga saya."

“Ah, jadi dia belum tahu kalau anda sudah membelot sebelum perang terjadi…”

“Saya tidak pernah melakukan pembelotan!” senggak jendral itu. “Saya hanya menginginkan yang terbaik untuk Tretagor. Edmus sudah gila dengan menggigit terlalu banyak dari yang bisa ia telan, dan meski sudah tersedak dengan kekalahan telak di Ragdavir Pass (Rahang Naga), dia masih berniat untuk mengumpulkan pasukan dan terus menyerang lagi. Saya tidak ingin ambil bagian dalam kegilaan ini.”

Jazdia menyeringai. “Ah, pantas mereka dibantai dengan mudah di Rahang Naga, rupanya jendral terbaiknya tidak ada di sana.”

Kening jendral itu mengkerut. Wajahnya yang datar mulai menunjukkan ekspresi tidak suka. Bukan… lebih dari itu; kebencian dan amarah yang ditahan dengan kesabaran luar biasa. Sepertinya Moris Vernon adalah orang yang sensitif jika kekalahannya di ungkit… ataukah dia tipe pemimpin yang memiliki kepedulian lebih terhadap prajuritnya?

“Sudahkah ada yang menyebut anda sebagai iblis, nona Crystalspark? Jika belum, maka aku akan jadi yang pertama.”

Jazdia merasa terkesan. “Kata mereka elf adalah keturunan malaikat. Menarik sekali rasanya ada yang memberikan pandangan yang berkebalikan.”

“Baiklah, saya keterlaluan tadi.” Lanjut wanita itu dengan nada yeng tenang namun lebih serius. “Membuat lelucon di atas penderitaan mereka memang tidak pantas, jadi maaf.”

“Apa yang terjadi dengan sisa pasukan Tretagor? Dimana anda menahan mereka?” cecar jendral itu, tidak lagi menahan diri. 

“Saya tidak menahan mereka. Dokter yang menahan mereka, dan selagi para penyembuh masih memutuskan bahwa mereka masih harus dalam perawatan, maka saya sebagai pemimpin CSA pun tidak bisa membantah.”

“Di mana lokasinya?” suara jendral itu kini terdengar seperti sebuah perintah.

Jazdia memandang panglima itu dengan tajam. “Anda harus memikirkan keselamatan anda dulu sebelum orang lain. Dan tolong jangan berbicara seolah-olah anda punya hak untuk menuntutku. Di sini bukan Coblenz, dan di ruangan ini, akulah yang berkuasa." 

Moris Vernon terdiam. 

"Anda menyebut keluarga anda, jadi tidak mengejutkan ada kepentingan pribadi di sini. Bahkan sebelum surat itu datang, saya sudah menebak kalau anda akan meminta perlindungan kepada kami, pertanyaan berikutnya adalah mau sampai sejauh mana anda akan melanjutkan kerja sama ini?”

Jazdia menunggu, sementara pria itu masih kelihatan berpikir dalam-dalam. Pastilah sang jendral sedang membongkar isi ingatannya sambil menimbang nimbang dengan akal sehat apa yang harus dan tidak harus diberikan, dan apa yang harus disembunyikan untuk menjaga statusnya sebagai sekutu yang ‘berguna’.

Mengejutkan sekali bagamana rasionalisme bisa mengalahkan loyalitas, dan yang dibutuhkan adalah alasan dan harga yang tepat.

“Saya akan mengundurkan diri dari militer dan memberikan informasi yang kalian butuhkan.”

“Anda ingin menjadi seorang double-agent dan memulai misi spionase?”

“Saya tidak paham istilah-istilah itu. Tapi rencana saya adalah tetap menjaga hubungan baik dengan dua pihak. Hanya dengan cara itu saya bisa membantu lebih banyak dari yang sekarang. Saya punya banyak loyalis di parlemen, dan banyak perwira-perwira di militer adalah sahabat saya. Saya bisa menekan Edmus, namun caranya harus lebih elegan."

Elegan. Jazdia hampir tak percaya kata itu bisa diucapkan oleh seorang jendral yang selama bertahun tahun telah memimpin sebuah legiun haus darah.

“Untuk seorang panglima dari imperium besar, anda ini cukup bodoh juga ya.”

Jendral itu kelihatan tertohok, dan Jazdia melanjutkan. “Anda seharusnya cukup mengenal lama Raja Edmus untuk menyimpulkan bahwa di saat-saat seperti ini, orang seperti dia biasanya akan mengalami krisis kepercayaan pada orang orang terdekatnya. Anda akan digantung tepat ketika akan mengucapkan ‘perang harus dihentikan’.”

“Dipenggal.” Koreksi pria itu. “Bangsawan sepertiku akan dihukum berbeda dengan rakyat jelata.”

“Ah begitu,” Jazdia meletakkan sendok eskrimnya. Sejenak ia merasa kehilangan selera makan ketika mendengar kata penggal. “Dan saya juga ragu para keluarga bangsawan akan setuju dengan persuasimu. Saya sudah melakukan hal yang dianggap kurang ajar di Coblenz, dan belum lagi kekalahan kalian atas perang kemarin akan membuat mereka semua berteriak untuk pembalasan.” Jazdia menggelang “Ini bukan sesuatu yang bisa dimenangkan dengan dialog dan negosiasi, kita butuh sesuatu yang lebih frontal, yang dampaknya bisa langsung dimengerti.”

“Dan apakah itu.”

“Itu biar saya yang urus.” Jazdia memberinya satu senyum yang penuh teka-teki. “Yang harus anda lakukan adalah mengikuti instruksi kami, saya akan memberikan detailnya tiga hari lagi.”

“Tunggu sebentar!” ujar pria itu. “Saya disumpah untuk melindungi raja dan saya akan berpegang teguh pada sumpah itu. Jangan katakan anda akan melakukan upaya pembunuhan.”

“Tiga hari lagi anda akan tahu.” Ucap Jazdia sebelum menghabiskan sisa parfaitnya. Jendral itu ingin mendesak lagi, namun sepertinya sadar bahwa ia kini tak punya pilihan.

“Tenang saja, yang paling tidak kami inginkan adalah suatu negara yang sosial-politiknya tidak stabil.” Ia mengambil serbet, lantas mengeluarkan sebuah lencana bergambar mawar kompas dari sakunya. “Jika anda ingin mengunjungi prajurit anda, pergilah ke Rahang Naga dan tunjukkan lencana ini pada pasukan penjaga. Bicaralah pada dua agen di meja nomor sebelas, mereka akan memandumu.”

“Terima kasih… kurasa.”

“Jika anda sudah menemui prajurit anda dan mengetahui bahwa mereka diperlakukan dengan baik dan mendapatkan perawatan yang pantas, ingatlah bahwa iblis ini masih punya nurani untuk tidak membiarkan mereka mati perlahan-lahan di medan pertempuran.”    

Jendral itu tidak berkata apa-apa. Maka Jazdia berdiri, tepat ketika seorang inkeeper datang dengan membawa sepiring panekuk dengan isian cokelat yang dari wanginya saja sudah menggugah selera. 

"Kami membuat pastry dengan kualitas terbaik disini. Seandainya Tretagor tidak dikalahkan di Rahang Naga, mungkin anda tidak akan bisa menikmati panekuk terbaik di Tenera. Selamat menikmati, dan sampai jumpa." 



2 komentar untuk chapter ini

Funky Boy
Seakan-akan penginapan Rosemary ini eksklusif untuk CSA saja ketika membaca paragraf ketiga.

Haha. Di samping sifat keras kepalanya, ternyata Jazdia suka makanan yang manis-manis. Yah, meski klise semacam ini sudah tergolong pasaran, tidak begitu buruk juga.

Seorang panglima perang Tretagor datang ke wilayah musuh untuk pertemuan dengan Jazdia? Oh, agenda rahasia. Jelas sekali dalam pertemuan ini Jazdia paling dominan berkuasa, bahkan mengendalikan lawan bicaranya.
Bagus Surya
Hehehe. Jadi ketika bikin chapter ini, ada hal menarik yang ane baru tahu pas riset cari referensi.

Di abad pertengahan, bumbu-bumbu makanan gak se variatif sekarang, jadi makanan yang umum ya antara gurih-gurih lemak, manis kayak gula atau asin aja. Kebetulan CSA sendiri punya banyak kerja sama dengan kapal dagang (sebagai tentara bayaran untuk pengamanan laut) dan bahkan punya kapal dan perusahaan rempah-rempah sendiri. Jadi dalam khasanah perbumbuan dan ilmu kuliner, orang-orang CSA sudah ahli.

Ane gak tau kalau karakter kuudere parah + egaliter kek Jazdia steriotypenya suka makanan manis. Pasti sering ketemu di anime nih trope. :V