Raison D'être

Sudah minggu belakangan ini Raja Edmus Ferdinant yang agung mengurung diri di ruangannya setiap menjelang tengah malam. Hanya sesekali waktu ia berjalan di koridor-koridor istana yang seperti labirin membingungkan, memikirkan apa yang salah dari kepemimpinannya.

Pidato yang ia lakukan siang hari tadi masih terngiang di telinganya. Begitu lantang ia berbicara, begitu meyakinkan kata-katanya layaknya singa podium yang sekali mengaum sejuta pendengar langsung tergetar hatinya.

Tapi itu tak banyak membantu. Bagaimanapun, ia telah menipu rakyatnya dengan dusta yang sangat parah.

Ketika ia masuk ke balairung tahta, mata Edmus menyipit, lalu melebar kembali, mencoba beradaptasi dengan pencahayaan yang kurang. Sejak kecil ia memang menyukai kegelapan. Itu membantunya untuk bisa berpikir lebih fokus.

Seluruh ruangan itu terasa seperti kuburan dengan banyak patung. Hanya ada dia seorang di sini. Sendirian dalam keremangan yang menenangkan. Hening mencekam. Edmus hanya membiarkan dua lampu gantung menyala di dekat tahtanya untuk sekedar menunjukkan bahwa sosoknya ada, tapi ia yakin… tak akan ada yang berani datang. Perintahnya jelas; tinggalkan aku malam ini.

Bahkan di malam yang seharusnya tenang ini pun dia masih digangu dengan berita tak mengenakkan tentang sekumpulan pengacau yang muncul di dua wilayah di dekat kotanya. Tak ingin hal itu meluas menjadi pemberontakan yang massif, Edmus mengirimkan pasukan Legiunernya… ataupun yang tersisa dari itu.

Dengan tangan yang lelah, raja itu mengusap wajahnya dan membiarkan dirinya terbuai dalam delusi. Dalam benaknya ruangan yang remang-remang itu terang dengan cahaya matahari. Penjaga-penjaga berbaju jirah berbaris di sepanjang lorong, menteri-menterinya duduk di meja oval di sudut ruangan dengan pembicaraan yang produktif, dan di depannya, seorang panglima berlutut… melaporkan perkembangan dari kampanye militer yang telah lama ia gaungkan.

Laporan…

Rahang Naga

CSA

Sang Raja terkesiap. Tidak! Dia tidak salah langkah. Wilayah itu hanya dibentengi oleh sebuah kastil tua, dan dijaga tak lebih dari seribu pasukan musuh.

Harusnya penyerangan di Rahang Naga berhasil seperti invasi-invasi sebelumnya.

Harusnya hari ini dia menikmati kemenangan, dan menghinakan penentangnya.

Harusnya… harusnya… harusnya.

Kekalahannya bukan karena ia salah mengambil keputusan. Pasti ada yang ingin membuatnya jatuh, pasti para mentri, jendral, mungkin juga sampai Osidi si Chamberlain ikut berkomplot untuk menggulingkannya.

Ruangan itu menggelap. Orang-orang di dalamnya memudar dan hilang bersamaan dengan pikiran sang Raja yang mulai dicemari prasangka-prasangka. Lalu ia kembali, membuka mata dan menghadapi realita, sendiri lagi, di ruang yang hampir sepenuhnya gelap, mengigau seperti orang tengah kerasukan.

Hampir-hampir tak mampu lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang ilusi, Edmus merasa indra pengelihatan dan pendengarannya menjadi kacau. Ada seberkas sinar mengayun di kegelapan, diikuti oleh suara langkah mendekat.

Terdengar ringan, namun begitu teratur

Edmus membuka matanya lebar-lebar. Pandangannya fokus ke pintu utama. Ada bunyi keriutan, dan ia bisa bisa bersumpah bahwa barusan, sekelebat bayangan telah menerobos masuk.

Sang Raja berdiri dari tahtanya. Sambil menelan ketakutannya sendiri, ia berjalan tegak. Ini bukan sesuatu yang perlu ditakutkan. Di bawah ruang tahta ini sejatinya adalah sebuah kuburan, dan yang datang kepadanya adalah hantu dari leluhur-leluhurnya. Berkunjung untuk meminta pertanggungjawaban atas kegagalan memalukan yang terjadi dua minggu lalu.

Ya, dia akan meladeni mereka. Edmus tahu para leluhur begitu menyukai pertarungan yang sengit, maka ia merebut sebilah pedang dan perisai yang tergantung di dinding dan memukul-mukulkan keduanya seolah mendeklarasikan tantangan.

Yang menjawab tantangan tersebut adalah sesosok langsing dengan pakaian yang sama gelapnya dengan keadaan ruangan itu. Dan semakin sosok itu maju, penampilannya semakin jelas; rambut pirang, kulit cerah, dengan sepasang mata yang berpendar keunguan.

Ketika Edmus melihat dengan jelas siapa yang akan ia hadapi, reaksi pertamanya adalah kemarahan yang memuncak; dia kenal siapa sosok itu, dan terkutuklah hari pertama di mana ia melihatnya.

“Anda sepertinya senang dengan kesunyian. Yang mulia.” Ucap wanita itu, suaranya dingin dan dalam. Ia menatap balik kearahnya dengan ketenangan yang menakutkan.

“Kau!” Edmus berteriak, namun suaranya seperti menggema di kepalanya sendiri. Ia ingin memanggil penjaga, namun ia tahu semua penjaga sudah ia usir keluar istana. Ia sendirian, begitu juga dengan wanita itu

Ketika ia menyadari hal tersebut, sebuah seringai tersungging di kedua bibirnya.

Keberadaan wanita itu disini memang ganjil dan tak disangka-sangka tapi perduli setan! Hanya ada mereka berdua, dua pemimpin dalam satu ruangan yang gelap.

Kepercayaan diri sang raja bangkit. Meski sudah lama tidak menjakkan kaki di medan pertempuran, Edmus Ferdinant masih yakin atas kemampuanya. Sejak kecil ia telah di tempa untuk jadi petarung yang kuat, dan ia tumbuh dengan menjadi yang terbaik, jauh lebih handal dibanding saudara-saudaranya, atau siapapun di istana ini.

Perempuan elf itu tidak akan mempermalukannya lagi.

Perisainya ia angkat, pedang terhunus dan ia menerjang ganas ke sosok yang tampak belum siap.

“Matilah!”

Begitu besar tekad yang ia kerahkan sampai-sampai Edmus nyaris kehilangan fokusnya, namun dia yakin pedangnya terayun dengan sapuan mantap dan akan segera menebas sebentuk tubuh yang empuk.

Namun pedangnya hanya memukul udara kosong. Perempuan elf itu telah menghindar dengan bersalto di udara, dan mendarat dengan mulus beberapa meter di depannya.

Busur tebidik dan dia siap untuk menyerang balik.

Mata ungunya berpendar lebih terang seperti sepasang cahaya bintang  yang membelah kegelapan. Dan ketika satu cahaya lain dengan warna sama muncul, Edmus Ferdinant merasakan seluruh otot-ototnya menegang.

Dengan spontan, ia mengangkat perisainya. Masih sempat ia lihat bagaimana titik cahaya itu melayang kearahnya dengan kecepatan yang mematikan.

Edmus tahu perisainya akan menahan serangan itu. Tapi ia tidak tahu bahwa ketika benda itu menghantam perisainya, sebuah ledakan keras mengguncang seisi ruangan dan mendorong sang raja sampai terpental ke undak-undak tahtanya.

Dengan telinga yang berdengung dan pandangan kabur, Edmus bisa melihat partikel-partikel kecil dari ledakan barusan beterbangan di udara dalam wujud debu yang berpijar. Sebagian jatuh ke lentera-lentera dan lilin-lilin yang banyak tergantung di dinding dan meja-meja.

Ruangan itu mendadak menjadi begitu terang benderang, dan hal pertama yang Edmus lihat adalah ceceran darah yang menetes dari hidungnya.

“Kenapa kau menyerangku? Aku hanya datang untuk bicara.” Wanita itu berjalan mendekat, Edmus yang masih merasa belum kalah bangkit dan menggeram.

Belum sempat sang raja menyunkan pedangnya, sebatang panah bermata cemerlang menghantam crossguard longsword tersebut dan mengguncang sendi tangannya dengan getaran yang menyakitkan. Dengan putus asa ia menyaksikan pedang itu patah dan terlempar ke lantai.

Jazdia sudah berada di depannya sekarang, dengan busur terentang dan sebatang anak panah lain tertakik. Edmus menyaksikan sendiri bagaimana aura sihir menjalari ujung baja anak panah tersebut dan merubah materialnya menjadi sesuatu yang lain; kristal amethyst tajam yang bersinar dingin persis seperti mata pemiliknya.

Terancam dan kalah. Sang Raja tidak pernah membayangkan dirinya berakhir seperti untuk kedua kalianya. Satu-satunya yang menyelamatkan kehormatannya dari kehancuran total adalah kenyataan bahwa tidak ada orang lain yang menyaksikan penghinaan ini.

“Aku tidak mengerti jalan pikiran kalian, para manusia.” Ucap wanita itu sambil menggelengkan kepala “Kuberi kalian peringatan yang jelas, tapi kalian mengabaikannya dengan memperpanjang konflik.”

Edmus tetap memasang muka tegar. Dipandangnya wanita elf itu; apapun yang akan dia lakukan berikutnya, dia sudah siap. Bahkan jika ia mati malam ini, setidaknya dia mati dalam pertarungan, bukan diatas tempat tidur, digorok diam-diam tanpa perlawanan.

Perempuan itu berbicara lagi, seolah bisa membaca pikirannya.

“Sebenarnya tidak ada yang lebih aku inginkan selain melepas panah ini dan menguburnya di dalam tengkorakmu, tapi itu akan jadi terlalu mudah. Baiklah, raja Edmus… duduklah di tahtamu. Mari kita bicara.”

                                                                                     ***

Sesaat kemudian, urat nadi Edmus Ferdinant masih berdenyut ketika ia duduk di atas tahtanya atas perintah Jazdia.

Ada dua orang lagi masuk ke ruangan itu. Pria, bersenjata, dengan seragam dan rompi bersimbol mawar kompas di bagian bahu. Keduanya tidak berbicara, dan wajah mereka tidak kelihatan jelas karena tertutupi topeng.

“Tolonglah dirimu sendiri, Yang Mulia Edmus.” Jazdia tersenyum, lantas melemparkan sebuah kain bersih kearahnya. Edmus tak menolak pemberian itu dan mulai mengelap bagian bawah wajahnya yang berlumuran darah.

“Bajingan kau! Kau pikir aku akan menyerah begitu saja?” Edmus berkata dengan kepayahan. Meski sudah babak belur, Sang Raja belum takluk; Tinjunya masih terkepal, dan ia menatap Jazdia seperti seekor hewan buas yang terbelenggu.

“Oh lihat... baru saja aku berbaik hati meminjamkan sapu tanganku dan kebaikanku dibalas dengan sumpah serapah. Ya ya... terima kasih kembali!”

Edmus hendak bangkit, kedua tangannya ia angkat seperti hendak memukul. Dua orang agen yang mengawal Jazdia spontan mengarahkan senapan mereka kearahnya namun Jazdia melambaikan tangan ke arah para agen itu dan meminta agar senjata diturunkan. Sekali lagi ia menekankan bahwa raja ini tidak boleh dibunuh.

“Apa ini? Pengampunan? Cih! Kau ingin mengolok-olok sebelum membunuhku? Wanita iblis kau memang! Keparat kau! Terkutuklah kalian bangsa elf yang licik!”

Hendak meneruskan apa yang sudah ia mulai, Edmus menerjang kedepan dengan satu serangan nekat. Tapi ia kalah cepat dari Jazdia yang dengan gesit mengangkat kaki kanannya dan melayangkan satu tendangan samping yang kuat. Cukup kuat sampai raja itu terpental ke belakang dan dipaksa untuk duduk kembali di atas tahtanya.

Ada bunyi desingan, dan sebatang panah bermata kristal menancap di mana Edmus sekarang terduduk, mengancung tepat di antara kedua pahanya.

“Kau tahu itu panah apa. Aku sarankan kau menahan diri dulu sampai pertemuan ini selesai. Jangan meronta, jangan berteriak dan jangan bernapas bila perlu. Jangan uji kesabaranku! Aku tahu kau ingin mati sebagai petarung, tapi tak akan ada yang namanya kematian terhormat saat abdi-abdi istana menemukanmu tewas dengan selangkangan hancur seperti penderita herpes akut.”

“Apapun yang kau rencanakan, aku tidak akan tunduk padamu! Bunuhlah aku dengan cara apapun yang kau suka!”

Jazdia memusatkan pikirannya pada panah yang menancap itu dan membuat ujungnya bersinar lebih terang seperti hendak meledak. Ia bisa mendengar napas raja itu menderu keras seolah berusaha menyembunyikan ketakutannya.

Lalu cahaya itu meredup kembali. Jazdia berbalik dan memungut perisai bundar sang raja dan melemparkannya tepat di depan kakinya.

“Panahku sudah dimantrai dengan sihir pendeteksi gerakan. Jika kematian yang kau inginkan, silahkan cabut panah itu, atau bangkitlah dari tahtamu dan ambil perisai itu. Setiap gerakan mendadak akan memicu ledakannya.”

Jazdia menunggu, namun raja itu tak bergerak dari tempatnya. 

“Ada banyak orang yang menginginkan kepalaku.” Edmus berkata dengan letih. Ia masih mencoba untuk duduk tegak. “Membunuhku akan memudahkanmu menguasai negeri ini. Kalau itu bukan tujuanmu, katakan, apa maksudnya semua ini?”

“Aku tidak membunuhmu. Bukan karena itu akan menguntungkan kami, tapi murni karena alasan kemanusian.”

“Kau masih sama naifnya.”

“Kau mungkin akan menyebutnya alasan yang naif, tapi sebagaimana aku menganggap nyawamu adalah hal yang penting, aku juga memikirkan dampak jangka panjang apabila Tretagor kehilangan raja.”

Jazdia berhenti sebentar dan melanjutkan dengan nada tertekan. “Negeri ini akan hancur dikoyak-koyak perang saudara, Itu bukan hal yang kami inginkan, dan kau pula tak ingin imperium yang sudah susah payah dibesarkan olehmu, ayahmu dan kakekmu hancur begitu saja kan?”

“Kau tentu tak datang kemari cuma untuk menyekapku dan memberikan kuliah konyol ini kan?”

“Tidak... tidak juga untuk memintamu bergabung ke aliansi kami, jika itu menurutmu akan merendahkan posisi Tretagor. Yang aku inginkan hanyalah tuntutan minimum kami agar dipenuhi. Hentikan perangmu dan buatlah kesepakatan damai dengan Westernant.”

Raja itu menyeringai kecut. “Sudah kuduga. Bagaimana jika aku menolak? Aku bisa saja berbohong dengan mengatakan apa yang ingin kau dengar malam ini dan sementara besok paginya invasinya akan dilanjutkan dengan kekuatan penuh.”

Jazdia mengangguk. Matanya terpaku pada Raja itu. Dia kesal, lelah, dan ingin sekali meninju muka bangsawan sial ini. “Kau bodoh, Edmus.” Katanya “Hampir separuh pasukan regularmu aku bantai di Rahang Naga, lalu kau akan menyerang dengan apa? Para petani-petani dan anak muda tanggung?”

“Setiap lelaki yang sanggup memegang senjata!” ujar sang raja mantap.

“Baiklah, aku tidak tahu seberapa gila kau dengan ambisi penaklukanmu, tapi jika kau ingin membuat seluruh penduduk negrimu kelaparan aku tidak akan biarkan.”

Jazdia membuka salah satu tas yang dibawa oleh agen CSA dan menunjukkan isinya; Setumpuk kertas dengan gambar-gambar hitam putih yang jelas. Wanita itu melemparkan tumpukan kertas yang ia pegang ke Edmus.

Pamflet itu berisi berbagai gambar yang berbeda satu sama lain, namun yang pasti tiap-tiapnya adalah cuplikan pertempuran yang terjadi di Rahang Naga dan setelahnya lengkap dengan keterangan-keterangan singkat yang ditulis rapi dengan huruf cetak. Meski tak berwarna, gambar-gambar itu tampak jelas dan detail seolah benar-benar nyata.

“Apa jadinya kalau dokumen ini tersebar?” tanya Jazdia. Ada senyum kecil terbentuk di bibirnya.

“Gambar itu tidak akan berpengaruh apa-apa!”

Jazdia mencondongkan tubuhnya kedepan, senyum itu menghilang dan ditatapnya Raja itu dengan mata birunya yang sedingin es.

“Benarkah? Apa kau yakin tidak ada yang mengenali wajah-wajah yang tewas di pamflet-pamflet itu? Bayangkan apa yang terjadi jika kami menyebar luaskan dokumen-dokumen ini. Ke setiap keluarga, tiap ayah, tiap rumah yang anggota keluarganya tewas dalam pertempuran. Kau mungkin akan menyebut gambar-gambar ini rekayasa, tapi ada begitu banyak veteran yang selamat dari pertempuran itu dan ketika mereka melihat gambar-gambar ini, aku bisa bertaruh mereka akan langsung bilang ‘Ya aku ada di sini dan memang seperti ini kengerian perang itu!’”

“Mereka adalah prajurit. Mati dalam perang adalah suatu kehormatan bagi mereka dan keluarganya.” Kerut di dahi raja itu mulai menipis dan suaranya tak lagi terdengar angkuh.

“Ah manusia dan pandangan konyol mereka tentang kematian.” Jazdia mundur selangkah. “Tapi kau sudah membohongi rakyatmu tadi pagi, Edmus. Bagaimana kau akan menjelaskan lima belas ribu prajurit yang menghilang -- yang kau sebut tengah bertugas sementara buktinya ada di sini dan saksinya masih ada ribuan lagi?”

Edmus tak menjawab. Keringat mulai membutir di dahinya dan dari bahasa tubuh yang ia tunjukkan, Jazdia tahu raja ini mulai merasa cemas dan tertekan. 

“Baiklah, pikirkan semua itu baik baik. Kami akan terus memantau Tretagor, dan jika kami melihat ada usaha perekrutan prajurit, maka percayalah, malam ini juga dokumen ini akan kamu sebarkan ke tiap-tiap pintu rumah, tiap-tiap alun alun dan penginapan. Kami akan sebarkan dokumen ini sampai para bard tiap sudut negeri memiliki syair yang menceritakan dua puluh lima ribu pasukanmu dikalahkan dalam waktu dua jam saja. Kami akan hancurkan kepercayaan rakyatmu pada pemerintahan. Dan jika semua itu tak membuatmu berhenti juga dan memilih tiranisme…”

Jazdia berhenti sebentar, membiarkan kalimat-kalimatnya dipahami benar benar oleh raja ini. Lalu ia melanjutkan, matanya menatap tajam, suaranya datar dan meyakinkan seperti sebilah pisau dingin yang menyayat.

“Kami akan mengambil pilihan terakhir; membunuhmu dan memastikan kematianmu terjadi dengan cara yang paling hina.”

Edmus masih diam, namun dia bisa mendegar suara degukan di kerongkongan pria itu. Meski wajahnya masih menampakkan ketegaran yang dipaksakan, Jazdia tahu bangsawan ini cukup pintar untuk mengerti apa yang baru saja ia sampaikan. Semestinya begitu…

Jazdia mengakhiri pembicaraan itu dengan memfokuskan sihir di kedua matanya, merubah warna mereka menjadi ungu terang dan menatap Edmus seperti hendak membakarnya dengan tatapan mata. Sebuah gestur intimidatif yang berhasil, dan dengan kemampuan itu dia bisa melihat bahwa Edmus tengah gemetar, dan detak jantungnya meningkat karena rasa takut.

Ketika Jazdia berbalik dan mengisyaratkan para pengawalnya untuk keluar dari ruangan, raja itu menyeru panik. “T-tunggu! Bagaimana dengan panah ini?”

Jazdia menoleh sebentar, dan menyeringai culas. “Cabut saja… dan simpan sebagai kenang-kenangan.” 

Belum ada komentar untuk chapter ini.

Jadi yang pertama?